keduniaan ini dan mendambakan kehormatan manusia’” (Joseph Fielding Smith, Church History
and Modern Revelation, 2:177–178).
D. Mereka yang menjadikan pemanggilan dan pilihan mereka teguh mewarisi kehidupan kekal.
n “Tema yang saya pikirkan untuk dibahas
adalah Menjadikan pemanggilan dan pilihan seseorang teguh.’ Untuk melakukan ini seseorang harus menerima kesaksian ilahi bahwa dia akan mewarisi kehidupan kekal. Tujuan utama manusia yang memahami Allah, hubungan mereka
dengan-Nya, dan rancangan-rancangan-Nya bagi mereka adalah untuk memperoleh kehidupan kekal. Ini memang seharusnya demikian, karena kehidupan kekal’ ... ialah karunia yang terbesar daripada segala karunia Allah’ (A&P 14:7). Untuk membawa manusia kepada kehidupan kekal
adalah ‘pekerjaan dan kemuliaan’ Allah. Sampai di sini Dia menyusun, menyatakan, memimpin, dan menggunakan semua ciptaan-Nya (Musa 1:38–39)” (Marion G. Romney, dalam Conference Report, Oktober 1965, hlm 20)
n “Kehidupan kekal adalah tingkat kehidupan
yang dinikmati Allah sendiri. Rencana Injil, yang dirancang oleh Bapa dan dilaksanakan melalui Kurban Tebusan Yesus Kristus, menempatkan kehidupan kekal dalam jangkauan setiap orang. Tuhan memberi kepastian ini ketika Dia mengatakan,’ ... jika engkau mematuhi perintah-perintah-Ku dan bertahan sampai akhir, engkau akan memiliki hidup yang kekal ....’ (A&P 14:7)” (Romney, dalam Conference Report, Oktober 1965, hlm. 20).
Sakramen, Sebuah Bab 20
Tata Cara Peringatan
Pengantar
Sakramen adalah sebuah tata cara yang diadakan untuk mengingatkan para anggota Gereja tentang kurban penebusan Yesus krsitus, Putra Allah yang hidup. Orang-orang Suci telah diperintahkan untuk sering mengambil sakramen untuk
memperlihatkan kesediaan mengambil ke atas diri mereka nama Kristus dan untuk selalu mengingat Dia (lihat Dallin H. Oaks, dalam Conference Report, April 1985, hlm. 101–105; atau Ensign, Mei 1985, hlm. 80–83).
Garis Besar Ajaran
A. Yesus Kristus menetapkan sakramen sebagai tata cara peringatan.
1. Yesus mengajar para murid-Nya sifat dan tujuan tata cara sakramen (lihat Matius 26:26–29; 3 Nefi 18:1–11).
2. Kita mengambil sakramen sebagai peringatan akan kurban penebusan Kristus (lihat 3 Nefi 18:6-7; Moroni 6:6; A&P 27:2; 1 Korintus 11:24–26). B. Ketika kita mengambil sakramen, kita membuat perjanjian dengan Allah.
1. Kita diperintahkan untuk mempelajari makna sakramen sebelum kita mengambilnya (lihat A&P 20:68).
2. Ketika kita mengambil sakramen, kita memperbarui janji baptisan, yaitu mengambil ke atas diri kita nama Kristus, untuk selalu mengingat Dia, dan mematuhi perintah-perintah-Nya (lihat A&P 20:77, 79; Moroni 4:3; 5:2).
3. Sebagai gantinya, Juruselamat berjanji kepada kita bahwa Roh-Nya akan senantiasa menyertai kita (lihat 3 Nefi 18:11; A&P 20:77, 79).
4. Kita diperintahkan untuk mengambil sakramen secara teratur (lihat A&P 20:75; Moroni 6:6). 5. Sebagaimana dengan semua perjanjian yang
dibuat Allah dengan kita, kita harus mematuhi janji sakramen dengan setia jika kita ingin mewujudkan berkat-berkat perjanjian itu (lihat A&P 42:78; 82:10).
C. Roti dan air adalah lambang-lambang yang penting.
1. Yesus menyebut diri-Nya “roti hidup” dan sumber “air hidup” (Yohanes 6:35; 4:10). 2. Roti melambangkan daging Juruselamat
yang terkoyak, dan anggur (atau sari anggur) melambangkan darah yang tercurah (lihat Matius 26:26–28; TJS terhadap Matius 26:22–25; TJS terhadap Markus 14:20–25; A&P 27:5).
3. Dalam doa sakramen yang diwahyukan, roti dan air dikuduskan bagi jiwa kita, dan jika kita layak, kita dipenuhi dengan Roh Kudus (lihat 3 Nefi 20:8–9).
4. Lambang sakramen diberkati dan dilaksanakan oleh mereka yang memiliki wewenang (lihat A&P 20:46, 76; 3 Nefi 18:5).
5. Lambang yang digunakan dalam sakramen tidaklah begitu penting dibandingkan dengan alasan kita mengambil lambang itu; karenanya, sekarang air digunakan sebagai ganti anggur dalam kebaktian sakramen (lihat A&P 27:2). D. Standar-standar dan ukuran-ukuran diberikan kepada mereka yang akan mengambil sakramen. 1. Sakramen adalah bagi mereka yang telah membuat
perjanjian dengan Allah (lihat 3 Nefi 18:4–5). 2. Para pelanggar tidak mengambil sakramen sampai mereka telah bertobat dari dosa-dosa mereka (lihat 46:4–5).
3. Mereka yang berwenang seharusnya tidak mengizinkan para pelanggar yang belum bertobat mengambil sakramen (lihat 3 Nefi 18:28–30). 4. Sebelum mengambil sakramen, setiap orang
harus menentukan kelayakannya sendiri (lihat 1 Korintus 11:28).
5. Mengambil sakramen secara tidak layak dapat mengakibatkan sakit dan kutukan rohani (lihat 1 Korintus 11:27–30).
Pernyataan Pendukung
A. Yesus Kristus menetapkan sakramen sebagai tata cara peringatan.
n “Pelaksanaan perjamuan Tuhan adalah bukti kuat akan keilahian dan prapengetahuan Juruselamat, dan apa lagi yang lebih mengesankan serta kuat yang menolong kita mengingat pengurbanan besar yang dibuat-Nya selain mengambil roti yang dipecah-pecah untuk mengingat tubuh-Nya; dan minum dari cawan untuk mengingat darah-Nya yang telah tercurah bagi semua orang untuk menebus dosa-dosa? Yesus tahu bahwa ajaran yang abstrak itu mungkin dengan mudah dilupakan, bahwa manusia akan mengingat ajaran-ajaran yang konkrit lebih baik, oleh karena itu banyak dari pelajaran-Nya yang menakjubkan diberikan dalam bentuk perumpamaan, dan bahwa peristiwa terbesar ini dapat menjadi hal yang paling mengesankan dari semuanya, Dia memberikan tata cara mulia ini dalam bentuk nyata, untuk dilihat, dan dimakan” (Anthon H. Lund, dalam Conference Report, Oktober 1916, hlm. 13).
n “Juruselamat menekankan bahwa roti dan air Sakramen yang nyata adalah untuk mengingatkan kita terus-menerus akan pengurbanan yang Dia buat bagi kita dan untuk pembaruan janji-janji kita akan kebajikan. Hari Sabat, satu hari dalam seminggu, ditetapkan agar kita dapat teringat akan tugas-tugas rohani kita dan, pada hari Minggu Paskah satu kali dalam satu tahun, agar kita dapat mengingat kebangkitan Tuhan” (Spencer W. Kimball, The
Teachings of Spencer W. Kimball, hlm. 220).
B. Ketika kita mengambil sakramen, kita membuat perjanjian dengan Allah.
n “Sering kali saya bertanya-tanya apakah kita sepenuhnya menyadari pentingnya perjanjian yang kita buat dalam mengambil lambang-lambang dalam mengingat tubuh serta darah Yesus Kristus. Memikirkan sifat doa-doa itu dengan seksama dan sungguh-sungguh Adalah tugas kita, ketika kita mendengarkan doa itu diucapkan dalam pertemuan-pertemuan kita. Ada empat hal yang sangat penting dalam perjanjian yang akan kita lakukan setiap kali kita mengambil lambang-lambang tersebut, sehingga perjanjian itu masih berlaku buat kita. Janji-janji itu adalah sbb:
“1. Kita makan sebagai peringatan akan tubuh Yesus Kristus, berjanji bahwa kita akan selalu mengingat tubuh-Nya yang terluka yang disalibkan.
2. Kita minum sebagai peringatan akan darah yang telah dicurahkan untuk dosa-dosa dunia, yang melakukan Kurban tebusan untuk pelanggaran Adam, dan yang membebaskan kita dari dosa-dosa kita sendiri dengan syarat kita mau bertobat dengan sungguh-sungguh.
3. Kita berjanji bahwa kita akan bersedia mengambil ke atas diri kita nama Putra dan selalu mengingat Dia. Dalam menepati perjanjian ini kita berjanji bahwa kita akan dipanggil menurut nama-Nya dan tidak pernah melakukan apa pun yang akan mendatangkan rasa malu atau menyalahgunakan nama itu.
4. Kita berjanji bahwa kita akan mematuhi perintah-perintah-Nya yang telah diberikan kepada kita, bukan hanya satu perintah, tetapi bersedia ‘hidup dengan setiap firman yang keluar dari mulut Allah.’
Jika kita mau melakukan hal-hal itu, maka kepada kita dijanjikan bimbingan terus-menerus dari Roh Kudus, dan jika kita tidak melakukan hal-hal tersebut, kita tidak akan memiliki bimbingan itu” (Joseph Fielding Smith, Doctrines of Salvation, 2:344–345).
n “Baptisan adalah untuk pengampunan
dosa-dosa. Mereka yang dibaptiskan dengan layak menerima pengampunan dosa-dosa mereka karena curahan darah Kristus. Garmen mereka dicuci dalam darah Anak Domba. Ketika mereka telah mengambil sakramen dengan layak, mereka memperbarui perjanjian yang dibuat di dalam air baptisan. Dua perjanjian itu sama” (Bruce R. McConkie, The Promised Messiah, hlm. 386).
“Pada masa kelegaan saat ini, pada saat Gereja diorganisasi, Tuhan berfirman, ‘Adalah perlu bahwa jemaat Gereja sering berkumpul untuk mengambil roti dan air anggur sebagai peringatan akan Tuhan Yesus.’ Kemudian menyusul kata-kata yang sudah ditetapkan yang digunakan dalam memberkati roti dan anggur, atau air, yang diwahyukan menggantikan anggur.
Sering mengadakan pertemuan bersama untuk tujuan ini merupakan persyaratan yang dibuat bagi para anggota Gereja, yang sama mengikatnya bagi mereka yang melakukannya seperti syarat yang berhubungan dengan asas atau tata cara Injil mana pun. Tidak seorang pun anggota Gereja yang menolak menaati tata cara kudus ini dapat mempertahankan ilham dan bimbingan dari Roh Kudus” (Doctrines of Salvation, 2:338).
n “Apakah menurut Anda seseorang yang
datang ke kebaktian sakramen dalam semangat doa, kerendahan hati, dan peribadatan, dan yang mengambil lambang-lambang tersebut yang mewakili tubuh serta darah Yesus krsitus, akan dengan sengaja melanggar perintah-perintah Tuhan? Jika seseorang benar-benar menyadari apa artinya mengambil sakramen, bahwa dia berjanji mengambil ke atas dirinya nama Yesus Kristus dan selalu mengingat Dia serta mematuhi perintah-perintah-Nya, dan sumpah ini diperbarui setiap minggu—menurut Anda apakah orang itu akan gagal membayar persepuluhannya? Menurut Anda apakah orang itu akan melanggar hari Sabat atau tidak menghiraukan Kata-Kata Bijaksana? Menurut Anda apakah dia akan gagal untuk berdoa, dan bahwa dia tidak akan mengerjakan tugas-tugas kuorumnya serta tugas-tugas lainnya di Gereja? Menurut saya tidak mungkin seseorang akan melanggar asas-asas dan tugas-tugas kudus itu jika seseorang tahu apa artinya sumpah yang mereka buat setiap minggu kepada Tuhan dan di depan orang-orang suci” (Joseph Fielding Smith, dalam Conference Report, Oktober 1929, hlm. 62–63).
C. Roti dan air adalah lambang-lambang yang penting.
n “Karena Dia adalah Roti Hidup (artinya Putra Allah), yang datang dari Bapa, dan karena manusia harus makan roti rohani ini untuk memperoleh keselamatan, maka kehidupan kekal diperoleh hanya dengan memakan daging serta meminum darah Putra Allah, atau dengan kata lain, kehidupan kekal diperoleh hanya dengan menerima Yesus sebagai Kristus dan mematuhi perintah-perintah-Nya.
Memakan daging dan meminum darah Putra Allah adalah, pertama-tama, menerima Dia dengan sungguh-sungguh, tanpa ragu-ragu, mengakui-Nya sebagai keturunan langsung Bapa yang Kekal, dan kedua, adalah mematuhi perintah-perintah Putra dengan menerima Injil-Nya, bergabung dengan Gereja-Nya, serta bertahan dalam kepatuhan dan kebenaran sampai akhir. Mereka yang dengan cara ini memakan daging dan meminum darah-Nya akan memiliki kehidupan kekal, yang berarti permuliaan di surga tertinggi dalam dunia selestial ....
... Untuk menjaga orang-orang suci-Nya terus mengingat tanggung jawab mereka untuk menerima dan mematuhi-Nya atau dengan kata lain, memakan daging dan meminum darah-Nya—Tuhan telah memberi mereka tata cara sakramen. Tata cara ini, yang dilaksanakan sebagai peringatan akan daging-Nya yang terkoyak dan darah-Nya yang tercurah, adalah alat yang disediakan bagi manusia, secara resmi dan terus-menerus, untuk menegaskan kepercayaan mereka pada keilahian Kristus, dan untuk meyakinkan keputusan mereka untuk melayani-Nya serta mematuhi perintah-perintah-Nya, atau dengan kata lain, dalam tata cara ini—dalam pengertian rohani, bukan sesungguhnya—manusia memakan daging-Nya dan meminum darah-Nya” (Bruce R. McConkie, Doctrinal New Testament Commentary, 1:358; penekanan ditambahkan).
n “Bagi pelancong yang haus dan dahaga di
padang gurun, mendapatkan air adalah untuk mendapatkan kehidupan, untuk mendapatkan pelepasan dari kematian yang menyiksa; juga, pengembara yang lelah yang mengadakan perjalanan melintasi padang gurun kefanaan menyelamatkan nyawanya sendiri secara kekal dengan meminum dari sumber air hidup yang ditemukan dalam Injil.
Air hidup adalah firman kehidupan kekal, pesan keselamatan” (McConkie, Doctrinal New
Testament Commentary, 1:151).
n “Dengan merayakan Paskah, Yesus menghargai
serta menggenapi hukum sepenuhnya, memulai sakramen pada Perjamuan Tuhan. Tata cara pengurbanan berhenti dan sakramen dimulai. Itu adalah akhir dari zaman lama, dan dimulainya zaman baru. Tata cara pengurbanan menumpahkan darah dan daging yang terluka Domba Allah. Sakramen adalah peringatan akan darah-Nya yang
tertumpah dan daging-Nya yang terkoyak, lambang, roti serta anggur, yang menggantikan tercurahnya darah binatang pada zaman mereka” (McConkie,
Doctrinal New Testament Commentary, 1:719–720).
n “Ada perbedaan pendapat yang besar tentang
arti kalimat-Nya, ‘Inilah tubuh-Ku,’ ketika Dia mengatakan hal itu kepada para murid-Nya, ‘Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku,’ dan juga ketika Dia memberi mereka cawan dan mengatakan, ‘Minumlah kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa’ [Matius 26:26–28]. Banyak sekte atau kelompok Kristen menganggap bahwa roti dan anggur adalah bukan lambang, tetapi sesungguhnya kita sedang mengambil daging dan darah-Nya, dalam pelaksanaan sakramen .... Ini bukan pendapat kita. Kita percaya bahwa roti dan anggur hanyalah lambang akan tubuh serta darah-Nya. Jika kita dapat membayangkan diri kita berada dalam ruangan yang kudus tempat Dia dan para murid-Nya sedang mengadakan perjamuan malam bersama, dan mereka mengambil santapan Paskah, serta tempat Dia mengadakan tata cara kudus-Nya, maka kita akan melihat Dia berdiri di depan murid-muridnya, mengatakan kepada mereka tentang roti, ‘Inilah tubuh-Ku,’ dan tentang isi cawan itu, ‘Inilah darah-Ku,’ dan kita masih melihat Dia sehat dan hidup. Yang ada di dalam cawan bukanlah darah-Nya, karena pada saat yang sama dia menyebutnya, ‘hasil pokok anggur ini.’ Itu adalah anggur yang Dia berikan kepada mereka, tetapi itu melambangkan darah-Nya yang tertumpah bagi pengampunan dosa” (Lund, dalam Conference Report, Oktober 1916, hlm. 13).
D. Standar-standar dan ukuran-ukuran diberikan kepada mereka yang akan mengambil sakramen.
n “Sebelum mengambil sakramen ini, hati kita
harus murni; tangan kita harus bersih; kita harus menghilangkan semua perasaan buruk terhadap rekan-rekan kita; kita harus merasa damai dengan sesama kita; dan kita harus memiliki keinginan di dalam hati untuk melakukan kehendak Bapa dan untuk mematuhi semua perintah-Nya. Jika kita melakukan dengan sikap seperti itu, maka sakramen akan menjadi berkat bagi kita dan akan memperbarui kekuatan rohani kita” (George Albert Smith, dalam Conference Report, April 1908, hlm. 35).
n “Berapa lama menurut Anda seseorang dapat
mengambil tata cara ini secara tidak layak, dan Tuhan tidak menarik Roh-Nya dari dia? Berapa lama Dia menyia-nyiakan hal-hal kudus, dan Tuhan tidak menyerahkan dia kepada penderaan Setan sampai hari penebusan! .... Oleh karena itu kita harus menjadi rendah hati, dan bertobat atas dosa-dosa kita, serta menyingkirkan kejahatan dari antara kita” (Joseph Smith, History of the
Church, 2:204).