• Tidak ada hasil yang ditemukan

POTRET KESEHATAN DESA KASIRO

3.8. Health Seeking Behaviour

Dalam menangani penyakit yang diderita oleh mereka yang sedang sakit, masyarakat Desa Kasiro melakukan tiga cara pencarian pertolongan pengobatan:

1. Swamedika (pengobatan sendiri)

Jika ada warga yang sakit, mereka melakukan pengobatan sendiri terlebih dahulu. Warga di Desa Kasiro mengenal istilah

obat dusun, yang mengacu pada obat-obatan atau ramuan yang

berasal dari tanaman setempat yang dianggap mampu menyembuhkan. Pengetahuan mengenai obat kampung ini dikenal secara turun temurun dari nenek moyang masyarakat Desa Kasiro.

Salah satu pengobatan swamedika dilakukan oleh warga bernama SM ketika anaknya sedang menderita diare. Dia menyiapkan ramuan dari dedaunan yang diberikan kepada

anaknya. SM dan IT, menceritakan tentang pemberian obat kampung untuk mengobati penyakit diare atau sering dikenal bocor,

“...kalau anak atau saya sedang terserang bocor (diare), biasanya saya petik daun marpus, dan saya rebus lalu saya minum airnya, dan biasanya sembuh..”

“Kalau mencret obat kampungnyo, buah pisang lidi, daun jambu biji, diambil pucuknyo, dah tu ado pucuk merpus direbus diminum, itu ... kata neknung (nenek) kan obatnya, hah bocor

Penyakit lain yang pengobatannya dilakukan dengan cara swamedika adalah penyakit Hipertensi atau yang dikenal dengan darah tinggi. Seorang warga, bernama Nenek NG, yang menderita hipertensi bercerita tentang obat dusun yang biasa dia konsumsi ketika dia mengalami pusing pada kepalanya sebagai tanda-tanda darah tinggi sedang kambuh. Obat dusun ini berasal dari rebusan daun salam dimana air rebusan tersebut akan diminum. Selain itu pula terdapat tanaman lain yang dianggap mampu menurunkan tekanan darah, seperti mentimun, semangka dan daun nangka belanda. Nenek NG menceritakan pengalamannya menggunakan obat dusun tersebut,

“Kalau sudah pusing-pusing atau sengal-sengal (pegal) badannya, biasanya pakai daun salam. Daun salamnya segenggam, terus airnya tiga atau empat gelas, nanti setelah direbus airnya tinggal dua gelas. Air itu yang nanti diminum, rasanya agak kelat-kelat di lidah. Ada juga obat darah yang lain, kalau disini biasa makan mentimun, semangka atau daun nangka belanda. Tapi kalau saya pake daun salam, lebih padek (manjur), cepat turunnya darah.”

Pemanfaatan obat dusun juga sering digunakan pada warga yang mengalami penyakit panas dalam. Untuk mengobati penyakit panas dalam tersebut, warga akan menggunakan daun yang berasal dari tanaman kapas atau yang sering dikenal dengan dengan nama pohon kapuk. Tanaman ini biasa didapatkan dari sekitar kebun-kebun warga. Seorang ibu, bernama YS, menceritakan tentang saudaranya yang mengalami panas dalam dan mengambil daun kapuk dari halaman belakang rumahnya. Ibu YS mengatakan bahwa untuk mengobati panas dalam ini, pengolahan terhadap Daun kapuk tersebut tidaklah rumit.

“Nanti daun kapuknya diremas-remas pake tangan. Terus air dari remasannya diambil. Nggak pake dicampur apa-apa lagi, nanti airnya bisa langsung diminum. Rasa airnya tuh dingin”

Warga di Desa Kasiro juga memiliki ramuan obat dusun untuk mengobati penyakit demam. Obat dusun yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit tersebut berasal dari kelapa muda. Air dari kelapa tersebut dalam pandangan masyarakat memiliki khasiat untuk menurunkan suhu tubuh akibat demam. Informan bernama AI, seorang suami dari tenaga kesehatan di Desa Kasiro, mengungkapkan bahwa dia sempat mencari obat dusun berupa kelapa muda untuk bisa mengobati anaknya yang sudah menderita demam selama tiga hari. Kelapa yang muda yang telah dipilih airnya akan diambil dan nantinya akan dicampur dengan telur ayam dan akan dikonsumsi oleh si sakit untuk meredakan demam ditubuhnya. AI, menceritakan bagaiman obat dusun tersebut diolah,

“Kelapa hijau itu manfaatnya banyak, bisa mengeluarkan racun juga...kalau untuk demam anak saya, air kelapa hijau nanti dicampur sama [bagian] kuning telur ayam kampung. Terus nanti dikocok, telurnya bisa kelihatan

seperti matang. Nanti tiga kali dalam sehari campuran air kelapa sama kuning telur tadi itu diminum.”

Jenis gangguan kesehatan lain yang bisa diobati dengan obat dusun adalah penyakit yang dikenal dengan nama jerat atau susah buang air kecil. Jerat ini bisa terjadi ketika warga mengkonsumsi makanan dari bahan dasar petai dan juga jengkol secara bersamaan, atau dengan kata lain dicampur. Di Desa Kasiro, konsumsi petai dan jengkol cukup tinggi, karena hampir sebagian besar warga menggemarinya. Ketika warga terkena penyakit jerat inilah obat dusun digunakan untuk melancarkan buang air kecil. Informan bernama Ibu AG bercerita tentang obat dusun yang dimanfaatkan warga,

“Kalau disini yang sering pete sama jengkol, kalau itu dicampur makannya, bisa kena jerat. Kalau udah kena jerat, susah kencingnya, bisa sakit. Ada itu obat dusunnya, kalau disini pake minum minyak sayur itu bisa, tapi minyaknya harus dipanasi sedikit baru diminum. Sama satu lagi obatnya, banyak-banyak makan gula”

Selain obat kampung sebagai media pengobatan secara tradisional yang berasal dari tanaman herbal, masyarakat Desa Kasiro juga sering menggunakan obat yang biasa dibeli di warung. Salah satu obat yang dianggap secara mujarab mampu menyembuhkan beragam penyakit bernama pil pasang. Pil ini dijual dengan harga Rp 1000 dengan komposisi berisi tiga pil. Menurut informan bernama IB yang juga kader kesehatan di desa, pil pasang tersebut memiliki kandungan zat arxen, antalgin, dan prenixon. Berikut pemaparan Ibu IB mengenai pil pasang,

“Harganya itu 1000 sepasang, di dalamnya ada tiga pilnya. Kalo kemarin 500 sekarang 1000. Tapi baru ini kosong di warung, di Jambi juga kosong. Banyak orang makan pil pasang. Isinya ijo, putih ada yang

panjang...yang hijau bulat besar harsen, putih panjang itu antalgin, prenison itu yang warnanya hijau kecil.”

Pil pasang tersebut dianggap oleh warga desa mampu mengobati berbagai jenis penyakit. Sejarahnya munculnya obat ini berawal dari mantri kesehatan yang bertugas di Desa Kasiro pada tahun 1970-an. Mantri ini, menurut pemaparan informan, meracik sendiri jenis-jenis obat dan menyebutnya sebagai pil pasang. Sejak saat itulah warga yang mengeluhkan kondisi badannya tidak sehat akan mengkonsumsi pil pasang. Menurut warga, orang mengkonsumsi pil tersebut ketika badannya merasa pegal-pegal setelah melakukan pekerjaan berat, seperti bekerja di sawah. Terkadang ketika tubuh terasa akan sakit, atau demam, pil pasang ini dikonsumsi warga dan bisa menyembuhkan penyakit tersebut. Setelah mengkonsumsi pil ini, tubuh langsung mengeluarkan keringat dan membuat badan menjadi bugar kembali. Ibu IB, warga yang pernah mencoba pil ini menceritakan pengalamannya mengkonsumsi pil pasang,

“Sempat dua kali saja minum pil pasang habis itu nggak pernah lagi, rasanya enak badan kan, tadinya mau demam, badan itu terasa panas dingin. Habis minum pil pasang langsung keluar keringat, segar lagi badannya.”

Meskipun dianggap memiliki banyak khasiat, pil ini memiliki efek samping terhadap tubuh orang yang meminumnya. Bidan yang bertugas di Desa Kasiro mengetahui bahwa banyak warga yang mengonsumsi Pil Pasang ini ketika penyakit menyerang mereka. Bidan juga mengatakan bahwa pil pasang bisa mengakibatkan kerusakan pada tulang, dimana tulang menjadi keropos karena kandungan zat yang ada di dalam pil tersebut. Peredaran pil ini sempat dilarang oleh tenaga kesehatan karena efeknya yang buruk bagi kesehatan. Meskipun demikian, saat ini masih ada beberapa warung di desa ini yang

tetap menjual obat pil pasang. Warga bernama TI, memberikan informasi tentang cara untuk membeli pil pasang tersebut di warung yang ada di kampung,

“masih ada yang jual di warung-warung tuh bang. Kalau abang mau lihat, coba minta tolong anak-anak kecil yang beli pasti nanti bisa dapat, bilang aja cari pil pasang”

2. Penyakit yang diobat ke dukun

Penyakit yang biasa diobat ke dukun biasanya terkait dengan kesehatan ibu dan anak. Hal ini terkait dengan kepercayaan bahwa adanya kekuatan gaib yang bisa mengganggu kesehatan si ibu dan si anak. Untuk mengetahui penyebab dan pengobatannya masyarakat akan datang kepada dukun yang ada desa ini.

Salah satu penyakit yang pengobatannya dilakukan ke dukun adalah penyakit mandul. Penyakit mandul adalah kelainan pada masalah reproduksi yang dikenal sebagai sebagai penyakit dimana seorang pasangan suami istri belum memiliki keturunan. Di Desa Kasiro beberapa pasangan usia subur Kasiro yang belum memiliki anak. Salah satu pasangan memiliki usaia pernikahan selama 4 tahun. Pasangan tersebut adalah seorang ibu yang berumur 28 tahun yang berinisial DI. Dalam pengakuannya ia sudah melangsungkan pernikahan dengan suaminya semenjak 4 tahun yang lalu, namun sampai saat ini belum dikarunai seorang anak, sementara ia juga mengakui, mendambakan memiliki anak adalah sebuah impian besar dalam hidupnya.

Terdapat satu pasangan lainnya yang sampai saat ini juga belum mempunyai anak.Hal ini diakui oleh salah satu informan yang berinisial SL, ia adalah seorang bapak/suami dari ibu YL, yang belum mempunyai momongan, dalam pengakuannya, ia sudah menikah selama kurang lebih 4 tahun juga, sama halnya dengan DI, SM juga mempunyai impian besar untuk memiliki

anak, namun kenyataan yang mereka alami masih belum memenuhi impian mereka. Hal ini diakui oleh salah satu informan yang berinisal DI, yang mengatakan “saya sangat menginginkan mempunyai anak, namun belum dikasih-kasih juga oleh tuhan”

Kondisi belum memiliki anak bagi pasangan usia subur menjadi bahan pergunjingan di masyarakat. Rasa malu hadir sebagai dampak dari efek yang diberikan oleh pembicaraan tetangga. Pemaparan mengenai rasa malu tersebut dipaparkan oleh DI,

“Wuihh... minder sekali rasanya, sampai saat ini belum juga ada anak, malu ia juga, iya.. tau sendiri lah... kalau di dusun ko, ada aja.. gosip sini, gosip sana, dengan keadaan saya seperti ini, dan terkadang saya pasrah aja, kalau suami saya cari istri, lain hehehe...”

Mereka yang belum mempunyai anak pun berusaha keras untuk terus memeriksa kesehatannya dan berobat demi mendapatkan keturunan. Hal ini juga diungkapkan oleh DI, bahkan semenjak 1 tahun umur pernikahannya, dan belum mempunyai anak, ia sudah mulai berkonsultasi dengan bidan dan dokter, ia menuturkan, “karena saya sudah satu tahun belum juga ada anak, maka saya langsung saja konsultasi dengan bidan atau dokter, dan menurut dokter saya ada penyumbatan di vagina, dan sudah di kasih obat, dan sudah berkali-kali saya berkonsul dengan dokter, namun belum juga berhasil,” dan tidak berhenti sampai disitu, dari wawancara DI juga menuturkan, ia dan suaminya pun mengambil jalan alternatif lainnya, dengan berkonsultasi dengan dukun. “Karena tidak ampuh dengan dokter maka saya dan suami saya pergi ke dukun”.

Dalam pandangan masyarakat, penyakit mandul ini disebabkan oleh mahluk gaib. Pasangan yang memeriksakan dirinya ke dukun akan mendapatkan penjelaskan tentang penyebab mereka tidak memiliki anak. Makhluk gaib tersebut

dianggap berada pada kelamin si perempuan dan menghalangi terjadinya pembuahan. Makhuk gaib yang bersarang di tubuh perempuan tersebut dianggap bisa membuat badan si perempuan menjadi kurus. Untuk mengobati penyakit itu, maka penyebabnya yaitu simunggut harus disingkirkan dengan penggunaan obat-obatan tradisional yang diketahui oleh si dukun. Beberapa ramuan menjadi pengobatan mengatasi

simunggut antara lain, nanas, daun-daunan dan juga gula merah.

Ibu DI, seorang perempuan yang pernah berobat ke dukun, menceritakan pengalamannya :

"Menurut dukun di vagina ada sejenis iblis yang bersarang di sana, yang sering dibilang disini yaitu

simunggut. Lalu saya diberi obat sejenis nanas putih atau

buah nenas yang masih muda, agar dia bisa keluar dari vagina karena buah nenas putih itu panas, maka

simunggut ini akan keluar dan tidak tahan panas, tapi

sudah saya coba buah nanas tersebut dan tidak belum juga berhasil, terus saya kembali ke Nenek J (salah satu dukun) di bulan berikutnya, dan Nenek J diberikan sejenis ramuan kepada saya yang terdiri dari daun jering tupai, daun ini susah dicari, karena dia hidup dihutan, daun tersebut di remas dan airnya diminum, selama datang bulan, dan selama sebulan, saya minum tiga kali, dan ramuan ini juga belum berhasil, untuk membunuh

simunggut tersebut, setelah itu karena saya belum

berhasil juga, namun saya tetap juga kembali ke dukun Nenek J tersebut dibulan berikutnya, nah pada bulan berikutnya saya diberi ramuan lain yaitu minyak gadung namanya, saya juga tidak mengerti dari mana asal minyak tersebut, minyak ini cara pemakainannya yaitu digosok di perut pada saat datang bulan juga, pokoknya sudah beberapa kali deh mas, tapi belum berhasil juga hehehe... sampai-sampai saya juga sudah pernah di beri ramuan lain oleh dukun, yaitu gula aren (gula merah)

yang masi putih dicampur dengan akar tanaman tubo, di gosok di perut. Dan kesemuanya yang saya ceritakan ramuan itu, di jampi-jampi semua oleh dukun, tapi yaaa... Sampai sekarang belum berhasil juga, saya juga sudah 9 kali di urut, di urut bagian pianggang oleh dukun, dan saya tidak mau lagi di urut, kapok deh, sakit... sementara selama berobat kedukun saya selalu bersama suami dan suami saya juga ada dikasih ramuan yaitu di kasih pinang muda. Dan akar pinang, keduanya dibuat jus, lalu diminum. "

Keterangan mahluk bernama simunggut juga diperoleh dari salah satu informan yang berinisal MRd. Dia menjelaskan awal mula simunggut tersebut lahir dan berkembang di dalam kelamin wanita, akibat faktor kebiasaan wanita tersebut kurang bersih pada saat gadis dulu, salah satunya adalah kurang memperhatikan kebersihan kelaminnya pada saat haid, sehingga darah yang kurang bersih tersebut digemari oleh makhluk gaib seperti simunggut, dan ia bisa berkembang sampai selamanya. Dan susah mendapatkan keturunan.

Dalam wawancara dengan DI, pengobatan simunggut ini masih ia percayai dan dukun yang bisa mengobatinya, karena menurutnya atas pengalaman orang-orang sebelumnya yang sudah diobati oleh dukun terhadap membasmi simunggut ini, ada yang berhasil, dan langsung mendapatkan anak, ia mengatakan :

“Kalau dalam pengobatan alternatif ini ada yg berhasil lho mas, dan saya melihat sendiri simunggut itu keluar dari vagina salah seorang pasien dukun tersebut, bentuknya seperti cicak, dan sudah mati, setelah simungut itu keluar, pasangan tersebut langsung hamil bulan depannya, mungkin karena panas itu, makanya dia keluar, dan dia tidak tahan berada didalam, kalau bahasa kita sejenis virus gitu."

Dalam pengakuannya DI juga menjelaskan tentang ke engganannya untuk melanjutkan penyakit ini ke tenaga kesehatan seperti dokter atau bidan, dan dia mengatakan:

"Ah.. Malas, berobat ke dokter atau bidan, tapi saya pernah juga sekali-kali berobat ke dokter, kebanyakan ke dokter yang berada di kota Sarolangun, malasnya ke bidan, terkadang ada bidan yang tidak punya anak juga ...Terus kalau bidan YN kan masih muda, dan belum kawin, jadi malas aja saya konsul ke bidan YN, yaa belum cocoklah..."

Orang tua menjadi salah satu faktor yang menentukan di mana ibu yang belum memiliki anak (mandul) harus mencari pengobatan. Menurut DI, orang tuanyalah, dalam hal ini ibunya yangkeinginan dirinya untuk terus berobat ke dukun, karena difaktori oleh orang tuanya, khususnya ibu kandungnya sendiri, dari dasar itulah ia masih percaya kepada dukun dalam pengobatan ini, bahkan ia menceritakan :

“Karena saya sampai saat ini belum juga punya anak, maka emak saya jadi repot, dan dia yang sibuk ngajak-ngajak saya untuk pergi ke dukun agar di obati simunggut ini, hehehe... disini juga ada dukun yang bisa memindahkan kehamilan orang lain ke kita lhoo, saya pernah ditawarkan oleh bidan YT (bides yang dulu bertugas di desa Kasiro), pada saat itu ada orang yang sedang hamil kecil, dia ingin pindahkan kehamilannya ke orang lain, alasannya orang tersebut karena sudah memiliki banyak anak, lalu bidan tersebut menawarkan ke saya, jika saya bersedia maka bidan tersebut akan panggil dukunnya yang dapat memindahkan kehamilan ibu ini, namun saya berfikir juga dan konsul ke suami saya, sampai akhirnya kami memutuskan tidak mau, karena itu perbuatan sirik, dan kami tidak ingin demikian.”

3. Penyakit yang diobat ke tenaga kesehatan

Pengobatan yang dilakukan warga kepada tenaga kesehatan di Desa Kasiro cukup beragam. Sebagian besar penyakit yang diperiksakan ke tenaga kesehatan adalah jenis penyakit yang berasal dari sebab-sebab naturalistik, seperti penyakit dari kuman, sebab panas, (Kutipan anderson). Pengobatan tersebut dilakukan oleh warga di Poskesdes dengan bantuan bidan desa. Ketika Poskesdes sedang tutup, biasanya warga akan datang langsung ke rumah bidan, yang tempat tinggalnya masih dalam lingkungan desa.

Salah satu penyakit yang yang diperiksakan ke tenaga kesehatan adalah reumatik. Menurut pemaparan warga bernama Pak H, dia sudah berulang kali memeriksakan penyakit reumatik yang mulai dialaminya setahun belakangan pada bidan yang bertugas di Poskesdes. Ketika penyakitnya kambuh yang memiliki ciri munculnya rasa ngilu dan pegal-pegal di persendian dia langsung datang ke Poskesdes. Dia akan diperiksa dan diberi obat oleh bidan. Pak H memaparkan kalau dia lebih memilih untuk menggunakan obat pribadi dibandingkan dengan obat generik walaupun dia harus mengeluarkan uang untuk membayar. Menurutnya obat pribadi lebih cepat mengurangi rasa sakit dipersendiannya dibandingkan dengan obat generik. Dengan kata lain, obat pribadi dianggap sebagai obat dengan tingkat kemanjuran yang tinggi dibanding dengan obat generik.

Selain berobat di Poskesdes, warga juga biasa datang ke tenaga kesehatan ketika tenaga kesehatan berada di rumah. Hal ini terjadi ketika Poskesdes memang sedang tidak beroperasi, atau waktu ketika memeriksakan diri adalah di malam hari. Seorang warga, bernama Pak JI, membawa anaknya yang terserang demam untuk berobat di rumah bidan, yang juga tinggal di lingkungan desa. Menurutnya, anaknya demam karena akibat terpapar panas sinar matahari cukup lama ketika siang hari

bermain dengan kakak dan teman-temannya. Kemudian ketika malam hari, Pak JI datang ke rumah bidan untuk memeriksakan anaknya. Oleh si bidan anak Pak JI diberikan obat berupa sirup penurun panas. Menurut Pak JI, bidan bertugas sepanjang hari di desa ini. Karena di waktu siang atau malampun ketika ada warga yang akan memeriksakan penyakitnya, bidan harus siap melayani meskipun pasien datang berobat ke rumahnya.

Warga juga berobat ke tenaga kesehatan ketika obat-obat kampung yang mereka konsumsi dianggap tidak memberikan hasil. Seperti yang dijelaskan di atas bahwa masyarakat memiliki ramuan tersendiri untuk mengobati penyakit diare yang sering menyerang anak-anak. Namun, ketika obat tersebut dianggap tidak manjur dalam penyembuhan penyakit diare, maka orang tua akan memutuskan untuk membawa anaknya ke bidan yang bertugas di poskosdes. Seorang warga, bernama Ibu F, bercerita bahwa anaknya yang sering terkena diare dibawa ke bidan ketika ramuan dari neneknya tidak manjur. Oleh si bidan si anak diberi obat untuk mengobati diare, dan beberapa hari setelahnya anak tersebut sembuh.

BAB 4