semua kemewahan dunia kehidupan manusia; tetapi miskin akan Roh Allah, maka dia tidak akan bahagia, karena rohlah satu-satunya sumber kebahagiaan serta penghiburan sejati” (John Taylor, The Gospel Kingdom, hlm. 341).
n “Pilihan manusia adalah bebas; inilah hukum keberadaan mereka yang tidak bisa dilanggar Tuhan ; jika Dia melakukannya, maka Dia harus berhenti menjadi Allah. Dia telah menempatkan kehidupan serta kematian di depan anak-anak-Nya, untuk mereka pilih. Jika mereka memilih
kehidupan, mereka menerima berkat-berkat kehidupan; jika mereka memilih kematian, mereka harus menanggung hukuman. Ini adalah hukum yang telah ada sepanjang segala kekekalan, dan akan terus ada sepanjang segala kekekalan yang akan datang, dan Allah memajukan Kerajaan-Nya serta mencapai tujuan-tujuan-Kerajaan-Nya dalam penyelamatan dan permuliaan anak-anak-Nya melalui perbuatan insan ciptaan-Nya” (Brigham Young, Discourses of Brigham Young, hlm. 62).
Doa dan Puasa Bab 12
Pengantar
Sebuah nyanyian rohani Gereja menyatakan, “Doa cetusan hatiku,/Diam atau bersuara”
(Nyanyian Rohani, no. 59). Lirik ini mengungkapkan kerinduan yang dalam yang kita semua miliki untuk berkomunikasi dengan Bapa Surgawi kita. Puasa yang dibarengi dengan doa akan meningkatkan kerohanian kita dan lebih mendekatkan diri kita kepada Allah.
Garis Besar Ajaran
A. Doa telah menjadi bagian dalam rencana Injil sejak permulaan.
Lihat Musa 5:8.
B. Allah telah menyatakan mengapa kita harus berdoa kepada-Nya.
1. Berdoa secara individu maupun bersama keluarga adalah sebuah perintah (lihat A&P 31:12; 68:33; 3 Nefi 18:21; A&P 93:50; 68:28).
2. Doa penting bagi keselamatan (lihat Alma 37:36–37; Yakobus 5:16).
3. Penghormatan dan peribadatan diungkapkan melalui doa (lihat A&P 136:28; Mazmur 92:1). 4. Kita diperintahkan untuk berterima kasih kepada
Tuhan atas semua berkat kita (lihat A&P 46:32; 59:7). 5. Berkat-berkat jasmani dan rohani dapat diperoleh
melalui doa (lihat Yakobus 5:16–18; Enos 1:4–6; Mosia 24:8–25).
C. Tulisan suci memberitahu kita apa yang seharusnya kita doakan.
1. Kita hendaknya berdoa memohon penemanan Roh Kudus (lihat 3 Nefi 19:9; Moroni 4:3). 2. Kita hendaknya berdoa memohon pengampunan
atas dosa-dosa kita (lihat Joseph Smith 2:28–29). 3. Kita hendaknya memohon kekuatan untuk
menahan godaan dan mengatasi pertentangan (lihat Alma 34:23; A&P 10:5; Matius 26:41). 4. Para suami hendaknya berdoa bagi istri serta
anak-anak mereka (lihat 3 Nefi 18:21; Alma 34:21, 27). 5. Kita hendaknya berdoa bagi semua orang—baik
yang saleh maupun yang jahat, teman maupun musuh (lihat Bilangan 21:7; Matius 5:44; Enos 1:11–14).
6. Kita hendaknya memohon kepada Tuhan untuk hasil panen, tanaman, ladang, dan kawanan ternak kita (lihat Alma 34:20, 24–25).
D. Tuhan telah mengatakan kepada kita cara men-jadikan doa-doa kita lebih bermakna dan efektif. 1. Kita harus selalu berdoa kepada Bapa dalam nama
Yesus Kristus (lihat 2 Nefi 32:9; 3 Nefi 18:21; 19:6–8).
2. Kita tidak berdoa dengan tujuan agar dilihat dan didengar oleh orang lain (lihat Matius 6:5–6; 3 Nefi 13:5–6).
3. Kita hendaknya menghindari pengulangan kata yang sia-sia ketika kita berdoa (lihat Matius 6:7–8; 3 Nefi 13:7–8).
4. Kita hendaknya berdoa setiap hari dan rutin (lihat Mosia 4:11; 1 Tesalonika 5:17; 2 Nefi 32:9; Alma 34:17–19, 27).
5. Kita hendaknya berdoa untuk apa yang pantas (lihat 3 Nefi 18:20; A&P 88:64; 46:30).
6. Permohonan kita hendaknya diucapkan dengan tulus, sungguh-sungguh, dengan maksud yang sesungguhnya, dan dengan sepenuh hati serta kekuatan jiwa kita (lihat Moroni 7:48; 10:4). 7. Kepatuhan kita menolong kita memperoleh jawaban
bagi doa-doa (lihat 1 Yohanes 3:22; Alma 34:28). 8. Roh Kudus akan menolong kita dalam doa-doa
kita (lihat Roma 8:26).
E. Puasa hendaknya kadang-kadang menyertai doa. 1. Kita diperintahkan untuk berpuasa (lihat A&P
59:13–14; 88:76).
2. Bersama-sama, puasa dan doa meningkatkan pertumbuhan dan keyakinan rohani, dan mendatangkan berkat-berkat (lihat Omni 1:26; Alma 5:46; 17:3; Helaman 3:35; 3 Nefi 27:1; Yesaya 58:1–12; Matius 17:20–21).
3. Berpuasa bagi yang sakit dan memohon berkat-berkat khusus adalah pantas (lihat Yakobus 5:15; Mosia 27:22–23).
Pernyataan Pendukung
A. Doa telah menjadi bagian dalam rencana Injil sejak permulaan
n “Tidak ada perintah ilahi yang lebih sering diulang daripada perintah untuk berdoa dalam nama Tuhan Yesus Kristus” (Marion G. Romney, dalam Conference Report, Oktober 1979, hlm. 20; atau Ensign, November 1979, hlm. 16).
B. Allah telah menyatakan mengapa kita harus berdoa kepada-Nya.
n “Cara ini [berdoa itu] penting jika manusia ingin diselamatkan; tidak ada keselamatan tanpa doa. Bagaimana manusia dapat mengarahkan hatinya pada kebenaran, yang akan mendatangkan keselamatannya, tanpa komunikasi melalui doa dengan Dia yang menciptakan kebenaran?” (Bruce R. McConkie, Mormon Doctrine, hlm. 581).
n “Sebuah tindakan penting dilaksanakan ketika
kita menyatakan secara resmi keinginan-keinginan kita kepada Dia yang dapat mengabulkan
permintaan kita” (Boyd K. Packer, Teach Ye
Diligently, hlm. 12).
n “Patuhilah perintah besar yang diberikan Tuhan, untuk selalu mengingat Tuhan, untuk berdoa di pagi hari, dan di malam hari, serta selalu mengingat untuk berterima kasih kepada-Nya atas berkat-berkat yang Anda terima hari demi hari” (Joseph F. Smith, Gospel Doctrine, hlm. 218).
C. Tulisan suci memberitahu kita apa yang seharusnya kita doakan.
n “Kami ingin mengatakan kepada
saudara-saudara sekalian, berusahalah mengenali Allah di dalam kamar-kamar Anda, berserulah kepada-Nya di ladang. Ikutilah petunjuk-petunjuk dalam Kitab Mormon, dan berdoalah, bagi keluarga Anda, ternak Anda, lembu dan domba Anda, biji-bijian Anda, jagung Anda, serta segala hal yang Anda miliki; mintalah berkat-berkat Allah dalam semua pekerjaan Anda, dan semua hal yang Anda lakukan. Hidup suci dan murni; jadilah orang yang berintegritas serta benar; patuhilah perintah-perintah Allah; maka Anda akan lebih sempurna dalam memahami perbedaan antara yang baik dan yang jahat—antara hal-hal yang berasal dari Allah dan hal-hal yang berasal dari manusia; dan jalan Anda akan menjadi benar, yang kian bertambah terang sampai rembang petang” (Joseph Smith,
Teachings of the Prophet Joseph Smith, hlm. 247).
D. Tuhan telah mengatakan kepada kita cara menjadikan doa-doa kita lebih bermakna dan efektif.
n “Doa yang sangat khusus yang membuka
seluruh masa kelegaan ini berawal dengan doa yang diucapkan oleh seorang pemuda. Saya berharap agar tidak terlalu banyak dari doa-doa kita yang diucapkan di dalam hati; kalau kita tidak bisa berdoa dengan bersuara, masih lebih baik berdoa dengan lembut di dalam hati dan pikiran kita” (Spencer W. Kimball, dalam Conference Report, Oktober 1979, hlm. 4; atau Ensign, Nov. 1979, hlm. 4).
n “Apakah Anda mengadakan doa keluarga? . . . Dan ketika Anda melakukannya, apakah Anda mengucapkan doa itu seperti mesin yang terus berputar, atau apakah Anda menunduk dalam kelemahlembutan dan dengan keinginan yang
sungguh-sungguh untuk mencari berkat Allah bagi Anda serta seisi rumah Anda? Itulah cara yang seharusnya kita lakukan, dan menumbuhkan semangat pengabdian serta kepercayaan kepada Allah, dengan mengabdikan diri kita kepada-Nya, serta mencari berkat-berkat-Nya” (John Taylor,
The Gospel Kingdom, hlm. 284).
n “Jawaban bagi doa datang dengan cara yang
lembut. Tulisan suci menjelaskan bahwa ilham adalah suara yang lembut.
Jika Anda sungguh-sungguh berusaha, Anda dapat belajar menanggapi suara itu.
Pada masa awal pernikahan kami, anak-anak kami lahir dengan jarak yang dekat. Sebagaimana orang tua yang memiliki anak-anak yang masih kecil akan ketahui, bahwa pada tahun-tahun itu apabila kita tidak terbangun selama waktu tidur kita di malam hari hal itu akan menjadi pengalaman yang unik.
Jika Anda memiliki seorang bayi, dan anak lainnya baru tumbuh giginya, atau anak yang lain terserang demam, Anda akan terbangun terus di malam hari. (Tentu saja, itu pernyataan yang berlebihan. Barangkali hanya dua atau tiga puluhan kali).
Akhirnya kami membagi anak-anak kami menjadi ‘bagian suami’ dan ‘bagian istri’ untuk giliran jaga malam. Dia [si ibu] akan bangun untuk mengurusi si bayi, dan saya akan mengurusi anak yang baru tumbuh giginya.
Suatu hari kami jadi sadar bahwa kami masing-masing hanya akan mendengar anak yang kami urusi, dan akan tidur dengan nyenyak meski anak yang lain menangis.
Kami memperbincangkan hal ini selama bertahun-tahun, dengan keyakinan bahwa Anda dapat melatih diri sendiri untuk mendengarkan apa yang ingin Anda dengarkan, untuk melihat dan merasakan apa yang ingin Anda rasakan, tetapi itu memerlukan latihan.
Ada begitu banyak di antara kita yang menjalani kehidupan dan jarang, jika ada, mendengar suara ilham, karena ‘manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani’ (1 Korintus 2:14)” (Boyd K. Packer, dalam Conference Report, Oktober 1979, hlm. 28; atau Ensign, November 1979, hlm. 19–20).
n “Letakkan pertanyaan-pertanyaan sulit di belakang benak Anda dan jalani hidup Anda. Renungkan dan berdoalah dengan khusyuk serta sungguh-sungguh mengenai hal itu.
Jawabannya mungkin tidak datang secara tiba-tiba. Itu dapat datang sebagai ilham kecil di sana sini, ‘baris demi baris, ajaran demi ajaran’ (A&P 98:12).
Beberapa jawaban akan datang melalui membaca tulisan suci, beberapa lagi datang dari mendengar orang yang berbicara. Dan, kadang-kadang, jika itu penting, beberapa jawaban akan
datang melalui ilham langsung dan kuat. Bisikan-bisikan itu akan jelas serta tidak dapat .salah” (Packer, dalam Conference Report, Oktober 1979, hlm. 30; atau Ensign, November 1979, hlm. 21).
n “Sewaktu kita menjalani kehidupan, sering kali kita membuat dinding penghalang antara diri kita sendiri dan surga. Dinding ini dibangun dengan dosa-dosa kita yang tak tertobatkan. Misalnya, dinding kita adalah beberapa dosa yang lebih serius daripada lainnya. Mungkin dosa-dosa karena kita tidak bersikap baik terhadap seseorang. Kritikan terhadap para pemimpin atau guru dapat menambah dosa lainnya. Kurangnya sikap mengampuni dapat menambah dosa lainnya. Pikiran serta tindakan yang tidak senonoh dapat menambah dosa yang lebih besar lagi di dinding kita. Ketidakjujuran akan menambah yang lainya; sikap mementingkan diri juga menambah dosa lainnya lagi; dan seterusnya.
Meskipun dinding yang kita bangun ada di depan kita, ketika kita berseru kepada Tuhan, Dia masih mengirimkan pesan-pesan-Nya dari surga; tetapi bukannya menembus hati kita, malahan pesan itu membentur dinding yang kita bangun dan terpelanting. Pesan-pesan-Nya tidak masuk, sehingga kita mengatakan, ‘Dia tidak mendengar,’ atau ‘Dia tidak menjawab.’ Kadang-kadang dinding ini sangat mengerikan, dan tantangan besar dalam kehidupan adalah untuk menghancurkannya, atau, jika Anda mau, membersihkan diri kita sendiri, memurnikan bejana bagian dalam sehingga kita dapat selaras dengan Roh.
Izinkan saya memberi Anda beberapa contoh. Saya rasa kita semua pernah meminta seseorang melakukan sesuatu untuk kita yang tidak kita sukai, dan itu membuat kita marah. Kita dapat melupakan itu, dan kita tidak mau dekat-dekat dengan orang itu. Ini disebut tidak mengampuni. Nah, Tuhan memiliki kata-kata yang sangat keras untuk dikatakan kepada mereka yang tidak mau saling mengampuni. Beberapa tahun yang lalu saya memiliki pengalaman dengan tidak mau mengampuni ini. Saya merasa telah dimanfaatkannya, dan saya tidak menyukai orang itu. Saya tidak ingin berada dekat-dekat dengannya; saya akan mengambil jalan lain jika dia lewat di situ; saya tidak mau berbicara dengannya. Walaupun masalah itu sudah lama berakhir, tetapi itu masih membebani jiwa saya. Suatu hari istri saya, yang sangat cerdik dan tahu karena saya tidak melakukan semua hal seperti yang seharusnya, mengatakan, ‘Kamu tidak menyukai orang itu, ya?
‘Ah, tidak,’ jawab saya. ‘Mengapa kamu berkata seperti itu?’
‘Ah, kelihatan—wajahmu memperlihatkan hal itu. Mengapa kamu tidak berbuat sesuatu?’ katanya. ‘Misalnya?’
‘Mengapa kamu tidak berdoa mengenai hal itu?’ Saya menjawab, ‘Saya sudah berdoa, tapi saya masih tidak menyukainya.’
‘Bukan,’ katanya, ‘mengapa kamu tidak
sungguh-sungguh berdoa mengenai hal itu?’ Lalu saya mulai berpikir, dan saya tahu apa yang di maksudkan. Jadi saya memutuskan akan berdoa agar memperoleh perasaan yang baik tentang orang ini sampai saya mendapatkan perasaan itu. Malam itu saya berlutut, dan berdoa serta membuka hati saya untuk Tuhan. Tetapi ketika saya bangkit, saya masih tidak menyukai orang itu. Keesokan harinya saya berlutut dan berdoa untuk mendapatkan perasaan baik terhadapnya; tetapi ketika saya selesai berdoa, saya masih tetap tidak menyukainya. Malam berikutnya saya masih tidak menyukainya; satu minggu kemudian saya tetap tidak menyukainya; dan satu bulan kemudian saya tidak menyukainya—dan saya telah berdoa setiap malam dan pagi. Tetapi saya tetap tidak menyukainya, dan akhirnya mulai berdoa lagi—bukan sekadar berdoa, tetapi memohon. Setelah banyak bedoa, waktunya tiba ketika tanpa pertanyaan atau keraguan saya tahu saya dapat berdiri di hadapan Tuhan, jika saya ditanya, setidaknya hati saya murni. Suatu perubahan telah terjadi pada diri saya setelah kurun waktu tertentu. Dosa tidak mengampuni perlu dihilangkan dari diri kita semua, jika itu harus terjadi, maka saya sarankan bahwa doa yang terus-menerus dapat menjadi cara untuk menghilangkan dosa itu” (H. Burke Peterson, “Prayer—Try Again,” Ensign, Juni 1981, hlm. 73).
n “Permohonan dalam doa telah mengajar
saya, berulang kali, bahwa pintu surga dengan semua berkatnya harus dibuka hanya dengan kunci kombinasi. Satu pasaknya akan lepas jika ada iman, dan kedua jika ada kebenaran; pasak ketiga dan terakhir terlepas hanya jika apa yang dicari, menurut penilaian Allah—bukan penilaian kita—adalah benar bagi kita. Kadang-kadang kita memukul-mukul pasak pintu untuk sesuatu yang amat kita inginkan dan bertanya-tanya mengapa pintu itu tidak terbuka. Kita akan menjadi anak yang sangat manja jika pasak pintu itu terbuka dengan lebih mudah daripada yang seharusnya. Saya dapat mengatakan, dengan melihat apa yang sudah terjadi, bahwa Allah benar-benar mengasihi saya dengan menolak banyak permohonan saya. Permohonan-permohonan kita yang ditolak memberitahu kita banyak mengenai diri kita sendiri tetapi juga banyak mengenai Bapa kita yang sempurna” (Neal A. Maxwell, “Insights,”
New Era, April 1978, hlm. 6).
n “Tetapi apakah doa satu-satunya cara
komunikasi? Tidak! ... Di akhir doa-doa kita, kita perlu mendengarkan dengan sungguh-sungguh— bahkan selama beberapa menit. Kita berdoa untuk memohon nasihat dan bantuan. Sekarang kita harus ‘diam dan ketahuilah bahwa [Dia]lah Allah’ (Mazmur 46:10).
... Kadang-kadang gagasan memenuhi benak kita sewaktu kita mendengarkan doa-doa kita. Kadang-kadang perasaan menekan jiwa kita.