BAB IV. DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA
4.4 Implementasi Modal Sosial Mempertahankan Tenun ATBM
4.4.1 Jaringan Sosial
4.4.1.1 Jaringan Sosial Dalam Proses Pembuatan Produk
Dalam proses pembuatan suatu produk berupa kain tenun atau ulos di kilang Ibu Hotmin, terdapat jaringan sosial atau hubungan-hubungan yang terjalin antara sesama pihak yang terlibat. Dalam pembuatan kain tenun atau ulos, jaringan yang terdapat adalah antara pengusaha dan karyawan, yang digambarkan dengan bagan sebagai berikut:
Bagan 4.1 Hubungan dalam Proses Pembuatan Produk
Hubungan yang terbentuk adalah hubungan timbal balik antara pengusaha dan karyawan, yaitu dimulai dari pengusaha, sebagai penyedia atau pemasok alat dan bahan-bahan dasar pembuatan ulos seperti ATBM, benang lalatan, bentuk motif, serta gatif. Bahan-bahan dasar ini diberikan kepada para karyawan yang ada, lalu terbentuklah jaringan dari pengusaha ke karyawan, yaitu karyawan mengerjakan jenis ulos yang ditetapkan pengusaha menggunakan bahan-bahan yang disediakan pengusaha tadi. Dalam sekali seminggu, pengusaha mengutip atau menggunting ulos yang telah dibuat karyawannya, dan karyawan menerima gaji dari pembuatan ulosnya. Seperti yang diungkapkan pengusaha berikut ini:
“Kita sediakan semuanya, karyawan yang kerjakan. Untuk karyawan yang kerja di rumah, kita upayakan antar stok benang dalam jumlah banyak, jadi dalam seminggu dua kali aja kita antar benang lalatannya” (wawancara dengan Ibu Hotmin, 2016).
Dari kutipan wawancara tersebut terlihat bahwa pengusaha selalu menyediakan segala keperluan untuk proses pembuatan produknya, hal ini dibuat agar karyawan bekerja dengan sungguh-sungguh dan dapat memenuhi target yang telah ditentukan pengusaha. Jadi hubungan yang terjadi adalah antara pengusaha sebagai penyedia bahan-bahan pembuatan ulos, karyawan sebagai penenun ulos, dan kembali ke pengusaha lagi dalam bentuk ulos yang telah jadi dan siap di pasarkan.
Dalam pembuatan ulos, Ibu Hotmin menetapkan aturan pada karyawannya agar ulos tidak bisa bergaris, tidak bisa berbulu, dan benang tidak boleh putus. Para karyawan juga ditetapkan target pencapaian ulos dalam seminggunya. Yaitu untuk penenun yang bekerja di kilang tenun seperti yang mengerjakan ulos jenis sarung sulo harus ada 13
sampai 15 ulos yang siap setiap minggunya. Sedangkan untuk karyawan yang bekerja di rumah sendiri targetnya lebih sedikit, hanya sekitar 6 ulos setiap minggunya, itupun tergantung jenis ulos yang dikerjakan. Hal ini dikarenakan jika bekerja langsung di kilang tenun, benang selalu lancar, sementara yang home industry benang sering terlambat diantar karena lebih mengutamakan yang di kilang, kecuali waktu ada pesanan ulos saja baru lancar. Jika dalam seminggu tidak ada ulos yang dihasilkan karyawannya maka akan di pecat. Seperti yang dikatakan Ibu Hotmin berikut:
“Saya sama karyawan tegas, kalau gak ada ulos dikeluarkannya dalam seminggu, langsung ku angkatnya ATBM nya kalau yang di rumah mereka, gak perduli aku. Kalau yang di kilang ini langsung ku pecat, jadi biar berkomitmen karyawan itu dalam bekerja, karena kalau banyak dibuatnya ulos kan gajinya juga yang besar” (wawancara dengan Ibu Hotmin, 2016).
Hal ini juga dibenarkan karyawannya, seperti penuturan Ibu Dewani berikut:
“Gak bisa main-main sama Bu Hotmin, kalau malas kerja langsung dimarahi dan di pecatnya dek, makanya lebih baiknya kami bilang lagi sakit atau ada urusan mendadak kalau lagi malas kerja, biar gak langsung marah” (wawancara dengan Ibu Dewani, 2016).
Sikap tegas yang diterapkan Ibu Hotmin kepada karyawannya menjadikan karyawan benar-benar dalam melakukan pekerjaannya, sehingga target penjualan yang ingin dicapai dapat terpenuhi. Karena yang dikerjakan karyawan juga selalu sesuai dengan yang dibayar. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Mei berikut ini:
“Enaknya kerja sama Ibu Hotmin gaji kita selalu tepat waktu dibayar dan sesuai sama hasil kerja kita. Ya walaupun ibu itu mau marah-marah sama kami kalau gak pas target ulosnya” (wawancara dengan Ibu Mei, 2016).
Tepatnya pembayaran gaji dan sesuainya gaji dengan yang dikerjakan membuat para karyawan tetap bertahan kerja dengan Ibu Hotmin, walaupun beliau tidak segan-segan untuk memperlakukan karyawannya dengan tidak baik jika susah diajak
kerjasama. Untuk bahan dasar seperti benang, Ibu Hotmin membeli di Pasar Parluasan dari Toko Sempakata, namun sekali-kali ia juga membeli benang dari Medan. Benang-benang yang dibeli di buat lagi ke dalam ukuran yang lebih kecil menggunakan mesin palet. Lalu untuk benang gulungan besar yang di sebut lungsin di gulung dengan mesin panghanian. Benang-benang yang telah diproses inilah diantar ke karyawan-karyawan yang akan dibuat menjadi kain tenun berupa ulos.
Jaringan sosial yang terbentuk dalam sebuah usaha haruslah kuat dan bersifat membangun, agar usaha dapat tetap bertahan meskipun mengalami perubahan seperti kemajuan teknologi. Jaringan yang terbentuk antara pengusaha dengan karyawan-karyawan tenun dalam proses pembuatan produk termasuk dalam tingkat jaringan sosial meso. Termasuk ke dalam tingkatan jaringan meso karena hubungan yang terbentuk dibangun dari hubungan para individu dengan maupun dalam kelompok tersebut, dalam hal ini kelompok dimaksudkan adalah usaha Ibu Hotmin tersebut. Hubungan sesama karyawan atau antara karyawan dengan pengusaha terjadi hanya dalam kelompok atau dalam usaha pertenunan Ibu Hotmin saja. Di luar tempat kerja tidak ada hubungan yang terjadi, seperti yang dikatakan Ibu Serliana berikut:
“Karena pekerjaan ya kita kerjasama dengan pengusaha dan karyawan lain yang berdekatan biar ulos yang kita keluarkan sesuai target, tetapi di luar jam kerja kita gak ada hubungan lagi dek, karena memang gak ada dibuat pengusaha semacam perkumpulan untuk para karyawan” (wawancara dengan Ibu Serliana, 2016).
Tidak adanya perkumpulan yang dibentuk oleh pengusaha untuk para karyawannya, membuat para karyawan tidak begitu akrab satu dengan lainnya. Mereka berinteraksi hanya sekedarnya saja dan tidak ada komunikasi yang cukup sering terjadi antara karyawannya. Pada proses pembuatan produk berupa kain tenun, terjadi
hubungan secara terus menerus antara karyawan dengan pengusaha, tetapi hubungan ini terjadi hanya dalam lingkup pekerjaan saja, di luar dari masalah pekerjaan mereka tidak menjalin hubungan secara intensif seperti layaknya saat bekerja. Alat-alat dan bahan-bahan pembuatan ulos disediakan oleh pengusaha, lalu pengusaha membagi alat dan bahan tersebut kepada para karyawannya untuk membuat ulos, setiap kekurangan bahan selalu dipenuhi oleh pengusaha. Setelah itu ulos-ulos yang dihasilkan diserahkan lagi ke pengusaha untuk dijual ke pasar, begitu seterusnya hubungan yang terjadi pada proses pembuatan produk, dan hubungan itu hanya terjadi dalam hal pekerjaan saja, tidak jika di luar hal pekerjaan.