BAB I : PENGARUH PEMANFAATAN INTERNET DAN MEDIA
2.3 Hidup Bersama dan Hidup Doa Menurut Konstitusi
Hidup bersama bagi kaum religius bukanlah sebuah keharusan, melainkan konsekuensi dari sebuah pilihan bebas, dari sebuah komitmen atas penyerahan diri yang total. Dengan kata lain, hidup bersama dalam komunitas merupakan wujud iman akan Allah.
Dalam Konstitusi no. 29 dikatakan bahwa cintakasih Tuhanlah yang telah menyatukan tiap pribadi dalam persekutuan religius yang ditandai oleh karisma Bunda Pendiri. Allah sendiri yang telah mengundang dan mengumpulkan tiap pribadi dalam satu komunitas, maka iman akan Allah yang penuh kasih menjadi dasar dalam hidup berkomunitas.167
Hidup bersama dalam komunitas tidaklah seperti sebuah kos-kosan dimana orang hidup dalam satu atap, datang dan pergi, berjumpa dan berkumpul setiap saat, tanpa adanya ikatan hati satu dengan yang lain, bahkan bisa jadi tidak mengenal tetangga di samping kamarnya. Komunitas juga bukanlah seperti titipan sepeda, dimana sepeda saling bersentuhan dan bila salah satu jatuh, maka semuanya akan jatuh168. Komunitas bukan pula sebuah asrama ataupun tempat pengungsian. Hidup bersama yang ditandai oleh cinta Allah menjadi panggilan tersendiri bagi kaum religius di tengah perkembangan teknologi. Dalam konstitusi Kongregasi no 7 dikatakan “Dengan trikaul yang kita wujudkan dalam hidup berkomunitas, pelayanan kerasulan dan hidup doa, kita memberi kesaksian tentang kedatangan Kerajaan Allah di dunia ini.”
167 Eberhard Arnold, Why We live in Community, (Farmington, PA: Plough Publishing House, 1995), 1-2.
168 Tom Jacobs, Hidup Membiara Elisabeth Gruyters, 31.
Perfectae Caritatis no. 12 juga menyadarkan bahwa kaul keperawanan akan
dapat dihayati dengan sungguh dalam komunitas yang tumbuh oleh cinta persaudaraan diantara para anggotanya.169 Demikian jelaslah bahwa komunitas diharapkan menjadi tempat bertumbuhnya cinta Allah dalam diri tiap anggota.
Lewat perhatian yang tanpa pamrih yang diberikan kepada tiap pribadi, komunitas menjadi tempat bertumbuhnya rasa saling memiliki, semangat solidaritas, serta rasa aman di dalamnya.170 Rasa saling memiliki akan menumbuhkan keterlibatan satu dengan yang lain. Hal ini akan menjadi tempat subur bagi berkembangnya kehidupan tiap anggota bila dilandasi cinta tulus yang bersumber dari Allah sendiri.
Sebagai tempat berkembangnya kehidupan, maka komunitas dapat diartikan sebagai proses kehidupan, proses berkembang, dimana dalam kebersamaan berjuang menuju cita-cita dan tujuan bersama. “Alangkah bahagia suasana biara, bila terdapat kesatuan diantara para anggota; maksudku ialah jika mereka saling membantu dan berunding, agar karyanya berhasil demi Allah, agar Peraturan Suci dan statute dilaksakan baik-baik.” (Elisabeth G. 79) Demikian ungkapan Elisabeth Gruyters tersebut menegaskan bagaimana proses hidup dan berkembangnya tiap pribadi dalam komunitas mengundang keterlibatan masing-masing anggota untuk berperan aktif. Allah memanggil masing-masing-masing-masing pribadi dengan segala kelemahan dan kelebihannya. Dalam hal ini komunitas menjadi tempat yang memungkinkan untuk masing-masing pribadi merasa diterima dan berkembang sesuai dengan keunikannya. Untuk itu perlulah membangun
169 Joyce Ridick, Kaul, Harta melimpah dalam Bejana Tanah Liat, 127.
170 Joyce Ridick, Kaul, Harta melimpah dalam Bejana Tanah Liat, 127.
komunitas religius yang kondusif, dimana ada keterbukaan hati dan saling mengampuni (Konstitusi no. 32). Allah sendiri yang telah memanggil dan mengumpulkan masing-masing pribadi dalam satu komunitas, oleh karena itu masing-masing pribadi juga membawa pesan tersendiri dari Allah. Jelaslah bahwa masing-masing pribadi dipanggil untuk berperan aktif dalam membangun komunitas sesuai dengan anugerah yang diberikan kepadanya.171 Sebagai seorang pemimpin, Bunda Elisabeth juga memberikan contoh bagaimana ia memberikan ruang yang cukup bagi masing-masing suster untuk meminta nasihat atau bimbingan rohani kepada Pastor van Baer. (Elisabeth G. 78). Hal ini penting mengingat kebebasan suara hati harus terjamin, demikian Elisabeth mengungkapkannya.
Hidup dan berkembangnya komunitas tentu saja bukan tergantung dari pimpinan komunitas semata, namun juga bagaimana peran aktif dari masing-masing pribadi dalam membangun komunitas. Konstitusi no. 33 pun menegaskan:
Dengan keterbukaan budi dan hati, saling percaya secara tulus dan saling memperhatikan serta menghormati kekhasan masing-masing pribadi, kita menerima sesama suster kita. Dengan saling berbagi harta jasmani dan rohani serta saling melayani kita saling meneguhkan dan menguatkan dalam menempuh jalan iman menuju Allah.
Di tengah dunia yang semakin individualistis, hidup bersama dalam komunitas menjadi tantangan, dan sekaligus pewartaan. Selain sebagai tempat berkembangnya kehidupan bagi masing-masing pribadi, komunitas juga menjadi tanda kehadiran Allah sendiri.172 Hidup berkomunitas memberi kesaksian
171 Tom Jacobs, Hidup Membiara Elisabeth Gruyters, 38-39.
172 George A. Aschenbrenner, “Keperawanan dan Kerasulan”, Louisie, ed., Hidup Membiara Apostolis, (Yogyakarta: Kanisius, 1987), 95-95.
perjuangan hidup dalam kancah spiritual bersama dengan mereka yang memperjuangkan kebebasan, kesatuan, damai, keadilan, serta hak asasi manusia173. Oleh karena itu, kehadiran Allah yang membawa kasih sejati menjadi tolok ukur sebuah komunitas. Hal ini ditegaskan pula dalam Konstitusi no 38 bahwa komunitas akan mendapat arti sepenuhnya jika sungguh-sungguh diarahkan demi kepentingan Gereja dan dunia, dengan memberikan kesaksian tentang Kristus dan cintakasih-Nya. Demikian, dengan menghadirkan kasih Allah, hidup berkomunitas sekaligus menjadi jawaban atas keprihatian dunia saat ini.174
Cita-cita dan kerinduan Elisabeth Gruyters senantiasa memberi inspirasi bagi Kongregasi pada saat ini dalam menghayati panggilan hidup berkomunitas di tengah situasi zaman yang ada. Gambaran Elisabeth Gruyters akan sebuah biara, menjadi tolok ukur bagi Kongregasi dalam menghayati panggilan ini sesuai dengan cita-cita Pendiri sejak semula. Biara sebagai tempat di mana Kerajaan Allah tercipta dan Tuhan dimuliakan dengan tulus ikhlas menjadi pegangan hidup Kongregasi dalam menapak dan mengarahkan hidup dan karya kerasulannya (Gaudium et Spes. Art. 43). Dengan menghayati kharisma Pendiri dan meneladan cinta kasih Kristus, komunitas juga menjadi basis bagi perutusan Kongregasi.
Dalam hal ini, Konstitusi no. 30 menegaskan:
Kharisma dan karya perutusan Kongregasi hendaknya nampak di dalam komunitas setempat, dan dihayati sedemikian rupa sehingga komunitas ini menjadi basis untuk perutusan injili kita bersama sedangkan kegiatan kerasulan kita akan memupuk dan mendukung hidup bersama kita. Komunitas menghadirkan Kongregasi di dalam Gereja setempat.
173 Eberhard Arnold, Why We live in Community, 4
174 Eberhard Arnold, Why We live in Community, 5-6
Jelaslah yang dimaksud dengan kalimat tersebut, komunitas menjadi sumber kekuatan dan inspirasi bagi para suster CB untuk melaksanakan tugas perutusannya. Oleh karena itu kesuburan hidup dalam komunitas menjadi hal penting yang akan berdampak pada kesuburan karya kerasulan. Komunitas menjadi representasi dari kehadiran Kongregasi, oleh karena itu kehadiran komunitas diharapkan selaras dengan maksud dan tujuan dari Kongregasi hadir di tengah masyarakat.
Sebagai komunitas rohaniwati, maka jelaslah bahwa hidup rohani dalam komunitas harus menjadi perhatian. Hidup bakti dimana penyerahan diri kepada Allah diungkapkan secara khusus dalam doa adalah dasar seluruh hidup sehari-hari.175 Mengenai hal tersebut, Konstitusi Kongregasi dengan jelas menyebutkan
“Spiritualitas Kongregasi kita menuntut agar kita mencari Allah di dunia ini. Hal itu mempersyaratkan hidup doa yang dalam yang dipupuk dengan berdoa.”
(Konstitusi no. 48) Bunda Elisabeth sendiri sebagai pendiri Kongregasi telah banyak memberikan teladan dalam hidupnya berkaitan dengan kesetiaan untuk menjalin relasi akrab dengan Allah. Sebagai komunitas religius, maka hidup doa menjadi pilar untuk tetap eksisnya komunitas. Ketika hidup doa luntur dan pudar, maka bisa dipastikan kesaksian hidup komunitas juga memudar.176 Komunitas menjadi saksi nyata kehadiran Kristus di tengah umat-Nya, yang salah satunya nampak nyata dengan terpeliharanya hidup rohani para anggotanya. Dalam doa, komunitas mengungkapkan iman akan kehadiran dan penyertaan Allah. Dengan demikian doa memberi ruh bagi kehidupan komunitas dan tidak bisa dilepaskan.
175 Tom Jacobs, Hidup Membiara Elisabeth Gruyters, 46
176 Tom Jacobs, Hidup Membiara Elisabeth Gruyters, 43-45
“Kita yakin bahwa doa memperkokoh relasi kita dengan Kristus. Dialog dengan Allah dalam doa menopang kepercayaan kita akan cintakasih Allah… agar dalam bergaul dengan sesama dan melayani merekakita dapat memberi kesaksian akan kebaikan-Nya…” Jelaslah bagaimana Konstitusi no. 50 tersebut mengingatkan para suster untuk memperkokoh relasi dengan Kristus dalam doa.
Selain itu, dari kutipan tersebut juga jelas bagaimana doa akan membawa kesatuan relasi tidak saja dengan Allah, namun juga dalam sesama.177 Lebih lanjut Konstitusi juga menyatakan bahwa dalam doa tumbuhlah harapan bahwa relasi kita dengan Allah dan sesama akan senantiasa dimurnikan. Mengenai pelaksanaan doa, para suster juga diingatkan lewat apa yang tertulis dalam Direktorium no. 44 yang mengatakan “Baik doa pribadi maupun doa bersama memerlukan keheningan, keteraturan dan disiplin diri, karena kedua bentuk doa itu saling menunjang, dalam pelaksanaannya kita harus mencari keseimbangan.”
Kedisiplinan dalam doa sangatlah penting mengingat kesibukan para suster dengan berbagai macam karya dan tugas yang diembannya.
Bagi Elisabeth sendiri, berdoa adalah suatu hal yang membahagiakan
“Alangkah bahagianya untuk berdoa dan memohon kepada Allah…” (Elisabeth G. 65). Bunda Elisabeth menghayati doa dan seluruh hidupnya sebagai pujian syukur atas rahmat Tuhan.178 Dalam banyak kesempatan, Elisabeth senantiasa memuji dan memuliakan Allah. Hal ini terungkap dalam beberapa tulisannya yang diakhiri dengan ungkapan “Dimuliakanlah Tuhan untuk selama-lamanya”
(Elisabeth G. 38, 44, 68, 79, 131, 140, 144, 145, 156). Hal ini menunjukkan pula
177Mary Paul Ewen, Silvia Vallejo, P. Paul Molinari, “Dasar dan Ciri-ciri Hidup Religius Apostolis”, Louisie, ed., Hidup Membiara Apostolis, 61.
178 Tom Jacobs, Hidup Membiara Elisabeth Gruyters, 47.
konsistensi dari cita-cita awalnya “asal Tuhan dimuliakan dan diabdi secara tulus dan sempurna”.179
Untuk menempuh perjalanan hidup yang tidak ada kepastian, Elisabeth menghayatinya dalam relasi dan kebersamaan dengan Kristus.180 Tidak mengherankan bahwa segala situasi, suka dan duka senantisa dibawanya di hadapan Kristus sendiri. “Karena aku lebih senang untuk kadang-kadang duduk mendekati Yesus manis yang kepayahan di pinggir sumur Yakub, bersama dengan wanita Samaria, aku sering memohon bersamanya: Tuhan, aku haus, berilah aku air yang menghidupkan itu…” (Elisabeth G. 140). Bunda Elisabeth menimba kekuatan dari Sang Sumber air hidup yang senantiasa menyegarkan dan memberi kekuatan baru. Demikian Konstitusi no. 54 mengingatkan para suster CB untuk menimba kekuatan dari Kristus yang hadir dalam Ekaristi. Konstitusi mengajak para suster untuk menjadikan Ekaristi sebagai pusat hidup doa dan kekuatan pelayanan. Selain itu, Direktorium no. 43 juga mengingatkan kepada para suster untuk mengambil waktu setiap hari meneliti diri sejauh mana telah menanggapi bimbingan Roh.
Doa sebagai ungkapan penyerahan diri, mengingatkan para suster pula akan kerendahan hati dan ketergantungannya kepada Allah.181 Di sisi lain, kemampuan untuk berdoa itu sendiri adalah karunia. Dalam kerendahan hatinya, Elisabeth pernah menuliskan bagaimana ia hampir kehilangan rahmat berdoa, kehidupan doanya mulai kendor, terlebih suasana di sekelilingnya yang hidup
179 Elisabeth G. 5.
180 Tom Jacobs, Hidup Membiara Elisabeth Gruyters, 47.
181 Yohn Caroll Futrell, “Usia dan Kerasulan”, Louisie, ed., Hidup Membiara Apostolis, 66.
sangat duniawi.182 Untuk itu, beliau mengingatkan pentingnya sakramen rekonsiliasi. (Elisabeth G. 98). Meneladan Bunda Pendiri, Konstitusi mengajak para suster untuk senantiasa membarui diri lewat sakramen rekonsiliasi.183 Dengan sakramen rekonsiliasi para suster diajak untuk kembali mengarahkan hidupnya sebagaimana dikehendaki oleh Allah.