• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Menopause Lambat

2.1.7 Jenis-jenis Menopause

1. Menopause Prematur (Menopause Dini)

Menopause Dini adalah menopause yang terjadi dibawah usia 40 tahun.

Gejala ini sering dijumpai, menimbulkan distres, dan menyebabkan banyak wanita yang sebelumnya sehat mencari anjuran medis. Penelitian Gold menyatakan bahwa wanita yang memiliki aktifitas fisik yang tinggi akan mengalami usia menopause yang lebih cepat (Gold et, al, 2013).

Hal tersebut didukung oleh hasil meta-analisis Schoenaker yang menyatakan bahwa wanita dengan aktifitas fisik sedang dan tinggi akan mengalami menopause

lebih cepat dibandingkan dengan wanita dengan aktifitas fisik yang rendah. Aktivitas fisik yang tinggi dapat mempengaruhi ovarium menjadi terbatas dengan mengurangi serum estrogen dan meningkatkan hormon seks globulin yang dapat menyebabkan terjadi menopause lebih cepat (Schoenaker, 2014).

Menopause ini hanya dialami kurang 1% wanita. Faktor resiko terjadinya menopause dini menurut Women’s Health USA ( USA) antara lain : (1) Riwayat adanya penderita menopause prematur dalam keluarga. Seorang wanita dengan riwayat keluarga menopause prematur akan lebih berpeluang untuk mengalami menopause prematur juga. (2) Terapi bedah pengangkatan kedua indung telur (Bilateral Salfingoovarektomi). Seorang wanita yang mengalami pengangkatan kedua indung telur akan menyebabkan berhentinya periode menstruasi dan akan mengalami penurunan hormon, kadang mengakibatkan hot flushes dan penurunan gairah seksual. (3) Penyinaran (Terapi Radiasi) : Perubahan yang terjadi pada masa menopause tergantung pada tipe dan jenis terapi yang digunakan. Pada wanita yang berusia muda akan lebih lambat menerima perubahan yang dapat mengakibatkan menopause. (4) Kemoterapi (Terapi Kimiawi) : Terapi menggunakan kemoterapi dapat merusak ovarium dan menyebabkan periode menstruasi berhenti. Perubahan tersebut mengakibatkan terjadinya menopause dan tergantung dari jenis dan lama kemoterapi yang digunakan. (5) Terapi untuk menurunkan kadar kolesterol : Hormon estrogen dan progesteron mengatur menstruasi dan ovulasi. Terapi untuk menurunkan estrogen akan menyebabkan berhenti atau menopause prematur. (6) Penyakit Autoimune : Sistem kekebalan tubuh yang normal akan melindungi dari penyakit,

penyakit autoimune dapat menyebabkan menopause prematur diantaranya penyakit thyroid dan rheumatoid arthritis. (7) Kelainan Kromosom : Kromosom yang mengalami gangguan dapat menyebabkan menopause prematur. Sebagai contoh wanita yang terlahir dengan sindroma turner terlahir dengan susunan kromosom sex XO, jumlah kromosom 45. Sex kromatin wanita, morfologi wanita,ovarium rudimenter dan tumbuh sempurna, amenorhoe, infertil. Pada kasus ini peyudara tidak tumbuh sempurna, uterus kecil tidak beroogenesis menyebabkan prematur (Siddle et al,1987 dalam Andrews, 2010)

2. Menopause Normal

Menopause normal terjadi pada usia 52 tahun tetapi ada sebagian buku 45-55 tahun. Menopause harus dialami setiap wanita seiring dengan siklus hidupnya dengan perubahan fisik yang dirasakan oleh wanita menopause akibat penurunan hormon estrogen dan progesteron adalah perubahan pola menstruasi dimana perdarahan akan terlihat beberapa bulan dan akhirnya akan berhenti sama sekali, rasa panas (Hot flushes), gejala ini akan dirasakan mulai dari wajah sampai ke seluruh tubuh, rasa panas disertai warna kemerahan pada kulit dan berkeringat, rasa panas ini akan mempengaruhi pola tidur wanita menopause yang akhirnya akan membuat wanita menopause kekurangan tidur dan mengalami kelelahan. Hot flush dialami oleh sekitar 75% wanita menopause dan akan dialami selama 1 tahun dan 25-50% wanita akan mengalami hot flush selama 5 tahun. Hot flush juga dapat mempengaruhi wanita menopause mengalami keluar keringat malam yang akan membuat wanita menopause merasa tidak nyaman (Widyastuti, dkk, 2010).

3. Menopause Terlambat

Umumnya batas usia terjadi menopause adalah usia >55-65 tahun, namun apabila ada seseorang wanita yang masih memiliki siklus menstruasi atau dalam arti masih mengalami menstruasi di usia > 55 tahun.

2.2. Determinan yang Mempengaruhi Menopause Lambat

Faktor-faktor yang memengaruhi kejadian menopause lambat adalah obesitas, usia menarche, paritas, pemakaian kontrasepsi hormonal, pola makan adalah sebagai berikut:

2.2.1.Obesitas

Pada wanita usia 55-65 tahun peningkatan berat badan merupakan salah satu masalah kesehatan utama. Hal ini dapat dimengerti karena obesitas merupakan salah satu gangguan nutrisi yang sering dijumpai di dunia dengan prevalensi yang terus meningkat. Di seluruh dunia prevalensi obesitas berlipat ganda sejak tahun 1980.

Pada tahun 2008 di negara maju dan berkembang 1,5 milliar orang dewasa berusia diatas 20 tahun mengalami overweight indeks massa tubuh (IMT) 25-29,9 kg/m). Dari angka tersebut lebih dari 200 juta pria dan hampir 300 juta wanita mengalami obesitas (IMT > 30 kg/m). Lebih jauh lagi angka obesitas meningkat signifikan di negara berkembang yang mengadopsi gaya hidup barat (penurunan aktifitas dan konsumsi makanan murah padat energi secara berlebihan) (S.R.Davis et al, Climacterric, 2012).

Secara umum obesitas lebih banyak didapatkan pada perempuan dibanding

laki-laki. Himpunan Studi Obesitas Indonesia memeriksa lebih dari 6000 orang dari hampir seluruh provinsi dan didapatkan angka obesitas dengan IMT > 30 kg / m pada laki-laki sebesar 9,16 % dan perempuan 11,02 %. Apabila tren ini berjalan terus seperti sekarang ini, maka pada tahun 2025 penduduk Indonesia menyandang gelar

“obesogenik” terutama daerah urban (Rachmad dkk dalam Seto, 2009).

Klasifikasi internasional untuk derajat tingkat obesitas ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan rumus matematis yang berkaitan dengan lemak tubuh orang dewasa, dan dinyatakan sebagai berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan kuadrat dalam ukuran meter (Arisman, 2014).

Rumus menentukan IMT = TB²

BB

Definisi derajat overweight dan obesitas memungkinkan pembandingan angka prevalensi secara internasional. Ukuran antropometrik lainnya yang didasarkan pada lingkar tubuh juga digunakan di bidang ini. Salah satu ukuran tersebut adalah rasio lingkar pinggang terhadap lingkar panggul (waist hip ratio). WHR yang lebih merupakan indikator distribusi lemak ketimbang jumlah total lemak tubuh seperti pada tabel 2.2 (Fitriyanti, 2009).

Tabel 2.1 Kategori Indeks Massa Tubuh (IMT)a dan Lingkar Perut

Klasifikasi IMT (kg/m2)

Berat badan kurang (underweight) <18,5 Berat badan normal (normal weight) 18,5-24,9 Berat badan lebih (overweight) yang moderat 25,0-29,9

Berat badan lebih (overweight) ≥25

Preobese 25-29,9

Obesitas ≥30

Tabel 2.1 (Lanjutan)

Klasifikasi IMT (kg/m2)

Obese kelas I 30-34,9

Obese kelas II 35-39,9

Obese kelas III ≥40

Lingkaran Pinggang

Klasifikasi Laki-laki Perempuan

Di atas action level 1 ≥ 80 cm (~ 32 inci) ≥ 94 cm (~ 37 inci) Di atas action level 2 ≥ 88 cm (~ 35 inci) ≥ 100 cm (~ 40 inci)

aKategori IMT menurut pedoman WHO

b

Sumber : Misnadierly,2016

Kategori lingkar perut diusulkan oleh Lean et al, 2013

Kegemukan dapat diketahui dengan mengukur jumlah lemak seluruh tubuh menggunakan alat impedans atau mengukur ketebalan lemak di tempat-tempat tertentu menggunakan alat kaliper. Selain itu lemak di sekitar perut dapat diukur dengan menggunakan meteran. Kelebihan penimbunan lemak diatas 20% berat badan ideal, akan menimbulkan permasalahan kesehatan hingga terjadi gangguan fungsi organ tubuh (Misnadierly, 2016).

Berat Badan Relatif = Berat badan Tinggi badan – 100

x 100 % Keterangan:

90% - 110% : Normal 120% - 130% : Obesitas ringan

< 90% : Kurang dari normal 130% - 140% : Obesitas sedang 110% - 120% : Lebih dari normal >140% : Obesitas berat

Obesitas biasanya didefinisikan sebagai kelebihan berat lebih dari 120% dari berat badan ideal (BBI) atau berat badan yang diinginkan. Ada 4 obesitas berdasarkan tingkatan:

1. Simple obesity (kegemukan ringan), merupakan kegemukan akibat kelebihan berat tubuh sebanyak 20% dari berat ideal dan tanpa disertai penyakit diabetes mellitus, hipertensi, dan hiperlipidemia.

2. Mild obesity, merupakan kegemukan akibat kelebihan berat tubuh antara 20-30%

dari berat ideal yang belum disertai penyakit tertentu, tetapi sudah perlu diwaspadai.

3. Moderat obesity, merupakan kegemukan akibat kelebihan berat tubuh antara 30-60% dihitung dari berat ideal. Pada tingkat ini penderita termasuk berisiko tinggi untuk menderita penyakit yang berhubungan dengan obesitas.

4. Morbid obesity, merupakan kegemukan akibat kelebihan berat tubuh dari berat ideal lebih dari 60% dengan risiko sangat tinggi terhadap penyakit pernapasan, gagal jantung, dan kematian mendadak (Misnadierly, 2016).

Obesitas adalah penyebab kematian kelima, secara global, dan menyumbang 44% kasus diabetes dan 23% penyakit jantung iskemik. Prevalensi obesitas sentral untuk tingkat nasional adalah 18,8%. Menurut WHO seseorang disebut obesitas. BMI (Body Mass Index) dengan obesitas pada ibu menopause lebih beresiko terkena kanker payudara karena BMI yang berlebih menggambarkan jaringan adiposa yang tinggi dalam tubuh sedangkan jaringan adiposa adalah penghasil estrogen, sementara siklus mentruasi terjadi apabila hormon estrogen masih diproduksi sehingga ibu mengalami menopause terlambat dan juga dapat diartikan bahwa semakin tinggi estrogen yang dihasilkan pada usia menopause akan meningkatkan risiko kanker payudara (Pintam , 2017).

Sesuai dengan Mulyani, 2013 bahwa wanita obesitas akan mengalami proses di dalam tubuhnya,tubuh akan membuat sebagian estrogen di dalam jaringan lemak sehingga wanita yang gemuk mempunyai kadar hormon estrogen yang lebih tinggi dari kadar hormon estrogen normal. Tingginya kadar estrogen merupakan penyebab meningkatnya resiko kanker rahim, kanker payudara, diabetes, hypertensi (Mulyani, 2013).

Hal ini sesuai dengan penelitian Rahmi Fitria, 2016 menjelaskan bahwa estrogen dengan IMT obesitas tidak dihasilkan dari folikel tetapi ada sumber yang lebih kecil yang dinamakan jaringan adiposa (Yastirin dkk, 2017).

2.2.2 Usia Pertamakali Haid (Menarche)

Menarche adalah perdarahan pertama dari uterus yang terjadi pada seorang wanita. Sepanjang hidupnya wanita mengalami dua hal penting diantaranya menarche dan menopause. Usia menarche pada setiap remaja bervariasi antara 11-15 tahun yang digolongkan atas menarche dini umur 10-11 tahun dan menarche normal yaitu 11-15 tahun dan menarche terlambat >15 tahun (Wiknjosatro, 2005 dalam Rohmatika, 2012) . Terdapat hubungan antara usia pertama kali mendapat haid dengan usia seseorang wanita memasuki menopause. Semakin muda seseorang mengalami haid pertama kalinya, semakin tua atau lama ia memasuki usia menopause (Kasdu, 2002).

Berdasarkan penelitian Rohmatika dkk, 2012, di Desa Jingkang Babakan Kecamatan Ajibarang Kabupaten Bayumas tahun 2012, didapat ada pengaruh usia

menarche terhadap usia menopause sebesar 13, 9% dan sisanya 86,1% dipengaruhi oleh faktor-faktor yang lain. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Senolinggi, 2014 tentang “ Hubungan antara usia menarche dengan usia menopause pada wanita di Kecamatan Kakas Sulawesi Utara tahun 2014” yaitu nilai p=0,043 disimpulkan ada hubungan antara usia menarche dengan usia menopause. Wanita yang mengalami menarche pada usia yang lebih cepat memiliki jumlah Anti-Mullerian hormone (AMH) yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang mengalami menarche pada usia yang lebih lambat. AMH disekresikan oleh sel-sel granulosa dalam pertumbuhan folikel ovarium primer, sekunder dan antral, dengan sekresi tertinggi terdapat pada tahap sekunder dan antral, kemudian berakhir dengan pertumbuhan folikel lanjut. Tingkat AMH rendah pada saat lahir, meningkat pada masa kanak-kanak dan puncaknya pada saat remaja, kemudian menurun secara bertahap berdasarkan usia (Bragg dkk, 2012).

2.2.3 Paritas

Paritas merupakan jumlah kehamilan terdahulu yang telah berhasil dilahirkan dan mencapai batas viabilitas. Menurut Nagel, dkk, 2005 paritas dibagi atas tidak pernah, 1-2 anak dan > 3 anak. Paritas sering dikaitkan dengan masalah-masalah reproduksi, salah satunya adalah usia menopause.

Hasil penelitian menemukan bahwa makin sering seorang wanita melahirkan maka semakin tua atau lama mereka memasuki masa menopause. Penelitian Pathak, et al (2010) di India menyatakan bahwa wanita dengan paritas yang lebih sedikit cenderung akan mengalami menopause pada usia dini dibandingkan dengan wanita

dengan jumlah paritas yang lebih banyak. Hal tersebut didukung oleh penelitian Delavar (2010) di Iran bahwa wanita yang tidak memiliki anak akan mengalami menopause lebih awal. Penelitian Meschia (2005) di Italia menyatakan hal yang sama bahwa semakin banyak wanita melahirkan anak akan semakin lama wanita tersebut mengalami menopause. Hal ini mungkin disebabkan oleh jumlah cadangan ovarium atau tingkat Anti-Mullerian Hormon pada saat dewasa tinggi. Namun, hasil penelitian Bragg (2012) di Filipina yang dilakukan pada wanita sejak lahir hingga dewasa muda, menyatakan bahwa pada wanita dengan paritas lebih banyak yang lebih tinggi memiliki kadar Anti-Mullerian Hormon yang sedikit dibandingkan dengan paritas rendah.

Wanita dengan paritas tinggi, memiliki jumlah kumulatif siklus menstruasi yang lebih rendah dibandingkan dengan wanita yang tidak memiliki anak. Dengan demikian, dapat mempengaruhi jumlah cadangan oosit yang lebih banyak dan paparan hormon estrogen yang lebih lama sehingga wanita yang memiliki paritas banyak cenderung akan mengalami menopause pada usia yang lebih lambat (Dorjgochoo et al, 2008).

2.2.4. Pemakaian Kontrasepsi Hormonal

Menurut Kasdu 2002 dalam Forikes 2013 wanita yang menggunakan kontrasepsi akan lebih lama atau tua memasuki masa menopause. Hal ini bisa terjadi karena hormon estrogen dan progesteron yang terkandung dalam kontrasepsi hormonal memiliki cara kerja menekan dan menghambat ovulasi, sehingga dapat mengganggu fungsi proses hipothalamus-hipofise-ovarium dalam mensekresi

Gonadotropin Realizing Hormon (GnRH), Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Leutinising Hormone (LH). Pertumbuhan folikel dalam ovarium menjadi terhambat artinya tidak terjadi perubahan dari folikel primordial menjadi folikel de Graaf, sehingga ovulasi tidak terjadi dan tabungan dari oosit tidak berkurang. Oleh karena itu, wanita yang memakai kontrasepsi cenderung mengalami menopause terlambat (Rodiyatun, 2013).

2.2.5. Pola Makan

2.2.5.1. Konsumsi Lemak

Menopause merupakan peristiwa alami dalam siklus kehidupan wanita. Untuk mencegah berbagai keluhan yang mungkin terjadi di masa menopause yang disebabkan oleh kekurangan hormon estrogen, pengaturan menu makanan yang tepat sedini mungkin adalah salah satu jawaban yang tepat untuk mengatasi kekurangan hormon estrogen pada tubuh. Hal ini merupakan alternatif alamiah, yaitu dengan mengkonsumsi ekstra estrogen yang banyak terkandung pada sejumlah bahan pangan (Astutik, 2013).

Tidak mengkonsumsi lemak berlebih dan tidak mengkonsumsi minuman beralkohol juga minuman berkafein, akan memelihara hati dan sistem kardiovaskular yang sehat dan membantu untuk mengurangi risiko kondisi seperti kanker dan diabetes dan pilihan yang lebih sehat seperti air mineral dan teh hijau tanpa kafein.

Seorang wanita harus menjauhi makanan berlemak, status gizi merupakan kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrient.

Pemenuhan kebutuhan lemak dan serat memadai sangat membantu menghambat

berbagai dampak negatif menopause terhadap kinerja otak, mencegah kulit kering dan berbagai penyakit lainnya, konsumsi serat dapat mencegah menopause datang lebih awal. Konsumsi lemak yang dianjurkan untuk wanita umur 55-65 tahun yaitu 60 gram/ hari (Kemenkes RI, 2013).

2.2.5.2. Konsumsi Serat

Serat merupakan jenis karbohidrat yang tidak terlarut. Menurut laporan hasil Riskesdas tahun (2013), menunjukkan 93,6% masyarakat Indonesia kurang mengkonsumsi serat. Menurut Baliwati dkk (2004), menunjukkan bahwa mengkonsumsi serat sangat menguntungkan karena dapat mengurangi pemasukan energi dan tidak mengalami status gizi obesitas. Wanita obesitas akan lebih berisiko terkena menopause lambat karena lemak dapat menghasilkan estrogen (Mulyani, 2013).

Asupan serat dapat membantu meningkatkan pengeluaran kolesterol melalui feses dengan jalan meningkatkan waktu transit bahan makanan melalui usus.

Mengkonsumsi serat sangat menguntungkan karena dapat mengurangi pemasukan energi dan obesitas. Sayuran dan buah-buahan segar selalu penting untuk disertakan dalam setiap diet. Struktur kimiawi dalam kacang-kacangan akan menghasilkan efek seperti kerja estrogen, senyawa tersebut disebut fitoestrogen. Bahan pangan yang kaya akan fitoestrogen adalah jenis kacang-kacangan terutama kacang kedelai, serta dapat ditemukan pada hampir semua jenis sereal sayuran, pepaya, dan tanaman lain yang kaya akan kalsium. Bahan pangan kaya fitoestrogen yang cocok digunakan untuk minuman segar antara lain tahu sutera (Ratnaningrum, dkk, 2015).

Bahan yang terbuat dari kacang kedelai ini memiliki tekstur yang sangat lembut, seperti krim kental, dapat menjadi pengganti aneka produk dari daging sapi dan minyak hewani, susu kedelai. Susu yang terbuat dari kacang kedelai ini kaya zat fitoestrogen, sangat fleksibel diolah menjadi dessert yang menggugah selera (Muljati dkk, 2003). Dianjurkan pula mengkomsumsikan buah bengkuang, agar-agar rumput laut. Konsumsi serat (buah dan sayuran) yang dianjurkan untuk wanita umur 55-65 tahun adalah 28gr/ hari (Kemeskes RI, 2013).

2.2.6. Terapi pada Wanita Menopause yang Mengalami Kelainan

Tidak semua wanita pasca menopause perlu menjalani Terapi Sulih Hormon (TSH). Setiap wanita sebaiknya mendiskusikan risiko dan keuntungan yang diperoleh dari TSH dengan dokter pribadinya. Banyak ahli yang menganjurkan TSH dengan tujuan untuk : (1) Mengurangi gejala menopause yang tidak diinginkan. (2) Membantu mengurangi kekeringan pada vagina. (3) Mencegah terjadinya osteoporosis.

Estrogen tersedia dalam bentuk alami dan sintetis (dibuat di laboratorium).

Estrogen sintetis ratusan kali lebih kuat dibandingkan estrogen alami sehingga tidak secara rutin diberikan kepada wanita menopause. Untuk mencegah hot flashes dan osteoporosis hanya diperlukan estrogen alami dalam dosis yang sangat rendah. Dosis tinggi cenderung menimbulkan masalah, diantaranya sakit kepala, migren. Estrogen bisa diberikan dalam bentuk tablet atau tempelan kulit (estrogen transdermal) ( Kathy dalam Gilly Andrews, 2010).

Krim estrogen bisa dioleskan pada vagina untuk mencegah penipisan lapisan

vagina (sehingga mengurangi risiko terjadinya infeksi saluran kemih dan beser) dan untuk mencegah timbulnya nyeri ketika melakukan hubungan seksual. Wanita pasca menopause yang mengkonsumsi estrogen tanpa progesteron memiliki resiko menderita kanker endometrium. Risiko ini berhubungan dengan dosis dan lamanya pemakaian estrogen. Jika terjadi perdarahan abnormal dari vagina, dilakukan biopsi lapisan rahim. Mengkonsumsi progesteron bersamaan dengan estrogen dapat mengurangi resiko terjadinya kanker endometrium. Biasanya terapi sulih hormon estrogen tidak dilakukan pada wanita yang menderita : (1) Kanker payudara atau kanker endometrium stadium lanjut. (2) Perdarahan kelamin dengan penyebab yang tidak pasti. (3) Penyakit hati akut. (4) Penyakit pembekuan darah Porfiria intermiten akut.

2.3. Landasan Teori

Pada wanita menopause terjadi penurunan hormon progesteron dan estrogen yang mengakibatkan berhentinya haid. Tingginya kadar estrogen merupakan penyebab menopause terlambat dan meningkatnya resiko kanker rahim, kanker payudara, diabetes, hypertensi (Mulyani, 2013). Hal ini sesuai dengan penelitian Rahmi Fitria, 2016 menjelaskan bahwa estrogen dengan IMT obesitas tidak dihasilkan dari folikel tetapi ada sumber yang lebih kecil yang dinamakan jaringan adiposa. BMI yang berlebih menggambarkan adanya jaringan adiposa yang tinggi, sedangkan pada menopause jaringan adiposa adalah sumber utama penghasil estrogen, yang dapat diartikan semakin tinggi estrogen yang dihasilkan pada usia

menopause akan meningkatkan resiko kanker. (Yastirin dan Amalia, 2017).

Menarche berhubungan dengan menopause yaitu semakin muda seorang mengalami haid pertama kalinya, semakin tua atau lama ia memasuki masa menopause. Wanita yang mengalami menarche pada usia yang lebih cepat memiliki jumlah Anti-Mullerian hormone (AMH) yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang mengalami menarche pada usia yang lebih lambat.

Berdasarkan paritas bahwa semakin banyak wanita melahirkan anak akan semakin lama wanita tersebut mengalami menopause. Hal ini mungkin disebabkan oleh jumlah cadangan ovarium atau tingkat Anti-Mullerian Hormone pada saat dewasa tinggi. Karena hormon estrogen dan progesteron yang terkandung dalam kontrasepsi hormonal memiliki cara kerja menekan dan menghambat ovulasi, sehingga dapat mengganggu fungsi proses hipothalamus-hipofise-ovarium dalam mensekresi Gonadotropin Realizing Hormon (GnRH), Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Leutinising Hormone (LH). Oleh karena itu, wanita yang memakai kontrasepsi cenderung mengalami menopause terlambat.

Kejadian Menopause Lambat dimodifikasi dengan teori yang dianggap paling sesuai yang diadaptasi dari konsep J. Ties Boerma dan Sharon S Weir yaitu “ The Proximate - Determinants Frameworks (Boerma Weirs, 2005), Kemenkes 2013.

Gambar 2.1 Kerangka Teori

2.4. Kerangka Konsep

Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian 2.5. Hipotesis Penelitian

1. Ada pengaruh obesitas dengan kejadian menopause terlambat pada wanita usia 55-65 tahun di wilayah kerja Puskesmas Bromo Medan.

2. Ada pengaruh usia menarche dengan kejadian menopause terlambat pada wanita usia 55-65 tahun di wilayah kerja Puskesmas Bromo Medan.

3. Ada pengaruh paritas dengan kejadian menopause terlambat pada wanita usia 55-65 tahun di wilayah kerja Puskesmas Bromo Medan.

Paritas

Menopause Lambat Obesitas

Usia menarchee

Kontrasepsi Hormonal

Pola makan

a. Konsumsi lemak b. Konsumsi serat

4. Ada pengaruh kontrasepsi hormonal dengan kejadian menopause terlambat pada wanita usia 55-65 tahun di wilayah kerja Puskesmas Bromo Medan.

5. Ada pengaruh pola makan dengan kejadian menopause terlambat pada wanita usia 55-65 tahun di wilayah kerja Puskesmas Bromo Medan.

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah studi analitik observasional dengan desain case control yaitu memilih wanita usia 55-65 tahun yang masih mengalami menstruasi sebagai kasus dan wanita usia 55-65 tahun yang telah menopause sebagai kontrol. Desain penelitian ini menelaah hubungan antara efek (penyakit atau kondisi kesehatan) dengan faktor risiko tertentu dengan pendekatan retrospektif (penelusuran kebelakang) apakah kasus dan kontrol terpapar atau tidak (Suradi dkk, 2016).

Rancangan kasus-kontrol dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3.1. Rancangan Penelitian Kasus-Kontrol 3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1. Lokasi Penelitian

Penelitian akan dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Bromo Medan. Lokasi ini dipilih sebagai lokasi penelitian dengan pertimbangan karena Puskesmas Bromo

Faktor Risiko (-)

Faktor Risiko (+)

Retrospektif Kasus

(Wanita Usia 55-65 yang masih mengalami haid)

Faktor Risiko (-)

Retrospektif Faktor Risiko (+)

Kontrol

(Wanita Usia 55-65 yang telah menopause)

aktif melaksanakan posyandu lansia, data dan laporan lansia di Puskesmas Bromo sudah baik, penanganan masalah kesehatan lansia wanita sudah baik dan mudah dijangkau peneliti.

3.2.2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian berlangsung pada bulan Januari sampai dengan Januari 2018. Tahapan dilaksanakan mulai survei awal, pembuatan proposal penelitian, pengambilan data dari responden, menganalisa data, seminar hasil dengan konsultasi kepada dosen pembimbing sampai dengan ujian komprehensif.

3.2. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian (Notoatmodjo, 2010). Populasi dalam penelitian ini seluruh ibu yang sudah menopause dan yang belum menopause sebanyak 223 orang dibagi atas dua bagian, yaitu:

1. Populasi Kasus

Populasi kasus pada penelitian ini adalah seluruh wanita usia 55-65 yang masih mengalami haid di Puskesmas Bromo Medan sebanyak 49 orang.

2. Populasi Kontrol

Populasi kontrol pada penelitian ini adalah wanita yang sudah tidak haid (menopause) usia 55-65 tahun yang aktif mengikuti posyandu lansia Puskesmas Bromo Medan sebanyak 49 orang.

3.3.2. Sampel

Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti yang dianggap

mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2010). Adapun sampel dalam penelitian ini adalah:

1. Sampel Kasus

Sampel kasus pada penelitian ini adalah sebagian wanita Usia 55-65 yang masih mengalami haid di Puskesmas Bromo Medan dengan kriteria sebagai berikut:

a. Kriteria Inklusi

1. Berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Bromo Medan.

1. Berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Bromo Medan.