BAB VI KEUNGGULAN DAN POTENSI EKONOMI SERTA TANTANGAN FISKAL REGIONAL
6.1.1. Sektor Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang; sektor Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor; sektor Transportasi dan Pergudangan; sektor jasa keuangan; sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib; sektor jasa pendidikan; sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial; serta sektor jasa lainnya.
Seluruh sektor ini merupakan sektor yang kompetitif kecuali untuk sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial karena dari analisis shift share memiliki nilai differential
shift negatif. Hal ini juga diperkuat dengan
nilai rasio pertumbuhan wilayah dengan analisis MRP yang menghasilkan kesimpulan yang sama. Sedangkan dengan analisis tipologi Klassen keempat basis
sektor Provinsi Maluku terletak di kuadran I dengan pertumbuhan sektor yang maju dan cepat. Hasil ini diperkuat pula dengan analisis overlay dimana diketahui bahwa keempat sektor basis tersebut memiliki potensi pertumbuhan dan kontribusi yang positif pula terhadap pembangunan daerah di Provinsi Maluku.
6.1.1 Sektor Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan
1) Produksi Komoditas Pertanian a. Tanaman Pangan
Produksi tanaman pangan diklasifikan dalam dua bagian besar yaitu pangan strategis nasional dan pangan strategis lokal. Komoditas strategis nasional terdiri dari padi, jagung dan kedelai, dimana produksi padi bersumber dari padi sawah dan padi ladang. Dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2020, rata-rata pertumbuhan padi sawah dan padi ladang mencapai 4,4 dengan produksi pada tahun 2018 mencapai 128.111 ton GKG dan 12.030 ton GKG untuk padi ladang. Produksi padi sawah meningkat dibanding tahun 2016 dan 2017, peningkatan produksi ini dipicu oleh peningkatan luas panen yang mencapai 33.365,1 Ha dengan produktivitas padi sawah mencapai 4,55 Ton/Ha. Pertumbuhan ketela pohon, jagung, ketela rambat dan talas mengalami penurunan dari tahun 2014-2020 mengalami penurunan sebesar 1,03%. Hal ini didukung oleh adanya intervensi kebijakan Kementerian Pertanian dalam swasembada jagung nasional. Produksi tahun 2018 jika dibandingkan dengan tahun 2017
N
o Komodit
i 2014 2015 Produksi (ribu ton) 2016 2017 2018
1 Padi Sawah 99,11 115,17 97,45 100,44 128,11 2 Padi Ladang 3,65 2,62 1,64 4,28 12,03 3 Jagung 10,57 13,95 14,15 14,71 53,68 4 Kedelai 0,58 0,71 0,96 1,43 0,45 5 Kacang tanah 1,22 0,80 1,08 1,48 1,77 6 Kacang hijau 0,79 0,66 0,31 0,26 0,14 7 Ubi Kayu 97,96 134,66 151.76 144,03 85,73 8 Ubi Jalar 22,55 33,64 44,08 35,42 5,17 Sumber : Dinas Pertanian Provinsi Maluku, 2019
Tabel
6.1
Produksi Tanaman Pangan Provinsi Maluku Tahun 2014-2018
mengalami peningkatan yang signifikan yaitu lebih dari 30%, disebabkan meningkatnya luas tanaman menjadi 24.723,5 Ha. Namun produktivitas jagung Provinsi Maluku masih tergolong rendah yaitu 2,17 Ton/Ha (Nasional : 5,24 Ton/Ha). Adapun pertumbuhan kedelai rata-rata per tahun hanya sebesar 3,7%, lebih rendah dari yang direncanakan yaitu sebesar 7% per tahun.
Sementara itu produksi pangan lokal berupa ubi kayu dan ubi jalar bertumbuh rata-rata 1,7% dan 3,6% per tahun. Menurunnya produksi ubi kayu dan ubi jalar akibat dari rendahnya produktivitas dan berkurangnya luas panen. Produksi komoditas hortikultura yang terdiri dari cabai rawit, cabai merah, tomat, kacang panjang, ketimun, buncis, sawi hijau, kangkung, dan terung meningkat secara rata-rata sebesar 3,99%. Peningkatan ini ditunjang oleh meningkatnya IKRT sebesar 0,09% dan meningkatnya Indeks BPPBM sebesar 0,05%. Jenis peternakan yang dikembangkan di Provinsi Maluku terdiri dari ternak besar yaitu sapi, kerbau, kuda dan ternak kecil yaitu kambing, domba, babi dan
jenis unggas yaitu ayam buras, ayam petelur dan itik.
b. Perkebunan
Produksi dan produktivitas tanaman perkebunan pala, kelapa dan cengkeh yang merupakan komuditas unggulan daerah pada tahun 2018 mengalami peningkatan. Produksi pala mencapai 5.325,24 Ton; cengkeh 21.235,86 Ton; dan kelapa mencapai 102.623,87 Ton. Terdata juga
produksi komoditas perkebunan lainnya seperti kakao, kopi dan jambu mete, namun produksi ketiga komoditas ini mengalamai penurunan pada tahun 2018 dibandingkan capaian produksi pada tahun 2014 sebagaimana terlihat pada infografis berikut:
Produksi kakao menurun relatif banyak dengan capaian produksi 12.685 Ton pada tahun 2014 dan berkurang di tahun 2018 menjadi 9.680 Ton. Produksi kopi pada tahun 2014 sebesar 462 Ton menurun di tahun 2018 yang hanya mencapai 409,13 Ton. Demikian juga produksi jambu mete yang pada tahun 2018
Sumber : Dinas Pertanian Provinsi Maluku, 2019 (diolah)
Gambar
6.2
Produksi Tanaman Perkebunan Di Provinsi Maluku Tahun 2014-2018
85
hanya mencapai 1.146,84 ton dibandingdengan produksi pada tahun 2014 yaitu 1.303 Ton.
c. Peternakan
Jenis perternakan yang dikembangkan di Provinsi Maluku terdiri dari ternak besar yaitu sapi, kerbau, kuda dan ternak kecil yaitu kambing, domba, babi dan jenis unggas yaitu ayam buras, ayam petelur dan itik. Populasi ternak besar pada tahun 2016 mencapai 110.749 ekor meningkat menjadi 127.391 ekor pada tahun 2020. Hal ini terjadi karena populasi kuda naik drastis yang pada tahun 2018 mencapai 903 ekor menjadi 1.395 ekor pada tahun 2020. Begitu juga populasi kerbau yang naik. Dimana pada tahun 2016 populasi ternak besar kerbau mencapai 15.345 ekor menjadi 15.933 ekor di tahun 2020. Demikian juga dengan sapi yang
meningkat cukup signifikan di tahun 2020 dibanding 2014. Populasi ternak besar sapi sebanyak 90.386 ekor pada tahun 2014, meningkat menjadi 110.063 ekor pada
tahun 2020. Meskipun demikian beberapa ternak mengalami penurunan ika dibandingkan angka tahun 2014. Secara umum menurunnya populasi ternak disebabkan karena beberapa faktor antara lain :
1) Penyakit Brucelosis yang mewabah di beberapa daerah sentra ternak besar, 2) Ternak umur produktif yang
diperdagangkan antar pulau menyebabkan populasi menurun, serta 3) Kurangnya pengawasan ternak pada
pintu-pintu keluar perdagangan antar pulau. d. Perikanan No Komoditi Produksi/Tahun 2016 2017 2018 2019 2020 1 Sapi 94.301 102.821 105.186 107.231 110.063 2 Kerbau 15.345 14.743 16.650 15.780 15.933 3 Kuda 1.103 1.171 903 1.340 1.395 4 Kambing 103.768 100.124 110.253 101.356 103.654 5 Domba 11.103 11.127 13.434 11.204 11.284 6 Babi 78.875 76.198 81.509 84.432 84.290 7 Ayam Petelur 19.270 21.825 30.189 66.565 69.065 8 Ayam Buras 2.302.905 2.496.337 2.134.331 2.608.450 2.477.837 9 Ayam Pedaging 72.190 75.533 77.533 166.500 172.400 10 Itik 545.997 553.784 421.784 274.227 231.280
Sumber : Dinas Pertanian Provinsi Maluku dan BPS
Tabel 6.2
Selama kurun waktu 2014-2017, produksi perikanan di Provinsi Maluku terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2014 jumlah produksi ikan sebesar 1.039.210,01 Ton meningkat pada tahun 2017 sebesar 1.417.392,15 Ton. Produksi perikanan didukung dari produksi perikanan budidaya dan produksi perikanan tangkap dimana untuk produksi perikanan tangkap fokus pada pengelolaan dan pemanfaatan perikanan tangkap sedangkan perikanan budidaya fokus pada peningkatan produksi.
Komoditi unggulan udang, dan rumput laut merupakan komoditi yang dominan pada produksi perikanan Provinsi Maluku. Tahun 2013 capaian produksi udang sejumlah 6.2017,7 Ton menurun menjadi 4.849,7 Ton pada tahun 2017. Selanjutnya dapat dilihat pada infografis.
e. Kehutanan
Luas Kawasan Hutan dari Tahun 2014-2017 memiliki luas yaitu 3.919.617,00 Ha. Luas lahan kritis pada tahun 2014 di Provinsi Maluku yang mencapai 728.776,81 Ha dengan luas lahan kritis yang direhabilitasi sebesar 8.487,00 Ha. Tahun
2015 luas lahan kritis menurun menjadi 720.289,81 Ha dengan luas lahan kritis yang direhabilitasi sebesar 2.000,25 Ha. Pada tahun 2015 dan 2016 rehabilitasi hutan dan lahan terhadap luas lahan kritis melambat sehingga sampai dengan tahun 2017 total lahan kritis yang tertangani seluas 16.273,33 Ha atau hanya 2,27 yang terehabilitasi dari 728.776,81 Ha lahan kritis Provinsi Maluku pada tahun 2014. Capaian rehabilitasi hutan dan lahan terhadap luas lahan kritis setiap tahunnya masih sangat rendah. Di tahun 2014 sebesar hanya sebesar 1.16% dan di tahun-tahun berikutnya semakin menurun persentasenya. Sehingga capaian rehabilitasi hutan dan lahan terhadap luas total hutan dan lahan kritis pun dengan persentase yang kecil.
Kerusakan hutan dan lahan memang terbukti telah menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan masyarakat antara lain dengan terjadinya banjir, tanah longsor, erosi dan sedimentasi, hilangnya biodiversitas dan pendapatan negara dari kayu menurun drastis. Tingginya tekanan
Sumber: Dinas Kelautan & Perikanan Provinsi Maluku,2018 (diolah)
Gambar
6.3
Komoditi Unggulan provinsi Maluku 2013-2017
Sumber : Dinas Kehutanan Provinsi Maluku
Gambar
6.4
Luas kerusakan kawasan hutan Provinsi Maluku tahun 2014-2017
87
terhadap keberadaan hutan telahmendorong dilakukannya monitoring sumber daya hutan secara periodik oleh Kementerian Kehutanan.
Berdasarkan hasil penafsiran citra satelit oleh Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan maka kerusakan hutan dari tahun 2014-2017 di Provinsi Maluku sebesar 224,20 Ha dengan presentasi luas kerusakan kawasan hutan terhadap luas kawasan sebesar 0,01%. Penyebab kerusakan hutan di dalam kawasan hutan disebabkan oleh perambahan hutan untuk pembangunan kebun oleh masyarakat dan penebang liar/illegal logging. Kerusakan hutan di luar kawasan hutan berkaitan dengan pembangunan kebun dan ladang oleh masyarakat, pembangunan kebun sawit oleh badan usaha, pemukiman penduduk setempat dan transmigrasi.