• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kabupaten Boyolali

Dalam dokumen MINAPOLITAN BERBASIS BUDIDAYA (Halaman 144-165)

2. Minapolitan Perikanan Budidaya (MPB)

4.2. Identifikasi Permasalahan Penerapan Minapolitan (Aspek-aspek generik dan aspek-aspek khusus kesesuaian lokasi, maupun komoditas yang dan aspek-aspek khusus kesesuaian lokasi, maupun komoditas yang

4.2.2. Kabupaten Boyolali

Tabel 85. Kondisi Permasalahan Aspek Khusus

Permasalahan Aspek Khusus

Kesesuaian Komoditas unggulan - Komoditas unggulan yang ditetapkan sudah sesuai dengan potensi lahan yg tersedia

Sistem Usaha - Input Benih didapatkan dari Balai Benih Ikan dan UPR, namun kualitas benih masih belum

bersertifikat

- Input makan sudah ada dan sudah ada yang memproduksi sendiri

- Input Lainnya sudah tersedia di pasar kecamatan - Sistem usaha mina-mendong masih pada tahap

uji coba, dalam artian pengabungan 2 komoditas ini belum terlihat efektivitasannya.

Konsumsi dan Kebocoran - Adanya kebocoran PAD karena Sebagian besar masyarakat membeli kebutuhan sandang di Kota Malang

Dampak Perubahan Iklim Belum ada pelaporan tanda-tanda adanya perubahan iklim dari pembudidaya Sumber: Data Primer diolah tahun 2010

4.2.2. Kabupaten Boyolali

Pembangunan wilayah yang menerapkan kosep minapolitan budidaya perlu mempertimbangkan aspek-aspek generik seperti (a) aspek kelembagaan, (b) aspek masyarakat, (c) aspek sumberdaya dan tata ruang, (d) aspek kebijakan dan governance dan (e) aspek infrastruktur. Berdasarkan aspek tersebut diatas, identifikasi kebutuhan untuk penetapan kawasan minapolitan dapat dilakukan.

Berdasarkan aspek generik, banyak dijumpai permasalahan di lokasi penelitian karena ketidaksesuaian dengan persyaratan yang ditetapkan. Pada aspek kelembagaan permasalah yang terjadi adalah kelembagaan pelaku utama belum menunjukkan perannya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jumlah anggota yang banyak (100 orang) menyebabkan kurangnya koordinasi antara pengurus dan anggota. Kelembagaan lain yang telah terbentuk adalah kelembagaan penyedia input jasa sama halnya dengan kelembagaan pelaku utama, kelembagaan ini juga tidak berperan sebagai penyuplai benih untuk kawasan sentra produksi, sehingga

Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 129 belum tercipta hubungan yang sinergis antara sentra minapolis dan hinterland. Koperasi perikanan sebagai soko guru perekonomian pembudidaya juga belum terbentuk di kawasan minapolitan.

Pada aspek masyarakat dan bisnis telah terdapat kesesuaian antara yang dipersyarakan dengan penerapan di lapangan. Di kawasan minapolitan sebagain besar masyarakat memperoleh pendapatannya dari kegiatan perikanan dan sebagian besar kegiatan ekonomi didominasi kegiatan perikanan. Meskipun demikan masih terdapat kendala dalam pengembangan pengolahan hasil perikanan, yaitu dalam hal pemasaran dalam hasil pengolahan ikan.

Berbeda halnya dengan aspek sumber daya dan tata ruang serta kebijakan dan governance semua kondisi yang dipersyaratkan telah terpenuhi. Untuk aspek sumber daya dan tata ruang telah memiliki sumberdaya air/perairan yang sesuai dan kawasan minapolitan sesuai dengan RTRWN. Sementara aspek kebijakan dan governance berupa komitmen pemerintah yang tertuang dalam Keputusan Bupati Boyolali No. 050/519 Tahun 2008 tentang Penetapan Lokasi dan Masterplan Pengembangan Kawasan Minapolitan Kabupaten Boyolali “Kampung Lele” dan penyediaan anggaran untuk pengembangan minapolitan. Koordinasi antar instansi yang sudah terjalin baik antara pemerintah pusat, daerah maupun antar instansi didaerah.

Berkaitan dengan aspek infrastruktur teridentifikasi beberapa permasalahan seperti Balai Benih Ikan yang belum mampu memenuhi permintaan, tidak terdapat pabrik es, pakan dan cold storage serta tidak terdapat pasar ikan dan pasar benih ikan di kawasan minapolitan. Sementara untuk sarana umum jaringan telephon rumah belum menjangkau kawasn minapolitan. Kondiso permasalahan aspek generik di Kabupaten Boyolali tergambar pada tabel 86.

Tabel 86. Kondisi Permasalahan Aspek Generik di Kabupaten Boyolali

Permasalahan Aspek Generik Aspek Kelembagaan

- Adanya konflik dalam kepengurusan kelompok - Harga pakan mahal sehingga keuntungan sedikit - Belum berperannya kelembagaan input jasa benih

dan input pakan

- Masih kurangnya tenaga penyuluh

- Harga pakan mahal sehingga keuntungan sedikit - Belum ada koperasi

Aspek Masyarakat dan Bisnis - Sebagian besar pembudidaya masih pada level pemula, khususnya di Desa wajak yang sebelumnya berprofesi sebagai petani mendong

- Karena pembentukan kelompok yang relatif baru, sebagian petani ikan belum menguasai teknologi budidaya ikan

- Belum ada informasi pasar yang baik

Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 130

Aspek Sumberdaya dan Tata

Ruang - Belum terlihat integrasi (hirarki fungsional) antara kawasan sentra minapolitan dengan kawasan pendukung

Aspek Kebijakan dan

Governance - Sudah baik

Aspek Infrastruktur - BBI Belum dapat memenuhi kebutuhan benih ikan - Belum ada pasar ikan dan pasar benih ikan di sentra

kawasan minapolitan

- Belum berkembang industri produk perikanan Sumber : Data Primer Diolah, 2010

Disamping aspek generik diatas, aspek khusus juga menjadi pertimbangan dalam penerapan konsep minapolitan. Aspek khusus terdiri dari komoditas unggulan, sistem usaha, konsumsi dan kebocoran serta perubahan iklim. Keterkaitan kedua aspek tersebut diharapkan dapat menciptakan multiplier effect terhadap perubahan regional. Kondisi permasalahan aspek khusus di Kabupaten Boyolali tergambar pada tabel 87.

Tabel 87. Kondisi Permasalahan Aspek Khusus di Kabupaten Boyolali

Permasalahan Aspek Khusus Kesesuai Komoditas

Unggulan - Sudah sesuai Sistem Usaha

- Input Benih : berasal dari Tulungagung - Input Pakan : Jakarta dan Surabaya,

- Pemasaran pada saat produksi ikan booming harga ikan turun

Konsumsi dan Kebocoran - Kebocoran dalam input produksi seperti bibit dan pakan

Dampak Perubahan Iklim - Mempengaruhi siklus tanam benih ikan Sumber: Data Primer diolah tahun 2010

Pada aspek komoditas unggulan tidak terdapat permasalahan karena penetapan ikan lele sebagai komoditas unggulan berdasarkan sektor unggulan yang sudah berkembang dan didukung oleh sektor hilirnya, kegiatan agribisnis yang banyak melibatkan pelaku dan masyarakat yang paling besar (seseuai kearifan lokal) dan mempunyai skala ekonomi yang menungkinkan untuk dikembangkan dengan orientasi lokal (Bappeda, 2008 : 32). Budidaya ikan lele mempunyai kesesuain dengan wadah budidaya kolam air tawar yang banyak terdapat di lokasi penelitian.

Produksi ikan lele dapat ditingkatkan dengan salah satunya adalah melakukan cara budidaya ikan yang baik (CBIB). Di lokasi penelitian CBIB belum terapkan oleh pembudidaya, cara budidaya yang dilakukan oleh responden masih menggunakan cara tradisional. Permodalan menjadi kendala dalam menerapkan CBIB. Penerapan CBIB akan mempengaruhi pengelolaan budidaya, kondisi alam saat ini yang cenderung mulai jenuh menyebabkan timbulnya banyak penyakit pada ikan dan

Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 131 kondisi lahan. Meskipun belum menerapkan CBIB dalam pengelolaannya, pembudidaya tidak menggunakan obat-obat untuk mempercepat panen. Obatan-obatan dan vitamin digunakan untuk mengatasi penyakit dan memperbaiki kondisi lahan budidaya.

Sistem usaha budidaya ikan lele di Kabupaten Boyolali mempunyai kendala, hal ini ditunjukkan adanya input benih ikan lele yang berasal dari luar Kabupaten Boyolali yaitu dari Kabupaten Tulungagung dan input pakan yang berasal dari Jakarta dan Surabaya. Permasalahan lain adalah jika terjadi dalam hal pemasaran pada saat produksi ikan booming harga ikan menjadi turun. Pangsa pasar terbesar adalah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), disamping konsumsi lokal dan sekitar Kabupaten Boyolali seperti Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kotamadya Solo serta Kabupaten Magelang. Kondisi tersebut diatas menyebabkan kebocoran pendapatan asli daerah. Kebocoran yang terjadi di lokasi penelitian adalah penyedia input jasa benih dan pakan. Benih ikan lele diperoleh dari Jawa Timur (Tulungagung dan Kediri). UPR yang ada tidak mampu memenuhi ukuran benih ikan lele, kontinuitas dan harga yang dipersyaratkan oleh pembudiaya pembesaran ikan lele. Demikian halnya dengan pakan, pembudiaya mendapatkan pakan dari Jakarta dan Surabaya.

Terdapat kebocoran lain mengenai konsumsi masyarakat. Lokasi minapolitan yang terletak di daerah perbatasan, menyebabkan masyarakat di kawasan minapolitan membelanjakan kebutuhan rumah tangga dan konsumsi non rumah tangga seperti pendidikan, kesehatan dan rekereasi di Kabupaten/Kota yang berbatasan langsung dengan lokasi minapolitan seperti di Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo dan Kota Solo. Dalam melakukan usaha budidaya, struktur baiaya biaya budidaya lela untuk rata-rata jumlah petakan (kolam) 50 dengan luas petakan rata-rata 40 M2 memerlukan investasi sebesar Rp 436.112.868; biaya variabel Rp 336.723.344; biaya tetap 5.964.819. Total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 342.688.162, dengan penerimaan Rp 378.908.579 dan keuntungan sebesar Rp 36.220.417 dalam satu siklus produksi. Diketahui bahwa usaha budidaya pada skala usaha kecil memiliki nilai keuntungan dan R/C ratio yang paling rendah yaitu 1.

Tabel 88. Struktur Biaya Budidaya Lele Dalam Satu Siklus Produksi

No Uraian Nilai (Rp) Keterangan

1 Investasi 436.112.868

Jumlah petakan (kolam) rata-rata 50 dengan luas petakan rata-rata 40 M2 2 Biaya Variabel 336.723.344 3 Biaya Tetap 5.964.819 4 Total Biaya 342.688.162 5 Penerimaan 378.908.579 6 Keuntungan 36.220.417

Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 132

7 R/C 1

8 PP 24

Sumber: Data Primer diolah, 2010

Berdasarkan pemaparan diatas makan dapat digambarkan jalur distribusi sarana input produksi dan pemasaran ikan lele di kawasan minapolitan.

Kampung Le le Kec. Sawit Pasar Lokal Sukoha rjo JAWA TENGAH Magela ng Kla ten Kab. Boyolali Kec. Te ras & Banyudono Jawa Timur Tulungagung Surabaya Yogyaka rta Ja karta

DKI Jakarta DI Yogyakarta

Keterangan Gambar :

: Jalur Pemasaran : Jalur Input Benih : Jalur Input Pakan

Gambar 14. Jalur Distrubusi Sarana Input Produksi dan Pemasaran Ikan Lele di Kawasan Minapolitan

Perubahan iklim merupakan salah satu aspek yang mungkin dapat mempengaruhi minapolitan. Perubahan iklim menyebabkan berbagai dampak baik terhadap lingkungan biofisik, sosial dan ekonomi. Begitu juga perubahan iklim mempengaruhi usaha budidaya ikan lele. Dampak perubahan iklim terhadap usaha budidaya adalah penyakit pada ikan lele, salinitas dan kondisi lahan yang kekurangan unsur hara. Pola adapatasi yang dilakukan oleh pembudidaya adalah penurunan jumlah pada tebar, pengaturan sirkulasi air, mengurangi jumlah pakan serta panen sebelum waktunya.

Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 133 4.2.3. Kotamadya Palangkaraya

Beberapa permasalahan yang terjadi di kotamadya Palangkaraya dari sisi Aspek Generik yang meliputi kelembagaan, masyarakat dan bisnis, sumberdaya dan tata ruang, kebijakan dan governance, serta infrastruktur. Dari sisi kelembagaan adalah belum semua pembudidaya di kotamadya palangkaraya tergabung dalam kelompok pembudidaya. Dimana secara keuangan mereka harus bergantung pada diri sendiri atau meminjam kepada tengkulak yang biasa menyediakan bibit dan pakan ikan. Untuk pemasaran, mereka harus menjual secara individual ke pasar dengan menyeberangi sungai Kahayan. Koperasi dan penyuluh kurang memberikan bantuan dan pendampingan kepada pembudidaya ikan.

Pembudidaya memiliki informasi pasar yang terbatas karena pemasaranya melalui pengumpul di pasar. Diversifikasi produk juga belum banyak terlihat khusunya untuk ikan budidaya, sedangkan untuk kerupuk amplang hanya dari perikanan tangkap untungnya sebagian besar pembudidaya sudah berpengalaman sehingga mereka bisa meningkatkan produksi untuk di jual sebagai ikan segar dengan kwalitas baik.

Untuk tata ruangnya sendiri, kawasan pahandur seberang yang merupakan permukiman penduduk dan masyarakat perikanan sendiri memang sudah sesuai dengan tata ruang kawasan dan kawasan ini juga sudah sesuai dengan potensi wilayahnya. Dilain pihak, kecamatan sedayu yang merupakan bekas kawasan perkemahan kurang sesuai jika akan di jadikan kawasan minapolitan karena kawasan tersebut tidak didominasi oleh sektor perikanan. Berbicara tentang komoditas, Ikan patin dan nila yang ditentukan sebagai komoditas unggulan sudah sesuai dengan potensi yang ada di palangkaraya dan diperkuat dengan penetapan di masterplan sehingga bisa di tingkatkan pembudidayaanya.

Infrastruktur yang merupakan pendukung perikanan juga mengalami permasalahan. Saluran irigasi tidak memadai di kec. Sebangau, dan di kecamatan pahandut tidak terdapat saluran irigasi terutama untuk air bersih karena KJAnya terdapat di bantaran sungai kahayan. Konstruksi kolam untuk budidaya juga belum memenuhi standar CBIB. Untuk Jalan, Kondisi yang kurang baik berada di kec. Sebangau, sedangkan di kec. Pahandut sudah cukup baik karena berada dalam kota. Sedangkan akses ke Pahandut bisa melalui air dengan menggunakan kapal sehingga tidak menjadi masalah. Penerangan menjadi salah satu masalah karena listrik belum sepenuhnya masuk ke pelosok sehingga jalan akses ke kec. Sebagau masih belum ada penerangan, dan sangat gelap. Untuk transportasi tidak begitu menjadi masalah karena bisa menggunakan kendaraan charter. Pasar yang sudah berkembang adalah

Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 134 pasar umum yang juga menjual ikan di kec. Pahandut, sedangkan di kec. Sebangau belum terdapat pasar ikan dan pasar benih.

Tabel 89. Kondisi Permasalahan Aspek Generik di Kabupaten Palangkaraya

Permasalahan Aspek Generik Aspek Kelembagaan

Kelembagaan Pelaku Utama - Kelembagaan pelaku utama sudah terbentuk namun baru sebagian kecil pembudidaya yang ikut serta Kelembagaan Modal - Kelembagaan permodalan/keuangan sudah ada

namun petani masih sulit untuk diakses petani Kelembagaan Pemasaran - Belum tersedianya kelembagaan pemasaran ikan.

- Ikan hasil budidaya dipasarkan di pasar umum di Kec. Pahandut

Kelembagaan Input - Sudah tersedianya kelembagaan penyedia input (sub agen)

Kelembagaan Penyuluh - Lembaga penyuluh kurang optimal dalam memberikan pembinaan dan pendampingan teknolgi terhadap petani ikan

Koperasi - Sudah terbentuk koperasi, namun masih kurang memenuhi kebutuhan petani

Aspek Masyarakat dan Bisnis

Informasi Pasar - Informasi pasar masih terbatas, pemasaran melalui pengumpul

Diversifikasi Produk - Ikan dijual dalam bentuk hidup atau segar

Aspek Sumberdaya dan Tata Ruang

Kesesuaian Lahan - Penetapan kawasan minapolis di Kecamatan Sedayu kurang sesuai karena kegiatan masyarakat dan kegiatan ekonomi tidak didominasi oleh sektor perikanan

Tata Ruang Kawasan - Di Kec. Pahandut sudah sesuai dengan tata ruang kawasan

Aspek Kebijakan dan Governance

Komitmen - Belum ada komitmen dari pemerintah daerah

khususnya di level kotamadya untuk mensukseskan program minapolitan

Koordinasi antar Instansi - Belum ada koordinasi antara level pemerintahan dan juga instansi terkait

Kesiapan Masterplan, RTRW, RPJM - Belum adanya masterplam, RTRW, RPIJM

Aspek Infrastruktur

Saluran Irigasi - Kondisi saluran irigasi di Kec. Sebangau tidak memadai

- Tidak ada irigasi di Kec. Pahandut, karena wadah budidaya adalah KJA di Sungai Kahayan

Konstruksi kolam/tambak - Konstruksi kolam belum memenuhi standar CBIB Jalan - Jaringan jalan dan aksesibilitas di Kec. Sebangau

kurang baik

Listrik - Penerangan jalan didalam desa masih minim

Pasar - Belum terdapat pasar ikan dan pasar benih ikan di lokasi Kec, Sebangau

- Terdapat pasar umum di Kec. Pahandut Sumber: Data Primer diolah Tahun 2010

Ada beberapa permasalahan pada aspek Khusus di kotamadya Palangkaraya yang meliputi sistem usaha, konsumsi dan kebocoran, serta dampak perubahan iklim. Balai benih sudah berproduksi, akan tetapi kebutuhan bibit yang cukup besar tersebut

Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 135 belum dapat dipenuhi seluruhnya oleh BBI. Pakan yang banyak tersedia berasal dari pulau Jawa sehingga harganya sangat tinggi dan menaikkan harga produksi ikan yang menyebabkan harga kalah bersaing untuk dijual ke luar pulau. Dilain pihak, pakan buatan yang dibuat oleh penduduk setempat memang sudah ada. Tetapi kwalitas pakan tersebut masih dalam tahap trial and error untuk mendapatkan kwalitas yang menghasilkan produksi ikan yang optimum. Input produksi lainnya sudah tersedia dipasar kecamatan. Karena hambatan-hambatan tersebut, metoda budidayanya belum memenuhi standard CBIB yang baik dan benar.

Tabel 90. Kondisi Permasalahan Aspek Khusus di Kotamadya Palangkaraya

Permasalahan Aspek Khusus Sistem Usaha

Benih - Input Benih didapatkan dari Balai Benih Ikan namun

belum memenuhi kebutuhan

Pakan - Di Kec. Sebangau, pembudidaya membuat pakan

sendiri, namun belum diketahui kualitasnya secara pasti

- Input Pakan sudah ada, tetapi merupakan agen besar berasal dari pulau Jawa di Kota Palangkaraya Input Lain - Input Lainnya sudah tersedia di pasar kecamatan Cara Budidaya Ikan yang Baik - Metode budidaya belum memenuhi standar CBIB

Konsumsi dan Kebocoran

Penerimaan Daerah - Kebocoran PAD pada saat pembenihan input produksi, selebihnya kebutuhan rumah tangga sudah tersedia di pasar kecamatan ataupun di pasar kotamadya

Dampak Perubahan Iklim

Penurunan kuantitas produksi - Adanya curah hujan yang tidak menentu, suhu udara dan air yang terus meningkat dan juga cukup berfluktuasi, pasang surut yang ekstrim dapat menyebabkan kematian ikan di Kec. Pahandut Sumber: Data Primer diolah tahun 2010

Struktur biaya yang dibutuhkan dalam usaha budidaya Patin dan Nila di Palangkaraya mencakup investasi sebesar Rp.1.000.000,-/karamba, biaya tetap yang dikeluarkan adalah biaya pemeliharaan karamba, sebesar Rp 200.000/musim tanam. Biaya variable yang dikeluarkan adalah untuk pembelian pakan ikan sebanyak rata-rata Rp.10.000.000,-. Sedangkan penerimaan setiap musim tanam adalah sebesar Rp.17.800.000, sehingga keuntungan yang diperoleh adalah sebesar Rp.7.600.000,-. Struktur biaya dapat dilihat di Tabel 91 berikut ini.

Tabel 91. Biaya untuk Usaha Pembenihan

NO Uraian Jumlah (Rp)

1 Investasi Rp. 1.000.000

2 Biaya tetap Rp. 200.000

Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 136

NO Uraian Jumlah (Rp)

4 Total Biaya Rp. 10.200.000

5 Penerimaan Rp. 17.800.000

6 Keuntungan Rp. 7.600.000

Sumber: Data Primer diolah, 2010

Terdapat kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada saat pembenihan input produksi karena input produksi berasal dari Jawa yang di import langsung seperti bibit dan pakan sehingga pengeluaran untuk input produksi akan mengalir ke Jawa. Selain kebutuhan produksi, kebutuhan rumah tangga sudah banyak tersedia di pasar kecamatan ataupun dipasar kotamadya, sehingga kebocorannya dapat di kurangi meskipun beberapa barang yang di jual berasap dari pulau jawa juga.

Terdapat perubahan iklim pada kotamadya Palangkaraya. Perubahan iklim tersebut diantaranya adalah curah hujan yang tidak menentu, suhu udara dan air yang terus meningkat dan juga cukup fluktuatif, pasang surut yang ekstrim dapat menyebabkan kematian ikan di kec. Pahandut. Dilain pihak, tidak dirasakan penurunan kualitas produksi, dan tidak ditemukan adanya penyakit pada ikan.

4.2.4. Kabupaten Gowa

Identifikasi permasalahan penerapan Minapolitan di Kabupaten Gowa dibagi kedalam dua aspek yaitu aspek generik dan aspek khusus. Aspek generik yang dikaji pada penelitian ini adalah aspek kelembagaan, aspek masyarakat dan bisnis, aspek sumber daya dan tata ruang, aspek kebijakan dan governance dan aspek infrastruktur. Aspek khusus yang dikaji pada penelitian ini meliputi kesesuaian komoditas unggulan, sistem usaha, konsumsi dan kebocoran serta dampak perubahan iklim. Secara lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel xxx dan Tabel xxx.

Dari setiap aspek tersebut ditemui permasalahan-permasalahan yang dapat menghambat pengembangan program minapolitan di Kabupaten Gowa. Kelembagaan pelaku usaha yang terbentuk belum menunjukkan peran yang cukup signifikan dalam peningkatan ekonomi petani ikan. Permasalahan terkait dengan kelembagaan pelaku utama adalah keterbatasan ketrampilan petani ikan baik dari sisi teknologi maupun manajemen kewirausahaaan yang masih sangat tradisional dan sederhana. Permasalahan lain yang menjadi kendala dalam pengembangan minapolitan di Kabupaten Gowa adalah kelembagaan penyedia input terutama pakan masih belum tersedia di sentra kawasan minapolis. Sehingga dalam pemenuhan kebutuhan pakan harus didatangkan dari luar Kabupaten yaitu dari Kota Makassar.

Kelembagaan keuangan/ permodalan konvensional di kawasan minapolis sudah tersedia namun belum dapat diakses oleh petani ikan karena terkendala oleh

Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 137 anggunan yang dipersyaratkan pihak perbankan. Sementara kelembagaan keuangan mikro seperti KUR, Koperasi dan sejenisnya masih belum tersedia. Namun demikian, UPP telah menginisiasi pembentukan koperasi, namun hingga saat penelitian ini dilakukan belum ada perkembangan dan realisasinya.

Disamping itu, permasalahan kelembagaan yang menjadi hambatan dalam pengembangan program minapolitan di Kabupaten Gowa adalah masalah pemasaran. Selama ini belum ada kelembagaan pemasaran yang menangani atau menampung hasil produksi ikan. Petani ikan kesulitan dalam memasarkan hasil produksi karena jaringan pemasaran untuk komoditas ikan nila dan mas masih terbatas dan permintaan pasar untuk komoditas nila dan mas masih rendah. Sejauh ini pemasaran ikan melalui pedagang pengumpul dan pengecer yang dipasarkan ke pasar local kota Makassar Bantaeng dan Bulukumba (kebutuhan pasar tradisional untuk konsumsi rumah tangga dan rumah makan).

Permasalahan lain terkait dengan kelembagaan adalah kurangnya tenaga penyuluh yang memberikan pembinaan dan pendampingan teknologi baru kepada petani ikan di kabupaten Gowa merupakan salah satu yang menjadi kendala dalam pengembangan program minapolitan.

Dari sisi aspek masyarakat dan bisnis yang menjadi permasalahan dalam pengembangan minapolitan adalah pada umumnya petani budidaya ikan nila dan mas masih tergolong baru, sehingga ketrampilan dalam hal budidaya pun masih minim. Teknologi yang digunakan masih tradisional. Disamping itu keterampilan dalam manajemen usaha masih sederhana dan belum berorientasi bisnis, terutama pembudidaya di desa Tangkebajeng. Usaha budidaya yang dilakukan baru pada taraf uji coba di bekas lahan galian tanah untuk pembuatan batako. Konstruksi kolam masih apa adanya dan tidak berdasarkan kriteria cara budidaya ikan yang baik (CBIB). Dalam hal penerimaan teknologi baru, masyarakat masih lamban Hal ini disebabkan karena kurangnya informasi teknologi baru tentang budidaya ikan khususnya nila dan mas.

Ditinjau dari sisi sumberdaya alamnya, kabupaten Gowa memiliki potensi lahan yang besar untuk perikanan air tawar. Didalam masterplan, kawasan yang ditetapkan menjadi kawasan sentra minapolis adalah kawasan yang potensi sumber daya perikanannya sedikit dan terbatas dalam pengembangannya. Lokasi yang ditetapkan sebagai sentra minapolis diwilayah pertambakan dengan komoditas udang dan bandeng hanya merupakan komoditas penunjang. Sehingga pembangunan infrastruktur yang ada diarahkan ke kawasan perikanan tambak bukan perikanan air tawar. Sementara berdasarkan hasil penelitian, komoditas yang masih di usahakan

Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 138 oleh sebagian besar petani tambak pada saat penelitian dilakukan hanya komoditas bandeng. Tingkat produksi pada tahun terakhir cenderung menurun. Sehingga pemerintah daerah berencana melakukan revisi terhadap masterplan yang ada. Rencananya sentra minapolis akan di arahkan ke sentra perikanan darat di Desa Tangkebajeng Kecamatan Bajeng dengan komoditas unggulan nila dan mas. Namun

Dalam dokumen MINAPOLITAN BERBASIS BUDIDAYA (Halaman 144-165)