BAB DELAPAN
E. PENDIDIKAN DAN SOSIAL
6. Hubungan Sesama Mu’min
Dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat, setiap mukmin hendaklah menjunjung tinggi akhlak Rasulullah, untuk saling tolong menolong, saling menghormati dan saling menghargai. Jika terjadi konflik diantara sesama mukmin, kita usahakan untuk bisa berdamai dan juga janganlah sampai terjadi saling aniaya. Allah memerintahkan untuk memerangi kelompok yang berbuat aniaya terhadap muslim lainnya, sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran.
”Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali, kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada
perintah Allah), maka demikianlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Hujuraat, 49:9)
Sesama mukmin harus saling berkasih sayang satu sama lain. Ibarat satu tubuh, maka jika ada bagian tubuh yang sakit, maka bagian tubuh yang lain akan ikut merasakannya. Karena sesungguhnya sesama mukmin adalah bersaudara.
”Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu demikianlah antara
kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS.
Al-Hujuraat, 49:10)
Sebagai saudara, maka sesama mukmin jangan sampai saling mengolok-olok satu sama lainnya, juga dilarang untuk saling memanggil dengan sebutan yang buruk. Allah berfirman dalam Al-Quran sebagai berikut.
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kamu mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita- wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu kamu panggil memanggil dengan gelar- gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Hujuraat, 49:11)
Disamping itu juga tidak boleh saling mencurigai atau berprasangka buruk diantara sesama mukmin. Juga janganlah saling menggunjing.
”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari kesalahan-kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuraat, 49:12)
Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan wanita, menjadikan berbangsa- bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal, untuk saling mengajak berbuat baik dan bertakwa kepada Allah swt. Orang yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa.
”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwadi antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat, 49:13)
F. KEBUDAYAAN
Secara umum budaya artinya akal budi atau pikiran. Kebudayaan berarti hasil dari kerja akal budi, olah pikir manusia seperti perilaku, pengetahuan, falsafah hidup, kesenian, bahasa, tradisi-tradisi dan sebagainya, yang berupa immateri, dan alat-alat untuk mengolah alam, perlengkapan hidup, pakaian, perumahan, alat rumah tangga, serta alat-alat yang dipergunakan manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan ini yang berupa materi.
Menurut Endang Syaifuddin Ansori, Kebudayaan adalah hasil karya, cipta, pengolahan, pengerahan dan pengarahan manusia terhadap alam dengan kekuatan jiwa, pikiran, perasaan, kemauan, intuisi, imajinasi, raga, dan fakultas-fakultas rohaniah dan kehidupan lahiriah manusia.
Jika kebudayaan tercipta dalam sebuah masyarakat yang berlandaskan tauhid, yang mengesakan Allah, yang menempatkan Allah sebagai pusat segalanya, dengan memegang teguh syariat Islam sebagai aturan, norma, kaidah yang bersumber dari Allah, maka akan didapatkan suatu kebudayaan yang Islami. Sebuah kebudayaan yang tidak lepas dari nilai-nilai Islam, yang memiliki visi, misi, motivasi dan orientasi kepada Allah semata.
Seni sebagai bagian dari kerja budaya, tentunya juga memiliki corak yang Islami, baik berupa seni bahasa, seni sastra, seni musik, seni arsitektur dan bentuk kesenian lainnya. Secara keseluruhan harus mengekspresikan nilai-nilai Islam. Karena kesenian merupakan salah satu sistem simbol dan kesenian dalam masyarakat Islam adalah wujud dari simbol nilai-nilai Islam.
Bagaimana Al-Quran menjelaskan mengenai kebudayaan dapat diuraikan sebagai berikut. Pada dasarnya, Allah telah memberikan dalam diri manusia suatu potinsi yang akan menghasilkan dari dirinya amalan yang baik, sebagaimana yang dikehendakiNya. Potensi itu adalah penyempurnaan proses penciptaan manusia, yaitu Allah ciptakan pendengaran, penglihatan dan hati, sebagaimana Firman Allah.
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (QS. As-Sajdah, 32:9)
“Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati." (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” (QS. Al- Mulk, 67:23)
Dengan potensi itulah manusia dapat melakukan suatu aktivitas yang berupa kebudayaan. Bagi orang yang beriman, orang bertauhid, yang menjadikan Allah sebagai motivasi dan orientasi kehidupannya, maka akan dihasilkan kebudayaan yang memiliki nilai-nilai Islam dan mewujudkan simbol-simbol Islam.
Kebudayaan sebagai produk kerja akal budi, pikiran hasil karya, cipta dan rasa manusia dengan demikian merupakan wujud dari amal sholih. Kebudayaan Islam merupakan ekspresi dari suatu masyarakat yang memiliki tauhid. Kebudayaan Islam juga merupakan simbol dari peradaban Islam.
Demikianlah maka, produk dari budaya berupa perilaku, pengetahuan, falsafah hidup, kesenian, bahasa, tradisi-tradisi, alat-alat untuk mengolah alam, serta perlengkapan hidup manusia, secara keseluruhan harus didasarkan pada misi, motivasi dan orientasi kepada Allah swt dan akan membawa pemakai atau penikmat hasil budaya tersebut lebih dekat pada Allah. Mereka akan mentaati Allah dan RasulNya, tunduk dan patuh sepenuhnya atas aturan dan ketetapan Allah. Orang-orang yang beriman dan beramal sholeh (dalam produk kebudayaan) demikian akan mendapat kemenangan, sebagai mana Firman Allah.
”Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran, 3:139)
“Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi
penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.”
(QS. Al-Maidah, 5:56)
Bangunan sebagai simbol peradaban dan kebudayaan, dalam sejarah Islam yang pertama kali dibangun dan diwujudkan adalah bangunan ibadah, yakni Baitullah, sebagaimana firmanNya.
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran, 3:96)
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al- Baqarah, 2:127)
Dalam mendirikan bangunan-bangunan Islam, haruslah dibangun atas dasar taqwa, bukan untuk bermegah-megah atau yang lainnya.
“Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim.” (QS. At Taubah, 9:109)
Bangunan-bangunan yang tinggi yang dibangun, dengan main-main, dan agar kekal di dunia, karena kesombongan tidak diperkenankan dalam Islam.
“Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang- orang kejam dan bengis.”
Bahkan bangunan sebagai simbol kadlaliman dan keangkara-murkaan yang didirikan oleh oleh Fir’aun pada akhirnya dihancurkan oleh Allah bersama kebudayaan dan peradabannya sekaligus. Bangunan-bangunan Fir'aun yang dihancurkan oleh Allah ialah bangunan-bangunan yang didirikan mereka dengan menindas Bani Israil, seperti kota Ramses; menara yang diperintahkan Hamaan mendirikannya dan sebagainya.
“ … Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. Al-A’raf, 7:137)
Dalam bidang seni, Allah mengajarkan seni ucap, susastra.
“(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.” (QS. Ar-Rahman, 55:1-4)
Meskipun Al-Quran bukan merupakan karya satra, namun Al-Quran memiliki nilai sastra yang tinggi.
Allah menghendaki hambanya berpakaian yang indah, yaitu yang menutupi aurat. Allah juga memerintahkan kita memakai pakaian yang indah yaitu yang bersih dan suci ketika hendak memasuki masjid. Karena Allah menyukai yang indah. Allah juga memiliki nama-nama yang indah.
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf, 7:26)
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf, 7:31)
Dan Allah telah memilih orang-orang yang cinta akan keimanan dan dijadikanNya keimanan itu sesuatu yang indah dalam hati orang-orang yang mendapatkan hidayah.
“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,” (QS. Al- Hujarat, 49:7)
Dalam mengikuti atau menghasilkan sebuah karya cipta sebagai produk budaya, tetap harus memperhatikan etika Islam, untuk dijadikan patokan agar kebudayaan tersebut tetap menunjukkan corak yang Islami.
“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah dan bahwasanya mereka suka
mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’araa, 26:224-227)
G. KEBUDAYAAN
Secara umum budaya artinya akal budi atau pikiran. Kebudayaan berarti hasil dari kerja akal budi, olah pikir manusia seperti perilaku, pengetahuan, falsafah hidup, kesenian, bahasa, tradisi-tradisi dan sebagainya, yang berupa immateri, dan alat-alat untuk mengolah alam, perlengkapan hidup, pakaian, perumahan, alat rumah tangga, serta alat-alat yang dipergunakan manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan ini yang berupa materi.
Menurut Endang Syaifuddin Ansori, Kebudayaan adalah hasil karya, cipta, pengolahan, pengerahan dan pengarahan manusia terhadap alam dengan kekuatan jiwa, pikiran, perasaan, kemauan, intuisi, imajinasi, raga, dan fakultas-fakultas rohaniah dan kehidupan lahiriah manusia.
Jika kebudayaan tercipta dalam sebuah masyarakat yang berlandaskan tauhid, yang mengesakan Allah, yang menempatkan Allah sebagai pusat segalanya, dengan memegang teguh syariat Islam sebagai aturan, norma, kaidah yang bersumber dari Allah, maka akan didapatkan suatu kebudayaan yang Islami. Sebuah kebudayaan yang tidak lepas dari nilai-nilai Islam, yang memiliki visi, misi, motivasi dan orientasi kepada Allah semata.
Seni sebagai bagian dari kerja budaya, tentunya juga memiliki corak yang Islami, baik berupa seni bahasa, seni sastra, seni musik, seni arsitektur dan bentuk kesenian lainnya. Secara keseluruhan harus mengekspresikan nilai-nilai Islam. Karena kesenian merupakan salah satu sistem simbol dan kesenian dalam masyarakat Islam adalah wujud dari simbol nilai-nilai Islam.
Bagaimana Al-Quran menjelaskan mengenai kebudayaan dapat diuraikan sebagai berikut. Pada dasarnya, Allah telah memberikan dalam diri manusia suatu potinsi yang akan menghasilkan dari dirinya amalan yang baik, sebagaimana yang dikehendakiNya. Potensi itu adalah penyempurnaan proses penciptaan manusia, yaitu Allah ciptakan pendengaran, penglihatan dan hati, sebagaimana Firman Allah.
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (QS. As-Sajdah, 32:9)
“Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati." (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” (QS. Al- Mulk, 67:23)
Dengan potensi itulah manusia dapat melakukan suatu aktivitas yang berupa kebudayaan. Bagi orang yang beriman, orang bertauhid, yang menjadikan Allah sebagai motivasi dan orientasi kehidupannya, maka akan dihasilkan kebudayaan yang memiliki nilai-nilai Islam dan mewujudkan simbol-simbol Islam.
Kebudayaan sebagai produk kerja akal budi, pikiran hasil karya, cipta dan rasa manusia dengan demikian merupakan wujud dari amal sholih. Kebudayaan Islam merupakan ekspresi dari suatu masyarakat yang memiliki tauhid. Kebudayaan Islam juga merupakan simbol dari peradaban Islam.
Demikianlah maka, produk dari budaya berupa perilaku, pengetahuan, falsafah hidup, kesenian, bahasa, tradisi-tradisi, alat-alat untuk mengolah alam, serta perlengkapan hidup manusia, secara keseluruhan harus didasarkan pada misi, motivasi dan orientasi kepada Allah swt dan akan membawa pemakai atau penikmat hasil budaya tersebut lebih dekat pada Allah. Mereka akan mentaati Allah dan RasulNya, tunduk dan patuh sepenuhnya atas aturan dan ketetapan Allah. Orang-orang yang beriman dan beramal sholeh (dalam produk kebudayaan) demikian akan mendapat kemenangan, sebagai mana Firman Allah.
”Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran, 3:139)
“Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi
penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.”
(QS. Al-Maidah, 5:56)
Bangunan sebagai simbol peradaban dan kebudayaan, dalam sejarah Islam yang pertama kali dibangun dan diwujudkan adalah bangunan ibadah, yakni Baitullah, sebagaimana firmanNya.
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran, 3:96)
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al- Baqarah, 2:127)
Dalam mendirikan bangunan-bangunan Islam, haruslah dibangun atas dasar taqwa, bukan untuk bermegah-megah atau yang lainnya.
“Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim.” (QS. At Taubah, 9:109)
Bangunan-bangunan yang tinggi yang dibangun, dengan main-main, dan agar kekal di dunia, karena kesombongan tidak diperkenankan dalam Islam.
“Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang- orang kejam dan bengis.”
(QS. Asy-Syu’araa, 26:128-130)
Bahkan bangunan sebagai simbol kadlaliman dan keangkara-murkaan yang didirikan oleh oleh Fir’aun pada akhirnya dihancurkan oleh Allah bersama kebudayaan dan peradabannya sekaligus. Bangunan-bangunan Fir'aun yang dihancurkan oleh Allah ialah bangunan-bangunan yang didirikan mereka dengan menindas Bani Israil, seperti kota Ramses; menara yang diperintahkan Hamaan mendirikannya dan sebagainya.
“ … Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. Al-A’raf, 7:137)
Dalam bidang seni, Allah mengajarkan seni ucap, susastra.
“(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.” (QS. Ar-Rahman, 55:1-4)
Meskipun Al-Quran bukan merupakan karya satra, namun Al-Quran memiliki nilai sastra yang tinggi.
Allah menghendaki hambanya berpakaian yang indah, yaitu yang menutupi aurat. Allah juga memerintahkan kita memakai pakaian yang indah yaitu yang bersih dan suci ketika hendak memasuki masjid. Karena Allah menyukai yang indah. Allah juga memiliki nama-nama yang indah.
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf, 7:26)
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf, 7:31)
Dan Allah telah memilih orang-orang yang cinta akan keimanan dan dijadikanNya keimanan itu sesuatu yang indah dalam hati orang-orang yang mendapatkan hidayah.
“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,” (QS. Al- Hujarat, 49:7)
Dalam mengikuti atau menghasilkan sebuah karya cipta sebagai produk budaya, tetap harus memperhatikan etika Islam, untuk dijadikan patokan agar kebudayaan tersebut tetap menunjukkan corak yang Islami.
“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’araa, 26:224-227)