KAJIAN PUSTAKA A.Pilihan Karier
3. Teori-teori Perkembangan dan Pilihan Karier
Sejak tahun 1950-an para teoritisi mulai memberi pandangan developmental tentang pilihan karier. Berbagai macam pandangan mulai dikembangkan dan mulai banyak dikemukakan, teori-teori yang akan dibahas kali ini adalah dari beberapa ahli dan pada setiap teorinya mengemukakan berbagai macam faktor yang mempengaruhi pilihan karier sesuai dengan aspek yang ditekankan pada teori yang dimilikinya.
a. Teori pilihan karier Holland
Teori ini menjadi salah satu fokus peneliti karena pada pilihan karier sejatinya diwarnai dengan pengaruh dari lingkungannya. Holland (dalam Mohamad. Thayeb Manrihu, 1988: 56) berpendapat bahwa individu adalah produk bawaan dari lingkungannya. Dewa Ketut Sukardi (1987: 72) mengemukakan asumsinya bahwa teori Holland menganggap pemilihan pekerjaan yang terjadi pada subjek adalah hasil interaksi antara faktor bawaan dengan pengaruh budaya, teman, orang tua, serta orang lain yang dianggap memiliki peran yang penting.
Holland menyebutkan (dalam Mohamad Thayeb Manrihu, 1988: 57) perilaku seseorang ditentukan oleh interaksi antara kepribadiannya dan ciri-ciri lingkungannya. Pendapatnya mengenai individu merupakan produk bawaan lingkungannya, kemudian akan mendorong individu dalam preferensi-preferensi untuk jenis-jenis aktivitas tertentu yang pada akhirnya akan mengarahkan individu kepada tipe-tipe perilaku tertentu. Holland kemudian mengklasifikasikan enam
jenis tipe kepribadian dan juga enam tipe lingkungan kerja yang kemudian bersinergi menjadi orientasi individu dalam menentukan pilihan karier.
Holland (dalam Dewa Ketut Sukardi, 1987: 75-76) mengungkapkan terdapat enam tipe kepribadian yaitu:
1) Tipe kepribadian realistis 2) Tipe kepribadian intelektual 3) Tipe kepribadian sosial
4) Tipe kepribadian konvensional 5) Tipe kepribadian usaha
6) Tipe kepribadian artistik
Tipe realistis atau realistic, menurut Holland (dalam Dewa Ketut Sukardi, 1987: 75) memiliki kecenderungan untuk memiliki pekerjaan yang berorientasi pada lapangan. Holland juga menyebutkan (dalam Osipow, 1983: 83) bahwa “The realistic orientation is characterized by aggressive behavior, interest in activities requiring motor coordination, skill and physical strength and masculinity”. Diungkapkan bahwa, ciri-ciri individu dengan tipe kepribadian relistis yaitu mengutamakan keterampilan fisik, memiliki keahlian dan koordinasi motorik yang baik.
Tipe Intelektual atau Investigative diungkapkan oleh Holland (dalam Osipow, 1983: 83) bahwa “The investigative persons’ main characteristics are thinking rather than acting, organizing and understanding rather than dominating or persuading and asociability rather than sociability”. Tipe intelektual memiliki kecenderungan untuk menjadi pemikir daripada melakukannya, lebih cenderung untuk bernegosiasi dan bersikap asocial daripada bersosialisasi. Kegiatan individu yang memiliki tipe kepribadian ini menurut Holland (dalam Dewa Ketut Sukardi,
Tipe sosial menurut Holland (dalam Mohamad Thayeb Manrihu, 1988: 58) merupakan tipe yang menyukai aktivitas-aktivitas yang melibatkan orang lain serta memiliki kecenderungan untuk membantu, mengajar atau memberikan bantuan. Beberapa ciri tipe sosial menurut Holland (dalam Dewa Ketut Sukardi, 1987: 75) adalah pintar bergaul dan berbicara, responsive, bertanggung jawab, memiliki rasa kemanusiaan, serta memiliki kemampuan verbal.
Holland mengemukakan (dalam Dewa Ketut Sukardi, 1987:76), individu dengan tipe kepribadian konvensional tergolong orang yang memiliki kecenderungan terhadap kegiatan verbal, menyukai bahasa yang tersusun baik, serta menyukai kejelasan dalam bekerja. Holland (dalam Osipow, 1983: 83) mengatakan bahwa: “The kind of person prefers structure and order and thus seeks interpersonal and work situations where structure is readily available”. Orang dengan tipe tersebut, menurut Holland lebih menyukai sesuatu hal yang sudah terstruktur dengan baik.
Tipe selanjutnya adalah tipe kepribadian usaha atau enterprising. Holland (dalam Mohamad. Thayeb Manrihu, 1988: 58) berpendapat bahwa individu yang termasuk kedalam tipe ini, cenderung seorang yang giat dan menyukai aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan memanipulasi atau organizing orang lain untuk memperoleh tujuan ekonomi serta tujuan-tujuan organisasi. Holland (dalam Dewa Ketut Suakrdi, 1987: 76) memberikan contoh pekerjaan yang mungkin diambil oleh tipe enterprising, yaitu sebagai seorang pedagang, manajer, pimpinan eksklusif perusahaan, dan pekerjaan-pekerjaan lain yang sejenis.
Tipe yang ke enam adalah tipe kepribadian artistic. Tipe ini menurut Holland (dalam Dewa Ketut Sukardi, 1987: 76) memiliki kecenderungan untuk berhubungan dengan orang lain, namun secara tidak langsung. Tipe artistik lebih menyukai menghadapi keadaan sektiarnya dengan cara mengeksprersikan diri, menghindari keadaan yang bersifat interpersonal serta keterampilan fisik.
Sealin tipe kepribadian, Holland juga mengatakan (dalam Dewa Ketut Sukardi, 1987: 77) bahwa sejatinya perilaku yang ada pada diri individu tergantung kepada dua hal, yaitu kepribadiannya serta lingkungan tertentu tempat individu tersebut tinggal. Terdapat enam model lingkungan menurut Holland (dalam Dewa Ketut Suakrdi, 1987: 77-79) yaitu: 1) Lingkungan realistis 2) Lingkungan intelektual 3) Lingkungan sosial 4) Lingkungan konvensional 5) Lingkungan usaha 6) Lingkungan artistic
Lingkungan realistis memiliki ciri tugas-tugas yang kongkrit, berkaitan dengan fisik serta secara langsung memberikan tantangan terhadap orang yang ada di lingkungan tersebut (dalam Dewa Ketut Sukardi, 1987: 77). Lingkungan intelektual atau investigative menurut Holland (dalam Dewa Ketut Suakrdi: 78) ditandai dengan berbagai tugas yang memerlukan berbagai kemampuan abstrak dan kreatif. Holland mengatakan (dalam Mohamad. Thayeb Manrihu, 1988: 60) dalam lingkungan tersebut mendukung sifat-sifat analitis, rasa ingin tahu, mandiri, teliti serta rasional. Lingkungan sosial dikemukakan oleh Holland (dalam Dewa Ketut Sukardi, 1987: 78) memiliki ciri membutuhkan kemampuan
berkomuniaksi dengan orang lain. Sedangkan lingkungan konvensional menurut Holland (dalam Dewa Ketut Sukardi, 1987: 78) ditandai dengan berbagai macam tugas serta pemecahan amsalah yang memerlukan suatu proses informasi verbal dan matematis secara berkala, konkrit dan sistematis. Beralih pada lingkungan usaha atau enterprising, selain menuntut untuk memiliki kepribadian yang giat, lingkungan ini menurut Holland (dalam Dewa Ketut Sukardi, 1987: 78) memiliki berbagai macam tugas yang mengutamakan kemampuan verbal dan digunakan untuk mengarahkan dan mempengaruhi orang lain. Lingkungan selanjutnya adalah lingkungan artistik, Holland (dalam Dewa Ketut sukardi, 1987: 78) menandai lingkungan tersebut dengan berbagai macam tugas serta masalah yang membutuhkan interprestasi atau kreasi dalam bentuk-bentuk yang artistik melalui citarasa, perasaan serta imajinasi.
Dari enam tipe kepribadian serta enam tipe lingkungan menurut teori Holland yang sudah dipaparkan diatas, maka peneliti memutuskan untuk menggunakan teori Holland untuk mengidentifikasi kepribadian serta lingkungan subjek dalam melakukan pilihan karier.
b. Teori pilihan karier Anne Roe
Salah satu aspek pada pilihan karier yaitu pola hidup, dimana peneliti menaruh perhatian pada pola asuh orang tua dalam berinteraksi dengan anak menurut teori Anne Roe.
Lebih jauh, Anne Roe memiliki tiga asumsi tentang teori pilihan karier, yang pertama, Roe mengemukakan bahwa pengalaman-pengalaman pada masa kanak-kanak mungkin berhubungan dengan pilihan karier individu tersebut. Roe juga
menyangkutkan teori kebutuhan yang dimiliki Maslow dalam teori pilihan kariernya. Asumsinya yang ketiga adalah bahwa terdapat pengaruh genetik terhadap keputusan-keputusan karier serta perkembangan hierarki-hierarki kebutuhan.
Roe (dalam Mohamad. Thayeb Manrihu, 1988: 66) menyebutkan bahwa genetik setiap individu mendasari kemampuan-kemampuan dan minat-minat yang berhubungan dengan pilihan karier individu.
Maslow berasumsi bahwa kebutuhan-kebutuhan manusia bisa disusun dalam satu hirarki dengan kebutuhan akan kepuasan berada dalam jenjang kebutuhan lebih rendah, seperti rasa lapar, haus dan bernafas, serta kebutuhan yang levelnya lebih tinggi lagi adalah cinta, afeksi, pengetahuan dan aktualisasi diri.
Dalam Osipow (1983; 16) disebutkan “Genetic factors and need hierarchies combine to influence the selection of a vacation, as a part of their effect on the
total life pattern”. Faktor genetik dan hierarki kebutuhan-kebuthan secara
bersamaan mempengaruhi pilihan individu mengenai karier nya sebagai bagian dari pola kehidupan mereka. Keterkaitan keduanya memunculkan tiga proposisi, yaitu;
1) Kebutuhan yang selalu terpenuhi dan tidak menjadi unconscious motivators.
2) Kebutuhan untuk tingkat yang lebih tinggi, dalam hal ini merupakan kebutuhan aktualsiasi diri dalam hirarki kebutuhan Maslow, yang tidak akan muncul sama sekali jika jarang terpuaskan. Kebutuhan dengan tingkat rendah nantinya akan menjadi motivator yang dominan jika jarang terpuaskan. Maka, jika pada tingkatan rendah belum terpenuhi, nantinya akan menjadi motivator-motivator yang dominan dan akan menghalangi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi tingkatannya.
3) Kebutuhan yang terpuaskan atau terpenuhi setelah tertunda agak lama akan menjadi motivator yang tidak disadari dalam kondisi tertentu.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut merupakan bagian dari perjalanan kehidupan sepanjang hayat individu sejak lahir hingga meninggal. Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa perjalanan individu pada masa kanak-kanak dilihat dari kepuasan kebutuhan-kebutuhannya memiliki pengaruh pada pemilihan karier individu tersebut. Pada prakteknya Roe memberikan perhatiannya pada mengasuh anak serta cara orangtua berinteraksi dengan anak. Dalam Mohammad Thayeb
Manrihu (1988:68) penelitian yang dilakukan oleh Anne Roe tentang efek pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak terhadap penyesuaian diri, kreativitas, intelegensi, menyimpulkan bahwa iklim rumah tangga memiliki signifikansi bagi pilihan karier.
Roe menegaskan (dalam Dewa Ketut Sukardi, 1987: 85) bahwa arah pilih pekerjaan terutama ditentukan oleh kesan pertama (masa bayi dan kanak-kanak) yang menimbulkan kesan puas dan tidak puas dan kemudian berkembang menjadi kekuatan psikis yang mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan arah minat karier anak. Dapat diartikan bahwa dalam menentukan pilihan karier juga dipengaruhi oleh pengaruh eksternal dari anak dan tekanan sosial dari orang-orang disekitar individu tersebut memiliki peranan penting dan hubungan yang erat dengan pilihan karier.
Menurut Roe (dalam Mohamad. Thayeb Manrihu,1988: 69) kualitas interaksi awal orang tua pada anak akan menghasilkan perkembangan berbagai minat-minat serta berbagai pilihan karier. Kualitas interaksi yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1) dingin
Maksud dari kualitas interaksi orang tua ke anak yang dingin adalah menjauhi anak (avoidance of the child), yang kemudian terbagi menjadi dua macam, yaitu;
a) menolak: dingin dan bermusuhan. Orang tua menunjukkan kekurangan-kekurangan dan mengabaikan preferensi-preferensi serta pendapat dari anak (emotional rejection of the child).
b) mengabaikan: memberikan perawatan fisik secara minimum. Orang tua tidak memberikan afeksi, cenderung berperilaku dingin tetapi tidak menghina (neglect of the child).