bumi ini, dari Bapa Adam ke bawah, sampai masa kelegaan ini. Dia menerima kuasa serta kunci-kunci dari tangan Musa untuk pengumpulan umat Israel di zaman akhir; dia menerima dari tangan Elias kunci-kunci pemeteraian hati para ayah kepada anak-anak, dan hati anak-anak kepada ayah; dia menerima dari tangan Petrus, Yakobus dan Yohanes, Kerasulan, dan semua milik mereka; dia menerima dari tangan Moroni semua kunci dan kuasa yang diperlukan untuk papan Yusuf di
tangan Efraim; dia menerima dari tangan Yohanes Pembaptis Imamat Harun, dengan semua kunci serta kuasanya, dan setiap kunci serta kuasa lainnya yang menjadi milik masa kelegaan ini, dan saya tidak merasa malu mengatakan bahwa dia adalah Nabi Allah, dan dia meletakkan dasar bagi pekerjaan serta masa kelegaan paling besar yang pernah ditegakkan di bumi ini” (Wilford Woodruff, dalam Journal of Discourses, 16:267).
Sumpah dan Perjanjian Imamat Bab 26
Pengantar
Karena tanggung jawab penyandang imamat sangat besar, semua yang menerimanya melakukannya dengan sumpah dan perjanjian. Menghormati perjanjian berarti bahwa “orang yang menerima imamat juga menerima tanggung jawab-tanggung jawab yang menyertainya. Dia berjanji untuk melayani serta menjadikan dirinya diakui” (Joseph Fielding Smith, dalam Conference Report, April 1966, hlm. 102).
Garis Besar Ajaran
A. Imamat Melkisedek diterima melalui sumpah dan perjanjian.
1. Perjanjian adalah janji yang kudus antara dua pihak (lihat Kejadian 6:18; 17:1–8; 1 Samuel 18:3; A&P 82:10).
2. Sumpah adalah penegasan janji bahwa kita akan setia terhadap janji-janji kita. (lihat Bilangan 30:2; Alma 53:11; 1 Nefi 4:35–37).
3. Allah menggunakan sumpah untuk mengukuhkan janji-janji-Nya kepada kita (lihat Kejadian 26:3; Ulangan 7:8; Yeremia 11:5; Kisah para Rasul 2:30; Musa 7:51).
4. Dalam menerima perjanjian imamat, seorang pria berjanji untuk menerima imamat itu dan meningkatkan pemanggilannya dalam imamat itu (lihat A&P 84:32–39, 43–44).
B. Kebenaran adalah kunci bagi kuasa imamat dan kehidupan kekal.
1. Allah berusaha menjadikan anak-anak fana-Nya sebagai bangsa imam dan raja (lihat Keluaran 1:6; 5:10; 20:6; A&P 76:55–56).
2. “Hak keimamatan berhubungan erat tak terpisahkan dengan kekuasaan surga” dan dapat dikendalikan hanya dengan asas-asas kebenaran (A&P 121:36; lihat juga ayat 34–35).
3. Mereka yang menyandang imamat harus memim-pin dan memerintah hanya dengan kasih, kebaikan hati, dan bujukan moral (lihat A&P 121:41–46). 4. Ilmu kependetaan adalah imamat palsu dan
menyebabkan kita tersesat (lihat 2 Nefi 26:29; Alma 1:2–12; Mikha 3:11; A&P 33:4).
5. Orang-orang fana kehilangan kekuasaan dan wewenang (lihat A&P 121:37–40).
6. Orang-orang yang benar memperoleh kehidupan kekal dengan mematuhi sumpah serta perjanjian imamat (lihat A&P 84:33–39; 121:45–46).
Pernyataan Pendukung
A. Imamat Melkisedek diterima melalui sumpah dan perjanjian.
n “Sebuah perjanjian adalah suatu kesepakatan yang mengikat dan suci yang dibuat oleh
sekurangnya dua orang. Perjanjian mengharuskan kedua belah pihak setuju mematuhi syarat-syarat untuk membuatnya efektif dan mengikat” (ElRay L. Christensen, dalam Conference Report, Oktober 1972, hlm. 24; atau Ensign, Januari 1973, hlm. 50).
n “Sumpah adalah bentuk ucapan manusia yang
paling suci dan mengikat ; dan cara inilah yang dipilih Bapa untuk digunakan dalam nubuat besar ke-Mesiasan mengenai Kristus serta imamat. Mengenai Dia dikatakan: ‘Tuhan telah bersumpah, dan Dia tidak akan menyesal: “Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek’ (Mazmur 110:4)” (Joseph Fielding Smith, dalam Conference Report, Oktober 1970, hlm. 92).
n “Pada masa kelegaan zaman dahulu, khususnya
zaman Musa, bersumpah adalah bagian yang disetujui dan penting dalam kehidupan umat beragama. Sumpah itu adalah permohonan kudus kepada Tuhan, atau terhadap benda atau hal yang kudus, untuk membuktikan kebenaran sebuah pernyataan atau janji yang harus ditepati. Pernyataan tersebut, biasanya dibuat dalam nama Tuhan, oleh orang yang menghormati agama mereka dan perkataan mereka melebihi hidup mereka, dapat dipercaya secara mutlak (Bilangan 30)” (Bruce R. McConkie, Mormon Doctrine, hlm. 537–538).
n “Bermula dalam masa pertengahan zaman
ketika hukum melarang manusia bersumpah, maka orang-orang suci diperintahkan untuk menghentikan penggunaan sumpah itu ....
Tetapi, tidak ada larangan dalam mengambil sumpah, yang diterapkan Tuhan. Baik pada zaman dahulu maupun zaman sekarang Dia telah berbicara kepada orang-orang suci-Nya dengan sebuah sumpah (A&P 124:47). Perjanjian besar yang dibuat dengan Abraham bahwa melalui dia dan keturunannya semua generasi akan diberkati dibuat oleh Allah dengan sebuah sumpah karena Tuhan bersumpah demi nama-Nya sendiri (karena Dia dapat bersumpah tanpa menggunakan nama yang lebih tinggi) bahwa perjanjian itu akan digenapi (Kejadian. 17; Ulangan 7:8; 29:10–15; Lukas 1:67–75; Ibrani 6:13–20)“ (McConkie,
n “Ketika kita menerima Imamat Melkisedek kita melakukannya dengan perjanjian. Kita dengan sungguh-sungguh berjanji untuk menerima imamat itu, untuk meningkatkan pemangilan kita di dalamnya, dan untuk hidup dari setiap kata yang dikeluarkan dari mulut Allah. Tuhan sendiri menjanjikan kepada kita bahwa jika kita menepati perjanjian, kita akan menerima semua yang Bapa miliki, yaitu kehidupan kekal. Dapatkah kita membayangkan suatu perjanjian yang lebih besar atau lebih mulia daripada ini?” (Smith, dalam Conference Report, Oktober 1970, hlm. 91).
n “Anda juga membuat sumpah, ketika Anda
menerima imamat. Anda membuat sebuah sumpah, dan Anda tidak dapat mengabaikan sumpah itu tanpa dihukum. Anda berjanji. Ketika presiden wilayah atau presiden misi, atau uskup atau presiden cabang mewawancarai Anda dia meminta janji-janji itu: ‘Maukah Anda? Apakah Anda? Apakah Anda telah melakukan? Maukah Anda terus melakukan?’ Dan dengan sumpah dan janji itu, Anda maju terus dalam pelayanan Anda dalam Imamat Melkisedek” (Spencer W. Kimball, dalam Stockholm Sweden Area Conference Report, 1974, hlm. 99).
n “Seseorang melanggar perjanjian imamat
dengan melanggar perintah-perintah—tetapi juga dengan tidak menjalankan tugas-tugasnya. Jadi, untuk melanggar perjanjian ini seseorang tidak perlu berbuat apa-apa” (Spencer W. Kimball, The
Teachings of Spencer W. Kimball, hlm. 497).
n “Tuhan telah memperjelas bahwa mereka yang
menerima imamat-Nya menerima Dia. Dan menurut saya itu berarti lebih dari sekadar duduk di kursi dan membiarkan beberapa orang menumpangkan tangan di atas kepala Anda. Menurut saya ketika Anda menerima imamat, Anda menerimanya. Anda tidak hanya duduk diam. ‘Dan dia yang menerima Bapa-Ku menerima kerajaan Bapa-Ku; karena itu segala yang dimiliki Bapa-Ku akan diberikan kepadanya.’ Dapatkah Anda membayangkan ada yang lebih besar dari itu? Seharusnya kita jangan takut, atau ketakutan sewaktu kita memikirkan kehormatan yang kita miliki dan tanggung jawab
yang kita miliki yang datang dari sumpah serta perjanjian itu” (Kimball, dalam Stockholm Sweden Area Conference Report 1974, hlm. 100).
n “Adalah sangat penting bahwa kita harus mengingat dengan jelas apa yang meningkatkan pemanggilan kita dalam keimamatan yang diminta dari pihak kita. Saya yakin bahwa itu memerlukan sekurangnya tiga hal berikut:
1. Bahwa kita memperoleh pengetahuan tentang Injil.
2. Bahwa kita menyelaraskan kehidupan pribadi kita dengan standar-standar Injil.
3. Bahwa kita memberikan pelayanan yang penuh pengabdian.” (Marion G. Romney, dalam Conference Report, Oktober 1980, hlm. 64; atau Ensign, November 1980, hlm. 44).
n “Mereka akan ‘dipersucikan oleh Roh demi
pembaruan tubuh mereka.’ Saya menyajikan kepada Anda gagasan bahwa tubuh Presiden David O. McKay, dan tubuh Presiden Joseph Fielding Smith, yang berusia sembilan puluh, serta tubuh semua Presiden Gereja hampir sejak permulaan dalam usia mereka yang sudah tua, telah diperbarui, dan roh-roh mereka
dipersucikan” (Kimball, dalam Stockholm Sweden Area Conference Report 1974, hlm. 99).
n “Pernahkah Anda memikirkan ‘Segala yang
dimiliki Bapa-Ku’; menjadi seorang Allah; menjadi seorang pemimpin besar; menjadi sempurna; memiliki semua berkat yang dapat Anda minta kepada Bapa Anda di surga—semua yang tersedia bagi Anda dan saya jika kita memegang imamat, khususnya Imamat Melkisedek, yang tentu saja dapat diperoleh hanya setelah menerima Imamat Harun?” (Kimball, dalam Stockholm Sweden Area Conference Report 1974, hlm. 99).
B. Kebenaran adalah kunci bagi kuasa imamat dan kehidupan kekal.
n “Kapan pun Tuhan memiliki umat di bumi Dia
menawarkan untuk menjadikan mereka sebuah bangsa yang terdiri dari raja-raja dan imam-imam— bukan suatu kumpulan jemaat biasa dengan seorang imam atau pendeta sebagai kepala—tetapi seluruh
Gereja yang di dalamnya setiap orang adalah pendeta, yang di dalamnya setiap orang adalah raja, yang memerintah atas kerajaan keluarganya sendiri. Imamatlah yang membuat seseorang menjadi raja, dengan demikian seorang imam adalah juga seorang raja” (Bruce R. McConkie, Doctrinal New
Testament Commentary, 3:294).
n “Kebanyakan orang cenderung menyalahgunakan
wewenang, khususnya mereka yang kurang siap untuk memegang jabatan yang dipercayakan kepada mereka. Telah menjadi sifat manusia yang berkuasa untuk menggunakan kuasa itu untuk memuaskan kesombongan dan ambisi sia-sia mereka sendiri. Lebih banyak kepedihan menimpa para penduduk bumi ini melalui penggunaan wewenang oleh mereka yang paling tidak pantas menerimanya, daripada penyebab lain mana pun. Para penguasa kerajaan di masa lalu telah menindas warga mereka, dan karena mereka memiliki kekuasan, mereka berusaha meningkatkan kekuasan itu. Kita memiliki beberapa contoh mengerikan mengenai penyalahgunaan ambisi ini yang, pada tahun-tahun terakhir ini, menempatkan kehidupan manusia dalam bahaya. Kondisi-kondisi tersebut masih menempati urutan tinggi yang menyebabkan ketakutan dan kekhawatiran bagi dunia yang kacau ini.
Karena itu, seharusnya tidak ada ambisi yang jahat ini di dalam Gereja, tetapi semua hal seharusnya dilakukan dalam semangat kasih dan kerendahan hati” (Joseph Fielding Smith, Church
History and Modern Revelation, 2:178).
n “Imamat tidak dapat dianugerahkan seperti ijazah. Itu tidak dapat diberikan kepada Anda sebagai sebuah sertifikat. Itu tidak dapat diberikan kepada Anda sebagai pesan atau dikirimkan kepada Anda dalam sebuah surat. Itu hanya datang dengan penahbisan yang benar. Seorang pemegang imamat yang memiliki wewenang harus ada di sana. Dia harus meletakkan tangannya di atas kepala Anda serta menahbiskan Anda ....
Saya telah memberitahu Anda bagaimana
wewenang diberikan kepada Anda. Kuasa yang Anda terima akan bergantung pada apa yang Anda lakukan dengan karunia yang kudus dan tak terlihat ini.
Wewenang Anda datang melalui penahbisan Anda; kuasa Anda datang melalui kepatuhan dan kelayakan” (Boyd K. Packer, “That All May Be
Edified,” hlm. 28–29).
n “Kuasa imamat yang Anda pegang adalah
tak terbatas. Keterbatasan itu datang kepada Anda jika Anda tidak hidup selaras dengan Roh Tuhan dan Anda membatasi diri sendiri dalam kuasa yang Anda gunakan” (Kimball, Teachings
of Spencer W. Kimball, hlm. 498).
n “Imamat dan ilmu kependetaan adalah dua hal
yang bertentangan; yang satu berasal dari Allah, yang lain berasal dari iblis. Ketika para pendeta mengaku memilikinya padahal tidak memiliki imamat; mereka mengangkat diri mereka menjadi terang jemaat mereka, tetapi tidak mengkhotbahkan
Injil yang murni dan lengkap; ketika minat mereka adalah memperoleh popularitas diri dan keuntungan finansial, daripada memelihara yang miskin dan melayani sesama mereka yang miskin— mereka terlibat, pada tingkat yang lebih tinggi atau lebih rendah, dalam praktik ilmu kependetaan” (McConkie, Mormon Doctrine, hlm. 593).
n “Orang-orang yang setia dalam imamat adalah
mereka yang memenuhi perjanjian dengan ‘meningkatkan pemanggilan mereka’ dan hidup ‘dengan setiap kata yang dikeluarkan dari mulut Allah’ (A&P 84:33, 44)” (Spencer W. Kimball, “The Example of Abraham,” Ensign, Juni 1975, hlm. 4).
n “Sekarang, pemeteraian untuk kekekalan
memberi Anda kepemimpinan kekal. Pria akan memiliki wewenang imamat, dan jika dia menertibkan hidupnya dia akan menjadi seorang allah .... Tuhan menciptakan bumi ini bagi kita dan menjadikannya sebuah tempat yang indah untuk ditinggali. Dia berjanji kepada kita bahwa jika kita mau hidup dengan benar kita dapat kembali kepada-Nya dan menjadi seperti Dia” (Spencer W. Kimball, dalam Sao Paulo Brazil Area Conference Report 1975, hlm. 43).
“Lalu apa ajaran imamat itu? Dan bagaimana kita akan hidup sebagai para hamba Tuhan?
Ajaran ini adalah bahwa Allah Bapa kita adalah insan yang dipermuliakan, sempurna, dan agung yang memiliki semua kekuatan, semua kekuasaan, serta semua kerajaan, yang mengetahui segala hal dan tak terbatas dalam semua sifat-Nya, serta yang hidup di dalam unit keluarga.
Bapa Surgawilah yang menikmati status kemuliaan dan kesempurnaan serta kekuasaan yang tinggi ini karena iman-Nya sempurna dan imamat-Nya tak terbatas.
Imamat itu adalah sebutan penting kuasa Allah, dan jika kita harus menjadi seperti Dia, kita harus menerima serta menggunakan imamat atau kuasa-Nya sebagaimana Dia menggunakan imamat itu.
Dialah yang memberi kita karunia kuasa surgawi di bumi ini, yaitu menurut aturan Putra dan yang, karena itu adalah kuasa Allah, sangat penting tanpa permulaan hari dan tak berkesudahan.
Kitalah yang dapat memasuki aturan imamat yang disebut perjanjian pernikahan yang baru dan kekal (lihat A&P 131:2), yang juga disebut aturan patriakhal, karena dengan aturan itu kita dapat membangun unit-unit keluarga kekal kita sendiri, yang dibentuk menurut keluarga Allah Bapa Surgawi kita.
Kitalah yang memiliki kuasa, melalui iman, untuk memerintah dan mengendalikan segala hal, baik jasmani maupun rohani; untuk melakukan mukjizat-mukjizat dan menyempurnakan hidup; untuk berdiri di hadirat Allah serta menjadi seperti Dia karena kita telah memperoleh iman-Nya, kesempurnaan-iman-Nya, dan kuasa-iman-Nya, atau dengan kata lain kegenapan imamat-Nya” (Bruce R. McConkie, dalam Conference Report, April 1982, hlm. 50; atau Ensign, Mei 1982, hlm. 33–34).