• Tidak ada hasil yang ditemukan

POTRET KESEHATAN DESA KASIRO

3.1. Konsep Sehat Sakit

Di Desa Kasiro beberapa penyakit yang paling sering dan banyak terjadi berdasarkan data dari Poskosdes antara lain Diare, ISPA, Hipertensi dan Reumatik. Berdasarkan data kunjungan rawat jalan di Poskosdes Desa Kasiro, selama lima bulan terakhir di tahun 2014 terhitung dari bulan Januari-Mei, keluhan mengenai penyakit-penyakit yang diperiksakan oleh masyarakat kepada tenaga kesehatan antara lain adalah penyakit Diare berjumlah 25 orang, ISPA berjumlah 36 orang, Hipertensi berjumlah 12 orang, dan reumatik berjumlah 10 orang.

Tabel 3.1. Data Kunjungan Rawat Jalan Poskosdes Kasiro Jan-Mei 2014

Bulan Diare ISPA Hipertensi Reumatik Gastistris Malaria klinis Jan 6 7 2 1 3 1 Feb 4 6 1 1 1 1 Mar 6 9 2 4 - 4 Apr 6 9 3 1 3 - Mei 3 5 4 3 2 - Jumlah 25 36 12 10 9 6

Sumber: Poskesdes Kasiro

Menurut tenaga kesehatan yang bertugas di desa ini beberapa penyebab menjadi latar belakang munculnya beragam

penyakit yang diderita oleh masyarakat. Untuk penyakit Diare yang sebagian besar diderita oleh anak-anak dianggap diakibatkan dari pola makan dan juga kebersihan lingkungan. Untuk penyakit ISPA, salah satu faktor yang menjadi penyebabnya adalah kondisi lingkungan yang berdebu. Reumatik yang biasa dialami penduduk yang berusia tua ini menurut tenaga kesehatan di desa disebabkan oleh kegiatan fisik yang berat. Sedangkan penyakit darah tinggi atau hipertensi terjadi karena umur penderita yang sudah tua dan juga terkait pola makan.

Tenaga kesehatan di Desa Kasiro tidak hanya melakukan tindakan kuratif seperti pemberian obat kepada penderita sakit, tetapi juga memberikan penyuluhan saat orang tersebut berobat. Biasanya bidan akan memberitahu orang tua si anak yang menderita Diare untuk mengurangi konsumsi jajan di warung dan menjaga pola makan si anak. Ataupun kepada penderita ISPA untuk menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggalnya agar terhindar dari debu. Khusus untuk reumatik dan hipertensi, dalam satu bulan sekali petugas kesehatan rutin mengadakan Posyandu lansia. Posyandu ini dilakukan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pada warga yang usianya sudah diatas 50 tahun. Kegiatan Posyandu lansia ini antara lain ,pengukuran tekanan darah, berat badan dan pemberian vitamin serta penyuluhan. Kegiatan ini dilakukan untuk menjaga kesehatan lansia di Desa Kasiro.

Sehat-Sakit dalam Kacamata Masyarakat Desa Kasiro

Masyarakat Desa Kasiro mempunyai pandangan tersendiri mengenai pengalaman sehat dan sakit. Kondisi badan sehat atau sakit ini dikaitkan dengan bagaimana secara fisik si individu mampu memenuhi kebutuhan hidup dari bekerja. Kemampuan untuk melakukan kegiatan kerja inilah yang menjadi dasar bagaimana seseorang tersebut dinilai sehat atau sakit. Seorang warga bernama SY, memaparkan tentang keadaan tubuhnya yang sehat ketika masih mampu bekerja,

“..pobilo tubuh ko masih telap untuk bekerja, iyo sehat lah ambo ko, dan apobilo diak telap lagi ko namonya ambo ko sakit.”

(Apabila tubuh ini masih kuat untuk bekerja itu artinya saya sehat, tapi kalau sudah tidak kuat lagi untuk bekerja berarti saya sakit)

Selain kemampuan bekerja menjadi salah satu tanda bahwa orang tersebut masih sehat, konsumsi makanan juga menjadi penyebab dari munculnya penyakit. Seorang warga juga menceritakan bahwa penyakit akan muncul akibat konsumsi yang dimakan seseorang dimana zat-zat tertentu akan menumpuk. Warga bernama Pak B mengatakan bahwa makanan yang kita makan akan menimbulkan penyakit yang nantinya akan menumpuk di bagian dalam tubuh.

Baginya, untuk menjaga agar badan terjaga kesehatannya bekerja adalah salah satu upaya yang harus dilakukan. Ketika bekerja dan beraktivitas di luar rumah kita akan mengeluarkan keringat dari pori-pori kulit. Menurut Pak B mengeluarkan keringat inilah merupakan salah satu cara untuk mengeluarkan penyakit dari tubuh. Berikut pemaparan Pak B, terkait dengan pandangan sehat,

“orang makan itu kan masuk ke lambung, kalau tidak dikeluarkan [salah satunya lewat keringat] nanti bisa kena ke persendian, berkeringat itu lah obatnya, penyakitnya keluar.”

Pengalaman sehat sakit tersebut juga dapat dikaitkan dengan kondisi sosial dari individu tersebut yang dihubungkan dengan tempat mencari pengobatan. Salah satu contoh dari pengalaman tersebut dialami oleh SM, yang mengatakan bahwa seseorang dikatakan sakit adalah ketika seseorang tersebut meminta bantuan atau pergi ke tenaga kesehatan yang ada di desa, seperti bidan,

“...ambo dapat dikatakan sakit, jika ambo sudah pergi ke bidan. Seperti saya terkadang habis motong, badan pegal-pegal, masuk angin dan kurang semangat. Itu cukup panggil tukang urut saja. Kagek (nanti) juga pulih kembali..”, ujar SM.

Berkaitan dengan konsepsi tentang sehat, masyarakat desa Kasiro juga mempunyai pengetahuan tersendiri dalam memahami tentang sakit. Menurut observasi dan wawancara, Ada dua hal penyakit yang dikenal oleh masyarakat Desa Kasiro. Diantaranya sakit yang berkenaan dengan fisik tubuh, ini diakui oleh salah satu informan dari tenaga kesehatan FT, dimana pengertian sakit seperti ini berarti orang tersebut tidak dapat bekerja. Sakit yang berkenaan dengan fisik manusia seperti orang tersebut tidak dapat bekerja karena mempunyai kondisi fisik yang lemah karena flu, sakit kepala, atau sakit karena salah satu anggota tubuhnya mengalami cedera.

Sakit juga dilekatkan dengan pengeluaran pembiayaan terkait dengan biaya ke tenaga kesehatan. Informasi lain diakui oleh pak SY, bahwa namanya sakit itu pasti mahal, artinya setiap keadaan tubuh dalam keadaan sakit, maka harus dibawa ke bidan atau ke Puskesmas, dan disana harus mengeluarkan biaya yang

besar dalam pelayanan yang diberikan oleh bidan atau tenaga kesehatan lainnya, termasuk biaya membeli obat. Sejauh ini pak SY bersama keluarga nya sebisa mungkin menghindari terkena sakit, dan selalu berupaya menghindar untuk pergi ke Poskesdes atau Puskesmas. Karena khawatir jika sudah berhadapan dengan bidan atau Puskesmas pasti mengeluarkan biaya yang besar dalam penanganan sakit tersebut.

3.2. Penyakit Tidak Menular dalam Kacamata Masyarakat Desa