BAB IV PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN APBD
4.2. PENDAPATAN DAERAH
4.2.1 Dana Transfer/Dana Perimbangan
Pada tahun sebelumnya realisasi TKDD, secara umum mengalami kenaikan. Namun adanya pandemi COVID-19, pemerintah
mengeluarkan kebijakan pemotongan pagu TKDD untuk dialihkan untuk penanganan COVID-19 dan program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Kebijakan tersebut telah meenyebabkan realisasi TKDD TA 2020 pada Provinsi Maluku mengalami penurunan 12,25%. Namun jika memperhitungkan seluruh realisasi dana desa yang tidak dicatat oleh pemda, TKDD Provinsi Maluku pada TA 2020 mengalami penurunan 7,25%. Penurunan ini dipengaruhi oleh penurunan realiasi Dana Alokasi Umum sebesar 9,13% dan Dana Alokasi Khusus sebesar 9,95%.
a) Analisis Ruang Fiskal
Untuk mendukung program pemerintah daerah, ketersediaan fiskal yang cukup memadai menjadi prasyarat utama. Dengan ruang fiskal yang cukup memadai, pemerintah daerah dapat leluasa untuk mengalokasikan program-program yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Dari tabel 4.3 diatas dapat disimpulkan bahwa ruang fiskal pemerintah daerah lingkup Provinsi Maluku TA 2020 adalah sebesar
Rp5,19 Triliun, mengalami penurunan
dibandingkan TA 2019. Penurunan ruang fiskal ini disebabkan oleh penurunan realiasi pendapatan. Sementara disisi lain realisasi
2019
REAL PAGU REAL %
14,18 13,97 13,04 88,81% -8,02% 14,06 15,26 12,92 80,51% -8,14% Pendapatan Belanja URAIAN 2020 % Grow th Realisasi APBD Dengan
Memperhitungkan Seluruh Realisasi Dana Desa TA 2020
Pada TA 2020 realisasi dana desa lingkup Provinsi Maluku adalah sebesar Rp1,14 Triliun, sedangkan yang tercatat dalam LRA adalah sebesar Rp505,63 miliar. Demikian dana desa yang tidak tercatat adalah sebesar Rp634,72 miliar. Pencatatan Dana desa mempengaruhi realisasi APBD, dari sisi pendapatan dan juga belanja. Realisasi APBD Lingkup Provinsi Maluku jika memperhitungkan seluruh realisasi dana desa adalah sebagai berikut:
(dalam triliun rupiah)
Realisasi Pendapatan Transfer
Pemerintah Pusat mengalami penurunan
Ruang Fiskal Pemda Lingkup Provinsi Maluku mengalami penurunan
Tabel 4.2
Realisasi Transfer Ke Daerah dan Dana Desa Provinsi Maluku (2018-2020)
dalam miliar rupiah
Sumber : LRA Pemda Lingkup Provinsi Maluku (diolah)
Tabel 4.3
Ruang Fiskal Pemda Provinsi Maluku 2018-2020 (dalam miliar rupiah)
belanja pegawai mengalami peningkatan. Untuk meningkatkan ruang fiskal pemda dapat menggali sumber-sumber pendapatan yang lain selain itu melakukan langkah-langkah untuk mengurangi alokasi belanja pegawai antara lain dengan kebijakan moratorium penerimaan CPNS dan efisiensi birokrasi. b) Analisis Kemandirian Fiskal
Dari tabel dibawah ini dapat dilihat bahwa rasio kemandirian fiskal pemerintah daerah di Maluku tergolong rendah. Pada tahun 2020, dari 12 pemda, hanya 2 pemda yang memiliki rasio kemandirian di atas 10% yaitu Pemda Provinsi Maluku dan Kota Ambon. Sementara pada 10 pemda yang lain rasio berada pada kisaran 2 - 5%.
Pada beberapa pemda mengalami
penurunan rasio kemandirian yang umumnya disebabkan penurunan realisasi PAD yang terdampak COVID-19, seperti Kota Ambon yang turun dari 13,57% pada TA 2019, menjadi 10,62% pada TA 2020.
4.2.2 Pendapatan Asli Daerah
Pendapatan asli daerah (PAD) adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Tren realisasi PAD pada TA 2019 mengalami kenaikan dibandingkan TA 2018.
Namun adanya pandemi COVID-19
menyebabkan realisasi PAD pemda lingkup Provinsi Maluku pada Tahun 2020 mengalami penurunan 6,40% dibandingkan tahun 2019.
Penurunan PAD ini sebagian besar
dipengaruhi oleh pembatasan aktivitas
masyarakat karena adanya pandemi COVID-19. Seperti pada Kota Ambon yang merupakan pemda dengan realisasi penurunan pajak daerah yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan Kota Ambon merupakan daerah dengan jumlah konfirmasi kasus positif COVID-19 terbesar di Maluku yang telah menerapkan pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan PSBB transisi ke XII sampai akhir TA 2020. Penerapan PSBB dan PSBB transisi ini menyebabkan turunnya beberapa realisasi pajak daerah dan restribusi daerah sebagaimana gambar dibawah ini.
Rasio Kemandirian Fiskal Pemda di Maluku masih tergolong sangat rendah
Sumber : LRA Pemda Lingkup Provinsi Maluku (diolah)
Tabel 4.4
Rasio Kemandirian Fiskal Pemda Provinsi Maluku 2018-2020
Realisasi PAD Tahun 2019 Mengalami Penurunan 4,69% Dibandingkan Tahun 2018
2018 2019 Realisasi Realisasi Realisasi
PAD 1.013,43 1.045,21 978,32 -6,40% Pendapatan Pajak 537,01 561,93 543,64 -3,26% Pendapatan Retribusi 182,50 201,61 192,81 -4,37% Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah 0,25 0,00 64,65
Lain-Lain PAD yang sah 293,67 281,67 177,23 -37,08%
Uraian
% Growth thd 2019
Sumber : LRA Pemda Lingkup Provinsi Maluku (diolah)
Tabel 4.5
Realisasi Pendapatan Asli Daerah Pemda Provinsi Maluku 2018-2020
59
Selain pajak daerah dan retribusi, realisasi lain-lain PAD yang sah juga mengalami
penurunan. Salah satu pemda yang
mengalami penurunan yang cukup signifikan adalah Pemprov Maluku yaitu sebesar 31,33%. Penurunan ini sebagian besar
dipengaruhi oleh turunnya realisasi
pendapatan yang berasal dari Pendapatan
Dari Penyelenggaraan Pendidikan dan
Pelatihan.
Ditengah menurunnya realisasi pajak
daerah, retribusi dan lain-lain PAD,
pendapatan yang berasal dari hasil kekayaan daerah yang dipisahkan mengalami kenaikan yang signifikan. Pada TA 2020 tercatat sebesar Rp64,65 miliar dan pada TA 2019 tidak terdapat realiasasi. Pendapatan ini berasal dari pembagian deviden Bank Maluku
Malut yang merupakan BUMD pemda-pemda di Provinsi Maluku.
a) Analisis Rasio PAD terhadap Belanja
Daerah
Dari tabel 4.6 pemda yang memiliki rasio PAD dengan Belanja Daerah tahun 2020 tertinggi adalah Provinsi Maluku yaitu 18,12%, mengalami kenaikan dibandingkan TA 2019 yang sebesar 16,23%. Sementara Kota Ambon memiliki rasio sebesar 10,78%, mengalami penurunan dibandingkan TA 2019 yang sebesar 13,44%. Sedangkan pemda dengan rasio terendah adalah Kabupaten Seram Bagian Timur dengan rasio sebesar 2,84%. Tabel di atas juga menunjukkan kesenjangan OJK Nilai Kinerja Bank Maluku Malut Baik
Selama tahun 2020 berdasarkan hasil penilaian umum dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kinerja Bank Maluku Malut cukup baik.“Ditengah kondisi Covid-19 kinerja kita secara keseluruhan dinilai baik artinya, OJK dalam penilaian kepada kita mengapresiasi kita bahwa, kinerja kita untuk tahun 2020 dinilai bagus,” jelas Direktur Utama Bank Maluku Malut, Burhanudin Waliulu dalam keterangan persnya kepada wartawan di ruang pertemuan Lantai IV Bank Maluku Malut, Senin (21/12).
“Sehingga posisi tahun 2020 target laba bisa kita bisa capai, dan jika bisa mencapai laba maka ada kemungkinan pendapatan daerah bisa kita akan berikan. Contohnya kemarin kita membagikan deviden hampir 80-90 miliar kepada seluruh pemegang saham, dan yang paling terbesar adalah Provinsi Maluku 37,5 miliar kita berikan,” sebutnya.
Sumber:siwalimanews.com
Rasio PAD terhadap Belanja dan Transfer mengalami penurunan
Sumber : LRA Pemda Lingkup Provinsi Maluku (diolah)
Tabel 4.6
Rasio PAD Terhadap Belanja Daerah 2018-2020
Gambar 4.1
Realisasi Pajak Daerah Kota Ambon (dalam miliar rupiah)
PAD diantara Pemeritah Provinsi Maluku dan Kota Ambon dengan pemda-pemda yang lain. Rasio rasio PAD dengan Belanja Daerah rendah menunjukkan kemampuan pemda untuk membiayai belanjanya secara mandiri masing rendah. Pemda masih memiliki ketergantungan yang sangat tingggi terhadap transfer pemerintah pusat.
b) Analisis Rasio SILPA terhadap Pendapatan DAU dan DBH
Dari tabel 4.7 dibawah ini dapat dilihat bahwa rasio SILPA dalam kurun waktu tahun 2018-2020 terus mengalami penurunan. Rasio SILPA yang besar pada pemda berpotensi menimbulkan opportunity loss pada APBN yang sangat besar. Hal ini disebabkan belanja APBN yang sebagian besar untuk transfer ke daerah, juga dibiayai dari utang antara lain dari penerbitan obligasi negara. Dengan dana
SILPA yang besar pemda dapat
memanfaatkan melakukan investasi yang dapat memberikan pendapatan bagi pemda atau dengan menempatkan dana tersebut untuk pembelian obligasi Negara. Namun demikian kecenderungan pemda di Maluku,
SILPA dimanfaatkan sebagai sumber
pendanaan untuk menutup defisit APBD tahun anggaran berikutnya.
4.2.3 Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah
Dari tabel IV.8 dapat dilihat realisasi lain-lain pendapatan daerah yang sah tahun 2020 adalah sebesar Rp111,30 miliar, mengalami penurunan 55,23% dibandingkan tahun 2019 yang tercatat sebesar Rp248,62 miliar. Secara umum hampir seluruh pemda mengalami penurunan, kecuali Kota Ambon dan Kota Tual. Pemda dengan realisasi terbesar adalah Kota Ambon yaitu sebesar Rp54,57 miliar yang berasal dari pendapatan hibah pemerintah.
Untuk dapat meningkatkan rasio PAD dan mengatasi kesenjangan PAD antar pemda, Pemda di Maluku harus dapat memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah dengan menarik investor-investor agar dapat menanamkan modalnya, yang diiringi dengan perbaikan infrastruktur dan peningkatan SDM yang ada di Maluku.
Rasio PAD terhadap Belanja dan Transfer mengalami penurunan
Rasio Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah mengalami penurunan
Pemda 2018 2019 2020 Provinsi Maluku 0,83% 9,18% 21,92% Ambon 2,59% 0,65% 3,15% Aru 10,40% 0,76% 7,78% Bursel 4,87% 3,76% 3,61% Buru 1,73% 1,39% 0,10% Kep. Tanimbar 0,40% 1,18% 12,86% Malra 10,36% 5,56% 4,34% Malteng 9,78% 17,15% 10,75% MBD 21,96% 15,23% 3,43% SBB 9,85% 14,88% 17,42% SBT 9,64% 3,93% 9,24% Tual 7,71% 2,60% 13,93% Total 6,67% 7,41% 10,90%
Sumber : LRA Pemda Lingkup Provinsi Maluku (diolah)
Tabel 4.7
Rasio SILPA Terhadap DAU dan DBH 2018-2020
Sumber : LRA Pemda Lingkup Provinsi Maluku (diolah)
Tabel 4.8
Realisasi Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah TA 2018-2020 (miliar rupiah)