HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Hasil Penelitian
3. Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan studi dokumentasi yang sudah dilakukan di lapangan oleh peneliti kepada subjek, maka berikut ini merupakan sajian dari hasil reduksi data yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan
berdasarkan pada tujuan peneliti yaitu untuk mengidentifikasi dan memaparkan pilihan karier melalui studi Genogram Karier pada keluarga pengusaha batik. a. Hasil Observasi Lingkungan
Pengamatan peneliti mengenai informan AP dan I memiliki perbedaan. Pada pengamatan peneliti mengenai lingkungan AP yang berada di Kota Yogyakarta, lokasi usaha batik yang ditekuni AP berada di rumahnya yaitu di kecamatan Kraton. Suasana tradisional masih sangat terasa di lingkungan dan di dalam rumahnya, bangunan rumah sudah berdiri kurang lebih sebelum tahun 1932 sejak ayah dari informan AP masih kecil. Fungsi ruangan-ruangan yang ada di rumah tidak berubah sejak bangunan tersebut berdiri. Di dalam rumah, selain ada fungsi rumah utama, juga terdapat ruangan-ruangan khusus untuk memproduksi batik; seperti tempat membuat pola, tempat melakukan pencelupan warna, tempat pembuangan limbah, gudang bahan-bahan pewarna alami dan ruangan untuk para pembatik mencanting. Rumah yang menjadi tempat tinggal informan AP dan istri sekaligus dengan galeri batik yang dimilikinya. Galeri terebut terletak di ruangan pertama setelah pintu utama.
Beralih pada informan I, dari hasil observasi mengenai lingkungan yang dilakukan oleh peneliti, galeri batik yang dimiliki informan I terpisah dengan bangunan rumah pribadi informan. Kondisi galeri batik masih sangat baik meskipun dikatakan oleh informan, bangunan tersebut sudah berdiri sejak eyang sebagai generasi pertama merintis usaha batik. Galeri batik yang dimilikinya tidak hanya digunakan sebagai display dari hasil produksi, namun juga proses pembuatannya terletak di tempat yang sama, tepatnya di bagian belakang galeri
batik. Di tempat produksi terdapat beberapa bagian, ada tempat untuk para pembatik mencanting untuk bati tulis, pewarnaan, menjemur hasil celupan warna, dan penyimpanan kain-kain setengah jadi, terdapat pula lantai dua yang digunakan untuk membuat batik cap. Selain itu, terdapat dapur dan keperluan dasar memasak para pegawai untuk makan siang. Beralih ke bagian galeri, kain-kain batik dan baju yang sudah jadi tidak secara spesifik dibuat terpisah melainkan diletakkan secara menyebar namun tetap rapi.
b. Hasil Konstruksi Genogram Karier
Konstruksi genogram karier seperti dijelaskan pada bab tinjauan pustaka, merupakan sebuah alat untuk melihat peta karier keluarga serta sebagai alat pengantar wawancara lebih mendalam mengenai pilihan karier yang dibuat oleh informan. Berikut merupakan display dari hasil konstruksi genogram karier pada kedua informan:
1) Konstruksi Genogram Karier Keluarga AP
Dari hasil penuturan mengenai anggota kelurganya, AP merupakan anak pertama dari dua bersaudara. AP menyebutkan bahwa dia lahir ditengah keluarganya yang mayoritas berlatar belakang pedagang serta pengusaha batik. Ayah AP yang berinisial M merupakan seorang pengusaha batik, sedangkan ibunya yang berinisial H merupakan seorang pedagang. Kakek dari ayah informan diakuinya merupakan generasi kedua dari pengurus batik keluarga, begitupun sang nenek. Sedangkan kakek dari keluarga ibunya diketahui merupakan seorang banker dan Neneknya seorang pedagang. Informan AP mengungkapkan bahwa
hubungannya dengan keluarga besar dari Ayah lebih dekat diandingkan dari keluarga Ibunya.
Kakek dari Ayahnya yang berinisial A adalah generasi kedua pewaris usaha batik. Pada masa Kakeknya, dituturkan oleh informan merupakan tahun gemilang dari usaha batiknya. Hubungan sang Kakek dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya juga sangat baik, dituturkan oleh informan bahwa sang kakek memiliki banyak relasi dan termasuk orang yang sangat ramah. Keberhasilan sang Kakek bukan hanya dalam mengembangkan usaha batik keluarga saja, namun juga sebagai seorang konseptor dalam memberikan kontribusi ide dalam pembangunan kota Yogyakarta di zamannya. Menurut informan, sang Kakek dapat menjalankan usaha batiknya dengan baik, bahkan cukup sering memperkenalkan informan dengan batik serta kegiatan usahanya sejak kecil. Informan menuturkan bahwa sang Kakek sering mengajaknya melihat proses pembuatan batik, serta menceritakan filosofi mengenai batik. Bagi informan, informasi mengenai usaha batik, banyak didapatkan dari sang kakek. Sebelum usaha batik jatuh di tangan informan, usaha batik yang dimilikinya dikelola oleh sang Ayah sejak kakeknya meninggal dunia.
Sang Ayah yang berinisial H meneruskan usaha batik keluarganya disertai meneruskan relasi antara pelaku usaha batik yang lain. Dari penuturan informan diketahui bahwa masa-masa sulit mulai terjadi di generasi ketiga usaha batik keluarganya, di masa tersebut bertepatan dengan krisis moneter yang mengakibatkan menurunnya omzet dagang batiknya. Sejak duduk bangku kuliah, informan mengaku selalu dibujuk sang Ayah untuk mau meneruskan usaha batik
kelurganya. Informan mengaku bahwa di masa Ayahnya, informan banyak mengobservasi cara kerja pembuatan batik, pemasarannya serta relasi yang terjalin antara Ayahnya dan organisasi yang terkait dengan batik.
Dijelaskan sebelumnya, informan AP memang merupakan generasi ke 4 dari usaha keluarga batiknya, namun dalam konstruksi genogram, AP lebih menghendaki 3 generasi saja yang diulas, dikarenakan banyak informasi mengenai generasi pertama yang tidak diketahui oleh AP. Secara sederhana jika divisualisasikan, maka alur genogram kariernya sebagai berikut:
Gambar 5. Konstruksi Genogram Karier Keluarga AP 2) Konstruksi Genogram Karier Keluarga I
Hasil pembuatan konstruksi genogram karier menunjukan bawa informan I merupakan cucu pertama dari anak pertama sang Nenek yang tidak lain pendiri pertama usaha batik keluarga.
Penuturannya mengenai jejak karier keluarga mengungkapkan bahwa keluarga besar dari Ibunya memiliki mayoritas pekerjaan wirausaha dalam
berdagang, usaha yang dimiliki keluarga dari Ibunya adalah toko klontong, toko bangunan, pedagang kerajinan-kerajinan dan ada satu yang menajdi PNS. Sedangkan keluarga dari ayahnya mayoritas adalah pegawai negeri dan hanya ada satu yang menggeluti dunia usaha.
Pada pengakuannya, informan lebih dekat dengan keluarga dari ibunya yang berinisial Sum. Nenek yang berinisial MU dan Kakek berinisial SU yang berasal dari Ibunya, merupakan generasi pertama perintis usaha batik keluarganya saat ini. Sang Nenek memiliki tujuh orang anak yang mayoritas memiliki pekerjaan sebagai seorang pedagang. Sebagai anak pertama, Ibu dari informan banyak membantu Neneknya dalam menjalankan usaha batik, selain Ibunya, Tante dari informan yang berinisial Yul juga sering membantu usaha batik keluarganya.
Sejak kecil, informan mengaku sudah sangat dekat dengan usaha batik keluarganya, karena sebagai cucu pertama, Neneknya selalu menghendaki untuk informan berada di galeri batiknya menemani sang Nenek. Informan mengakui bahwa sejak kecil sudah diperkenalkan dengan situasi kerja di galeri batik miliknya. Menginjak umur 18 tahun, informan sering diberi tanggung jawab untuk membantu Neneknya dalam mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat batik, mulai dari kain hingga pewarna. Kaderisasi sudah dilakukan sejak informan I berusia 18 tahun tersebut.
Dari penuturannya, informan I melihat keberhasilan sang Nenek dalam menjalankan usaha batik. Serta melihat tante-tantenya dalam menjalankan kegiatan usaha. Meskipun tidak semua tantenya terjun dalam usaha batik,
namun menurut penuturannya, semangat berwirausaha seluruh anggotanya termasuk sang Nenek menjadi contoh dalam meneruskan usaha batik keluarga. Berikut merupakan viusalisasi dari konstruksi genogram karier keluarga informan I:
Gambar 6. Konstruksi Genogram Karier Keluarga I c. Hasil Wawancara
Genogram karier memiliki lima aspek didalamnya, yaitu pemahaman diri, pemahaman lingkungan dan dunia kerja, proses pengambilan keputusan, model-model pola hidup serta model-model-model-model karier. Berikut merupakan hasil wawancara dari kelima aspek tersebut:
1) Aspek Pemahaman Diri
Memilih karier sebagai pengusaha batik tidak luput dari pemahaman diri informan. Dalam pemahaman diri yang diungkap oleh peneliti terdpat tiga sub-aspek, yaitu bakat, minat serta nilai-nilai yang melandaskan pengambilan keputusan informan dalam menjalankan usaha batik. Data mengenai pemahaman diri diperoleh melalui proses wawancara yang dilakukan terhadap kedua informan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan subjek AP, diketahui bahwa bakat yang dimiliki adalah bekerja sebagai pendukung dan seorang pemikir atau konseptor. Seperti yang disampaikan oleh AP sebagai berikut:
“Kalau saya itu lebih suka dibalik layar, bikin konsep gitu dan lebih suka mengulik sesuatu sampai puas. Saya tuh pernah penasaran sama bunga anggrek kenapa kalau berbunga sangat musiman, terus saya pelajari sampe saya tau, sampe saya sekarang pelihara anggrek banyak banget. Tapi setelah tau jawabannya, yaudah deh cukup” (Wawancara Rabu, 10 Agustus 2016)
Dari hasil pengamatan yang dilakukan peneliti, di halaman belakang rumah informan terdapat banyak tanaman anggrek seperti yang dikatakan. Sedangkan minat yang dimiki oleh informan tergolong cukup banyak, dari penuturannya, informan sangat menyukai traveling, budaya jawa dan menyelam. Dari minatnya yang sangat beragam, AP diketahui paling senang dengan kegiatan travelling. Seperti yang disampaikan oleh AP berikut:
“Saya suka sekali jalan-jalan, dan relevan dengan pekerjaan saya sebagai seorang Arkeolog. Jadi ketika saya jalan-jalan keliling Indonesia, saya bisa menceritakan sejarah dari bangunan atau temuan saya. Saya ini juga kan seorang Konsultan di UNDP, jadi ya gitu terus jalan-jalan. Saya suka itu, selain itu saya juga seorang diver. Ada di kehidupan menyelam itu saya sudah cukup lama. Tapi dari semuanya, saya harus selalu menjadi orang jawa yang mengenal budayanya. Orang jawa itu gak boleh hilang jawanya. Saya banyak belajar tentang budaya jawa juga. Termasuk batik ini.” (Wawancara Rabu, 10 Agustus 2016)
Dari penuturan lainnya, peneliti menemukan bahwa nilai-nilai yang melekat pada diri informan AP adalah nilai budaya. Banyak pengakuannya yang menuturkan bahwa budaya menjadi landasan dalam melakukan berbagai hal. Seperti beberapa pernyataan informan AP berikut:
“Bagi saya, batik itu warisan budaya yang semakin hari semakin langka. Dalam selembar kain batik, terdapat arti dari setiap ukirannya, terdapat
“Saya tidak mengejar komersilnya, tapi batik itu kan warisan budaya yang semakin langka. Harus menjaga originalitasnya juga. Maka dari itu saya tidak pernah merubah apapun, selalu saya buat pakem batiknya. Sama seperti jaman dulu sampai hari ini.” (Wawancara Sabtu, 6 Agustus 2016) “Batik itu budaya, karena batik dibuat dengan rasa, pola-pola dan ragam hias pada batik juga merupakan luapan rasa.” (Wawancara Rabu, 10 Agustus 2016)
“Untuk meneruskan usaha ini sebetulnya karena saya punya dasar dari culture” (Wawancara Rabu, 10 Agustus 2016)
“Saat ini saya mempertahankan batik karena amanah dari orang tua dan batik itu merupakan filosofi orang jawa dan saya ingin menjadi orang jawa yang seutuhnya karena saya lahir disini, di tanah jawa.” (Wawancara Rabu, 17 Agustus 2016)
Informan AP diketahui tidak hanya sendirian meneruskan usaha batik keluarga, melainkan bersama istrinya. Diketahui dari wawancara bersama informan, job desk istrinya yang berinisal N adalah maintaining proses produksi batik serta attend setiap kegiatan mengenai batik dari organisasi. Dari hasil pengamatan, informan AP memang lebih sering di rumah membuat design untuk batik yang akan dibuat sedangkan istrinya yang berinisal N lebih sering turun ke lapangan dan berinteraksi dengan para pegawai serta organisasi Sekar jagad. Jika dipresentasekan, AP menuturkan maka kegiatan yang dilakukan mengenai usaha batik ini informan AP sebanyak 40% dan istrinya 60%. Hal tersebut disebabkan karena informan AP sadar akan kebutuhan hidupnya tidak dapat tertutup hanya dengan usaha batik selengkapnya akan dibahas pada proses pemilihan karier. Beralih pada temuan dari informan I yang didapatkan oleh peneliti mengenai pemahaman dirinya. Bakat yang dimiliki informan I diketahui adalah berwirausha. Seperti yang dikatakan oleh informan I bahwa:
“Wah saya tuh kayanya ya bisanya dagang gini wirausaha, saya pernah bikin tas kecil-kecil itu mbak terus dijualin dititipin ke tante saya di bali. Laku banget itu lumayan, terus saya pernah bikin baju-baju gitu disablon mbak sampe sekarang” (Wawancara Jumat, 12 Agustus 2016)
Minat yang dimilikinya juga nampak seiring dengan bakat yang dimiliki, sejak SMA, informan I memang serius untuk meneruskan sekolah ke perguruan tinggi dengan jurusan akuntansi. Dari percakapannya berikut:
“Saya dulu sekolah di Jogja kan SMA, terus ya milih sendiri pengen nerusin sekola Akuntansi. Karena ya tertarik aja gitu, kalau selesai kuliah juga bisa kepake kan” (Wawancara Jumat, 12 Agustus 2016)
Sedangkan nilai-nilai yang banyak menjadi landasan dalam hidupnya adalah nilai ekonomi. Terlihat dari percakapannya yang mengatakan bahwa saat ini mengelola batik adalah bukan karena hobi atau hal apapun lainnya melainkan untuk mendapatkan uang. Selain itu, informan I juga mengatakan bahwa sumber penghasilannya adalah dari usaha batik dan memprioritaskan untuk menjual barang-barang. Selain itu juga informan I mengungkapkan bahwa meskipun usahanya memang terbuka bagi siapapun yang ingin melihat produksinya, namun sampai saat ini, belum dapat memfasilitasi keinginan pendatang untuk mencoba membuat batik, karena informan I menjelaskan bahwa dengan memberikan waktu bagi pengunjung untuk mencoba batik, maka target pembuatan batik bagi pegawainya akan berkurang yang kemungkinan dapat menimbulkan keterlambatan pesanan batik.
“Ini itu bukan hobi atau kesukaan sih ya buat dapetin uang mbak” (Wawancara Jumat, 12 Agustus 2016)
“Sekarang ya nerusin ini tuh ya karena dapet uangnya dari sini, usaha aja pokonya yang penting bisa jual, jual , jual gitu ada barang yang keluar” (Wawancara Rabu, 31 Agustus 2016)
“Tapi ya belum bisa memfasilitasi buat yang ingin mencoba membatik, soalnya kan repot, yang kerja nanti jadi terganggu kan kerjanya. Misalnya saya dapet pesenan berapa gitu, malah telat to produksinya harusnya
sesuai entar malah jadi mundur waktunya” ( Wawancara Jumat 12 Agustus 2016)
Pemaparan diatas menunjukan pemahaman diri yang dimiliki informan. Ketiganya memiliki pemahaman diri yang berbeda atas dirinya.
2) Aspek Pemahaman Lingkungan dan Dunia Kerja
Dalam memahami lingkungan dan dunia kerja, informan memiliki berbagai macam pengalaman yang berbeda-beda. Dalam penelitian ini, akan diungkap beberapa sub aspek mengenai pemahaman lingkungan dan dunia kerja, yaitu persyaratan penerimaan kerja, sifat suatu lapangan, situasi pekerjaan, masa depan pekerjaan, organisasinya, gaya hidup, sosial ekonomi keluarga, lingkungan hidup, relasi dan kesempatan kerja.
Persyaratan penerimaan kerja menjadi seorang pengusaha batik menurut informan AP adalah memiliki pemahaman terhadap budaya dan paham mengenai filosofi dari selembar kain batik sehingga bisa memproduksi sebuah kain batik yang lebih bermakna. Seperti yang dalam pernyataannya berisi sebagai berikut:
“Membuat kain batik itu perlu keahlian dan harus memilki arti. Batik itu dibuat dengan menggunakan perasaan, kalau dilihat, batik tulis itu seakan hidup dan bercerita. Coba lihat batik printing, sekilas itu kalau dilihat bagus dan rapi, tapi kalau diperhatikan batik itu pasti mati. Ga ada feel nya di kain batik itu.” (Wawancara Rabu, 10 Agustus 2016)
Sedangkan mengenai pemahaman sifat suatu lapangan, AP menjelaskan bahwa dia memahami lingkungan usaha batik sudah sejak kecil dengan cara melihat dan mengobservasi. Seperti pada pernyataannya berikut ini:
“Saya paham ini karena otodidak. Karena saya sering melihat. Pada dasarnya saya suka sekali mengamati jadi saya memang pengamat dari kecil.” (Wawancara Rabu, 10 Agustus 2016)
Cukup mirip dengan sebelumnya, AP kemudian mengemukakan pemahamannya mengenai situasi pekerjaan sebagai pelaku usaha batik. Pemahamannya dengan situasi kerja juga dikemukakan sebagai berikut:
“Saya melihat sebuah proses di dalam usaha batik ini. Akhirnya saya membuat teori saya sendiri dari apa yang saya lihat di sekitar saya” (Wawancara Rabu, 10 Agustus 2016)
Dari segi masa depan pekerjaan, informan AP mengatakan bahwa batik saat ini merupakan hal yang tidak biasa. Batik merupakan sebuah kerajinan yang memiliki nilai keindahan dan history. Namun, AP menyadari bahwa masa depan batik tulis tidak bisa diandalkan untuk sumber financial keluarganya, terutama batik yang dibuatnya yang merupakan batik tulis halus. Terpampang dalam hasil wawancara berikut ini:
“Belum, ga ada bayangan. Karena begini, saya sudah nyaman dengan pekerjaan saya dan itu saya anggap sebagai sesuatu yang menjanjikan. Dulu itu batik kelasnya industry sampai sekarang kelasnya kerajinan. Itu kan menyurut drastic. Saya pikir, prospek ekonomi batik semakin hari semakin tidak menjanjikan apalagi saat bom Bali satu, hancur batik itu. Smeuanya itu susah untuk kembali normal, kaya sakit jantung, gak akan balik normal. Sama kaya batik juga, gak akan bisa balik normal” (Wawancara Rabu, 17 Agustus 2016)
Mengenai organisasi dalam usaha yang dijalani, subjek memahami bahwa subek akan mengikuti beberapa organisasi perkumpulan seperti GKBI dan juga Sekar Jagad yang merupakan organisasi yang sebelumnya diikuti oleh orang tuanya sebagai generasi ketiga. Pernyataannya yang mendukung hasil tersebut adalah sebagai berikut:
“Pembatik itu diwadahi dalam Gabungan Koperasi Batik Indonesia yang membawahi 5 koperasi. Tapi sekarang adanya Koperasi Batik Senopati. Usaha batik ini juga dari dulu terdaftar disana dan sering ambil kain juga kok kesana” (Wawancara Rabu, 10 Agustus 2016)
Soal gaya hidup yang mungkin akan dijalani, informan AP menyadari bahwa kehidupannya tidak akan tersokong dengan baik jika hanya dengan mengandalkan produksi batik tulis. Seperti yang disampaikannya berikut ini:
“Saya anggap pekerjaan saya itu sebagai sesuatu yang lebih menjanjikan. Dulu batik itu memang dimulai di kelas industri, tapi saat ini hanya sebatas kerajinan saja. Sehingga saya selalu bertanya-tanya tentang prospek batik ini bisa sampai sejauh mana” (Wawancara 17 Agustus 2016) Mengenai sosial ekonomi keluarga, informan AP menuturkan bahwa secara finansial memang pernah kacau disebabkan omset batik yang turun saat insiden bom bali. Sedangkan secara sosial, diungkapkan hubungannya selalu baik dengan relasi-relasi yang memang sudah dibangun. Dalam pernyataannya menyebutkan sebagai berikut:
“Saat bom Bali, hubungan kita dengan luar negeri itu jadi jelek. Tapi bapak tetap bersikeras tidak akan PHK perkerjanya, ini yang membuat finance keluarga jadi kacau.” (Wawancara 17 Agustus 2016)\
Pemahaman informan AP mengenai lingkungan hidup dan dampaknya sudah diketahuinya sejak kecil. Bahan pewarna dari alam yang digunakan untuk memproduksi batik memang tidak menjadi kekhawatiran bagi AP untuk meneruskan usaha batik keluarga dan tidak khawatir terhadap complain dari masyarakat.
“Ini kulit kayu untuk membuat warna coklat batik, masih ada warna-warna lainnya lagi. Nah ada tempat khusus pembuangan limbahnya dibelakang. Semuanya aman karena tidka mengandung bahan kimia, karena warna alam” (Wawancara Rabu, 17 Agustus 2016)
Mengenai relasi, informan AP juga paham tentang relasi yang harus terjalin saat meneruskan usaha batik keluarga. Seperti pernyataanya sebagai berikut:
“Sampai sekarang masih ambil kain mori di koperasi, kalau lilin sebagian di koperasi sebgaian di koperasi sebagian saya beli diluar.” (Wawancara Rabu, 10 Agustus 2016)
“Saya punya catatannya yang sudah ada sejak dulu, jadi tinggal say abaca saja dan pesan di tempat yang sama, jadi tinggal diterusin aja” (Wawancara Rabu, 10 Agustus 2016)
Yang terakhir adalah mengenai kesempatan kerja yang didapatkan untuk menjadi penerus usaha batik keluarga menurut AP, merupakan amanah dari orang tua berdasarkan penilaian dari sang ayah. Karena menururt sang ayah, informan AP sudah dikader dari kecil untuk meneruskan usaha batik keluarga. Seperti pernyataannya sebagai berikut:
“Jadi karena penilaian bapak saya yang suatu hari di tahun 90-an gitu sudah bilang akan diteruskan ke saya, karena hanya saya yang bisa. Bapak bilang, kalau adik saya gak akan bisa nerusin. Istilahnya ya kalau kerajaan, saya itu udah dikader jadi pangeran untuk menjadi penerus” (Wawancara, Rabu 17 Agustus 2016)
Beralih pada informan I yang banyak mengungkapkan mengenai pemahamannya mengenai lingkungan dan dunia kerja. Beberapa sub yang juga diungkap yang pertama adalah mengenai persyaratan penerimaan kerja. Bagi informan I, untuk menjadi seorang pengusaha batik, syaratnya adalah diperlukan kemampuan untuk meneruskan usaha keluarga dan mau konsisten untuk mengerjakannya. Seperti yang disampaikan oleh informan I sebagai berikut:
“Dulu itu batik nenek saya pernah sepi, yang lain juga malah mati gitu mbak. Sekitar di tahun 80an di jamannya Gusdur itu, tapi yang penting kita tatap jalanin aja pokoknya harus tetap hidup meskipun sedikit-sedikit” (Wawancara Rabu, 31 Agustus 2016)
Pemahaman informan I mengenai sifat lapangannya juga diketahui nya sejak kecil, informan I menuturkan bahwa bisnis keluarganya memang dirintis dan di
yang sangat luwes dan fleksibel. Saat bisnis batik keluarga masih dipegang oleh Nenek, informan I menuturkan bahwa sang Nenek sering mengajak pegawainya untuk makan bersama di tempat makan. Sejak dulu juga informan I sudah sangat paham bahwa karyawan-karyawannya merupakan tetangga dekat, sehingga masih sangat kental unsur gorong-royong di galeri batiknya. Selain itu, setiap kali makan siang-pun seluruh karyawan difasilitasi makan siang dengan memasak untuk bersama-sama. Berikut merupakan penuturan dari informan I mengenai sifat lapangan:
“Dulu eyang sering makan-makan diluar bareng sama karyawan paling ya makan di daerah sini” (Wawancara 31 Agustus 2016)
“Kerjanya ya kalau bantuin anak-anaknya, apa saya cucunya gitu serabutan aja. Serabutan semua. Ya yang hari ini bisa pa gitu dikerjain. Ga ada spesifikasi apa gitu yang khusus, kan ga ada manajemennya yang bisa dikerjain. Soalnya lebih kekeluargaan” (Wawancara Jumat, 12 Agustus 2016)
“Karyawan sini yang ikut kerja ya tetangga- tetangga sini aja mbak,