Semangat ketenangan meyakinkan kita bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tetapi selalu, jika kita jujur dan rendah hati, akan merasakan suatu perasaan tenang—perasaan hangat bagi Bapa kita di Surga dan merasakan kasih-Nya bagi kita” (Spencer W. Kimball, “‘Pray Always,’” Ensign, Oktober 1981, hlm. 5).
n “Pola hidup kita menentukan kelayakan
kita untuk menerima bisikan-bisikan Roh dan untuk mendengarkan jawaban atas doa-doa kita. Sekali lagi, jangan biarkan ada kesalahpahaman. Bapa Surgawi menjawab doa-doa kita, tetapi sering kali kita tidak siap mendengarkan Dia. Sebagian dijawab secara langsung, tetapi sebagian memerlukan waktu lebih lama, dan itulah yang kadang-kadang membuat kita kecewa” (Peterson,
“Prayer—Try Again,” hlm. 74).
E. Puasa hendaknya kadang-kadang menyertai doa.
n “Puasa dengan doa adalah sebuah pasangan,
yang dirancang untuk meningkatkan kerohanian; untuk menumbuhkan semangat pengabdian serta kasih bagi Allah; untuk meningkatkan iman di dalam hati manusia, sehingga meyakinkan kemurahan ilahi; untuk mendorong kerendahan hati dan pertobatan jiwa; untuk menolong memperoleh kebajikan; untuk mengajarkan kepada manusia mengenai ketidakberdayaan dan ketergantungannya kepada Allah; untuk menggerakkan mereka yang dengan benar menaati hukum puasa sepanjang jalan menuju keselamatan” (McConkie, Mormon Doctrine, hlm. 276).
n “Gagal berpuasa adalah dosa. Dalam Yesaya 58,
banyak janji dibuat Tuhan kepada mereka yang berpuasa dan membantu yang miskin. Janjinya adalah terbebas dari frustrasi, terbebas dari perbudakan, dan berkat kedamaian. Ilham serta bimbingan rohani akan datang dengan kebenaran dan kedekatan kita kepada Bapa Surgawi kita. Mengabaikan berpuasa ini akan menjauhkan kita dari berkat-berkat tersebut” (Spencer W. Kimball, The Miracles of Forgiveness, hlm. 98).
n “Perbuatan jahat tertentu tidak akan hilang kecuali melalui puasa dan doa, tulisan suci mengatakan itu kepada kita (lihat Matius 17:21). Berpuasa secara berkala dapat menolong menjernihkan pikiran dan memperkuat tubuh serta roh kita. Puasa umum, puasa yang diwajibkan agar kita lakukan untuk Minggu puasa, adalah selama 24 jam tanpa makan dan minum. Beberapa orang, karena merasa perlu, berpuasa lebih lama dengan tidak mengonsumsi makanan tetapi tetap minum. Kebijaksanaan hendaknya digunakan, dan puasa seharusnya tidak batal dengan makanan ringan. Untuk menjadikan puasa lebih bermanfaat, itu seharusnya dibarengi dengan doa serta meditasi; pekerjaan fisik hendaknya dilakukan seminimal mungkin, merenungkan tulisan suci serta memiliki tujuan akan memberi berkat” (Ezra Taft Benson, dalam Conference Report, Oktober 1974, hlm. 92; atau Ensign, November 1974, hlm. 66–67).
Iman, Sebuah Kekuatan Bab 13
yang Berpusat pada Kristus
Pengantar
Agar berhasil dalam kehidupan ini dan mempersiapkan diri dengan berhasil untuk kehidupan kekal, kita perlu iman yang teguh kepada Tuhan Yesus Kristus. Iman adalah asas utama Injil dan landasan dari semua asas.
Garis Besar Ajaran
A. Iman kepada Yesus Kristus adalah landasan Injil. 1. Iman kepada Tuhan Yesus Kristus adalah asas
utama Injil (lihat Pasal-Pasal Kepercayaan 4; A&P 68:25).
2. Iman adalah kepastian kita tentang hal yang tidak dapat kita lihat tetapi benar adanya (lihat TJS terhadap Ibrani 11:1; Alma 32:21; Eter 12:6). 3. Iman adalah karunia Allah melalui Roh Kudus
(lihat 1 Korintus 12:8–9; Efesus 2:8; Moroni 10:8–11). 4. Dengan menjalankan iman kepada Kristus, kita
dapat menerima kebenaran dan pengetahuan melalui kuasa Roh Kudus (lihat Moroni 10:4–5; Eter 4:7).
5. Iman kepada Kristus diperlukan bagi keselamatan dan kehidupan kekal (lihat 2 Nefi 31:19–21; 9:23; Moroni 7:33–34, 38; Mosia 3:9, 17; A&P 33:12). 6. Iman adalah sebuah asas kekuatan (lihat Matius
17:19–21; Eter 12:30; Alma 14:26–28). 7. Memohon kepada Allah tanpa iman Adalah
mustahil (lihat Ibrani 11:6; A&P 63:8–11).
B. Iman datang dari pengetahuan mengenai Allah dan ajaran-ajaran-Nya.
1. Iman berawal dari mendengarkan firman Allah (lihat Roma 10:17).
2. Tulisan suci menyakinkan dan menguatkan iman kita (lihat Helaman 15:7–8; 2 Nefi 32:3; Alma 30:43–44).
3. Iman kita meningkat dengan mendengar serta mematuhi firman Allah (lihat Alma 32:26–43). C. Iman kepada Yesus Kristus senantiasa menghasilkan buah-buah yang baik.
1. Iman disertai dengan perbuatan-perbuatan baik (lihat Yakobus 2:14, 17–26; Lukas 3:8).
2. Melalui iman kita dapat menggunakan kuasa Allah (lihat Moroni 7:33; A&P 45:8).
3. Mukjizat terjadi melalui iman (lihat Markus 16:16–18; Moroni 7:37; 2 Nefi 26:13; A&P 35:8–11; Eter 12:12–22; A&P 46:19–21).
4. Iman kepada Yesus Kristus adalah perisai yang melindungi kita dari hal-hal dunia dan godaan iblis (lihat Alma 37:33; A&P 27:17; Efesus 6:16; 1 Yohanes 5:4).
5. Allah dapat melakukan semua hal bagi kita jika kita menggunakan iman kita kepada Juruselamat (lihat 1 Nefi 7:12; Ibrani 11:4–40).
6. Memohon kepada Allah dengan iman menda-tangkan jawaban bagi doa (lihat Yakobus 1:5–6; Joseph Smith 2:11–19; Mosia 27:14; Moroni 10:4–5). 7. Keanggotaan yang produktif di Gereja Yesus
Kristus bergantung pada iman (lihat Moroni 7:39; A&P 12:6–8; 124:55).
Pernyataan Pendukung
A. Iman kepada Yesus Kristus adalah landasan Injil.
n “Asas utama Injil adalah iman kepada Tuhan
Yesus Kristus; dan tentu saja kita tidak akan memiliki iman kepada Tuhan Yesus Kristus tanpa memiliki iman kepada Bapa-Nya. Maka jika kita memiliki iman kepada Allah Bapa dan Putra serta dibimbing oleh, seperti yang seharusnya, Roh Kudus, kita akan beriman kepada para hamba Tuhan yang melalui mereka Dia menyampaikan pesan-Nya” (Joseph Fielding Smith, Doctrines of
Salvation, 2:303).
n “Iman pada kehidupan dan keselamatan berpusat pada Kristus. Tidak ada keselamatan dalam asas umum iman itu sendiri, yang mendorong seseorang untuk bertindak, yang menyebabkan petani menanam benih dengan harapan tak terlihat bahwa benih itu akan menghasilkan gandum. Tetapi ada iman kepada keselamatan jika Kristus menjadi pusat suatu harapan yang tak terlihat. Untuk itulah
Nabi menjelaskan ‘bahwa tiga hal diperlukan agar manusia yang dapat berpikir jernih dan cerdas menjalankan iman kepada Allah untuk memperoleh kehidupan serta keselamatan.’ Tiga hal itu adalah: 1. ‘Gagasan bahwa Dia benar-benar hidup’; 2. ‘Gagasan yang benar tentang karakter, kesempurnaan, serta sifat-sifat-Nya’; dan 3. ‘Pengetahuan nyata bahwa jalan kehidupan yang dijalani manusia adalah menurut kehendak-Nya’” (Bruce R. McConkie, Mormon Doctrine, hlm. 262).
n “Iman adalah karunia Allah, dan iman datang
kepada kita semua yang melayani Allah dan memohon kepada-Nya untuk mendapatkan bimbingan Roh-Nya. Tidak ada pria atau wanita mana pun yang akan kehilangan imannya dalam Gereja ini jika dia rendah hati dan penuh doa serta patuh pada tugasnya. Saya tidak pernah tahu orang yang kehilangan imannya seperti itu. Dengan melakukan tugas kita, iman kita bertambah sampai itu menjadi pengetahuan yang sempurna” (Heber J. Grant, Gospel Standards, hlm. 7–8).
n “Karena keselamatan diperoleh hanya melalui perantaraan dan Kurban Tebusan Kristus, dan karena keselamatan berlaku pada orang yang berdosa bila mereka patuh terhadap hukum-hukum kebenaran, iman kepada Yesus Kristus adalah penting bagi keselamatan. Tetapi tidak seorang pun dapat dengan efektif percaya kepada Yesus Kristus dan pada saat yang sama meragukan keberadaan Bapa atau Roh Kudus; oleh karena itu iman kepada semua tubuh Ketuhanan penting bagi keselamatan. Paulus menyatakan bahwa tanpa iman adalah mustahil untuk membuat seseorang berkenan bagi Allah, ‘karena dia yang datang kepada Allah harus percaya bahwa Dia ada, dan bahwa Dia memberi upah kepada mereka yang tekun mencari-Nya.’ Tulisan suci penuh dengan kepastian akan keselamatan bagi mereka yang menjalankan iman kepada Allah, dan mematuhi syarat-syarat yang memperjelas iman ....
“Meskipun dalam jangkauan semua orang yang tekun berusaha memperolehnya, tetapi iman adalah karunia ilahi. Karena sedemikian berharganya karunia tersebut, iman diberikan hanya kepada mereka yang menunjukkan kesungguhan mereka yang layak menerimanya, dan yang berjanji bertahan melalui perintahnya. Meskipun iman disebut asas utama Injil Kristus, dan landasan kehidupan beragama, iman didahului dengan ketulusan sifat dan kerendahan hati jiwa, karena firman Allah dapat membuat kesan di dalam hati. Tidak ada paksaan untuk membawa manusia kepada pengetahuan akan Allah; namun, secepat kita membuka hati kita terhadap pengaruh kebenaran, iman yang menuntun pada kehidupan kekal akan diberikan kepada kita oleh Bapa kita” (James E. Talmage, The
Articles of Faith, hlm. 106–107).
B. Iman datang dari pengetahuan mengenai Allah dan ajaran-ajaran-Nya.
n “Jika kita ingin memiliki iman yang hidup dan bertahan, kita harus aktif dalam melaksanakan setiap tugas sebagai anggota Gereja” (Smith,
Doctrines of Salvation, 2:311).
n “Iman diperoleh melalui mendengarkan firman
Allah, melalui kesaksian para hamba Allah; kesaksian itu selalu disertai oleh Roh nubuat dan wahyu” (Joseph Smith, Teachings of the Prophet
Joseph Smith, hlm . 148).
C. Iman kepada Yesus Kristus senantiasa menghasilkan buah-buah yang baik.
n “Bila iman tidak cukup, maka buah-buah iman
yang dihasilkan juga tidak cukup. Tidak seorang pun sejak dunia ada memiliki iman tanpa memiliki sesuatu bersamanya. Orang-orang zaman dahulu memadamkan api yang ganas, terhindar dari kematian dalam perang, wanita mengurusi mayat orang-orang yang mereka kasihi, dan sebagainya. Dengan iman dunia diciptakan. Seseorang yang tidak memiliki karunia apa pun tidak memiliki iman; dan dia menipu dirinya sendiri, jika dia menganggap memilikinya. Iman selalu tidak cukup, bukan hanya di antara orang kafir, tetapi juga mereka yang mengaku ber-Tuhan, demikian pula karunia lidah, penyembuhan, nubuat, dan nabi serta rasul, dan semua karunia serta berkat menjadi kurang” (Smith, Teachings, hlm. 270).
n “Iman memberi keyakinan dan kepercayaan dan
mendorong seseorang bertindak .... Kepercayaan dalam pengertiannya pasif, hanya suatu persetujuan atau penerimaan; iman adalah aktif dan positif, yang merangkul kepercayaan serta keyakinan yang akan menuntun pada perbuatan. Iman kepada Kristus berarti seseorang memercayai -Nya. Seseorang tidak bisa memiliki iman tanpa kepercayaan; tetapi dia dapat memercayai dan masih kekurangan iman. Iman adalah kepercayaan yang penuh semangat, kuat, dan hidup ....
... Oleh karena itu asas ini memberi kekuatan yang digunakan orang-orang untuk meraih keunggulan, yang sering kali bertahan dalam kekalahan dan penderitaan sehingga mereka dapat mencapai tujuan-tujuan mereka. Iman
adalah ambisi rahasia, jiwa kepahlawanan, kekuatan pendorong upaya” (Talmage, Articles of
Faith, hlm. 96–97, 103).
n “Kecuali seseorang mau menaati ajaran dan
berjalan dengan iman, menerima kebenaran serta mematuhi perintah-perintah yang telah mereka terima, maka mustahil baginya untuk menerima kehidupan kekal, terlepas betapa banyak dia mengakui melalui mulutnya bahwa Yesus adalah Kristus, atau percaya bahwa Bapa-Nya mengutus Dia ke dunia untuk menebus manusia. Jadi Yakobus memang benar ketika dia mengatakan iblis ‘percaya dan gemetar,’ tetapi mereka tidak bertobat. Jadibukan hanya percaya, tetapi bertobat, dan melakukan perbuatan-perbuatan baik dengan iman sampai akhir adalah penting; maka kita akan menerima pahala dan tempat dalam kerajaan selestial Allah bagi yang setia” (Smith, Doctrines
of Salvation, 2:311).
n “Mukjizat-mukjizat, tanda-tanda, karunia-karunia Roh, pengetahuan tentang Allah dan keallahan, serta setiap hal baik yang masuk akal— semua itu adalah hasil dari iman; semua itu terjadi karena iman telah menjadi kekuatan pendorong dalam kehidupan orang-orang suci. Sebaliknya, jika hal-hal itu tidak ada, maka iman pun tidak ada” (McConkie, Mormon Doctrine, hlm. 264).
n “Diperlukan iman—iman yang tak terlihat—
bagi kaum remaja untuk mulai dengan segera membangun keluarga mereka dalam ketidakpastian keuangan. Diperlukan iman bagi remaja putri untuk melahirkan anak-anak mereka daripada bekerja, khususnya ketika sekolah suami yang masih muda harus diselesaikan. Diperlukan iman untuk mematuhi hari Sabat ketika ‘kerja tambahan’ dibutuhkan, ketika penjualan bisa ditutup, dan barang-barang dapat dijual di hari Minggu. Diperlukan iman yang besar untuk membayar
persepuluhan ketika uang langka dan tuntutan hidup besar. Dibutuhkan iman untuk berpuasa serta mengadakan doa keluarga dan mentaati Kata-Kata Bijaksana. Diperlukan iman untuk melakukan pengajaran di lingkungan, pekerjaan misionaris, dan pelayanan lainnya, ketika pengurbanan diperlukan. Diperlukan iman untuk melayani misi di luar negeri. Tetapi ketahuilah bahwa semua itu adalah menanam, sementara hasilnya adalah keluarga yang setia, keselamatan rohani, kedamaian, dan hidup yang kekal.
Ingatlah bahwa Abraham, Musa, Elia, serta yang lainnya tidak dapat melihat dengan jelas akhir dari permulaan. Mereka juga berjalan dengan iman dan tanpa melihat. Ingatlah kembali bahwa tidak ada pintu yang terbuka; Laban tidak mabuk; dan tidak ada harapan duniawi dapat membenarkan ketika Nefi menjalankan imannya dan akhirnya pergi untuk mendapatkan lemping-lemping itu. Tidak ada pakaian antiapi atau alat pelindung umum yang ada dalam tungku api yang menyala-nyala untuk melindungi ketiga orang Ibrani tersebut dari kematian; juga tidak ada berangus kulit atau besi untuk menutup mulut singa ketika Daniel dikurung di kandang singa.
Ingatlah bahwa tidak ada awan di langit maupun alat pengukur di tangannya ketika Elia dijanjikan segera terjadi masa kekeringan yang panjang; meskipun Yosua mungkin telah melihat mukjizat Laut Merah, tetapi bagaimana dia dapat mengenali bahwa sungai Yordan yang meluap akan terbendung selama waktu yang diperlukan untuk menyeberang, dan kemudian mengalir kembali ke muara menuju Laut Mati.
Ingatlah bahwa tidak ada awan di langit, tidak ada tanda-tanda hujan, dan tidak ada contoh banjir besar ketika Nuh membangun bahtera sesuai dengan perintah. Tidak ada domba jantan di belukar ketika Ishak dan ayahnya pergi ke tanah Moria untuk memberikan persembahan. Ingatlah tidak ada kota, tidak ada ladang serta kebun, tidak ada rumah dan gudang, tidak ada padang gurun yang subur di Utah ketika para pionir yang teraniaya melintasi dataran. Dan ingatlah tidak ada makhluk surgawi di Palmyra, di sungai Susquehanna atau di bukit Cumorah ketika Joseph yang lapar jiwanya diam-diam pergi ke Hutan, berlutut dalam doa di tepi sungai, dan naik ke bukit yang kudus.
Tetapi ketahuilah ini: bahwa iman yang tak tergoyahkan dapat menyumbat mulut singa, memadamkan api si jahat, mengeringkan jalannya sungai dan lautan. Iman yang tak tergoyahkan dapat melindungi diri terhadap banjir, mengakhiri kekeringan, menyembuhkan yang sakit, serta mendatangkan perwujudan-perwujudan surgawi. Iman yang kuat dapat menolong kita menjalankan perintah-perintah dan karenanya mendatangkan berkat-berkat kedamaian yang tak terhitung, kesempurnaan serta permuliaan di dalam kerajaan Allah” (Spencer W. Kimball, dalam Conference Report, Oktober 1952, hlm. 50–51).