BAB IV DESKRIPSI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Penelitian
Ada tujuh indikator yang digunakan dalam kuesioner penelitian ini. Indikator
pertama adalah kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Indikator kedua
adalah siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar. Indikator ketiga
adalah pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas. Indikator keempat
adalah pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran. Indikator
kelima adalah pembelajaran bersifat fleksibel. Indikator keenam adalah hasil
pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Indikator ketujuh
adalah prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa. Kuesioner
kemudian diolah dan dianalisis.
1. Hasil analisis implementasi pembelajaran tematik
Pengolahan data implementasi pembelajaran tematik menggunakan distribusi
frekuensi (Riduwan, 2008: 70-72). Data implementasi pembelajaran tematik
mengurutkan kategori dari yang terkecil sampai tebesar. Tahap kedua adalah
menghitung jarak atau rentangan (R). Jarak atau rentangan (R) dihitung dengan
mengurangi data tertinggi dengan data terendah. Hasil yang didapat menunjukkan
jarak atau rentangan (R) sebesar 79. (Lihat lampiran 9)
Tahap ketiga adalah menghitung jumlah kelas (K). Jumlah kelas yang
ditentukan mengacu pada pembagian menurut Masidjo (1995: 153). Jumlah kelas
tersebut terdiri dari lima kelas yaitu sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah, dan
sangat rendah. Tahap keempat adalah menghitung panjang kelas interval (P).
Panjang kelas interval (P) dihitung dengan membagi rentangan dan jumlah kelas.
Panjang kelas interval diperoleh hasil sebesar 16. (Lihat lampiran 9)
Tahap kelima adalah menentukan kelas interval. Kelas interval dapat dilihat
pada tabel 4.1.
Tabel 4.1 Panjang Kelas Interval
Panjang Kelas Kategori
49-64 Sangat Rendah
65-80 Rendah
81- 96 Cukup
97-112 Tinggi
113-128 Sangat Tinggi
Tabel 4.1 menjelaskan bahwa apabila panjang kelas berada di antara 48-64
maka memiliki kategori sangat rendah. Panjang kelas yang berada di antara 65-80
memiliki kategori rendah. Panjang kelas berada di antara 81-96 memiliki kategori
cukup. Panjang kelas yang berada di antara 97-112 memiliki kategori tinggi.
Panjang kelas yang berada di antara 113-128 memiliki kategori sangat tinggi.
Tahap keenam dengan menghitung urutan interval kelas. Hasil dari
memindahkan semua angka distribusi ke dalam hasil akhir. Hasil akhir
perhitungan distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 4.2.
Tabel 4.2
Hasil Perhitungan Daftar Distribusi
Kategori Panjang Kelas Frekuensi Presentase
Sangat Tinggi 113-128 34 17,99% Tinggi 97-112 145 76,72% Cukup 81-96 10 5,29% Rendah 65-80 0 0% Sangat Rendah 49-64 0 0% Total 189 100%
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa data yang termasuk dalam kategori sangat
tinggi dengan panjang kelas 113-128 memiliki frekuensi 34 atau sebanyak
17,99%. Data yang termasuk dalam kategori tinggi dengan panjang kelas 97-112
memiliki frekuensi 145 atau sebanyak 76,72%. Data yang termasuk dalam
kategori cukup dengan panjang kelas 81-96 memiliki frekuensi 10 atau sebanyak
5,29%. Data yang termasuk dalam kategori rendah dengan panjang kelas 65-80
memiliki frekuensi 0 atau sebanyak 0%. Data yang termasuk dalam kategori
sangat rendah dengan panjang kelas 49-64 memiliki frekuensi 0 atau sebanyak
0%.
2. Hasil analisis perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran
tematik ditinjau dari faktor demografi latar belakang pendidikan
Analisis data untuk mengetahui adanya perbedaan tingkat implementasi
penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi latar belakang
pendidikan menggunakan bantuan dari program SPSS 16. Variabel latar belakang pendidikan guru dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok pertama yaitu SPG
atau π1, kelompok kedua adalah sarjana non-PGSD atau π2, kelompok ketiga adalah sarjana D2 PGSD atau π3, dan kelompok keempat adalah sarjana PGSD
atau π4. Analisis data yang dilakukan berupa uji normalitas, uji jomogenitas, dan uji hipotesis menggunakan Kruskall-Wallis. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan Kolmogorov Smirnov dalam program SPSS 16. Berikut Ho dan Ha uji normalitas dalam penelitian ini:
Hipotesis nol (Ho) : Distribusi sampel tidak berbeda tidak signifikan
dari distribusi normal (data berdistribusi normal).
Hipotesis alternatif (Ha) : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari
distribusi normal (data berdistribusi tidak normal).
Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan dalam uji
normalitas. Data latar belakang pendidikan guru dalam rumusan masalah 2
merupakan data ordinal yang berarti bahwa jika data berdistribusi normal atau
tidak normal maka analisis yang digunakan adalah statistik non parametrik.
Kriteria yang pertama adalah jika nilai sign.β₯ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa data berdistribusi normal.
Kriteria yang kedua adalah jika nilai sign. < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa data berdistribusi tidak normal.
Tabel 4.3 merupakan hasil uji normalitas setiap kelompok latar belakang
pendidikan guru SPG, sarjana non-PGSD, sarjana D2 PGSD, dan sarjana PGSD.
Tabel 4.3
Hasil Uji Normalitas Kolmogorov S Latar Belakang Pendidikan Guru
No. Variabel Sign. Keterangan
1. SPG 0,200 Normal
2. Sarjana non-PGSD 0,200 Normal
3. Sarjana D2 PGSD 0,000 Tidak Normal
4. Sarjana PGSD 0,070 Normal
Hasil uji normalitas Kolmogorov Smirnov pada tabel 4.3 menunjukkan bahwa hasil sign. untuk latar belakang pendidikan SPG adalah 0,200 > 0,05. Hasil
tersebut berarti bahwa data latar belakang pendidikan SPG berdistribusi normal.
Kesimpulan yang diperoleh adalah Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Hasil sign.
untuk latar belakang pendidikan sarjana non-PGSD adalah 0,200 > 0,05. Hasil
tersebut berarti bahwa data latar belakang pendidikan sarjana non-PGSD
berdistribusi normal. Kesimpulan yang diperoleh adalah Ho gagal ditolak dan Ha
ditolak. Hasil sign. untuk latar belakang pendidikan sarjana D2 PGSD adalah 0,000 < 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa data latar belakang pendidikan sarjana
D2 PGSD berdistribusi tidak normal. Kesimpulan yang diperoleh adalah Ho
ditolak dan Ha gagal ditolak. Hasil sign. untuk latar belakang pendidikan sarjana PGSD adalah 0,070 > 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa data latar belakang
pendidikan sarjana PGSD berdistribusi normal. Kesimpulan yang diperoleh
adalah Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Hasil analisi yang diperoleh menunjukkan
bahwa semua data latar belakang pendidikan berdistribusi normal, maka analisis
data yang digunakan adalah statistik non parametrik sebab data bersifat ordinal
(Lihat lampiran 10)
Uji normalitas juga dilakukan dengan menggunakan Shapiro Wilk untuk lebih meyakinkan hasil penelitian yang diperoleh. Uji Shapiro Wilk dilakukan karena hasil yang diperoleh lebih akurat daripada Kolmogorov Smirnov. Tabel 4.4 merupakan hasil analisis uji normalitas dengan menggunakan Shapiro Wilk.
Tabel 4.4 Uji Normalitas Shapiro Wilk
No. Variabel Kolmogorov S Shapiro W Ket.
1. SPG 0,200 0,589 Normal
2. Sarjana non-PGSD 0,200 0,283 Normal 3. Sarjana D2 PGSD 0,000 0,000 Tidak Normal 4. Sarjana PGSD 0,070 0,068 Normal
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa data latar belakang pendidikan SPG yang diuji
menggunakan Shapiro Wilk memiliki hasil sign. untuk latar belakang pendidikan SPG adalah 0,589 > 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa data latar belakang
pendidikan SPG berdistribusi normal. Data latar belakang pendidikan sarjana
non-PGSD memiliki hasil sign. adalah 0,283 > 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa data latar belakang pendidikan sarjana non-PGSD berdistribusi normal. Hasil sign.
untuk latar belakang pendidikan sarjana D2 PGSD adalah 0,000 < 0,05. Hasil
tersebut berarti bahwa data latar belakang pendidikan sarjana D2 PGSD
berdistribusi tidak normal. Hasil sign. untuk latar belakang pendidikan sarjana PGSD adalah 0,068 > 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa data latar belakang
pendidikan SPG berdistribusi normal. Uji Shapiro Wilk yang telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat satu latar belakang pendidikan yang memiliki data
tidak normal. Analisis data yang digunakan tetap menggunakan analisis statistik
non parametrik sebab data latar belakang pendidikan bersifat ordinal. (Lihat
lampiran 10)
Uji normalitas kedua dan ketiga dilakukan dengan visualisasi P-P Plot dan histogram. Titik-titik berlubang pada grafik P-P Plot merupakan data, jika titik-titik tersebut terletak di sekitar garis artinya data normal (Field, 2009: 136).
Gambar 4.1 sampai 4.8 merupakan visualisasi P-P Plot dan histogram data latar belakang pendidikan.
Gambar 4.1
Visualisasi P-P Plot Uji Normalitas Data Latar Belakang Pendidikan SPG
Gambar 4.1 menunjukkan hasil visualisasi P-P Plot uji normalitas data latar belakang pendidikan SPG. Titik-titik berlubang pada P-P Plot merupakan data latar belakang pendidikan SPG. Data latar belakang pendidikan SPG berada di
sekitar garis. Visualisasi berarti bahwa data latar belakang pendidikan SPG
berdistribusi normal. Uji normalitas ketiga dilakukan dengan menggunakan
histogram. Histogram membentuk kurva normal maka data normal (Field, 2009:
136). Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar
Gambar 4.2
Visualisasi Histogram Uji Normalitas Data Latar Belakang Pendidikan SPG
Gambar 4.2 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data latar
belakang pendidikan SPG. Data dapat dikatakan normal apabila histogram
membentuk kurva normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.2 menunjukkan bahwa
histogram membentuk kurva normal. Histogram membentuk kurva normal maka
data latar belakang pendidikan SPG berdistribusi normal. (Lihat lampiran 10)
Kelompok kedua yaitu data latar belakang pendidikan sarjana non-PGSD.
Kelompok kedua juga diuji dengan visualisasi P-P Plot dan histogram. Gambar 4.3 dan gambar 4.4 merupakan hasil visualisasi data latar belakang pendidikan
Gambar 4.3
Visualisasi P-P Plot Data Latar Belakang Pendidikan Sarjana non-PGSD
Gambar 4.3 menunjukkan hasil visualisasi P-P Plot uji normalitas data latar belakang pendidikan sarjana non-PGSD. Titik-titik berlubang pada P-P Plot
merupakan data latar belakang pendidikan sarjana non-PGSD. Data latar belakang
pendidikan sarjana non-PGSD berada di sekitar garis. Visualisasi berarti bahwa
data latar belakang pendidikan sarjana non-PGSD berdistribusi normal. Uji
normalitas selanjutnya dilakukan dengan menggunakan histogram. Histogram
membentuk kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji
Gambar 4.4
Visualisasi Histogram Data Latar Belakang Pendidikan Sarjana non-PGSD
Gambar 4.4 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data latar
belakang pendidikan sarjana non-PGSD. Data dapat dikatakan normal apabila
histogram membentuk kurva normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.4 menunjukkan
bahwa histogram membentuk kurva normal. Histogram membentuk kurva normal
maka data latar belakang pendidikan sarjana non-PGSD berdistribusi normal.
(Lihat lampiran 10)
Kelompok ketiga yaitu data latar belakang pendidikan sarjana D2 PGSD.
Kelompok ketiga juga diuji dengan visualisasi P-P Plot dan histogram. Gambar 4.5 dan gambar 4.6 merupakan hasil visualisasi data latar belakang pendidikan
Gambar 4.5
Visualisasi P-P Plot Uji Normalitas Data Latar Belakang Pendidikan Sarjana D2 PGSD
Gambar 4.5 menunjukkan hasil visualisasi P-P Plot uji normalitas data latar belakang pendidikan sarjana D2 PGSD. Titik-titik berlubang pada P-P Plot
merupakan data latar belakang pendidikan sarjana D2 PGSD. Data latar belakang
pendidikan sarjana D2 PGSD menjauhi garis. Visualisasi berarti bahwa data latar
belakang pendidikan sarjana D2 PGSD berdistribusi tidak normal. Uji normalitas
selanjutnya dilakukan dengan menggunakan histogram. Histogram membentuk
kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas
Gambar 4.6
Visualisasi Histogram Uji Normalitas Data Latar Belakang Pendidikan Sarjana D2 PGSD
Gambar 4.6 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data latar
belakang pendidikan sarjana D2 PGSD. Data dapat dikatakan normal apabila
histogram membentuk kurva normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.6 menunjukkan
bahwa histogram tidak membentuk kurva normal. Histogram membentuk kurva
tidak normal maka data latar belakang pendidikan sarjana D2 PGSD berdistribusi
tidak normal. (Lihat lampiran 10)
Kelompok keempat yaitu data latar belakang pendidikan sarjana PGSD.
Kelompok keempat juga diuji dengan visualisasi P-P Plot dan histogram. Gambar 4.7 dan gambar 4.8 merupakan hasil visualisasi data latar belakang pendidikan
Gambar 4.7
Visualisasi P-P Plot Uji Normalitas Data Latar Belakang Pendidikan Sarjana PGSD
Gambar 4.7 menunjukkan hasil visualisasi P-P Plot uji normalitas data latar belakang pendidikan sarjana PGSD. Titik-titik berlubang pada P-P Plot
merupakan data latar belakang pendidikan sarjana PGSD. Data latar belakang
pendidikan sarjana PGSD berada di sekitar garis. Visualisasi berarti bahwa data
latar belakang pendidikan sarjana PGSD berdistribusi normal. Uji normalitas
selanjutnya dilakukan dengan menggunakan histogram. Histogram membentuk
kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas
Gambar 4.8
Visualisasi Histogram Uji Normalitas Data Latar Belakang Pendidikan Sarjana PGSD
Gambar 4.8 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data latar
belakang pendidikan sarjana PGSD. Data dapat dikatakan normal apabila
histogram membentuk kurva normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.8 menunjukkan
bahwa histogram membentuk kurva normal. Histogram membentuk kurva normal
maka data latar belakang pendidikan sarjana PGSD berdistribusi normal. (Lihat
lampiran 10)
Analisis data kedua yang dilakukan adalah uji homogenitas. Rumusan masalah
2 yang telah diuji normalitasnya dan berdistribusi normal. Data tingkat
implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri
homogenitasnya dengan menggunakan Laveneβs Test. Hipotesis dalam uji homogenitas rumusan masalah 2 adalah:
Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat
implementasi pembelajaran tematik oleh guru
pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota
Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang
pendidikan guru.
Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi
pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas
bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau
dari faktor latar belakang pendidikan guru.
Uji homogenitas rumusan masalah 2 memiliki dua kriteria pengambilan
keputusan. Pertama, jika sign. β₯ 0,05 maka data memiliki varian sama yang berarti bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Kedua, jika sign. < 0,05 maka data memiliki varian berbeda yang berarti bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak.
Tabel 4.5 adalah hasil uji homogenitas data tingkat implementasi pembelajaran
tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau
dari faktor latar belakang pendidikan guru.
Tabel 4.5 Tabel Hasil Uji Homogenitas
Variabel Sign. Keterangan
Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru
0,071 Ho gagal ditolak
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa data tingkat implementasi pembelajaran
tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau
Hasil tersebut berarti bahwa sign. > 0,05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah
SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari faktor latar belakang pendidikan guru
memiliki varian yang sama. (Lihat lampiran 11)
Analisis data ketiga yang dilakukan adalah uji hipotesis. Uji hipotesis
dilakukan untuk mengetahui adanya perbedaan tingkat implementasi
pembelajaran oleh guru pengampu kelas bawah ditinjau dari faktor latar belakang
belakang pendidikan. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji Kruskall Wallis. Berikut Ho dan Ha uji hipotesis dalam penelitian ini:
Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan tingkat implementasi
pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas
bawah Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta
ditinjau dari latar belakang pendidikan guru. (π1 =
π2 =π3 =π4)
Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran
tematik oleh guru pengampu kelas bawah Sekolah
Dasar Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau dari latar
belakang pendidikan guru. (π1 β π2 β π3 β π4) Kriteria pengambilan keputusan uji hipotesis:
a. Jika sign. β₯ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan atau Ho gagal ditolak dan Ha ditolak.
b. Jika sign. < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa ada perbedaan atau Ho ditolak dan Ha gagal ditolak.
Tabel 4.6 merupakan hasil uji Kruskall Wallis tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan latar belakang pendidikan.
Tabel 4.6
Hasil Uji Kruskal Wallis Faktor Demografi Latar Belakang Pendidikan Guru
Nilai Keterangan
Asymp. Sig 0,284 Ho gagal ditolak
Hasil uji hipotesis pada tabel 4.6 menunjukkan bahwa hasil sign. untuk latar belakang pendidikan guru yang diperoleh sebesar 0,284 > 0,05. Hasil tersebut
berarti bahwa Ho dalam data latar belakang pendidikan gagal ditolak. Kesimpulan
yang diperoleh adalah tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran
tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD Negeri di Kota Yogyakarta ditinjau
dari faktor latar belakang pendidikan guru. Guru dengan latar belakang
pendidikan SPG, sarjana non-PGSD, sarjana D2 PGSD, maupun sarjana PGSD
sama-sama memiliki tingkat implementasi pembelajaran tematik yang tinggi.
(Lihat lampiran 12)
3. Hasil analisis perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran
tematik ditinjau dari faktor demografi status kepegawaian
Sama halnya dengan hasil analisis pada nomor 2. Analisis data dilakukan
untuk mengetahui adanya perbedaan tingkat implementasi penggunaan
pembelajaran tematik ditinjau dari faktor status kepegawaian. Variabel status
kepegawaian guru dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah
pegawai tidak tetap yayasan atau π1 dan kelompok kedua adalah pegawai negeri atau π2. Analisis data yang dilakukan berupa uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis menggunakan Mann Whitney. Uji normalitas dilakukan dengan
menggunakan Shapiro Wilk dalam program SPSS 16. Berikut Ho dan Ha uji normalitas dalam penelitian ini:
Hipotesis nol (Ho) : Distribusi sampel tidak berbeda tidak signifikan
dari distribusi normal (data berdistribusi normal).
Hipotesis alternatif (Ha) : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari
distribusi normal (data berdistribusi tidak normal).
Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan dalam uji
normalitas. Data dalam rumusan masalah 3 merupakan data ordinal yang berarti
bahwa jika data berdistribusi normal atau tidak normal maka analisis yang
digunakan adalah statistik non parametrik. Data dalam rumusan 3 dibagi menjadi
dua kelompok yaitu peagawai tidak tetap yayasan dan pegawai negeri. Kriteria
yang pertama adalah jika nilai sign.β₯ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa data berdistribusi normal. Kriteria yang
kedua adalah jika nilai sign. < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa data berdistribusi tidak normal. Tabel 4.7
sampai merupakan hasil uji normalitas setiap kelompok status kepegawaian tidak
tetap yayasan dan pegawai negeri.
Tabel 4.7
Hasil Uji Normalitas Kolmogorov Smirnov
Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Status Kepegawaian
No. Variabel Sign. Keterangan
1. Pegawai tidak tetap yayasan 0,200 Normal 2. Pegawai negeri 0,000 Tidak Normal
Hasil uji normalitas pada tabel 4.7 menunjukkan bahwa hasil sign. untuk kelompok pegawai tidak tetap yayasan adalah 0,200 > 0,05. Hasil tersebut berarti
Kesimpulan yang diperoleh adalah Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Hasil sign.
untuk status kepegawaian negeri adalah 0,000 < 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa
data kelompok pegawai negeri berdistribusi tidak normal. Kesimpulan yang
diperoleh adalah Ho ditolak dan Ha gagal ditolak. Data dua kelompok status
kepegawaian telah diuji normalitasnya dan menunjukkan bahwa kedua data
kelompok status kepegawaian berdistribusi normal. (Lihat lampiran 13)
Uji normalitas juga dilakukan dengan menggunakan Shapiro Wilk untuk lebih meyakinkan hasil penelitian yang diperoleh. Uji Shapiro Wilk dilakukan karena hasil yang diperoleh lebih akurat daripada Kolmogorov Smirnov. Tabel 4.8 merupakan hasil analisis uji normalitas dengan menggunakan Shapiro Wilk.
Tabel 4.8 Uji Normalitas Shapiro Wilk
No. Variabel Kolmogorov S Shapiro W Ket.
1. Pegawai tidak tetap yayasan
0,200 0,288 Normal
2. Pegawai negeri 0,000 0,000 Tidak normal
Tabel 4.8 menunjukkan bahwa data latar belakang pendidikan SPG yang diuji
menggunakan Shapiro Wilk memiliki hasil sign. untuk data kelompok pegawai tidak tetap yayasan adalah 0,288 > 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa data
pegawai tidak tetap yayasan berdistribusi normal. Data pegawai negeri memiliki
hasil sign. adalah 0,000 < 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa data pegawai negeri berdistribusi tidak normal. Uji Shapiro Wilk yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kedua status kepegawaian memiliki data tidak normal. Analisis data yang
digunakan menggunakan analisis statistik non parametrik sebab data latar
belakang pendidikan bersifat ordinal dan berdistribusi tidak normal. (Lihat
Uji normalitas kedua dan ketiga dilakukan dengan visualisasi P-P Plot dan histogram. Titik-titik berlubang pada grafik P-P Plot merupakan data, jika titik-titik tersebut terletak di sekitar garis artinya data normal (Field, 2009: 136).
Gambar 4.9 sampai 4.12 merupakan visualisasi P-P Plot dan histogram data status kepegawaian.
Gambar 4.9
Visualisasi P-P Plot Uji Normalitas Status Pegawai tidak Tetap Yayasan
Gambar 4.9 menunjukkan hasil visualisasi P-P Plot uji normalitas data status pegawai yayasan tidak tetap. Titik-titik berlubang pada P-P Plot merupakan data status pegawai tidak tetap. Data status pegawai tidak tetap berada di sekitar garis.
Visualisasi berarti bahwa data status pegawai tidak tetap yayasan berdistribusi
Histogram membentuk kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil
analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.10.
Gambar 4.10
Visualisasi Uji Normalitas Histogram Data Status Pegawai tidak Tetap Yayasan
Gambar 4.10 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas status pegawai
tidak tetap yayasan. Data dapat dikatakan normal apabila histogram membentuk
kurva normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.10 menunjukkan bahwa histogram
membentuk kurva normal. Histogram membentuk kurva normal maka data status
pegawai tidak tetap yayasan berdistribusi normal. (Lihat lampiran 13)
Kelompok kedua yaitu data status pegawai negeri. Kelompok kedua juga diuji
dengan visualisasi P-P Plot dan histogram. Gambar 4.11 dan gambar 4.12 merupakan hasil visualisasi data status pegawai negeri.
Gambar 4.11
Visualisasi P-P Plot Uji Normalitas Data Status Pegawai Negeri
Gambar 4.11 menunjukkan hasil visualisasi P-P Plot uji normalitas data status pegawai negeri. Titik-titik berlubang pada P-P Plot merupakan data status pegawai negeri. Data status pegawai negeri garis. Visualisasi berarti bahwa data
status pegawai negeri berdistribusi tidak normal. Uji normalitas selanjutnya
dilakukan dengan menggunakan histogram. Histogram membentuk kurva normal
maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas dengan
Gambar 4.12
Visualisasi Histogram Uji Normalitas Data Status Pegawai Negeri
Gambar 4.12 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas status pegawai
negeri. Data dapat dikatakan normal apabila histogram membentuk kurva normal
(Field, 2009: 136). Gambar 4.12 menunjukkan bahwa histogram tidak membentuk
kurva normal. Histogram membentuk kurva tidak normal maka data status