BAB I : PENGARUH PEMANFAATAN INTERNET DAN MEDIA
2.4 Karya Kerasulan dan Evangelisasi Kongregasi
Allah adalah pusat kehidupan Bunda Elisabeth yang membentuknya menjadi seorang suster Cintakasih. Dalam tradisi Kongregasi, hal ini tidak hanya berarti “menjadi seorang yang mendedikasikan dirinya kepada karya-karya karitatif”, melainkan “menjadi seorang wanita yang diresapi oleh kasih-Nya”.184 Kasih yang telah meresapi Elisabeth Gruyters itu pula yang menggerakkan para suster CB dalam mengemban tugas perutusannya. Karya perutusan Kongregasi sebagaimana telah dirumuskan dalam Konstitusi tidak lepas dari karya Gereja.
Dengan menyerahkan diri kepada Tuhan dalam Kongregasi ini, secara khusus kita mengambil bagian dalam perutusan Gereja sebagai sakramen keselamatan. Sebab itu, kita menerima perutusan untuk menjadi tanda cintakasih serta memberi kesaksian bahwa Kerajaan Allah sudah datang di tengah-tengah kita: pergilah dan wartakanlah bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit, bangkitkanlah orang mati, bersihkanlah orang kusta dan usirlah setan. Kamu telah memperoleh dengan cuma-cuma, maka berikanlah dengan cuma-cuma (Mat 10:7-8).185
Dari Konstitusi no 40 tersebut, Kongregasi CB menyadari panggilannya di tengah masyarakat untuk ambil bagian dalam tugas perutusan Gereja setempat.
182 Elisabeth G. 98, 101 dan 102.
183Konstitusi, no. 55.
184Kapitel Umum 2011, 45.
185Konstitusi, no. 40.
Kongregasi juga dipanggil untuk menjadi tanda cintakasih Allah kepada dunia.
Bertolak dari panggilan ini, Kongregasi dari waktu ke waktu mencoba untuk menerjemahkannya dalam situasi konkret masyarakat yang dihadapi. Kongregasi juga menyadari bahwa di tengah dunia yang terus berubah dan berkembang dari waktu ke waktu, perlulah bagi Kongregasi untuk melihat kembali tugas perutusan yang diembannya, sehingga dapat sungguh menjawab tantangan zaman.
Konstitusi no. 31 menegaskan bagaimana Kongregasi bertanggungjawab atas jenis pelayanan yang sesuai. “Kongregasi bertanggung jawab atas pilihan jenis pelayanan yang paling sesuai dengan perutusannya dan yang cocok dengan kebutuhan yang senantiasa berubah dalam Gereja dan dunia.” Dari pernyataan tersebut dapat ditangkap bagaimana Kongregasi menyadari akan segala perubahan yang terjadi dalam Gereja dan masyarakat dari waktu ke waktu. Kongregasi diajak untuk secara kreatif mencari bentuk-bentuk pelayanan yang sesuai di tengah dunia yang sedang berkembang dengan berbagai teknologi komunikasi ini.186
Dalam dunia yang terus melaju dengan berbagai kemajuan teknologi, pentinglah untuk kembali kepada cita-cita pendiri. Menghadapi kemajuan teknologi, orang dituntut sikap kritis untuk memilih dan memilah, sekaligus perlunya iman yang dalam sehingga tidak terhanyut oleh arus duniawi187. Di sinilah cita-cita itu bergema kembali dan perlu tanggapan yang serius dalam menanggapinya. Di tengah hiruk pikuk manusia yang tak jarang mempertanyakan iman dan keberadaan Tuhan dalam hidupnya, kepercayaan dan cita-cita Elisabeth Gruyters akan Kerajaan Allah memanggil Kongregasi untuk menghidupi kembali
186 Kapitel Provinsi 2017, 91-92
187 Francino Hariandja, Kongregasi Carolus Borromeus Mengarungi Zaman, 330-332.
semangat pendiri. Diilhami oleh semangat pendiri, para suster diajak untuk melanjutkan pelayanan dan kerasulannya dalam mewartakan Kabar Gembira kepada semua orang demi keselamatan jiwa-jiwa mereka.188 Untuk itu, dibutuhkan integritas kehidupan rohani yang memampukan para suster menjadi pengubah Kabar Gembira dalam hidup sehari-hari.189 Integritas kehidupan rohani yang dimaksud adalah bagaimana para suster memelihara jati diri sebagai suster CB. Panggilan itu tidak lepas pula dari situasi konkret dunia saat ini dan dalam persekutuan dengan Gereja. Dalam Gaudium et Spes. Art. 40 dikatakan bahwa:
Gereja itu mempunyai tujuan penyelamatan dan eskatologis, yang hanya dapat tercapai sepenuhnya di zaman yang akan datang.
Adapun Gereja sudah ada di dunia ini, terhimpun dari orang-orang yang termasuk warga masyarakat dunia (...) Mereka dipanggil, supaya (...) dalam sejarah umat manusia ini sudah membentuk keluarga putra-putri Allah, yang terus menerus harus berkembang hingga kedatangan Tuhan. (...) Gereja, sekaligus kelompok yang nampak dan persekutuan rohani, menempuh perjalanan bersama dengan seluruh umat manusia dan bersama dengan dunia mengalami nasib keduniaan yang sama. Gereja hadir ibarat ragi dan bagaikan penjiwa masyarakat manusia yang harus diperbarui dalam Kristus dan diubah menjadi keluarga Allah (...)melalui para anggotanya (...) lebih memanusiawikan keluarga manusia beserta sejarahnya.
Konsili Vatikan II mengajak untuk melihat secara positif berbagai kemajuan duniawi yang ada. Namun Gereja juga menyadari adanya bahaya bagi orang yang hidupnya dikuasai oleh berbagai kemajuan tersebut. Manusia menjadi seperti mesin. Inilah kiranya menjadi jelas seruan Gereja untuk lebih memanusiakan manusia dan sejarahnya. Hal ini kiranya menjadi panggilan
188 Kapitel Umum 2011, 45.
189 Kapitel Umum 2011, 45.
Kongregasi pula sehingga apa yang menjadi cita-cita pendiri tentang Kerajaan Allah dan kemuliaan Tuhan diabdi, sungguh terwujud di dunia masa kini190.
Kekaburan nilai, disorientasi nilai dan kemerosotan moral dalam masyarakat menjadi keprihatinan Kongregasi saat ini.191 Untuk itu, hidup yang berkualitas semakin menjadi tuntutan bagi Kongregasi bila hendak membangun masyarakat dan dunia dengan dinamika perubahan yang serba cepat dan tidak memberi peluang untuk berpikir kritis, reflekstif dan diskretif.192 Lebih lanjut, kapitel menyadarkan bahwa kualitas hidup diperlukan mengingat perkembangan teknologi dan kemajuan zaman yang membentuk manusia menjadi budak teknologi. Dengan hidup yang berkualitas, para suster CB diajak untuk menyikapi perkembangan zaman saat ini. Hidup berkualitas itu sendiri adalah hidup dengan meneladan Yesus yang penuh kasih dan belarasa.193 Kasih meliputi integritas antara kehadiran dan tindakan; afeksi dan keterikatan pribadi; penyembuhan dan pembebasan. Sementara belarasa adalah tanpa syarat dan bertindak sebagai sesama bagi yang lain.194
Dengan kualitas hidup yang bersumber dari relasi dengan Yesus sendiri, Kongregasi dipanggil untuk memberi kesaksian lewat hidup dan berbagai karyanya. Lewat hidup dan berbagai karya yang diemban, Kongregasi didorong untuk mewartakan kasih kerahiman dan belarasa Allah.195 Di tengah pudarnya nilai-nilai kehidupan, Kongregasi ditantang untuk menjadi pioneer dalam
190 Francino Hariandja, Kongregasi Carolus Borromeus Mengarungi Zaman, 327.
191 Kapitel Provinsi 2011, 30-32.
192 Kapitel Provinsi 2011, 30-32.
193 Kapitel Provinsi 2011, 21.
194 Kapitel Provinsi 2011, 21.
195 Kapitel Provinsi 2011, 21.
menawarkan budaya tanding, yaitu budaya hati. Ketika dunia memandang rendah martabat hidup seseorang, Kongregasi dipanggil untuk membawa kehidupan yang adalah anugerah Allah. Demikianlah panggilan dan perutusan Kongregasi senantiasa diperbaruhi sesuai dengan konteks zaman, namun demikian, semangat dan api cinta Elisabeth Gruyters yang sama, senantiasa memberi roh yang baru.
Menanggapi tantangan zaman yang semakin marak dengan perkembangan teknologi, mengingatkan para suster akan pesan Yesus dalam Injil Matius 10:16
“Lihat Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah srigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”. Dalam kesederhanaan hidup dan kegembiraan, Kongregasi diajak untuk mewartakan Kristus kepada dunia. Demikianlah dalam ketulusan hati, namun juga diskresi, Kongregasi diajak untuk menjumpai mereka yang menderita dan tersisih.196