NESTRA-JURNAL
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Istilah usus buntu yang dikenal di masyarakat awam adalah kurang tepat karena usus yang buntu sebenarnya adalah sekum. Apendiks diperkirakan ikut serta dalm system imun sektorik di saluran pencernaan. Namun, pengangkatan apendiks tidak menimbulkan efek fungsi system imun yang jelas. Peradangan pada apendiks selain mendapat intervensi farmakologik juga memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi dan memberikan implikasi pada perawat dalam bentuk asuhan keperawatan (Syamsyuhidayat, 2008).
Berlanjutnya kondisi apendisitis akan meningkatkan resiko terjadinya perforasi dan pembentukan masa periapendikular. Perforasi dengan cairan inflamasi dan bakteri masuk ke rongga abdomen lalu memberikan respons inflamasi permukaan peritoneum atau terjadi peritonitis. Apabila perforasi apendiks disertai dengan material abses, maka akan memberikan manifestasi nyeri local akibat akumulasi abses dan kemudian juga akan memberikan respons peritonitis. Manifestasi yang khas dari perforasi apendiks adalah nyeri hebat yang tiba-tiba datang pada abdomen kanan bawah. Insiden apendisitis di Negara maju lebih tinggi daripada di Negara berkembang. Namun, dalm tiga-empat dasawarsa terakhir kejadiannya menurun secara bermakna. Hal ini di duga disebabkan oleh meningkatnya penggunaan makanan berserat pada diit harian (Santacroce,2009).
Tujuh persen penduduk di Amerika menjalani apendiktomi (pembedahan untuk mengangkat apendiks) dengan insidens 1,1/1000 penduduk pertahun, sedang di negara-negara barat sekitar 16%. Di Afrika dan Asia prevalensinya lebih rendah akan tetapi cenderung meningkat oleh karena pola dietnya yang mengikuti orang barat (Priharjo, 2009).
Dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) pada tahun 2013
di Indonesia, apendisitis akut merupakan salah satu penyebab dari akut abdomen dan beberapa indikasi untuk dilakukan operasi kegawatdaruratan abdomen. Insidens apendisitis di Indonesia menempati urutan tertinggi di antara kasus kegawatan abdomen lainya (Depkes 2008). Pada tahun 2013 jumlah penyakit sepuluh besar terbanyak pada pasien rawat inap, penyakit apendiksitis berada diurutan ke sembilan terbanyak pada pasien rawat inap, dengan jumlah kasus 30.703 pertahun. Dalam kasus ini wanita lebih banyak penderitaannya dengan jumlah 16.783 orang sedangkan pada pria jumlah kasus 13.920 orang. Sedangkan pada kasus meninggalnya pada pasien apendiksitis didapat jumlah kasus 234 orang. Pada tahuun 2013 di Propinsi Sumatera Utara sendiri apendiksitis menempati urutan kesepuluh terbanyak penyakit tidak menular dengan prevalensi 0.5%, hal ini menujukan peningkatan dari jumlah penderita tahun 2010-2012 yaitu meningkat 8% (Kementerian Kesehatan RI, 2013).
Pasca pembedahan (pasca operasi) pasien merasakan nyeri hebat dan 75% penderita mempunyai pengalaman yang kurang menyenangkan akibat pengelolaan nyeri yang tidak adekuat. Hal tersebut merupakan stressor bagi pasien dan akan menambah kecemasan serta keteganggan yang berarti pula menambah rasa nyeri karena rasa nyeri menjadi pusat perhatiannya. Bila pasien mengeluh nyeri maka hanya satu yang mereka inginkan yaitu mengurangi rasa nyeri. Hal itu wajar, karena nyeri dapat menjadi pengalaman yang kurang menyenangkan akibat pengelolaan nyeri yang tidak adekuat (Zulaik, 2009).
Tingkat dan keparahan nyeri pasca operatif tergantung pada fisiologis dan psikologis individu dan toleransi yang ditimbulkan nyeri (Brunner & Suddart, 2002). Perawat berperan dalam mengidentifikasi kebutuhankebutuhan pasien dan membantu serta menolong pasien dalam memenuhi kebutuhan
72 penanganan rasa nyeri adalah hal yang sangat penting, tapi tidak semua perawat meyakini atau menggunakan pendekatan non farmakologis untuk menghilangkan rasa nyeri ketika merawat pasien post operasi karena kurangnya pengenalan teknik non farmakologis, maka perawat harus mengembangkan keahlian dalam berbagai strategi dalam penanganan rasa nyeri (Lawrence, 2009).
Manajemen nyeri merupakan salah satu cara yang digunakan dibidang kesehatan untuk mengatasi nyeri yang dialami oleh pasien. Manajemen nyeri yang tepat haruslah mencakup penanganan secara keseluruhan, tidak hanya terbatas pada pendekatan farmakologi saja, karena nyeri juga dipengaruhi oleh emosi dan tanggapan individu terhadap dirinya. Secara garis besar ada dua manajemen untuk mengatasi nyeri yaitu manajemen farmakologi dan manajemen non farmakologi. Teknik farmakologi adalah cara yang paling efektif untuk menghilangkan nyeri terutama untuk nyeri yang sangat heba yang berlangsung selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari (Smeltzer, 2008).
Pemberian analgesik biasanya dilakukan untuk mengurangi nyeri. Selain itu, untuk mengurangi nyeri umumnya dilakukan dengan memakai obat tidur. Namun pemakaian yang berlebihan membawa efek samping kecanduan, bila overdosis dapat membahayakan pemakainya. Pemberian analgesik dan pemberian narkotik untuk menghilangkan nyeri tidak terlalu dianjurkan karena dapat mengaburkan diagnosa (Sjamsuhidayat, 2008).
Metode pereda nyeri non farmakologis biasanya mempunyai resiko yang sangat rendah. Meskipun tindakan tersebut bukan merupakan pengganti untuk obat–obatan, tindakan tesebut mugkin diperlukan atau sesuai untuk mempersingkat episode nyeri yang berlangsung hanya beberapa detik atau
farmakologi dalam strategi penanggulangan nyeri, disamping metode TENS (Transcutaneons Electric Nerve
Stimulation), biofeedack, placebo dan
distraksi. Manajemen nyeri dengan melakukan teknik relaksasi merupakan tindakan eksternal yang mempengaruhi respon internal individu terhadap nyeri. Manajemen nyeri dengan tindakan relaksasi mencakup latihan pernafasan diafragma, teknik relaksasi progresif, guided imagery, dan meditasi, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa relaksasi nafas dalam sangat efektif dalam menurunkan nyeri pasca operasi (Suddart, 2009).
Beberapa penelitian, telah menunjukkan bahwa relaksasi efektif dalam menurunkan nyeri pascaoperasi. Ini mungkin karena relatif kecilnya peran otot-otot skeletal dalam nyeri pasca-operatif atau kebutuhan pasien untuk melakukan teknik relaksasi tersebut agar efektif. Periode relaksasi yang teratur dapat membantu untuk melawan keletihan dan ketegangan otot yang terjadi dengan nyeri kronis dan yang meningkatkan nyeri. Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Jacobson dan Wolpe menunjukkan bahwa relaksasi dapat mengurangi ketegangan dan kecemasan. Relaksasi merupakan kebebasan mental dan fisik dari ketegangan dan stress, karena dapat mengubah persepsi kognitif dan motivasi afektif pasien. Teknik relaksasi membuat pasien dapat mengontrol diri ketika terjadi rasa tidak nyaman atau nyeri stress fisik dan emosi pada nyeri (Potter, 2008).
Berbagai macam bentuk relaksasi yang sudah ada adalah relaksasi otot, relaksasi kesadaran indera, relaksasi meditasi, yoga dan relaksasi hipnosa (Utami, 1993). Dari bentuk relaksasi di atas belum pernah dimunculkan kajian tentang teknik relaksasi genggam jari. Relaksasi genggam jari adalah sebuah teknik relaksasi yang sangat sederhana dan mudah dilakukan oleh siapapun yang
73 berhubungan dengan jari tangan serta aliran energi di dalam tubuh kita. Teknik genggam jari disebut juga finger hold (Liana,2008).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pinandita (2012) tentang pengaruh teknik relaksasi genggam jari terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien post operasi laparatomi menunjukkan hasil bahwa dengan uji statistik paired sample t-test pada kelompok kontrol, intensitas nyeri pre test
menunjukan mean = 6.58 dan pada post
test menunjukkan mean = 6.47. Sedangkan
beda mean pre test dan post test adalah 0.11 dengan t-hitung 1.461 dan p-value = 0.163. Oleh karena t hitung > t tabel (1.852 > 1.75) dan p-value (0.03 < 0.05) maka Ho diterima, artinya ada perbedaan antara pre
dan post tanpa perlakuan relaksasi
genggam jari pada kelompok kontrol di Rumah Sakit PKUMuhammadiyah Gombong.
Menurut data dari medical record
badan pelayanann kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah Deli Serdang prevalansi
apendiksitis pada orang dewasa yang
dirawat sejak tahun 2012 sampai dengan tahun 2013 sebanyak 616 kasus, 113 orang yang sembuh total (50,3%) dan 11 orang meninggal karena infeksi berat. Pada bulan Januari-April terdapat 46 orang yang mengalami apendiktomi. Apendiksitis akut merupakan kondisi kegawatan yang memerlukan pembedahan atau apendiktomi.
Berdasarkan survey pendahuluan, peneliti tertarik untuk menggambil judul ”Pengaruh Teknik Relaksasi Genggam Jari Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pada Pasien Post Operasi Apendiktomi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Deli Serdang Tahun 2015”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: adakahPengaruh Teknik Relaksasi Genggam Jari Terhadap Penurunan
Intensitas Nyeri Pada Pasien Post Operasi
Apendiktomi di Rumah Sakit Umum
Daerah (RSUD) Deli Serdang Tahun 2015?
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Pengaruh Teknik Relaksasi Genggam Jari Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pada Pasien Post Operasi Apendiktomi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Deli Serdang Tahun 2015.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui rerata intensitas nyeri pada pasien post operasi apendiktomi
sebelum dilakukan teknik relaksasi genggam jari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Deli Serdang Tahun 2015.
b. Mengetahui rerata intensitas nyeri pada pasien post operasi apendiktomi
sesudah dilakukan teknik relaksasi genggam jari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Deli Serdang Tahun 2015.
c. Mengetahui rerata intensitas nyeri pada pasien post operasi apendiktomi
sebelum dan sesudah dilakukan teknik relaksasi genggam jari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Deli Serdang Tahun 2015.
D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Instansi Pendidikan
Sebagai bahan bacaan dan masukan bagi pengembangan ilmu pengetahuan kepada mahsiswa/I MEDISTRA Lubuk Pakam yang akan mengadakan penelitian tentang pengaruh teknik relaksasi terhadap tingkat nyeri pada pasien pascaapendiktomi.
2. Bagi Rumah Sakit
Untuk memberikan masukan perencanaan dan pengembangan pelayanan kesehatan pada pasien adalah peningkatan kualitas pelayanan , khususnya dalam pemberian teknik relaksasi terhadap tingkat nyeri pada pasien pascaapendiktomi.
74 pasien tentang pengaruh teknik relaksasi terhadap tingkat nyeri pada pasien pasca apendiktomi.
4. Bagi Peneliti
Sebagai penelitian dasar dan bahan masukan serta pengalaman yang dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi terhadap tingkat nyeri pada pasien pascaapendiktomi.
5. Bagi Peneliti Selanjutnya
Dapat menjadi bahan referensi dan masukan apabila akan melakukan penelitian tentang teknik relaksasi terhadap tingkat nyeri pada pasien
pascaapendiktomy.
METODE PENELITIAN