• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5. PEMBAHASAN

5.1. Pengaruh Obesitas terhadap Kejadian Menopause Lambat

2017

Berdasarkan analisa bivariat variabel obesitas, berdasarkan kepercayaan secara signifikan berpengaruh dalam hal kejadian menopause lambat, dari hasil uji simple logistic regressiondengan menggunakan α=0,05% diperoleh nilai p=0,015 sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh obesitas terhadap kejadian menopause lambat.

Uji statistik menunjukkan untuk variabel obesitas di dapat nilai OR = 2,782 artinya bahwa wanita usia 55-65 tahun yang mengalami obesitas 2,782 kali kemungkinannya mengalami menopause lambat dibandingkan wanita usia 55-65 tahun yang tidak mengalami obesitas.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Saftarani (2011) di Surabaya, yang menyatakan bahwa wanita dengan obesitas lebih lambat mengalamin menopause, kondisi ini di hubungkan dengan jumlah lemak pada seorang wanita, yaitu jika persentasi lemaknya rendah akan menurunkan kadar hormon reproduksi dan sebaliknya apabila lemak banyak maka menaikkan hormon reproduksi.

Hal ini juga sesuai dengan Mulyani (2013) bahwa wanita obesitas akan mengalami proses di dalam tubuhnya, tubuh akan membuat sebagian estrogen di dalam jaringan lemak sehingga wanita yang gemuk mempunyai kadar hormon

estrogen yang lebih tinggi dari kadar hormon estrogen normal. Tingginya kadar estrogen merupakan penyebab meningkatnya resiko kanker rahim,kanker payudara, diabetes, hipertensi.

Menopause terlambat terjadi pada usia 55 tahun ke atas, salah satu faktor yang memungkinkan seorang wanita akan mengalami keterlambatan menopause adalah apabila memiliki kelebihan berat badan. Sebagian besar estrogen dibuat didalam endometrium, akan tetapi sejumlah kecil estrogen juga dibuat di baguan tubuh yang lain, termasuk sel-sel lemak. Apabila seorang wanita mengalami obesitas maka wanita tersebut akan memiliki kadar estrogen yang lebih tinggi dalam seluruh masa hidupnya (Fox-Spencer dan Brown, 2007).

5.2. Pengaruh Usia Menarche terhadap Kejadian Menopause Lambat pada Wanita Usia 55-65 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Bromo Medan Tahun 2017

Berdasarkan analisa bivariat variabel usia menarche, dari hasil uji simple logistic regressiondengan menggunakan α=0,05% diperoleh nilai p=0,419 sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada pengaruh usia menarche terhadap kejadian menopause lambat.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rohmatika dkk, 2012, di Desa Jingkang Babakan Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas tahun 2012, menyimpulkan ada pengaruh usia menarchedengan usia menopause dengan nilai korelasi 0,062 lebih besar dari 0.05.

Beberapa ahli yang melakukan penelitian menemukan adanya hubungan

antara usia pertama kali mendapat haid dengan usia seorang wanita memasuki menopause. Kesimpulan dari penelitian-penelitian ini mengungkapkan, bahwa semakin muda seorang mengalami haid pertama kalinya, semakin tua atau lama ia memasuki masa menopause (Kasdu, 2002). Pada penelitian Senolinggi (2014) di Kecamatan Kakas Sulawesi Utara menemukan usia menarche berhubungan dengan usia menopause dengan Sign=0,04 maka kesimpulan makin dini menarche terjadi maka makin lambat menopause timbul.

Menarche adalah usia pertama kali menstruasi makin. Pada abad ini umumnya nampak bahwa menarchemakin dini timbul dan menopause makin lambat terjadi, sehingga masa reproduksi menjadi lebih panjang (Yatim, 2010).Wanita yang mengalami menarche pada usia yang lebih cepat memiliki jumlah Anti-Mullerian hormone (AMH) yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang mengalami menarche pada usia yang lebih lambat. AMH disekresikan oleh sel-sel granulosa dalam pertumbuhan folikel ovarium primer, sekunder dan antral, dengan sekresi tertinggi terdapat pada tahap sekunder dan antral, kemudian berakhir dengan pertumbuhan folikel lanjut. Tingkat AMH rendah pada saat lahir, meningkat pada masa kanak-kanak dan puncaknya pada saat remaja, kemudian menurun secara bertahap berdasarkan usia (Bragg dkk, 2012).

Menurut asumsi peneliti usia menarche yang mengalami usia menopause lambat di Wilayah Kerja Puskesmas Bromo Medan adalah nilai p=0,419 (p > 0,05), hal ini memungkinkan terjadi, kenyataan di lapangan berbeda dengan teori, hasil penelitian mayoritas responden mengalami usia menarche ≥14 tahun sebanyak 28

orang (57,1% ), tetapi tidak menyebabkan terjadinya menopause lambat.

5.3. Pengaruh Paritas terhadap Kejadian Menopause Lambat pada Wanita Usia 55-65 tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Bromo Medan Tahun 2017

Berdasarkan analisa bivariat variabel paritas, dari hasil uji simple logistic regression dengan menggunakan α=0,05% diperoleh nilai p=0,03 sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh paritas terhadap kejadian menopause lambat.Uji statistik menunjukkan untuk variabel paritas di dapat nilai OR = 3,579 menunjukkan bahwa wanita usia 55-65 tahun yang yang paritasnya ˃3 anak 3,579 kali kemungkinannya mengalami menopause lambat dibandingkan wanita yang paritasnya 0-2 anak.

Hal ini sejalan dengan Penelitian Pathak, et al (2010) di India menyatakan bahwa wanita dengan paritas yang lebih sedikit cenderung akan mengalami menopause pada usia dini dibandingkan dengan wanita dengan jumlah paritas yang lebih banyak. Hal tersebut didukung oleh penelitian Delavar (2010) di Iran bahwa wanita yang tidak memiliki anak akan mengalami menopause lebih awal.

Penelitian Meschia (2005) di Italia menyatakan hal yang sama bahwa semakin banyak wanita melahirkan anak akan semakin lama wanita tersebut mengalami menopause. Hal ini mungkin disebabkan oleh jumlah cadangan ovarium atau tingkat Anti-Mullerian Hormone pada saat dewasa tinggi. Namun, hasil penelitian Bragg (2012) di Filipina yang dilakukan pada wanita sejak lahir hingga dewasa muda, menyatakan bahwa pada wanita dengan paritas lebih banyak yang

lebih tinggi memiliki kadar Anti-Mullerian Hormone yang sedikit dibandingkan dengan paritas rendah.

Beberapa peneliti menemukan bahwa makin sering seorang wanita melahirkan maka semakin tua atau lama mereka memasuki masa menopause (Intan, Iwan, 2012).Wanita dengan paritas tinggi, memiliki jumlah kumulatif siklus menstruasi yang lebih rendah dibandingkan dengan wanita yang tidak memiliki anak. Dengan demikian, dapat mempengaruhi jumlah cadangan oosit yang lebih banyak dan paparan hormon estrogen yang lebih lama sehingga wanita yang memiliki paritas banyak cenderung akan mengalami menopause pada usia yang lebih lambat (Dorjgochoo, et al, 2008).

5.4. Pengaruh Kontrasepsi Hormonal terhadap Kejadian Menopause Lambat pada Wanita Usia 55-65 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Bromo Medan Tahun 2017

Berdasarkan analisis bivariat variabel penggunaan kontrasepsi hormonal, berdasarkan kepercayaan secara signifikan berpengaruh dalam hal kejadian menopause lambat, dari hasil uji simple logistic regressiondengan menggunakan α=0,05% diperoleh nilai p=0,015 sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh penggunaan kontrasepsi hormonal terhadap kejadian menopause lambat.

Uji statistik menunjukkan untuk variabel penggunaan kontrasepsi hormonal di dapat nilai OR=2,497 menunjukkan bahwa wanita usia 55-65 tahun yang menggunaan kontrasepsi hormonal 2,497 kali kemungkinannya mengalami menopause lambat dibandingkan wanita yang tidak penggunaan kontrasepsi hormonal.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Wahyuni (2010) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara jenis pemakaian alat kontrasepsi dengan kecepatan menopause (p=0,003) dimana menopause lebih lambat terjadi pada wanita yang memakai jenis kontrasepsi hormonal. Begitu juga penelitian Celentano dkk (2003) menggambarkan bahwa penggunaan kontrasepsi hormononal akan mempengaruhi usia menopause.

Kontrasepsi jenis hormonal bekerja dengan cara menekan fungsi indung telur sehingga tidak memproduksi sel telur. Pada wanita yang menggunakan kontrasepsi ini akan lebih lama atau tua memasuki menopause.

Menurut Kasdu (2002) wanita yang menggunakan kontrasepsi akan lebih lama atau tua memasuki masa menopause. Hal ini bisa terjadi karena hormon estrogen dan progesteron yang terkandung dalam kontrasepsi hormonal memiliki cara kerja menekan dan menghambat ovulasi, sehingga dapat mengganggu fungsi proses hipothalamus-hipofise-ovarium dalam mensekresi Gonadotropin Realizing Hormon(GnRH), Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Leutinising Hormone (LH). Pertumbuhan folikel dalam ovarium menjadi terhambat artinya tidak terjadi perubahan dari folikel primordial menjadi folikel de Graaf, sehingga ovulasi tidak terjadi dan tabungan dari oosit tidak berkurang.

5.5. Pengaruh Konsumsi Lemak terhadap Kejadian Menopause Lambat pada Wanita Usia 55-65 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Bromo Medan Tahun 2017

Berdasarkan analisa bivariat variabel konsumsi lemak, dari hasil uji simple logistic regression dengan menggunakan α=0,05% diperoleh nilai p=0,310 sehingga

dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada pengaruh konsumsi lemak terhadap kejadian menopause lambat.

Hal ini berkaitan dengan status gizi yang juga merupakan hal yang sangat menentukan lamanya periode reproduksi dihubungkan cepat/lambatnya seorang mengalami menopause. Wanita dengan status gizi baik mengalami menopause pada usia normal, sedangkan wanita dengan obesitas lebih lambat menopausenya. Kondisi ini dihubungkan dengan jumlah lemak pada seorang wanita, yaitu jika persentasi lemaknya rendah akan menurunkan kadar hormon reproduksi. Hal ini sesuai dengan penelitian Utami, 2012 tentang “Hubungan antara status gizi dengan usia menopause di kelurahan Gunungpati Semarangdan menemukan bahwa konsumsi lemak memengaruhi status gizi, dan menyimpulkan ada hubungan linear antara status gizi dengan usia menopause, dimana jika status gizinya makin tinggi, maka usia menopause juga semakin naik. Saftarina (2011) di Surabaya dalam penelitiannya mendapati adanya hubungan yang bermakna yang signifikan antara gizi dan usia menopause.

5.6. Pengaruh Konsumsi Serat terhadap Kejadian Menopause Lambat pada Wanita Usia 55-65 tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Bromo Medan Tahun 2017

Berdasarkan analisa bivariat variabel konsumsi serat, dari hasil uji simple logistic regression dengan menggunakan α=0,05% diperoleh nilai p=0,069 sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada tidak ada pengaruh konsumsi serat terhadap kejadian menopause lambat.

Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Muljati dkk (2003) menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara jumlah tahu yang dikonsumsi dengan usia menopause dimana p=0,010 dan dinyatakan bahwa wanita yang kurang mengkonsumsi serat memiliki resiko tinggi untuk menopause dini.Dan tidak sesuai dengan penelitian Ratnaningrum,2015 menyimpulkan asupan serat dapat membantu meningkatkan pengeluaran kolesterol melalui feses dengan jalan meningkatkan waktu transit bahan makanan melalui usus. Mengkonsumsi serat sangat menguntungkan karena dapat mengurangi pemasukan energi dan obesitas.

Menurut Baliwati dkk (2004), menunjukkan bahwa mengkonsumsi serat sangat menguntungkan karena dapat mengurangi pemasukan energi dan tidak mengalami status gizi obesitas.Wanita obesitas memiliki cadangan lemak /jaringan adiposa dalam tubuhnya yang dapat menghasilkan hormon reproduksi mengakibatkan kejadian menopause terlambat (Mulyani, 2013).

Sayuran dan buah-buahan segar selalu penting untuk disertakan dalam setiap diet. Struktur kimiawi dalam kacang-kacangan akan menghasilkan efek seperti kerja estrogen, senyawa tersebut disebut fitoestrogen(Muljati dkk, 2003).

5.7. Impilikasi Penelitian

Implikasi dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

Hasil penelitian ini berimplikasi bagi peningkatan pelayanan kesehatan reproduksi, terutama wanita menopause. Perubahan yang terjadi pada wanita menopause dialami setiap wanita usia 45-55 tahun. Menopause Terlambat dialami

oleh seorang wanita apabila masih mengalami haid umur > 55 tahun. Hal ini meningkatkan risiko kanker payudara, kanker rahim, dan kanker ovarium pada wanita.

5.7.1. Implikasi Penelitian Bagi Masyarakat

Secara umum ibu umur > 55 tahun yang masih haid di wilayah kerja Puskesmas Bromo berangggapan bahwa haid yang lama akibat dari gizi yang baik dan hidup sehat. Dengan penelitian ini ibu yang berumur > 55 tahun yang masih haid sudah mengerti bahwa haid di usia itu dapat berbahaya yaitu resiko kanker. Hal itu di pengaruhi oleh faktor obesitas, paritas dan juga pemakaian kontrasepsi. Masyarakat dapat melakukan pencegahan dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan kaya serat dan gaya hidup sehat, olah raga teratur, penggunaan alat kontrasepsi dan menguragi konsumsi makanan lemak tinggi untuk menjaga berat badan ideal.

5.7.2. Impilikasi terhadap Ibu > 55 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Bromo Medan

Hasil penelitian ini berimplikasi bagi peningkatan kesehatan ibu usia > 55-65 tahun terutama kesehatan reproduksinya, dalam mendeteksi resiko kanker. Ibu rajin memeriksakan kesehatannya, karena berbagai faktor dapat memngaruhi kesehatan dan menimbulkan penyakit, terutama mencakup obesitas, paritas, pemakaian kontrasepsi. Dengan mengatur konsumsi lemak, dan pembatasan jumlah anak, pengontrolan pemakaian alat kontrasepsi.

Menopause Terlambat Ibu Usia > 55– 65 Tahun

5.8. Keterbatasan Penelitian

1. Responden masih belum terbuka dengan menjawab setiap pertanyaan yang diberikan oleh peneliti

sehingga hasil penelitan ini masih belum luas, sehingga penulis sedikit mempunyai kesulitan

dalam menyampaikan maksud dan tujuan dalam penelitian ini.

2. Kondisi ruangan puskesmas khusus lansia yang sempit masih belum memadai, sehingga pada saat pengumpulan ibu-ibu lansia kurang efektif.

3. Jumlah ibu yang berumur 55-65 tahun yang masih haid sedikit sehingga peneliti memerlukan waktu yang cukup lama untuk mencari ibu-ibu yang mengalami menopause terlambat sebagai responden

Pemakaian Kontrasepsi Paritas

Obesitas

Intervensi :

2) Kepala Puskesmas penyuluhan tentang pemeriksaan kesehatan dan reproduksi pada ibu-ibu umur

> 45 tahun 3) Tenaga Kesehatan a. Konseling tentang keluhan

menopause b. Saran untuk rutin

periksa kesehatanreproduksi dan menjaga berat badan

4) Ibu rutin olah raga dan makanan

seimbang Intervensi :

1.Kepala Puskesmas penyuluhan tentang pemeriksaan kesehatan dan reproduksi pada ibu-ibu umur > 45 tahun

2.Tenaga Kesehatan

a. Konseling tentang keluhan menopause

b. Saran untuk rutin

periksa kesehatanreproduksi dan member tahu pada generasi selanjutnya penggunaan alat KB

Intervensi :

1.Kepala Puskesmas penyuluhan tentang pemeriksaan kesehatan dan reproduksi pada ibu-ibu umur > 45 tahun

2.Tenaga Kesehatan

Periksa kesehatanreproduksi dan member tahu pada generasi selanjutnya penggunaan alat KB untuk mencapai kehidupan yang sehat setelah menopause

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan hasil penelitian, dapat diambil beberapa kesimpulan mengenai determinan yang memengaruhi kejadian menopause lambat pada wanita usia 55-65 tahun di wilayah kerja Puskesmas Bromo Medan tahun 2017

1. Ada pengaruh obesitas terhadap kejadian menopause lambat pada wanita usia 55-65 tahun di wilayah kerja Puskesmas Bromo Medan tahun 2017

2. Tidak ada pengaruh usia menarche terhadap kejadian menopause lambat pada wanita usia 55-65 tahun di wilayah kerja Puskesmas Bromo Medan tahun 2017 3. Ada pengaruh paritas terhadap kejadian menopause lambat pada wanita usia

55-65 tahun di wilayah kerja Puskesmas Bromo Medan tahun 2017

4. Ada pengaruh kontrasepsi hormonal terhadap kejadian menopause lambat pada wanita usia 55-65 tahun di wilayah kerja Puskesmas Bromo Medan tahun 2017 5. Tidak ada pengaruh konsumsi lemak terhadap kejadian menopause lambat pada

wanita usia 55-65 tahun di wilayah kerja Puskesmas Bromo Medan tahun 2017 6. Tidak ada pengaruh konsumsi serat terhadap kejadian menopause lambat pada

wanita usia 55-65 tahun di wilayah kerja Puskesmas Bromo Medan tahun 2017 Dari ke 5 variabel diatas variabel yang sangat berpengaruh yaitu paritas dimana nilai p = 0,006 dengan OR = 3,302 95% CI 1,403-7,774 yang artinya paritas ≥ 3 anak

memiliki peluang berisiko 3,302 kali lebih besar untuk mengalami menopause lambat dibandingkan dengan yang paritas 0-2 anak.

6.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, faktor yang sangat dominan berpengaruh terjadinya menopause lambat pada wanita usia 55-65 tahun, yaitu paritas, ada beberapa hal yang menjadi saran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi wanita yang telah mengalami menopause hendaknya melakukan pemeriksaan teratur dan menjaga berat badan ideal untuk menghindari adanya faktor resiko terjadinya gangguan kesehatan diusia menopause serta mempertahankan pola hidup sehat untuk menghindari penyakit komplikasi setelah usia menopause.

2. Bagi institusi kesehatan hendaknya melakukan penyuluhan serta pendidikan kesehatan pada wanita yang akan dan telah mengalami menopause serta memberikan KIE bagi akseptor KB hormonal baik dari segi kelebihan maupun kekurangannya sehingga wanita bisa menentukan pilihannya secara tepat dan manfaat bagi kesehatan reproduksinya

3. Dinas kesehatan disarankan untuk dapat meningkatkan promosi kesehatan melalui media tentang keluhan menopouse sehingga meningkatkan kemandirian bagi wanita dalam menghadapi masa menopause.

4. Bagi peneliti selanjutnya agar hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi peneliti lain guna mengembangkan ilmu kesehatan secara umum dan kesehatan

reproduksi secara khusus seperti faktor lain penyebab melambatnya usia menopause.

DAFTAR PUSTAKA

Arisman 2014; Obesitas, Diabetes Mellitus dan Dislipidemia, KonsepTeori dan Penanganan Aplikatif. Jakarta: EGC.

BPS, 2016. Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2030,Jakarta: Badan Pusat Statistik United Nations Population Fund.

Baliwati,Y. F, dkk. 2004. Pengantar Pangan dan Gizi. Jakarta: Penebar Swadaya Bragg, J. M., Kuzawa, C. W., Agustin, S. S., Banerjee, M. N., McDade, T. W., 2012.

Age at Menarche and Parity are Independently Associated with Anti-Mullerian Hormone, a Marker of Ovarian Reserve, in Filipino Young Adult Women. American Journal of Human Biology.

Cooper, K., 1998. Pathophysiology Made Incredibly Easy.Springhouse: Springhouse Corp.

Dahlan, M. S., 2014. Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan: Deskriptif, Bivariat, dan Multivariat Dilengkapi Aplikasi Menggunakan SPSS, Jakarta:

Epidemiologi Indonesia ed. 1.

Davis, S. R., Castelo, Branco,C., Chedraui, P., Lumsden,M. A., Nappi,R. E., Shah, D., Villaseca, P., 2012.Understanding weight gain at menopause: a systematic review, Climacteric.

Delavar MA and M Hajiahmadi. 2011. Factors Affecting the Age in Normal Menopause and Frequency of Menopausal Symptoms in Northern Iran.

Iranian Red Crescent Medical Journal 13(3):192-198

Depkes, 2008. Petunjuk Teknis Pengukuran Faktor Risiko Diabetes Mellitus, Jakarta:

Ditjen PP & PL.

Fairus, M., Prasetyowati., 2011. Gizi dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta: EGC.

Fitriyanti, S., 2009. Obesitas Permasalahan dan Terapi Praktris, Yogyakarta: Sagung Seto.

Francis , 2017; Melalui Menopause, Cet I- Jakarta Libri.

Fox-Spencer, R, dan Brown, P, 2007. Osteoporosis.Erlangga. Jakarta.

Gilly Andrews, 2010; Buku Ajar Kesehatan Reproduksi Wanita ( Women’s Sexual Health) Buku Kedokteran. EGC, Jakarta

Gold, E. B, 2011, The Timing of the Age at Which Natural Menopause Occurs.

Obstetrics and Gynecology Clinics of North America.

Hall, K. D., et al. 2011 Quantification of The Effect of Energy Imbalance on Bodyweight. Lancet 2011; 378: 826–37.

Hidayat, A. A., 2010. Metode Penelitian Kesehatan Paradigma Kuantitatif, Jakarta:

Health Books.

Infodatin Lansia, 2013, SituasiLanjutUsia di Indonesia. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RIISSN 2442-7659

IntandanIwan.(2012). KesehatanReproduksi. Jakarta: SalembaMedika.

Jesus Ramirez Rodrigo, 2015; Overweight Obesity and Cardiovascular Risk Inmenopausal Transition, Volum 32 no. 1603-1608.

Kasdu, Dini., 2002. Kiat Sehat dan Bahagia di Usia Menopause. Bekasi: Puspa Swara.

Kaczmarek, Maria. 2007. The timing of natural menopause in Poland and associated factors. Maturitas 57 (2007) 139–153

Kemenkes RI, 2013. Angka Kecukupan gizi yang Dianjurkan bagi Bangsa Indonesia, Permenkes No. 75 Tahun 2013.

Liva Maita, et al2013, Karakteristik Wanita dengan Keluhan Masa Menopause di Wilayah Kerja Puskesmas Rejosari; Vol.2 No.3.

Masruroh. 2012. Hubungan Antara Penggunaan Kontrasepsi Hormonal dengan Usia Menopause. Fakultas Imu Kesehatan Universitas Darul Ulum Jombang.

Mishra,G. D., Kuh, D., 2012.How do Health Symptoms During Midlife Relate to Menopausal Transition? A British Prospective Cohort Study.BMJ.

Meschia, M., Pansini, F., Modena, A. B., de Aloysio D, Gambaccini, M., 2011.

Determinants of Age at Menopause in Italy: Results From a Large Cross-Sectional Study. Maturitas 34 (2005) 119–125.

Misnadiarly, 2013; Obesitas Sebagai Faktor Resiko Beberapa Penyakit;Pustaka Obor.

Jakarta.

Morgan, Geri, Carole, H., 2009. Obstetri & Ginekologi. Jakarta: EGC.Mulyani, N.S., 2013. Menopause, Medical Book, Yogyakarta: Nuha Medika.

Muljati S.,Suwarti S.,Harahap.,Harjatmo.,Komari.,Sandjaja.,Amelia, 2003;

Hubungan Konsumsi Kacang- Kacangan Dengan Usia Menopause; Volume 26 nomor 1

Parazzini, F., 2007. Determinan Of Age Menopause in Women Attending Menopause Clinics in Italy. PMID: 17069999.

Pathak, P., Saraswathy, Vora, A. dan J. Savai. (2010). “In Vitro Antimicrobial Activity and Phytochemical Analysis of The Leaves of Annonamuricata”.International Journal of Pharma. Research & Development [Online], Vol 2

Paola, A.O.C., Moran, C., Juli, Blanco-Munoz,ElsaYunez-Diaz, Muara,S.Jorge, Salmezon., 2006, Reproductive and lifestyle Factor Associated eith Menopause in Maxican Women, Public Health, Jul/Aug 2006 Vol, 48

Pintam Ayu Yatirin, Rizki Amalia, 2017, Nutrisi dan Diet pada Kelompok Menopause dengan Kanker Payudara,

Juornal of Midwifery Scienceand Healthy . Vol 8 No. I ISSN : 2087-4145.

Pokoradi, A.J., Iversen, L., Hannaford, P. C., 2011. Factors associated with age of Onset and Type of Menopause in a Cohort of UK women. PMID: 21514918.

Proverawati, A., 2013. Menopause dan Sindrome Premenopause, Yogyakarta: Nuha Medika.

PubMed.gov;June 2003, The Menopause and Obesity.

Rahmad,S.,2009. Obesitas Permasalahan dan Terapi Praktris, Yogyakarta: Sagung Seto.

Rahmi Fitria, 2016; Hubungan Indeks Massa Tubuh, Paritas, Lama Menopause dengan Densitas Tulang pada Wanita PascaMenopause, Jurnal Maternity and Neonatal. Volume: 2, Nomor 2.

Ratnaningrum YS,2015 ;Hubungan Asupan Serat dan Status Gizi Dengan Usia Menopause di Desa Kuwiran Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali.

Volume 3 Nomor 3

Reni Yuli A, 2013; Buku Ajar Penata Laksanaan dan Terapi Seks Menopause:

Fitramaya : Yogjakarta.

Riskesdas. Laporan Nasional, 2013. (diunduh 5 Februari 2017).

Rodiyatun, 2013 ; Riwayat Pemakaina Kontrasepsi dan Kejadian Menopause pada Wanita usia 45-50 Tahun Anggota Pengajian RW 08 Kelurahan Pangeranan Bangkalan; Jurnal Penelitian Kesehatan Forikes, Vol.IV. ISSN 2086 – 3098.

Rohmatika, D., Sumarni, Prabandari, F., 2012. Pengaruh Usia Menarche Pada Wanita Meenopause di Desa Jingkang Babakan Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas; Jurnal Ilmiah Kebidanan Vol.3 N0.2.

Saftarina., Sylvia. V. Hubungan Status Gizidengan Menarche,. Surabaya: Fakultas Kedokteran UniversiasAirlangga; 2011; 1 Januari 2018, jam 20.15.

Sastroasmoro, S., Ismael, S., 2014. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis, Edisi ke-5. Jakarta: Sagung Seto.

Shilpa, S., Thakur, R., Lifestyle and Dietaryfactordetermine Age at natural Menopause. J Midlife Health. 2014 jan- mar; 5(1):3-5.

Senolinggi, M. A., 2015. Hubungan antara UsiaMenarche dengan Usia Menopause pada Wanita di Kecamatan Kakas Sulawesi Utara Tahun 2014, Journal Clinic, Volume: 3, Nomor 1.

Stepaniak, U. , Szafraniec, K. , Kubinova, R. , Malyutina, S. , Peasey, A. , Pikhart, H.

,Bobak, M. 2013, Age at Natural Menopause in Three Central and Eastern European Urban Populations

Sulistiany, E., 2013. Faktor-faktor yang Memengaruhi Waktu Terjadinya Menopause pada Wanita Usia 40-55 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Langsa Barat.

FKM USU.

Surakasula, A., Nagarjunapu, G. C., Raghavaiah, K. V., 2014. A Comparative Study of Pre- and Post-Menopausal Breast Cancer: Risk Factors, Presentation,

Characteristics and Management.Journal of Research in Pharmacy Practice.

Volume: 3.

Szumilas, M., 2010. Explaining Odds Ratios. Canadian Academy of Child and Adolescent Psychiatry. Diakses pada tanggal 16Oktober 2017

Thea F Mikkelsen, 2007;Institut Praktik Umum dan Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran, Universitas Oslo, Norwegia.

Thoyibah, U., 2015. Penggunaan Kontrasepsi Hormonal dengan Usia Menopause di Desa Kembangringgit Kecamatan Pungging Kabupaten Mojokerto.Poltekes Majapahit.

Trichopaulos, D., MacMahon, B., Cole, P., 1971. Menopause and Breast Cancer Risk, Department of Epidemiology, Harvard School of Public Health, Boston, Massachusetts 02115.

Utami PN, 2011. Hubungan Antara Status Gizi dengan Usia Menopause pada Wanita

Utami PN, 2011. Hubungan Antara Status Gizi dengan Usia Menopause pada Wanita