• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I : PENGARUH PEMANFAATAN INTERNET DAN MEDIA

2.5 Media Sosial dan Evangelisasi Baru

Hidup di era generasi Z, orang tidak asing lagi dengan berbagai piranti seperti web, internet, smart phone, laptop, dll.197 Dengan berbagai piranti tersebut, orang juga diperkenalkan dengan yang namanya media sosial. Dari hari ke hari alat-alat komunikasi sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia.198 Perkembangan media sosial sendiri sangat cepat masuk dalam kehidupan manusia, yang juga dirasakan memasuki kehidupan para suster CB. Sejalan

196 Kapitel Provinsi 2011, 21-22.

197 A. P. Singh dan Jianguanglung Dangmei, Understanding the Generation Z: The Future Workforce, (South-Asian Journal of Multidisciplinary Studies (SAJIMS), Vol 3, 2016), 4.

198 Joseph V. Macalanggan Experiencing God in Cyberspace: The Role of Cybertechnology in Doing Theology, (Metro Manila: Scientia Bedista, Vol. 4, Maret 2017), 111.

dengan ajakan dari Konstitusi no. 46 tentang perutusan yang menggema dalam tanda-tanda zaman menjadi perhatian Kongregasi dalam mewartakan Kerajaan Allah di tengah perkembangan teknologi ini. Kongregasi diajak untuk terus mencari kehendak Allah, juga di zaman teknologi internet dan media sosial ini.

Dalam kesatuan dengan komunitas sebagai basis dan pendukung perutusan kita bersama, hendaknya kita mencari dan menyadari kehendak Allah dan menanggapi panggilan-Nya yang menggema dalam tanda-tanda zaman agar kita mampu memahami perutusan tersebut secara murni. (Konstitusi 46)

Dengan kutipan dari Konstutisi tersebut di atas, di era generasi Z ini Kongregasi diajak melihat tanda-tanda zaman diantara merebaknya internet dan media sosial.

Perhatian tidak saja fokus pada afektifitas, namun juga efektifitas serta kemungkinan peluangnya bagi evangelisasi di masa mendatang. Menyadari akan perkembangan internet dan media sosial di tengah masyarakat, Kongregasi juga merasa terpanggil untuk mengembangkan perutusan dan pewartaannya dengan memanfaatkan peluang yang ada dari perkembangan tersebut.

Pada masa kini, internet seakan telah menjadi cara utama bagi orang untuk berkomunikasi.199 Siapapun orangnya, tidak mengenal status, kesenangan, latar belakang budaya, dll dapat berinteraksi dengan mudah dan masuk dalam kelompok-kelompok media sosial.200 Melihat korelasi antara perkembangan internet dan media sosial serta panggilan para suster CB untuk berevangelisasi di tengah dunia, maka pada bagian ini akan dibahas mengenai media sosial dan evangelisasi.

199 Carter Henderson, “The Information Age Has Improved Everyday Life”, James D. Torr, ed., The information age, (Greenhaven press, 2003), 20-25.

200 Shree Bhagwat dan Ankur Goutam, Development of Social Networking Sites and Their Role in Business with Special Reference to Facebook, (IOSR Journal of Business and Management (IOSR-JBM), vol. 6, 2013), 15-28.

Perkembangan media sosial berkaitan dengan budaya digital yang semakin meluas pula. Menurut Charlie Gere budaya digital adalah menyangkut cara hidup tertentu (particular way of life) dari sekelompok atau beberapa kelompok orang pada periode tertentu.201 Digitalisasi menjadi penanda budaya tersebut karena digitalisasi itu merasuk ke dalam berbagai alat, sistem penanda, dan komunikasi kita.202 Sementara itu, pengertian tentang media sosial sendiri ada banyak. M.

Terry membedakan media sosial dari media cetak dan media tradisional. Pada dasarnya, para ahli mendefinisikan media sosial sebagai media digital berbasis internet. Andreas Kaplan and Michael Haenlein secara sederhana mendefinisikan media sosial sebagai media interaksi berbasis aplikasi internet.203

Sementara itu, Caleb T. Carr dan Rebecca A. Hayes (2015) mendefinisikan media sosial sebagai media berbasis internet yang memungkinkan pengguna berkesempatan untuk berinteraksi dan mempresentasikan diri, baik secara seketika ataupun tertunda, dengan khalayak luas maupun tidak yang mendorong adanya persepsi interaksi dengan orang lain. Media sosial menurut kamus the Oxford English Dictionary diartikan sebagai website dan aplikasi yang memungkinkan para pengguna menciptakan dan membagikan isi atau berpartisipasi dalam jejaring sosial.204 Dari definisi tersebut, media sosial sering diartikan secara sederhana sebagai media interaksi sosial dengan basis internet, misalnya facebook, twitter, whatapps, Instagram.205

201 Charlie Gere, Digital Culture, (second edition, London: Reaktion Books, 2008), 15-18.

202 Charlie Gere, Digital Culture, 15-18.

203 Muhammadali. N, Introduction to Mass Communication, (Calicut University, India, 2011), 58

204 Steve Lowisz, the Influence of Sosial Media on Today’s Culture, educating professionals, (paper PDF, 2017), 3.

205 Muhammadali. N, Introduction to Mass Communication, 58.

Demikian Media sosial adalah sebuah media online, dimana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.206 Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpartisipasi dengan memberi kontribusi dan feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.207

Perkembangan media sosial dapat dirasakan perubahannya setiap hari.

Perkembangan internet yang sekarang tidak saja dapat dinikmati lewat komputer, tetapi juga lewat telepon genggam, semakin memudahkan orang untuk terus terhubung dan membangun jejaring sosial kapanpun dan dimanapun. Saat teknologi internet dan telepon genggam makin maju maka media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat. Demikian cepatnya orang bisa mengakses media sosial mengakibatkan terjadinya fenomena besar terhadap arus informasi tidak hanya di negara-negara maju, tetapi juga di Indonesia. Karena kecepatannya media sosial juga mulai tampak menggantikan peranan media massa konvensional dalam menyebarkan berita-berita. Pesatnya perkembangan media sosial kini dikarenakan semua orang seperti bisa memiliki media sendiri. Jika untuk memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan media sosial. Seorang pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan telepon genggam dengan

206 Muhammadali. N, Introduction to Mass Communication, 58.

207 Shree Bhagwat dan Ankur Goutam, Development of Social Networking Sites and Their Role in Business with Special Reference to Facebook, 15-28.

jaringan internet. Akses internet sendiri saat ini semakin hari semakin mudah didapat dan juga murah. Setiap hari kita dapat melihat bagaimana perkembangan media sosial yang begitu cepat. Dengan kecanggihan yang semakin hari juga semakin berkembang, media sosial telah membawa perubahan dalam kehidupan manusia setiap harinya.208

Melihat perkembangan teknologi tersebut, Gereja pun menyambut secara positif perkembangan tersebut. Dari waktu ke waktu, para pemimpin Gereja mengajak umat beriman untuk secara bijak menyikapi perkembangan berbagai alat komunikasi yang terus berubah. Sejak awal ditetapkannya hari Komunikasi Sedunia, Paus Paulus VI dalam surat gembalanya di tahun 1967 telah mengingatkan kepada seluruh umat beriman untuk secara lebih sadar dan bertanggung jawab serta mempertimbangkan martabat luhur manusia.209 Mengenai komunikasi sosial sendiri, Konsili Vatikan II dalam dekritnya Inter Mirifica210, sudah banyak mengulas bagaimana sebaiknya kaum beriman untuk menyikapi secara positif perkembangan teknologi komunikasi, namun tetap harus berdiskresi. Dalam surat apostoliknya pada hari Komunikasi Sosial Sedunia, Paus mengingatkan “tergantung bagaimana mereka dalam menggunakan media, orang dapat berkembang dalam simpati dan belarasa, atau menjadi terisolir dalam cinta diri, menjadikan dirinya pusat referensi dunia…”211 Lewat surat tersebut Paus mengingatkan kepada seluruh umat beriman dalam memanfaatkan media sosial. Penggunaan media sosial akan berbuah baik dan lebat atau sebaliknya

208 Carter Henderson, “The Information Age Has Improved Everyday Life”, 20-25.

209 Paulus VI, Gereja dan Komunikasi Sosial, Pesan di hari Komunikasi sedunia ke-1, 1967.

210 Inter Mirifica art. 9

211 Yohanes Paulus II, Etika dalam Komunikasi, Pesan Paus di hari Komunikasi Sedunia, 2 Juni 2000, 2.

menjadi senjata yang mengancam kehidupan umat beriman, tergantung bagaimana orang menggunakan media tersebut.

Mengikuti perkembangan teknologi yang ada, Gereja pun terus membimbing umat beriman, terlebih di masa sekarang di mana teknologi komunikasi semakin tak terbendung. Paus Frasiskus dalam peringatan hari Komunikasi Sedunia ke-48 mengingatkan umat kristiani bahwa di tengah perkembangan masyarakat dengan teknologi modern, masih banyak terlihat orang-orang yang terpinggirkan, dikucilkan, miskin dan sengsara.212 Dalam penderitaan dan keterasingan itu, media sosial dapat menjadi sarana yang mendekatkan satu dengan yang lain, membangun kesatuan, serta membentuk solidaritas global.213 Demikian era globalisasi dengan perkembangan teknologi secara khusus di bidang media dan alat komunikasi yang begitu pesat mengajak kita untuk bergerak cepat pula. Jangan sampai Gereja sendiri menjadi yang terpinggirkan. Di era teknologi ini, Gereja dipanggil untuk menjadi jembatan bagi mereka yang tersingkir, terasing, miskin dan menderita. Gereja diajak berpikir akan suatu perubahan, sehingga tidak menjadi orang pinggiran, orang asing di tengah masyarakat. Sehingga dengan perubahan yang begitu cepat, Gereja tetap mampu untuk menjadi tempat dilahirkannya sebuah makna hidup.214 Orang disadarkan bahwa inilah “the new agora” sebagaimana yang pernah diserukan oleh Paus Benediktus XVI di hari Komunikasi Sedunia ke 45. Inilah saatnya Gereja membuka pintu untuk menghadirkan Kristus dengan cara yang baru.

212 Fransiskus, Komunikasi: Budaya Perjumpaan yang Sejati, pesan di hari Komunikasi Sedunia ke-48, Juli 2014.

213 Fransiskus, Komunikas: Budaya Perjumpaan yang Sejati.

214 Phan Peter, New Evangelization in the Digital World: a Dominican Approach, (Lisboa:

Universidade Catolica Portuguesa, 2013), 22.

Media sosial dengan berbagai fungsinya mempermudah orang terhubung dan berkomunikasi satu sama lain. Tanpa meninggalkan nilai-nilai kristianitas yang telah diwariskan, Gereja dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana pewartaan.215

Dalam Evangelii Gaudium, Paus Fransiskus juga mengingatkan kepada umat beriman bahaya besar dalam dunia sekarang yang diliputi konsumerisme adalah kesedihan dan kecemasan yang lahir dari hati yang puas diri, namun tamak dan hati nurani yang tumpul.

Bahaya besar dalam dunia sekarang ini, yang diliputi oleh konsumerisme, adalah kesedihan dan kecemasan yang lahir dari hati yang puas diri namun tamak, pengejaran akan kesenangan sembrono dan hati nurani yang tumpul. Ketika kehidupan batin kita terbelenggu dalam kepentingan dan kepeduliannya sendiri, tak ada lagi ruang bagi sesama, taka da tempat bagi si miskin papa. martabat, ini bukanlah kehendak Allah bagi kita, juga bukan hidup dalam Roh yang bersumber pada hati Kristus yang bangkit.216

Dari ungkapan tersebut, orang dapat merasakan bagaimana dunia saat ini membutuhkan sukacita kasih-Nya. Paus mengingatkan bahwa ketika kebutuhan diri lebih dipentingkan, maka tidak ada lagi ruang bagi sesama. Kemajuan teknologi yang begitu cepat semakin membawa orang pada gaya hidup konsumerisme. Teknologi mempermudah orang untuk berbelanja.217 Menanggapi keprihatinan tersebut, Paus mengajak seluruh umat Kristiani untuk membarui diri,

215 Fransiskus, Komunikasi: Budaya Perjumpaan yang Sejati.

216 Fransiskus, Evangelii Gaudium, 2.

217 Ghulam Rasool Madni, Consumer’s Behaviour and Effectiveness of Social Media, (Global Journal of management and Business Research E Marketing, USA, vol. 14, 2014), 56-62.

khususnya dalam perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus, atau setidaknya membiarkan Dia menjumpai kita.218 Dari kalimat tersebut jelaslah keprihatinan Bapa Paus dalam menanggapi dunia saat ini dan ajakan bagi Gereja untuk berani mengambil sikap tegas lewat pembaruan diri. Dalam pesannya, tak hentinya Bapa Paus mengungkapkan pentingnya perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus.

Perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus menjadi dasar untuk orang dapat mewartakan kepada dunia sukacita dan kasih sejati dari Allah.

Perkembangan teknologi yang begitu cepat, kiranya dapat menjadi sarana efektif yang membantu pewartaan Gereja. Dengan teknologi modern, pewartaan akan dapat menjangkau ke seluruh penjuru dunia, ke segala lapisan masyarakat dengan mudah dan cepat. Pewartaan pun akan menjadi semakin efektif dan efisien. Selain itu, dengan teknologi yang maju, pewartaan juga akan semakin dapat dikemas dengan menarik dan interaktif. Hal ini tentunya akan sangat mendukung bagi perkembangan evangelisasi itu sendiri. Gereja, dalam kehadiran dan perutusannya di tengah masyarakat, diharapkan mampu untuk tidak menjadi terasing dari teknologi, namun sekaligus tetap membawa nilai kehidupan. 219 Gereja mengajak untuk mendukung perkembangan yang ada di tengah masyarakat dan menjadikannya sarana pembelajaran. Lebih lanjut ia mangajak bagaimana Gereja berupaya menyatukan perkembangan teknologi dengan teologi, serta membantu umat menemukan Allah dalam penggunaan teknologi Cyber. Untuk itu pembaruan dalam perutusan sebagaimana diserukan Paus Fransiskus perlu untuk terus menerus diupayakan.

218 EG, art. 3.

219 Joseph V. Macalanggan, Experiencing God in Cyberspace: The Role of Cybertechnology in Doing Theology, 2.

Dalam tulisannya yang berjudul New Evangelization in the Digital World:

a Dominican Approach, Peter Phan mengajak untuk menyadari media sosial

sebagai media komunikasi adalah sarana yang baik untuk Gereja saling berbagi di dalam kesatuan, sebagaimana telah diteladankan Kristus sendiri yang adalah

“Komunikator Sempurna’ dari Allah.220 Seluruh kehadiran, diri dan hidup-Nya menjadi perwujudan komunikasi Allah kepada manusia. Kita bersyukur bahwa kita mempunyai teladan yang nyata akan sebuah komunikasi yang didalamnya terdapat pemberian diri seutuhnya.221 Pemanfaatan media sosial secara tepat dan bijak dalam evangelisasi akan sangat membantu tersampaikannya pewartaan kepada umat secara efektif dan tepat pula. Lewat komunikasi yang saling meneguhkan, berbagai pengalaman iman, dsb, umat pun akan semakin terbantu mengalami Allah yang hadir, Allah yang menyapa dan mengubah hidup mereka.222

Kepada seluruh umat beriman, Paus juga mengingatkan “Evangelisasi berlangsung dalam ketaatan kepada amanat perutusan Yesus “karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus…” Dengan tetap berpegang pada amanat perutusan Yesus, Paus mengajak umat Kristiani untuk menjadi pioneer perubahan.223 Gereja dalam segala aktifitasnya diharapkan mampu untuk mengambil langkah pertama dalam

220 While ‘communication’ contains in itself an intention to share so that all those who share information and life could see things in common with one another and together live in unity;

Christian communication, all the more, having Christ as a model of the ‘perfect Communication’ is expected to bring about more life from the source of life, which is God, and to foster more unity among humanity, following the pattern of the divine community.”, Phan Peter, New Evangelization in the Digital World: a Dominican Approach, 4.

221 Phan Peter, New Evangelization in the Digital World: a Dominican Approach, 28.

222 Phan Peter, New Evangelization in the Digital World: a Dominican Approach, 26.

223 EG, art. 19.

pewartaan yang berbuah sukacita. Lebih lanjut, Paus juga mengatakan adanya opsi perutusan, yaitu dorongan perutusan yang mampu mengubah segala kebiasaan, waktu dan agenda untuk evangelisasi dunia, daripada untuk pertahanan diri.224 Sebagaimana dikatakan dalam dokumen Konsili Vatikan II tentang kerasulan awam dikatakan, “Semua orang beriman Kristiani mengemban beban mulia, yakni berjerih payah supaya warta keselamatan Ilahi dikenal dan diterima oleh semua orang di mana-mana.” (Apostolicam Actuositatem. Art. 3). Konsili mengingatkan bahwa panggilan untuk mewartakan adalah panggilan untuk semua umat bariman, bukan hanya pastor ataupun kaum berjubah.

Demikianlah Paus menegaskan panggilan Gereja di tengah zaman internet dan media sosial ini adalah bagaimana Gereja diharapkan seperti seorang ibu yang dengan hati terbuka membuka pintu dan bergerak keluar untuk menjumpai sesama, terlebih yang berada di pinggiran.225 Dengan kelembutan dan kemurahan hati seorang ibu, Gereja menjadi pelopor dalam menyambut mereka yang ingin pulang ke ‘rumah Bapa’. Begitu pula di tengah krisis komitmen bersama, Gereja diajak untuk menyerukan sebuah komunitas kasih, komunitas sukacita yang bersumber dari perjumpaan pribadinya dengan Yesus Kristus. Evangelisasi tidak saja berarti ‘bergerak keluar’226, menjumpai orang-orang di pinggiran agar mereka mengenal kasih Allah, namun juga ajakan untuk menjadi ‘rumah Bapa’227 yang senantiasa membuka pintu lebar-lebar untuk siapapun yang datang mencari Allah.

224 EG, art. 27.

225 EG, art. 46.

226 EG, art. 24.

227 EG, art. 47.

Resume

Perjalanan spiritualitas Elisabeth sudah dimulai sejak awal masa hidupnya.

Perjalanan yang membawanya sampai pada cinta sejati yaitu Allah sendiri membuatnya rindu untuk diam, tinggal dalam kasih-Nya. Namun demikian Cinta Sejati yang tinggal dalam hatinya dan membuatnya ‘mabuk karena anggur ilahi’228 telah menggerakkan seluruh hidupnya untuk mengosongkan diri dan membiarkan cinta Allah menuntun keluar. Itulah sebabnya kerinduan yang terdalam dari Elisabeth Gruyters akhirnya bukan saja diam, tinggal dan merasa-rasakan cinta Allah bagi dirinya, namun bertindak bagi Sang Cinta. Ambil bagian dalam duka Ilahi menjadi kerinduannya untuk bersatu dengan Yesus Tersalib Sang mempelai tercinta. Yesus yang dijumpainya bukan hanya Yesus yang duduk kelelahan di pinggir sumur Yakub,229 atau Yesus yang adalah Gembala yang baik230 atau Yesus yang meredakan angin ribut di danau,231 lebih dari itu adalah Yesus yang tersalib. Dalam Pribadi Yesus Tersalib, Bunda Elisabeth menemukan sebuah makna dari perjalanannya mengikuti dan menjalin relasi dengan-Nya.

Dalam salib Kristus, Bunda Elisabeth dibawa pada pengalaman pertemuan cinta dan bela rasa kasih Yesus yang diwujudkan dalam berbagai tindakan-Nya semasa hidup-Nya. Salib-Nya telah membuka cakrawala baru akan adanya kemungkinan kehidupan baru bagi mereka yang berkesesakan hidup. Demikian cinta Ilahi yang dinyatakan Allah dalam misteri kasih-Nya telah mengubah dan menggerakkan Elisabeth dalam memulai kongregasi ini. Cinta itulah yang menjadi pola dan arah

228 Elisabeth G. 99.

229 Elisabeth G. 140.

230 Elisabeth G. 65.

231 Elisabeth G. 101.

yang membentuk spiritualitas Kongregasi, yang diterjemahkan dalam ketiga kaul, dalam hidup doa, hidup berkomunitas dan hidup karya para Suster CB.

Mengikuti perkembangan zaman yang terus berubah, Kongregasi sebagai bagian dari kehidupan Gereja senantiasa diajak untuk melaksanakan tugas pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan kembali ke spiritualitas pendiri, Kongregasi di masa sekarang ini diajak untuk menanggapi kebutuhan masyarakat generasi Z dengan berbagai peluang dan tantangan yang ada. Dengan Kaul, hidup doa dan hidup berkomunitas serta kerasulan yang dihayati dalam semangat pendiri, Kongregasi diajak untuk mengembalikan martabat dan nilai hidup manusia yang mulai luntur oleh ketidaksiapan menanggapi perkembangan teknologi. Daniel Miller mengatakan bahwa dalam sebuah komunitas yang ikatan kekeluargaannya masih kuat, komunitas virtual Facebook sebenarnya menjadi semacam alternatif dari relasi-relasi sosial dalam dunia aktual.232 Demikian relasi terjalin dengan semakin mudah, namun tidak ada kemendalaman, karena relasi yang dibangun tidak menyertakan keterlibatan hati dan budi. Kehadiran komunitas religius yang membawa kasih Allah di tengah masyarakat yang semakin individualis menjadi pewartaan tersendiri dan sekaligus menjawab perkembangan zaman yang semakin marak dengan komunitas virtual ini.

Media sosial memang telah menjadi alat utama untuk berkomunikasi dan berbagi hidup. Ponsel pintar yang menawarkan berbagai situs, mulai dari hiburan, ruang sosial, sumber informasi dan tempat berdiskusi ilmiah. Bahkan internet juga

232 Budi Hartanto, Posfenomenologi Ruangcyber: Menelaah Realitas Visual Internet dan Konsep

“Ruangcyber” dalam Ilmu Antropologi, (Jurnal Ultima Humaniora, vol 1 nomer 2, September 2013), 28-39.

menjadi tempat berlindung bagi agama, dengan banyaknya situs-situs yang berisi dakwah atau evangelisasi, meskipun di sisi lain juga berisi sampah.233 Teknologi juga menciptakan jurang pemisah yang semakin dalam antara generasi muda dan tua, kaya dan miskin, dsb.234 Bahkan pencarian jati diri dan unjuk eksistensi diri pun dilakukan melalui proses instan, yaitu melalui jejaring sosial digital, yang bisa diakses oleh jutaan orang dalam waktu sekejap, serentak, dan setiap saat.235

Gereja yang menyambut secara positif perkembangan internet dan media sosial sekaligus mengajak umat beriman untuk secara bijak menyikapi perkembangan berbagai alat komunikasi yang terus berubah tersebut. Paus mengingatkan kepada Gereja bahwa di tengah perkembangan masyarakat dengan teknologi modern, masih banyak terlihat orang-orang yang terpinggirkan, dikucilkan, miskin dan sengsara.236 Dalam penderitaan dan keterasingan itu, media sosial dapat menjadi sarana yang mendekatkan satu dengan yang lain, membangun kesatuan, serta membentuk solidaritas global.237 Demikian era globalisasi dengan perkembangan teknologi secara khusus di bidang media dan alat komunikasi yang begitu pesat mengajak Gereja untuk bergerak cepat pula.

Jangan sampai Gereja sendiri menjadi yang terpinggirkan. Berbagai peluang yang kiranya dapat dimanfaatkan oleh Gereja dari internet dan media sosial antara lain

233 Anthony G Roman, Building Digital Bridges Considerations for ministry in the emerging communication landscape, Presented at the “Culture and Technology” workshop 4th Asian Youth Ministers’ Meeting (AYMM) organized by the Youth Desk of the FABC-Office of Laity and Family Salesian Retreat House, Cheung Chau, (Hong Kong, August 7-8, 2006).

234 Pew Research Center, Millennials A Portrait of Generation next, PRC, (USA, 2005), 15-16.

235 Tjipto Susana, Kesetiaan pada Panggilan di Era Digital, hlm. 59-60.

236 Fransiskus, Komunikasi: Budaya Perjumpaan yang Sejati.

237 Fransiskus, Komunikasi: Budaya Perjumpaan yang Sejati.

bahwa media sosial dapat menjadi jembatan bagi dialog interreligious dan intercultural yang efektif.238

Akhirnya, dengan kualitas hidup yang bersumber dari relasi dengan Yesus sendiri, Kongregasi dipanggil untuk memberi kesaksian lewat hidup dan berbagai karyanya. Lewat hidup dan berbagai karya yang diemban, Kongregasi didorong untuk mewartakan kasih kerahiman dan belarasa Allah.239 Di tengah pudarnya nilai-nilai kehidupan, Kongregasi ditantang untuk menjadi pioneer dalam menawarkan budaya tanding, yaitu budaya hati. Ketika dunia memandang rendah martabat hidup seseorang, Kongregasi dipanggil untuk membawa kehidupan yang adalah anugerah Allah.

238 Berkley Center for Religion, Peace, and World Affairs, Bridging Babel: New Social Media and interreligious and intercultural understanding, 2010, 3-5.

239 Kapitel Provinsi 2011, 21.

BAB III

PEMANFAATAN INTERNET DAN MEDIA SOSIAL OLEH PARA SUSTER CB BAGI PEWARTAAN DI TENGAH

PERGULATAN HIDUP BERSAMA DAN KAULNYA

Pengantar

Dewasa ini, kita sudah mulai memasuki dan sekaligus merasakan dampak

Dewasa ini, kita sudah mulai memasuki dan sekaligus merasakan dampak