• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDIKATOR KESEJAHTERAAN

Dalam dokumen KAJIAN FISKAL REGIONAL (Halaman 38-46)

BAB II PERKEMBANGAN DAN ANALISIS EKONOMI REGIONAL

2.2. INDIKATOR KESEJAHTERAAN

Nilai tukar Rupiah terhadap USD tidak berpengaruh banyak di Provinsi Maluku. Hal ini disebabkan kecenderungan warga lebih memilih Euro, serta tujuan utama ekspor adalah negara China dan Taiwan.

Sumber : Data Bank Indonesia (data diolah) Grafik

2.5 Trend Penutup Nilai Pasar Rupiah pada Akhir Tahun 2016 - 2020

13.307 13.384 14.481 13.901 14.105

2016 2017 2018 2019 2020

Nilai Tukar USD Sumber : Kanwil DJBC Provinsi Maluku

Gambar

2.5 Tambang Provinsi Maluku Tahun 2019 - 2020 Tujuan dan Jumlah Ekspor Komoditas

Non-Negara 2019 2020

Amerika Serikat 6,63 Juta USD 8,22 juta USD Cina 1,13 juta USD 22,73 juta USD Jepang 2,69 juta USD 8, 67 juta USD Vietnam 2,05 juta USD 5,28 juta USD

23,9% 1912% 222% 157%

23

Indikator Kesejahteraan masyarakat

dapat diproksikan dengan tingkat kemiskinan, tingkat ketimpangan (gini rasio) dan tingkat pengangguran terbuka pada suatu daerah. Semakin rendah tingkat kemiskinan, tingkat ketimpangan dan tingkat pengangguran terbuka menunjukkan bahwa dalam suatu daerah tersebut kesejahteraan masyarakatnya semakin lebih baik. Realisasi indikator kesejahteraan di tahun 2020 tidak terlalu optimal, namun tetap memenuhi target RPJMD Provinsi Maluku tahun 2020.

2.2.1 Indeks Pembangunan Manusia

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah suatu ukuran yang secara khusus menggambarkan pencapaian pembangunan

manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. IPM dihitung berdasarkan data

yang dapat menggambarkan tiga dimensi

pembangunan manusia: sehat dan panjang umur (dilihat dari Angka Harapan Hidup); terdidik (dilihat dari Angka Melek Huruf dan Rata- Rata Lama Sekolah); dan memiliki standar hidup layak (dilihat dari Paritas Daya Beli/PPP)

IPM Provinsi Maluku pada tahun 2020 sebesar 69,49 lebih rendah dari tingkat nasional sebesar 71,94. IPM Provinsi Maluku menduduki peringkat 26 dari 34 Provinsi di

Indonesia. Sedangkan untuk regional

Sulampua, Provinsi Maluku menempati urutan 5 dari 10 Provinsi. Di mana Provinsi Sulawesi Utara menduduki peringkat pertama dengan indeks 72,93.

Hampir semua IPM di Sulampua lebih kecil dari tingkat nasional kecuali Sulawesi Utara. Artinya Wilayah provinsi di Sulampua masih tertinggal apabila dibandingkan dengan provinsi-provinsi di wilayah Indonesia Bagian Barat. Fasilitas kesehatan yang kurang optimal, akses pendidikan yang terbatas, Peningkatan IPM di Maluku dan

Indonesia Timur belum mampu mengejar ketertinggalan dari rata-rata nasional

Sumber : BPS Provinsi Maluku (data diolah) Gambar

2.6 Realisasi Kesejahteraan Provinsi Maluku berdasarkan RPJMD

Kemiskinan 17,99% (2020) 17,65% (2019) 69,49 (2020) 69,45 (2019) IPM 7,57 (2020) 6,69 (2019) Pengangguran 0,326 (2020) 0,320 (2019) Rasio Gini

Sumber : Data BPS Provinsi Maluku (diolah)

Gambar 2.7

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada Kawasan Sulampua Tahun 2018 s.d. 2020 Maluku Utara 68,49 ‘19 68,70 67,76‘18 Maluku 69,49 ‘19 69,45 ‘18 68,87 Papua 60,44 ‘19 60,84 ‘18 60,06 Sulawesi Selatan 71,93 ‘19 71,66 ‘18 70,90 Sulawesi Tenggara 71,45 ‘19 71,20 ‘18 70,61 Sulawesi Tengah 69,55 ‘19 69,50 ‘18 68,88 Sulawesi Barat 66,11 ‘19 65,73 ‘18 65,10 Gorontalo 68,68 ‘19 68,49 ‘18 67,71 Sulawesi Utara 72,93 ‘19 72,99 ‘18 72,2 Papua Barat 65,09 ‘19 64,70 ‘18 63,74 Nasional 71,94 ‘19 71,92 ‘18 71,39

kurangnya tenaga pendidik, dan pengaruh

rendahnya pendapatan perkapita

menyebabkan nilai IPM di Sulampua lebih rendah dibandingkan dengan nasional.

Realisasi IPM Provinsi Maluku di tahun 2020 meskipun meningkat, namun secara

pertumbuhan, merupakan pertumbuhan

terendah dalam 10 tahun terakhir. Hal ini disebabkan karena adanya pandemi COVID-19, sehingga menurunkan pengeluaran per kapita Provinsi Maluku. Jika melihat angka IPM tiap daerah di Provinsi Maluku, Kota Ambon memiliki indeks IPM tertinggi dengan angka 80,84 dengan kategori sangat tinggi. Disusul oleh Kabupaten Maluku Tengah dengan angka

71,25 dengan kategori tinggi. 9

Kabupaten/Kota lainnya memiliki aktegori IPM sedang dengan rentang nilai IPM antara 60-70. Hal ini menunjukkan ketimpangan antara Kota Ambon dengan daerah lain di Provinsi Maluku cukup tinggi.

2.2.2 Tingkat Kemiskinan

Tingkat kemiskinan di Maluku sebesar 17,99% pada akhir tahun 2020, mengalami

kenaikan dibanding dengan Maret 2020. Tingkat kemiskinan Agustus tahun 2020 lebih besar dibandingkan dengan Agustus 2019 (17,65%) dan Agustus 2018 (17,85%). Garis kemiskinan pada tahun 2020 di Provinsi Maluku meningkat sebesar Rp.28.307 bila dibandingkan tahun 2019. Hal ini diperparah dengan penurunan pendapatan per kapita di Provinsi Maluku pada tahun 2020.

Apabila dibedakan menurut daerahnya, jumlah penduduk miskin di daerah perdesaan selama periode Maret 2016 s.d. September 2020 turun sebanyak 3,11 ribu jiwa. Sementara di daerah perkotaan, pada periode yang sama,

jumlah penduduk miskin menunjukkan

penurunan sebanyak 2,21 ribu jiwa. Adapun jika dilihat dari sisi persentase, penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2020 sebesar 27,06%. Angka tersebut jauh

lebih tinggi dibandingkan persentase

penduduk miskin di daerah perkotaan yang hanya sebesar 6,36%.

Terlihat pada Grafik 2.6, pada

September 2020, Indeks Kedalaman

Sumber : Data Bank Indonesia (data diolah) Grafik

2.6 Trend P1 dan P2 di Provinsi Maluku Tahun 2017 s.d. 2020 3,5 3,41 3,47 3,31 3,32 3,74 3,47 3,76

0,99 0,89 0,99 0,92 0,88 1,11 1,01 1,18

Mar Sep Mar Sep Mar Sep Mar Sep 2017 2018 2019 2020

P1 P2

Peneliti Ekonomi Provinsi Maluku mengatakan, bahwa salah satu faktor dalamnya tingkat kemiskinan di Provinsi Maluku adalah karena barang yang dijual sebagian besar adalah barang mentah sehingga untung yang didapat kecil dan sulit untuk berproduksi secara kontinu. Periode Jumlah Penduduk Miskin Persen Penduduk Miskin Garis Kemiskinan (Rp/Kap/Bln) Mar '16 327,72 19,18% 414.302 Sep '16 331,79 19,26% 424.656 Mar '17 320,51 18,45% 436.865 Sep '17 320,42 18,29% 451.214 Mar '18 320,08 18,12% 456.457 Sep '18 317,84 17,85% 474.173 Mar '19 317,69 17,69% 508.777 Sep '19 319,52 17,65% 545.378 Mar '20 318,19 17,44% 555.197 Sep '20 322,40 17,99% 573.685

Sumber : Data BPS Provinsi Maluku (data diolah)

Tabel

25

Kemiskinan dan Indeks Keparahan

Kemiskinan tercatat semakin meningkat. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) naik dari 3,47 pada Maret 2020 menjadi 3,76 pada September 2020. Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) naik dari 1,01 pada Maret 2020 menjadi 1,18 pada September 2020. Peningkatan nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung menjauhi garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin semakin besar. Bila dibandingkan dengan nasional, kemiskinan di Provinsi Maluku masih cukup tinggi. Pada September 2020 tingkat kemiskinan Maluku sebesar 17,99% atau sebanyak 322.400 jiwa, lebih tinggi dari tingkat nasional sebesar 10,19%. Tingkat Kemiskinan Maluku berada pada nomor 4 apabila dibandingkan dengan 34 Provinsi di Indonesia. Pertambahan tingkat kemiskinan di Provinsi Maluku dibandingkan Maret 2020 sebesar 3,15%, lebih kecil dibandingkan nasional yang sebesar 4,19%.

Jika melihat peningkatan tingkat

kemiskinan, Provinsi Maluku berada di posisi 3

daerah dengan peningkatan tingkat

kemiskinan di Kawasan Maluku dan Papua,

dengan 3,15 %. Penyebab tingginya

kemiskinan di Provinsi Maluku antara lain

karena Perekonomian Maluku masih

mengandalkan APBN dan APBD sebagai pendorong utama, infrastruktur yang belum memadai, konektivitas antar pulau yang belum baik, dan investasi yang rendah. Selain itu,

kebijkanan penutupan beberapa jalur

transportasi menyebabkan warga desa kesulitan untuk menjual hasil kebun dan hasil tangkapan ikan.

Pemerintah Daerah di Provinsi Maluku telah mengambil beberapa kebijakan untuk mengatasi hal tersebut, diantaranya dengan optimalisasi pelaksanaan program PEN di Provinsi Maluku, memberikan pinjaman

dengan bunga rendah melalui Bank

MalukuMalut dengan sasaran utama ASN dan UMKM, serta dengan pembentukan Tim Percepatan Pemulihan Ekonomi Maluku.

2.2.3 Tingkat Ketimpangan (Rasio Gini)

Sumber : Data BPS Provinsi Maluku (diolah)

Gambar 2.8

Tingkat Kemiskinan pada Kawasan Sulampua Tahun 2018 s.d. 2020 MalUt 6,97 ‘19 6,91 ‘18 6,62 Maluku 17,99 ‘19 17,65 ‘18 17,85 Papua 26,80 ‘19 26,55 ‘18 27,43 SulSel 8,99 ‘19 8,56 ‘18 8,87 SulTra 11,69 ‘19 11,04 ‘18 11,32 SulTeng 13,06 ‘19 13,18 ‘18 13,69 SulBar 11,50 ‘19 10,95 ‘18 11,22 Gorontalo 15,59 ‘19 15,31 ‘18 15,83 SulUt 7,78 ‘19 7,51 ‘18 7,59 PapBar 21,70 ‘19 21,51 ‘18 22,66 Nasional 10,19 ‘19 9,22 ‘18 9,66 NTT 21,21 ‘19 20,62 ‘18 21,03 Provinsi 2020 Growth Mar Sep NTT 20,9 21,21 1,48% SulUt 7,62 7,78 2,10% SulTeng 12,92 13,06 1,08% SulSel 8,72 8,99 3,10% SulTra 11 11,69 6,27% Gorontalo 15,22 15,59 2,43% SulBar 10,87 11,5 5,80% Maluku 17,44 17,99 3,15% MalUt 6,78 6,97 2,80% PapBar 21,37 21,7 1,54% Papua 26,64 26,8 0,60% Nasional 9,78 10,19 4,19%

Maluku mempunyai tingkat ketimpangan yang lebih baik daripada tingkat nasional, dan berada di posisi 3 untuk kawasan Sulampua. Gini Ratio Provinsi Maluku pada September 2020 tercatat sebesar 0,326 lebih baik dari tingkat nasional yang tercatat sebesar

0,385. Hal ini menunjukkan bahwa

pengeluaran penduduk di wilayah Maluku lebih merata dibandingkan dengan tingkat nasional.

Namun jika kita melihat secara peningkatan rasio gini, Provinsi Maluku

memiliki peningkatan paling tingggi

dibandingkan dengan nasional dan Provinsi Sulampua. Kenaikan tingkat rasio gini Provinsi

Maluku adalah sebesar 0,008 jika

dibandingkan dengan Maret 2020 yang sebesar 0,318. Sedangkan peningkatan rasio gini untuk nasional sebesar 0,004. Gini rasio perkotaan di Provinsi Maluku menurun dari 0,295 pada Maret 2020 menjadi 0,292 pada September 2020. Pada periode yang sama, rasio gini di pedesaan meningkat dari 0,285 menjadi 0,285. Terlihat pada grafik 2.6, Tingkat Rasio Gini di Provinsi Maluku juga meningkat bila dibandingkan dengan September 2019, meningkat sebesar 0,006 dari tingkat 0,320

Jika kita melihat distribusi pengeluaran, yang dibagi menjadi 3 kelompok masyarakat, kategori ketimpangan masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan karena jumlah pengeluaran pada kelompok 40% terbawah lebih dari 12%,

yakni tercatat sebesar 20,63% pada

September 2020. Angka ini menurun sebesar 0,26 poin bila dibandingkan dengan angka pada Maret 2020 yang sebesar 20,89. Sedangkan, jumlah total pengeluaran dari kelompok 20% teratas mencapai 41,82%, dan pada kelompok menengah sebesar 37,55%. Peningkatan selisih jumlah pengeluaran ini

Sumber : Data BPS Provinsi Maluku (data diolah)

Grafik

2.7 Rasio Gini Provinsi Maluku Bulan September Tahun 2017 s.d. 2020

0,359 0,372 0,317 0,388 0,392 0,417 0,366 0,326 0,336 0,391 0,398 0,384 0,355 0,376 0,330 0,391 0,393 0,410 0,365 0,320 0,310 0,381 0,391 0,380 0,356 0,368 0,321 0,382 0,388 0,406 0,356 0,326 0,29 0,376 0,395 0,385 NTT SulUt SulTeng SulSel SulTra Gorontalo SulBar Maluku MalUt PapBar Papua INDONESIA

Sep-20 Sep-19 Sep-18

Sumber : Data BPS Provinsi Maluku (diolah)

Gambar 2.9

Distribusi Pengeluaran Pemduduk di Provinsi Maluku September 2019, Maret 2020, dan September 2020

Sep ‘19

Mar ‘20

Sep ’20

Penduduk 40% Terbawah Penduduk 40% Menengah Penduduk 20% Teratas

20,97% 38,48% 40,55%

20,89% 38,46% 40,65%

20,63% 37,55% 41,82%

Sesuai ukuran ketimpangan Bank Dunia, Rasio Gini di Provinsi Maluku masih tergolong ketimpangan rendah

27

berkontribusi pada kenaikan angka rasio gini di Provinsi Maluku pada tahun 2020.

Pada tahun 2020 pemerintah Provinsi

Maluku berusaha menjaga daya beli

masyarakat dengan optimalisasi program PEN diantaranya Program Keluarga Harapan Hidup, Kartu Sembako, dan Bantuan Langsung Tunai. Hal ini dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat golongan

terbawah dalam memenuhi kebutuhan

dasarnya.

2.2.4 Kondisi Ketenagakerjaan dan Tingkat Pengangguran

Pada Agustus 2020, Tingkat

Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Maluku mengalami meningkat sebesar 1,84% poin bila dibandingkan dengan Agustus 2019. Jumlah pengangguran juga meningkat dari 7,10 juta orang pada Agustus 2019 menjadi 9,77 juta orang pda Agustus 2020. Jumlah angkatan kerja pada Agustus 2020 sebanyak 138,22 juta orang, naik 2,36 juta orang dibanding Agustus 2019. Sejalan dengan kenaikan jumlah angkatan kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga naik sebesar 0,24 persen poin.

Jika melihat berdasarkan lapangan pekerjaan utama, masyarakat Provinsi Maluku sebagian besar, sebanyak 38,23 juta orang, bekerja pada sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan. Jumlah ini mencapai 29,76% dari jumlah penduduk yang bekerja di Provinsi Maluku. Lapangan usaha terbesar kedua yakni Perdagangan Besar dan Eceran total 24,70 juta penduduk atau sebanyak 19,23% jumlah pekerja. Kedua lapangan usaha tersebut telah mendominasi pekerjaan pekerja di Provinsi Maluku selama 3 tahun terakhir.

Berdasarkan status pekerjaan utama, sebagain besar pekerja berstatus sebagai buruh/pegawai/karyawan dengan persentase sebesar 36,37% dari total pekerja. erdasarkan status pekerjaan utama tersebut, penduduk bekerja dapat dikategorikan menjadi kegiatan formal dan informal. Pada Agustus 2020, penduduk yang bekerja di kegiatan informal sebanyak 60,47%, sedangkan yang bekerja di

kegiatan formal sebanyak 39,53%. Penduduk bekerja di kegiatan informal pada Agustus 2020 mengalami peningkatan sebesar 4,59 % poin dibandingkan dengan Agustus 2019.

Dengan melihat angka TPT berdasarkan wilayah, maka TPT pada Agustus 2020 di pedesaan yang sebesar 4,71%, meningkat 0,79% dari tahun sebelumnya. Sedangkan angka TPT di perkotaan, pada periode yang sama, sebesar 8,98% atau meningkat 2,69%. Peningkatan persentase jumlah pengangguran terbuka lebih tinggi di kota daripada di desa. Hal ini menunjukkan bahwa dari segi pekerjaan, warga desa terkena dampak COVID-19 lebih sedikit.

Sumber : Data BPS Provinsi Maluku (data diolah)

Grafik

2.8 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kawasan Sulampua Tahun 2020

7,07 7,57 6,31 3,32 4,58 3,77 4,28 7,37 5,15 6,8 4,28 4,28 2,08 0,55 0,24 0,71 1,41 0,79 0,69 1,8 0,89 0,6 0,66 1,48 0 1 2 3 4 5 6 7 8

Hal ini sejalan dengan data BPS, terdapat 29,12 juta penduduk usia kerja yang

terdampak COVID-19. Dampak antara lain pemutusan kontrak, berhentinya usaha, dirumahkan, dan pengurangan jam kerja. Dari total data tersebut, dampak yang paling banyak dirasakan oleh pekerja adalah pengurangan jam kerja. Hal ini disebabkan adanya pembatasan kegiatan ekonomi masyarakat dalam rangka penanggulangan dampak COVID-19. Selain itu pilihan ini jga diambil untuk menekan cost production, akibat turunnya penerimaan.

Angka TPT di Provinsi Maluku pada Tahun 2020 merupakan angka TPT Maluku merupakan yang tertinggi diantara kawasan Sulampua dan NTT. Pada periode ini juga angka TPT di Provinsi Maluku lebih tinggi bila dibandingkan dengan tingkat nasional. Namun Jika melihat peningkatan dari periode Maret 2020, nasional mengalami peningkatan lebih tinggi dengan 2,08% dibanding Provinsi Maluku yang sebesar 0,55%.

2.2.5 Nilai Tukar Petani (NTP)

Nilai Tukar Petani (NTP) Januari - Desember menggambarkan NTP Maluku

Januari - Desember 2020 lebih rendah 1,35 % dibandingkan NTP 2019 pada periode yang sama. Perubahan tertinggi terjadi pada Subsektor Perikanan Budidaya yang menurun sebesar 6,98%. Sepanjang tahun 2020, NTP tertinggi dialami oleh petani pada subsektor Hortikultura yaitu sebesar 103,31 dan terendah pada subsektor tanaman perkebunan rakyat,

yakni sebesar 93,17. Berbeda dengan tahun 2019, di mana subsektor budidaya laut adalah subsektor dengan NTP tertinggi.

Jika dilihat dalam bulanan, peningkatan NTP pada Desember 2020 disumbangkan oleh peningkatan NTP di tiga subsektor, yaitu subsektor hortikultura, subsektor tanaman perkebunan rakyat, dan subsektor peternakan. Peningkatan NTP tertinggi dialami oleh subsektor hortikultura sebesar 2,20% diikuti oleh subsektor perkebunan rakyat sebesar 1,40%, serta subsektor peternakan sebesar 1,33%. Sementara itu, untuk dua subsektor lainnya, yaitu tanaman pangan dan perikanan mengalami penurunan NTP pada Desember 2020 dibandingkan dengan kondisi November 2020. NTP Provinsi Maluku Desember 2020 tanpa subsektor perikanan tercatat sebesar

97,57. Angka tersebut mengalami

Sumber : Data BPS Provinsi Maluku (data diolah)

Grafik

2.9 Indeks NTP Provinsi Maluku Tahun 2018 s.d 2020

109,75 111,91 83,99 106,89 107,38 101,74 97,62 102,07 95,94 102,24 103,42 98,42 97,5 103,31 93,17 100,11 100,9 97,09 Tanaman Pangan Hortikultura Tanaman Perkebunan Rakyat

Peternakan Perikanan Gabungan 2018 2019 2020

Transportasi dan komunikasi masih menempati urutan tertinggi pada indeks pengeluaran petani untuk ongkos produksi

Sumber : Data BPS Provinsi Maluku (data diolah)

Tabel

2.6 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kawasan Sulampua Tahun 2020

Pengangguran Bukan Angkatan Kerja Sementara Tidak Bekerja Penguranagan Jam Kerja Kota Desa 1,66 0,90 0,23 0,23 1,27 0,50 16,82 7,21 Total 2,56 0,76 1,77 24,03

29

peningkatan, yaitu sebesar 0,85% jika dibandingkan dengan November 2020.

NTP Provinsi Maluku secara rata-rata mengalami peningkatan sebesar 0,66% dibanding November 2020, atau naik dari 97,04 menjadi 97,68 pada Desember 2020. Peningkatan NTP disebabkan oleh indeks harga hasil produksi pertanian (It) yang tercatat

meningkat sebesar 0,88% melampaui

peningkatan harga yang dibayar petani untuk konsumsi rumah tangga serta biaya produksi (Ib) yang juga meningkat sebesar 0,22%. Salah satu upaya pemerintah daerah dalam peningkatan NTP adalah dengan ekspor bahan sayuran dan hasil tangkapan ikan dari Provinsi Maluku ke Luar Negeri.

2.2.6 Nilai Tukar Nelayan (NTN)

Pada Desember 2020 terjadi penurunan NTNP sebesar 0,96 persen. Penurunan NTNP pada Desember 2020 disebabkan oleh menurunnya It sebesar 0,71 persen dan peningkatan Ib yang tercatat sebesar 0,25 %. Penurunan It disebabkan oleh turunnya indeks pada kelompok perikanan tangkap dan budidaya. It pada kelompok perikanan tangkap menurun sebesar 0,63 persen dan pada perikanan budidaya menurun sebesar 1,74 persen. Sementara peningkatan Ib disebabkan oleh meningkatnya indeks IKRT sebesar 0,22 persen dan Indeks BPPBM yang meningkat sebesar 0,30%

Pada Desember 2020, NTN turun sebesar 0,89 persen. Penurunan NTN pada Desember 2020 disebabkan oleh penurunan It sebesar 0,63 persen dan peningkatan Ib yang tercatat sebesar 0,27%. Penurunan It

disebabkan turunnya indeks harga pada kelompok penangkapan laut (khususnya pada

komoditas cakalang, kembung, belanak, lobster, kuwe, cumi-cumi, baronang, ikan layang, udang laut, tongkol, dan selar) secara

rata-rata turun sebesar 0,63 persen.

Sementara itu, peningkatan Ib disebabkan oleh meningkatnya Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) yang meningkat sebesar 0,24 persen dan meningkatnya Indeks BPPBM sebesar 0,33 %.

NTPi pada Desember 2020 mengalami penurunan sebesar 1,74 persen. Penurunan NTPi pada Desember 2020 disebabkan oleh penurunan It sebesar 1,74 persen, sedangkan Ib tidak mengalami perubahan dibandingkan November 2020. Penurunan It disebabkan oleh turunnya indeks pada kelompok budidaya laut khususnya pada komoditas rumput laut. Baik IKRT dan BPPBM tidak mengalami perubahan dibanding November 2020.

Upaya pemerintah daerah dalam

peningkatan nilai diantaranya dengan

penggunaan Dana Desa untuk pembelian perahu, subsidi minyak/bahan bakar, dan pengadaan transportasi untuk membawa hasil tangkapan ke pasar. Hal ini masa pandemi COVID-19 persoalan yang dialami nelayan yakni diantaranya mahalnya harga bahan

Sumber : Data BPS Provinsi Maluku (data diolah)

Grafik

2.10 Indeks NTN Provinsi Maluku Tahun 2018 s.d 2020

107,38 143,62 140,19

103,42 103,33 104,37

100,9 101,46 97,09

Perikanan Tangkap Budidaya

2018 2019 2020

Infrastruktur berupa jalur penghubung antar wilayah masih menjadi kendala bagi nelayan memasarkan hasil tangkapan ikan

bakar dan tertutupnya akses dalam menjual ikan ke pasar.

2.3 EFEKTIVITAS KEBIJAKAN MAKRO

Dalam dokumen KAJIAN FISKAL REGIONAL (Halaman 38-46)