terjadi. Sering kali ketakutan dan pertengkaran serta ketegangan timbul akibat kemandulan dan sterilisasi. Orang-orang seperti itu akan berbuat apa saja semampu mereka untuk menempatkan diri mereka dalam posisi memiliki anak sendiri. Adopsi bagi orang tua yang tidak memiliki anak mendatangkan sukacita bagi banyak hati. Jika ada, sedikit saja, orang tua yang tidak dapat melahirkan anak dalam hidup mereka” (Spencer W. Kimball, ceramah api unggun tanpa judul di San Antonio, Texas, 3 Desember 1977, hlm. 24–26).
n “Anda mungkin menganggap saya ekstrem,
tetapi saya ingin mengatakan bahwa seorang wanita yang telah menikah yang menolak mengambil tanggung jawab menjadi ibu, atau yang, setelah memiliki anak, mengabaikan mereka demi kesenangan atau martabat sosialnya sendiri, tidak setia terhadap pemanggilan dan hak istimewanya yang tertinggi sebagai wanita. Ayah, yang karena bisnis atau tanggung jawab politik maupun sosial, gagal berbagi dengan istrinya tanggung jawab-tanggung jawab membesarkan anak-anak lelaki dan perempuan mereka, tidak setia terhadap tanggung jawab pernikahan mereka, dan menjadi unsur negatif kepada rumah tangga yang seharusnya dan hendaknya menjadi rumah tangga yang penuh sukacita, akan memicu timbulnya konflik serta pelanggaran” (David O. McKay, Gospel Ideals, hlm. 477).
n “Kita tidak punya pilihan ... tetapi terus memegang teguh standar keluarga Orang Suci Zaman Akhir. Kenyataan bahwa sekarang tidak ada keluarga seperti itu bukan alasan yang cukup untuk tidak membicarakannya. Tetapi, kita memang membahas kehidupan keluarga dengan hati-hati, menyadari bahwa banyak ... yang saat ini tidak memiliki kesempatan istimewa untuk memiliki atau menjadi bagian dalam keluarga semacam itu. Tetapi kita tidak dapat mengesampingkan standar ini, karena begitu banyak hal lainnya bergantung padanya” (Kimball, Teachings of Spencer W. Kimball, hlm. 294–295).
n “Kepada kelompok besar [wanita lajang], kami
hanya dapat mengatakan, Anda sedang membuat kontribusi besar kepada dunia sewaktu Anda melayani keluarga-keluarga Anda dan Gereja serta dunia. Anda harus ingat bahwa Tuhan mengasihi Anda dan Gereja mengasihi Anda. Kita tidak bisa mengendalikan emosi atau kasih sayang manusia, tetapi berdoalah semoga Anda dapat menemukan sukacita penuh. Dan pada saat yang sama, kami berjanji kepada Anda bahwa sejauh berhubungan dengan kekekalan Anda, bahwa tidak ada jiwa yang akan kehilangan banyak berkat-berkat kekal yang tidak dapat dilakukan orang itu, bahwa kekekalan adalah waktu yang panjang, dan bahwa Tuhan tidak pernah gagal dalam janji-janji-Nya serta bahwa setiap wanita yang saleh akhirnya akan menerima semua hal yang menjadi haknya yang tidak dikorbankannya karena kesalahan
apa pun atau kesalahan drinya sendiri” (Kimball,
Teachings of Spencer W. Kimball, hlm. 294).
B. Suami dan istri hendaknya saling mengasihi dan mendukung.
n “Salah satu pernyataan paling provokatif dan penting dalam tulisan suci adalah yang dikatakan Paulus yang mengarahkan para suami dan istri dalam tugas-tugas mereka terhadap satu sama lain dan terhadap keluarga mereka. Pertama, dia memerintahkan wanita: ‘Hai isteri, tunduklah kepada suami seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya’ (Efesus 5:22–24).
Jika Anda analisis itu dengan sangat teliti, Anda dapat melihat bahwa Tuhan tidak meminta wanita untuk tunduk kepada suami mereka jika suami mereka bersikap buruk dan durhaka serta menuntut. Ini bukan lelucon, juga bukan hal yang menggelikan. Kalimat ‘seperti kepada Tuhan’ Mengandung arti yang serius. Seperti Tuhan mengasihi jemaat-Nya dan melayaninya, demikian juga manusia hendaknya mengasihi istri mereka dan melayani mereka serta keluarga mereka.
Seorang wanita hendaknya tidak merasa dipaksa, juga merasa suami bersikap diktator, juga merasa dituntut-tuntut jika suami memiliki sifat rela berkurban dan layak. Tentunya tidak ada wanita yang waras akan ragu untuk tunduk kepada suaminya sendiri yang benar-benar bajik dalam semua hal. Kadang-kadang kita kaget melihat istri mengambil alih kepemimpinan keluarga, menentukan seseorang untuk berdoa, di mana tempatnya, hal-hal apa yang harus dilakukan.
Para suami diperintahkan: ‘Kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya’ (Efesus 5:25). Itu adalah sebuah ambisi yang tinggi.
Dan inilah jawabannya: Tuhan sangat mengasihi Gereja dan umatnya sehingga Dia secara sukarela menanggung penganiayaan bagi mereka, merasakan penghinaan yang memalukan bagi mereka, dengan tenang menanggung rasa sakit dan perundungan jasmani bagi mereka, serta akhirnya memberikan nyawa-Nya yang berharga bagi mereka.
Jika suami siap untuk memperlakukan rumah tangganya seperti itu, bukan hanya istri, tetapi seluruh keluarga akan menanggapi kepemimpinannya. Tentu saja jika ayah harus dihormati, mereka harus layak menerima penghormatan itu. Jika mereka harus dikasihi, mereka harus konsisten, dapat mengasihi, memahami, dan baik hati serta harus menghormati imamat mereka” (Spencer W. Kimball, dalam
Stockholm Sweden Area Conference Report 1974, hlm. 46–47).
n “Sebagai suami, [seorang pria] harus menghormati istrinya, berdiri berdampingan bersama istrinya, tidak pernah meremehkan maupun merendahkannya, melainkan memberinya semangat dalam mengembangkan bakat-bakatnya serta dalam kegiatan-kegiatan Gereja yang tersedia baginya. Dia akan menganggapnya sebagai harta terbesar dalam hidupnya, seseorang yang dapat diajak berbagi masalah, gagasan-gagasan terdalamnya, ambisi-ambisi serta
harapan-harapannya. Jangan pernah membiarkan ‘kekuasaan yang tidak benar’ apa pun dari suami terhadap istrinya (lihat A&P 121:37, 39) dalam rumah tangga, tidak ada pertengkaran mengenai kedudukan tertinggi, tidak ada pertengkaran mengenai kekuasaan, melainkan hidup saling bekerja sama.
Tidak seorang pria pun yang gagal untuk menghormati para putri Allah dapat menyenangkan Bapa Surgawinya. Tidak seorang pria pun yang gagal untuk meneguhkan istri dan pasangannya, memelihara serta membangun dan memperkuat serta berbagi dengannya dapat menyenangkan Bapa Surgawinya” (Hinckley, dalam Conference Report, April 1985, hlm. 65; atau Ensign, Mei 1985, hlm. 49).
n “Saya bertanya pada diri sendiri, ‘Bagaimana mungkin anggota mana pun di Gereja—pria mana pun yang memegang imamat Allah—berbuat kejam terhadap istri dan anak-anaknya sendiri?
Tindakan seperti itu, jika dilakukan oleh seorang pemegang imamat, sungguh tak dapat dibayangkan. Mereka benar-benar tidak sesuai dengan ajaran-ajaran Gereja dan Injil Yesus Kristus ....
Seorang pemegang imamat dapat menahan diri. Ini artinya dia dapat menahan emosinya dan cara dia mengungkapkannya. Dia melakukan tidak ekstrem dan tidak berlebihan. Dengan kata lain, dia memiliki kendali diri. Dia adalah penguasa emosinya, bukan sebaliknya.
Seorang pemegang imamat yang mengutuk istrinya, memperundungnya dengan kata-kata dan tindakan, atau melakukan hal serupa terhadap salah satu anaknya bersalah telah melakukan dosa serius” (Ezra Taft Benson, dalam Conference Report, Oktober 1983, hlm. 61–62; atau Ensign, November 1983, hlm. 42).
n “Orang tua, sejak awal, baik mereka melakukannya ataupun tidak, harus saling mengasihi dan menghargai, serta memperlakukan satu sama lain dengan tata krama yang pantas dan penghormatan yang penuh kasih sayang, setiap saat. Suami harus memperlakukan istrinya dengan sopan santun dan rasa hormat yang sangat tinggi. Suami tidak pernah boleh menghina istrinya; dia tidak pernah boleh berbicara merendahkan istrinya, melainkan harus senantiasa memberinya penghargaan yang tertinggi di dalam rumah tangganya, di hadapan anak-anak mereka. Barangkali kita tidak selalu melakukannya;
barangkali ada di antara kita, yang tidak
melakukannya sama sekali. Walaupun begitu kita tetap harus melakukannya. Sang istri, juga harus memperlakukan suaminya dengan rasa hormat dan sopan-santun yang sangat besar. Kata-katanya kepada suaminya hendaknya tidaklah kasar dan meremehkan serta pedas. Dia hendaknya tidak mengomeli suaminya. Dia hendaknya tidak mencoba untuk membangkitkan amarah suaminya atau membuat segalanya tidak menyenangkan di sekitar rumah tangganya. Istri seharusnya menjadi sukacita bagi suaminya, dan dia seharusnya hidup serta mengatur diri sehingga rumah menjadi tempat yang paling menyenangkan dan paling diberkati di bumi bagi suaminya. Inilah seharusnya keadaan suami, istri, ayah dan ibu, di lingkungan kudus tempat yang suci, yaitu rumah tangga” (Joseph F. Smith, Gospel Doctrine, hlm. 283–284).
n “Tugas suami adalah mengasihi, menghargai, dan
merawat istrinya, serta bersatu dengan dia dan tidak dengan orang lain; dia harus menghormati istrinya seperti dirinya sendiri, dan dia harus memerhatikan perasan-perasaan istrinya dengan lembut, karena dia adalah dagingnya, dan tulangnya, yang dirancang untuk membantunya, baik dalam hal-hal jasmani maupun rohani; seseorang yang dapat dijadikan tempat curahan hati, yang bersedia (yang ditetapkan) untuk memikul sebagian bebannya, untuk melegakan dan membesarkan hatinya dengan suara yang lembut. Pria adalah kepala keluarga, dan tuan di dalam rumahnya sendiri, tetapi bukan untuk menguasai istrinya, maupun sebagai orang yang ditakuti ataupun dicemburui sehingga istrinya akan kabur dari rumahnya, untuk menghindarkan diri darinya. tugasnya adalah menjadi hamba Allah (karena hamba Allah adalah pria yang memiliki kebijaksanaan), yang siap sepanjang waktu untuk memperoleh wahyu-wahyu dari tulisan suci dan ketinggian, petunjuk-petunjuk yang diperlukan untuk peneguhan, dan keselamatan rumah tangganya.—Dan sebaliknya, adalah tugas istri, untuk tunduk kepada suaminya sepanjang waktu, bukan sebagai hamba, juga bukan sebagai orang yang takut terhadap seorang tirani, maupun majikan, tetapi sebagai orang yang, dalam kelemahlembutan, dan kasih Allah, memerhatikan hukum-hukum serta ketentuan-ketentuan
Surga, yang meminta petunjuk, peneguhan serta penghiburan dari suaminya” (“On the Duty of Husband and Wife,” Elder’s Journal, Agustus 1838, hlm. 61–62).
C. Orang tua bertanggung jawab untuk mengajar, mendisiplin, memberi nafkah, dan merawat anak-anak mereka.
n “Bapa Surgawi memberi orang tua tanggung
jawab untuk memastikan bahwa anak-anak mereka diberi cukup sandang, pangan, pelatihan dan pengajaran yang baik. Kebanyakan orang tua melindungi anak-anak mereka dengan tempat perlindungan—mereka memerhatikan dan merawat penyakit mereka, menyediakan pakaian
untuk keamanan dan kenyamanan mereka, serta menyediakan makanan untuk kesehatan serta pertumbuhan mereka. Tetapi apa yang mereka lakukan untuk jiwa-jiwa mereka?” (Kimball,
Teachings of Spencer W. Kimball, hlm. 332).
n “Orang tua secara langsung bertanggung jawab
untuk membesarkan anak-anak mereka dalam kebajikan, dan tanggung jawab ini tidak bisa begitu saja didelegasikan kepada sanak keluarga, teman-teman, tetangga, sekolah, Gereja, maupun negara” (Ezra Taft Benson, dalam Conference Report, Oktober 1970, hlm. 21).
n “Di rumah kita, saudara-saudara, adalah hak istimewa kita, juga, tugas kita, untuk mengumpulkan keluarga kita untuk diajari kebenaran-kebenaran dari Tulisan Suci. Di setiap rumah, anak-anak hendaknya didorong untuk membaca firman Tuhan, sebagaimana itu telah diwahyukan kepada kita dalam semua masa kelegaan. Kita hendaknya membaca Alkitab, Kitab Mormon, Ajaran dan Perjanjian, serta Mutiara yang Sangat Berharga; bukan hanya membacanya di rumah kita, tetapi menjelaskannya kepada anak-anak kita, agar mereka dapat memahami urusan-urusan pribadi Allah dengan umat-Nya di bumi. Marilah kita uji apakah kita tidak dapat melakukan lebih banyak lagi dalam hal ini di masa yang akan datang daripada yang telah kita lakukan di masa lalu. Marilah kita masing-masing dalam jemaat hari ini bertanya pada diri sendiri: ‘Apakah saya telah melakukan tugas saya di rumah untuk membaca dan mengajarkan Injil, sebagaimana telah diwahyukan melalui para nabi Tuhan? Jika kita belum melakukannya marilah kita bertobat dari kelalaian kita dan mengumpulkan keluarga kita di sekitar kita serta mengajarkan kebenaran kepada mereka” (George Albert Smith, dalam Conference Report, April 1914, hlm. 12).
n “Membesarkan anak-anak dalam terang dan
kebenaran adalah membesarkan mereka untuk menerima kebenaran firman Allah. Apakah anak-anak kita memahami ajaran pertobatan, iman kepada Kristus Putra Allah yang Hidup, serta pentingnya baptisan, tujuan, perlunya, dan nilainya bagi mereka dalam kehidupan mereka? Apakah mereka memahami perlunya menerima karunia Roh Kudus dan apa kuasa serta fungsi Roh Kudus itu, serta berkat-berkat yang menjadi milik mereka dengan memiliki karunia ilahi ini?” (Delbert L. Stapley, “‘Keep Faith with Your Family,’”
Improvement Era, Desember 1960, hlm. 944).
n “Kita hendaknya jangan sekali-kali membiarkan
diri melakukan apa pun yang tidak ingin kita lihat dilakukan anak-anak kita. Kita hendaknya memberi teladan yang kita harap akan ditiru mereka. Apa kita menyadari hal ini? Betapa seringnya kita melihat orang tua menuntut kepatuhan, sikap baik, kata-kata ramah, tampang menyenangkan, suara yang manis dan mata yang cerah dari seorang anak atau anak-anak ketika
mereka sendiri penuh kepahitan dan makian! Betapa tidak konsisten dan tidak masuk akalnya hal ini!” (Brigham Young, Discourses of Brigham
Young, hlm. 208).
n “Disiplin barangkali adalah salah satu unsur paling penting untuk ayah dan ibu memimpin dan membimbing serta mengarahkan anak-anak mereka. Tentunya akan sangat baik bagi orang tua untuk memahami peraturan yang diberikan kepada imamat dalam Ajaran dan Perjanjian 21. Memberikan batasan-batasan tentang apa yang dapat dilakukan seorang anak punya arti terhadap anak itu bahwa Anda mengasihi dia serta menghormatinya. Jika Anda membiarkan anak melakukan semua hal yang ingin dia lakukan tanpa batasan apa pun, bagi dia itu berarti bahwa Anda tidak peduli dengannya” (Kimball, Teaching
of Spencer W. Kimball, hlm. 340–341).
n “Saya yakin bahwa salah satu hal yang paling besar yang dapat datang ke dalam rumah tangga mana pun yang dapat menyebabkan anak-anak lelaki dan perempuan tumbuh di rumah dalam kasih Allah, dan dalam kasih akan Injil Yesus Kristus, adalah, mengadakan doa keluarga, bukan ayah yang berdoa sendirian, melainkan bagi ibu serta anak-anak untuk melakukan hal itu, agar mereka dapat merasakan semangat doa, dan menjadi harmonis, selaras dalam berkomunikasi dengan Roh Tuhan. Saya yakin bahwa akan sangat sedikit yang tersesat, bahwa sangat sedikit yang kehilangan iman mereka, yang dahulu pernah memiliki pengetahuan akan Injil, dan yang tidak pernah mengabaikan doa mereka dalam keluarga mereka, serta permohonan kudus mereka kepada Allah” (Heber J. Grant, dalam Conference Report, Oktober 1923, hlm. 7–8).
n “Rumah seharusnya menjadi tempat
ketergantungan kita pada Tuhan menjadi pengalaman umum, bukan peristiwa-peristiwa khusus. Salah satu cara membuat hal itu terjadi adalah dengan doa yang rutin dan sungguh-sungguh. Berdoa saja tidaklah cukup. Adalah penting agar kita benar-benar berbicara kepada Tuhan, beriman bahwa Dia akan menyatakan kepada kita sebagai orang tua apa yang perlu diketahui dan dilakukan untuk kesejahteraan keluarga kita. Telah dikatakan oleh beberapa orang bahwa ketika mereka berdoa, seorang anak akan membuka matanya untuk melihat apakah Tuhan benar-benar ada di sana, betapa pribadi dan langsungnya sifat permohonan itu” (Kimball,
Teaching of Spencer W. Kimball, hlm. 342).
n “Jika orang tua telah melakukan suatu kesalahan—atau, sebaliknya, tidak melakukan kesalahan, tetapi anak-anak menyimpang dari ajaran Injil—maka saya ingin berbagi beberapa pendapat dengan Anda.
Pertama, ayah atau ibu seperti itu tidak sendirian. Orang tua pertama kita ikut merasakan sakit dan penderitaan beberapa anak-anak mereka yang menolak ajaran-ajaran mengenai kehidupan
kekal (lihat Musa 5:27). Berabad-abad kemudian Yakub mengetahui kecemburuan dan perasaan sakit putra sulungnya terhadap Yusuf yang dikasihinya (lihat Kejadian 37:1–8). Nabi besar Alma, yang memiliki putra bernama Alma, berdoa cukup lama kepada Tuhan mengenai kebandelan putranya dan tak pelak diliputi kekhawatiran dan kecemasan mengenai penyimpangan serta kejahatan yang ditimbulkan putranya di antara mereka yang ada di Gereja (lihat Mosia 27:14). Bapa kita di Surga juga kehilangan banyak anak roh-Nya di dunia ini; Dia mengetahui perasaan hati Anda.
Kedua, kita hendaknya ingat bahwa kesalahan menilai biasanya tidak begitu serius dibandingkan kesalahan yang disengaja.
Ketiga, bahkan jika ada kesalahan yang dilakukan dengan pengetahuan dan pemahaman sepenuhnya, ada asas pertobatan untuk kelegaan dan penghiburan. Daripada memikirkan tentang apa yang kita anggap sebagai suatu kesalahan atau dosa ataupun kegagalan yang merugikan kemajuan kita dalam Injil atau hubungan kita dengan keluarga serta teman-teman, lebih baik kita menghindar darinya. Seperti halnya dengan kesalahan lain apa pun, kita dapat bertobat dengan menyesal dan berusaha memperbaiki atau meralat akibat-akibatnya, pada tingkat apa pun bila memungkinkan. Kita hendaknya memandang ke depan dengan iman yang diperbarui.
Keempat, jangan putus harapan karena anak lelaki atau perempuan yang menyimpang. Banyak yang tampaknya benar-benar tersesat telah kembali. Kita harus sungguh-sungguh dan, jika mungkin, membiarkan anak-anak kita mengetahui kasih dan perhatian kita.
Kelima, ingatlah bahwa pengaruh kita bukanlah satu-satunya yang memberi kontribusi terhadap tindakan anak-anak kita, apakah tindakan itu baik ataupun buruk.
Keenam, ketahuilah bahwa Bapa Surgawi kita akan mengakui kasih serta pengurbanan, kekhawatiran dan kecemasan, meskipun upaya kita yang besar tidak berhasil. Hati orang tua sering kali hancur, tetapi mereka harus menyadari bahwa tanggung jawab utama terhadap anak-anak adalah setelah orang tua mengajarkan asas-asas yang benar.
Ketujuh, apa pun kesengsaraan, apa pun keprihatinan, apa pun rasa sakit dan kepedihan, carilah cara untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat—barangkali dalam menolong orang lain untuk menghindari masalah yang sama, atau barangkali dengan mengembangkan wawasan yang lebih besar ke dalam perasaan orang lain
yang sedang bergumul dalam cara yang sama. Sesungguhnya kita akan memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang kasih Bapa Surgawi kita bila, melalui doa, kita akhirnya mengetahui bahwa Dia memahami dan menghendaki kita memandang masa depan kita.
Pokok pengingat kedelapan dan terakhir ini adalah bahwa setiap orang berbeda. Kita masing-masing unik. Setiap anak unik. Sama seperti kita masing-masing mulai dari titik yang berbeda dalam kancah kehidupan, dan sama seperti kita masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahan serta bakat-bakat yang berbeda, demikian pula setiap anak diberkati dengan serangkaian karakteristik khususnya sendiri. Kita seharusnya tidak menganggap Tuhan akan menilai keberhasilan seseorang persis seperti keberhasilan orang lain. Sebagai orang tua, kita sering kali menganggap bahwa, jika anak kita tidak menjadi orang yang berhasil dalam semua cara, maka kita telah gagal. Kita hendaknya cermat dalam penilaian-penilaian kita” (Howard W. Hunter, dalam Conference Report, Oktober 1983, hlm. 92–93; atau Ensign, November 1983, hlm. 64–65).
D. Anak-anak hendaknya menghormati orang tua mereka dan patuh kepada mereka.
n “Kita memiliki perintah kuno, ‘Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu.’ Anak-anak hendaknya diajari dan dilatih untuk menghormati ayah dan ibu mereka. Orang tua mereka memberi mereka kehidupan dan merawat mereka ketika mereka tidak dapat mengurus diri mereka sendiri. Setiap anak hendaknya mengasihi serta menghormati orang tuanya” (N. Eldon Tanner, dalam Conference Report, April 1963, hlm. 136).
n “Remaja putra hendaknya dengan seksama
menanamkan dalam pikiran mereka perlunya berunding dengan ayah dan ibu mereka dalam semua hal yang berkaitan dengan tindakan mereka dalam kehidupan ini. Rasa hormat serta penghargaan bagi orang tua hendaknya ditanamkan di dalam hati remaja putra Gereja— ayah dan ibu harus dihormati, harapan-harapan mereka harus dihargai—dan di dalam hati setiap anak hendaknya ditanamkan gagasan tentang penghargaan serta pemikiran bagi orang tua yang menjadi sifat keluarga bapa bangsa zaman dahulu.
Allah adalah pemimpin umat manusia; kita menghormati-Nya sebagai Bapa semua orang. Kita tidak dapat membuat Dia lebih senang daripada menghargai serta menghormati ayah dan ibu kita, yang merupakan sarana keberadaan kita di bumi ini” (Smith, Gospel Doctrine, hlm. 162).
Kematian dan Dunia Bab 30
Roh Setelah Kefanaan
Pengantar
“Semua orang tahu bahwa mereka harus mati. Dan adalah penting bahwa kita hendaknya memahami alasan dan penyebab kita berhadapan dengan berbagai sifat kehidupan dan kematian, serta rancangan-rancangan dan tujuan-tujuan Allah mengenai kedatangan kita ke dunia, penderitaan kita di sini, dan meninggalkan semuanya. Apakah tujuan kedatangan kita dalam kefanaan ini, lalu mati dan, tidak berada di sini lagi? Adalah tidak masuk akal untuk mengira bahwa Allah akan menyatakan sesuatu yang berkaitan dengan hal itu, sedangkan kita harus mempelajari hal itu lebih dalam daripada yang lainnya. Kita harus mempelajarinya siang dan malam, karena dunia tidak mengabaikan hal yang berkaitan dengan kondisi serta hubungan mereka sesungguhnya. Jika kita harus menuntut Bapa Surgawi kita untuk sesuatu apa pun, maka itu adalah pengetahuan mengenai masalah penting ini” (Joseph Smith, History of the Church, 6:50).
Garis Besar Ajaran
A. Kematian jasmani adalah kondisi universal dan bagian dari rencana keselamatan.
1. Semua orang akhirnya harus mati (lihat Roma