• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I : PENGARUH PEMANFAATAN INTERNET DAN MEDIA

2.1 Situasi Awal Berdirinya Kongregasi

2.1.1 Situasi keluarga Gruyters dan Masyarakat pada umumnya

Hidup beriman Elisabeth Gruyters tidak lepas dari pengaruh keluarga dan lingkungan masyarakat pada saat itu. Dalam kelembutan atau sebaliknya peristiwa kacau yang terjadi di sekitar hidup manusia, Allah dapat menyapa dengan cara-Nya. Ini berarti bahwa segala situasi, bahkan yang terburuk sekalipun dapat menjadi saat berahmat, saat kehadiran-Nya. Hal itu tergantung dari keterbukaan hati seseorang untuk menanggapinya. Apa yang dialami Elisabeth Gruyters menunjukkan sikap hatinya yang terbuka, sehingga ia mampu menangkap tawaran kasih Allah dalam setiap peristiwa hidupnya.

Elisabeth Gruyters lahir di desa Leut, yang terletak di pinggir sungai Maas, provinsi Limburg, Belgia, pada tanggal 1 November 1789.1 Ia adalah anak

1 Theresia, Narasi Historis, Seri Dokumen CB, Yogyakarta: Bina Spiritualitas CB, 2005, 3-5.

keempat dari tujuh bersaudara keluarga Gruyters yang bekerja di Puri Leut.

Sebagai anak bendaharawan di Puri milik Puteri van Mewende Felz, ia menempati rumah yang ada di samping puri itu. Keluarga Gruyters telah lama tinggal di desa Leut, sehingga cukup dikenal dan mengenal masyarakat setempat.2 Ayah Elisabeth Gruyters, Bapak Nicolaas menikah dengan Maria Borde di Sint Truyen.

Pasangan suami isteri ini berasal dari keluarga yang baik dan saleh, yang disegani bukan karena jabatan suami, tetapi karena keluhuran peri laku hidup mereka.3 Selain sebagai bendahara puri, Bapak Nicolaas juga terkenal sebagai aktifis di Gereja Paroki. Sebagai aktifis Paroki, tentu ia sangat memperhatikan hidup beriman dari keluarganya sendiri. Hal ini nampak dari kehidupan Elisabeth yang sangat menghayati Kitab Suci dan secara khusus ekaristi. Meskipun Kitab Suci pada waktu itu belum dapat dibaca secara umum oleh para awam, namun Elisabeth telah menghidupinya yang seringkali nampak dari kontemplasinya.4 Dari keluarga yang saleh inilah Elisabeth Gruyters tumbuh dan menjadi wanita yang beriman dalam.

Di dalam puri itu, terdapat ruang bawah tanah yang melintasi sungai Maas menuju Maaseik. Pada masa revolusi Perancis, ruang bawah tanah itu dipakai untuk tempat persembunyian orang-orang dari pengejaran Napoleon.5 14 Juli 1789 pecahlah revolusi Perancis yang menimbulkan gejolak di seluruh Eropa termasuk Belanda dan Belgia. Revolusi tersebut membawa akibat yang sangat buruk bagi seluruh segi kehidupan: sosial, politik, ekonomi maupun kehidupan

2 Theresia, Narasi Historis, 3-5.

3 Theresia, Narasi Historis, 4-5.

4 Tom Jacobs, Spiritualitas Elisabeth Gruyters, (Yogyakarta: Kanisius, 1987), 27-29.

5 Gedenk Boek, Der Liefde-Zusters van Den H. Carolus Borromeus, Arsip Kongregasi terjemahan dari Bij Het Honderd-Jarig Bestaan, 15.

moral dan spiritualitas. Penjarahan dan perusakan dilakukan oleh para pemimpin departemen tanpa belas kasih. Selama 3 tahun lebih, Belgia dijadikan tempat jarahan orang-orang Perancis. Setelah perang berlangsung selama enam bulan, Belgia digabungkan dengan Perancis. Kecamatan Nedermaas diperintah penguasa setempat, yang sebelumnya diperintah oleh penguasa dari Hasselt dan pada waktu itu masih bergolak. Leut adalah bagian dari kecamatan tersebut.6

Penderitaan rakyat masih ditambah dengan pajak yang sangat tinggi.

Belgiapun menjadi sangat miskin. Banyak orang menderita dan mati entah karena kelaparan, penyakit ataupun dibunuh. Rakyat diwajibkan untuk ikut berperang dan bekerja memperbaiki jalan-jalan yang rusak akibat perang. Mereka pun mulai mengadakan perlawanan bawah tanah, namun kekuatan mereka lemah sehingga tidak sanggup memberi perlawanan yang berarti. Keadaan menjadi semakin kacau dan kejahatan semakin merajalela. Perampokan tidak hanya terjadi di rumah-rumah, tetapi juga di jalan-jalan. Orang seakan menjadi terbiasa untuk mendengar dan melihat pembunuhan atau pemerkosaan. Di tengah kehidupan yang begitu kacau dan penuh penderitaan itu, orang mulai mempertanyakan iman mereka.

Keputusasaan mulai melanda sebagian rakyat yang tidak berdaya mengatasi situasi penuh penderitaan itu7. Revoslusi Perancis membawa perubahan bagi Gereja Katolik, baik dalam budaya, sosial dan politis.8 Sekularisasi mulai berkembang.

6 Theresia, Narasi Historis, 13.

7 Theresia, Narasi Historis, 14.

8 Alexa Weight, God and Revolution: Religion and power from Prerevolutionary France to the Napoleonic Empire, (Spring, USA: Western Oregon University, 2017), 2-3.

Tahun 1796, merupakan masa pengejaran para imam. Di Luik, Brugge dan Antwerpen Gereja-gereja beserta isinya dirusak oleh tentara Napoleon.9 Semua Gereja dan kapel yang masih ada ditutup, dijadikan markas atau gudang perbekalan. Perampasan kekayaan Gereja dilakukan untuk menghidari krisis keuangan pemerintah menanggung kebutuhan revolusi.10 Ketika kejahatan telah mencapai puncaknya, dan Gubernur menyadari bahwa Belgia telah dirampas habis-habisan, timbullah kebencian kepada para rohaniwan, karena dipandang hidup berkecukupan. Mereka dikejar-kejar dan dibunuh. Maastricht yang merupakan kota metropolitan bagi kehidupan Katolik pun ditutup dan disita.11 Para imam dipaksa untuk bersumpah setia kepada Gubernur. Rector Magnificus dari Leuven yaitu Dr Havenlange bersama dua pastor kapelan Kerckhoffs dan Vliegen telah menjadi korban pembunuhan yang pertama, karena tidak mau bersumpah setia. Banyak orang memprotes kejadian tersebut. Namun protes atas kejadian tersebut dilumpuhkan dengan penangkapan dan pembuangan ke Cayenne12.

Di Perancis, Louis XVI dipaksa menyetujui perundang-undangan sipil Gereja oleh Dewan Konstituante.13 Dengan ditandatanganinya the Civil Constitution of the Clergy pada tanggal 12 Juli 1790 pengaruh para klerus dalam pemerintahan semakin berkurang. Kekuasaan Uskup dan imam pun dibatasi dan

9 Alexa Weight, God and Revolution: Religion and power from Pre-revolutionary France to the Napoleonic Empire, 33-34.

10 W.L Helwig, Sejarah Gereja Kristus, (Yogyakarta: Kanisius, 1974), 199.

11 Theresia, Narasi Historis, 15.

12 Theresia, Narasi Historis, 16.

13 Petr Kropotkin, the Great French Revolution 1789-1793, 22-23.

dipisahkan dari pemerintahan, bahkan mereka kehilangan hak istimewanya.14 Tata perundangan yang ditetapkan pada bulan Juli 1790 tersebut, ditanggapi oleh Paus Pius VI melalui ensikliknya tanggal 10 Maret dan 13 April 1791 yang mengutuk keras tata perundangan sipil Gereja tersebut15. Gereja pun terpecah menjadi dua kubu. Untuk menghadapi para imam dan religius yang tidak mau tunduk kepadanya, Napoleon mengangkat Vikaris yang berpihak padanya yaitu Mgr. De la Brue sebagai Uskup Gent16. Hanya 23 imam yang mengakuinya sebagai uskup.

Suasana pun semakin menegangkan karena terjadi saling fitnah dan curiga di dalam Gereja17. Demikian pula ketika Napoleon mengetahui banyak rohaniwan yang tidak mau tunduk kepada kekuasaannya, ia pun memberikan perintah paksa agar semua rohaniwan dan seminaris bergabung dengan tentara di Rijn dekat Wezel18. Untuk menghadapi kekuasaan Gereja, Napoleon mengupayakan kekuasaannya bertambah kuat. Ia membangun relasi dengan religius muslim dari Mesir.19 Untuk mempertahankan kekuasaannya, Napoleon tidak segan-segan memperalat orang-orang muslim dan Gereja. Gereja hanya dipandang sebagai alat politik.20 Penderitaan orang akibat perang pun semakin hebat, belum lagi ditambah dengan menjalarnya wabah sampar diawal abad 18.

Tahun 1813, dua adik Elisabeth meninggal dengan sebab yang tidak diketahui. Dua tahun kemudian, ayahnya juga meninggal dunia. Setelah kepergian

14 Alexa Weight, God and Revolution: Religion and power from Pre-revolutionary France to the Napoleonic Empire, 22-23.

15 J. Godechot, Revolusi di Dunia Barat (1770-1799), (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1989), 63.

16 J. Godechot, Revolusi di Dunia Barat (1770-1799), 63-64.

17 Theresia, Narasi Historis, 16.

18 Theresia, Narasi Historis, 17.

19 Alexa Weight, God and Revolution: Religion and power from Pre-revolutionary France to the Napoleonic Empire, 39.

20 W.L Helwig, Sejarah Gereja Kristus, 201.

ayahnya, Elisabeth bersama dengan ibu dan tiga saudaranya meninggalkan puri Leut dan pindah ke rumah keluarga, yang letaknya tidak jauh dari puri.21 Di rumah keluarga yang disebut rumah “tanah liat” (Elisabeth G. 92) ia hidup lebih sederhana. Situasi perang membuat tidak mudah bagi orang untuk mencari pekerjaan yang baik. Tahun 1822 Elisabeth Gruyters meninggalkan Belgia dan pergi ke Maastricht. Di Maastricht ia bekerja di rumah keluarga Neijpels sebagai pengurus rumah tangga. Ny. Neijpels sendiri mengalami sakit lumpuh selama 40 tahun dan meninggalkan hidup rohaninya. Demikian pula suami dan anak-anaknya semua menempuh jalan yang sesat. Suasana rumah yang sangat duniawi dan jauh dari Allah ini, tidak menjadi hambatan bagi pertumbuhan iman Elisabeth. Namun sebaliknya, di rumah inilah muncul kerinduannya untuk mengabdi Tuhan dalam sebuah biara (Elisabeth G. 44). Di rumah itu pulalah pengalaman rohaninya bertumbuh.