• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mandi Limau, Mandi Akar Riang, dan Telur Ayam

KESEHATAN BALITA DI DESA KASIRO

4.2. Menjalankan Syarat Orang Tuo Lamo dalam Kehamilan

4.2.4. Mandi Limau, Mandi Akar Riang, dan Telur Ayam

Dalam pandangan masyarakat desa Kasiro kehamilan merupakan masa yang rawan dimana muncul kepercayaan

bahwa iblis akan mengganggu ibu hamil beserta si bayi. Menurut cerita dukun kampung, ketika ibu hamil dan juga akan melahirkan ada iblis bernama indukan yang akan mengganggunya. Indukan merupakan iblis perempuan yang perawakkannya tinggi besar dengan bulu yang lebat. Bulu di tubuh indukan atau sering disebut juga sebagai gedang buluh itu tegak. Di samping itu, indukan tersebut juga memiliki payudara yang salah satunya panjang, yang biasa digunakan untuk menyusui anaknya yang digendong dipunggung. Kepercayaan mengenai adanya iblis bernama indukan sering diceritakan oleh para orang tua perempuan di desa Kasiro.

Prosesi mandi limau ini dilakukan ketika umur kandungan bayi pada ibu hamil memasuki bulan ke tujuh sampai ke sembilan. Hal tersebut dilakukan untuk menjauhi ibu hamil dan bayi yang akan dilahirkannya nanti dari gangguan iblis bernama gedang buloh. Ada kejadian menurut dukun kampung ,Ibu S, bahwa ada seorang ibu sedang hamil tujuh bulan di dusun muara kebunut yang kehilangan kandungannya. Menurut Ibu S, ibu hamil yang sedang mengandung tersebut, perutnya semakin lama semakin mengempis. Menurut pandangan warga, hal itu terjadi karena ibu hamil tersebut diganggu oleh gedang buloh. Oleh karena itu, karena ada kepercayaan tentang iblis yang bisa menggugurkan kandungan inilah syarat berupa mandi limau dilakukan. Dukun bernama Ibu S menjelaskan pandangan atau kepercayaan warga desa mengenai iblis yang bisa mengganggu kesehatan ibu hamil,

“Kalau orang sini bilang orang hamil itu yang jadi ibu nggak hanya dia (si ibu), tapi ada juga indukannya [yang lain]. Namanya gedang bulo, makanya pake acara limau ini biar tidak diganggu. Ada dulu itu besar-besar perutnya ibu hamil bisa kempes. Itu dulu ada kejadian di dusun sebelah.”

Beberapa syarat dan kelengkapan dibutuhkan oleh dukun untuk memulai proses mandi limau ini. Salah satu syaratnya adalah mencari buah kelapa masak yang jatuh ke tanah. Namun, kelapa itu tidak sembarang kelapa, melainkan kelapa yang memiliki lubang akibat dimakan oleh tupai. Karena bukan kelapa biasa inilah dibutuhkan waktu berhari-hari untuk menemukan kelapa bekas dimakan tupai tersebut.Menurut pemaparan suami dukun, Pak KD, kelapa tersebut termasuk kelapa yang sulit dicari dan terkandung unsur gaib didalamnya, “ini kelapa gaib biasanya, kenapa tupai memilih kelapa yang tua, padahal yang muda di pucuk pohonnya banyak.”

Gambar 4.2.

Kelapa tua yang dimakan tupai Sumber: Dokumentasi tim peneliti

Setelah menemukan kelapa tua tersebut, dukun juga akan mempersiapkan buah jeruk nipis. Warga menyebut jeruk nipis sebagai jeruk kapeh. Untuk mengambil jeruk nipis, beberapa syarat harus dilakukan. Dukun harus mencari dan mengambil jeruk pada saat pagi hari sebelum matahari terbit. Menurut pemaparan dukun, Ibu S, “Jeruk nipisnya diambil sebelum

terkena bayang-bayang dari matahari”. Buah yang diambil pertama juga harus diperlakukan berbeda dengan buah yang diambil berikutnya. Buah pertama harus dipetik dengan menyisakan tangkai dari pohon. Selain itu sebelum memetik buah pertama, dukun harus membaca doa berupa shalawat nabi. Baru kemudian dia akan memetik sejumlah jeruk sesuai dengan kebutuhan. Untuk syarat ibu yang sedang hamil tujuh bulan, jumlah jeruk nipis yang dibutuhkan sebanyak tujuh butir, untuk hamil delapan bulan sebanyak lima butir, dan sembilan bulan sebanyak tiga butir.

Gambar 4.3.

Kelapa dan jeruk nipis sebagai syarat mandi limau Sumber: Dokumentasi tim peneliti

Kemudian, ketika syarat tersebut telah diperoleh, jeruk nipis akan dimasukkan ke dalam kelapa. Karena lubang gigitan tupai di kelapa cukup kecil, maka lubang itu akan diperbesar dengan parang agar jeruk dapat dimasukkan. Setelah jeruk ada di dalam kelapa, maka lubang akan ditutup dengan menggunakan daun pisang tua yang berwana kekuningan. Syarat itu nantinya akan diletakkan di bawah tangga rumah selama kurang lebih dua

malam. Menurut pemaparan dukun, Ibu S, peletakkan di bawah tangga rumah adalah syarat orang tua jaman dulu,

“Itu syarat orang lamo, Itu kata nenek-nenek dulu, harus di taruh di bawah tangga. Kalau di rumah saya tidak ada tangga lagi di luar, adanya di dalam. Jadi di taruh di tangga rumah lain tidak apa-apa. tapi tetap harus ditaruh kelapanya di bawah tangga. Nanti biar bisa dilangkahi orang banyak, itu syaratnya.”

Proses pengambilan jeruk nipis pun dilakukan pada malam ke dua setelah kelapa didiamkan. Sebelumnya dukun akan mengambil mangkuk berwarna putih yang telah diisi dengan air. Saat mengisi air ke dalam mangkuk, dukun membaca

“bismillahirahmanirahim”. Lalu satu-persatu jeruk diambil dari

kelapa dan dipotong kemudian di masukkan ke dalam mangkuk putih. Untuk jeruk nipis yang berbatang (jeruk yang diambil pertama kali), akan diiris menjadi tiga bagian, sedangkan jeruk yang lain dipotong dua bagian.

Gambar 4.4.

Potongan jeruk nipis untuk mandi limau Sumber: Dokumentasi tim peneliti

Setelah itu, dukun akan memperhatikan potongan jeruk yang telah dimasukkan ke dalam mangkuk putih untuk menerawang mengenai kondisi persalinan ibu hamil tersebut. “Kalau banyak jeruk nipisnya yang mengambang, itu baik, berarti persalinannya lancar, tapi kalau jeruk nipisnya banyak yang tenggelam, itu persalinannya agak susah. Itu yang [ter]benam tuh gedang buloh,” jelas Ibu S, dukun kampung di Desa Kasiro. Saat memotong jeruk tersebut, dukun juga akan membaca doa atau mantera. Berikut potongan mantera seorang dukun saat memotong jeruk nipis :

“Audzubilahiminasyaitonnirodzim bismillahirahmanirahim

Kalau buluh sembulu ado Kalau buluh sembulu jadi Kalau buluh indukan Minta dikuak minta dikiba

Tubuh sejadih berlindung kepada Allah Berkat kalimah la ilahaillallah

Aku tau asal kau menjadi darah merah dari ibu kau ... itu asal kau menjadi

Berkat kalimah la illahaillah muhammadarasullullah”

Air jeruk yang sudah diberikan mantra inilah yang nanti akan digunakan oleh ibu hamil untuk mandi. Untuk proses mandi limau ini, terkadang dukun yang langsung memandikan si ibu, jika memang si ibu hamil meminta dimantikan. Cara lainnya, dukun hanya diminta untuk menyediakan syarat berupa jeruk nipis dan nanti si ibu hamil akan melakukan proses mandi limau sendiri. Seorang dukun juga bercerita bahwa tidak hanya ibu hamil dari desa Kasiro yang meminta syarat mandi limau, tetapi juga warga dari desa lain yang memahami bahwa dukun tersebut mampu menyediakan syarat mandi limau.

Ada waktu tertentu yang disyaratkan dukun yang harus diperhatikan oleh si ibu hamil ketika akan melakukan mandi limau di tepi sungai. Untuk ibu hamil dengan masa kandungan tujuh bulan mandi ini harus dilakukan pada waktu pagi hari, untuk ibu hamil berumur kandungan delapan bulan dilakukan pada siang hari, dan pada umur sembilan bulan pada waktu petang hari. Selain waktu, ada tambahan syarat lain ketika ibu hamil akan mandi yaitu menyediakan bubuk bedak berwarna putih, kuning dan hitam. Bedak berwarna putih berasal dari tumbukan beras. Bedak kuning berasal dari beras dan tambahan kunyit, sedangkan bedak hitam dari beras dan arang.

Observasi sempat dilakukan untuk melihat secara langsung bagaimana proses mandi limau dilakukan. Dukun yang telah membawa peralatan persiapan bersama ibu hamil akan menuju pinggir sungai. Peralatan yang dibawa adalah mangkuk yang berisi jeruk nipis dan air, serta mangkuk berisi beras dan campuran arang . Setelah sampai di pinggir sungai, ibu hamil akan mengenakan kain untuk menutupi badannya. Pada saat yang bersamaan, dukun memasukkan air sungai untuk menambah air di dalam mangkok berisi jeruk nipis. Dukun lalu menggiling untuk menghaluskan campuran beras beserta arang di atas batu kali. Setelah itu perlahan-lahan dukun memeras jeruk nipis di dalam jeruk nipis, kemudian jeruk nipis tersebut dipisahkan.

Proses mandi pun dimulai dengan air campuran dari perasan jeruk nipis dan air sungai Batang Asai. Dukun mengambil air dari mangkuk dan membasahi serta membilas bagian rambut dan kepala ibu hamil. Berikutnya, dukun mengusap bagian wajah si ibu. Setelah itu, bagian badan, punggung, dan tangan si ibu dibilas sedikit dengan air jeruk. Disusul dengan si dukun menumpahkan air yang masih tersisa di mangkok ke atas kepala ibu hamil. Kemudian, badan dari si ibu hamil diawali dari bagian

tangan, wajah dan juga punggung dilumuri dengan bedak dari campuran beras dan arang. Bagian terakhir dari syarat ini, dukun meminta ibu hamil untuk membersihkan diri dengan cara membilas badan di pinggir sungai.

Gambar 4.5.

Proses mandi limau di pinggir sungai Sumber: Dokumentasi tim peneliti

Kesulitan dalam proses kehamilan adalah ketika terjadi bayi dalam posisi sungsang. Dalam posisi ini, kepala bayi berada di bagian atas saat persalinan sehingga bayi akan sulit keluar. Bagi masyarakat desa Kasiro ada upaya untuk menanggulangi bayi lahir sungsang. Salah satu upayanya adalah dengan cara melakukan pijat kepada dukun. Menurut salah satu dukun, Ibu S, dia biasa memijat ibu hamil untuk meluruskan kehamilan. “Bisa dirasakan itu kepalanya ada di atas, nanti saya coba pijat, supaya bisa lurus di bawah kepalanya,” sahut Ibu S.

Selain dengan upaya pijat, ada salah satu syarat lain yang biasa dilakukan bagi ibu hamil yang bayinya berada dalam kondisi sungsang. Syarat itu dinamakan dengan mandi dengan tanaman bernama akar riang. Tanaman riang tersebut menurut dukun bisa didapat di pinggir-pinggir sungai. Setelah tanaman tersebut diperoleh, bagian akarnya akan dipotong-potong dan dimasukkan dalam bilah bambu. Bambu berisi akar itu nantinya akan dibakar di atas api. Kemudian setelah dibakar, akar akan dikeluarkan dan akan dicampur dengan air. Nantinya air dari akar riang itulah yang akan digunakan untuk mandi di tepi sungai.

Berbeda dengan mandi limau, mandi dengan akar riang harus dilakukan di atas biduk atau perahu. Di atas perahu tersebut ibu akan dimandikan dengan air akar riang. Air itu akan dibasuhkan ke seluruh badan si ibu hamil, dari kepala sampai ke kaki. Setelah proses mandi selesai. Ibu hamil diminta oleh dukun yang menemaninya untuk menyelam ke dalam air. Kaki yang harus diturunkan pertama kali adalah kaki sebelah kanan. Kemudian si ibu disyaratkan ketika menyelam dan bergerak mengikuti arus sungai dan kembali lagi melawan arus ke tempat semula. Setelah itu dia harus memutari biduk yang ada di tepi sungai. ke arah hilir dan kembali berbalik arah. Pemaparan tentang mandi akar riang untuk membantu mengembalikan posisi bayi sungsang menjadi normal disampaikan oleh dukun Bayi bernama Ibu S,

Kalau limau riang itu nda tau tidak di sungai, kapan kita sudah selesai belimau didalam biduk [perahu] kito turun ke dalam air melangkah kaki kanan turun langsung selam, langsung ke air hilir sudah itu bebalik dalam aer macam itu. Berputar dio baru ke atas. Itu kalo orang sungsang, itu didalam bayi nda ado bagus. Itu kan kepalanyo lari ke atas kan pantat dibawah, nah tu dibikin macam itu, dibue limau riang, itu mako kito nyelam

langsung hilir dulu bebalik mudik, nah ni itikad dalam hati kito minta dio [bayi] bepaling lurus seperti biaso. Itikad hati kita jugo kan.”

Selain mandi limau dan mandi dari akar riang, terdapat satu syarat lain yang dianggap mampu melancarkan proses persalinan. Syarat itu adalah memakan telur ayam kampung yang sudah diberi bacaan mantera dan doa dari seorang dukun. Menurut pemaparan dukun, Ibu S, memakan telur tersebut adalah usaha agar saat ibu melahirkan prosesnya tidak sulit. “Itu makan telur supaya bisa melancarkan jalan lahir si bayi waktu ibu melahirkan”, jelas dukun Ibu S.

Syarat telur ini diperuntukkan bagi ibu yang usia kehamilannya telah mencapai tujuh sampai sembilan bulan. Telur ayam kampung berjumlah 3 butir biasanya digunakan untuk syarat ini. Namun, jika ada keterbatasan, maka telur ayam kapung bisa digantidengan telur ayam ras. Setelah syarat telur itu terpenuhi, dukun akan membacakan mantera atau doa yang berasal dari dua ayat yang terdapat dalam Al-Quran. Dukun akan menahan napasnya saat membaca doa untuk ketiga telur tersebut secara berganitan. Untuk membaca doa ini untuk telur, dukun disyaratkan menahan napasnya. Setelah membaca ayat, nanti dukun akan meniup telur tersebut sebanyak tiga kali setelah menahan napas.

Kemudian si ibu hamil akan merebus telur tersebut setelah memperoleh telur yang telah dimantrai dari dukun. Dalam satu hari, ibu hamil akan memakan telur rebusan terbut sebanyak tiga kali. Hari pertama dia akan memakan telur saat dia baru bangun dan masih berbaring di kasur. Hari kedua dia akan memakan telur rebus tersebut di depan pintu. Kemudian di hari ketiga si ibu memakan telur saat turun dari tangga. Di hari ketiga ini si ibu akan membuang kulit telur ke bagian kiri dan kanan sembari menyebut itikad dalam hati agar persalinannya dilancarkan.

Pengalaman memakan telur sebagai syarat dialami oleh Ibu A, “Nanti hari ketiga telornya dikocek kulitnya, dibuang ke kanan-ke kiri, nanti dimakan saat berjalan mau mandi ke sungai”.

Menjelang persalinan, si ibu hamil juga disarankan untuk mengkonsumsi makanan tertentu. Menurut pemarapan Ibu A, ibu hamil akan diberi nasihat untuk memperbanyak makan-makanan, seperti beras yang disangrai, olahan lengkuas, maupun makanan yang digoreng. Jenis makanan tersebut dianggap mampu membuat kandungan atau si bayi ukurannya kecil agar saat persalinan bayi lebih mudah keluar. “Disini ibu-ibu takut kalau bayinya besar, nanti keluarnya susah” tutur Ibu A yang sudah memiliki dua orang anak. Seorang dukun juga pernah mengatakan tentang bagaimana cara agar bayi yang lahir ukurannya tidak besar, “Harus banyak makan yang goreng, nasi goreng, atau sering memakan sisa-sisa nasi yang ada di sendok nasi, biar bayinya kecik”, jelas dukun bernama Ibu S.

Dalam sebuah observasi ternyata ibu yang sedang hamil tidak hanya memeriksa dengan cara dipijat kepada dukun, tetapi juga memeriksakan kehamilannya kepada bidan. Pemeriksaan tersebut dilakukan ketika ada kegiatan Posyandu yang rutin dilakukan sebulan sekali di Poskosdes Desa Kasiro. Ibu yang hamil akan diperiksa oleh bidan terkait dengan berat badan, lingkar perut, dan juga pemeriksaan letak bayi di dalam perut dengan cara diraba. Namun, biasanya ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya dilakukan pada bulan-bulan menjelang persalinan. Dalam satu kasus bahkan ada seorang ibu hamil, bernama Ibu R, yang pada bulan ke-9 memeriksakan kepada bidan, tetapi saat persalinan memanggil dukun untuk membantu.