• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis Usaha Agribisnis Ayam Ras Pedaging di Indonesia

TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Deskripsi Umum Ayam Ras Pedaging

2.3.3. Jenis Usaha Agribisnis Ayam Ras Pedaging di Indonesia

Usaha agribisnis ayam ras pedaging merupakan suatu sistem yang utuh dan tidak terpisah-pisah. Hingga saat ini ruang lingkup usaha agribisnis ayam ras pedaging di Indonesia telah cukup luas yaitu meliputi usaha pembibitan, usaha budidaya, usaha industri pengolahan, dan usaha pemasaran (Suharno, 2004). a.Usaha Pembibitan

Usaha pembibitan adalah usaha peternakan yang menghasilkan ternak untuk dipelihara lagi dan bukan untuk dikonsumsi. Usaha pembibitan ayam ras pedaging meliputi pembibitan untuk menghasilkan pure line (PL) atau ayam galur murni, great grand parent stock (GGPS) atau ayam bibit buyut, grand parent stock (GPS) atau ayam bibit nenek, parent stock (PS) atau ayam induk, dan final stock (FS) atau ayam niaga.

Sampai tahun 1993 di Indonesia tercatat ada satu perusahaan pembibitan PL, 13 pembibitan GPS, dan 105 PS (yang aktif 88 buah) dengan 13 strain ayam ras pedaging. Namun pada tahun 2000 terjadi penurunan jumlah perusahaan pembibitan, bahkan perusahaan pembibitan PL yakni PT. Anputraco sudah tidak

aktif lagi. Jumlah strain yang beredar di Indonesia juga mengalami penurunan menjadi sekitar 10 strain. Perubahan ini terjadi akibat krisis tahun 1997-1998 dan perubahan global dalam bisnis pembibitan ayam ras dunia yang menyebabkan beberapa perusahaan pembibitan besar melakukan merger dan akuisisi untuk meningkatkan kinerjanya dalam persaingan global (Suharno, 2004). Jumlah perusahaan ayam ras pedaging menurut kegiatan utama dari tahun 2000 hingga tahun 2004 ditampilkan pada Tabel 6.

Tabel 6. Jumlah Perusahaan Ayam Ras Pedaging di Indonesia Menurut Kegiatan Utama Tahun 2000-2004

Kegiatan Utama Tahun

2000 2001 2002 2003 2004

1. Pembibitan

a. Pure Line (PL) - 3 - 1 3

b. Grand Parent Stock (GPS) 1 2 3 2 4

c. Parent Stock (PS) 19 22 29 24 19

2. Budidaya 834 1.095 956 1.040 1.438

Total 854 1.119 988 1.066 1.461

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2004

Berdasarkan data yang tertera pada Tabel 6 diketahui bahwa jumlah keseluruhan perusahaan pembibitan yang ada di Indonesia hanya sekitar 2-3 persen dari total usaha peternakan ayam ras pedaging, sedangkan sisanya sebesar lebih dari 90 persen merupakan kegiatan budidaya.

Jenis strain atau galur ayam yang telah beredar di pasaran memiliki daya produktifitas relatif sama. Artinya seandainya terdapat perbedaan, perbedaanya tidak mencolok atau sangat kecil.41 Tiap jenis strain diberi nama tersendiri sesuai dengan perusahaan pembibitan yang memproduksi strain FS yang bersangkutan sehingga dikenal berbagai macam strain di pasaran (Cahyono, 2004 dalam

41Anonim. 2005. Teknologi Tepat Guna Mentri Negara Riset dan Teknologi Tentang Budidaya Peternakan, Budidaya Ayam Ras Pedaging. http://www.ristek.go.id. Diakses pada tanggal 2 Januari 2008

Sulaiman, 2007). Adapun jenis strain ayam ras pedaging yang beredar atau pernah beredar di Indonesia ditampilkan pada Lampiran 3.

b.Usaha Budidaya

Usaha budidaya ayam ras pedaging adalah usaha pemeliharaan ayam ras untuk menghasilkan produk berupa ayam konsumsi atau daging ayam (Suharno, 2004). Berdasarkan Rusastra, et.al (1988) dalam Suryani (2006) ditinjau dari sifat usaha, peternakan ayam ras pedaging merupakan salah satu jenis peternakan Non Basic Land Oriented yang berarti usaha budidaya ayam ras pedaging dapat dilakukan di daerah berlahan sempit dengan pendapatan masyarakat yang rendah, serta jumlah penduduk relatif padat. Berdasarkan UU Nomor 6 Tahun 1967 diketahui bahwa bentuk usaha peternakan terdiri dari peternakan rakyat dan perusahaan peternakan. Peternakan rakyat adalah peternakan yang dilakukan oleh rakyat antara lain petani disamping usaha pertaniannya, sedangkan perusahaan peternakan adalah peternakan yang diselenggarakan dalam bentuk suatu perusahaan secara komersil.

Di Indonesia usaha budidaya ayam ras pedaging sebagian besar diusahakan dalam skala kecil, yaitu sekitar 90 persen merupakan usaha peternakan rakyat dengan ciri utama belum memperhitungkan skala usaha ekonomis dan penggunaan teknologi masih sederhana sehingga produktivitasnya rendah dengan kualitas hasil ternak yang bervariasi (Direktorat Jenderal Peternakan, 1993). Jika dibandingkan dengan pelaku usaha peternakan ayam ras pedaging dengan skala

besar yang saat ini masih menjadi pemimpin pasar di Indonesia seperti PT. Charoen Pokphand Indonesia, PT. Sierad Produce, PT. Japfa Comfeed, dan

terhadap perubahan terutama dalam memasarkan hasil produksinyanya. Jumlah perusahaan peternak unggas di Indonesia tahun 2000-2004 ditampilkan pada Tabel 7.

Tabel 7. Jumlah Perusahaan Peternakan Unggas Menurut Badan Hukum/Usaha Tahun 2000 – 2004

Badan Hukum Tahun

2000 2001 2002 2003 2004 BUMN - 1 - - - Koperasi 9 15 12 17 19 Perorangan 1.879 2.267 1.867 1.951 2.617 Lainnya 286 353 335 439 564 Jumlah 2.174 2.636 2.214 2.407 3.200

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2004 c.Usaha Pengolahan

Usaha pengolahan atau kegiatan penanganan pascapanen merupakan usaha mengolah produk peternakan. Kegiatan pengolahan ayam ras pedaging dimulai saat pemotongan ayam hingga menjadi bermacam-macam produk. Dalam usaha agribisnis ayam ras di Indonesia saat ini, usaha pengolahan ayam pedaging yang banyak digeluti pengusaha adalah usaha pemotongan ayam di tempat pemotongan ayam atau disingkat dengan TPA (Suharno, 2004). Berkembangnya usaha ini disebabkan pada umumnya konsumen ayam lebih banyak meminta ayam potong daripada ayam olahan lanjutan, begitu juga dengan konsumen luar negeri yang lebih menyukai ayam segar sehingga produk andalan daging ayam yang diekspor ke luar negeri merupakan daging ayam beku segar (Badan Pusat Statistik, 2004).

Pada awal tahun 1995, potensi ayam potong yang bisa masuk pada usaha TPA mencapai 1,1 juta ekor/hari. Dari jumlah itu kira-kira 65 persen diantaranya berada di Jawa dan terbanyak terdapat di Jakarta (Suharno, 2004). Selain usaha pemotongan ayam, usaha pengolahan ayam ras pedaging lainnya adalah usaha pengolahan daging menjadi produk olahan seperti nugget, bakso, dan sosis. Usaha

ini umumnya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki modal besar dan teknologi tinggi.

d.Usaha Pemasaran

Usaha pemasaran umumnya dilakukan setelah usaha pemotongan ayam di TPA. Produk yang dipasarkan berupa ayam potong segar, ayam potong beku , dan ayam olahan seperti nugget, bakso, dan sosis (Suharno, 2004). Selain itu usaha pemasaran juga dilakukan terhadap ayam hidup dan juga bibit ayam.

Keadaan pasar komoditas daging ayam ras di Indonesia dapat dibagi menjadi musim ramai dan musim sepi. Musim ramai biasanya terjadi pada hari-hari besar keagamaan seperti hari-hari raya Idul Fitri, hari-hari Natal, dan tahun baru. Kecenderungan yang terjadi pada musim ramai adalah permintaan terhadap komoditas daging ayam ras meningkat tajam, sehingga hal ini dimanfaatkan oleh kalangan peternak dan kalangan di luar peternak (peternak musiman) untuk memacu produksi daging ayam ras di dalam negeri. Hal ini tidak jarang justru menyebabkan over produksi di pasar sehingga menurunkan harganya di dalam negeri. Keadaan sebaliknya terjadi pada musim sepi.

Ayam ras pedaging yang dipasarkan ke luar negeri sebagian besar berupa daging ayam dalam bentuk segar maupun olahan dengan persentase sekitar 96 persen, sedangkan sisanya berupa bibit ayam (Departemen Pertanian, 2006). Negara tujuan ekspor utama adalah Jepang, Hongkong, dan Uni Emirat Arab. Dari segi pasar dalam negeri, sebagian besar daging ayam ras produksi dalam negeri (80 persen) terdistribusi pada pasar tradisional dan sisanya (20 persen) terserap oleh pasar supermarket dan restoran siap saji, sehingga harga dan jumlah produksi daging ayam ras yang ada di pasar sulit untuk dikendalikan, hal ini memicu

masuknya daging ayam impor ke dalam negeri dengan jalur tidak resmi (Suryani, 2006). Negara pengekspor daging ayam ras untuk Indonesia diantaranya adalah Amerika Serikat, Cina, Brazil, dan Australia.