• Tidak ada hasil yang ditemukan

n “Sakramen adalah bagi Orang-Orang Suci, bagi mereka yang benar-benar telah membuat perjanjian di dalam air baptisan ....

Jika seseorang, bukan anggota Gereja, ada di antara jemaat, kita tidak melarangnya mengambil lambang itu, tetapi menasihatinya dengan sopan bahwa sakramen ditujukan untuk pembaruan perjanjian. Dan, karena dia belum membuat perjanjian baptisan yang sesungguhnya atau perjanjian bait suci, dia tidak perlu mengambil sakramen. Tetapi, jika sikapnya ketika mengambil sakramen bersih dan layak serta tulus maka perbuatan mengambil sakramen itu tidak akan membawa kutukan apa pun kepadanya seperti terhadap anggota yang telah membuat perjanjian-perjanjian kudus dan kemudian mengabaikan atau mengingkari perjanjian-perjanjian itu” (Kimball,

Prapenahbisan Israel Perjanjian Bab 21

dan Tanggung Jawab Mereka

Pengantar

Karena iman dan kepatuhan mereka dalam kehidupan prafana, beribu-ribu putra dan putri Allah ditahbiskan sebelumnya untuk menjadi para anggota umat Israel dalam kefanaan. Penahbisan sebelumnya ini diikuti dengan kehormatan juga tanggung jawab besar. Sebagai anggota umat Israel, kita adalah para pangeran dan putri, anggota keluarga perjanjian yang agung yang ditugasi untuk menjadi “garam dunia” (Matius 5:13) dan “terang dunia” (Matius 5:14) untuk membawa kegenapan Injil Yesus Kristus “kepada setiap bangsa, kaum, bahasa, dan rakyat” (A&P 77:8).

Garis Besar Ajaran

A. Umat Israel adalah bangsa yang khusus dan mulia dalam kehidupan prafana.

1. Karena kesetiaan mereka dalam kehidupan prafana, umat Israel ditahbiskan sebelumnya untuk menjadi bangsa yang suci (lihat Ulangan 32:7–9; Roma 8:28–30).

2. Penetapan sebelumnya menentukan, secara umum, tempat seseorang di antara suku-suku dan bangsa-bangsa (lihat Kisah para Rasul 17:24–26; Ulangan 32:7–9).

3. Banyak roh yang setia ditetapkan sebelumnya untuk misi penting ketika berada di kehidupan prafana (lihat Abraham 3:22–23; Yeremia 1:5; A&P 138:53–56).

B. Allah menetapkan kembali perjanjian-Nya dengan Israel dalam kefanaan.

1. Perjanjian Allah dengan Israel dibuat melalui Abraham, karenanya sering disebut perjanjian Abraham (lihat Abraham 2:6–11; Kejadian 17:1–22). 2. Berkat-berkat perjanjian bagi Abraham termasuk

berkat-berkat Injil dan janji-janji kehidupan kekal (lihat Abraham 2:6–11; Kejadian 17:1–22; A&P 132:28–31).

3. Perjanjian Abraham diperbarui dengan Ishak dan Yakub serta keturunan mereka (lihat Kejadian 26:1–5; 35:9–12; Keluaran 19:1–8).

C. Israel sebagai bangsa perjanjian zaman sekarang adalah mereka yang berjanji untuk menerima dan menjalankan Injil.

1. Semua orang diundang untuk datang kepada Kristus (lihat 2 Nefi 26:33; A&P 93:1).

2. Setelah kebangkitan-Nya Yesus menugasi para Rasul untuk mengkhotbahkan Injil kepada semua orang (lihat Markus 16:15).

3. Berkat-berkat Abraham, adalah untuk semua orang yang menerima Injil (lihat Roma 4:12–13; Galatia 3:13–14, 16, 28–29; Efesus 2:11–21).

D. Sebagai umat perjanjian Allah, Israel telah diberi tugas dan tanggung jawab khusus.

1. Israel sebagai bangsa pilihan hendaknya melayani Tuhan (lihat Yesaya 41:8–9; Imamat 25:55; 1 Nefi 21:3).

2. Israel sebagai bangsa perjanjian memiliki tanggung jawab untuk membawa Injil ke seluruh dunia dan menjadi saksi akan pekerjaan dan kemuliaan Allah (lihat A&P 63:37; 29:7; 88:81; Yesaya 43:9–10; A&P 1:4–5).

3. Umat perjanjian Allah harus menikah dalam perjanjian (lihat Ulangan 7:3; Nehemi 10:28–30). 4. Umat perjanjian harus mematuhi semua perintah

Allah (lihat Ulangan 29:10–18; Mosia 2:22; Yohanes 14:15).

Pernyataan Pendukung

A. Umat Israel adalah bangsa yang khusus dan mulia dalam kehidupan prafana.

n “Israel adalah umat yang kekal. Para anggota dari bangsa pilihan itu pertama-tama memperoleh warisan mereka dengan mereka yang setia dalam kehidupan prafana. Israel adalah umat yang berbeda dalam kehidupan prafana. Banyak di antara roh yang berani dan mulia pada keadaan pertama itu dipilih, dan ditahbiskan sebelumnya untuk dilahirkan ke dalam keluarga Yakub, dengan demikian menjadi ahli waris alami semua berkat Injil” (Bruce R. McConkie, Doctrinal New

Testament Commentary, 2:284).

n “Mereka yang dilahirkan dari garis keturunan Yakub, yang kemudian disebut Israel, serta keturunannya, yang dikenal sebagai orang Israel, lahir dalam garis keturunan yang paling termashyur dari siapa pun yang datang ke bumi sebagai makhluk fana.

Semua pahala itu sepertinya telah dijanjikan, atau ditetapkan sebelumnya, sebelum dunia ada. Tanpa diragukan lagi hal ini pastilah telah ditentukan dengan jenis kehidupan yang kita jalani dalam dunia roh prafana. Beberapa orang mungkin mempertanyakan pernyataan tersebut, tetapi pada saat yang sama mereka akan menerima tanpa keraguan kepercayaan bahwa setiap dari kita akan diadili ketika kita meninggalkan bumi ini sesuai dengan perbuatannya selama kehidupan kita dalam kefanaan ini. Tidakkah masuk akal untuk memercayai bahwa apa yang telah kita terima di bumi [kehidupan] ini diberikan kepada kita masing-masing sesuai dengan nilai perilaku kita sebelum kita datang ke sini?” (Harold B. Lee, dalam Conference Report, Oktober 1973, hlm. 7–8; atau Ensign, Januari 1974, hlm. 5).

n “Keturunan fana Abraham, karena persiapan dan pengabdian berabad-abad lamanya, ketika mereka masih tinggal sebagai roh di hadirat Bapa Kekal mereka, menerima ‘hak’ terhadap Injil dan keimamatan serta warisan kekal akan kehidupan kekal (Abraham 2:10–12). Yaitu, mereka ditetapkan sebelumnya menjadi anak-anak bapa yang setia dan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kebenaran sebagaimana yang dilakukan oleh Abraham yang setia. Meskipun Injil diperuntukkan bagi semua orang, pada akhirnya—‘Karena sesungguhnya suara Tuhan ditujukan kepada semua orang, tidak seorang pun yang luput, dan tidak ada mata yang tidak akan melihat, ataupun telinga yang tidak mendengar, juga tidak akan ada hati yang tidak tertembus’ (A&P 1:2)—tetapi beberapa orang berhak menerimanya sebelum itu diberikan kepada yang lain. Tuhan menyampaikan perkataan-Nya berdasarkan prioritas. Itu akhirnya akan sampai kepada semua orang, tetapi beberapa orang berhak mendengarkan suara-Nya sebelum yang lainnya” (Bruce R. McConkie, The Promised Messiah, hlm. 507).

n “Setiap orang yang memiliki panggilan untuk

melayani penduduk bumi ditahbiskan pada tujuan yang penting itu dalam Sidang Raya di surga sebelum dunia ini ada. Saya pikir saya ditahbiskan pada jabatan penting ini dalam Sidang Raya itu” (Joseph Smith, Teachings of the Prophet Joseph Smith, hlm. 365).

B. Allah menetapkan kembali perjanjian-Nya dengan Israel dalam kefanaan.

n “Abraham pertama-tama menerima Injil melalui

pembaptisan (yaitu perjanjian keselamatan); kemudian dia menerima penganugerahan ke atas dirinya imamat yang lebih tinggi, dan dia masuk ke dalam perjanjian pernikahan (yaitu perjanjian permuliaan), dan karenanya memperoleh kepastian bahwa dia akan memiliki kemajuan kekal;

akhirnya menerima janji bahwa semua berkat itu akan diberikan kepada semua keturunan fananya (Abraham 2:6–11; A&P 132:29–50). Termasuk dalam janji-janji ilahi yang diberikan kepada Abraham adalah kepastian bahwa Kristus akan datang melalui garis keturunannya, dan kepastian bahwa keturunan Abraham akan menerima negeri perjanjian yang dijanjikan sebagai warisan kekal (Abraham 2; Kejadian 17; 22:15–18; Galatia 3).

Semua janji ini disebut perjanjian Abraham” (Bruce R. McConkie, Mormon Doctrine, hlm. 13).

n “Ketika Tuhan meminta Abraham meningalkan

Ur, tanah kelahiran leluhurnya, Dia memastikan perjanjian-perjanjian yang dibuat dengannya karena kesetiaannya. Satu janji itu adalah bahwa melalui dia dan keturunannya semua bangsa di bumi akan diberkati. Berkat ini dipenuhi dalam beberapa cara.

1. Melalui Yesus Kristus yang datang melalui garis keturunan Abraham;

2. Melalui imamat yang dianugerahkan kepada Abraham serta keturunannya;

3. Melalui penceraiberaian Israel di antara semua bangsa sehingga garis keturunan Israel tersebar di antara bangsa-bangsa, karena itu bangsa-bangsa mendapat berkat kebenaran, dengan syarat pertobatan mereka, dan berhak terhadap janji-janji yang dibuat kepada anak-anak Abraham.

4. Berdasarkan perjanjian Tuhan dengan Abraham maka semua orang yang memeluk Injil akan disebut dengan nama-Nya, atau, akan digolongkan sebagai keturunannya, dan akan menerima Roh Kudus” (Joseph Fielding Smith, Doctrines of Salvation, 3:246).

n “Inti sari perjanjian yang dibuat dengan Abraham adalah perjanjian kuno dan kekal, sehingga mereka yang patuh terhadap hukum Allah akan mewarisi berkat-berkat Tuhan. Karena Yesus Kristus mengganti hukum Israel yang lebih rendah dengan hukum, yang sekarang kita bicarakan, ‘perjanjian yang baru dan abadi’ yang lebih tinggi. Kata ‘baru’ tampaknya memiliki arti ‘dipulihkan,’ sebagaimana kata-kata Tuhan kepada Joseph Smith,’ ... inilah perjanjian yang baru dan abadi, yaitu yang ada sejak permulaan’ [A&P 22:1].

Perjanjian dengan Abraham ini juga sebuah panggilan pada kedudukan kepemimpinan. Oleh karenanya, penafsirannya adalah bahwa Abraham dan keturunannya dipilih untuk melindungi kemurnian dan memajukan rencana kekal keselamatan manusia di bumi. Akibatnya, keturunan Abraham sering kali disebut sebagai umat pilihan atau perjanjian” (John A. Widtsoe, “Why Are We Called a Covenant People?”

Improvement Era, Juni 1945, hlm. 349; lihat juga “A Covenant People,” New Era, Februari 1976, hlm. 45).

n “Perjanjian ini pun tak terbatas pada kehidupan fana. Perjanjian itu berlanjut setelah kematian dan sampai ke kerajaan selestial. Anak-anak Abraham, jika mereka mau mematuhi perjanjian itu sebagaimana ketika mereka menerimanya di rumah Tuhan, akan, seperti leluhur mereka Abraham, maka keturunan mereka akan berlanjut dan meningkat sepanjang kekekalan dan tidak akan ada akhirnya . Dengan cara ini berkat-berkat Abraham, Ishak dan Yakub, diberikan kepada mereka, dan mereka menjadi para pengambil bagian sampai ke tingkat tertinggi. akan ada kelanjutan ‘keturunan untuk selama-lamanya’ di antara mereka yang menerima permuliaan di dalam kerajaan Allah. Itulah janjinya, dan melalui Abraham akan lahir raja-raja dan imam-imam, penguasa-penguasa, bukan hanya di bumi ini melainkan di surga, dan itu akan berlangsung selama-lamanya” (Joseph Fielding Smith, The Way to Perfection, hlm. 96).

C. Israel sebagai bangsa perjanjian zaman sekarang adalah mereka yang berjanji untuk menerima dan menjalankan Injil.

n “Penghibur pertama ini, atau Roh Kudus, tidak memiliki pengaruh lain selain akal budi murni. Akal budi itu akan lebih kuat dalam memperluas pikiran, menerangi pengertian, dan menyimpan

pengetahuan zaman ini, keturunan langsung Abraham, daripada keturunan bangsa bukan Yahudi, meskipun mungkin pengaruhnya tidak banyak terlihat dari tubuhnya; karena Roh Kudus diberikan kepada keturunan langsung Abraham, Roh itu tenang dan lembut; dan seluruh jiwa dan raganya hanya digerakkan oleh roh akal budi murni; sementara pengaruh Roh Kudus bagi orang bukan Yahudi, adalah memurnikan, membuatnya benar-benar menjadi keturunan Abraham. Orang yang tidak memiliki darah Abraham (secara alami) harus menjadi ciptaan baru melalui Roh Kudus. Dalam hal ini, mungkin pengaruhnya yang kuat terlihat pada tubuh mereka, daripada pengaruh yang ada pada orang Israel, sementara orang Israel secara alami mungkin jauh lebih cerdas dibandingkan dengan orang bukan Yahudi” (Smith, Teachings, hlm. 149–150).

n “Apakah penting agar kita menjadi umat

Israel untuk menerima Injil dan semua berkat yang berkaitan dengan hal itu? Jika demikian, bagaimana kita menjadi umat Israel, melalui adopsi atau melalu garis keturunan langsung?

Setiap orang yang memeluk Injil menjadi umat Israel. Dengan kata lain, mereka menjadi para anggota dari garis keturunan yang terpilih, atau anak-anak Abraham melalui Ishak dan Yakub kepada siapa janji-janji tersebut dibuat. Kebanyakan dari mereka yang menjadi para anggota Gereja secara langsung adalah keturunan Abraham melalui Efraim, putra Yusuf. Mereka yang tidak secara langsung menjadi keturunan Abraham dan Israel harus menjadi keturunan

mereka, dan ketika mereka dibaptis serta ditetapkan mereka dientenkan ke dalam pokok anggur dan berhak pada semua hak dan hak istimewa sebagai ahli waris” (Smith, Doctrines

of Salvation, 3:245–246).

n “Pertanyaan ‘Siapakah anak-anak Abraham?’

yang sering diajukan, dapat dijawab dengan baik sekali dalam terang Injil yang dipulihkan.

Semua orang yang menerima rencana Allah bagi anak-anak-Nya di bumi dan yang menjalankannya adalah anak-anak Abraham. Mereka yang

menolak Injil, baik itu anak-anak keturunan langsung, atau yang lainnya, membatalkan perjanjian yang dibuat dengan Abraham dan bukan anak-anak Abraham lagi” (John A. Widtsoe,

Evidences and Reconciliations, hlm. 400).

D. Sebagai umat perjanjian Allah, Israel telah diberi tugas dan tanggung jawab khusus.

n “Pemahaman tentang perjanjian dengan

Abraham memberi tanggung jawab yang berat kepada semua orang yang menerima Injil. Sebagai anak-anak Abraham, mereka menerima tanggung jawab untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Abraham. Bersama air baptisan mereka berjanji untuk menyelaraskan hidupnya terhadap Injil Yesus Kristus, yang tentunya adalah Injil yang diberikan, diterima, dan dijalankan oleh Bapa Abraham” (Widtsoe, Evidences and Reconsiliations, hlm. 400).

n “Alasan untuk memilih sebuah bangsa khusus

untuk memegang Imamat dan dianugerahi dengan wahyu-wahyu kebenaran sangatlah banyak. Adalah konsisten dan masuk akal bagi Tuhan untuk memanggil umat yang seperti itu serta menganugerahi mereka bantuan khusus ketika umat lainnya menolak firman itu. Melalui umat perjanjian, Tuhan menyediakan hak yang mendatangkan ke atas dunia anak-anak pilihan dari roh-roh yang setia yang berhak menerima bantuan khusus berdasarkan pada kepatuhan sebelum kefanaan. Selain itu, pemilihan sebuah bangsa khusus, dan penganugerahan kepadanya perjanjian dan tanggung jawab khusus, yang tidak dipatuhi oleh bangsa-bangsa lainnya, berpengaruh memisahkan bangsa ini dari bangsa-bangsa lainnya. Jika tidak ada perjanjian khusus atau praktik khusus kepada Israel, yang diperintahkan secara ketat untuk tidak berbaur dengan umat lainnya, Israel, sebagai sebuah bangsa, akan tenggelam dalam waktu beberapa tahun saja. bahkan setelah ada perintah demikian masih dibutuhkan bertahun-tahun melatih dan memberikan bimbingan kepada para nabi yang ditunjuk secara ilahi untuk memberi kesan kepada orang-orang akan kekudusan pemanggilan khusus mereka. Lagi pula, mereka harus menderita karena pelanggaran hukum dan pelanggaran perjanjian, dicambuk serta mengalami perbudakan sebelum mereka dapat memahami pelajaran mereka” (Smith, Way to Perfection, hlm. 129–130).