BAB III : PEMANFAATAN INTERNET DAN MEDIA SOSIAL OLEH
3.5 Hasil Penelitian
3.5.9 Pemanfaatan Internet
Dalam hal pemanfaatan internet/WEB, tidak jauh berbeda dengan pemanfaatan media sosial. Para suster memanfaatkan internet/WEB lebih banyak untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sedang dijalaninya. Tugas yang dimaksud entah tugas studi atau berkaitan dengan tugas perutusan lain. Sementara untuk menambah pengetahuan demi pengembangan karya dan menjalin jejaring tidak banyak dilakukan.
Tabel 3.26 Pendukung dalam Menjalin jejaring/kelompok sosial
Pendukung dalam Menjalin jejaring/kelompok sosial
N kurang
bermanfaat cukup
bermanfaat bermanfaat sangat bermanfaat
Yunior 28.6 (4) 28.6 (4) 42.9 (6) 0 14
Medior muda 27.8 (5) 27.8 (5) 38.9 (7) 5.6 (1) 18
Medior tua 50 (6) 25 (3) 16.7 (2) 8.3 (1) 12
Senior 50 (9) 33.3 (6) 11.1 (2) 5.6 (1) 18
38.7 (24) 29 (18) 27.4 (17) 4.8 (3) 62
Dari tabel 3.26 tentang menjalin jejaring, dilihat dari prosentase responden, nampak bahwa yang paling banyak menyatakan internet bermanfaat adalah para suster yunior, yaitu 42.9 % dari 14 responden. Selanjutnya, dari kelompok medior muda 38.9 % menyatakan internet bermanfaat untuk pastoral. Sementara itu, kelompok para suster senior dan medior tua yang paling banyak menyatakan bahwa internet kurang bermanfaat. Demikian pula dalam hal menambah pengetahuan demi pengembangan karya, bagi para suster senior, internet kurang bermanfaat.
Sebanyak 66.7 % dari para suster senior menyatakan internet kurang bermanfaat bagi penambahan ilmu pengetahuan. Hal ini semakin menegaskan bahwa bagi para
suster senior, keberadaan internet tidak terlalu berdampak atau kurang bermanfaat untuk karya kerasulan mereka. Sementara itu, 55.6 % dari para suster medior muda mengatakan bahwa internet cukup bermanfaat untuk menambah pengetahuan.
Demikian 64.3 % dari suster yunior mengatakan hal yang sama. Kata “cukup”
menunjukkan bahwa pemanfaatan internet sebagai penambah pengetahuan tidaklah menjadi prioritas atau belum maksimal. Di kalangan para suster senior, sangat dimungkinkan bahwa internet kurang populer dalam penggunaannya.
Tabel. 3.27 Penambah pengetahuan yang berkaitan dengan pengembangan karya
Penambah pengetahuan yang berkaitan dengan pengembangan karya/perutusan
N kurang
bermanfaat cukup
bermanfaat bermanfaat sangat bermanfaat
Yunior 14.3 (2) 64.3 (9) 14.3 (2) 7.1 (1) 14
Medior muda 16.7 (3) 55.6 (10) 22.2 (4) 5.6 (1) 18
Medior tua 16.7 (2) 41.7 (5) 33.3 (4) 8.3 (1) 12
Senior 66.7 (12) 22.2 (4) 11.1 (2) 0 18
30.6 (19) 45.2 (28) 19.4 (12) 4.8 (3) 62
Berbeda dengan dua tabel sebelumnya yang menunjukkan bagaimana pemanfaatan internet yang kurang mendukung atau sekedar cukup mendukung bagi kehidupan para suster. Tabel 3.28 memberi gambaran bahwa pemanfaatan internet untuk penyelesaian tugas-tugas yang sedang dijalani lebih tinggi daripada yang ada dalam dua tabel sebelumnya. 37.1% responden menuliskan bahwa internet cukup bermanfaat. Sementara 33.9% mengatakan bermanfaat dan 17.7% meyakininya sangat bermanfaat. Dilihat dari perjenjangnya, kelompok medior masih mendominasi dengan mengatakan bermanfaat dan sangat bermanfaat. Satu hal yang
menarik adalah bahwa kelompok senior dalam hal ini cukup banyak yang mengatakan bermanfaat, yaitu 33.3 %.
Tabel 3.28 Pendukung penyelesaian tugas yang sedang dijalani
Pendukung penyelesaian tugas yang sedang dijalani
N kurang
bermanfaat cukup
bermanfaat bermanfaat sangat bermanfaat
Yunior 14.3 (2) 42.9 (6) 21.4 (3) 21.4 (3) 14
Medior muda 5.6 (1) 22.2 (4) 50 (9) 22.2 (4) 18
Medior tua 0 50 (6) 25 (3) 25 (3) 12
Senior 22.2 (4) 38.9 (7) 33.3 (6) 5.6 (1) 18
11.3 (7) 37.1 (23) 33.9 (21) 17.7 (11) 62
3.5.10 Pengaruh Internet dan Media Sosial
Pengaruh internet dan media sosial bagi kehidupan para suster menunjukkan suatu hal yang positif. Tentu saja hal ini menjadi satu hal yang menggembirakan. Meskipun dilihat dari pemanfaatan internet dan media sosial sebagaimana para suster nampak tidak terlalu aktif di dalamnya atau belum banyak memanfaatkan, namun ternyata membawa pengaruh yang lebih dari cukup bagi kehidupan para suster.
Dari tabel 3.29 di bawah ini, pengaruh internet dan media sosial untuk memperlancar komunikasi nampaknya sangat berpengaruh bagi para suster.
Prosentase tertinggi ditunjukkan oleh kelompok para suster yunior, yaitu 50 %.
Setelah itu disusul oleh kelompok medior muda dengan 44.4 % dan medior tua dengan 41.7 % dari responden. Sementara itu, dari kelompok senior, meskipun dalam pernyataan-pernyataan sebelumnya tidak banyak menemukan manfaat dari
media sosial dan internet, namun dalam hal komunikasi para suster senior pun setuju bahwa internet dan media sosial berpengaruh.
Tabel 3.29 Pendukung komunikasi dengan para suster, mitra karya dan mereka yang dilayani.
Pendukung komunikasi dengan para suster, mitra karya dan mereka yang dilayani
Sementara itu, meskipun tidak sangat tinggi, tabel 3.30 menunjukkan bagaimana dalam hal meningkatkan semangat doa bagi orang yang berkesusahan, 50 % dari para suster yunior mengatakan bahwa internet dan media sosial sangat berpengaruh. Dari tabel ini, hal yang berbeda juga ditunjukkan pada kolom suster medior muda. Dalam tabel-tabel sebelumnya, para suster medior muda selalu yang paling banyak menunjukkan intensitas penggunaan media sosial maupun internet.
Namun demikian, dalam tabel 3.30 ini ditunjukkan bahwa 55.6 % dari para suster medior muda menuliskan cukup berpengaruh. Jika melihat lagi tabel bagaimana para suster menjaga keseimbangan antara doa, kerja dan istirahat, dan yang paling banyak menjawab kadang-kadang adalah suster medior muda, maka menjadi bisa dipahami bahwa dalam hal meningkatkan semangat doa bagi yang berkesusahan, internet ataupun media sosial bagi suster medior muda lebih banyak yang mengatakan “cukup” saja. Bisa jadi, doa tidak menjadi prioritas utama bagi para
suster di tengah kesibukkannya. Namun demikian, sangat dimungkinkan pula bahwa bagi para suster medior muda, media sosial dan internet tidak mempengaruhi kualitas doa mereka bagi orang yang berkesusahan. Artinya, bahwa ada atau tidak ada internet maupun media sosial, mereka tetap berdoa. Demikian halnya dengan para suster senior yang 61.1 % mengatakan cukup berpengaruh.
Tabel 3.30 Peningkatan semangat doa bagi orang lain yang berkesusahan
Peningkatan semangat doa bagi orang lain yang berkesusahan bagaimana media sosial dan internet meningkatkan solidaritas kepada mereka yang berkesesakan hidup. 21% dari responden mengatakan bahwa internet kurang berpengaruh. 50 % dari kelompok para suster senior menjawab internet. Sementara itu, 32.3% mengatakan cukup berpengaruh dan 33.9% mengatakan berpengaruh.
12.9% responden yang mengatakan berpengaruh adalah kelompok para suster medior muda. Berbeda dengan hal doa, dalam hal ini, para suster medior muda kembali menunjukkan hal yang positif atas pengaruh internet dan media sosial bagi kehidupan para suster. Untuk para suster senior, tidak satupun yang mengatakan sangat berpengaruh.
Tabel 3.31 Peningkatan semangat solidaritas kepada mereka yang berkesesakan
Berkaitan dengan pewartaan, pengaruh media sosial dan internet cukup bervariasi. Tabel 3.32 di bawah menunjukkan bagaimana internet dan media sosial berpengaruh dalam mencari ide dan gagasan baru untuk pewartaan. Hal pertama yang menarik perhatian adalah tanggapan dari kelompok suster yunior yang cukup positif, dimana ada 28.6 % yang menyatakan sangat berpengaruh. Meskipun masih ada 21.4 % yang menyatakan kurang bermanfaat, namun hal ini cukup baik mengingat pemanfaatan media sosial dan internet yang kurang maksimal, sebagaimana ditunjukkan dalam tabel-tabel sebelumnya. Dari kelompok medior muda, dalam hal ini mereka cukup konsisten menyatakan bahwa internet dan media sosial berpengaruh dalam pencarian ide dan gagasan untuk pewartaan. Meskipun pengaruhnya belumlah maksimal, dimana sebagian besar (44.4 %) hanya menyatakan cukup berpengaruh. Sementara itu, dari kelompok senior, kiranya masih sama dengan tabel sebelumnya, dimana tidak ada satu pun yang menyatakan sangat berpengaruh.
Tabel 3.32 Pendukung dalam mencari ide dan gagasan baru bagi pewartaan
Pendukung dalam mencari ide dan gagasan baru bagi pewartaan
Tabel 3.33 Pembangun jejaring dan pewartaan ke tempat yang jauh
Pembangun jejaring dan pewartaan ke tempat yang jauh N
Tabel 3.33 menunjukkan bahwa internet dan media sosial bagi para suster kurang dimanfaatkan dengan baik, sehingga juga kurang berpengaruh dalam membangun jejaring dan pewartaan. Sebagaian besar (72,2%) kelompok senior seakan meyakinkan bahwa mereka tidak terlalu terpengaruh dengan internet dan media sosial. Hal ini sangat dimungkinkan karena karya para suster senior yang semakin terbatas atau karena kurang memahami manfaat dari internet dan media sosial yang bisa lebih dari sekedar untuk telpon dan kirim pesan singkat. Sementara itu dari kelompok medior dan yunior, mereka mengalami bahwa internet dan media sosial berpengaruh dalam membangun jejaring dan pewartaan ke tempat yang jauh.
Tabel 3.34 Pengaruh media sosial dan internet terhadap kualitas hidup membiara dan pewartaan secara umum
Pengaruh media sosial dan internet terhadap kualitas hidup membiara dan pewartaan secara umum
N kurang
berpengaruh cukup
berpengaruh berpengaruh sangat berpengaruh
Yunior 0 35.7 (5) 28.6 (4) 35.7 (5) 14
Medior muda 0 38.9 (7) 27.8 (5) 33.3 (6) 18
Medior tua 0 16.7 (2) 58.3 (7) 25 (3) 12
Senior 5.6 (1) 61.1 (11) 27.8 (5) 5.6 (1) 18
1.6 (1) 40.3 (25) 33.9 (21) 24.2 (15) 62
Dari tabel 3.34 di atas, menunjukkan bahwa media sosial dan internet secara umum cukup berpengaruh terhadap kualitas hidup membiara dan pewartaan. 40.3%
dari responden menyatakan cukup bermanfaat. Sebanyak 60.1 % dari responden senior menyatakan cukup berpengaruh. Sementara itu, dari kelompok yunior, semua menyatakan bahwa internet dan media sosial berpengaruh, meskipun ada yang menyatakan cukup, yaitu 35.7 %, sementara 28.6 % menyatakan berpengaruh dan 35.7 % menyatakan sangat berpengaruh. Tidak jauh berbeda dengan kelompok medior muda yang semuanya menyatakan berpengaruh, meskipun cukup bervariasi pula prosentasenya.
Resume
Setelah melihat hasil penelitian yang penulis paparkan dalam tabel-tabel di atas, dapatlah ditarik point yang akan direfleksikan lebih lanjut pada bab berikutnya. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dalam hidup rohani, secara umum para suster menunjukkan hal yang menggembirakan. Meskipun tidak 100%,
namun hasil penelitian menunjukkan bahwa para suster masih setia menghidupi kegiatan-kegiatan rohani baik secara pribadi maupun dalam kebersamaan dengan komunitas. Namun demikian, tetap ada hal-hal yang perlu mendapat perhatian secara khusus yaitu berkaitan dengan kebiasaan untuk refleksi harian dan bacaan rohani. Dua kegiatan ini, nampaknya begitu mudah luntur atau ditinggalkan oleh para suster di tengah kesibukkannya dengan karya sehari-hari. Para suster masih cenderung setia melakukan dua kegiatan ini saat masih di novisiat atau ketika baru saja profesi. Penting kiranya untuk menghidupkan kebiasaan tersebut sebagai sebuah kegiatan harian para suster, sehingga akan memperdalam dan memperkuat hidup rohani para suster secara pribadi. Dengan kehidupan rohani yang semakin dalam, harapannya para suster akan dimampukan untuk menjadi pewarta sejati yang menampakkan wajah kasih Allah kepada dunia.
Dalam kehidupan berkaul, baik kaul keperawanan, ketaatan dan kemiskinan, hasil penelitian juga menunjukkan suatu yang positif dan menggembirakan. Untuk kaul ketaatan, secara umum tidak ada masalah, itulah sebabnya penulis tidak memaparkan tabel yang berkaitan dengan kaul ketaatan.
Sementara untuk kaul keperawanan dan kemiskinan, meskipun secara umum baik, namun ada beberapa point yang perlu untuk diperhatikan dan ditingkatkan lagi pelakasanaannya dalam hidup sehari-hari. Kaul keperawanan yang disebut pula dengan kaul cintakasih, salah satu wujudnya adalah penerimaan terhadap sesama suster di komunitas sebagai anugerah Tuhan. Dalam hal ini, nampaknya masih harus diperjuangkan oleh para suster. Selain itu, masih dalam hal kaul keperawanan, para suster juga perlu untuk menyadari pentingnya menjaga
keseimbangan antara doa, karya dan waktu untuk istirahat. Untuk kaul kemiskinan, ada dua hal pula yang perlu menjadi catatan, pertama yaitu berkaitan dengan pengisian waktu senggang untuk sesuatu yang positif dan bermanfaat. Kedua, dalam hal penyerahan harta benda yang diperoleh dalam relasinya dengan karya perutusan yang diemban. Hasil penelitian menunjukkan perlunya pertobatan terus menerus dari para suster, sehingga semakin berani berserah diri dan mengosongkan diri di hadapan Allah. Penyerahan diri total yang akan mendorong para suster mengalami sukacita sejati.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa untuk mengembangkan karya perutusan yang diemban, para suster kiranya masih perlu untuk mencari berbagai cara dan ide-ide yang tepat. Para suster juga perlu untuk mengembangkan keterbukaan dalam menerima masukan dari orang lain yang berguna untuk mengembangkan karya. Kesadaran diri bahwa perkembangan karya perutusan tidak lepas dari peran orang-orang di sekitar, maka menerima masukan dari orang lain menjadi sarana untuk mengevaluasi, berefleksi dan mencari solusi terbaik. Hal ini sangat penting, lebih-lebih di tengah perkembangan internet dan media sosial yang begitu cepat berubah setiap harinya. Perkembangan internet dan media sosial yang begitu cepat menantang para suster untuk Bersama-sama secara kreatif mengembangkan karya kerasulannya. Untuk itulah perlunya keterbukaan dan keterlibatan satu dengan yang lain.
Berkenaan dengan pemanfaatan media sosial dan internet, belumlah menjadi sarana yang secara maksimal bermanfaat bagi pengembangan karya maupun tugas pewartaan para suster. Internet dan media sosial sebagai sarana
komunikasi kiranya tidak saja untuk keluarga atau orang-orang terdekat, namun lebih dari itu Gereja mendorong untuk menjadikannya sarana pembawa sukacita.
Hasil penelitian menunjukkan internet dan media sosial tidak secara signifikan berpengaruh terhadap kualitas hidup membiara para suster, terlebih di kalangan para suster yunior dan senior. Hal ini sangat dimungkinkan bahwa internet dan media sosial tidak begitu akrab dalam kehidupan para suster tersebut. Meskipun demikian, satu hal yang disetujui oleh semua kelompok suster adalah bahwa media sosial bermanfaat untuk mendukung komunikasi dengan keluarga. Berkaitan dengan tugas pewartaan, nampaklah bahwa para suster belum secara maksimal memanfaatkan internet dan media sosial sebagai sarana pewartaan maupun promosi panggilan. Sebagian besar suster mengatakan bahwa internet dan media sosial cukup berpengaruh bagi pewartaan ke tempat-tempat jauh, artinya para suster masih harus mengupayakan berbagai cara agar internet dan media sosial dapat lebih maksimal digunakan sebagai sarana pewartaan. Sebagian dari para suster mengakui bahwa internet dan media sosial menjadikan pewartaan lebih mudah untuk menjangkau ke tempat-tempat yang jauh dan terpinggirkan. Sementara dalam hal meningkatkan semangat doa dan solidaritas bagi yang lain, pengaruh positif lebih banyak dirasakan oleh para suster medior. Dari tabel-tabel yang dipaparkan, para suster medior lebih menunjukkan konsistensinya dalam melihat pengaruh internet dan media sosial secara positif bagi pengembangan karya maupun tugas pewartaan yang diemban. Sangat dimungkinkan bahwa para suster senior dan yunior belum merasa membutuhkan internet dan media sosial untuk mendukung pengembangan
karya dan pewartaan. Sementara itu, untuk para suster medior, pemanfaatan media sosial dan internet bisa jadi karena berkaitan dengan tuntutan tugas perutusannya.
Hasil penelitian tersebut menjadi dasar refleksi lebih lanjut bagaimana para suster menjadikan internet dan media sosial sebagai sarana komunikasi. Bukan sekedar komunikasi dengan keluarga, mitra kerasulan ataupun orang-orang terdekat. Namun dalam penghayatan kaulnya dan penyerahan diri yang total, para suster diajak untuk berani terlibat dalam pewartaan Gereja sampai ke tempat-tempat terpinggirkan. Para suster, dengan kekhasannya sebagai perempuan secara khusus dipanggil untuk menjelmakan wajah kasih Allah di tengah perkembangan internet dan media sosial.
BAB IV
REFLEKSI TEOLOGIS: EVANGELISASI LEWAT INTERNET DAN MEDIA SOSIAL
SEBAGAI WUJUD PENYERAHAN DIRI YANG TOTAL
Pengantar
Dalam seruan apostolik Evangelii Gaudium, Paus Fransiskus mendorong Gereja untuk pergi ‘bergerak keluar’ dan menjadikan semua orang sebagai murid.1 Menanggapi ajakan ini, Gereja didesak untuk mewartakan Injil dan menjadikan semua orang murid-Nya. Paus juga menegaskan akan adanya banyak tantangan yang menjadi dorongan tersendiri bagi Gereja untuk mencari berbagai cara yang kreatif, sehingga pewartaan dapat diterima dengan baik.
Salah satu tantangan dan sekaligus peluang dalam pewartaan adalah berkaitan dengan perkembangan internet dan media sosial. Di hari komunikasi sedunia tahun 2016, Paus Fransiskus menyatakan bahwa “Internet, pesan teks dan jejaring sosial adalah anugerah Tuhan”.2 Pernyataan tersebut menjadi ajakan bagi Gereja untuk melihat secara positif perkembangan internet dan media sosial, serta menjadi dorongan untuk memanfaatkannya sebagai anugerah Tuhan bagi
1 Fransiskus, Evangelii Gaudium, Seruan Apostolik Paus Fransiskus, (KWI Jakarta: Obor, Januari 2015), art. 24.
2 Fransiskus, “Kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32), Berita Palsu dan jurnalisme perdamaian, Pesan Paus pada hari komunikasi sedunia ke-52, (Vatikan, 24 Januari 2018).
kehidupan manusia. Dalam peringatan hari komunikasi sedunia tahun 2018 Paus juga mengingatkan akan adanya bahaya dari internet dan media sosial. Dengan mengambil tema “’Kebenaran itu akan memerdekakan kamu’ (Yoh 8:32). Berita palsu dan Jurnalisme Kebenaran”, Paus mengajak Gereja menyadari akan adanya kebohongan-kebohongan yang ditimbulkan oleh pemberitaan palsu di media sosial.3 Paus Fransiskus menunjukkan bagaimana Gereja cepat tanggap terhadap berbagai isu yang berkembang dalam masyarakat. Isu soal berita palsu atau hoaks begitu marak dalam hidup sehari-hari baik di dalam maupun luar negeri.4 St. Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma dengan tegas menyatakan “Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus" (Rom 9:1). Demikian di tengah masyarakat juga semakin berkembang budaya yang merelatifkan kebenaran.5 Pentinglah Gereja menegaskan kembali panggilannya sebagai pewarta yang membawa perdamaian, keadilan dan kebenaran.
Internet dan media sosial semakin hari seakan menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat,6 tidak terkecuali bagi kaum religius7. Peneliti melakukan penelitian terhadap para suster CB di Yogyakarta. Penelitian dilakukan antara bulan Mei-Juli dan Oktober 2018. Perkembangan internet dan media sosial bagi para suster CB nampaknya belum berdampak pada perubahan kehidupan rohani. Hasil
3 Fransiskus, “Kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32), Berita Palsu dan jurnalisme perdamaian.
4 Fransiskus, “Kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32), Berita Palsu dan jurnalisme perdamaian.
5 Benediktus XVI, Kasih dalam kebenaran, Ensiklik Paus Benediktus XVI Juni 2009, (KWI, Jakarta, 2014), 7.
6 Antonio Spadaro, Cybertheology, (Fordham University Press, New York, 2014), 2-3.
7 Heidi Campbell, Spiritualising the Internet, (Journal online-Heidelberg Journal of Religious on the Internet, USA, 1.1, 2005), 1-2.
penelitian menunjukkan bahwa secara umum kehidupan rohani para suster masih terpelihara dengan baik. Dari kegiatan rohani, hal yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan untuk membaca bacaan rohani dan untuk berefleksi. Membaca bacaan rohani dan berefleksi menjadi kegiatan rohani yang mudah ditinggalkan oleh para suster. Beberapa alasan yang muncul antara lain, para suster merasa bahwa kesibukan dalam karya membuat mereka tidak mempunyai waktu luang untuk membaca bacaan rohani ataupun refleksi. Para suster merasa bahwa lebih baik tidak membaca bacaan rohani dan refleksi daripada tidak dapat menyelesaikan tugas perutusannya dengan baik. Beberapa suster sempat mengungkapkan bahwa ada rasa bersalah ketika mereka duduk membaca dan berefleksi, sementara melihat para suster lainnya masih harus menyelesaikan tugasnya. Beberapa suster juga mengakui bahwa membaca bacaan rohani dan refleksi dianggap sebagai kegiatan wajib hanya untuk para calon (novis dan postulan) dan masa yuniorat saja. Pada masa pembinaan di postulat dan novisiat maupun masa yuniorat, para suster mau tidak mau harus rajin untuk membaca bacaan rohani dan refleksi karena masih ada kewajiban untuk mengumpulkan hasil refleksinya kepada pendamping ataupun DPP.
Sementara itu, pengaruh pemanfaatan internet dan media sosial dalam penghayatan kaul, dapat dikatakan tidak terlalu signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asumsi awal yakni adanya dampak negatif dari pemanfaatan internet dan media sosial terhadap penghayatan kaul, tidaklah sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan. Pada awal penelitian, peneliti mengasumsikan bahwa pemanfaatan internet dan media sosial dikawatirkan juga berdampak negatif
terhadap penghayatan kaul-kaulnya. Hal ini pulalah yang membuat pimpinan Kongregasi pada waktu itu mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tentang pengaruh pemanfaatan internet dan media sosial bagi kehidupan religius para suster CB. Namun demikian, dari hasil penelitian, nampaklah baik buruknya penghayatan kaul para suster, bukanlah pertama-tama akibat dari pemanfaatan internet dan media sosial. Sebagai contoh, dalam hal penyerahan segala bentuk pemberian yang diterima para suster di tempat karya kepada Kongregasi, belumlah dilakukan para suster sebagai bentuk penghayatan kaul kemiskinan. Masih banyak diantara para suster yang tidak menyerahkan berbagai pemberian yang diterimanya kepada Kongregasi. Hal ini terjadi, tidak ada kaitannya secara langsung dengan perkembangan internet dan media sosial.
Dari hasil wawancara dengan beberapa suster, ditemukan adanya ketidakjujuran dalam hal kepemilikan harta benda oleh para suster. Dalam hal ini, kaitannya dengan kepemilikan handphone. Di awal penelitian ini dilakukan, situasi Kongregasi pada waktu itu masih tergolong lebih ketat dalam hal kepemilikan handphone yang beraplikasi lengkap. Sebagai contoh, ketika para suster
mengajukan permohonan handphone ke Kongregasi, untuk suster studi, biasanya hanya akan diberikan handphone yang sederhana saja, sedangkan untuk para suster yang berkarya, handphone dengan fitur lebih lengkap, tetapi tetap sederhana.
Sementara itu, perkembangan internet dan media sosial tidak bisa dibendung menumbuhkan keingintahuan dalam diri para suster dan keinginan untuk selalu terhubung dengan yang lain juga. Oleh karena itu, beberapa suster sempat bercerita bahwa untuk mendapatkan handphone dengan aplikasi lengkap itu diperoleh dari
relasi. Demikian pula dalam hal pemenuhan kebutuhan akan pulsa, tak jarang para suster entah secara langsung maupun tidak meminta kepada relasi.
Sejak bulan Agustus 2018, situasi Kongregasi berbeda dalam menyikapi perkembangan internet dan media sosial. Menindaklanjuti hasil Kapitel 2017 dan menanggapi seruan dari Bapa Suci mengenai pemanfaatan media sosial untuk pewartaan dan promosi panggilan, hal ini juga berpengaruh terhadap kepemilikan handphone dan penggunaan internet serta media sosial di antara para suster. Salah
satu hal yang positif yaitu bahwa para suster menjadi lebih terbuka dalam penggunaan internet dan media sosial. Harapannya tentu saja keterbukaan ini juga akan berdampak positif bagi perkembangan kerasulan Kongregasi dan pewartaan.
Dari beberapa kesimpulan hasil penelitian tersebut, penulis akan mengembangkan refleksi yang lebih dalam:
1. Internet dan media sosial menjadi sarana komunikasi yang mengarah kepada pewartaan Injil.
2. Penyerahan diri para suster CB kepada Allah melalui Kristus mendorong para
2. Penyerahan diri para suster CB kepada Allah melalui Kristus mendorong para