BAB I : PENGARUH PEMANFAATAN INTERNET DAN MEDIA
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi informasi merambah kehidupan manusia dengan begitu cepat. Perubahan yang berdampak pada semua sisi kehidupan manusia pun tak terkendali, tidak terkecuali pada Gereja dengan para religiusnya. Sementara dunia terus berubah dengan cepatnya, banyak orang tidak siap untuk menghadapi
dan mengambil sikap terhadap arus tersebut. Teknologi informasi, dalam hal ini internet dan media sosial seakan menjadi kebutuhan hidup yang harus dipenuhi oleh setiap orang. Beberapa waktu lalu orang menggunakan internet hanya lewat komputer. Penggunaannya pun masih terbatas. Kini internet dapat digunakan tidak hanya lewat komputer, tetapi lewat berbagai perangkat. Salah satunya adalah lewat telepon genggam yang dilengkapi dengan piranti canggih.1 Internet telah membuat telepon genggam mengalami perkembangan fungsi. Oleh karena internet, sekarang ini, orang tidak asing lagi dengan beragam aplikasi yang ada di telepon genggam.
Salah satu aplikasi yang sedang digandrungi orang adalah berbagai aplikasi media sosial. Demikian pula oleh karena internet, orang zaman sekarang memiliki kesibukan lain, yaitu untuk selalu eksis lewat media sosial. Tidak mengenal orang kantoran, tukang becak atau tukang sapu, orang tua atau anak muda, mereka telah akrab dengan internet dan media sosial untuk berbagai kepentingan. Bahkan anak baru lahir yang belum mengerti apa-apa sudah dibuatkan akun sendiri oleh orang tuanya. Orang begitu konsentrasi bahkan dapat menghabiskan seluruh waktunya untuk selalu up grade. Orang tidak mau ketinggalan untuk menjadi up to date di media sosial, bahkan sebisa mungkin menjadi yang pertama.
Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat telah membawa dampak bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Internet telah menciptakan generasi online.2 TV online, radio online, surat kabar online, bisnis
1 Savita Chauhan, Environmental and Health Hazards of Mobile Devices and Wireless Communication, (Texas: University of Texas), 4.
2 Aan Bartow, “A Portrait of the Internet as Young Man”, Berin Szoka dan Adam Marcus, ed., The Next Digital Decade, Essays on the Future of the Internet, (Washington, DC: Techfreedom, 2010), 113-115.
online, bahkan juga dakwah online. Berbagai macam kegiatan dapat dilakukan
secara online. Keberadaan internet dan media sosial membawa banyak manfaat bagi hidup manusia. Internet dan media sosial memberi kemudahan bagi orang untuk terhubung dengan orang lain, dimanapun dan kapanpun. Selain itu, internet dan media sosial juga memperkaya kita dengan berbagai informasi yang murah, cepat dan terkini. Dunia hiburan juga berlomba untuk selalu menampilkan yang terkeren dan ngetrend. Dengan demikian, orang diajak untuk semakin kreatif dan inovatif.
Internet tidak hanya memberi ruang informasi, tetapi juga ruang untuk orang dapat eksis dan mengaktualisasikan diri. Singkat kata, sebagaimana iklan Telkom, “dunia ada di genggamanmu”, demikian internet memampukan orang untuk menjelajah seluruh dunia dalam hitungan detik.
Internet dan media sosial telah menjadi gaya hidup mayarakat zaman sekarang. Berbagai manfaat orang dapatkan dari internet dan media sosial, namun demikian internet dan media sosial juga membawa pergulatan yang tidak henti. Dari hari ke hari, orang bisa merasakan dunia yang semakin hiruk pikuk. Orang seakan menjadi bertambah sibuk. Namun demikian, tak bisa dipungkiri bahwa hiruk pikuknya dunia, membawa dampak yang ironis yaitu kesepian dan keterasingan.
Kecanggihan teknologi menuntut orang untuk kerja dan kerja dengan cepat yang membawa orang pada titik jenuh dan masuk dalam kesepian. Selain itu, kecanggihan teknologi yang begitu pesat dalam hitungan detik, tidak disertai dengan perkembangan kematangan hidup para penggunanya, yang menyebabkan kepincangan dan keterpecahan diri.3 Kecanggihan teknologi juga mendorong orang
3 Deborah Sawyer, “The Internet Harms Society”, James D. Torr, ed., The Information Age, (New York, USA: Greenheaven Press, 2003), 37-39.
untuk mendapatkan lebih dan lebih, sehingga orang tidak peduli dengan orang lain yang penting adalah terpenuhinya kebutuhan diri. Akhirnya orang pun menghalalkan segala macam cara. Mereka semakin terasing dari lingkungan dan sesama, bahkan dari dirinya sendiri.
Anehnya, kesepian yang dialaminya diatasi dengan cara mengasingkan diri.
Orang sibuk dengan gadgetnya, internet, berburu kenalan dan pengikut di facebook atau media sosial lainnya, tapi tidak mengenal tetangga di sampingnya. Di stasiun, di bandara, di bis, bahkan di dalam keluarga, orang bisa duduk bersama, bahkan di depan televisi, namun mata dan hatinya tertuju pada gawai yang dipegang, telinga tertutup headset yang seakan memberi rasa aman mapan. Dunia online di satu sisi membawa kemudahan bagi orang untuk terhubung satu dengan yang lain, namun di lain pihak telah mengurangi perjumpaan secara pribadi dari hati ke hati. Banyak komunitas-komunitas online terbentuk, namun tidak ada kemendalaman dan keterikatan hati.4 Orang begitu mudah keluar masuk komunitas online. Hanya dengan satu klik bisa meng-unfollow, atau sebaliknya. Semua tergantung mood atau suka-tidak suka. Kurangnya perjumpaan dengan yang lain, menciptakan keterasingan dan membuat orang semakin masuk dalam dunianya sendiri. Orang lebih asyik dengan gadgetnya daripada harus ngobrol dengan teman sebelahnya.
Browsing ini dan itu, chatting berjam-jam yang tidak perlu, seakan begitu mendesak
dan penting. Dengan internet orang bisa berbuat apa saja, berjualan, berdakwah, beramal, menjalin jejaring dan masih banyak lagi, bahkan melakukan hubungan sex
4 John B. Horrigan, Internet forsters Online Communities”, James D. Torr, ed., The Information Age, (New York, USA: Greenheaven press, 2003), 28-29.
yang dikenal dengan istilah cyber-sex. Tidak mengherankan kalau semakin banyak perselingkuhan dan perceraian terjadi di masyarakat. Kecanggihan teknologi juga membentuk orang-orang yang tidak punya daya tahan, kesetiaan dan keteguhan dalam hidup yang penuh tantangan.5 Orang tidak berani untuk berkomitmen dengan hidupnya. Maka tidak mengejutkan pula kalau semakin banyak kasus bunuh diri dan pembunuhan. Orang ditolak cintanya, tidak bisa membayar hutang, tidak punya pekerjaan, dan banyak masalah lain yang dijawab dengan satu kata yaitu kematian.
Teknologi yang canggih juga menciptakan kejahatan yang canggih pula.
Belakangan ini perhatian orang juga dibawa pada berbagai ujaran kebencian yang marak di media sosial.6 Berita-berita bohong juga dapat kita lihat dan dengar setiap hari. Bahkan anak di bawah umur yang belum mengerti apa yang mereka katakan pun sudah terlibat dalam tindak kejahatan media sosial. Semuanya ini sungguh memprihatinkan, terlebih karena arus dunia ini pun sudah memasuki tembok biara.
Dalam pergulatan semacam itu, Gereja hidup dan berkarya. Pertanyaannya adalah masihkah kehidupan menggereja mempunyai daya tarik bagi kaum beriman? Orang pergi ke gereja tak jarang hanya formalitas saja. Sering mereka mencari yang tercepat, yang praktis dan efisien. Sementara mereka tidak merasa sayang membuang waktu berjam-jam di depan internet dan media sosial.7 Demikian kaum berjubah juga semakin akrab dengan internet dan media sosial. Bahkan kaum berjubah tak kalah eksis dengan senantiasa up grade ataupun up date di media
5 Sherry Turkle, Alone Together, New York: Park Avenue South, 2011, 53-55.
6 Fransiskus, “Jangan takut hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah” (Luk 1:30), Pesan Paus untuk hari orang muda sedunia ke-33, 2018.
7 Sherry Turkle, The Second Self, Computers and The Human Spirit, (Cambridge Massachusetts, London, England: The IMT Press, 2005), 34-36.
sosial. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Georgetown, Washington D.C, USA, dapat memberi gambaran kepada kita bagaimana internet, atau secara khusus media sosial digital telah masuk dalam kehidupan membiara.
Dari penelitian yang dilakukan sekitar bulan Januari sampai bulan Juni 2016, The Center for Applied Research in the Apostolate (CARA) memberi gambaran penting
tentang penggunaan internet dan media sosial oleh para suster religius dan suster awam.8
Kongregasi CB sebagai Kongregasi apostolik juga ikut terlibat dalam pergumulan masyarakat menanggapi perkembangan internet dan media sosial. Hal tersebut, juga kami lihat dan rasakan bagaimana media sosial berpengaruh terhadap kehidupan para suster CB. Tidak mengenal usia maupun pekerjaan, semua suster seakan membutuhkan HP yang canggih supaya bisa selalu terhubung lewat internet dimanapun dan kapanpun dan untuk selalu bisa eksis di media sosial. Para suster juga melupakan kaul yang diikhrarkannya demi mendapatkan HP yang canggih.
Karena dari Kongregasi tidak mendapatkan fasilitas seperti yang diinginkan, misalnya laptop atau HP yang memiliki berbagai aplikasi, banyak dari para suster yang kemudian meminta keluarga atau relasinya, bahkan untuk membeli pulsa setiap bulannya. Belum lagi berbicara mengenai penggunaan internet dan media
8 Secara umum dikatakan bahwa hanya 6% dari seluruh respondent (6.833 orang) yang tidak menggunakan internet. 98 % responden, secara rutin menggunakan komputer atau laptop. Bagi para suster yang lahir sesudah tahun 1995, mereka merasa bahwa internet sangat membantu dalam ber-discernment untuk panggilannya. 85% responden membaca berita, artikel dan cerita-cerita online. 32% membaca atau mengikuti blog. 11% memiliki blog sendiri atau menjadi bagian dalam kelompok blog. 32% berpartisipasi aktif dalam ruang obrolan. 22% mereka aktif mengunjungi forum diskusi dari jaringan institusi mereka dataupun jaringan lain di internet. 56% secara rutin menyaksikan dan mendengar peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi dalam masyarakat lewat internet.
sosial. Duduk di kapel dan doa bersama seakan menjadi rutnitas belaka. Begitu doa selesai, tanganpun langsung meraih HP yang sedari tadi berbunyi di depannya.
Bagaimana kita sanggup membangunkan dunia, kalau diri sendiri juga tertidur. Seruan Paus Fransiskus di Tahun Hidup Bakti secara khusus mengajak kaum religius untuk bangkit dan mewartakan kabar sukacita.9 Panggilan religius yang semakin berkurang, salah satunya adalah dikarenakan ketidaksanggupan orang untuk berkomitmen seumur hidup sebagai akibat dari budaya yang cepat berubah, enak, instan, mudah dan murah. Namun terlebih lagi, kesaksian hidup para religius yang semakin memudar. Anggota yang semakin berkurang, seakan menjadi alasan bagi para religius untuk tenggelam dalam karya institusional dan karitatifnya. Seringkali orang lupa bahwa identitas diri sebagai religius akan terpancar dan menjadi daya tarik hanya jika ada relasi pribadi yang mendalam dengan Yesus yang memanggil dan mengutusnya. Yesus sebagai satu-satunya pegangan hidup pun seakan telah tergantikan oleh relasi, Hp, internet dan “harta kekayaan” lainnya. Pengalaman kasih akan Allah menjadi hambar dan tidak lagi menjadi senjata bagi kaum religius dalam menghayati kaulnya, hidup bersama dan kerasulannya. Maka bisa dipastikan begitu mudah kata-kata: galau, stress, dan kesepian muncul ketika menghadapi tantangan. Perjumpaan satu dengan yang lain, juga tidak lagi memberi daya dan memperkaya hidup.10
Prasetia untuk hidup menurut nasihat Injil menjadi bentuk penyerahan diri kaum religius yang ditempatkan dalam lingkup penyelamatan, penebusan dan
9 Fransiskus, Bersukacitalah, surat apostolis untuk kaum religius di Tahun Hidup Bakti, 2014, 1.
10 Sherry Turkle, Alone Together, 54-55.
pengutusan.11 Dengan demikian, penyerahan diri kaum religius ada dalam konteks pengutusan atau kerasulan. Bagi Elisabeth Gruyters, kaul juga merupakan penyerahan diri secara penuh kepada Allah melalui Yesus Kristus. Menyerahkan diri secara penuh menjadi tujuan hidup religius CB, yaitu bahwa seluruh gerak dan hidup tertuju kepada Allah.12 Kasih Allah yang unik dan personal telah mengobarkan kaum religius untuk dalam kebebasan hati berserah kepada Allah.13 Penyerahan diri yang total menjadi dasar penghyatan ketiga kaulnya yang mewujud dalam hidup sehari-hari. Ketiga kaul ini tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.
Kaul keperawanan sebagai kaul cinta kasih, bersumber dari perjumpaan pribadi dengan Allah. Menanggapi keprihatinan yang ada, tulisan ini bermaksud menggali bagaimana kemurnian hidup yang dipersembahkan kepada Allah semestinya menjadi dasar dalam kesetiaan pada komitmen menjawab panggilan-Nya. Bagaimana hidup murni memampukan orang untuk melihat kehadiran Allah dalam diri sesama. Cinta Allah yang dialaminya mendorong kaum religius untuk mencintai Allah dan sesama secara utuh dan total pula. Dengan pengertian ini, maka selibat dapat dipahami sebagai tanggapan manusia yang berkomitmen untuk mencintai Allah diatas segalanya. (VC art. 21). Kaul kemiskinan mengajak orang untuk semakin berani mengosongkan diri dan mengandalkan diri kepada Allah.14 Menjadikan orang semakin lepas bebas dan berserah kepada kehendak Tuhan.
11 Mary Paul Ewen, Silvia Vallejo, P. Paul Molinari, “Dasar dan Ciri-ciri Hidup Religius Apostolis”, 59.
12 Tom Jacobs, Hidup Membiara Elisabeth Gruyters, 45-47.
13 Tom Jacobs, Hidup Membiara Elisabeth Gruyters, 23.
14 Joice Ridick, Kaul Harta Melimpah dalam Bejana Tanah Liat, (Yogayakarta: Kanisius, 1987), 53-54
Penyerahan diri kepada kehendak Allah, sekaligus mendorong orang untuk semakin taat dan membiarkan diri dipakai oleh Allah.
Dalam kemurnian, kemiskinan dan ketaatan dirinya kepada Allah, para suster CB dipanggil untuk mewartakan kabar sukacita di tengah perkembangan internet dan media sosial. Hidup berkaul juga menjadi dasar hidup berkomunitas dan kerasulan yang semakin subur, karena dilandaskan pada kasih. Selain itu, dengan ketiga kaulnya, para suster didorong untuk mampu memberi sumbangan nyata, inspirasi dan kesaksian akan nilai-nilai yang luhur bagi dunia. Di tengah kemajuan teknologi, Suster CB diundang untuk hadir dan menawarkan nilai-nilai hidup yang mulai luntur dan ditinggalkan orang.15
Melihat fenomena yang ada, berbagai pertanyaan pun muncul, bagaimana para suster dapat mengakses internet dan media sosial? Bagaimana internet dan media sosial digunakan di kalangan para suster CB? Bagaimana intensitas penggunaan internet dan media sosial tersebut? Apakah intensitas penggunaan internet dan media sosial berpengaruh terhadap hidup doa, hidup bersama dan hidup karya para suster CB? Apakah penggunaan internet dan media sosial berdampak bagi penghayatan kaul para suster CB? Apakah media sosial juga menjadi sarana pewartaan bagi para suster CB? Untuk itu, peneliti merasa sangat penting untuk mengambil tema “Pengaruh Pemanfaatan Internet dan Media sosial bagi Kualitas Hidup Membiara dan Pewartaan Para Suster CB Usia 25-75 tahun di Yogyakarta”.
Usia 25 -75 adalah usia yang masih aktif dan produktif bagi para suster CB.
Peneliti mengambil lokasi penelitian di Yogyakarta, selain untuk mempermudah
15 Kapitel Provinsi 2017, 7-9
dan menghemat biaya, namun komunitas CB di Yogyakarta juga dapat merepresentasikan seluruh komunitas CB di Provinsi Indonesia.
Penghayatan kaul tidak cukup bahwa para suster hidup baik, tertib dan teratur dalam komunitas, dalam hidup doa maupun kerasulannya, namun bagaimana lebih dari itu kaul yang dihayati dalam kegembiraan juga akan menjadi sumber pewartaan yang membawa sukacita pada sesama. Demikian penulisan akan didasarkan terutama pada Spritualitas Elisabeth Gruyters. Kemurnian hidupnya yang dipersembahkan kepada Tuhan senantiasa diperbarui dan diwujudnyatakan dalam hidup sehari-hari. Relasi personal Elisabeth Gruyters yang mendalam dengan Yang Tersalib mencapai puncaknya dalam kerelaan hati untuk ikut menderita dan ambil bagian dalam penderitaan Kristus. Inilah jawaban “Ya” Elisabeth Gruyters yang merupakan balasan cintanya menanggapi cinta Allah. Persatuan cinta inilah yang mendasari seluruh hidup dan perjuangannya dalam memulai kongregasi yang selanjutnya menjadi sumber spiritualitas Kongregasi. Lewat pengalaman mistiknya, orang mengenali keutamaan-keutamaan hidupnya yang memberi inspirasi, dan mendayai dalam mewujudkan hidup murni di tengah arus zaman ini.
Demikianlah latar belakang dari penelitian dengan tema “Pengaruh Pemanfaatan Internet dan Media Sosial bagi Kualitas Hidup Membiara dan Pewartaan Para Suster CB usia 25-75 tahun di Yogyakarta.”