• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: PROGRAM INFOTAINMENT DAN AKTIVIS „JARINGAN

A. Industri Televisi: Dari Monopoli ke Liberasi

Sudah umum diketahui bahwa kekuatan televisi adalah dengan menyatukan pemirsanya untuk setia berada di hadapannya dengan berbagai program siarannya. Kekuatan tersebut belum dicapai sepenuhnya oleh televisi di Indonesia ketika pertama kali dioperasikan pada tahun 1962. TVRI (Televisi Republik Indonesia) yang pada waktu itu menjadi pemain tunggal dalam media penyiaran audio visualnya belum sepenuhnya berhasil dengan program Sea Gamesnya meski tidak ada stasiun televisi lain yang menjadi pembanding dalam acara-acara yang ditayangkan sampai dengan munculnya stasiun televisi swasta pertama pada akhir 1980-an. Baru pada fase 80-an tonggak industri televisi di Indonesia bermula.

Benih industrialisasi televisi di Indonesia ini dimulai ketika Yayasan TVRI memberikan izin bagi kehadiran televisi swasta pertama, yakni RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) pada tahun 1987 yang dimiliki oleh Bambang Trihatmodjo, putera Presiden Soeharto. Awalnya jangkauan siaran RCTI terbatas di Jakarta.2 Sebagaimana diketahui, menjelang akhir 1980-an dan masuk pada tahun 1990 putera-puteri Soeharto sudah beranjak dewasa, oleh karena itu maka izin bagi kemunculan televisi swasta diberikan kepada anaknya, bukan kepada orang lain.

Industrialisasi televisi semakin menapakan jejaknya di dunia penyiaran dengan semakin dibukanya ijin pada stasiun-stasiun swasta lainnya. Perolehan ijin

2

Setelah tahun 1987 memperoleh izin penyiaran, pada 24 Agustus 1989 RCTI baru mulai mengudara, selama kurun waktu sampai 1991, RCTI hanya dapat ditangkap oleh pemiliki dekoder dan membayar iuran setiap bulannya. Setelah hanya boleh beroperasi di Jakarta, sejak 1990 RCTI siaran secara nasional. RCTI saat ini dimiliki oleh kelompok Media Nusantara Citra (MNC), yaitu Hari Tanoesudibyo.

televis-televisi swasta berikutnya, yakni SCTV3 (Surya Citra Televisi) yang beroperasi sejak 24 Agustus 1990 dan jangkauan siaran terbatas di Surabaya. Stasiun televisi ini berada di bawah kendali Henry Pribadi (seorang pengusaha yang dekat dengan Soeharto dan Sudwikatmono, adik tiri Soeharto). Selain kedua orang tersebut, sebagian saham SCTV dimiliki oleh Halimah Trihatmodjo (menantu Soeharto). Stasiun berikutnya kemudian disusul dengan kehadiran TPI (Televisi Pendidikan Indonesia)4 pada Desember 1990 yang dimiliki oleh Siti Hardiyanti Indra Rukmana (mbak Tutut –anak Soeharto), yang tayang awalnya atas fasilitas transmisi dari TVRI. Industrialisasi belum berhenti ketika pada tahun 1993 hadir stasiun ANTV (Andalas Televisi)5, yang dimiliki oleh Bakrie Group dan Agung Laksono, seorang tokoh Golkar (sebelum menjadi partai politik). Stasiun berikutnya yang hadir pada satu fase adalah Indosiar6 (1995) yang dimiliki

3

SCTV awalnya adalah Surabaya Centra Televisi, hanya mengudara di Surabaya dan sekitarnya (Gresik, Lamongan, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Pasuruan, Bangkalan). Pada tahun 1991, didirikan stasiun SCTV di Bali, Denpasar. Sejak tahun 1993, SCTV mengudara secara nasional. Sejak inilah singkatannya berubah menjadi Surya Citra Televisi. Saat ini kepemilikan SCTV dikuasai oleh grup Elang Mahkota Teknologi, melalui PT. Surya Citra Media Tbk., dengan Direktur Utama SCTV adalah Fofo Sariaatmadja.

4

TPI disebut sebagai televisi pendidikan karena awalnya menyiarkan acara-acara yang edukatif saja. Salah satunya adalah bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan menyiarkan materi pelajaran pendidikan menengah. Secara perlahan misi edukatif ini makin pudar dengan ditayangkannya beragam acara seperti kuis-kuis, sinetron, reality show. Dalam perkembangannya kependekan TPI sebagai Televisi Pendidikan Indonesia tidak berlaku lagi. Dalam website resmi TPI, disebutkan bahwa TPI adalah Televisi Paling Indonesia, sesuai dengan misi barunya, dengan menyiarkan acara-acara khas Indonesia; seperti menayangkan sinetron lokal dan musik dangdut.

5

ANTV didirikan pada 1 Januari 1993, dengan stasiun televisi lokal di kota Lampung. Pada tanggal 18 Januari 1993 ANTV mendapatkan izin siaran secara nasional melalui keputusan Menteri Penerangan RI No. 04A/1993. Sepuluh hari setelah izin keluar, ANTV resmi mengudara secara nasional. ANTV dimiliki oleh konglomerat Aburizal Bakrie, dan saat ini dikelola anaknya yaitu Anindya Bakrie yang menjadi Presiden Direktur perusahaan ini.

6

oleh Grup Salim, dengan konglomerat Liem Soe Liong sebagai nahkoda utamanya; ia merupakan taipan Cina terbesar dan sahabat dekat Soeharto.7

Geliat industri televisi ini makin ramai sejak tahun 2000/2001 dengan ditandai lahir dan beroperasinya lima televisi swasta nasional, yakni Metro TV8,

TV 7 (sebelum menjadi Trans 7), Trans TV9, Lativi (sebelum menjadi TV One) serta TV Global10. Dalam perkembangannya saham TV 7 dibeli oleh Trans Corp menjadi Trans 7,11 kemudian saham Lativi dibeli oleh Bakrie Group yang akhirnya menjadi TV One.12

Dari perjalanan di atas terlihat bahwa kepemilikan antar stasiun televisi swasta nasional ini berkait kelindan diseputar keluarga Cendana dan

kroni-kroninya, serta beberapa pemain „baru‟ dalam industri televisi. Industrialisasi televisi semakin nampak misalnya pada segi kepemilikan oleh PT Media

7

Agus Sudibyo, Ekonomi Politik Media Penyiaran (Jakarta: ISAI dan LKiS, 2004), hlm. 15-16. baca juga Philip Kitley, Konstruksi Budaya...hlm. 37.

8

Metro TV resmi mengudara pada 25 November 2000 di Jakarta. Pemiliknya adalah Media Group yang dipimpim oleh Surya Paloh.

9

Trans TV mulai resmi disiarkan pada 10 November 2001. Meski baru terhitung siaran percobaan, Trans TV sudah membangun Stasiun Relai TVnya di Jakarta dan Bandung. Siaran percobaan dimulai dari seorang presenter yang menyapa pemirsa pukul 19.00 WIB malam. Trans TVatau Televisi Transformasi Indonesiadimiliki oleh konglomerat Chairul Tanjung dengan grup Paranya. Trans TV adalah anak perusahaan PT Trans Corpora. Kantor Pusat stasiun ini berada di Studio TransTV, Jalan Kapten Pierre Tendean, Jakarta Selatan.

10

Global TV berdiri pada tahun 2002 dan dimiliki oleh Media Nusantara Citra, kelompok perusahaan media yang juga memiliki RCTI dan TPI.

11

Trans7 berdiri dengan ijin dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jakarta Pusat dengan Nomor 809/BH.09.05/III/2000 dengan nama TV7 yang sahamnya sebagian besar dimiliki oleh Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Pada tanggal 22 Maret 2000 keberadaan TV7 telah diumumkan dalam Berita Negara Nomor 8687 sebagai PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh. Pada 4 Agustus 2006, Para Group melalui PT Trans Corpora resmi membeli 49% saham PT Duta Visual Nusantara Tivi 7. Dengan dilakukannya re-launch pada tanggal 15 Desember 2006, tanggal ini ditetapkan sebagai hari lahirnya Trans7.

12

TV One(sebelumnya bernama Lativi) ini didirikan pada tahun 2001 oleh pengusaha Abdul Latief. Sejak tahun 2006, sebagian sahamnya juga dimiliki oleh Grup Bakrie yang juga memiliki

ANTV. Pada 14 Februari 2008, Lativi secara resmi berganti nama menjadi tvOne. Abdul Latief tidak lagi berada dalam kepemilikan saham tvOne. Komposisi kepemilikan saham tvOne terdiri dari PT Visi Media Asia sebesar 49%, PT Redal Semesta 31%, Good Response Ltd. 10%, dan Promise Result Ltd 10%.

Nusantara Citra yang memiliki RCTI, TPI dan GlobalTV. Begitu pula dengan PT Trans Corp yang memiliki Trans TV dan Trans 7 dan kepemilikan ANTV dan TVOneyang dikuasai oleh Grup Bakrie.

Pasca reformasi tahun 1998, industri penyiaran mulai mengalami perubahan dalam aspek permodalan. Undang-undang Penyiaran (UUP) yang menjadi landasan penyiaran juga mengalami beberapa kali revisi, dari UU Penyiaran No. 24/1997 sampai menjadi UU Penyiaran No. 32 tahun 2002. Perubahan UU tersebut tidak lain adalah untuk mengatur regulasi penyiaran itu sendiri.

Beranjaknya era televisi di Indonesia menuju industrialisasi tak terhindarkan ketika TVRI tidak lagi memonopoli siaran. Industrialisasi televisi juga menempatkan televisi sebagai sebuah entitas bisnis yang dalam penyelenggaraan operasionalnya dapat dikatakan sangat mahal.13 Oleh karena itu masing-masing televisi dituntut untuk menyiarkan program-program tayangan yang bisa mendatangkan iklan dalam jumlah besar sehingga bisa mendapatkan keuntungan. Iklan merupakan sumber penghasilan satu-satunya televisi swasta untuk memproduksi program-program yang mengisi setiap jam tayangnya.14

Era industrialisasi televisi yang dimulai dari akhir 80-an ini seakan membawa keuntungan pada terbukanya informasi bagi publik yang tidak hanya bergantung pada satu bentuk stasiun siaran. Publik bisa mendapatkan akses luas dari siaran-siaran televisi yang ditampilkan dengan banyak pilihan yang bisa

13

Untuk satu jam penyiarannya dibutuhkan dana lebih kurang Rp. 17-20 juta sehari sehingga untuk setiap bulan, pembiayaannya bisa mencapai Rp. 400 juta. Lihat Hermin Indah Wahyuni,

diakses oleh siapa saja. Akan tetapi nampaknya hal ini tidak selalu berbanding lurus dengan kenyataan yang semakin membebaskan berbagai bentuk tayangan. Dan untuk mengetahui hal tersebut secara lebih jelas, akan semakin dipahami jika melihat pada program-program acara yang disuguhkan oleh masing-masing televisi di Indonesia di bawah ini.