• Tidak ada hasil yang ditemukan

HIRSCHSPRUNG DISEASE

Dalam dokumen ILMU BEDAH Fk Unsoed-libre (Halaman 69-81)

CHOLESYSTITIS AKUT

B. HIRSCHSPRUNG DISEASE

Ditemukan pertama kali lebih dari 50 tahun yang lalu. Insidensi : 1 dalam 5000 kelahiran hidup. 80 % laki-laki. Berhubungan dengan pola penurunan kromosom 10 pd beberapa pasien; RET- protooncogene; Autosomal dominan pada kasus dengan segmen usus yang total aganglionic.. Sering ditemukan pada Down syndrome.

Aganglionik segmen terbatas pada reltum dan kolon sigmoid pada 75% pasien. Dapat berlanjut ke arah proksimalnya pada 15-20% kasus. Mengenai seluruh kolon dan segmen ileum pada 8% kasus (namun sangat jarang). Pada kasus yang ekstrim dapat ditemuak segmen aganglionik pada keseluruhan traktus gastrointestinal.

Defek primernya adalah tidak ditemukannya sel ganglion intramural pada lapisan submucosal dan pleksus myenteric sebagai akibat adanya defek pada saat terjadinya migrasi dari prekusor sel ganglion di neural crest sampai usus. Tidak hanya mempengaruhi neuron kolinergik tapi juga non-adrenergik dan non kolinergik yang menggunaka nitrit-oxida sebagai substansi kimianya.

Tidak adanya inervasi parasimpatis menyebabkan tidak adanya gerakan peristaltik usus sehingga terjadilah konstipasi. Segmen kolon proximalnya menjadi hipertrofi

67

karena berusaha mncegah terjadinya obstruksi fungsional. Zona transisi terbentuk antara segmen usus yang aganglionik dan ganglionik.

Terjadinya kegagalan pada sphincter internal juga menyebabkan distensi rektal. Merupakan hal yang pathognomonic pada HD. Kadar Acetylcholine pada segment aganglionik lebih rendah daripada segmen ganglionik.

Zona transisi pd mid sigmoid colon

Segmen proksimal tampak lebih dilatasi dibanding distal

Diagnosis Klinis

Hanya 15% yang terdiagnosis pada bulan pertama kehidupan, 2/3 kasus terdiagnosis pada 3 bulan pertama kehidupan. Pada kasus ang ditemukan di usia yang lebih tua (5 tahun) biasanya bertipe ultra- short segment disease.

Gejala awal adalah kegagalan mengeluarkan meconium dalam 48 jam pertam kehidupan, malas menetek, muntah hijau, distensi abdomen, keadaan umum yang jelek. Kadang terjadi misdiagnosis dengan obstruksi pada mekonium ileus dan atresia ileus.

BAB cair ynag menyemprot, adanya dan distensi yang hebat menandakan adanya sudah terjadi enterocolitis.

68

Enterocolitis jarang terjadi (10%) pada bulan pertama kehidupan tapi frekuensinya meningkat sampai 33% pada bulan kedua dan ketiga. Diare merupakan gejala pada stadium yang sudah lanjut.

Pada RT adanya faeces yang menyemprot dan kanal recti teraba lebih sempit dengan tonus yang meningkat. Distensi abdomen tanpa sebab lain. Barium enema akan menunjukkan adanya segmen yang menyempit dengan segmen usus proksimalnya yang berdilatasi. Adanya retensi barium selama 24- 48 jam. Biopsi rektal adalah Gold Standar

(1) (2) (5)

(1)Foto Polos abdomen pada hari pertama kehidupan menunjukkan adanya segmen usus multipel yang berdilatasi. (2)Foto left lateral decubitus juga menunjukkan dilatasi segmen usus. (3) barium enema

Gambara PA tampak peningkatan kadar acetylcholinesterase (dicat lebih gelap) di lamina propria dan muscularis propria yang menunjukkan sel aganglionik Komplikasi

Perforasi intestinal perforation (umumnya di appendik); enterocolitis; Gizi buruk, gagal tumbuh, dan anemia. Intoksikasi air sebagai akibat penggunaan enema dengan air. Seharusnya digunakan normal saline; dehidrasi

Pembedahan

- Swenson - proctolectomy

- Duhamel -- pull-through (tarik terobos) posterior dengan anastomose side to

side pada rektum yang agangolionic

69

(1) Operative photograph showing a sleeve rectal mucosectomy being performed down to the anus. (2) Operative photograph shows the rectal mucosal sleeve everted and hanging from the anus onto the blue towel as well as the normal colon "pulled through" in preparation for anastomosis to the anus.

Komplikasi Post-operasi

Segera  kebocoran daerah anastomose; infeksi

Lambat  Obstruksi; Enterocolitis; inkontinensia

70 Definisi

(1)Deformitas yang disebabkan kegagalan penutupan sekunder (involusi) dari vena umbilikalis sehingga menyebabkan terbentuknya defek pada dinding abdomen di sebelah kanantali pusat. (2)Herniasi dari usus halus dan usus besar. (3)Usus halus terburai keluar berada dalam cairan amnion, menebal, dan edem.

Epidemiologi

Insidensi 1:10.000 kelahiran hidup. Malformasi kongenital yang jarang. Berhubungan erat dengan prematuritas dan cryptochirmus. Faktor Resiko

- 4x lebih sering pada usia ibu <

20 tahun

- Wanita hamil yang merokok

- Wanita hamil dengan depresi

dan gizi kurang

- Penggunaan obat-obatan:

aspirin, efedrin dan pseudoefedrin

Konsekuensi - Perivisceritis

- Short Bowel Syndrom

- Atresia intestinal

Diagnosis

- Sebelum Lahir: Hydramnion,

USG, kadar alfa-fetoprotein ibu yang meningkat

- Setelah lahir: terlihat usus yang

terburai Penatalaksanaan

- Segera setelah lahir, bungkus

dengan kassa basah larutan normal saline

- Tutup defek

- TPN 2-5 minggu sampai fungsi

usus normal kembali - Perawatan Post Natal

- Hitung kehilangan cairan

- Perhatikan asupan nutrisi:

Albumin

- Resiko infeksi: Antibiotik

- Penebalan segmen usus:

kerusakan karena cairan amnion, iskemik karena konstriksi dinding defek

- Inkubator: cegah hipotermi

- Kegagalan respirasi: ventilator

- sepsis

- Pembedahan

- Penutupan secara primer:

dengan atatu tanpa mesh Komplikasi

- Penurunan venous return

- Sindrom kompartemen abdomen

- Penurunan fungsi paru

- Gagal ginjal

- NEC

Prognosis

- 90% dapat sembuh sempurna

- Bila terdapat atresia intestinal

71 D. TUMOR GI TRACT ATAS

• Traktus gastrointestinal adalah

kumpulan sistem organ yang berfungsi utk menelan makanan,

mencerna makanan dan

mengeluarkan sisa hasil pencernaan.

• Pada orang dewasa normal, traktus

gi mempunyai panjang 6.5 meter dibagi menjadi bagian atas dan bawah.

• dpt juga dibagi menjadi foregut,

midgut dan hindgut sesuai dgn asal embriogeniknya

• traktus gastrointestinal atas

• traktus gastrointestinal atas terdiri

dari mulut, faring, esofagus dan gaster+duodenum.

• mulut terdiri dari mukosa buccal,

glandula salivarius, lidah dan gigi.

• di belakang mulut terdapat faring

yg akan berlanjut menjadi esofagus suatu organ berbentuk tabung dgn dinding muskuler.

• peristaltik dimulai di esofagus,

disebabkan kontraksi dinding ototnya yg mendorong makanan masuk ke gaster.

• saluran nafas atas merupakan

derivat dari foregut kecuali duodenum.

• Lower gastrointestinal tract

72

• Bowel or intestine

• small intestine, which has three parts: • duodenum

• jejunum • ileum

• large intestine, which has three parts:

• cecum (the vermiform appendix is attached to the cecum). • colon (ascending colon, transverse colon, descending colon

and sigmoid flexure)

• rectum • anus

“Tumor Rongga Mulut”

• tempat yg paling sering – bibir bawah

– batas lateral lidah – mukusa bukal – penyebab

• paparan tembakau • iritasi kronis bahan

kimia

• paparan sinar uv –pd

bibir

• Epidemiologi

jarang ditemukan (5% dari semua kasus tumor) tp memiliki morbiditas& mortalitas yg tinggi. terbanyak menyerang pria diatas 40 thn

• faktor resiko: merokok,

penggunaan tembakau oral, alkohol, pekerjaan yg terpapar bahan kimia, virus (human papilloma virus)

• patofisiologi

• squamous cell carcinoma

• berawal dr ulkus yg tdk nyeri

atau lesi dgn batas ireguler

• lesi berawal di mukosa dan dpt

menjalar ke lidah, orofaring, mandibula dan maksila .

• lesi yg tdk sembuh dalam satu

minggu stlh perawatan hrs dipikirkan ke arah malignansi.

• manifestasi

• leukoplakia—”smoker’s patch”/bercak keputihan

• erthroplakia

• suara serak yg tdk pernah

sembuh

• bila sdh lanjut

– nyeri bila menggerakkan

rahang

– dysphagia – indurasi

– nyeri di lidah saat

mengunyah

• penegakkan diagnosis

• anamnesis dan pemeriksaan

fisik.

• pemeriksaan tambahan: ct atau

mri

• biopsi dr lesi/sitologi

• tes toluidine –zat warna diserap

oleh sel tumor

• penatalaksanaan • chemotherapy • radiasi

• bedah

terapi berdasarkan usia, stadium tumor dan kondisi umum pasien

• terapi bedah

• pada stadium lanjut • radical neck dissection

– pengangkatan limfonodi yg terlibat – membutuhkan tracheostomy dpt permanen atau sementara – DRAIN JP

73

Tracheostomy

• Perawatan Post-Op • Monitor jalan nafas • Monitor perdarahan • Asupan nutrisi – Parenteral – NGT • Perawatan tracheostomy • Psikososial • Managemen nyeri “Tumor Esofagus”

• Lebih jarang ditemukan tapi mempunyai tingkat mortalitas yang tinggi dan

biasanya terlambat didiagnosis

• Faktor resiko terpenting: barrett’s esophagus: suatu perubahan abnormal

(metaplasia) pd sel2 bagian bawah esofagus karena paparan kronis asam lambung yg mengalami refluk

“Barret esofagus”

• Etiologi

– Tidak diketahui – Faktor resiko

• Merokok

74

• Achalasia (pengosongan yg terlambat dari esofagus ) • Mayoritas tumor berlokasi di bagian bawah esophagus “achalasia”

• Patofisiologi

• Squamous cell carcinoma

– Plg banyak mengenai bagian tengah atau distal esofagus. – Lebih banyak terjadi pd ras negro dibanding kaukasia – Faktor resiko: merokok dan penggunaan alkohol kronis • Adenocarcinoma

– Lebih bnyk menyerang bagian distal esofagus – Lebih sering pada ras negro

– Berhubungan erat dgn barret’s esofagus, komplikasi dari GERD

kronis dan achalasia

• Manifestasi

• Biasanya sdh lanjut – Disfagia progresif – Nyeri daerah esofagus – Nyeri telan

– Suara serak – Bb turun

– Regurgitasi isi esofagus – Penegakkan diagnosis

• Barium swallow dgn

fluoroscopy : utk mengidentifikasi adanya mukosa yg iregular atau lumen yang menyempit

• Endoscopy : visualisasi

langsung dari tumor dan biopsi bronchoscopy

• CT dan MRI: utk mengetahui

adanya metastase

• Darah lengkap: identifikasi

anemia

• Albumin serum : menemukan

malnutrisi

• Fungsi hepar : meningkat bila

tjd metastase hepar Stadium TNM 0 TisN0M0 I T1N0M0 II T2/3N0M0 III T3/4N1M0 IV TsemuaNsemuaM1 • TNM classification: Tis =

carcinoma in situ; T1 = lamina propria or submucosa; T2 = muscularis propria; T3 = adventitia; T4 = adjacent structures. • N0 = none; N1 = present. • M0 = none; M1 = present.

75 Komplikasi - Hemoragi - perforasi esophagus - obstruksi esophagus penatalaksanaan - modalitas terapi - bedah - kemoterapi - radiasi

- bergantung pd stadium tumor,

kondisi pasien dan pilihan terapi 1. stadium awal: reseksi dari

bagian yg terkena dgn anastomosis ke gaster; disertai kemo dan radiasi sblm pembedahan

2. stadium lanjut: bersifat paliatif dpt berupa pembedahan, radiasi dan

kemoterapi utk

mengendalikan nyeri dan disfagia

3. komplikasi terapi radiasi:

perforasi, hemoragis dan striktur

terapi surgical - esophagectomy-

o remove esophagus, graft to

resect

o esophagogastrostomy

reseksi esophagus ke gaster esophagoenterostomy reseksi esophagus ke colon dilatasi esophagus

- parenteral nutrisi

- managemen nyeri

perawatan post-op

- NGT-drainase darah 8 - 12 jam

smp warna berbah hijau jernih - jgn mereposisi NGT

- jalan nafas

- posisikan semi-fowler’s

“Tumor Gaster”

Adenocarcinoma dari dinding gaster. lebih banyak menyerang pria 2:1. cukup sering ditemukan. insidensi tertinggi pada ras hispanic, negro dan asia. Lebih banyak menyerang gol sosek rendah.

Etiologi

1. tdk diketahui pasti

2. makanan pedas

3. makanan yang diasapkan

Patofisiologi: adenocarcinoma plg banyak berasal dari sel yang memproduksi mucus di bagian distal. Diawali oleh lesi in situ yang menyebar ke mucosa kemudian ke limfonodi dan kemudian bermetastase ke hepar, paru, ovarium dan peritoneum itoneum. Dpt disebabkan oleh cedera mukosa tanpa trauma (makanan pedas)

76 Faktor predisposisi

• Infeksi h.pylori pd usia muda • Polip gaster. • Anemia pernisiosa • Insiden achlorhydria • Genetik • Gastritis kronis Manifestasi

• Biasanya ditemukan sdh lanjut • Tanda&gejala anemia

– Pucat – Lemah

77

– Rasa spt terbakar,berkurang

dgn antasida

• Penurunan bb krn anoreksi • Disfagia

• Nyeri saat makan • Tanda lanjut

- Teraba masa di abdomen

- Pembesaran limfonodi

- Faeces positif darah

Penegakkan diagnostik

• Anamnesis dan pemeriksaan fisik • Barium swallow

• Endoscopy-biopsy/cytology/us • Darah rutin, faeces (darah samar) • Tumor markers-cea, ca 19-9

Penatalaksanaan

• Pengangkatan tumor dgn bedah

• Kemoterapi • Radioterapi • Mengobati gejala – Nyeri – Koreksi anemia • Terapi surgikal

Dilakukan bila blm ditemukan metastasis

1. Parsial gastrectomy dgn anastomosis

ke duodenum: bilroth i atau gastroduodenostomy

2. Parsial gastrectomy dgn anastomosis

ke jejunum: bilroth ii atau gastrojejunostomy

3. Total gastrectomy (bila cancer

bersifat difus tp terbatas hanya pd gaster) dgn esophagojejunostomy

78 Komplikasi Post-Op – Pneumonia – Kebocoran anastomose – Hemorrhage – Relux aspiration – Sepsis – Reflux gastritis – Paralytic ileus – Obstruksi – Infeksi luka – Dumping syndrome Dumping syndrome

Muncul pada partial gastrectomy; hypertonic, bolus makanan yg tdk

tercerna dgn baik akan masuk ke usus kecil shg air akan bergerser ke lumen usus menyebabkan meurunnya volume darah sirkulasi dan peningkatan motilitas usus

Manifestasi 5 – 30 min stlh makan:

nausea dgn vomitus, nyeri epigastric dan kram, borborygmi, dan diare; pasien mjd takikardia, hipotensi, pusing.

Manifestasi 2 – 3 jam stlh makan:

gejala spt hypoglycemia utk merespon produksi insulin yg berlebihan krn peningktan glukosa darah saat bolus memasuki usus .

Dalam dokumen ILMU BEDAH Fk Unsoed-libre (Halaman 69-81)