BAB IV : EVANGELISASI LEWAT INTERNET DAN MEDIA SOSIAL
4.1 Internet dan Media Sosial sebagai Media Komunikasi Para
Di tengah dunia yang semakin berkembang dengan internet dan media sosial, semakin memungkinkan orang untuk berkomunikasi tanpa batas waktu dan tempat. Internet dan media sosial yang berkembang begitu cepat, tidak bisa dipungkiri juga telah merasuk ke dalam kehidupan Gereja dan Biara. Dari hasil penelitian tentang pemanfaatan internet dan media sosial, penulis dapat menyimpulkan bahwa para suster lebih banyak memanfaatkannya sebagai alat komunikasi, entah dengan keluarga, sesama suster maupun dengan mereka yang dilayani. Sementara itu para suster sudah memanfaatkannya juga untuk pewartaan.
Meskipun belum maksimal ataupun efektif, namun setidaknya mereka telah mencoba memanfaatkan internet dan media sosial untuk mendukung karya kerasulan dan pewartaannya. Para suster masih perlu banyak belajar dan membuka wawasan baik berkaitan dengan internet dan media sosial itu sendiri maupun kebutuhan masyarakat, sehingga semakin mampu untuk melayani dengan baik. Hal inilah yang kiranya juga mendapat penegasan dalam Kapitel Provinsi Kongregasi tahun 2017.
Internet dan media sosial sebagai alat komunikasi telah membentuk lingkungan budaya yang menunjuk pada cara berpikir, gaya hidup, dan bahkan
model pendidikan.8 Kebudayaan yang terbentuk ini pun semakin hari seakan semakin menyatu dengan kehidupan sehari-hari, sehingga tak bisa dipisahkan antara hidup online dan offline. Sebagai media komunikasi, internet dan media sosial juga menjadi tempat bagi orang-orang untuk menghabiskan waktunya, untuk membentuk komunitas-komunitas yang secara aktif saling berinteraksi, berbagi dan bertukar informasi.9 Banyak komunitas online terbentuk dengan berbagai alasan dan motivasi, antara lain, kesamaan hobi, bakat, pekerjaan, agama, ataupun olah raga. Keberadaan komunitas-komunitas online memacu keterhubungan dengan orang-orang asing yang berbeda ras, agama, suku, latar belakang budaya dan ekonomi.
Internet dan media sosial juga menjadi sarana untuk saling memperkenalkan dan bertukar budaya yang efektif, yang akan membentuk sebuah pemahaman dan empati satu dengan yang lain.10 Komunikasi yang efektif dalam komunitas-komunitas online, menjadi sarana yang baik pula bagi para anggotanya untuk saling mengembangkan bahkan saling mendidik. Internet yang menyediakan berbagai macam informasi menjadi sumber pengetahuan yang dapat dibagikan lewat media sosial atau komunitas-komunitas online. Dengan demikian, internet dan media sosial menjadi alat komunikasi yang membantu perkembangan hidup manusia di area pendidikan dan pelatihan dalam berbagai bidang kehidupan. Dengan saling berbagi, internet dan media sosial tidak saja mendekatkan orang-orang, tetapi juga
8 Antonio Spadaro, Cybertheology, 3-5.
9 John B. Horrigan, “The Internet Fosters Online Communities”, James. D. Torr, ed., The Information Age, (Greenhaven Press, USA, 2003), 28.
10 Andrew L. Shapiro, “The Information Age May not Foster Democracy”, James. D. Torr, ed., The Information Age, 52.
dapat membantu mengurangi jurang pemisah antara yang kaya dan miskin, yang diakibatkan oleh belum meratanya perkembangan teknologi tersebut. 11
Memperingati hari komunikasi sedunia ke 52, Paus menegaskan bahwa Internet dan media sosial menjadi panggilan dan peluang bagi Gereja untuk mendorong seluruh umat mewujudkan sebuah perjumpaan dan kehadiran yang berdaya tumbuh.12 Tidaklah cukup bagi Gereja untuk sekedar lalu lalang di dunia digital, eksis setiap saat dan mempunyai banyak pengikut. Menjadi tantangan bagi Gereja bahwa keterhubungannya dengan yang lain dapat menjadi sarana untuk mengembangkan terbentuknya rekan-rekan perjumpaan sejati. Gereja didorong untuk menjadikan internet dan media sosial sebagai tempat perjumpaan yang saling mengembangkan. Dalam bukunya Cybertheology, Spadaro menegaskan bahwa internet adalah realitas yang tidak bisa dianggap remeh.13 Kehadirannya yang semakin menjadi kebutuhan sehari-hari dalam masyarakat, mendorong Gereja untuk menanggapinya secara serius. Gereja diajak untuk dapat memanfaatkan internet dan media sosial sebagai sarana pewartaan dan kehadirannya di tengah masyarakat. Paus juga menyatakan “Komunikasi adalah bagian dari rencana Allah bagi kita dan jalan utama untuk menjalin persahabatan.”14 Internet dan media sosial menjadi kesempatan bagi Gereja untuk mengembangkan misinya menjalin persaudaraan dengan semakin banyak orang, kelompok atau golongan. Ajakan ini
11 Andrew L. Shapiro, “The Information Age May not Foster Democracy”, James. D. Torr, ed., The Information Age, 56.
12 Fransiskus, “Kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32), Berita Palsu dan jurnalisme perdamaian.
13 Antonio Spadaro, Cybertheology, 2-3.
14 Fransiskus, “Kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32), Berita Palsu dan jurnalisme perdamaian.
sekaligus menjadi tantangan bagi Gereja untuk semakin terbuka terhadap berbagai kelompok yang ada dalam masyarakat.15 Persaudaraan yang tumbuh dalam komunitas pengguna internet dan media sosial, tentu juga menjadi dorongan untuk semakin menghidupkan kepedulian dan solidaritas. Gereja ditantang untuk menjadi komunikator yang menumbuhkan sikap solidaritas, kepedulian dan usaha membangun persatuan di tengah berbagai perbedaan budaya dan tradisi yang ada dalam kehidupan masyarakat.16 Untuk dapat mewujudkannya, tentulah diperlukan sebuah sikap terbuka, baik terhadap perkembangan internet dan media sosial itu sendiri, maupun terhadap orang-orang yang terlibat di dunia maya tersebut.
Secara tegas Gereja menyatakan alasan bahwa internet dan media sosial sebagai karunia Allah adalah melihat manfaatnya sebagai penyatu para penggunanya dan sarana untuk menyampaikan karya keselamatan-Nya kepada umat manusia.17 Internet dan media sosial menjadi alat praktis untuk menjangkau seluruh umat kristiani, termasuk mereka yang terpinggirkan. Bahkan internet dan media sosial dapat menjadi sarana dalam pembentukan komunitas-komunitas kristiani, yang memancarkan komunitas kasih Allah Tritunggal.18 Pewartaan Gereja semestinya bersumber dari komunitas kasih Allah Tritunggal, yang saling melengkapi satu dengan yang lain.19 Gereja harus berani mengambil langkah
15 John Drussel, Social Networking and Interpersonal Communication and Conflict Resolution Skills among College Freshmen, Master of Social Work Clinical Research Papers, (St. Chaterine University, 2012), 8.
16 Antonio Spadaro, Cybertheology, 22
17 Communio et Progressio, art. 2
18 Daniella Zsupan Jerome, Digital Media at the service Word: what does Internet- mediated Comminication offer the Theology of Revelation and the Practis of Catechesis? (Boston: Boston College University Libraries, 2011), 9
19 Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, (Illinois: Tan Books and Publishers, 1974), 13-16
pertama untuk mendorong umat kristiani dalam membangun komunitas-komunitas rohani, yang saling melengkapi. Dengan kekhasan masing-masing, mereka akan menjadi kekuatan pewartaan Gereja. Komunitas-komunitas basis Gereja yang di beberapa paroki tumbuh dengan subur, kiranya dapat memperoleh tempatnya di internet dan media sosial. Keterbukaan orang pada internet dan media sosial menjadi peluang besar bagi Gereja untuk mewujudkan komunitas basis Gereja online.
“Kita tidak dapat hidup terpisah, tertutup dalam diri kita sendiri. Kita perlu mencintai dan dicintai”, demikian tegas Paus Fransiskus.20 Ia juga menegaskan bahwa komunikasi sesungguhnya menyangkut sebuah kesadaran manusia sebagai makhluk manusiawi, anak-anak Allah, yang di dalamnya setiap orang dapat memandang semuanya sebagai sesama. Demikian pula, komunikasi lewat internet dan media sosial, juga senantiasa membawa kesadaran yang sama, sehingga yang terjadi adalah saling menghormati dan memberi semangat untuk kehidupan yang lebih baik. Allah sendiri telah memberi teladan yang paling nyata tentang komunikasi yang efektif. Pewahyuannya sebagai manusia di tengah dunia, menjadi komunikasi yang paling sempurna bagaimana Allah berkenan menyatakan diri dan mengenalkan diri kepada manusia (DV, art. 2). Pewahyuan Diri Allah menunjukkan keseriusan-Nya untuk berkomunikasi dan menjalin relasi dengan manusia.21 Yesus Kristus adalah kepenuhan penebusan Allah yang mengkomunikasikan kenyataan
20 Fransiskus, Komunikasi: Budaya Perjumpaan yang sejati. Pesan Paus di hari Komunikasi sedunia ke 48, (Vatikan, 2014).
21 Christoph Cardinal Schonborn, God Sent His Son, A Contemporary Christology, (Ignatius Press, San Fransisco, 2002), 116-117.
diri Allah kepada manusia22. Injil Yohanes menegaskan bahwa Bapa mengutus Putera untuk mewahyukan dan menyelamatkan dunia (Yoh 3:17)23. Jika pada masa lampau Allah berbicara dalam berbagai cara dengan perantaraan para nabi, maka kini Allah sendiri mengutus Anak-Nya untuk menyampaikan pesan-Nya kepada dunia (Ibr 1:1). Dalam Kristus, manusia menerima Sabda, bukan dalam kata-kata, melainkan Sabda yang menjelma menjadi manusia. Yoh 3:12 juga memberi gambaran bahwa hanya Yesuslah yang diutus Bapa ke dunia, Dialah wahyu Allah yang hadir di antara manusia24. Dalam keagungan-Nya, Allah mencintai manusia dengan cara manusia. Cara komunikasi Allah yang rela menjadi manusia lemah dalam diri Yesus, memampukan manusia untuk mengenal lebih dalam tentang Allah dan kebenaran-Nya.
Pewartaan yang tidak lain mengkomunikasikan kabar sukacita Injil merupakan panggilan alami, dan tugas seluruh Gereja dan setiap umat kristiani.
Perkembangan teknologi informasi yang telah banyak menawarkan berbagai kemudahan hidup, juga membawa dampak pada semakin berkembangnya sekularisme.25 Orang disibukkan dengan hal-hal duniawi. Hal ini menjadikan pewartaan Injil sebagai panggilan, tugas dan tanggung jawab yang mendesak bagi Gereja di masa sekarang. Pewartaan sebagai komunikasi adalah bentuk iman yang di dalamnya Gereja tidak hanya melibatkan orang lain sebagai pendengar atau penerima warta, tetapi juga Dia yang diwartakan. Dalam surat apostoliknya di hari
22 G.A. Maloney, Called to Intimacy, 47.
23 JB. Banawiratma, ed, Kristologi dan Allah Tritunggal, 75-77.
24 C. Groenen, Soteriologi Alkitabiah, 193.
25 Peter Phan Ngo Xuan Thoai, New Evangelization in Digital World: a Dominican Aprroach, (Lisboa, 2013), 3.
komunikasi sedunia ke 36, Paus Yohanes Paulus II menegaskan kepada seluruh umat kristiani akan tugas dan tanggung jawabnya dalam ikut serta melanjutkan pewartaan para rasul.26 Lebih lanjut, Paus juga menegaskan bahwa tujuan pewartaan bukan sekedar berkembangnya Gereja secara jumlah, tetapi lebih dari itu bagaimana pesan pewartaan itu tersampaikan dan ditangkap dengan baik oleh umat.
Pewartaan tidak lain adalah mengkomunikasikan Kristus dan kebenaran-Nya, sehingga dikenal oleh semua orang.
Paus Yohanes Paulus II telah mendesak Gereja untuk dapat memanfaatkan perkembangan teknologi, dalam hal ini internet sebagai forum perjumpaan dan pewartaan. Dengan memanfaatkan internet dan media sosial, diharapkan Gereja dapat semakin luas dan masuk ke tempat yang lebih dalam untuk mewartakan pesan injil.27 Ajakan Paus untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam ini kiranya menjadi tantangan dan sekaligus dorongan bagi Gereja untuk semakin mampu menjangkau umat ke tempat yang selama ini mungkin tak tersentuh. Paus Fransiskus dalam seruannya di hari komunikasi sedunia ke 48 yang menyatakan bahwa dengan sarana internet, pesan Kristiani dapat menjangkau “sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8).28 Banyak tempat-tempat yang selama ini mungkin kurang diperhatikan atau bahkan tidak diperhitungkan oleh Gereja dalam melaksanakan tugas pewartaannya. Lebih dari itu, ajakan tersebut juga tidak hanya semata untuk menjangkau tempat-tempat yang semakin luas, namun juga ke kedalaman hati tiap pribadi. Pewartaan tidak bisa tidak, harus sampai pada ketersentuhan hati masing-masing individu. Ketika
26 Yohanes Paulus II, Internet: Forum Baru Bagi Pewartaan Injil, Pesan Paus di hari Komunikasi Sedunia ke-36, (Vatikan, 24 Januari 2002).
27 Yohanes Paulus II, Internet: Forum Baru Bagi Pewartaan Injil.
28 Fransiskus, Komunikasi: Budaya Perjumpaan yang Sejati.
tiap individu mampu mengalami Allah yang hadir dan menyapa, disitulah pewartaan mendapatkan maknanya.
Dalam mewartakan Injil, sentuhan dan sapaan secara pribadi tetaplah menjadi hal utama, karena pewartaan akan lebih dipermudah dan pesan akan tertangkap dengan baik kalau ada dialog pribadi. Berdialog, mensyaratkan adanya keterbukaan dan kepercayaan satu dengan yang lain. Hal ini pulalah yang ditekankan oleh Paus Fransiskus dalam seruan apostoliknya Evangelii Gaudium
Dalam pewartaan ini, yang selalu penuh hormat dan lembut, langkah pertama adalah dialog pribadi, ketika orang lain berbicara dan mensharingkan kegembiraan, harapan dan keprihatinan akan orang-orang yang mereka kasihi, atau begitu banyak kebutuhan-kebutuhan lain yang dirasakan. Hanya sesudahnya dimungkinkan mewartakan sabda Allah…29
Paus Fransiskus menegaskan kepada Gereja bahwa pewartaan itu hendaknya juga memperhatikan situasi, kondisi dan kebutuhan mereka yang akan menerima pewartaan tersebut. Jelaslah pula, bahwa pewartaan Injil juga membutuhkan sebuah pendekatan yang sangat hati-hati, sekaligus sangat manusiawi.30 Dalam mewartakan Kerajaan Allah, Yesus juga senantiasa menggunakan pendekatan yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat. Lukas 9:10-17 menunjukkan bagaimana Yesus tidak saja mewartakan Kerajaan Allah dengan banyak kata-kata, tetapi Ia juga menyembuhkan yang sakit dan memberi mereka makan. Yesus memperhatikan kebutuhan dasar mereka sebelum Ia menyatakan Diri-Nya dan apa yang akan terjadi dengan-Nya.
29 Fransiskus, Evangelii Gaudium, art. 128.
30 Antonio Spadaro, Cybertheology, 3.
Berkaitan dengan pewartaan Injil melalui internet atau media sosial, perjumpaan dan sapaan dari pribadi ke pribadi juga harus mendapat perhatian. Paus Yohanes Paulus II menyatakan, “hubungan-hubungan melalui media elektronik tidak akan pernah bisa menggantikan kontak personal yang diperlukan dalam penginjilan yang sejati. Karena pewartaan Injil selalu tergantung pada kesaksian personal dari orang yang diutus untuk mewartakan (bdk. Rom 10:14-15)”.31 Meskipun komunitas-komunitas online dapat terbentuk dengan kuat dan baik, namun kehadirannya tetap tidak akan bisa menggantikan komunitas nyata dalam masyarakat. Komunitas dengan kontak dan perjumpaan pribadi tetap penting di tengah masyarakat yang semakin individualis.32 Paus menegaskan bahwa pewartaan bukan hanya soal bagaimana menyampaikan kabar sukacita sebagaimana Injil berbicara, namun lebih dari itu dituntut suatu keteladanan hidup dari sang pewarta. Kutipan tersebut menegaskan tetap diperlukannya sikap bijaksana dalam penggunaan internet dan media sosial. Hal ini penting dilakukan karena kesadaran bahwa internet dan media sosial secara radikal telah mengubah hubungan psikologis seseorang dengan ruang dan waktu.33
Banyak orang begitu masuk bahkan bersemangat dalam menjalin relasi di dunia maya.34 Mereka juga sangat antusias, percaya diri dan serius dalam berelasi dan membentuk komunitas-komunitas baru. Sebagai media komunikasi, internet dan media sosial memberikan begitu banyak tawaran informasi. Mulai dari yang
31 Yohanes Paulus II, Internet: Forum baru bagi Pewartaan Injil.
32 Dinesh D’Souza, “Online Communities cannot subtitue for real life community”, James. D. Torr, ed., The Information Age, 46-47.
33 Yohanes Paulus II, Internet: Forum baru bagi Pewartaan Injil.
34 John B. Horrigan, “The Internet Fosters Online Communities”, James. D. Torr, ed., The Information Age, 27.
suci sampai dengan yang berisi ‘sampah’ belaka, bahkan informasi palsu, semua ada di sana. Manusia hidup dalam suasana persebaran informasi yang tak jarang membuat cemas dan gaduh, bahkan mendatangkan kesedihan dan tanpa harapan.35 Karena begitu banyaknya dan seringnya berita-berita bohong bermunculan, orang bahkan sering tidak mengenali lagi mana yang benar dan yang tidak.36 Paus Fransiskus membongkar kecenderungan manusiawi dari tiap pribadi “Kemampuan untuk memelintir kebenaran merupakan fenomena yang melekat pada kemanusiaan kita, baik pribadi maupun masyarakat. Sebaliknya, manakala kita setia pada rencana Allah, maka komunikasi akan menjadi sarana efektif bagi pencarian kebenaran dan kebaikan secara bertanggungjawab.”37 Informasi begitu cepat beredar. Belum sempat orang membaca berita yang satu, sudah muncul berita yang lain. Orang pun cenderung untuk tidak membaca dengan cermat dan sungguh memahaminya.
Diantara berita-berita itupun, semakin merebak pula berita palsu. Untuk itu perlulah sikap diskresi dan kebijakan untuk memahami sebuah informasi. Yesus menegaskan “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat 5:37) Selain diskresi, sangat penting membangun komitmen untuk senantiasa mencari kebenaran dan mengutamakan perdamaian.38
35 Kapitel Provinsi 2017, 55-57.
36 Paus Fransiskus, “Kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32), Berita Palsu dan jurnalisme perdamaian.
37 Paus Fransiskus, “Kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32), Berita Palsu dan Jurnalisme Perdamaian.
38 Paus Fransiskus, “Kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32), Berita Palsu dan Jurnalisme Perdamaian.
Para suster CB dipanggil secara khusus untuk mewajudkan perdamaian dan kebenaran dalam bermedia sosial. Penyerahan diri kepada Allah yang telah dihidupi para suster CB menjadikannya semakin hidup dalam Roh yang senantiasa membimbing dan mengarahkan pada kebenaran.39 Para suster CB diundang senantiasa setia berdiskresi, sehingga semakin tegas pula dalam mengambil sikap.40 Bunda Elisabeth telah membuktikan perlunya ketegasan sikap dalam berdiskresi.
“Tetapi kujawab si penggoda yang membisikkan pikiran kepadaku untuk menakut-nakuti bahwa aku akan diomong-omongkan… kujawab kepadanya dalam batinku bahwa ini hanya kulakukan demi cinta Allah…”41 Dengan kesetiaan untuk berdikresi, para suster CB didorong untuk menjadi pioneer yang membawa kebenaran ditengah-tengah merebaknya berita-berita hoaks. Dari kutipan tersebut, Bunda Elisabeth juga menegaskan, bahwa satu-satunya motivasi bagi para suster CB dalam melakukan segala sesuatu adalah demi cinta Allah.
Pengalaman akan Allah telah menyentuh, memanggil dan menggerakkan hati Bunda Elisabeth untuk mengabdi Tuhan dengan tulus ikhlas dan sempurna.42 Pengalaman kehadiran Allah yang dialami Bunda Elisabeth lahir karena kedekatan relasi yang senantiasa dipeliharanya dengan hidup doa dan matiraga.43 Bunda Elisabeth dalam siatuasi apapun senantiasa memupuk hidup rohaninya. Melihat hasil penelitian yang menunjukkan bahwa para suster CB masih memelihara hidup rohaninya dengan cukup baik, tentulah menjadi dasar yang baik untuk dapat
39 Yoh 16:13.
40 Konstitusi CB no. 51.
41 Elisabeth G. 117.
42 Pierre Humblet, Renungan tentang Spiritualitasnya, 4-5.
43 Tom Jacobs, Hidup Membiara Elisabeth Gruyters, 35-36.
mewartakan sukacita Injil dengan baik pula. Di tengah perkembangan internet dan media sosial, para suster CB secara khusus ditantang untuk terus memupuk hidup rohaninya, sehingga mampu menjadi pewarta kabar gembira bagi masyarakat zaman ini.44 Dengan menghayati kaul-kaulnya, para suster CB didorong untuk semakin terbuka menerima setiap pribadi dengan segala keunikannya. Sikap terbuka dan melihat orang lain secara positif memampukan para suster untuk membangun komunitas kasih baik online maupun nyata yang efektif. Dengan demikian, para suster pun akan semakin mampu untuk pergi keluar ke tempat-tempat terpinggirkan.45
4.2 EVANGELISASI SEBAGAI WUJUD PENYERAHAN DIRI PARA