• Tidak ada hasil yang ditemukan

NESTRA-JURNAL

TATI MURNI KAROKARO STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam

1.1 Latar Belakang

HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRA OPERATIF DI RAWAT DI

RUANG BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) DELI SERDANG LUBUK PAKAM TAHUN 2015

TATI MURNI KAROKARO STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam

ABSTRACT

Dread earn happened at all of patient to experience operation. Dread also earn happened at patient to experience operation. One of the service exist in Hospital was medication service pass operation. Pursuant to obtained data from Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Deli Serdang by holding an interview with 5 family concerning communications among nurse with family member, three family member express nurse felt by less was giving of newest information regarding the condition of patient, the condition make family member become more. this descriptive Research type of korelatif. This research aim to to know relation of komunukasi treatment with storey;level dread of pre patient of operatif in Room Operate Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Deli Serdang Year 2015. Population at this elite was] entire patient to experience operation in Room Operate On Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Deli Serdang and of sampel counted 10 people, technique of sampel by purposive sampling, data collecting method by holding an interview with indirectly by using observation sheet, data analysis by using test of chi-squere hence there was relation of komunukasi treatment with storey;level dread of pre patient of operatif. Pursuant to result of obtained [by] statistical test of value of from 0.05 that is p=0,006. Was for that expected to health energy so that can improve communications to patient so that can less dread of patient to experience operation

Keyword : Komunukasi, Dread PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Setiap orang pasti pernah mengalami kecemasan pada saat-saat tertentu, dan dengan tingkat yang berbeda-beda. Hal tersebut mungkin saja terjadi karena individu merasa tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi hal yang mungkin menimpanya dikemudian hari. Perasaan yang tidak menentu ini pada umumnya tidak menyenangkan dan menimbulkan atau disertai

perubahan fisiologis (misal gemetar, berkeringat, detak jantung meningkat) dan psikologis (misal panik, tegang, bingung, tidak bisa berkonsentrasi).

Kecemasan merupakan reaksi normal terhadap perubahan lingkungan yang membawa perasaan yang tidak senang atau tidak nyaman yang disebabkan oleh dugaan akan bahaya atau frustasi yang mengancam, membahayakan rasa aman, keseimbangan atau kehidupan

15 seorang individu atau kelompok biososialnya. Selain itu kecemasan adalah perasaan yang sangat menyebar, yang sangat tidak menyenangkan, agak tidak menentu dan kabur tentang sesuatu yang akan terjadi.

Operasi yang ditunggu pelaksanaanya akan menyebabkan kecemasan dan ketakutan. Penyebab kecemasan pasien antara lain kekhawatiran terhadap nyeri saat operasi, kemungkinan cacat, menjadi bergantung pada orang lain, dan kematian. Pasien juga takut akan kehilangan pendapatan atau berkurangnya pendapatan karena penggantian biaya di rumah sakit dan ketidakberdayaan menghadapi operasi dalam waktu yang semakin dekat. Pasien pre operasi dapat mengalami kecemasan terhadap anastesi, cemas karena ketidaktahuan prosedur, atau ancaman lain terhadap citra tubuh pasien (Smeltzer & Bare, 2002).

Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan pasien dan peran perawat dalam upaya penyembuhan pasien menjadi sangat penting. Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien. Termasuk salah satunya dalam perawatan pasien saat pre operasi. Perawatan pre operasi dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir saat pasien dikirim ke meja operasi. Perawatan pre operasi yang efektif dapat mengurangi resiko post operasi, salah satu prioritas keperawatan pada periode ini adalah mengurangi kecemasan pasien (Smeltzer & Bare, 2002).

Kecemasan dapat terjadi pada semua pasien yang akan menjalani operasi. Kecemasan juga dapat terjadi pada pasien yang akan menjalani operasi. Salah satu layanan yang ada di Rumah Sakit adalah layanan pengobatan melalui operasi. Salah satu efek pembedahan berupa nyeri dan infeksi pada bekas luka operasi. Komplikasi dari salah pembedahan yaitu hematoma dan infeksi luka menjadi konsekuensi post operasi hernia terhadap fungsi seksual pasien hernia skrotalis.

Menurut Potter dan Perry (2005) ada berbagai alasan yang dapat menyebabkan ketakutan atau kecemasan pasien dalam menghadapi pembedahan antara lain adalah takut nyeri setelah pembedahan, takut terjadi perubahan fisik, dan takut operasi akan gagal. Kecemasan yang mereka alami biasanya terkait dengan segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat segala macam pembedahan dan tindakan pembiusan. Reaksi cemas ini akan berlanjut bila pasien tidak pernah atau kurang mendapat informasi yang berhubungan dengan penyakit, dan tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. Kecemasan pasien timbul dari rasa kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar yang berkaitan dengan perasaan yang tidak pasti, tidak berdaya, serta obyek yang tidak spesifik. Kecemasan tersebut dimanifestasikan secara langsung melalui perubahan fisiologis seperti (gemetar, berkeringat, detak jantung meningkat, nyeri abdomen, sesak nafas) dan perubahan perilaku seperti (gelisah, bicara cepat, reaksi terkejut) dan secara tidak langsung melalui

16 timbulnya gejala sebagai upaya untuk melawan kecemasan (Stuart & Laraia, 2005). Salah satu faktor yang mempengaruhi kecemasan adalah pandangan interpersonal yang beranggapan adanya ancaman terhadap integritas fisik meliputi disabilitas fisiologis yang akan terjadi atau penurunankemampuan untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari (Stuart, 2007).

Suatu penelitian menyebutkan bahwa 80% dari pasien yang akan menjalani pembedahan mengalami kecemasan (Ferlina, 2002). Carpenito, menyatakan bahwa 90% pasien pre operatif berpotensi mengalami kecemasan (Yeremia, 2011).

Komunikasi yang baik dari perawat kepada pasien yang akan menghadapi operasi dapat menciptakan suatu persepsi yang baik bagi pasien terhadap perawat. Komunikasi yang disampaikan kepada pasien secara baik diharapkan dapat menurunkan tingkat kecemasan kepada pasien. Persepsi yang terbagun dari adanya penilaian yang baik pada akhirnya akan menjadikan meningkatnya kepercayaan pasien terhadap proses operasi (Nurjanah, 2009).

Berdasarkan penelitian dari Woro Hapsari di RSD Panembahan Senopati bantul dari bulan Juli - Agustus dengan sampel 30 pasien, didapatkan hasil pasien dengan kecemasan ringan 70% (21 responden), kecemasan sedang 26,7% (8 responden) dan kecemasan berat 3,3% (1 responden). Hal ini menunjukkan bahwa ternyata ada hubungan yang bermakna antara pemberian pendidikan kesehatan pre operasi terhadap tingkat kecemasan

pada pasien. Salah satu tindakan keperawatan yang merupakan tindakan pokok dari seorang perawat ialah memberikan komunikasi terapeutik karena merupakan komponen esensial dalam asuhan keperawatan dan diarahkan pada kegiatan meningkatkan, mempertahankan dan memulihkan status kesehatan, mencegah penyakit dan membantu individu untuk mengatasi efek sisa penyakit.

Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk memengaruhi tingkah laku manusia, sehingga komunikasi dikembangkan dan dipelihara secara terus menerus. Komunikasi therapeutik termasuk komunikasi interpersonal yaitu komunikasi antara orang-orang secara tatap muka yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun non verbal.

Komunikasi terapeutik adalah kemampuan perawat untuk membantu klien beradaptasi terhadap stres, mengatasi gangguan psikologis dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain, Norhouse dalam Nunung Nurhasanah, (2010). Karena komunikasi merupakan proses yang sangat khusus dan paling bermakna perilaku manusia. Pada profesi keperawatan, komunikasi menjadi lebih bermakna karena merupakan

metode utama dalam

mengimplementasikan tindakan yang menyangkut dalam bidang kesehatan (Christina Lia Uripni 2003).

Komunikasi terapeutik didefinisikan sebagai komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya difokuskan untuk kesembuhan

17 pasien, dan merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan untuk penyembuhan pasien yang dilakukan oleh perawat atau tenaga kesehatan lainnya, (Christina Lia Uripni 2003). Hubungan perawat-pasien yang terapeutik adalah pengalaman belajar bersama dan pengalaman perbaikan emosi klien. Dalam hal ini perawat memaknai dirinya secara terapeutik dengan menggunakan berbagai teknik komunikasi agar perilaku klien berubah ke arah yang positif. Komunikasi terapeutik tidak dapat berlangsung dengan sendirinya, tapi

harus direncanakan,

dipertimbangkan, dan dilaksanakan secara profesional. Seorang perawat tidak akan dapat mengetahui tentang kondisi klien jika tidak ada kemampuan menghargai keunikan klien. Melalui komunikasi terapeutik diharapkan perawat dapat menghadapi, mempersepsikan, bereaksi, dan menghargai keunikan klien.

Salah satu faktor kegagalan menjalankan terapi adalah ketidakpatuhan terhadap terapi yang disebabkan oleh kurangnya dukungan sosial dari keluarga atau kerabat. Hal ini didukung oleh penelitian Cahyadi 2006, di Ruang Cendana I RSUD Dr. Moewardi Surakarta tentang hubungan antara

support system keluarga dengan

kepatuhan pengobatan pada pasien yang mendapat kemoterapi membuktikan ada hubungan yang bermakna antara support system

keluarga dengan kepatuhan berobat jalan.

Berdasarkan penelitian Uli Asima Simanjuntak tentang Hubungan Pengetahuan Perawat

tentang Komunikasi Terapeutik Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operatif di RS.Elisabeth Medan 2011 menggambarkan bahwa situasi operasi merupakan situasi yang diwarnai suasana cemas, baik bagi pasien dan keluarganya. Sehingga peran perawat dan tenaga kesehatan lain perlu memberikan perhatian dalam upaya mengurangi kecemasan sekaligus menurunkan resiko operasi yang dapat timbul karena pasien tidak kooperatif dan mengganggu proses penyembuhan. Oleh sebab itu, bila perawat tidak berperan aktif dalam memberikan dukungan dan motivasi kepada pasien maka tingkat kecemasan pasien akan terus meningkat dan merasa takut dalam menjalani tindakan keperawatan sebelum operasi. Untuk itu, pasien yang akan menjalani operasi harus diberi komunikasi terapeutik untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan serta dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan pada pasien.

Pasien yang diajak mendiskusikan masalah kesehatan yang dihadapinya, akan merasa terayomi dan mendapat perhatian yang penuh dari perawat sehingga bisa menurunkan kecemasannya. Komunikasi yang terjadi antara perawat dan pasien merupakan komunikasi yang mengarah pada penemuan masalah keperawatan melalui pengkajian sampai pada evaluasi dari hasil tindakan dari kebuntuan komunikasi terapeutik Abdul Nasir dalam Siti Fatmawati, (2010).

Disamping itu, perawat harus lebih berkompeten menjadi seseorang komunikator yang efektif, perawat memakai dirinya secara