• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : EVANGELISASI LEWAT INTERNET DAN MEDIA SOSIAL

4.3 Para Suster CB Menjelmakan Wajah Kasih Allah di Tengah

Hasil penelitian yang menunjukkan masih konsistennya para suster dalam membangun hidup rohani menjadi motivasi bagi para suster dalam keterlibatannya menjelmakan wajah kasih Allah kepada dunia. Kedekatan relasinya dengan Allah yang penuh kasih dalam hidup doa dan kontemplasi yang terus dibangun, mengundang para suster untuk ikut serta mewartakan kasih Allah kepada sesama.

Keterlibatan para suster CB sebagai perempuan dalam mewartakan Injil, kiranya mendapat tempat yang khas. Keterlibatan kaum perempuan dalam kehidupan Gereja semakin terbuka dan berkembang. Hal ini ditegaskan oleh Paus Fransiskus yang secara khusus menyapa kaum perempuan untuk terlibat aktif dalam karya Gereja, terlebih dalam pewartaan. “Gereja mengakui sumbangan yang sangat dibutuhkan dari kaum perempuan kepada masyarakat melalui kepekaan, intuisi dan serangkaian keterampilan istimewa lainnya yang biasanya lebih daripada laki-laki, mereka miliki.”80 Paus Fransiskus secara khusus mendorong kaum perempuan untuk melibatkan diri dalam pewartaan dengan kekhasan yang dimiliki.

Perempuan menjadi bagian dari kelompok marginal.81 Dalam tradisi Yahudi, ada perbedaan perlakuan yang jelas antara perempuan dan laki-laki. Dalam kewajiban religius, perempuan diperlakukan sama dengan budak dan anak-anak.

Kesaksian mereka tidak akan dianggap dan dipercaya. Kedatangan Yesus memberi harapan baru secara khusus bagi orang-orang yang terpinggirkan, termasuk kaum

80 EG. 103.

81 Iswanti, Perempuan dan Kekuasaan dalam Gereja Katolik, (Seri Pastoral Yogyakarta, no 2, 2002), 16.

perempuan. Yesus dalam banyak kesempatan menunjukkan kepedulian dan cinta yang istimewa terhadap kaum perempuan.82 Injil Lukas menjadi Injil yang paling banyak berbicara tentang kaum perempuan. Lukas 8:1-3 mengisahkan para perempuan yang setia mengikuti Yesus dalam pelayanannya. Kisah Maria dan Marta dalam Lukas 10:38-42 memberi gambaran tentang dua model pelayanan dalam Gereja yang dapat dilakukan oleh kaum perempuan. Dua model pelayanan yang sebenarnya saling melengkapi. Namun demikian, peran yang dilakukan oleh Maria, seringkali lebih banyak mendapat tanggapan positif.83 Yesus pun seakan menegaskannya dengan mengatakan “Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya.” (ay. 42) Yesus tidak menegur Maria yang tidak membantu saudaranya, tetapi justru menegur Marta yang sibuk dengan banyak perkara.

Perkembangan internet dan media sosial, secara tidak langsung membentuk manusia-manusia yang super sibuk.84 Namun demikian, perlu diakui bahwa kesibukan itu seringkali untuk hal-hal yang tidak penting. Kisah Maria dan Marta menjadi inspirasi dalam menegaskan panggilan kaum religius, khususnya perempuan di zaman ini. Perempuan memiliki kecenderungan dan godaan untuk bersibuk-sibuk dengan banyak hal yang tidak penting. Seakan mengamini berbagai setereotip yang diberikannya, perempuan lebih memilih tempat di belakang layar, di dapur dan menghindari kegiatan yang membutuhkan pemikiran dan pengambilan

82 Fran Porter, It will not Be Taken Away From Her, A Feminist engagement with women’s Christian experience, (London: Darton Longman Todd, 2003), 5-7.

83 Fran Porter, It will not Be Taken Away From Her, 5-6.

84 Deborah C. Sawyer, “The Internet Harm Society”, the Information Age, 34-38.

keputusan.85 Teguran Yesus kepada Marta menjadi sapaan bagi kaum religius perempuan untuk berani mengambil bagian yang lebih penting, yaitu yang telah dipilih Maria. Maria memilih untuk diam, tinggal di dekat Yesus dan mendengarkan Dia. Yesus kembali menegaskan bahwa hanya satu saja yang perlu dilakukan yaitu tinggal di dekat-Nya dan mendengarkan suara-Nya.86 Pewartaan Injil akan berbuah lebat dan memenuhi makna terdalamnya hanya jika sang pewarta senantiasa mampu berdiam diri dekat dengan Yesus dan mendengarkan suara-Nya.87

Panggilan ini secara khusus juga bergema dalam diri para suster CB sebagai murid perempuan Yesus Kristus untuk lebih aktif melibatkan diri dalam karya Gereja, terutama dalam pewartaan.88 Paus Fransisikus mengakui kecerdasan kaum perempuan yang dibutuhkan dalam membangun Gereja. “Kecerdasan kaum perempuan dibutuhkan dalam semua bentuknya untuk kehidupan masyarakat, dan karena kehadiran mereka di tempat kerja mesti juga dijamin.”89 Panggilan ini menjadi saat yang penting bahwa Gereja semakin terbuka dan menyadari peran penting kaum perempuan untuk bersama-sama melaksanakan tanggung jawabnya bagi perkembangan Gereja. Kaum perempuan tidak saja dianggap sebagai “konco wingking” melainkan rekan kerja yang sepadan yang bahkan mampu memberikan sumbangan baru pada refleksi teologis.90 Dengan berbagai upaya, para suster CB

85 Simone de Beauvoir, Second Sex, Fakta dan Mitos, (Surabaya: Pustaka Promethea, 2003), 79-81.

86 Fran Porter, It will not Be Taken Away From Her,7.

87 Mary Paul Ewen, Silvia Vallejo, P. Paul Molinari, “Dasar dan Ciri-ciri Hidup Religius Apostolis”, 59-61.

88 Kapitel Provinsi 2005, 16-19.

89 EG. Art. 103.

90 EG. Art. 103.

pun mencoba untuk memenuhi panggilan ini sesuai dengan tantangan dan peluang yang ada di masa generasi internet ini. 91

Kapitel tahun 2011, Kongregasi mengambil tema kesadaran diri sebagai murid perempuan Yesus Kristus. Secara khusus Kongregasi merefleksikan keteladanan iman dari perempuan yang dibebaskan oleh Yesus dari belenggu penyakitnya yang sudah diderita selama 18 tahun (Luk 13:10-17). Pengalaman dibebaskan dari penyakit mendorongnya untuk memuliakan Allah dalam iman.

Pengalaman inilah yang membawa para suster pada ingatan akan pengalaman Bunda Elisabeth pendiri Kongregasi yang selama 15-16 tahun merindukan sebuah biara di Maastricht, dimana Tuhan diabdi dengan tulus ikhlas dan keselamataan sesama dipentingkan.92 Pengalaman ini menunjukkan sebuah kerinduan untuk menjelmakan wajah kasih Allah kepada orang-orang Maastricht yang saat itu mengalami kerusakan hidup dan moral.93 Bermula dari kerinduan inilah Kongregasi CB ada dan sampai kini masih terus berkarya. Penantian yang panjang ini sekaligus menunjukkan kedalaman imannya dan kesetiaan Allah menyertai pergulatan umat-Nya. Kedalaman iman yang memberi inspirasi bagi para suster CB untuk percaya pada penyelenggaraan Ilahi. Pengalaman iman inilah yang perlu untuk dilahirkan dan disampaikan kembali kepada orang-orang lain. Para suster merefleksikan bahwa dalam perjalanannya seringkali mengalami seperti wanita bungkuk dalam Injil tersebut. Untuk itu perlulah setiap kali kembali kepada Yesus, tinggal di dekat-Nya dan mendengarkan suara-dekat-Nya,94 sehingga kerinduan mereka akan

91 Kapitel Provinsi 2017, 4-5.

92 Kapitel Umuum 2011, 5-6.

93 Pierre Humblet, Renungan tentang Spiritualitasnya, 13-14.

94 Elisabeth Gruyters. 140.

didengarkan-Nya. Para Suster CB, perempuan murid Yesus Kristus, dengan kelembutan yang khas, yang dianugerahkan kepadanya, dan keterbukaan hati seperti seorang ibu,95 diharapkan mampu menjelmakan wajah kasih Allah yang dibutuhkan orang-orang zaman ini.96

LG.1 menegaskan “Gereja itu dalam Kristus bagaikan sakramen yakni tanda

dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia.”

Lumen Gentium menegaskan kepada seluruh umat kristiani bahwa panggilan untuk mewartakan kasih Allah adalah panggilan setiap orang kristiani yang telah mengalami disentuh oleh-Nya. Dengan menjelmakan, mengkomunikasikan kembali wajah kasih Allah, Gereja menjadi sakramen bagi dunia. Kasih Allah yang telah menyentuh dan menggerakkan umat manusia menjadi dasar dari komunikasi Gereja kepada seluruh umatnya.97 Pengalaman disentuh oleh Allah inilah yang sekaligus akan memberi daya untuk bersaksi, mengatasi segala kelemahan dan keterbatasan manusiawi yang dimiliki. Paus Fransiskus juga menegaskan “Kita semua dipanggil untuk memberikan kesaksian eksplisit kepada sesama tentang kasih Allah yang meneyelamatkan, yang meskipun kita tidak sempurna, menawarkan kepada kita kedekatan-Nya, sabda-Nya, dan kekuatan-Nya, serta memberi makna kepada hidup kita.”98

Paus Yohanes Paulus II turut mendesak bahwa internet bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk mencapai tujuan, yang tidak lain adalah menampilkan wajah Kristus. Hanya dengan menampilkan wajah Kristus dan memperdengarkan

95 EG. Art. 46.

96 Kapitel Umum 2011, 47.

97 Antonio Spadaro, Cybertheology, 48-49.

98 EG. Art. 20.

suara-Nya, maka dunia akan mengetahui kabar gembira dari penebusan-Nya.99 Paus mendesak seluruh umat beriman untuk berpartisipasi lewat kesaksian hidupnya menampakkan kasih Allah kepada semua orang. Untuk mewartakan wajah kasih Kristus di tengah dunia yang sibuk dengan berbagai perkembangan teknologi ini diperlukanlah cara yang tepat, sehingga dapat mengena sasaran yang dituju. Paus Benediktus XVI menyampaikan:

Kesaksian Kristiani yang efektif bukanlah tentang mencekoki orang-orang dengan pesan-pesan agamawi, tetapi tentang kerelaan kita untuk siap sedia bagi orang-orang lain “dengan menanggapi secara sabar dan penuh hormat pertanyaan-pertanyaan dan keragu-raguan yang mereka ajukan guna mencari kebenaran dan makna keberadaan manusiawi”100

Dalam konteks ini, para suster CB diajak untuk melahirkan kembali, menghadirkan, menyampaikan dan mengkomunikasikan kasih Allah yang telah dialaminya kepada orang-orang yang dijumpai dan dilayani. Para suster CB dengan segala karya perutusan dan pergulatan hidupnya sehari-hari menjelmakan wajah kasih Allah kepada sesama. Dengan hidup rohani yang terus dibangun sebagaimana nampak dalam penelitian akan menjadi sumber kekuatan bagi para suster dalam menjelmakan wajah kasih Allah. Pengalaman akan kasih Allah yang ditangkap dan dialami para suster dalam hidup sehari-hari yang kemudian dijelmakan atau dikomunikasikan kembali lewat karya perutusan dan kesaksian hidupnya. Pada kesempatan yang sama, Paus juga menyebutkan bahwa undangan yang paling menarik ialah undangan Nabi Zefanya, yaitu menghadirkan Tuhan dengan

99 Yohanes Paulus II, Internet: Forum Baru bagi Pewartaan Injil, 6.

100 Benediktus XVI, Jejaring Sosial pintu kebenaran dan Iman, Ruang Baru untuk Evangelisasi, Pesan Paus di Hari Komunikasi sedunia ke 47, (Vatikan, Januari 2013).

Nya di tengah-tengah perayaan yang berlangsung dengan sukacita keselamatan.101 Undangan untuk menghadirkan Tuhan di tengah umat-Nya inilah yang dilakukan para suster CB di tengah kemajuan teknologi, secara khusus teknologi komunikasi.

Pertanyaannya, wajah kasih Allah yang seperti apakah yang kiranya hendak dilahirkan, dihadirkan kembali dan disampaikan oleh para suster CB? Wajah kasih Allah yang nampak dalam kasih belarasa dan tanpa syarat Yesus Tersalib.

Kasih belarasa dan tanpa syarat dari Yesus Tersalib merupakan kharisma Elisabeth Gruyters, pendiri Kongregasi CB.102 Kasih belarasa dan tanpa syarat dari Yesus Tersalib ini pula yang menjadi inti dari spiritualitas kongregasi CB. Dalam seluruh hidup, gerak dan keberadaannya, para suster CB mencoba untuk meneladan kasih belarasa dan tanpa syarat dari Yesus Tersalib ini.103 Meneladan yang berarti meniru atau mencontoh, kiranya juga mengandung maksud menghayati, menghidupi dan membawakannya kepada orang lain. Melalui kaul-kaulnya, karya dan pewartaannya para suster CB diajak untuk semakin hari semakin mampu meneladan kasih belarasa dan tanpa syarat dari Yesus Tersalib. “Keradikalan Injili tidak hanya bagi para biarawan-biarawati… tetapi para religius mengikuti Tuhan dengan cara istimewa, dengan cara kenabian… Para religius haruslah orang-orang yang mampu membangunkan dunia.”104 Hal ini menjadi dorongan dan sekaligus desakan untuk menanggapi dengan segera memberi kesaksian kabar sukacita di tengah dunia saat ini.

101 EG. Art. 4.

102 Kapitel Umum 1999, 54.

103 Pierre Humblet, Renungan tentang Spiritualitasnya, 34.

104 Fransiskus, Bersukacitalah, 1.

Kasih Allah kepada manusia nampak dari sejak awal Ia menciptakan manusia. Ia menciptakan manusia sesuai dengan gambar-Nya (Kej 1:26), yang artinya manusia dipercaya untuk “membawa wajah kebaikan Allah”.105 Selanjutnya, Allah menegaskan kasih penyertaan-Nya dalam hidup manusia dengan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya (Kej 2:7). Kepada perempuan yang diciptakan-Nya, Allah memberi dia nama Eva yang berarti hidup.

Hal ini menegaskan bahwa sejak semula perempuan secara khusus dipanggil untuk membawa kehidupan.106 Ketika manusia yang ditempatkan-Nya di taman Eden, jatuh dalam dosa, Allah kembali menunjukkan belas kasih-Nya dengan membuatkan baju dan mengenakannya pada mereka (Kej 3:21)107. Allah mendadani kehidupan manusia dan membuatnya layak untuk mengalami kemuliaan Allah.

Yesus Kristus adalah kepenuhan penebusan Allah108. Dalam Kitab Suci pun, nampaklah bagi kita bahwa Bapa mengutus Putera untuk mewahyukan dan menyelamatkan dunia (Yoh 3:17)109. Dalam Kristus, kita menerima Sabda, bukan dalam kata-kata, melainkan Sabda yang menjelma menjadi manusia. Yoh 3:12 juga

105 Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, 95-96.

106 Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, 96-97.

107 “Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk istrinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.” Peristiwa ini menjadi begitu penting megingat apa yang dilakukan manusia setelah mereka makan buah dari pohon yang dilarang Tuhan, mereka mengetahui bahwa mereka telanjang. Kemudian mereka mencoba untuk menyemat daun pohon ara dan membuat cawat (Kej 3:7). Kedosaan mereka, membuat mereka merasa malu dan takut kepada Tuhan, untuk itu mereka mencoba menutupinya. Namun, di hadapan Tuhan tidak ada yang tersembunyi. Ketelanjangan mereka tetaplah terbuka di hadapan Allah. Allah membuatkan pakaian dan mengenakannya kepada mereka, menunjukkan bahwa Allah sendiri yang sanggup untuk meneyelamatkan manusia (mengahapus dosa mereka). Allah sendiri yang sanggup memulihkan kembali hubunganNya dengan manusia yang telah rusak akibat dosa manusia.

108 G.A. Maloney, Called to Intimacy, 47.

109 JB. Banawiratma, ed., Kristologi dan Allah Tritunggal, 75-77.

memberi gambaran kepada kita bahwa hanya Yesuslah yang diutus Bapa ke dunia, Dialah wahyu Allah yang hadir di antara manusia110. Allah yang dalam keagungan-Nya mencintai manusia dengan cara manusia. Iman Gereja akan hal ini dikatakan dengan Quod non est assumptum, non est sanatum (apa yang tidak ditanggung/diterima, tidak diselamatkan)111. Dengan kalimat tersebut ingin diungkapkan bahwa hanya dengan mengalami diri sebagai manusia, Yesus yang menanggung dalam diri-Nya kemanusiaan kita, sanggup pula menyelamatkan dan mengangkat manusia kepada keilahian-Nya112. Penjelmaan-Nya menjadi manusia lemah, menjadi jalan bagi kita untuk mengetahui dan mengenal Bapa secara lebih dekat dan nyata113. Dalam Yesus, kita dapat melihat Bapa (Yoh 14:9) dan kasih-Nya nyata di tengah hidup manusia114. Jelaslah bahwa cinta Allah kepada manusia adalah inisiatif dari Allah yang menghendaki keselamatan manusia. Allah memberikan Putera-Nya agar dunia mengalami kasih-Nya dan hidup berkelimpahan di dalam Dia. Jatuhnya manusia dalam dosa membawa akibat pada kebinasaan seluruh bangsa manusia. Oleh karena itulah, Putera Allah diutus menjadi manusia untuk menghasilkan re-kreasi, penciptaan manusia kembali menjadi baru115. Dengan demikian, jelaslah bagi kita bahwa karya penciptaan Allah berlangsung terus menerus hingga saat ini. Penciptaan itu terlebih lagi dapat kita

110 C. Groenen, Soteriologi Alkitabiah, 193.

111 E. Martasudjita, Mencintai Yesus Kristus, 98.

112 E. Martasudjita, Mencintai Yesus Kristus, 98-99.

113 G.A. Maloney, Called to Intimacy, 14.

114 Benediktus XVI, Deus Caritas Est, art. 17.

115 N. Syukur Dister, Teologi Sistematika, jilid 2, 52. “Apa yang telah binasa itu mempunyai daging dan darah. Sebab Tuhan mengambil debu tanah dan membentuk manusia; dan demi untuk dialah diselenggarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan kedatangan Tuhan. Itulah sebabnya Ia sendiripun mempunyai darah dan daging, sambil merekapitulasi di dalam diri-Nya bukan salah satu karya tangan yang lain melainkan karya tangan Bapa yang asli, dan sambil mencari apa yang telah binasa itu” (melawan bidaah, V, 14, 2).

alami setiap hari dalam ekaristi. Dalam ekaristi, Allah mendamaikan manusia melalui Yesus Putera-Nya dan tidak lagi memperhitungkan dosa manusia (2Kor 5:18). Cinta Allah kembali dilukiskan dalam ekaristi dimana Ia senantiasa membaharui karya penyelamatan-Nya116. Karya keselamatan Allah dalam ekaristi membawa manusia untuk senantiasa dibarui dan dilahirkan kembali sebagai manusia yang telah ditebus. Wafat Kristus di salib yang dikenangkan dalam ekaristi telah membawa hidup baru bagi manusia. Pengosongan diri Yesus di salib menjadi persembahan cinta-Nya yang terus dikenangkan dalam ekaristi dan sekaligus menjadi simbol kekuatan cinta Allah kepada manusia117. Memberi hidup baru bagi manusia dalam kesatuan dengan Bapa dan Roh Kudus bagi manusia inilah tugas perutusan Putera.

Kehadiran Allah dalam rupa manusia (Yesus), terlebih lagi memberikan keteguhan kepada manusia untuk senantiasa berharap pada Allah.118 Kehadiran-Nya untuk menjumpai dan menyapa manusia dengan bahasa manusia menunjukkan kasih-Nya yang total dan tanpa syarat kepada manusia. Peristiwa inkarnasi sekaligus menunjukkan konsistensi Allah dalam mencintai manusia, supaya manusia mengalami keselamatan. Allah turut berjalan bersama dengan umat-Nya, Ia selalu hadir dalam pergumulan hidup manusia dan Ia menegaskan Diri-Nya sebagai Allah yang mengatasi surga dan bumi.119 Kehadiran yang penuh kasih itu sekaligus menjadi belarasa-Nya kepada manusia yang rapuh. Allah rela berbelarasa dengan manusia dalam segala kelemahan (kecuali dalam hal dosa) dan pergulatan

116 G.A. Maloney, Called to Intimacy, 42.

117 G.A. Maloney, Called to Intimacy, 37.

118 Christoph Cardinal Schonborn, God Sent His Son, A Contemporary Christology, 111-113.

119 Christoph Cardinal Schonborn, God Sent His Son, A Contemporary Christology, 111.

hidup manusia sehari-hari. Dalam diri Yesus terpenuhilah belarasa Allah yang rindu untuk menyelamatkan manusia.

Kasih belarasa Yesus telah ditunjukkan-Nya dari sejak semula Ia menanggapi perutusan Bapa.120 Berbagai karya penyembuhan dan mukjizat yang dilakukan-Nya, tak lain karena kasih-Nya dan sekaligus sebagai misi-Nya mewartakan karya penyelamatan Bapa. Dalam setiap kehadiran-Nya, Yesus menunjukkan kasih-Nya yang tanpa syarat kepada manusia. 121 Belarasa Yesus mengalami puncaknya di kayu salib. Dalam peristiwa menyedihkan, mengharukan, dan mencekam itu menggambarkan kegagalan manusia menangkap kasih belarasa Allah melalui Yesus, namun sekaligus menunjukkan totalitas Allah dalam mencintai manusia.122 Ia ingin menyelamatkan manusia dengan cara yang konkret, yang dapat ditangkap oleh manusia.

Dalam peristiwa salib, nyatalah bahwa Allah tidak tinggal diam melihat penderitaan manusia. Peristiwa salib menjadi peristiwa ‘inkarnasi Cinta Allah”.123 Kasih Allah senantiasa dijelmakan dan diperbarui dalam perjalanan hidup manusia.

Allah tidak pernah meninggalkan manusia sendirian dalam pergulatannya, sebagaimana Ia tidak meninggalkan Yesus sendirian di salib. Salib menampilkan keindahan kasih Bapa dan Putera, dimana Bapa turut merasakan sengsara Yesus Sang Putera.124 Kasih Allah juga nampak dalam kerahiman-Nya. Yesus senantiasa mencari yang hilang dan tersesat.125 Kasih kerahiman-Nya memampukan-Nya

120 Christoph Cardinal Schonborn, God Sent His Son, A Contemporary Christology, 56-58.

121 Roger Haight, Jesus Symbol of God, 111.

122 Fabianus S. Heatubun, “Salib: Titik Temu Garis Amor Fati-Amor Dei”, 94-95.

123 Fabianus S. Heatubun, “Salib: Titik Temu Garis Amor Fati-Amor Dei”, 93.

124 Fabianus S. Heatubun, “Salib: Titik Temu Garis Amor Fati-Amor Dei”, 93-94.

125 Fransiskus, Misericodiae Vultus, 14-15.

untuk membaca hati orang-orang yang dijumpai-Nya dan menanggapi kebutuhan terdalam manusia, terlebih mereka yang terpinggirkan.126 Kasih Allah tidak saja memanggil manusia untuk tinggal dalam kasih-Nya, tetapi juga mengundang umat-Nya untuk mewartakan kasih-umat-Nya lewat kata dan perbuatan. Kasih Allah mengundang manusia untuk turut serta melahirkan kembali kasih Allah yang tersembunyi dalam kehidupan tiap insan.

Paus Fransiskus, dalam rangka merayakan tahun hidup bakti, secara khusus menyapa kaum religius untuk bersama-sama memberi kesaksian hidup kepada dunia, kepada mereka yang mencari rumah Tuhan, bahwa dalam hidup ini ada banyak alasan untuk bersukacita. Sukacita yang lahir dari pengalaman akan kasih Allah, kiranya tidak akan luntur oleh perkembangan zaman. Menyongsong Tahun Hidup Bakti Paus membuka suratnya dengan mengajak kaum religious mewartakan sukacita dengan menghayati kesetiaan panggilannya.

Dalam keterbatasannya sebagai manusia, dalam batas-batasnya, para anggota lembaga hidup bakti dalam perjuangan mereka sehari-hari, menghayati kesetiaan mereka, sambal memberikan alasan sukacita yang hidup dalam diri mereka. Dengan demikian mereka menjadi saksi gemilang, pewarta efektif, teman dan tetangga…yang ingin menemukan rumah Bapa dalam Gereja.127

Ajakannya untuk menampakkan wajah kasih Allah kepada dunia, tetaplah dalam kesadaran akan keterbatasan manusiawi masing-masing pribadi. Dalam keterbatasannya manusia ditantang untuk menangkap kasih Allah yang nyata dalam hidupnya, yang menjadi sumber dan alasan sukacitanya. Demikian pada peringatan hari orang miskin sedunia ia mengingatkan bahwa “Mengasihi tidak mempunyai

126 Fransiskus, Misericodiae Vultus, 14-15.

127 Fransiskus, Bersukacitalah, 1.

alibi. Kapanpun kita membagi kasih sebagaimana Yesus telah mengasihi, kita harus menjadikan Tuhan sebagai contoh; secara khusus ketika itu berkaitan dengan mengasihi orang miskin.”128 Para suster CB, sebagai suster-suster cintakasih, secara khusus dipanggil untuk menjelmakan wajah kasih Allah kepada mereka yang terpinggirkan.129 Identitas diri sebagai suster cintakasih, perlulah terus menerus menjadi kesadaran para suster CB yang dalam perjalanan waktu sering terlupakan.

Hal ini nampak dalam beberapa poin hasil penelitian. Para suster masih banyak yang mengalami pergulatan dalam hidup bersama, menerima sesama suster apa adanya atau pun menerima masukan sebagai bentuk cinta. Hal ini menunjukkan bahwa perlulah bagi para suster untuk fokus memandang Kristus sebagai arah dan tujuan hidup.130 Memandang Kristus yang Tersalib. Hal inilah yang dilakukan Bunda Elisabeth, sehingga ia selalu mampu mengarahkan hidupnya dan memperbarui cinta kasihnya pada Tuhan dan sesama. Di salib, wajah kasih Allah nampak nyata dan sempurna.131 Dengan berbagai cara Allah mengungkapkan diri-Nya supaya manusia dapat mengenali Dia dan menangkap kehadiran-diri-Nya. Dan Allah memilih salib Yesus sebagai cara Dia mengungkapkan Diri.132 Salib Yesus sekaligus menunjukkan bahwa Allah justru ditemukan pada tempat yang tidak terduga, dalam pengalaman kemiskinan, keterpecahan dan kegagalan manusia.133 Para suster CB didorong untuk menjadi alat Tuhan membantu sesama yang miskin,

128 Fransiskus, Marilah kita mengasihi bukan dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan, Pesan Paus di hari orang miskin sedunia, November 2017.

128 Fransiskus, Marilah kita mengasihi bukan dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan, Pesan Paus di hari orang miskin sedunia, November 2017.