DAFTAR PUSTAKA
F. Kawasan Kraton Yogyakarta 1. Batik Gajah Oya
Hasil : Informasi dari salah satu staf pada divisi Sandang Kulit di Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Daerah Istimewa Yogyakarta membawa peneliti untuk mencari Galeri Batik tersebut. Berbekal GPS dan beberapa informasi tambahan dari Internet, peneliti mencari lokasi Batik Gajah Oya. Setelah dua kali memutari jalan yang diyakini sebagai lokasi galeri Batik Gajah Oya di sekitar Jalan Panembahan, Mangkurat yang masih termasuk kawasan Kraton, peneliti memutuskan untuk mencari informasi lebih detail kepada warga sekitar. Berbekal informasi dari tukang parkir salah satu swalayan di daerah tersebut, akhirnya peneliti menemukan lokasi Batik Gajah Oya. Dari penelusuran peneliti, Batik Gajah Oya memang tidak terlihat seperti galeri batik kebanyakan. Lebih terlihat seperti rumah biasa dengan pagar dan cat rumah yang didominasi warna biru. Namun, ketika amsuk ke bagian ruang tamu, peneliti menemukan beberapa lemari dan displasy kain batik tulis. menurut Ibu Ninik, yang merupakan menantu dari pemiliki galeri batik tersebut, saat ini batik Gajah Oya dikelola olah generasi ke empat keluarga. Selain itu, Batik Gajah Oya sangat konsisten dalam memproduksi jenis motif dan kain batik. Motif yang diproduksi oleh Batik Gajah Oya adalah motif khas Yogyakarta dengan warna alam atau banyak yang mengenal dengan istilah sogan. Selain itu, galeri Batik Gajah Oya juga mengekspor kain batik ke Negara Jepang setiap tahunnya secara rutin. Melihat kenyataan yang ada, Batik Gajah Oya yang saat ini sudah dikelola oleh generasi ke empat akan dijadikan tempat penelitian oleh peneliti guna menganalisis genogram karir keluarga penguasah batik tersebut.
Lampiran 2. Hasil Transkrip Wawancara Subjek
Wawancara Subjek Pemilik Galeri di Kota Yogyakarta
Nama : AP
Usia : 56
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan :Pengurus POSI DIY (Persatuan Olahraga Selam DIY), Konsultan UNDP (United Nation Development Program)
Waktu : Pukul 13.28 WIB, Hari Sabtu, 6 Agustus 2016
Tempat :Rumah Subjek
1. Selamat siang pak, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan mengenai bapak sebagai pelaku usaha batik. Boleh saya mulai pak?
Baik, tidak masalah. Tapi nampaknya tidak akan terlalu lama. Karena saya masih ada urusan diluar jam 2 siang ini.
2. Tidak apa-apa pak, nanti mungkin kita bisa janjian di lain hari lagi. Hari ini saya tanya yang lebih general dulu mungkin pak. Bagaiamana?
Ya tidak masalah. Jadi bagaimana?
3. Begini pak, dari yang pernah saya obrolkan dulu bersama mbak Ninik, batik ini kan sudah ada sejak eyangnya bapak, apakah ada yang berubah pak dari mekanisme pembuatan atau manajemennya?
Untuk semua bahan m ulai dari kain, warna sampai malamnya saya tidak pernah mengubahnya mbak. Semua hitungannya masih sama. Sama sekali tidak ada yang
diubah, karena ya ini itu idealisme-nya bapak saya. Beliau tidak akan membuat perubahan terhadap model-modelnya yang sudah pakem. \
4. Apa yang membuat bapak juga mengikuti jejak orang tua dalam pembuatan batik yang masih menggunakan pakem dari orang tua bapak?
Jadi begini, batik itu bagi saya merupakan warisan budaya yang semakin hari semakin langka. Batik itu mbak saat ini bergeser hanya memiliki nilai artistic saja tanpa memiliki arti. Padahal, seharusnya dalam selembaar kain batik itu mengandung sebuah arti dan memiliki nilai artistic, nilai keindahan.
5. Nampaknya, bapak memiliki arti yang mendalam tentang batik ya pak. Apakah selama memiliki usaha batik ini, bapak juga belajar mengenai sejarah asal mula usaha ini pak?
Wah saya memang banyak mencari tahu dulu mbak. Dulu kan disini itu cagar budaya mbak waktu jaman eyang saya. Eyang saya dulu itu tinggalnya di Gamelan I situ mbak. Dan dari dulu memang selalu membuat batik lama, batik klasik begitu yang warnanya dari alam. Terus begitu sampai saya ini mbak. Karena bagaimana ya, tidak mengejar komersilnya sih, tapi ya itu batik kan warisan budaya yang semakin langka. Harus menjaga originalitasnya juga mbak. Ya saya banyak diceritakan oleh eyang dan bapak, tapi juga banyak mencari sendiri mbak.
Wawancara Subjek Pemilik Galeri di Kota Yogyakarta
Nama : AP
Usia : 56
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan :Pengurus POSI DIY (Persatuan Olahraga Selam DIY), Konsultan UNDP (United Nation Development Program)
Waktu : Pukul 10.13 WIB, Hari Rabu, 10 Agustus 2016
Tempat :Rumah Subjek
1. Pagi pak, kita langsung mulai saja ya pak dari membuat pohon keluarga pak. Jadi, kita akan mulai dari eyang, bagaimana pak?
Boleh boleh, jadi dari Eyang ya? 2. Iya betul pak, boleh diceritakan?
Nah, jadi Eyang itu namanya Atmoredjo, kalau eyang putri namanya Soedjinah. Sebetulnya itu punya putra lima. Tapi sisa satu aja, jadi empat saudara bapak itu meninggal waktu kecil. Nah, bapak itu nomor tiga, nama bapak saya itu Moechajat. Lainnya yang berempat itu belum bernama karena masih kecil meninggalnya. Nah bapak kan jadi anak tunggal karena tinggal satu, bapak punya anak dua. Saya dan adik saya, nama saya Amtono Prasutanto sama adik saya namanya Baryandoko Fediwiranto. Saya nikah sama mbak Ninik, adik saya sama Ida Priyanti. Saya sama Ninik belum punya anak, adik saya anaknya udah dua.
3. Kalau dulu mas, Eyang kerjanya pembatik?
Nah sebetulnya, eyang buyut itu punya putra dua. Eh tapi gausah diceritain ya? 4. Oh gak masalah pak, jadi bagaimana?
Nah jadi bapaknya eyang saya itu namanya Puspodigdoyo. Ini nih foto Eyang nenek saya, Atmorejo sama Soedjinah. Bapaknya eyang saya, Puspodigdoyo itu punya anak dua, anak pertama namanya Danudipuro, anak yang kedua ya eyang putri saya itu, Soedjinah. Dari dulu semuanya sudah membatik, awalnya emang diturunkan ke eyang Danudipuro karena serumah, lalu menyusul kemudian eyang Soedjinah meneruskan.
5. Jadi eyang putri itu membatik karena turunan juga ya pak? Kalau eyang kakung, dari dulu membatik juga atau berprofesi lain?
Nah, kan eyang putri Soedjinah itu terbilangnya udah juragan batik, jadi ya eyang kakung saya juga otomatis jadi juragan batik. Tapi ya memang membatik juga, soalnya dua-duanya kan dagang juga, usaha, ga ada yang jadi pegawai. Wah udah lama sekali itu mba, ayah saya aja lahir than 1932 mbak.
6. Itu kan keluarga dari bapak ya, nah kalau dari keluarga ibu latar belakang pekerjannya bagaimana?
Ya, ibu otimatis ikut sih karena kan istrinya. Tapi beliau juga dulunya berdagang, ibu itu namanya Hartenee. Namanya kebelanda-belandaan itu.
7. Wah, memang ada keturunan Belanda?
wah bukan bukan, jadi dulu bapaknya ibu saya itu kerjanya Ajun Bank di bank Belanda, jadi kalau sekarang itu istilahnya Banker, yaa dibilang Akuntan bisa.
8. Eyang putri dari ibu juga usaha batik pak?
Tidak tidak, eyang putri itu pedagang, beliau punya toko, nama eyang putri itu Dibyo Pranoto.
9. Jadi eyang putri itu pedagang dan eyang kakung banker, begitu pak?
Nah iya betul, jadi ibu saya juga ikut berdagang bersama bapak pada akhirnya. 10. Kalau saya perhatikan, menggeluti usaha batik keluarga ini berarti sudah sangat
lama ya, adakah penghargaan atau semacam apresiasi gitu pak dari pemerintah? Kalua penghargaan-pengharagaan seperti itu malah tidak ada ya, soalnya kan kalau batik itu ya produksi baju biasa, tiap hari kan orang-orang pake batik. Yakalau semacam garment baju gitu lah. Jadi belum ada namanypenghargaan buat pelaku usaha atau ekonomi gitu. Soalnya ya itu, batik itu ya pakaian hari-hari biasa. Eyang saya kan mulainya dari usia Indonesia belum merdeka. Jadi ya udah lawas banget, jadi ga mikir penghargaan ekonomi gitu kali ya, istilah UKM itu jaman dlu belum ada. Jadi batik itu dianggap sebagai industry, ya kita jual pakaian, ya sama kaya orang punya pabrik tekstil, kalau sekarang diidentikan batik itu pabrik tekstil,
11. Berarti kan memang sudah sangat lama ya pak usaha nya, nah bapak kan pernah cerita sama sama sekilas, bapak itu mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi ketemunya batik. Apakah bapak belajar terus tentang batik pak selama itu? Atau bagaimana?
Saya ga belajar khusus ke batik. Jadi saya sebetulnya tau batik itu kalau sekarang istilahnya otodidak, karena ya saya sering melihat. Jadi sebetulnya saya kan emang suka mengamati jadi ya saya pengamat dari kecil. Saya tuh punya sifat
penasaran pengen tahu, sehingga segala sesuatu yang menarik bagi saya, akan saya kejar samapai detail. Dan saya tidak bertanya, tapi melihat sebah proses akhirnya saya membuat teori saya sendiri. Nah jadi setelah saya menemukan teori saya sendiri baru lah saya cross check. Soalnya saya lebih suka pake istilah saya sendiri pake bahasa saya sendiri.
12. Jadi menurut bapak, batik itu menarik ya? Soalnya bapak kan banyak belajar dan mengamati, begitu pak?
Wah malah engga, karena dulu tuh batik ya garment, orang-orang banyak pake batik. Ya sama aja kaya orang jaman sekarang pake kaos pake jeans. Kan kelihatannya sama saja tidak ada yang istimewa. Jadi ya engga menarik sih kalau jaman dulu, sama aja soalnya. Tapi kan 20 atau 40 taun mendatang mungkin atau beda. Ya kaya sekarang ini, baru karena batik itu surut karena perubahan zaman batik kan jadi unik, jadi hal yang tidak biasa.
13. Jadi otentik begitu pak?
Nah betul, orang tuh kan sadarnya terlambat. Tapi sekarang kan beda, jadi international heritage, barulah jadi menarik. Sekarang jadi sesuatu yang exclusive karena orang lain kan sekarang tiap hari ga pake kain batik. Orang kan kalo jalan-jalan pake kain batik malah disangka mau ketoprak yah.
14. Tapi sebetulnya, bapak mulai tertarik batik itu dari kapan pak?
Sebetulnya saya merasa terarik sama batik ya dari kecil. Tapi saya ga langsung terjun dari kecil saya gamau terjun langsung dari kecil. Soalnya saya pasti disuruh ini itu sama bapak saya, terikat di rumah saja. Nanti pasti disuruh belajar banyak juga sama bapak. Makanya saya mending main di luar, cari
pengalaman baru diluar, biar pengetahuan saya ga hanya ada di batik saja. Saya banyak bersosialisasi diluar. Karena saya berpikir saya kalau bergaul sama temen-temen saya, saya akan dapat nilai lebih kalau saya dirumah ya udah pengetahuan saya cuma sebatas pagar rumah.
15. Kalau begitu, banyak sekali pengalaman yang didapat ya? Hobi dan minat bapak pasti banyak
Wah, minat saya itu banyak banget, karena ya rasa sama sifat saya yang penasaran itu. Dulu saya belajar anggrek karena penasaran kenapa setelah dari pameran kan bunganya banyak tapi ketika dirawat dirumah bunganya sedikit. Nah itu saya belajar bertahun-tahun cari tahu. Ya itu saya tertarik penasaran saya cari referensi banyak banget sampai saya dapet jawabannya, tapi ya kalau saya udah tau jawabannya, saya stop aja. Saya juga suka mengkoleksi batu akik jauh sebelum itu happening. Saya lihat sih batu akik itu indah, tiap daerah di Indonesia pasti punya khasnya, perhiasan asli dari Indonesia kan. Jadi ciri khas juga jadinya.
16. Kalau sejak dulu, bangunan rumah memang ada disini pak? Berarti sudah masuk di dalam kawasan benteng ya pak? Bapak apakah masih ada turunan kraton juga pak?
Oh, kalau itu kan gini.. jadi rumah-rumah yang ada di dalam benteng itu kan hitungannya ada di kota. Eyang buyut bahkan bapaknya eyang buyut kan abdi dalem Kraton, bahkan eyang-eyang terdahulu itu ada yang penari Kraton ada yang prajurit nah kalo kakaknya eyang saya, eyang Danudipuro itu juga punya pangkat tertinggi di kraton yang selain keluarga kraton, pangkatnya Kanjeng
Raden Tumenggung, beliau itu ahli jam di Kraton. Saya tau juga diceritain sama eyang saya dulu.
17. Jadi mas juga banyak cerita-cerita sama kelaurga ya? Kalau dulu yang sering menceritakan tentang batik siapa mas?
Wah saya malah dapet informasi itu dari banyak orang. Malah ga banyak dari keluarga. Kalau batik ya itu, saya tau karena saya mengamati.
18. Nah, bapak kan pernah cerita, ikut pameran batik di beberapa tempat, di Jogja bahkan Jakarta. Selain itu, untuk kegiatan pemasaran batiknya, adalagi pak? Kalau pameran, sebenernya saya penasaran aja, batik saya itu sampai mana sih, tapi ternyata saya menemukan kalau di level Jogja, Ina craft atau pameran di JEC gitu, gak masuk kelasnya. Batik saya lebih laku kalau pameran di Jogja, jadi ya istilahnya lebih laku di kelas menengah ke atas.
19. Jadi batik yang bapak buat lebih cocok di kalangan high class begitu?
Ya kurang lebih begitu, soalnya orang itu kadang salah mengartikan. Mereka banyak mengartikan batik tulis halus itu dengan, batik yang kainnya itu halus. Padahal, batik tulis halus itu yang pembuatannya, atau waktu membatiknya itu, yang disebut halus ya itu. Jadi ya polanya, ragam hiasnya, luwes, cecekannya juga detail. Jadi disitulah keindahannya.
20. Lalu, menurut bapak, bagaimana esensi dari sebuah batik? Seperti apa batik tulis halus di mata bapak? Apa syaratnya?
Batik itu sebetulnya proses, selama kain itu ada proses digambar pake lilin, pake malam itu terus pewarnaannya dengan pencelupan, itu namanya baru batik. Dan harus manual.
21. Tempo hari saya melihat ada sebuah kampus mengembangkan robot batik tulis pak, menurut bapak bagaimana?
Jadi ya mereka mungkin bisa bikin robot, tapi nanti pada akhirnya batik itu bukan jadi sebuah hal yang artistic, karena batik itu dibuat harus dengan perasaan 22. Jadi menurut bapak, batik itu banyak nilai budaya?
Ya betul, batik itu budaya, karena batik dibuat dengan rasa, pola-pola dan ragam hias pada batik itu juga merupakan luapan rasa. Batik sidomukti misalnya, itu juga ada artinya, mukti kan artinya enak, nyaman, sido kan artinya jadi. Ya itu artinya jadi nyaman. Itu kan punya arti filosofis. Jadi kalau saya bilang, batik itu tidak akan terlepas dari manusia di belakangnya. Kita lihat aja hasilnya pasti akan berbeda, karena dibuatnya dengan perasaan. Coba lihat batik printing, sekilas bagus tapi kalau diperhatikan batik itu pasti mati. Ga ada feelnya disitu. Sebenernya kalau batik bagus itu ya pas dilihat batiknya tuh hidup, ada daya tarik tersendiri dari batik. Ya filosofinya kira-kira seperti itu. Karena batik itu adalah salah satu filosofinya orang Jawa.
23. Kalau untuk pengusaha batik, ada perkumpulannya pak?
Ada, diwadahi di koperasi. Di Jogja sebenrnya ada 5 koperasi, tapi dulu. Sekarang adanya Koperasi Batik Senopati. Bahkan dari eyang, udah ikut tergabung. Jadi ada yang namnya GKBI singkatan dari Gabungan Koperasi Batik Indonesia, itu tuh seluruh Indonesia, nah di Jogja punya 5 anggota koperasi, saya lupa lainnya namanya apa, tapi salah satunya Koperasi Batik Senopati sekarang yang masih ada.
24. Kalau sudah tergabung, relasinya semakin banyak ya pak? Kalau dari dulu, untuk keperluan membuat batik diambil dari mana saja pak?
Oh, kalau itu sejak dulu kain mori itu di supply dari koperasi, kalau lilin sebagian di supply dari koperasi sebagian saya beli di luar. Saya ya sudah langganan disana. Nah lilin itu beda beda, ada fungsinya masing-masing ada yang istilahnya buat bikin draft namanya klowong, sifatnya ini mudah mendingin dan menggumpal jadi gausah terlalu panas. Ada yang buat nembok nge-blok begitu sifatnya elastis jadi kalau ditekuk ga pecah, suhunya dibuat lebih tinggi, karena kalau ditransfer satu tempat ke tempat lain dan terkena sinar matahari, ga akan meleleh. Nah lilin itu formulanya dari eyang saya, itu 4 formula yang dicampur jadi satu.
25. Kalau begitu, sudah lama ya pak? Ada yang bapak ubah engga formulanya? Itu sama sekali ga ada yang saya ubah, sebenerya kalau beli di luar gitu, asal nyebut beli malam buat nembok, ya bakal dikasih. Tapi nanti formulanya ga sama yang kita biasa pakai. Soalnya, tiap pengusaha batik, tiap pembatik itu punya khas pemakaian malamnya sendiri. Nah ini campurannya itu dari lilin, kan lilin itu terbuat dari limbah minyak tanah, terus dicampur paraffin, dicampur gam nah yang terakhir dicampur rumah tawon. Ke empat itu jadi bahan utama pembuatan lilin.
26. Kalau bapak dulu, untuk meneruskan dan memesan semua ini dikenalkan atau diajarkan oleh orang tua?
Wah tidak, disini kan sudah ada catatanya jadi saya tinggal baca aja dan pesan di tempat yang sama, pegawai saya juga sudah hafal campuran buat bikinnya. Saya meneruskan saja.
27. Kalau pewarnanya bapak ambil darimana?
Saya ambil dari solo, angkat telfon saja pasti langsung dikirim. Itu sudah sejak jaman dulu saya pesan kesana.
28. Kalau untuk pembatik, ada yang sudah sejak jaman eyang pak?
Kalau sekarang ya generasi baru, tapi ya masih ada sih yang dari jaman orang tua saya. Masih membatik di tempat saya.
29. Banyak yang bapak tau tentang batik ya pak, ada foto jaman dulu waktu bapak membatik ga pak? Atau foto waktu ikut eyang atau orang tua bapak saat mengurus usaha batik ini?
Wah saya malah ga punya, orang tua saya itu memang hobi fotografi, terutama bapak saya. Tapi kalau foto saya lagu ngurus-ngurus batik gitu saya rasa ga ada. Saya ya itu.. lebih banyak diluar, kalau foto saya lagi menyelam, baru banyak. Soalnya saya kan salah satu pengurus POSI DIY, Persatuan Olahraga Selam Indonesia.
30. Waw, bapak pengalamannya banyak ya pak. Dulu setelah selesai sekolah, sebenernya orientasi bapak untuk meneruskan sekolah lagi atau langsung kerja pak?
Saya kuliah di Gadjah Mada fakultas saya Sastra jurusan saya Purbakala. Jadi saya ini Arkeolog. Kalau jalan ke Prambanan atau Candi Borobudur saya bisa ceritain semua sejarahnya. Nah sekarang ini kan saya kegiatannya jadi konsultannya UNDP, itu United Nation Development Program, nah itu adalah program untuk negara-negara berkembang termasuk Indonesia, saya ini konsultan di manajemen penanggulangan bencana. Saya pernah sekolah di Amerika di FEMA Federal Emergency Management Agency. Tapi pulang ke Indonesia ilmu saya ga banyak kepake. Saya bisa sih eksis gitu kan kesana-kesini karena latar belakang sekolah saya. Tapi bukan itu yang saya mau, saya tuh ga begitu suka jadi pemimpin yang eksis sana sini. Filosofi hidup saya itu saya mau memimpin seorang pimpinan, jadi saya lebih suka ada di balik layar. Way of life saya itu ada tiga, yang pertama saya harus berpenamilan bersahaja, low profile, baby face ya seolah-olah ga berdosa gitu hehehe, yang kedua saya harus berhati malaikat, jadi baik ke semua orang begitu, nah yang ketiga saya harus berotak mafia, otaknya tuh strategic dan taktis.
31. Dari pembicaraan yang cukup panjang, nampaknya pandangan bapak banyak dipengaruhi oleh nilai budaya, apakah begitu pak?
Ya mungkin karena saya banyak membaca, banyak berbicara dengan budayawan, dengan filsuf-filsuf bahkan ada filsuf dari Tibet.
32. Untuk punya pandangan seperti sekarang ini yang kooperatif begitu banyak apakah juga dipengaruhi oleh orang tua pak?
Ga ada dari orang tua, saya cari sendiri karena ya saya itu tadi penasaran dan banyak mencari sendiri. Gapernah saya diajarin ini itu. Saya cari sendiri dan ambil kesimplan sendiri.
33. Dari dulu orang tua pernah melarang untuk rencana-rencana bapak engga?
Ah engga pernah, bahkan saya waktu kecil tuh termasuk sangat di protect. Saya bahkan ga dibolehin berenang, tapi saya curi-curi waktu buat berenang di sungai. Saya pernah dibeliin sepeda, sampe parangtritis saya sepedaan, waktu SD itu.
34. Kalau orang tua pernah membantu membuat rencana dan mengarahkan amsa depan?
Engga pernah, tapi waktu kecil saya pernah punya stress tinggi. Gara-gara aku disuruh belajar, ditungguin itu kalau saya belajar, malah tambah stress saya. Makanya ya saya nakal itu suka curi-curi waktu. Saya gamau ada dirumah terus, karena saya yakin tiap hari itu ada yang baru tapi bukan di rumah. Dan banyak yang bisa kita pelajari
35. Bapak pernah punya contoh di keluarga tentang karir, sifat begitu?
Ga ada, saya ga ada figure keluarga yang mau dicontoh, saya ya saya. Saya ga