BAB II LANDASAN TEOR

2.1.4 Ilmu Pengetahuan Alam

Subbab ini membahas mengenai hakikat IPA, pembelajaran IPA di sekolah dasar, dan materi daur hidup hewan.

2.1.4.1 Hakikat IPA

Ilmu Pengetahuan Alam atau yang lebih sering disebut dengan science

merupakan ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam ini (Samatowa, 2011: 3). Sementara itu menurut Susanto (2013: 167) IPA adalah usaha manusia dalam memahami alam semesta melalui pengamatan yang tepat pada sasaran, serta menggunakan prosedur, dan dijelaskan dengan penalaran sehingga mendapatkan suatu kesimpulan. Menurut Trianto (2010: 136) IPA adalah suatu kumpulan teori yang sistematis, penerapannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam, lahir dan berkembang melalui metode ilmiah seperti observasi dan eksperimen serta menuntut sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu,

terbuka, jujur, dan sebagainya. Berdasarkan pengertian IPA dari beberapa ahli tersebut peneliti menyimpulkan bahwa IPA adalah ilmu yang dipelajari akibat dorongan sikap ilmiah yang dimiliki manusia untuk mendapatkan kesimpulan mengenai gejala-gejala alam yang terjadi disekitar.

Menurut Trianto (2010: 137) pada hakikatnya IPA dibangun atas dasar produk ilmiah, proses ilmiah, dan sikap ilmiah. Sementara itu, menurut Marsetio (dalam Trianto, 2010: 137) IPA dipandang sebagai proses, produk, dan sebagai prosedur. Sebagai proses dapat diartikan sebagai semua kegiatan ilmiah yang dilakukan untuk menyempurnakan pengetahuan tentang alam maupun untuk menemukan pengetahuan yang baru. Sebagai produk dapat diartikan sebagai hasil dari proses yang berupa pengetahuan yang diajarkan di dalam sekolah maupun diluar sekolah, dan sebagai prosedur, prosedur yang dimaksudkan adalah metodologi atau cara yang dipakai untuk mengetahui sesuatu (riset pada umumnya) yang sering disebut dengan metode ilmiah. Sementara itu menurut Laksmi dkk (dalam Trianto, 2010: 137) IPA pada hakikatnya merupakan suatu produk, proses dan aplikasi. Sebagai produk, IPA merupakan sekumpulan pengetahuan dan sekumpulan konsep dan bagan konsep. Sebagai suatu proses, IPA merupakan proses yang dipergunakan untuk mempelajari objek studi, menemukan dan mengembangkan produk-produk sains, dan sebagai aplikasi, teori-teori IPA melahirkan teknologi yang dapat memberi kemudahan bagi kehidupan.

2.1.4.2 Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar

IPA merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan dijenjang sekolah dasar dan merupakan salah satu mata pelajaran pokok dalam kurikulum

pendidikan di Indonesia (Susanto, 2013: 165). Menurut Samatowa (2011: 3) ada empat alasan mengapa IPA dimasukkan dalam kurikulum suatu sekolah yakni : a) Bahwa IPA berfaedah bagi suatu bangsa, kiranya tidak perlu dipersoalkan panjang dan lebar. Kesejahteraan materiil suatu bangsa banyak sekali pada kemampuan bangsa itu dalam bidang IPA, sebab IPA merupakan dasar teknologi, sering disebut-sebut sebagai tulang punggung pembangunan, b) IPA merupakan suatu mata pelajaran yang memberikan kesempatan untuk berpikir kritis; misalnya

IPA diajarkan dengan mengikuti metode “menemukan sendiri”, c) Bila IPA

diajarkan melalui percobaan – percobaan yang dilakukan sendiri oleh anak, maka IPA tidaklah merupakan mata pelajaran yang bersifat hapalan belaka, d) mata pelajaran ini mempunyai nilai – nilai pendidikan yaitu mempunyai potensi yang dapat membentuk kepribadian anak secara keseluruhan.

Menurut Badan Nasional Standar Pendidikan BSNP,2006 (dalam Susanto, 2013: 162) IPA di Sekolah Dasar memiliki tujuan, yaitu sebagai berikut:

1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya. 2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang

bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.

4. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.

5. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.

6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.

7. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP.

2.1.4.3 Materi Daur Hidup Hewan

Semua makluk hidup mengalami daur hidup. Makhluk hidup lahir atau menetas, kemudian tumbuh menjadi lebih besar, bertambah tua, dan akhirnya akan mati. Jika makhluk hidup berkembang biak, maka daur hidup akan berulang (Zuneldi,2011: 51). Daur hidup adalah urutan tahap perkembangan makhluk hidup sepanjang hidupnya (Mikrodo,2010: 90). Dengan cara ini makluk hidup dapat melangsungkan dan melestarikan jenisnya dimuka bumi. Hewan memiliki tahapan daur hidup yang beragam. Ada kelompok hewan yang terlahir mirip dengan bentuk induknya. Daur hidup kelompok hewan seperti ini disebut daur hidup tanpa mengalami metamorfosis. Contoh hewan yang tidak mengalami metamorfosis adalah ayam, kucing, dan kangguru. Sejak dilahirkan sampai dewasa, hewan tersebut hanya mengalami perubahan ukuran tubuh saja (Sumantoro, 2009: 62). Sedangkan hewan yang mengalami metamorfosis dibagi menjadi dua berdasarkan perubahan bentuk hewan selama mengalami metamorfosis, yaitu metamorfosis sempurna dan metamorfosis tidak sempurna (Zuneldi,2011: 51-52). Metamorfosis sempurna dialami oleh hewan yang pada setiap fasenya selalu mengalami perubahan bentuk yang mencolok, sedangkan metamorfosis tidak sempurna dialami oleh hewan yang pada setiap fasenya tidak

mengalami perubahan bentuk yang mencolok. Hewan yang tidak mengalami metamorfosis tidak sempurna adalah kecoa, dan belalang, sedangkan contoh hewan yang mengalami metamorfosis sempurna adalah kupu-kupu, katak, kumbang. Serangga merupakan salah satu kelompok hewan terbesar yang mendominasi dunia. Mereka dapat dijumpai pada berbagai jenis habibat, dari pegunungan dingin hingga hutan basah tropis (Kramer, 1995: 283). Salah satu contoh serangga adalah kumbang, kumbang memiliki banyak jenis di muka bumi seperti kumbang kepik, kumbang rusa jantan, kumbang melolonta, kumbang hongkong dan masih banyak lagi jenisnya. Kumbang hongkong merupakan salah satu contoh kumbang yang banyak dimanfaatkan oleh banyak orang untuk membuat usaha karena ketika kumbang tersebut berbentuk larva banyak orang akan menjualnya karena kandungan protein yang tinggi, dan sering untuk dijadikan pakan burung, ikan, dan hewan lainnya. Berikut merupakan merupakan tahap daur hidup kumbang hongkong.

a. Telur

Telur ini berbentuk seperti kacang yang menggerombol dan lengket karena telur ini dilapisi suatu bahan cair yang lengket sehingga kerap telur-telur ini tertutup oleh bahan-bahan yang menempel pada telur tersebut. Ukuran telur ini ± 1,8 – 1,9 mm. Telur ini akan menetas setelah 7 hari (Triatmanto, 2009: B358)

b. Larva

Larva/ ulat hongkong yang baru menetas berukuran ±3mm. pada awalnya larva ini berwarna keputihan dan secara perlahan akan berubah warna menjadi cokelat. Larva / ulat hongkong akan berganti kulit

sebanyak 10-14 kali dan membutuhkan waktu 90-114 hari sebelumnya akhirnya akan berubah menjadi kepompong. Ulat yang telah dewasa dapat mencapai panjang 3 cm dengan berat 150 mg.

c. Pupa

Panjang ukuran pupa/kepompong ± 1 cm. ulat yang baru berubah menjadi kepompong biasanya berwarna putih, kulit kepompong akan berubah selama ± 10 hari. Kulit kepompong akan berubah warna menjadi hitam dan akan mengelupas menjadi calon kumbang.

d. Dewasa

Kulit kepompong yang telah mengelupas akan menjadi calon kumbang setelah 7-10 hari. Ukuran kumbang ± 0,5 cm. Setelah beberapa hari calon kumbang akan berubah warna menjadi cokelat kemerah- merahan. Selanjutnya, kumbang akan berubah warna menjadi hitam. Ketika kumbang telah berubah warna menjadi hitan artinya kumbang tersebut telah dewasa. Pada umumnya kumbnag dewasa akan hidup selama dua sampai tiga bulan. Selama itu seekor kumbang betina dapat memproduksi telur 70-100 butir. (Triatmanto, 2009: B358)

Dalam dokumen Pengembangan media pembelajaran IPA SD materi daur hidup hewan berbasis metode Montessori (Halaman 47-52)