BAB II ETNOGRAFI MASYARAKAT PESISIR SIBOLGA
2.2 Adat Pesisir Kota Sibolga
2.2.7 Adat Pernikahan
2.2.7.4 Ijab Qabul
Ijab qabul dilaksanakan dirumah anak daro (mempelai perempuan). Ijab qabul dilakukan bapak kandung atau saudara kandung mempelai perempuan di mana pada saat ijab qabul anak daro disembunyikan setelah ijab qabul selesai maka anak daro dan marapulai baru bisa disandingkan. Ijab qabul di laksankan oleh tuan kadhi/penghulu, pengantin laki-laki, bapak kandung penganti perempuan, serta 2 saksi.
Gambar 2.5 Ijab Qabul (Dok. Dwi Irna Hasana, 2019) 2.2.7.5 Malam baine
Pada saat malam baine ada 2 kegiatan malam baine yang di laksanakan oleh anak daro dan marapulei, pertama malam baine bacilok yaitu saat malam sebelum ijab qabul, dimana kedua pasangan pengantin ini melakukan ritual malam barinai di rumah masing-masing, pihak keluarga pengantin perempuan mengantarkan inai ke
rumah pihak keluarga laki-laki dan marapulei dipakaikkan inai tersebut oleh induk inang yang datang dari pihak keluarga perempuan dan memakai pakaian adat Pesisir Sibolga. Kedua malam barinai basanding kedua pengantin sudah bisa memakai inai berdampingan atau bersamaan karena sudah melaksanakan ijab qabul,memakai pakaian adat Pesisir Sibolga, kedua tangan mereka dihiasi dengan ine, dan dihibur oleh serangkain kesenian Sikambang.
Gambar 2.6 Malam Barinai (Dok. Dwi Irna Hasana, 2019)
Dalam pertunjukan serangkaian kesenian Sikambang pada saat malam baine yang mana lima tari dan lagu wajib yang dipertunjukkan merupakan bagian yang terikat dan tidak terpisahkan satu sama lain. Tarian dan lagu tersebut harus dinyanyikan secara lengkap dan sesuai urutan karena tari dan tersebut menggambarkan siklus kehidupan seorang manusia. Dimulai dari tari sapu tangan yang diiringi Lagu kapri menggambarkan proses kehidupan sepasang remaja dalam masa perkenalannya. Selanjutnya, tari payung yang diiringi lagu kapulo pinang digambarkan dengan seorang laki-laki memakai payung untuk melindungi kekasihnya. Ini menjelaskan bahwa hubungan tersebut telah tumbuh rasa cinta dan
rasa peduli sehingga ingin saling melindungi satu sama lain. Kemudian, tari selendang yang diiringi lagu duo dimana laki-laki dan perempuan saling mengikatkan selendangnya. Ini menjelaskan bahwa sepasang kekasih tersebut sudah siap untuk mengikat hubungannya dengan pernikahan. Tari sampaya yang diiringi Lagu dampeng berisikan nasihat-nasihat kehidupan dalam menjalankan rumah tangga nanti. Lalu, tari anak yang diiringi lagu sikambang yang melambangkan kasih sayang seorang suami terhadap istrinya dan seorang ayah terhadap anaknya. Musik sikambang pada saat malam baine mengiringi tarian yang disajikan saat malam baine dan menghibur anak daro dan marapulei dengan talibun (pantun bersahut-sahutan).
2.2.7.6 Memulangi jajak atau ngunduh (pesta di rumah pengantin pria atau marapulai)
Pesta perkawinan adat Pesisir Sibolga biasanya dilakukan di rumah perempuan terlebih dahulu setelah malam baine keesokan harinya marapulai yang pulang setelah malam baine pun datang untuk melaksanakan kegiatan pesta pernikahan dari pihak pengantin perempuan. Setelah pernikahan selesai marapulai di jemput dalam adat pesisir dinamakan dengan Tajapuk dan mempersiapkan pesta pernikahan dari pihak laki-laki yang telah disepakati. Duomisuk (dua hari) sebelum diadakan pesta pernikahan pihak laki-laki anak daro sudah diantarkan kerumah pihak laki-laki.
2.2.8 Kesenian Sikambang
Seni budaya zaman dahulu seperti tari, lagu, pantun dan talibun hadir bak gayung bersambut dengan menunjukkan kepribadian masyarakat Pesisir yang memiliki perasaan halus dan tenggang rasa yang tinggi sesuai dengan alamnya, seperti malam disinari bulan, alunan ombak dan riak gelombang ombak gulung-menggulung saling ikut satu sama lain (Radjoki 2012:47).
Kesenian Sikambang merupakan kesenian yang memadukan antara musik, tarian, senandung, pantun yang berisikan nasihat, ungkapan perasaan, sindiran, dan kasih sayang.Selain dilakukan dalam adat pernikahan, kesenian Sikambang ini juga dapat dilakukan dalam kegiatan-kegiatan lainnya seperti penyambutan tamu-tamu yang dihormati, hari jadi Kota Sibolga dan hari-hari besar lainnya.
Di dalam adat pernikahan pemain kesenian sikambang disebut dengan anak Alek.Anak Alekmerupakan sebutan untuk pemain musik dan penari sikambang. Penyajian kesenian sikambang selalu diiringi Talibun(nyanyian pantun bersahut-sahutan), berikut ini merupakan jenis tari-tarian yang dipakai kesenian Sikambang:
1. Tari Sapu Tangan 2. Tari Payung 3. Tari Adok 4. Tari Sampaya 5. Tari Perak-Perak 6. Tari Sikambang Botan 7. Tari Anak
8. Tari Galombang Duobaleh 9. Tari Dampeng (Randei)
Gambar 2.7 Kesenian Sikambang dalam acara perkawinan (Dok. Dwi Irna Hasana, 2019)
BAB III
ANALISIS STRUKTUR GERAK TARI SAPU TANGAN
3.1 Susunan Upacara Malam Bainai
Pelaksanaan upacara malam baine mengikuti konsep dalam adat Minangkabau yaitu agama dan adat. Sebelum sampai pada tahap pernikahan, terlebih dahulu mengikuti tahap melamar yang dilanjutkan dengan tahap malam bainai. Pada tahapan ini, dilakukan proses memakaikan inai di kuku jari-jari tangan dan kaki serta punggung tangan, sebagai persyaratan dalam upaya penjagaan terhadap keterlaksanaan upacara perkawinan. Pelaksanaan malam baine dilakukan di rumah calon pengantin perempuan, dengan menyertakan kesenian sikambang sebagai bagian dari materi acara.
Tahapan-tahapan dalam malam baine, dimulai dengan kesiapan dari seluruh perangkat/pendukung acara, seperti, kesenian sikambang, daun inai yang telah dihaluskan, keluarga calon pengantin perempuan yang terdiri dari ninik mamak, urang sumando, dan kerabat, serta tokoh agama/ulama/ustad yang nantinya akan memimpin doa keselamatan, dan calon pengantin perempuan. Pengantin laki-laki pada acara ini tidak turut serta dihadirkan, hanya sebahagian daun inai akan di bawa ke rumah calon pengantin laki-laki untuk dikenakan.
Adapun susunan acara dalam malambainai yaitu:
1. Pemberian ucapan selamat datang bagi seluruh undangan yang diwakili oleh salah seorang dari keluarga, atas kehadiran seluruh tamu undangan.
2. Pemberian ucapan nasihat dari orang tua kepada calon pengantin yang dilanjutkan dengan pembacaan doa untuk meminta keridhoan dari Allah SWT, agar jalannya acara malam baine dapat dilaksanakan dengan baik.
Selain itu doa juga dipanjatkan agar calon pengantin tidak mendapat gangguan dari hal-hal yang buruk.
3. Penyajian tari saputangan yang diawali dengan nyanyian dari kesenian sikambang yang membawakan lagu kapri sebagai pengiring tarian. Setelah selesai tari saputangan dilanjutkan dengan tari selendang dengan iringan lagu duo
4. Pemasangan daun inai kepada calon pengantin yang dikenakan oleh orang tua pengantin. Saat ini pemasangan inai dilakukan sebelum pelaksanaan malam bainai, atau sesudah kesenian sikambang selesai sekitar pukul 12 malam.
5. Penyajian tari payung dengan iringan lagu kapulo pinang, yang dilanjutkan dengan tari selendang dengan iringan lagu duo. Penyajian kedua tari ini, merupakan rangkaian dari tata aturan penyajian sikambang.
6. Pelepasan daun inai dari kuku jari-jari calon pengantin.
7. Prosesi akhir dari malam baine dengan penyajian musik sikambang (biasa disebut dengan badampeng) hingga selesai acara. Pada penyajian musik sikambang dinyanyikan lagu-lagu yang bersifat hiburan yang dapat dinikmati oleh seluruh keluarga dan tamu yang ada.
Penyajian tarian pada malam baine sebelumnya tidak hanya disajikan empat tarian saja seperti yang diuraikan di atas, namun masih ada beberapa lagi tarian yang disertakan seperti; tari perak-perak dan tari cek siti, namun saat ini hanya empat tarian di ataslah yang disajikan. Dikarenakan dua tarian berikutnya sudah banyak yang tidak mengenal, sehingga hanya empat tarian saja yang disajikan.
Prosesi pelaksanaan malam baine, dianggap sudah selesai apabila pemasangan inai dengan diawali tari saputangan siap disajikan. Penempatan tari saputangan pada awal tarian merupakan kesepakatan yang sudah dijalani secara turun temurun, dan menjadi adat yang tertuang dalam konsep adat mereka. Hal ini dikarenakan, adanya kepercayaan dari masyarakat yang mengkhawatirkan adanya gangguan ghaib kepada calon pengantin. Sehingga diperlukan ritual untuk menolak segala macam gangguan tersebut, demi keselamatan seluruh pelaksana upacara, terutama kepada calon pengantin.
Pelaksanaan malam baine, dengan penyertaan tarian bukan hanya sebagai ritual saja, penyertaan tarian dan badampeng, akan memberikan hiburan bagi penyelenggara untuk dapat mempersiapkan diri dalam melaksanakan kegiatan di keesokan harinya, yang merupakan hari yang paling sakral bagi setiap manusia yang akan berumah tangga. Penyajian tari Saputangan pada acara ritual malam baine, menempatkan tari saputangan sebagai tari ritual, walaupun tidak setiap upacara perkawinan akan melaksanakan malam baine dengan menyertakan tari.
Banyak penyebab yang mulai tidak disertakannya malam bainai dengan kelengkapan tarian, antara lain; 1) faktor dana (harus menyiapkan dana yang cukup besar untuk meminta jasa penari dan pemusik), 2) tidak ada keharusan acara malam baine dalam agama Islam, 3) kesiapan waktu yang tidak dimiliki oleh semua orang, dan lain sebagainya.
3.2 Struktur Tari Saputangan
Didalam menganalisis tentang strukturalisme, menurut Budiman (1999:111-112), strukturalisme adalah sebuah cara berpikir tentang dunia yang
secara khusus memperhatikan persepsi dan deksripsi mengenai struktur, yaitu di dalamnya akan menitik beratkan pada usaha mengkaji fenomena seperti mitos, ritual, relasi-relasi kekerabaratan dan sebagainya. Penjelasan struktural berusaha untuk mengidentifikasi, mengolah dan menyusun unit-unit dalam sebuah sistem untuk menemukan hubungan atau pola yang lebih mendalam dan mendasar dari suatu kejadian atau serangkaian kejadian. Hubungan atau pola yang mendasar ini merupakan penjelasan yang berusaha untuk menyelidiki fenomena berdasarkan pada aturan-aturan, prinsip-prinsip, atau konveksi yang menghasilkan makna.
Strukturalisme versi budiman dalam penelitian ini digunakan untuk dapat memahami dan membaca tari saputangan didalam kesatuan pertunjukan yang saling terikat satu dengan yang lain, yaitu : (1). Deskrispi struktur ragam gerak tari, meliputi istilah atau penyebutan nama ragam gerak, (2). Koreografi, meliputi tampilan, formasi (pola lantai), (3) Musik pengiring, terdiri dari gendang sebagai mat tempo, biola dan akordion sebaga melodi. (4) Busana dan properti.
Pendapat yang sama dikemukaan oleh soedarsono (1974:75) bahwa bentuk sebuah pertunjukan dapat dilihat dari keseluruhan elemen-elemen yang terdapat dalam tari tersebut. Adapun elemen-elemen yang dimaksud adalah gerak, musik, kostum, perlengkapan, pola lantai, penari dan tempat pertunjukan. Keseluruhan elemen-elemen tersebut merupakan satu kesatuan struktur yang saling berkaitan.
Dengan demikian analisis struktural dalam tari sapu tangan ini adalah bentuk penyajian yang tidak terlepas dari segala unsur-unsur utama tari, baik itu tema tarian, gerak tarian, ragam tarian, pola lantai, properti, tata busana, tata rias, musik iringan, tempat pertunjukan serta unsur-unsur pendukung dan pelengkap tari,
seperti penari, pemusik, penikmat dan penyelenggara acara yang menampilkan tarian tersebut.
Tabel 3.1 Ragam Penyajian Tari Saputangan
No Pola Ragam Uraian Keterangan
1. Ragam I yang terdiri dari 4 motif 1. Motif gerak
4. Ragam IV
Tabel 3.2 Susunan penyajian tari Saputangan
No Penanda Pertanda Dokumentasi
1. Hormat Memiliki makna sopan
Memiliki makna melihat hati masing-masing dari calon pasangannya apakah cocok atau tidak (saling (untuk mengambil hati masing-masing keluarg
4. Putar kanan dan putar kiri
Penyesuaian diri pada masing-masing keluarga pasangan dan keluarganya sehingga dapat kesesuaian diantara kedua belah pihak dengan keluarga seluruh sanak saudara.
6. Putar kanan dan putar kiri
Penjelasan pada masing-masing keluarga tentang pasangannya untuk mengambil hati keluarga dan mengajuk hati dari masing-masing keluarga secara hati-hati, serta menceritakan keadaan keluarga masing-masing
8. Maju ke samping kanan.
Memiliki makna pihak perempuan dan pihak laki-laki masing-masing berusaha untuk mengambil hati dari masing-masing keluarga secara hati-hati
9. Angkat sapu tangan dan balas dengan tukar arah hadap
Kedua keluarga sudah sepakat untuk menjalin hubungan yang baik dan melanjutkannya ke jenjang pernikahan
10. Kembali ketempat semula
Memiliki makna sudah dapat gambaran tentang keluarga calon masing-masing, dengan membawa berita tersebut ke keluarganya pula untuk menceritakan bahwa keduanya sudah sepakat untuk membina hubungan yang baik.
Memiliki keduanya sudah mantap hatinya untuk membina hubungan yang baik dan siap menghadapi tantangan apapun yang akan datang.
12. Antar sapu tangan dan balas pada arah kiri
pasangan itu sudah siap untuk membina hubungan sampai ke jenjang pernikahan dan sudah mendapat persetujuan dari kedua belah pihak, sehingga pasangan itu saling mengantarkan satu sama lain dalam setiap
jenjang pernikahan dengan persetujuan dari kedua belah pihak. mufakat tentang hubungan yang akan dijalani
bahwasanya pasangan itu sudah mengikat janji untuk sehidup semati dalam membina rumah tangga yang baik sampai beranak sehingga sudah terbentuk
keluarga yang dengan gerakan hormat artinya mereka sudah selesai menari
3.2.1 Tema
Tema merupakan salah satu unsur yang sangat penting di dalam sebuah karya seni. Tema berkaitan erat dengan fokus atau pun dasar yang dipakai oleh seniman untuk mengembangkan sebuah ide dalam kreatifitasnya yang menjadi sebuah karya seni seperti seni tari.Dalam menggarap tari apa saja bisa dijadikan sebagai tema, kejadian sehari-hari, pengalaman hidup dan lain sebagainya. Seperti tari sapu tangan bertemakan perkenalan antar pemuda dan pemudi yang sedang mencari pasangan hidup dengan mengenal pasangan mereka pilih dengan baik, baik menurut pandangan mereka sendiri, orang tua, serta masyarakat sekitar.
3.2.2 Gerak
Dalam pembahasan gerak tari menurut Tengku Lukman Sinar (1986:5) tari adalah segala gerak yang berirama atau segala gerak yang dimaksudkan untuk menyatakan keindahan ataupun kedua-duanya. Gerak merupakan substansi yang paling dasar dan alat ekspresi dalam tari medianya adalah tubuh manusia. Dengan gerak tari berbicara dan berkomunikasi dengan penikmatnya untuk merngungkapkan suatu tujuan, ungkapan ekspresi melalui gerak tersebut merupakan suatu imajinasi yang dituangkan dalam bentuk simbol. Menurut Smith (1985:6) “bentuk” merupakan sesuatu yang dapat dibedakan dari materi yang ditata. Bentuk tari merupakan hasil dari keseluruhan di dalam koreografi. Jadi, bentuk adalah wujud rangkaian-rangkaian gerak.
Unsur gerak dalam tari mempunyai tiga unsur yakni tenaga, ruang dan waktu dimana tari sapu tangan memiliki tenaga yang sedang, ruang yang sempit dan waktu yang lambat. Gerak juga merupakan perpindahan dari suatu tempat
dari ragam satu ke ragam yang lain mengalami proses perpindahan. Gerak dalam tari adalah gerak yang sudah mengalami proses penghalusan dan perombakan, seperti dalam ragam gerak tari sapu tangan yang berasal dari gerakan silat yang diperhalus menjadi sebuah tarian, seperti yang ada dalam deskripsi tari sapu tangan dibawah ini :
3.2.3 Iringan Musik
Musik dan tari merupakan pasangan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu dorongan atau naluri ritmis. Semula manusia menggunakan suaranya dengan teriakan, jeritan dan tangisan guna mengungkapkan perasaannya, seperti gembira, takut, terharu, marah, dan sebagainya. Curt Sachs dalan bukunya World History of The Dance mengatakan, bahwa pada zaman pra-sejarah andaikata musik dipisahkan dari tari, maka musik itu tidak memiliki nilai artistik apa pun. Hal ini bisa kita lihat pada musik primitif yang sering menggunakan suara-suara untuk mengiringi tariannya sebagai ungkapan emosi atau penguat ekspresinya.
Keberadaan musik di dalam tari mempunyai tiga aspek dasar yang erat kaitannya dengan tubuh dan kepribadian manusia, yaitu melodi, ritme, dan dramatik. Melodi didasari oleh nada, pengertiannya adalah alur nada atau rangkaian nada-nada.
Ritme adalah degupan dari musik yang sering ditandai oleh aksen atau tekanan yang diulang-ulang secara teratur. Dramatik yaitu suara-suara yang dapat memberikan suasana-suasana tertentu.
Dalam tari, fungsi musik dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu (1) sebagai pengiring, (2) sebagai pemberi suasana, (3) sebagai illustrasi tari.
a. Sebagai pengiring tari berarti peranan musik hanya untuk mengiringi atau menunjang penampilan tari, sehingga tak banyak ikut menentukan isi tarinya.
Dalam perkembangan musik sebagai pengiring tari telah banyak kita jumpai suatu iringan tari yang disusun secara khusus. Artinya meskipun fungsi musik hanya untuk mengiringi tetapi juga harus bisa memberikan dinamika atau membantu memberi daya hidup tarinya.
b. Musik sebagai pemberi suasana tari. Dalam fungsi ini musik sangat cocok dipergunakan untuk dramatari, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk yang bukan dramatari. Sebab di dalam dramatari banyak terdapat pembagian adegan-adegan atau babak-babak pada alur cerita yang akan dipertunjukkan untuk menghadirkan suasana-suasana tertentu.
Musik sebagai illustrasi atau pengantar tari. Pengertiannya adalah tari yang menggunakan musik baik sebagai pengiring atau pemberi suasana pada saat-saat tertentu saja,tergantung kebutuhan garapan tari. Pada dasarnya bentuk iringan tari dapat dibedakan menjadi dua yaitu bentuk internal dan bentuk eksternal. Iringan internal adalah iringan tari yang berasal atau bersumber dari diri penarinya, seperti tarikan nafas, suara-suara penari, efek dari gerakan-gerakan penari berupa tepukan tangan dan hentakan kaki, dapat pula bunyi-bunyi yang ditimbulkan dari busana dan perlengkapan yang dikenakan oleh para penari. Sedangkan iringan eksternal adalah iringan tari yang bersumber dari luar diri penari. Misalnya berupa nyanyian, puisi, suara-suara, instrumen gamelan, orkestra musik, perkusi, dan sebagainya
Musik tari sapu tangan diiringi musik tradisi pesisir (sikambang), musik pengiring pada pelaksanaan tari sapu tangan adalah musik kapri2 mengandung makna yang sangat berguna untuk kehidupan masyarakat pesisir, dimana musik tari sapu tangan yaitu musik kapri tersebut mengalun sendu, halus dan mengikuti suara hati masyarakat pesisir yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan.
Riak kehidupan masyarakat pesisir sebagai nelayan, susah, senang sakit yang ditanggung di laut tersebut sehingga tidak ada waktu untuk bercengkerama dalam mencari tambatan hati kecuali berdendang dengan musik kapri pada waktu terang bulan karena pada waktu itulah para nelayan tidak turun ke laut dan mereka pun beristirahat dan berdendang dengan musik kapri. Musik kapri menggunakan alat-alat musik yang terdiri dari:
berikut:
1. Gandang sikambang adalah alat musik membranofon pukul langsung (directly struck membranophones) yang badannya terbuat dari kayu bulat yang salah satu sisinya dilapisi kulit sedangkan sisi lainnya dibiarkan kosong. Sisi yang kosong diganjal dengan kayu tipis diikat dengan rotan.
Gandang sikambang berfungsi sebagai pembawa ritme yang konstan dalam ensambel.
2Berdasarkan dari beberapa hasil penelitian tentang musik kapri, menjelaskan bahwa Musik kapri merupakan musik pengiring dari tari saputangan yang terdiri dari dua jenis musik yaitu kapri gabungan, dan musik kapri instrument.Musik kapri gabungan artinya lagu kapri diirngi dengan alat musik yang biasanya terdiri dari tujuh buah gendang, satu biola, satu buah accordion, satu buah singkadu, dan vocal (penyanyi).Musik gabungan ini biasa disajikan untuk mengiringi tari saputangan. Sementara msuik kapri instrument artinya musik yang dimnainkan tanpa adanya vocal atau penyanyui dengan alat musik berupa tujuh buah gendang, satu buah biola, dan satu buah accordion. Biasanya musik ini dipakai untuk mengiringi silat atau pencak silat gaombang duo baleh.
Gambar 3.1 Alat musik Gandang Sikambang (Dokumentasi Dwi Irna Hasana, 2019)
2. Biola adalah alat musik kordofon lute kotak berleher (necked box lute chordophones) yang dawainya digesek dengan alat gesek untuk menghasilkan bunyi. Biola berperan sebagai pembawa melodi.
3. Akordeon adalah alat musik aerofon reed-bebas (free-reed aerophones) yang dimainkan dengan cara mengembang-kempiskan kantung udara sambil memainkan tombol-tombol akor dengan jari-jari kiri sedangkan jari-jari kanan memainkan tuts melodi. Akordeon berperan sebagai pembawa melodi.
Gambar 3.2 Alat musik akordion
4. Singkadu adalah alat musik aerofon flute tiup-ujung (end-blow flute aerophones) yang terbuat dari bambu dengan panjang 25 cm memiliki tujuh lubang nada pada bagian atas yang berjarak 1cm pada masing-masing lubang. Pada bagian bawah terdapat satu lubang yang berfungsi untuk mengatur keserasian nada dan suara. Singkadu berperan sebagai pembawa melodi lagu.
Gambar 3.3 Alat Musik Tiup Singkadu (Dokumentasi Dwi Irna Hasana, 2019)
Alat musik biola dan akordion merupakan alat musik yang diadaptasi dari alat musik Eropa yang dibawa oleh Bangsa Eropa pada abad ke-16 yang berdagang dan mencari rempah-rempah di Pelabuhan Barus. Selanjutnya, alat musik ini dipakai dalam ensambel sikambang. Alat-alat musik dimainkan untuk mengiringi vokal atau lagu dalam setiap kesenian sikambang.
Lagu pantun musik kapri mengandung makna yang sangat berguna bagi kehidupan masyarakat pesisir yang kebanyakan bekerja sebagai nelayan. Riak kehidupan sebagai nelayan, susah, senang, sakit yang ditanggungkan di laut tersebut sehingga tidak ada waktu untuk bercengkerama untuk mencari tambatan
hati kecuali pada waktu terang bulan diungkapkan lewat pantun kapri tersebut merupakan pantun yang paling utama dalam kesenian sikambang.
Adapun pantun syair lagu kapri tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 3.3 Terjemahan Syair Lagu
Syair Lagu Kapri Terjemahannya
Pulolah pandan jaulah ditanga Pulolah pandan jaulah ditanga
Dibalik la nyo pulo duo..siangsolah duo Dibalik pulo siangso la duo
Hancurlah badan dikandung la tanah Hanculah badan dikandung la tanah Di budi nan baik juo di kana la juo Budi nan baik dikana la juo
Kalolah indak karanolah bulan sayang Kalolah indak karanolah bulan
Dimanolahnyola bintang o adik, manenggi la hari
Dimano bintang manenggi hari
Kalolah indak karano la tuan sayang Kalolah indak karano tuan
Kalolah indak karano la tuan sayang Kalolah indak karano tuan