KESEHATAN BALITA DI DESA KASIRO
4.4. Ritual Perawatan Bayi Pasca Melahirkan 1. Mandi Kayik
Masa bayi ditandai dengan suatu upacara bernama mandi ke air. Di beberapa desa di Jambi istilah tersebut dikenal secara
umum dengan nama mandi kayik. Mandi ke air tersebut tidak lain adalah melakukan kegiatan mandi ke sungai. Mandi kayik ini dilakukan ketika tali pusat bayi telah puput, sekitar tujuh sampai delapan hari pasca bayi tersebut lahir. Namun tidak semua bayi dapat dimandikan dengan cara mandi kayik. Seorang dukun mengatakan kalau dia tidak berani memandikan bayi yang beratnya kurang dari 2,5 kg, karena takut komplikasi yang akan dialami oleh si bayi.
Tujuan utama dari pelaksanaan upacara ini adalah sebagai perayaan serah terima antara si dukun dengan orang tua. Di samping itu, terkandung beberapa maksud lain dari upacara itu, yakni melakukan simulasi agar si anak memperoleh kebahagiaan kelak seperti yang disimulasikan. Hal baik yang diharapkan diperagakan dengan menampilkan medium seperti pisau yang terbungkus tunum, pisang manis, nasi sepulut yang dikukus, serta tebu. Benda-benda tersebut mempunyai sifat yang cocok dengan kebaikan, seperti keberanian, berbudi manis dan disukai orang (Kahar et.al 1985: 121).
Sebelum acara mandi kayik dilakukan, persiapan di rumah si anak pun dilakukan. Pagi hari sekitar pukul 08.00 dukun datang dengan membawa peralatan berupa pisau, kain yang dililit,serta biduk kecil yang terbuat dari daun pisang, serta kapas. Kemudian tuan rumah menyediakan syarat-syarat yang akan digunakan oleh dukun dalam prosesi ini, antara lain sirih, kapur, pinang, serta rokok berjenis kretek yang diletakkan di atas nampan. Kemudian tuan rumah juga menyiapkan alat-alat mandi untuk si bayi berupa sabun dan juga shampo. Selain itu, tuan rumah juga menyediakan makanan kecil yang diletakkan di sebuah nampan, berupa jajanan dari warung untuk anak-anak yang mengikuti acara ini.
Gambar 4.8.
Perlengkapan dalam ritual mandi kayik Sumber: Dokumentasi tim peneliti
Tak lama setelah persiapan, semua orang bergegas keluar rumah dan berjalan menuju Sungai Batang Asai. Ibu si bayi tidak ikut dalam acara ini, karena masih dalam masa nifas. Si bayi akan digendong oleh adik si suami, atau sering disebut sebagai induk
bako1dan dillindungi dengan payung. Sebelum keluar dari pintu rumah, dukun yang memimpin prosesi tersebut terlihat membaca mantra kemudian lalu menyemburkan air dari mulutnya sebanyak tiga kali ke arah kanan, kiri dan bawah. Lilin pusang pun dibakar, dan asapnya mengeluarkan aroma kemenyan. Si dukun berjalan di samping induk bako sembari
1 Induk bako merupakan istilah yang mengacu kepada saudara perempuan dari sang suami.
memegang lilin sampai menuju Sungai. Orang yang mengiringi berjalan di belakang dan didepan.
Gambar 4.9.
Keramaian pada acara mandi kayik Sumber: Dokumentasi tim peneliti
Sesampainya dipinggir sungai, dukun menggelar tikar untuk tempat duduk si induk bako bersama si bayi. Di atas tikar, pakaian bayi perlahan ditanggalkan oleh si induk bako dibantu dengan dukun. Setelah bayi telanjang, bayi tersebut diserahkan kepada dukun. Dukun kemudian berjalan mendekati sungai dan berdiri dengan air setinggi betis.
Saat berada di sungai, dukun lalu mengendong si bayi dengan satu tangan dan mengambil air sungai dengan cara menangkupkan tangannya yang lain. Dukun mengawali ritual ini dengan cara mengucapkan doa lalu mengambil air sungai dan memasukkannya ke dalam mulut, lalu menyemburkannya sebanyak tiga kali. Kemudian dukun memasukkan air lagi kemulutnya dan menyemburkannya sebnyak tiga kali ke bagian
kepala si anak sembari membilasnya. Kemudian badan si bayi dimasukkan secara terlentang ke dalam air dan badan bayi digosok secara perlahan dari dada sampai ke kaki.
Gambar 4.10. Prosesi mandi kayik di sungai Sumber: Dokumentasi tim peneliti
Saat badan sibayi masuk ke dalam air untuk pertama kali terdengar kencang suara tangisan. Setelah membasuh badan bayi dengan air, dukun kemudian membasahi rambut dan mengeramasinya. Selanjutnya, badan sibayi juga disabuni dengan sabun yang telah dipersiapkan. Kemudian punggung si bayi juga dibilas dengan air oleh dukun. Saat bayi mulai dimandikan,salah satu syarat berupa tunas kelapa dihanyutkan di pinggir sungai. tunas kelapa ini memiliki makna agar hidup si anak sejahtera di masa depan.Setelah proses mandi selesai, si dukun akan meniup telinga kiri dan kanan bayi dan juga pusat bayi. Kemudian bayi dihanduki dan digendong dan diserahkan kepada si induk bako kembali.
Gambar 4.11. Proses ‘menyunat’ bayi Sumber: Dokumentasi tim peneliti
Setelah bayi selesai mandi di Sungai Batang Asai, proses sunat bayi pun berlangsung. Dalam sunat yang dianggap sebagai pembersihan kuman pada alat kelamin bayi perempuan, juga dilakukan oleh dukun. Masih dalam gendongan induk bako, dukun mengambil selembar kain. Kain tersebut dibentangkan di atas kepala induk bako sampai menutupi hampir seluruh badan si induk bako dan juga si bayi. Dukun akan menyisakan lubang sedikit di kain agar dia bisa memasukkan kepala dan tangannya. Karena tertutup kain inilah tidak ada yang bisa melihat prosesi sunat tersebut selain si dukun dan induk bako. Sunat itu berlangsung cukup singkat, kemudian dukun mengambil biduk kecil yang terbuat dari daun pisang dan menaruh kapas disitu. Lalu biduk tersebut dihanyutkan di sungai Batang Asai.
Berbeda dengan sunat perempuan yang menyebabkan risiko terhadap bayi di berbagai wilayah di dunia, sunat bayi di
Desa Kasiro memang sering diasosiakan sebagai upaya membersihkan kelamin bayi dari kotoran atau kuman. Kelamin bayi tidak dilukai seperti sunat perempuan di beberapa kawasan lain. Saat sunat ini dilakukan pun, tidak terdengar suara tangisan bayi saat, sehingga sunat tersebut bisa dikatakan tidak melukai alat kelamin bayi. Sunat tersebut dilakukan untuk membuang kuman yang dalam pandangan masyarakat desa harus disingkirkan ke sungai. Menurut pemaparan Koordinator KIA Puskesmas Batang Asai, Ibu H, sunat dalam prosesi mandi kayik yang dilakukan oleh dukun hanya sebatas simbolis saja sehingga tidak ada sayatan yang dilakukan oleh si dukun dan tidak melukai kelamin bayi,
“Kalau sistem sunatnya sudah pernah diperhatikan kalau dia cuma dibersihkan, bawa pisau kan, cuman dia bawa pisau , tapi ditutupi [kain]. Tapi setelah selesai dukun tuh kan kita lihat vaginanya si bayi apakah ada lecet atau tidak, kiranya tidak lecet. Kalau dilihat dari vaginanya memang tidak ada lecet, Sepertinya memang sudah tradisi, tradisinya mandi kayik tuh, apa salahnya nda masalah kan. Kalau kita ilangkan tradisi orang kan orang bisa marah atau kaya gimana lah, sebenarnya itu kan nda lazim nda harus kan. Disunati, kalau dilihat kita nda tau ndak diapa-apain, takutnya kalau dukun tuh didarahi, takut terjadi pendarahan. Sampai saat sekarang belum pernah terjadi apa-apa dengan si bayi sesudah mandi kayik. Belum pernah lah setelah mandi kayik itu meninggal, insyallah belum ada kejadian.”
Setelah acara memandikan bayi tersebut selesai, makanan-makanan kecil yang dibawa dihamburkan. Saat itu anak-anak yang mengikuti acara ini mengambil makanan kecil yang disebarkan ke udara oleh tuan rumah. Kemudian anak-anak juga dibedaki wajahnya, seperti yang dilakukan kepada si bayi.