• Tidak ada hasil yang ditemukan

Inciting Moment (problem cerita mulai muncul)

Dalam dokumen Anang Sudigdo S.841108043 (Halaman 93-97)

commit to user BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian 1. Unsur intrinsik dalam Novel Rumah di Seribu Ombak1.Unsur intrinsik dalam Novel Rumah di Seribu Ombak

2) Inciting Moment (problem cerita mulai muncul)

Peristiwa yang dialami Samihi saat mencari kerang di laut untuk memenuhi tugas dari Pak Gede guru IPA di sekolahnya. Sepeda Samihi hendak dicuri oleh tiga anak dari temukus. Peristiwa tersebut mengawali problem cerita mulai muncul. Kutipan peristiwa tersebut yaitu:

Pantai yang tak lagi gelap, mulai diramaikan suara alam yang rutin. Di antara suasana alam seperti kicauan burung laut, telingaku menangkap suara teriakan dan sorak beberapa orang di kejauhan. Kutolehkan penglihatan kea rah timur. Kubalikkan badanku. Aku terkejut bukan main saat melihat tiga anak bercelana pantai kumal dengan kaus tanpa lengan tengah mendorong sepeda kesayanganku. Satu di antara mereka, yang rambutnya kuning seperti rambut jagung melompat ke atas sedel. Sementara dua lainnya, berlari-lari kecil di sebelahnya. Ketiganya

commit to user

menengok ke arahku sambil tertawa-tawa. Seperti sedang mengolok-olokku yang masih terpana melihat keberadan mereka. (Rumah di Seribu Ombak: 18).

Saat itu, aku tak bisa menahan kaget dan takut. Kaget karena tiba-tiba ada yang mengambil sepedaku saat aku sibuk menjumputi kerang. Takut karena yang kulihat adalah tiga anak tanggung berbadan besar. Salah satunya bahkan nyaris sama besar dengan ayahku. Perasaan dan pikiranku kacau. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Jika aku mengejar mereka, aku yakin meraka tidak akan tinggal diam. Aku pasti akan dihabisi. Mungkin, aku akan diseret oleh mereka. Sempat juga aku berpikir untuk membiarkan saja mereka pergi. hati kecilku mengatakan jika membiarkan mereka berlalu, aku akan selamat. Namun, si Perak akan tinggal jadi kenangan, dan mungkin aku akan menyesal tak habis-habis seperti banyaknya pasir di pantai ini. (Rumah di Seribu Ombak: 18).

Peristiwa hendak dicurinya sepeda Samihi saat mencari kerang di laut oleh tiga anak dari desa Temukus. Maka di sinilah konflik mulai terjadi. Samihi kaget tiba-tiba ada yang ingin mencuri sepedanya saat sibuk mencari kerang. Samihi takut kerena yang hendak mencuri sepedanya adalah tiga anak berbadan besar, salah satunya nyaris sama besar dengan ayahnya. Samihi merasa bingung apa yang harus dilakukan. Jika mengejar, Samihi akan dihabisi dan jika membiarkan tiga anak tersebut pergi maka sepeda Samihi akan tinggal jadi kenangan saja. Konflik berlanjut saat Samihi memberanikan diri untuk melawan tiga anak yang hendak mencuri sepedanya. Kutipan tersebut yaitu:

“Kembalikan, kalian pikir aku takut, hah? Tinggalkan sepedaku,” kataku sambil memegangi bagian belakang si Perak. Baru saja jari-jariku menyentuh sadel, tiba-tiba tanganku terlepas lagi. Kubetulkan letak sarungku yang tadinya bergelayut di leher. Tiba-tiba, napasku sesak. Leherku tercekik, badanku terguncang karena sarung yang kulilit di leher ditarik dari belakang. Tak bisa kulihat siapa yang menarik sarungku. Yang kulihat hanya si Jerawat dan si Brengsek Berambut Jagung menunggangi sepedaku.mereka tertawa mengejek. Belum lagi kutahan tarikan dari belakang, si Jerawat sudah menahan kepalaku dengan tangan kanannya yang kekar dan berotot. Kepalaku didorongnya ke belakang. Aku terjungkal ke pasir dan berguling dua kali. Aku tambah marah

commit to user

karena merasa dipermainkan. Apalagi, ketika kudengar galak tawa mereka meningkahi jatuhku. (Rumah di Seribu Ombak: 20).

Kutipan di atas menunjukkan problem cerita cerita mulai muncul.

Inciting moment dalam novel Ruma h di Seribu Ombak terdapat juga pada peristiwa saat Yanik menceritakan rahasia kepada Samihi tentang kisah kelam yang dialaminya.

… Ketika hari ini Yanik membuka rahasianya kepadaku, yang terlintas di kelapaku adalah ia sudah terlalu lelah menyimpan rahasia. Terlalu banyak kesedihan yang ia rasakan. Saat ini, ia membutuhkan rasa lega dengan membiarkan rahasia itu terbuka kepadaku. (Rumah di Seribu Ombak: 117-118).

“Samihi, kau bisa memegang rahasia?” tanya Yanik memecah keheningan. Matanya tajam memandangku, tangannya memegang lenganku. Kujawab Yanik dengan anggukan pasti.

“Janji?” sergahnya lagi

Kuanggukkan lagi sambil menghadap ke atas. “Demi Allah, aku janji,” kataku meyakinkan.

“Demi persahabatan kita?” tambahnya. Sekali lagi, kuanggukkan kepala. “Kau kan juga punya rahasia aku, Nik. Kau lupa, ya?” kataku mengingatkan soal rahasiaku belajar pada ahli mekidung. (Rumah di Seribu Ombak: 120).

Alur masuk problem dimulai dengan penceritaan rahasia Yanik kepada Samihi tentang kejadian yang pernah menimpanya yang dilakukan oleh Andrew seorang pria bule.

“Namun, sebenarnya ada alasan yang lebih kuat kenapa aku menjauhi Andrew,” kata Yanik. Di bagian ini, Yanik makin terlihat serius dan terbebani. Terlihat dari nada suaranya yang tak beraturan. Matanya kembali menatapku, seperti meminta jaminan aku akan menjaga semua yang diceritakannya tak didengar telinga ketiga dan seterusnya. Cukup dua telingaku saja yang dibolehkan mendengarcerita kelamnya. Aku tak memburu-buru ceritanya, kubiarkan Yanik yakin lebih dulu kepadaku, baru melanjutkan kisahnya. (Rumah di Seribu Ombak: 122-123).

“Andrew… mmmh Andrew punya… punya…ke… ke… kelainan,” kata Yanik pelan. Ia terbata-bata bereaksi atas pertanyaan polosku. Kulihat air matanya mulai mengambang. Suaranya lirih nyaris tak kudengar. Degub

commit to user

jantungnya malah terdengar lebih kencang dari suaranya. (Rumah di Seribu Ombak: 123).

Yanik mulai menceritakan tentang kelakuan Andrew bahwa Andrew mempunyai kelainan. Yanik melanjutkan ceritanya kalau Andrew sudah mulai mengatur Yanik sehingga Yanik mulai tak nyaman. Di suatu hari yang kelam, Kampung Kalidukuh diterjang hujan badai angin barat. Saat itu Yanik sedang asyik bermain di rumah Andrew, Yanik tak bisa pulang dan menginap di rumah Andrew. Yanik menyesali tidur di rumahnya Andrew karena Andrew mempunyai niat jahat padanya. Ilustrasi tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut.

Di tengah tidur lelapnya, Yanik tak sadar kalau Andrew digoyang oleh sekelebat pikiran jahat. Andrew melihat sebuah kesempatan yang sudah lama ia harapkan sejak berteman erat dengan Yanik. Dan malam itu, kesempatan itu terhidang di depan matanya. Jari jemari Andrew mulai mengelus kaki Yanik, lalu naik ke betis, Yanik seperti dilumpuhkan oleh mimpi dan tidur lelapnya, tak menyadari bahaya mulai menghampiri. Andrew yang biasanya berlaku sopan dan penuh tata karma dalam memperlakukan Yanik, kini berubah menjadi serigala yang siap menerkam dan melumat mangsanya… (Rumah di Seribu Ombak: 125-126).

“Aku…aku… bangun ketika tiba-tiba merasa kedinginan. Aku kaget ketika celanaku sudah lepas, tergeletak di lantai. Kancing bajuku sudah terbuka. Dia… dia menyentuh semua badanku… dari kaki, lalu naik paha, pinggang, dan dadaku. Yang membuat takut, Andrew menciumi dadaku… leherku… Ya Dewa Ratu, kenapa Kau biarkan dia berbuat begitu padaku…” Yanik makin tak bisa mengendalikan emosinya. Ia lalu menangis sesenggukan. (Rumah di Seribu Ombak: 126).

Yanik menceritakan kepada Samihi saat Yanik bermalam di rumah Andrew, Andrew telah digoyah sekelebat pikiran jahat. Andrew melihat sebuah kesempatan yang sudah lama ia harapkan sejak berteman erat dengan Yanik. Dan malam itu kesempatan terhidang di depan mata Andrew. Jari jemari Andrew mulai mengelus kaki Yanik, lalu naik ke betis. Yanik bangun ketika tiba-tiba merasa kedinginan. Yanik kaget ketika celananya sudah lepas, tergeletak di lantai

commit to user

dan kancing bajunya sudah terbuka. Andrew menyentuh semua badan Yanik, dari kaki, paha, pinggang, dan dada. Yanik merasa takut saat Andrew menciumi dada dan lehernya. Andrew tidak membiarkan Yanik menjauh.

Dalam dokumen Anang Sudigdo S.841108043 (Halaman 93-97)