POTRET KESEHATAN DESA KASIRO
3.7. Praktek Bidan Desa
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 369 /Menkes/SK/III/2007, Bidan adalah seseorang yang telah mengikuti program pendidikan bidan yang diakui di negaranya, telah lulus dari pendidikan tersebut, serta memenuhi kualifikasi untuk didaftar (register) dan atau memiliki izin yang sah untuk melakukan praktek bidan.
Berdasarkan pengamatan, disamping dalam kesehariannya bidan desa yang betugas didesa Kasiro melayani masyarakat secara gratis, bidan desa ini juga mempunyai inisiatif tersendiri untuk melakukan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di rumahnya. Inisiatif seperti ini bersifat legal, karena sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1464/MENKES/PER/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktek Bidan.
Terdapat dua unit Praktek bidan yang dikembangkan di desa Kasiro yaitu paraktek bidan yang berinisial YN, yang mana, YN juga salah satu tenaga bidan desa yang bertugas didesa tetangga (Kasiro Ilir) dan berdomisili di Desa Kasiro. Sementara praktek bidan lainnya yaitu praktek bidan yang dikembangkan oleh Bidan yang berinisal FT, yang mana bidan FT merupakan salah satu tenaga bidan kesehaatn yang bertugas dan berdomisili di desa Kasiro.
Dari hasil wawancara salah satu bidan yang sudah mengembangkan praktek kesehatannya yang berinisal FT, menurut pengakuannya dalam kesehariannya, ia bisa mengimbangi keberadaan statusnya, hal ini diungkapkan olehnya,
“Jika pagi saya bekerja sebagai bidan desa yang bertugas di Poskesdes, dan segala keluhan masyarakat yang saya layani dari pagi sampai sore hari, besifat gratis, sementara kalau dimalam hari saya bertugas sebagai tenaga kesehatan dan tetap melayani masyarakat tidak gratis, dan mereka harus membayarnya, termasuk pembayaran obat, kecuali jika saya menolong tindakan persalinan.”
Hal yang sama juga diungkapkan oleh YN, yang sudah mengembangkan usaha prakteknya sejak ia diangkat jadi bidan desa, namun yang berbeda darinya adalah, khusus warga desa Kasiro ilir, dimana tempat ia bertugas, ia bisa memberikan
persalinan secara gratis, karena itu merupakan tanggung jawabnya sebagai bidan desa, lain halnya jika ada warga lain yang meminta jasanya untuk melakukan persalinan, namun bukan warga desa Kasiro ilir, maka mereka harus membayar jasanya.
Menurut observasi, praktek bidan yang dikembangkan secara pribadi oleh YN dan FT terletak dirumahnya, namun ada sedikit perbedaan dalam memberikan pelayanan yang dilakukan oleh bidan praktek kepada masyarakat. Dimana setiap masyarakat yang berobat di bidan praktek mereka, maka bidan tersebut memberikan pelayanan yang lebih maksimal, ini dapat dilihat, obat yang diberikan adalah obat paten atau obat yang lebih bagus dari pada obat yang diberikan di Poskesdes atau yang lebih dikenal dengan obat generik.
Dengan memberikan obat paten tersebut, maka setiap masyarakat yang berobat di praktek bidan lebih puas terlayani, karena dengan efek yang diberikan oleh obat paten tersebut dapat menyembuhkan penyakit dengan cepat. Menurut FT, obat paten yang tersedia di praktek pribadinya, dia dapati dengan membeli sendiri ke Kota Sarolangun, dan biasanya FT membelanjakan obat tersebut sebulan sekali, dengan uang pribadinya sendiri.Dari pengamatan, Banyak pandangan khususnya masyarakat desa Kasiro yang membedakan antara obat paten dan obat generik, bahkan dipercayai oleh masyarakat Desa Kasiro bahwa obat paten dapat lebih efektif dalam menyembuhkan penyakit. Seorang warga bernama Pak AT, berpendapat dia lebih baik meminta obat paten dibandingkan dengan obat generik,
“Kalau saya biasanya minta obat yang bukan generik, lebih padek dia, bisa cepat sembuhnya, kalau yang generik agak lama. Ya harganya lebih mahal, tapi cepat efeknya.”
Berobat dengan menggunakan obat paten sering dilakukan oleh warga masyarakat. Biasanya warga ketika mengalami sakit akan berobat menuju rumah bidan langsung. Di Desa Kasiro ini ada bidan yang bertempat tinggal di desa meskipun dia bertugas di Poskosdes desa yang lain. Di waktu dia tidak bertugas di poskosdes, ketika sore sampai malam hari, bidan tersebut berada di rumahnya, dan warga bisa datang ke rumah bidan tersebut. Hal tersebut dialami oleh warga bernama Pak JI, dia bersama anaknya mendatangi rumah bidan ketika anaknya menderita demam.
“Tadi habis dari rumah bidan YN, anak saya kena demam, satu hari main sama kakaknya di ajak panas-panasan. Tadi diberikan sirup sama bidan. Kalau malam dia ada di rumah, jadi bisa didatangi.”
Keberadaan tenaga kesehatan di Desa Kasiro merupakan bagian dari usaha untuk menanggulangi masalah kesehatan di desa. Tenaga kesehatan yang hidup di tengah-tengah masyarakat diharapkan memberikan pengobatan agar kesehatan warga terjaga. Ketika tenaga kesehatan berupa bidan desa tinggal di suatu daerah, salah satunya Desa Kasiro, interaksi dengan masyarakat juga diperlukan untuk menjalin kedekatan dan kepercayaan warga. Di Desa ini salah satu hal yang harus antara interaksi tenaga kesehatan dengan masyarakat sering terjadi. Bidan yang seharusnya tinggal dan bertugas di Poskesdes memilih untuk menetap di dusun lain karena baberapa alasan. Kondisi Poskesdes yang cukup jauh dari pemukiman menjadi alasan utama.
Tenaga kesehatan di desa Kasiro pun sering berganti-ganti karena beragam alasan. Dengan bergantinya tenaga kesehatan yang dilakukan berulang kali tersebut menimbulkan persoalan mengenai relasi masyarakat dengan tenaga kesehatan. Informan bernama DR, dari Puskesmas Batang Asai juga berpendapat
bahwa perpindahan tenaga kesehatan di desa merupakan kejadian yang sering terjadi. Sering berpindahnya tenaga kesehatan di suatu desa menurut pemaparan informan terkait dengan kondisi daerah dimana tenaga tersebut ditempatkan. Berikut pemaparan DR mengenai pindahnya tenaga kesehatan,
“Kalau sekarang itu bidannya banyak cuma pindah-pindah. Kalau kami dulu bidan itu nda sebarapo jumlahnya tapi mantap di tempat. Itu lah yang jadi masalah, dari program yang ngusul pindah, entah ga betah atau gimano. Pengaruh ke masyarakat pak, masyarakat sudah mulai kenal bidan berangkat hilang lagi. Jadi bidannya sebentar pindah.”
Daerah Kecamatan Batang Asai yang kawasannya cukup terisolir menjadi salah satu alasan mengapa beberapa tenaga kesehatan di Desa Kasiro memilih untuk pindah. Stigma kawasan Batang Asai sebagai daerah tertinggal atau terisolir ini selalu membayangi tenaga kesehatan yang bertugas di daerah tersebut. Daerah Batang Asai, khususnya Desa Kasiro memang masih memiliki beberapa kekurangan dalam hal infrastruktur.
Infrastruktur berupa listrik dan air bersih serta akses transportasi menjadi salah satu masalah utama di kawasan ini. Fasilitas seperti listrik harus diadakan secara swadaya dengan menggunakan mesin genset. Sulitnya mengakses daerah Batang Asai yang harus melalui jalur sungai menggunakan kretek. Tidak hanya itu pandangan daerah terpencil yang masyarakatnya dianggap kurang bersahabat juga menjadi alasan-alasan mengapa tenaga kesehatan berpindah. Seorang informan bernama TI yang juga mengenal cukup dekat beberapa bidan di desa menceritakan alasan-alasan tenaga kesehatan sering berganti di Desa ini,
“Sampe sekarang sudah tujuh orang kesehatannya di desa, ada IW, SH, Q, MM, ZR, AY, terakhir FT. Ada yang perawat ada yang bidan. Mereka banyak yang pindah karena ga mau kerja di Batang Asai. Itu seperti bidan M, dia 3 bulan di desa, maksudnya dia keluar sk ptt lapor ke dinas, terus pindah. Soalnya batang asai itu terisolir, jauh lagi,ga ada lampu (listrik). Ada juga yang bilang orang Batang Asai itu jahat-jahat, orang ngeri kalau ke sini. Dapat SK di Batang Asai langsung lapor ke dinas, pak saya di batang asai, nanti bisa dipindah.”
Di desa ini biasanya bidan akan dijemput atau dihubungi melalui telepon ketika ada masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat. Menjemput atau menghubungi bidan dilakukan warga ketika waktu bertugas bidan di poskosdes telah selesai. Biasanya warga menghubungi ketika sudah menjelang petang atau malam.