• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai Anak dalam Kacamata Masyarakat Desa Kasiro

KESEHATAN BALITA DI DESA KASIRO

4.1. Nilai Anak dalam Kacamata Masyarakat Desa Kasiro

Sebelum menjelaskan bagaimana seorang anak diperlakukan sejak dalam kandungan sampai pada pengobatan suatu penyakit pada anak, akan dijelaskan terlebih dahulu nilai anak dalam pandangan masyarakat Desa Kasiro. Hal ini sangat penting untuk dijelaskan karena berkaitan dengan bagaimana anak dijaga kesehatan dan keselamatannya.

Di daerah pedesaan di Indonesia, anak dianggap memiliki nilai yang tinggi bagi keluarga. Anak diharapkan mampu memberikan kebahagian kepada orang tuanya, selain itu juga dianggap sebagai jaminan di hari tua dan dapat membantu ekonomi keluarga (Siregar, 2003). Nilai anak sebagai pihak yang bisa memberikan sumber daya ekonomi kepada keluarganya, terutama kepada orangtua juga terdapat dalam pandangan masyarakat Desa Kasiro. Di Desa ini memiliki anak menjadi salah satu hal yang didambakan oleh orang tua. Anak merupakan

“harta” yang pada waktunya bisa membantu kehidupan orang tua. Seorang Informan, Ibu SY, menjelaskan tentang anak sebagai harta dari sebuah keluarga, “Anak saya banyak... anak banyak, tapi hart nya tidak. Ya nanti anak itu yang jadi harta.”

Anggapan bahwa anak menjadi pihak yang akan membantu secara ekonomi kehidupan keluarganya membuat keluarga di Desa Kasiro memiliki banyak anak. Dari observasi mengenai jumlah anak, di Desa Kasiro satu keluarga biasa memiliki paling sedikit tiga orang anak. Banyaknya jumlah anak dalam keluarga juga terkait dengan belum adanya perencanaan untuk memiliki jumlah anak tertentu dengan menggunakan KB pada Masyarakat Desa Kasiro ini. Seorang warga bernama Pak B, menceritakan bahwa dia memiliki 13 orang anak. Pak B menjelaskan bahwa dia dan istrinya memiliki banyak anak karena tidak menggunakan KB. Dia mengatakan bahwa aturan agama Islam yang membuat istrinya tidak ingin menggunakan KB. Untuk melihat bagaimana anak dapat membantu dalam perekonomian keluarga, saat ini salah satu anak dari Pak B membantu menjalankan usaha isi ulang air bersih yang dirintisnya pada tahun 2011.

Penggunaan KB di daerah Batang Asai tergolong masih rendah. Dari data dinas kesehatan Kabupaten Sarolangun tahun 2013, dari pasangan usia subur di kawasan Batang Asai yang berjumlah 2.765 baru 2.131 peserta pengguna KB, atau 77,1 %. Persentasi peserta KB di Batang Asai menempati posisi terendah kedua di wilayah Kabupaten Sarolangun setelah Kecamatan Limun.

Salah satu pandangan masyarakat mengenai perencanaan jumlah anak juga terkait dengan kepercayaan bahwa anak adalah pemberian dari Tuhan. Sehingga KB dianggap sebagai sebuah upaya melawan kehendak Tuhan. Dengan begitu, anak dianggap sebagai rezeki yang diberikan kepada orang tua. Pandangan

seperti ini dicontohkan dari keluarga Pak SR yang memiliki empat orang anak. Pak SR mengatakan dia dan istrinya tidak merencakan berapa jumlah anak yang diinginkan, tetapi memasrahkannya pada rezeki yang diberikan oleh Tuhan. Pak SR menjelaskan bagaimana dia dan istrinya tidak memiliki perencanaan tentang jumlah anak, “nggak direncanakan itu anak empat. Yang bisa merencanakan ya Tuhan. Kalau itu sudah Tuhan yang nentuin.”

Masyarakat di Desa Kasiro tidak membedakan apakah harus memiliki anak laki-laki dan perempuan.Bagi orang tua di desa ini, memiliki anak adalah merupakan sebuah anugerah baik itu laki-laki atau perempuan. Jadi tidak ada pembedaan nilai antara kedua jenis kelamin tersebut. Dalam sebuah wawancara dengan seorang ibu yang sedang hamil, bernama Ibu IG, dia menjelaskan bahwa apapun jenis kelamin yang akan lahir, nantinya dia dan suaminya akan menerima dengan sukacita.

Pentingnya nilai anak dalam masyarakat Desa Kasiro tercermin dalam bagaimana perlakuan orang tua kepada anak tersebut ketika masih dalam kandungan sampai anak tersebut lahir. Keselamatan anak menjadi pusat perhatian orang tua. Untuk mendapatkan keselamatan bagi si anak,orang tua akan menjalankan beberapa ritual atau syarat-syarat yang sudah dipercaya secara turun temurun dilakukan oleh nenek moyang mereka. Kepercayaan ini dilakukan sebelum atau sesudah proses persalinan yang oleh warga di Desa Kasiro untuk melindungi si anak dan si ibu agar mendapatkan keselamatan.

Beberapa kepercayaan dari nenek moyang yang masih selalu digunakan dan dipraktekkan adalah mengenai pantangan untuk kedua orang tua yang sedang menanti kelahiran si buah hati. Suami dan istri yang akan menunggu anaknya lahir juga diminta untuk tidak melakukan pantangan-pantangan yang nantinya dipercaya bisa menyulitkan proses persalinan. Salah

satu contohnya adalah si ibu tidak diperbolehkan mengkonsumsi makanan tertentu, seperti jantung pisang, yang berhubungan nantinya dengan kesulitan pada proses persalinan.

Pada bulan-bulan kandungan tertentu, ibu yang sedang hamil juga akan melakukan beberapa ritual untuk menjaga keselamatan si bayi. Beberapa ritual tersebut diperuntukkan kepada ibu hamil di bulan-bulan menjelang persalinan, yaitu antara kandungan memasuki usia tujuh sampai sembilan bulan. Ritual mandi limau, dengan menggunakan bahan dari air jeruk nipis dipercaya bisa menjauhkan si bayi dari gangguan kekuatan supranatural. Selain itu, ada mandi dengan akar riang, yang dianggap bisa memperbaiki posisi bayi yang sungsang di dalam kandungan. Disamping ritual berupa memandikan ibu hamil, warga Desa Kasiro juga mengenal syarat memakan tiga butir telur bagi ibu hamil yang gunanya untuk melancarkan proses persalinan.

Setelah lahir, bayi juga akan dilindungi oleh orang tua dan keluarga besarnya dari gangguan mahluk supranatural yang dipercaya bisa mencelakakan si bayi. Untuk mencegah hal tersebut, keluarga si bayi akan memberi gelang hitam pada bagian tangan, kaki, dan leher si bayi. Kemudian, disamping itu pula, ketika balita menderita penyakitseperti penyakit menangis malam disertai demam yang sering disebut sebagai buruk kelaku, pengobatan dengan dukun dilakukan. Bagi warga penyakit buruk kelaku adalah penyakit akibat si anak kecil diganggu oleh iblis yang pengobatannya hanya bisa dilakukan oleh dukun. pengobatan dengan dukun ini dilakukan selama tiga hari berturut-turut di rumah dukun, dengan menggunakan ramuan-ramuan yang bisa menangkal kekuatan iblis tersebut.