• Tidak ada hasil yang ditemukan

n “Bagi Orang-orang Suci Zaman Akhir, mengadakan ‘sakramen’ di dalam rumah doa sebagaimana diperintahkan Tuhan bagi Anda anjuran untuk mengadakan kebaktian kepada Tuhan dalam bentuk lagu-lagu pujian, doa-doa syukur, kesaksian, dan mengambil sakramen serta mempelajari firman Allah. Secara umum itu dapat dikatakan Anda sedang menggunakan hak kudus Anda untuk melaksanakan tata cara yang memperlihatkan kepatuhan Anda kepada Bapa Surgawi serta Putra-Nya” (Harold B. Lee, Ye Are

the Light of the World, hlm. 72).

n “Juruselamat mengatakan bahwa hari Sabat

diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Hari Sabat diadakan untuk manusia agar dipatuhi dan untuk manfaat mereka tetapi bukan untuk dilanggar atau diremehkan. Juruselamat berulang kali menekankan pengudusan hari Sabat. Dia memahami kenyataan bahwa hewan-hewan ternak harus dilepaskan dari kandangnya dan dibawa ke perairan serta diberi makan dan bahwa pekerjaan rumah lainnya harus dilakukan. Dia juga memahami bahwa sapi akan pergi ke kubangan atau keledai jatuh ke sumur; tetapi baik dalam surat maupun semangat Dia tidak pernah menyetujui penggunaan hari Sabat untuk pekerjaan umum dan rutin ataupun hiburan serta permainan. Dia menyembuhkan orang yang sakit pada hari Sabat, berkhotbah di rumah-rumah ibadat pada hari ini, tetapi Dia tidak menggunakan hari Sabat untuk hiburan ataupun bekerja tetapi untuk jiwa dan tubuh, perubahan dan bebas dari pelayanan berat, serta istirahat untuk pekerjaan belas kasihan. Pengudusan hari Sabat adalah bagian dari perjanjian yang baru” (Kimball,

Teachings of Spencer W. Kimball, hlm. 216–217).

n “Hari Sabat diberikan sepanjang generasi manusia untuk perjanjian abadi. Itu merupakan sebuah tanda antara Tuhan dan anak-anak-Nya selamanya. Itu adalah hari untuk menyembah serta mengungkapkan rasa syukur serta

penghargaan kita kepada Tuhan. Itu adalah hari untuk meninggalkan setiap minat duniawi dan untuk memuji Tuhan dengan rendah hati, karena kerendahan hati adalah awal dari permuliaan. Itu adalah hari bukan untuk kesengsaraan dan beban tetapi untuk istirahat dan menikmati hal-hal yang benar. Itu adalah hari bukan untuk jamuan makan mewah, tetapi hari untuk makanan sederhana dan mengenyangkan diri secara rohani; bukan hari untuk menjauhi makanan, kecuali hari puasa, tetapi hari ketika pembantu rumah dapat terbebas dari pekerjaan mereka. Itu adalah hari yang diberikan kepada kita dengan murah hati oleh Bapa Surgawi kita. Itu adalah hari bagi binatang-binatang untuk merumput dan istirahat; ketika bajak disimpan di dalam gudang dan peralatan mesin dimatikan; hari ketika para pekerja,

majikan dan buruh dapat terbebas dari membajak, menggali, dan bekerja keras. Itu adalah hari ketika kantor ditutup dan bisnis ditunda, serta

masalah-masalah dilupakan; hari ketika manusia secara jasmani terbebas dari perintah pertama, ‘Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah’ (Kejadian 3:19). Itu adalah hari ketika tubuh dapat beristirahat, pikiran ditenangkan, dan roh tumbuh. Itu adalah hari ketika lagu-lagu dinyanyikan, doa diucapkan, khotbah disampaikan, dan kesaksian dibagikan, serta ketika manusia mendekatkan dirinya kepada Pencipta mereka.

Sabat adalah hari untuk menginventarisasi— untuk menganalisis kelemahan-kelemahan kita, untuk mengakui dosa-dosa kita kepada teman-teman dan Tuhan kita. Itu adalah hari untuk berpuasa dalam ‘kain kabung dan abu.’ Itu adalah hari untuk membaca buku-buku yang baik, hari untuk berpikir dan merenung, hari untuk mempelajari pelajaran-pelajaran keimamatan serta organisasi pelengkap, hari untuk mempelajari tulisan suci dan menyiapkan ceramah, hari untuk tidur dan istirahat serta santai, hari untuk mengunjungi yang sakit, hari untuk mengkhotbahkan Injil, hari untuk mencari simpatisan, hari untuk mengunjungi keluarga dan lebih mengenal anak-anak kita, hari untuk berpacaran yang benar, hari untuk berbuat kebaikan, hari untuk minum dari sumber pengetahuan dan petunjuk, hari untuk mencari pengampunan dosa-dosa kita, hari untuk pemerkayaan roh dan jiwa kita, hari untuk memulihkan diri kita pada keadaan rohani kita, hari untuk mengambil lambang pengurbanan dan Kurban Tebusan-Nya, hari untuk memikirkan kemuliaan Injil dan kehidupan kekal, hari untuk mendekatkan diri kepada Bapa Surgawi kita” (Kimball, Teachings of Spencer W. Kimball, hlm. 215–216).

D. Berkat-berkat datang kepada mereka yang menguduskan hari Sabat.

n “Kami tak henti-hentinya berbicara tentang keduniawian zaman sekarang dan berbicara tentang kenyataan bahwa kaum remaja kita menghadapi lebih banyak godaan yang serius daripada yang dialami generasi-generasi masa lalu, dan ini mungkin benar. Juga, lebih banyak orang tua agaknya terjebak dalam keduniawian zaman sekarang daripada kasus yang dihadapi generasi masa lalu.

Apa yang dapat kita lakukan untuk melindungi diri kita dari keadaan-keadaan yang berbahaya itu? Bagaimana kita dapat dengan lebih baik menolong kaum remaja kita untuk tetap tak ternoda dari dunia?

Tuhan memberi kita jawaban, dan mengatakan bahwa itu dapat dilakukan melalui mematuhi hukum hari Sabat dengan sungguh-sungguh. Kebanyakan orang tidak pernah berpikir ke arah itu, tetapi perhatikanlah perkataan Tuhan yang berbunyi: ‘Supaya engkau dapat menjaga dirimu tak ternoda dari dunia’—perhatikan kata-kata ini—‘supaya engkau dapat menjaga dirimu tak

ternoda dari dunia, hendaknya engkau pergi ke rumah sembahyang dan mempersembahkan sakramen pada hari-Ku yang kudus’ (A&P 59:9).

Pikirkan hal itu untuk sesaat. Apakah kita benar-benar percaya kepada Allah—dengan sungguh-sungguh? Apakah kita yakin bahwa Dia mengetahui apa yang Dia bicarakan? Jika kita tahu, akankah kita mengindahkan Dia dan perkataan-Nya dengan sungguh-sungguh? Atau akankah kita menyia-nyiakan wahyu ilahi itu lebih jauh?

Tuhan sungguh mengetahui apa yang sedang Dia bicarakan. Pengudusan hari Sabat akan menolong kita untuk menjaga kita sepenuhnya tidak ternoda dari dunia” (Peterson, dalam Conference Report, April 1975, hlm. 70; atau

Ensign, Mei 1975, hlm. 47–48).

n “Minggu adalah hari peribadatan. Ini adalah bangsa Kristen, dan Tuhan telah berjanji bahwa sepanjang kita mematuhi-Nya dalam pikiran dan beribadah kepada-Nya Negeri ini akan berdiri kuat—Pemerintahan ini akan berdiri kuat. Tidak ada bangsa lain yang dapat merebut atau menghancurkannya. Tetapi jika kita melupakan Dia, janji-janji Allah tidak berlaku.

Mengapa hari Minggu harus ditaati sebagai hari istirahat? Pertama, hari Minggu penting untuk kemajuan sejati serta kekuatan tubuh, dan bahwa itu adalah sebuah asas yang hendaknya kita nyatakan secara terbuka dan luas, dan dijalankan ....

Tujuan kedua untuk menguduskan Hari Sabat adalah: ‘Supaya engkau dapat menjaga dirimu tak ternoda dari dunia.’ Perenungan selama saat-saat kudus, persekutuan, dan yang lebih tinggi dari itu, mempersatukan pikiran dan perasaan dengan Tuhan—kesadaran bahwa Dia cukup dekat untuk memahami apa yang Anda pikirkan. Apa yang Anda pikirkan—mengungkapkan siapa sebenarnya Anda.

Ada alasan ketiga. Menguduskan Hari Sabat adalah hukum Allah, yang digemakan selama berabad-abad dari Gunung Sinai. Anda tidak dapat melanggar hukum Allah tanpa membatasi roh Anda. Akhirnya, hari Sabat kita, hari pertama dalam seminggu, memperingati peristiwa terbesar dalam semua sejarah: kebangkitan Kristus dan kunjungan-Nya sebagai insan yang telah dibangkitkan kepada para Rasul-Nya yang berkumpul” (David O. McKay, dalam Conference Report, Oktober 1956, hlm. 90).

Pernikahan Selestial Bab 28

Pengantar

Presiden Spencer W. Kimball menasihati kita mengenai pentingnya pernikahan kekal:

“Pernikahan yang terhormat, bahagia, dan berhasil sesungguhnya adalah tujuan utama setiap orang yang normal. Orang yang dengan sengaja atau dengan sembrono menghindari penerapan seriusnya bukan hanya tidak normal tetapi mengacaukan programnya sendiri. Ada beberapa orang yang menikah karena dendam atau menikah karena kekayaan ataupun menikah dengan harapan menghilangkan kekecewaan patah hati. Sungguh kabur jalan pikiran seperti itu!

Pernikahan barangkali adalah keputusan yang paling penting dan memiliki dampak yang paling jauh jangkauannya, karena itu berkaitan tidak saja dengan kebahagiaan sekarang, tetapi juga dengan sukacita kekal. Itu berdampak tidak saja pada dua orang yang terlibat, tetapi keluarga mereka terutama anak-anak serta cucu-cucu mereka sampai ke banyak generasi berikutnya ....

Dalam memilih seorang rekan untuk sehidup semati ini dan untuk kekekalan, tentunya rencana, pemikiran, doa, puasa yang cermat hendaknya dilakukan untuk memastikan bahwa, dari semua keputusan, keputusan yang satu ini jangan sampai keliru. Dalam pernikahan sejati harus ada suatu kesatuan pikiran dan hati. Emosi seharusnya tidak menentukan semua keputusan, tetapi pikiran dan hati, diperkuat dengan puasa dan doa serta pemikiran yang serius, yang akan memberi seseorang suatu kebahagiaan pernikahan maksimum” (“Marriage and Divorce,” in Speeches

of the Year, 1976, hlm. 143–144; lihat juga Kimball,

Marriage and Divorce, hlm. 10–11).

Garis Besar Ajaran

A. Pernikahan ditetapkan oleh Allah.

Lihat Ajaran dan Perjanjian 49:15–17; Ibrani 13:4; Matius 19:5–6; Kejadian 2:18, 24.

B. Pernikahan harus dilaksanakan dengan kuasa pemeteraian imamat agar tetap berlaku setelah kehidupan ini.

1. Allah menginginkan bahwa pernikahan harus menjadi kekal (lihat Matius 19:6; A&P 132:19–20; 1 Korintus 11:11).

2. Pernikahan yang tidak dilaksanakan dengan kuasa pemeteraian imamat tidak sah dalam kehidupan ini (lihat A&P 132:7, 15–18).

3. Hanya satu orang di bumi pada suatu masa yang memegang kunci-kunci kuasa pemeteraian (lihat A&P 132:7).

C. Pernikahan Selestial penting bagi permuliaan. 1. Untuk memperoleh tingkat tertinggi dalam

kerajaan selestial, seorang pria dan wanita harus memasuki perjanjian pernikahan yang baru dan kekal (lihat A&P 131:2–3).

2. Pernikahan harus dimeteraikan oleh Roh Kudus Perjanjian sebelum suami dan istri dapat memperoleh permuliaan (lihat A&P 132:19). 3. Mereka yang dinikahkan dengan kuasa Allah dan

menerima permuliaan akan memiliki kemajuan kekal (lihat A&P 132:19; 131:2–4).

Pernyataan Pendukung

A. Pernikahan ditetapkan oleh Allah

n “Menikah adalah wajar. Itu dirancang oleh Allah sejak permulaan, jauh sebelum gunung-gunung di dunia ini dibentuk. Ingatlah: ‘Tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan’ (1 Korintus 11:11) .... Setiap orang hendaknya berkeinginan untuk menikah. Ada beberapa orang yang mungkin tidak dapat menikah. Tetapi setiap orang hendaknya berkeinginan untuk menikah karena itulah yang direncanakan Allah di surga bagi kita (Spencer W. Kimball, The Teaching of

Spencer W. Kimball, hlm 291).

n “Pernikahan ditetapkan oleh Allah. Itu bukan hanya adat istiadat sosial. Tanpa pernikahan yang benar dan berhasil, seseorang tidak akan pernah dipermuliakan” (Kimball, Teachings of Spencer W.

Kimball, hlm. 291).

B. Pernikahan harus dilaksanakan dengan kuasa pemeteraian imamat agar tetap berlaku setelah kehidupan ini.

n “Sukacita terbesar kehidupan pernikahan yang

sejati dapat dilanjutkan. Hubungan yang paling indah antara orang tua dan anak-anak dapat diteguhkan. Hubungan keluarga yang kudus tidak akan pernah dapat berakhir jika suami serta istri telah dimeteraikan dalam ikatan kudus pernikahan yang kekal. Sukacita dan kemajuan mereka tidak akan pernah berakhir, tetapi ini tidak akan pernah terjadi dengan sendirinya ....

Allah telah memulihkan pengetahuan tentang bait suci dan tujuan-tujuannya. Di bumi pada zaman sekarang terdapat bangunan-bangunan kudus yang dibangun untuk pekerjaan khusus Tuhan, dan masing-masing adalah rumah Tuhan. Dalam bait suci-bait suci ini, melalui wewenang yang dijalankan dengan benar, terdapat para pria yang dapat memeteraikan suami dan istri serta anak-anak mereka untuk sepanjang kekekalan” (Kimball, Teachings of Spencer W. Kimball, hlm. 297).

n “Sekarang marilah kita memikirkan pernikahan pertama yang dilaksanakan setelah bumi diciptakan. Adam, manusia pertama, dan binatang-binatang dan unggas serta setiap makhluk yang hidup di atas bumi telah diciptakan. Kemudian kita menemukan catatan ini: ‘Tuhan Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Setelah Allah menciptakan Hawa, Dia ‘dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki. Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging’ (Kejadian 2:18, 22–24).’ Perkataan ini pastilah dimaksudkan seperti apa adanya. Itu mungkin perkataan yang diucapkan oleh Adam yang sedang mengucapkan sumpah tentang pernikahan pertama yang terjadi di atas bumi ini. Dengan selesainya pernikahan itu Tuhan memerintahkan mereka untuk ‘beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu’ (Kejadian 1:28). Ini adalah pernikahan yang dilaksanakan Tuhan untuk dua makhluk baka, karena mereka tidak bisa mati sebelum dosa memasuki dunia. Dia menjadikan mereka satu bukan untuk waktu fana saja, juga bukan untuk waktu tertentu; mereka dipersatukan sepanjang kekekalan” (Harold B. Lee, Decisions for

Successful Living, hlm. 125).

n “Kita melihat penggunaan cap di mana-mana.

Ketika tanda tangan disahkan, sebuah cap berembos dibuat di atas kertas bersegel. Ketika izin diperoleh dari kotamadya atau negara bagian, dari sebuah federasi atau perkumpulan, di atasnya terdapat cap resmi organisasi itu. Anda menemukannya di atas diploma/ijazah yang dikeluarkan oleh universitas,

di atas dokumen-dokumen resmi yang diproses di pengadilan-pengadilan, serta di atas kertas resmi lainnya.

Penggunaan cap memperlihatkan bahwa dokumen tersebut sah, layak dihargai dan diakui, bahwa pengaruhnya mengikat.

Oleh karena itu, pemeteraian adalah kata yang pantas digunakan untuk menunjukkan wewenang rohani. Pemeteraian yang dimaksud bukan berupa sebuah cap embos, atau segel lilin, atau pita; juga bukan dengan ukiran, atau cap emas. Pemeteraian resmi yang berkaitan dengan hal-hal rohani, seperti hal-hal rohani lainnya, dapat dikenali melalui pengaruh yang dirasakan ketika kuasa pemeteraian itu dilaksanakan.

Kuasa pemeteraian melambangkan pendelegasian ke bawah wewenang rohani dari Allah kepada manusia. Penyandang kuasa pemeteraian itu adalah wakil utama Tuhan di sini di atas bumi. Itu adalah kedudukan yang diserahkan berdasarkan kepercayaan dan wewenang tertinggi. Kita sering kali membicarakan tentang memegang kunci-kunci untuk kuasa pemeteraian di Gereja tersebut.

Kebanyakan ajaran yang berhubungan dengan hal-hal rohani yang lebih mendalam di Gereja, khususnya di bait suci, adalah simbolis. Kita menggunakan kata kunci dengan cara simbolis. Di

sini kunci-kunci wewenang keimamatan menunjukkan batasan-batasan kuasa yang diberikan dari balik tabir kepada manusia fana untuk bertindak dalam nama Allah di atas bumi. Kata pemeteraian dan kunci serta imamat adalah sangat erat kaitannya” (Boyd K. Packer, Bait Suci yang Kudus, hlm. 25).

C. Pernikahan Selestial penting bagi permuliaan.

n “Saya ingat seorang pria yang baik yang tinggal di lingkungan huni kami di Arizona yang telah