• Tidak ada hasil yang ditemukan

NESTRA-JURNAL

METODE PENELITIAN A. Jenis Dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah pre

eksperimen (pra experiment) dengan

model rancangan one group pretest

postest. Yaitu rancangan yang tidak

menggunakan kelompok kontrol pembanding tetapi sebelum dilaksanakannya perlakuan maka dilakukan observasi pada sample dan sesudah perlakuan juga (Setiadi, 2009).

Dalam penelitian ini, peneliti memilih pasien post operasi apendiktomi

yang menjadi sampel penelitian. Selanjutnya dilakukan pengukuran tentang nyeri (observasi pre-test). Setelah itu pasien post operasi apendiktomi diberikan tindakan teknik relaksasi genggam jari yang kemudian akan diukur kembali nyeri (observasi post-test).

B. Lokasi Dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitan

Lokasi penelitan di laksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Deli Sedang. Adapun alasan peneliti memilih melakukan penelitian pada tempat tersebut adalah karena ada masalah yaitu menurut hasil survey awal yang dilakukan peneliti menurut data dari medical record badan pelayanann kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang prevalansi

apendiksitis pada orang dewasa yang

yang sembuh total (50,3%) dan 11 orang meninggal karena infeksi berat. Apendiksitis akut merupakan kondisi kegawatan yang memerlukan pembedahan atau apendiktomi.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan Maret 2015-Juni 2015.

C. Populasi Dan Sampel Penelitian 1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien post operasi

apendiktomi yang dirawat di Rumah Sakit

Umum Daerah Lubuk Pakam mulai bulan Januari-April 2015 terdapat 46 orang yang mengalami apendiktomi.

2. Sampel

Teknik sampling yang digunakan

purposive sampling, yaitu tehnik

penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiono, 2008). Perhitungan besar sampel menggunakan rumus uji estimasi proporsi. Rumus perhitungan besar sampel adalah:

 

10 8 , 9 05 , 0 5 , 0 5 , 0 96 , 1 1 2 1      n n x x n d P P Z n a Keterangan: n :Besar Sampel 2 1 a

Z : Nilai Z pada derajat kemaknaan (baisanya 95%= 1,96) P : Proporsi suatu kasus

tertentu terhadap populasi, bila tidak diketahui proporsinya, ditetapkan 50% (0,5)

d : derajat penyimpangan terhadap populasi yang diinginkan: 10% (0,10), 5% (0,05), atau 1% (0,01).

75 Berdasarkan perhitungan diatas, besar sampel yang dibutuhkan pada penelitian ini adalah 10 responden.

Untuk membatasi karakteristik dari sampel pada pasien, dilakukan kriteria pemilihan yaitu kriteria inklusi dan kriteria eksklusi.

e. Kriteria inklusi

Kriteria inklusi merupakan persyaratan umum yang harus dipenuhi oleh subjek agar dapat diikutsertakan kedalam penelitian (Notoatmodjo, 2007). Kriteria inklusi penelitian ini adalah:

7) Bersedia menjadi responden penelitian dan menandatangi lembar persetujuan menjadi responden yang diberikan. 8) Pasien post operasi

apendiktomi yang baru 1 hari post operasi dan efek analgetik yang berakhir dalam waktu 3-6 jam pasca operasi.

9) Pasien dengan skala nyeri sedang

10)Bersikap kooperatif f. Krteria eksklusi

Kriteria eksklusi adalah keadaan yang menyebabkan subjek yang memenuhi kritria inklusi tidak dapat diikutsertakan dalam penelitian.

4) Pasien post operasi

apendiktomi yang sudah 3 hari

dalam masa perawatan yang tidak mengalami nyeri.

5) Pasien yang sudah mengalami penyembuhan dari post operasi apendiktomi

yang mendapat terapi farmakologi golongan analgetik.

D. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Data Primer

Data primer merupakan data yang didapat dari sumber yang pertama, baik dari individu atau perseorangan seperti

wawancara atau hasil pengisian lembar observasi yang biasa dilakukan peneliti (Notoadmodjo, 2007). Penelitian ini menggunakan data primer yang berasal dari observasi yang berisikan pernyataan tentang nyeri pada pasien post operasi apendiktomi di Rumah Sakit Umum Daerah Lubuk Pakam dibuat berdasarkan konsep teori yang akan diberikan pada post operasi apendiktomi.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain, badan atau instansi yang secara rutin mengumpulkan data. Data sekunder pada penelitian ini diperoleh dari beberapa buku dan bahan dari internet dan laporan yang tercatat di Rekam Medik Rumah Sakit Umum Daerah Lubuk Pakam.

E. Metode Pengukuran Data 1. Relaksasi genggam jari

Pengukuran relaksasi genggam jari dengan cara melihat kepada responden apakah dapat mengikuti perintah dengan benar. Relaksasi genggam jari dilakukan setiap hari selama satu minggu. Sebelum dan sesudah relaksasi genggam jari dilakukan pemeriksaan nyeri. Relaksasi genggam jerai dilakukan 1 jam sebelum pasien meminum obat analgetik.

2. Nyeri pada pasien post operasi apendiktomi

Diukur dengan cara responden melaporkan nyeri yang dirasakan sebelum dan sesudah diberikan perlakuan dengan menunjuk rentang skala NRS (Numeric Rating Scale). Sebelum relaksasi genggam jari maka nyeri pada pasien post operasi

apendiktomi diukur, kemudian

setelah itu dilakukan relaksasi genggam jari selama 1 minggu, lakukan 10 sampai 20 menit, pada relaksasi genggam jari yang terakhir maka skala nyeri dapat diukur apakah terjadi penurunan

76

F. Metode Analisa Data 1. Pengolahan Data

Pengolahan data merupakan salah satu bagian kegiatan penelitian setelah pengumpulan data. Data yang masih mentah (raw data), perlu diolah sehingga informasi yang akhirnya digunakan untuk menjawab tujuan penelitian. Agar analisis penelitian menghasilkan informasi yang benar, pengolahan data dilakukan melalui empat tahap (Arikunto, 2007) yaitu :

a. Editing

Editing merupakan kegiatan untuk

pengecekan ini kuestioner apakah jawaban yang ada di lembar observasi sudah lengkap, jelas, relevan, dan konsisten.

b. Coding

Coding merupakan kegiatan merubah

huruf menjadi data bentuk angka/bilangan. Kegunaan dari coding

ini adalah untuk mempermudah pada saat analisa data.

c. Prosesing

Pemprosesan dilakukan dengan cara mengentry data dari kuesioner ke program komputerisasi. Tahapan ini dilakukan setelah melakukan pengkodean data.

d. Cleaning

Merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah dientry untuk apakah ada kesalahan atau tidak.

e. Tabulating

Untuk memperoleh analisa data dan pengolahan data serta pengambilan kesimpulan data dimasukkan kedalam tabel distribusi frekuensi

2. Analisa Data

Pada penelitian ini analisis univariat adalah untuk menjelaskan atau mendiskripsikan karekteristik masing-masing variabel yang diteliti secara sederhana yang meliputi jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan dan responden

a. Univariat

Tujuan dari analisa univariat adalah menjelaskan atau mendiskripsikan karekteristik masing-masing variabel yang diteliti secara sederhana.

b. Bivariat

Analisis ini diperlukan untuk menjelaskan atau mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan antar variabel independent dengan variabel

dependent. Analisis bivariat

dilakukan setelah karakteristik masing-masing variabel diketahui. Data dianalisis untuk perhitungan

bivariat pada penelitian ini

menggunakan Paired Sample t-test

dengan taraf signifikansi 95%

(α=0,05). Pengujian ini dilakukan

untuk mencari pengaruh teknik relaksasi genggam jari terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien post operasi apendiktomi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Deli Serdang Tahun 2015.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

I. Hasil Penelitian

A. Tabulasi Univariat

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Dan Persentase Intensitas Nyeri Sebelum Teknik Relaksasi Genggam Jari Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Deli Serdang Tahun 2015 N o Intensitas Nyeri Frekuensi (f) Persentas e (%) 1 2 3 4 5 Tidak Nyeri - - Nyeri Ringan 1 10,0 Nyeri Sedang 8 80,0 Nyeri Berat Terkontrol 1 10,0

Nyeri Berat tak Terkontrol

- -

Total 10 100,0

Dari tabel 4.1 diatas dapat dilihat bahwa intensitas nyeri sebelum dilakukan

77 teknik relaksasi genggam jari yaitu responden yang mengalami nyeri ringan sebanyak 1 orang (10,0%), responden yang mengalami nyeri sedang sebanyak 8 orang (80,0%) dan responden yang mengalami nyeri berat terkontrol sebanyak 1 orang (10,0%).

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Dan Persentase Intensitas Nyeri Sesudah Teknik Relaksasi Genggam Jari Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Deli Serdang Tahun 2015 N o Intensitas Nyeri Frekuensi (f) Persentas e (%) 1 2 3 4 5 Tidak Nyeri 3 30,0 Nyeri Ringan 6 60,0 Nyeri Sedang 1 10,0 Nyeri Berat Terkontrol - - Nyeri Berat tak Terkontrol - - Total 10 100,0

Dari tabel 4.2 diatas dapat dilihat bahwa intensitas nyeri sesudah dilakukan teknik relaksasi genggam jari yaitu responden yang tidak mengalami nyeri sebanyak 3 orang (30,0%), responden yang mengalami nyeri ringan sebanyak 6 orang (60,0%) dan responden yang mengalami nyeri sedang sebanyak 1 orang (10,0%).

B. Tabulasi Hasil Bivariat

Tabel 4.3 Perbedaan Rerata Antar Sebelum Dan Sesudah Teknik Relaksasi Genggam Jari

Perbedaan Rerata Antar Sebelum Dan Sesudah Relaksasi Nafas Dalam

Nilai

Rerata sebelum teknik relaksasi genggam jari

6,27 Rerata sesudah teknik relaksasi

genggam jari

4,18 Rerata sebelum dan sesudah

teknik relaksasi genggam jari

2,091

Nilai pValue 0,004

Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji dependen sample

t-test/paired t test menunjukan bahwa

pValue yaitu 0.004 yang berarti p Value ≤ dari 0.05. Maka Hipotesa dalam penelitian ini diterima yang berarti ada perbedaan yang signifikan terhadap intensitas nyeri pada post operasi apendiktomi sebelum dan sesudah diberikan teknik relaksasi genggam jari. Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji

dependen sample t-test/paired t test

menunjukan bahwa rerata intensitas nyeri sebelum dilakukan teknik relaksasi genggam jari yaitu 6,27, rerata intensitas nyeri sesudah dilakukan teknik relaksasi genggam jari yaitu 4,18, dan rerata sebelum dan sesudah teknik relaksasi genggam jari yaitu 2,091. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara sebelum dan sesudah teknik relaksasi relaksasi genggam jari.

II. Pembahasan

D. Rerata Intensitas Nyeri Pada Pasien Post Operasi Apendiktomi Sebelum Dilakukan Teknik Relaksasi Genggam Jari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Deli Serdang Tahun 2015

Kenyamanan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi oleh setiap orang bagaimanapun keadannya, begitu juga dengan pasien pasca operasi. Semua pasien pasca operasi akan mengalami nyeri setelah efek anestesi hilang. Nyeri pasca operasi akan berdampak pada aktifitas sehari-hari dan istirahat serta tidurnya sehingga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara garis besar ada dua manajemen untuk mengatasi nyeri yaitu menajemen farmakologis dan manajemen non farmakologis. Dari hasil distribusi frekuensi dapat dilihat bahwa intensitas nyeri sebelum dilakukan teknik relaksasi genggam jari yaitu responden yang mengalami nyeri ringan sebanyak 1 orang

78 responden yang mengalami nyeri berat terkontrol sebanyak 1 orang (10,0%).

Reaksi fisik seseorang terhadap nyeri meliputi perubahan neurologis yang spesifik dan sering dapat diperkirakan. Kenyataannya, setiap orang mempunyai rangsangan nyeri yang sama, atau dengan kata lain setiap orang menerima stimulus nyeri pada intensitas yang sama. Reaksi pasien terhadap nyeri dibentuk oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi mencakup umur, sosial budaya, status emosional, pengalaman nyeri masa lalu, sumber dan anti dari nyeri dan dasar pengetahuan pasien.

Menurut Potter & Perry usia adalah variabel penting yang mempengaruhi nyeri terutama pada anak dan orang dewasa. Perbedaan perkembangan yang ditemukan antara kedua kelompok umur ini dapat mempengaruhi bagaimana anak dan orang dewasa bereaksi terhadap nyeri. Anak-anak kesulitan untuk memahami nyeri dan beranggapan kalau apa yang dilakukan perawat dapat menyebabkan nyeri. Anak-anak yang belum mempunyai kosakata yang banyak, mempunyai kesulitan mendeskripsikan secara verbal dan mengekspresikan nyeri kepada orang tua atau perawat.

Menurut Gill laki-laki dan wanita tidak mempunyai perbedaan secara signifikan mengenai respon mereka terhadap nyeri. Masih diragukan bahwa jenis kelamin merupakan faktor yang berdiri sendiri dalam ekspresi nyeri. Misalnya anak laki-laki harus berani dan tidak boleh menangis dimana seorang wanita dapat menangis dalam waktu yang sama.

Ketika sesuatu menjelaskan seseorang sangat sensitif terhadap nyeri, sesuatu ini merujuk kepada toleransi nyeri seseorang dimana seseorang dapat menahan nyeri sebelum memperlihatkan reaksinya. Kemampuan untuk mentoleransi nyeri dapat rnenurun dengan

Toleransi nyeri dapat ditingkatkan dengan obat-obatan, alkohol, hipnotis, kehangatan, distraksi dan praktek spiritual (Alimul, 2008).

E. Rerata Intensitas Nyeri Pada Pasien Post Operasi Apendiktomi Sesudah Dilakukan Teknik Relaksasi Genggam Jari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Deli Serdang Tahun 2015

Dari hasil distribusi frekuensi dapat dilihat bahwa intensitas nyeri sesudah dilakukan teknik relaksasi genggam jari yaitu responden yang tidak mengalami nyeri sebanyak 3 orang (30,0%), responden yang mengalami nyeri ringan sebanyak 6 orang (60,0%) dan responden yang mengalami nyeri sedang sebanyak 1 orang (10,0%)..

Menurut Carpenito (2000) kebutuhan rasa nyaman adalah suatu keadaan yang membuat seseorang merasa nyaman, terlindungi dari ancaman psikologis, bebas dari rasa sakit terutama nyeri. Perubahan rasa nyaman akan menimbulkan perasaan yang tidak enak atau tidak nyaman dalam berespon terhadap stimulus yang berbahaya. Rasa nyeri merupakan stresor yang dapat menimbulkan stress dan ketegangan dimana individu dapat berespon secara biologis dan perilaku yang menimbulkan respon fisik dan psikis. Respon fisik meliputi perubahan keadaan umum, wajah, denyut nadi, pernafasan, suhu badan, sikap badan, dan apabila nafas makin berat dapat menyebabkan kolaps kardiovaskuler dan syok, sedangkan respon psikis akibat nyeri dapat merangsang respon stress yang dapat mengurangi sistem imun dalam peradangan, serta menghambat penyembuhan respon yang lebih parah akan mengarah pada ancaman merusak diri sendiri (Corwin, 2006).

Teknik relaksasi merupakan teknik pereda nyeri yang banyak memberikan

79 masukkan terbesar karena teknik relaksasi dapat mencegah kesalahan yang berlebihan pasca operasi. Adapaun relaksasi dapat mempertahankan komponen sistem saraf otonom (SSO) dalam keadaan homeostasis sehingga tidak terjadi peningkatan suplai darah, mengurangi kecemasan dan ketakutan dan dapat beradaptasi dengan nyeri selama proses perawatan (Rosemary M, 2006).

F. Pengaruh Teknik Relaksasi Genggam Jari Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pada Pasien Post Operasi Apendiktomi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Deli Serdang Tahun 2015

Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji dependen sample

t-test/paired t test menunjukan bahwa

pValue yaitu 0.004 yang berarti p Value ≤ dari 0.05. Maka Hipotesa dalam penelitian ini diterima yang berarti ada perbedaan yang signifikan terhadap intensitas nyeri pada post operasi apendiktomi sebelum dan sesudah diberikan teknik relaksasi genggam jari. Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji

dependen sample t-test/paired t test

menunjukan bahwa rerata intensitas nyeri sebelum dilakukan teknik relaksasi genggam jari yaitu 6,27, rerata intensitas nyeri sesudah dilakukan teknik relaksasi genggam jari yaitu 4,18, dan rerata sebelum dan sesudah teknik relaksasi genggam jari yaitu 2,091. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara sebelum dan sesudah teknik relaksasi relaksasi genggam jari.

Beberapa penelitian, telah menunjukkan bahwa relaksasi efektif dalam menurunkan nyeri pascaoperasi. Ini mungkin karena relatif kecilnya peran otot-otot skeletal dalam nyeri pasca-operatif atau kebutuhan pasien untuk melakukan teknik relaksasi tersebut agar efektif. Periode relaksasi yang teratur dapat membantu untuk melawan keletihan dan ketegangan otot yang terjadi dengan

nyeri kronis dan yang meningkatkan nyeri. Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Jacobson dan Wolpe menunjukkan bahwa relaksasi dapat mengurangi ketegangan dan kecemasan. Relaksasi merupakan kebebasan mental dan fisik dari ketegangan dan stress, karena dapat mengubah persepsi kognitif dan motivasi afektif pasien. Teknik relaksasi membuat pasien dapat mengontrol diri ketika terjadi rasa tidak nyaman atau nyeri stress fisik dan emosi pada nyeri (Potter, 2008).

Berbagai macam bentuk relaksasi yang sudah ada adalah relaksasi otot, relaksasi kesadaran indera, relaksasi meditasi, yoga dan relaksasi hipnosa (Utami, 1993). Dari bentuk relaksasi di atas belum pernah dimunculkan kajian tentang teknik relaksasi genggam jari. Relaksasi genggam jari adalah sebuah teknik relaksasi yang sangat sederhana dan mudah dilakukan oleh siapapun yang berhubungan dengan jari tangan serta aliran energi di dalam tubuh kita. Teknik genggam jari disebut juga finger hold (Liana,2008).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pinandita (2012) tentang pengaruh teknik relaksasi genggam jari terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien post operasi laparatomi menunjukkan hasil bahwa dengan uji statistik paired sample t-test pada kelompok kontrol, intensitas nyeri pre test

menunjukan mean = 6.58 dan pada post

test menunjukkan mean = 6.47. Sedangkan

beda mean pre test dan post test adalah 0.11 dengan t-hitung 1.461 dan p-value = 0.163. Oleh karena t hitung > t tabel (1.852 > 1.75) dan p-value (0.03 < 0.05) maka Ho diterima, artinya ada perbedaan antara pre

dan post tanpa perlakuan relaksasi

genggam jari pada kelompok kontrol di Rumah Sakit PKUMuhammadiyah Gombong.

KESIMPULAN DAN SARAN