• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kabupaten Kotawaringin Barat

Dalam dokumen MINAPOLITAN BERBASIS BUDIDAYA (Halaman 130-138)

2. Minapolitan Perikanan Budidaya (MPB)

4.1.8. Kabupaten Kotawaringin Barat

Kondisi Geografis

Kabupaten Kotawaringin Barat atau dikenal dengan singkatan Kobar merupakan salah satu daerah yang ditunjuk sebagai kawasan minapolitan melalui Keputusan Menteri Kelautan & Perikanan RI No.Kep.32/MEN/2010 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan. Kabupaten Kobar ini adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah, yang berbatasan: Sebelah utara berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Barat, sebelah timur berbatasan Kabupaten Seruyan, sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Lamandau dan Sukamara dan sebelah Selatan: Laut Jawa.

Kabupaten Kobar mempunyai luas wilayah 10.759 Km2 yang terbagi menjadi enam wilayah kecamatan. Kecamatan tersebut adalah: Kecamatan Arut Selatan, Kecamatan Arut Utara, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kecamatan Kumai, Kecamatan Pangkalan Banteng, dan Kecamatan Pangkalan Lada.

Secara geografis Kabupaten Kotawaringin terletak antara daerah bujur Timur 110”25’26”-112”50’36” dan lintang selatan 1”19’35”-3’36’59”. Tingkat curah hujan mencapai 1.849 mm/tahun. Suhu rata-rata 27,48oC, dengan suhu minimum 21,6 – 23,40oC dan suhu maksimal 31,7 – 33,20 oC dan kelembaban udara sebesar 83 -89 %. Berdasarkan fisiografis, wilayah Kabupaten Kobar ini digolongkan menjadi empat bagian yaitu daerah daratan, daerah berombak (utara), daerah berombak dan berbukit, dan daerah berbukit.

Kependudukan

Jumlah penduduk Kotawaringin Barat setelah pemekaran pada tahun 2003 hingga 2009 adalah 188.494 jiwa dan 230.984 sehingga terlihat adanya peningkatan jumlah penduduk. Laju pertumbuhan penduduk 2003-2004 adalah 5,24% dan pada 2008-2009 adalah 1,58% dengan rata-rata pertumbuhan penduduk dalam 5 tahun terakhir adalah 3,52% dengan 80,61% termasuk dalam usia produktif. Jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dari pada perempuan dengan perbandingan 52,67% laki-laki dan 47,33% perempuan. Kepadatan penduduk di Kotawaringin Barat adalah 21 orang tiap km perseginya. Gambar 12 menunjukkan pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kobar tahin 2003 – 2009.

Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 115 170,000 190,000 210,000 230,000 250,000 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009

Penduduk

Gambar 12. Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Kotawaringin Barat tahun 2003 - 2009

Jika dilihat dari sektor perikanannya, jumlah penduduk terbanyak adalah pada budidaya kolam. Penambahan jumlah pembudidaya adalah pada budidaya laut. Tambah mengalami penurunan sangat jauh bahkan hamper setengahnya pada tahun 2009 dari tahun 2005. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 79.

Tabel 79. Penduduk di Kotawaringin Barat berdasarkan budidaya yang dilakukan (orang)

Jenis Usaha Kecamatan 2005 2006 2007 2008 2009

Tambak Arut Selatan 15 30 30 30 25

Kotawaringin Lama 0 0 0 0 0 Arut Utara 0 0 0 0 0 Kumai 258 186 186 186 106 Pangkalan Lada 0 0 0 0 0 Pangkalan Banteng 0 0 0 0 0 Jumlah 273 216 216 216 131

Kolam Arut Selatan 25 27 24 36 123

Kotawaringin Lama 35 14 17 15 17 Arut Utara 16 8 13 0 0 Kumai 0 10 10 16 39 Pangkalan Lada 25 37 37 20 53 Pangkalan Banteng 25 25 25 14 163 Jumlah 126 121 126 101 395

Karamba/ Jaring Apung Arut Selatan 160 96 95 100 138

Kotawaringin Lama 107 49 74 74 74 Arut Utara 0 2 24 12 12 Kumai 0 0 0 0 0 Pangkalan Lada 0 0 0 0 0 Pangkalan Banteng 0 0 0 0 0 Jumlah 267 147 193 186 224

Budidaya laut Arut Selatan 0 0 0 0 0

Kotawaringin Lama 0 0 0 0 0

Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 116

Jenis Usaha Kecamatan 2005 2006 2007 2008 2009

Kumai 30 40 30 30 55

Pangkalan Lada 0 0 0 0 0

Pangkalan Banteng 0 0 0 0 0

Jumlah 30 40 30 30 55

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kotawaringin Barat

Sumberdaya dan Tata Ruang

Kecamatan Kumai mempunyai sumberdaya yang mendukung kegiatan budidaya udang, bandeng dan rumput laut. Jumlah luas lahan pada setiap kecamatan dan tiap tipologi budidaya di Kabupaten Kotawaringin Barat (unit/hektar) dapat dilihat pada tabel 80.

Kabupaten Kotarwaringin Barat masih belum menentukan masterplan untuk program minapolitan. Potensi yang ada di Kotawaringin Barat bisa untuk minapolitan budidaya atau minapolitan tangkap, dan kedua potensi perikanan ini cukup besar. Perikanan budidayanya masih sedang berkembang tapi memiliki potensi yang besar, sedangkan untuk perikanan tangkap sudah cukup berkembang. Oleh karena itu pemerintah belum membentuk RTRW.

Tabel 80. Jumlah luasan lahan pada setiap kecamatan dan tiap tipologi budidaya di Kabupaten Kotawaringin Barat (unit/hektar)

Jenis Usaha Kecamatan 2005 2006 2007 2008 2009

Tambak Arut Selatan 75 75 70 70 30

Kotawaringin Lama 0 0 0 0 0 Arut Utara 0 0 0 0 0 Kumai 567 403 308.5 308.5 148.5 Pangkalan Lada 0 0 0 0 0 Pangkalan Banteng 0 0 0 0 0 Jumlah 642 478 378.5 378.5 178.5

Kolam Arut Selatan 9.5 25 12.4 36.2 41.4

Kotawaringin Lama 6.2 7 15 15 15 Arut Utara 3.6 3 7.4 0 0 Kumai 0 5 4.6 16.4 16.4 Pangkalan Lada 6.2 19 16.2 20.1 21.1 Pangkalan Banteng 4.5 15 14.5 14.5 24.1 Jumlah 30 74 70.1 102.2 118

Karamba/ Jaring Apung Arut Selatan 2.2 2.2 6.89 26.89 36.27 Kotawaringin Lama 2.3 2.3 3.2 3.2 3.2

Arut Utara 0 1 1 1.5 1.5

Kumai 0 0 0 0 0

Pangkalan Lada 0 0 0 0 0

Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 117

Jenis Usaha Kecamatan 2005 2006 2007 2008 2009 Jumlah 4.5 5.5 11.09 31.59 40.97

Budidaya laut Arut Selatan 0 0 0 0 0

Kotawaringin Lama 0 0 0 0 0 Arut Utara 0 0 0 0 0 Kumai 4 8 4 4 22 Pangkalan Lada 0 0 0 0 0 Pangkalan Banteng 0 0 0 0 0 Jumlah 4 8 4 4 22

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kotawaringin Barat

Potensi Perikanan

a. Budidaya Keramba

Daerah yang mempunyai potensi besar untuk budidaya keramba/jaring apung adalah Kecamatan Arut Selatan. Lokasi budidaya keramba/jaring apung ini berada di sepanjang Sungai Arut. Komoditas utama yang dikembangkan di KJA adalah ikan Nila. Berdasarkan hasil wawancara, benih Nila diperoleh dari UPR dan BBI dengan harga benih ukuran 1-3 cm sekitar Rp 150,-/ekor. Jumlah keramba yang dimiliki rata-rata sekitar 10 unit dengan ukuran 2x3 m. Kepadatan benih dalam keramba sekitar 1.500 – 2.000 ekor. Pakan yang digunakan adalah pakan buatan dengan harga sekitar Rp 290.000/ sak atau Rp 5.800/kg. Jumlah pakan selama masa pemeliharaan (5-6 bulan) membutuhkan 2500 kg. Permintaan pasar untuk ikan mencapai 2 ton/hari. Sedangkan kebutuhan benih mencapai 3 juta ekor/tahun. Sedangkan BBI baru dapat memproduksi 750ribu ekor/tahun dan UPR mencapai 500 ribu ekor/tahun. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut, benih diperoleh dari luar daerah. Kendala yang dirasakan oleh pembudidaya Nila adalah adanya perubahan alam yang dapat menyebabkan kematian pada ikan, harga pakan yang semakin mahal, harga ikan yang tidak stabil, dan belum terbentuknya koperasi.

b. Budidaya Tambak

Pada budidaya tambak, komoditas yang dikembangkan adalah Bandeng dan Udang. Tetapi pada saat survei berlangsung, sebagian besar tambak digunakan untuk budidaya Bandeng. Sentra budidaya Bandeng terdapat di Desa Sei Bakau dan Sei Cabang. Luas areal sekitar 101 Ha. Di Sei Bakau, terdapat sekitar 34 petak tambak dengan luas areal berkisar 0,5 – 1,5 Ha. Benih Bandeng diperoleh dari dari Pulau Jawa (daerah Tubun, Sidoarjo, Gresik dan Juana) dengan harga Rp.55,-/ekor. Kendala yang ditemui dalam budidaya Bandeng ini adalah kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi. Harga pupuk bersubsidi adalah Rp. 2500/kg sedangkan pupuk non subsidi sekitar

Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 118 Rp.5000/kg. Kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi ini disebabkan karena pupuk bersubsidi lebih diutamakan untuk pertanian dan perkebunan. Kendala lain adalah hama berang-berang yang memakan ikan Bandeng. Kehilangan produksi ikan Bandeng ini dapat mencapai 50% lebih. Berang-berang ini mulai muncul sekitar tahun 2008 dan belum adanya upaya untuk mengatasi masalah tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara dengan pembudidaya Udang Windu, sejak tahun 2009 petani tambak tidak lagi membudidayakan Udang Windu. Hal ini disebabkan karena produksi Udang Windu yang semakin menurun. Benih Udang Windu diperoleh dari Pulau Jawa dengan harga sekitar Rp.20/ekor untuk ukuran benih udang PL-12. Pakan yang digunakan pada budidaya Udang Windu ini adalah pakan alami. Pembudidaya Udang Windu membutuhkan pupuk Urea sekitar 25 kg dan TSP sekitar 20 Kg selama masa pemeliharaan 4,5 bulan. Bila padat tebar awal sekitar 10.000 ekor, maka akan dihasilkan panenan sekitar 2 kuintal Udang Windu dengan ukuran 40 ekor/kg. Tetapi pada hasil panen terakhir hanya diperoleh 80 kg. Menurut pembudidaya, hal ini disebabkan karena kurang optimalnya perawatan tanah dan adanya hama berang-berang.

c. Budidaya Laut

Daerah Teluk Bogam merupakan sentra budidaya Rumput laut spesies Cottoni sp. Di Teluk Bogam terdapat 20 kelompok petani rumput laut, dengan jumlah anggota kelompok sekitar 5 – 10 orang/kelompok. Teknologi yang digunakan dalam budidaya rumput Laut ini adalah Long line. Panjang tali yang digunakan adalah 25 m, rumput laut yang ditanam sekitar 15.000 rumpun. Harga bibit rumputlaut sekitar Rp.14.000/kg (1 kg bibit = 10 rumpun). Bibit awal berasal dari Kotabaru (Kalimantan Selatan). Selanjutnya kelompok menghasilkan dan mengelola bibit sendiri, untuk kebutuhan anggota kelompok maupun kelompok lainnya. Kelebihan lokasi di Teluk Bogam ini adalah dapat melakukan budidaya Rumput Laut sepanjang tahun. Wilayah pemasarannya adalah kota Semarang. Harapan kelompok rumput laut adalah Pemda segera mengatur tata ruang untuk budidaya rumput laut. Karena jika rumputlaut ini terus berkembang dikhawatirkan akan terjadi konflik antara pembudidaya.

Jenis Usaha perikanan yang berkembang di Kab. Kobar adalah perikanan tambak, kolam, keramba/jaring apung, dan budidaya laut. Produksi ikan per kecamatan di Kabupaten Kobar berdasarkan jenis usaha dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 119 Tabel 81. Produksi Ikan Berdasarkan Jenis Usaha di Kabupaten Kobar,

Tahun 2005-2009 2005 2006 2007 2008 2009 Arut Selatan 178.42 33.22 196.45 148.63 79.2 Kotawaringin Lama 0 0 0 0 0 Arut Utara 0 0 0 0 0 Kumai 750.25 488.15 267.82 285.43 316.92 Pangkalan Lada 0 0 0 0 0 Pangkalan Banteng 0 0 0 0 0 Jumlah 928.67 521.37 464.27 434.06 396.12 Arut Selatan 3.49 5.28 6.04 10.41 16.22 Kotawaringin Lama 2.84 4.54 3.95 1.93 3.5 Arut Utara 1.67 1.33 0.71 0 0 Kumai 0 1.76 1.45 3.27 6.1 Pangkalan Lada 4.43 1.82 3.74 4.87 8.61 Pangkalan Banteng 3.33 1.53 3.3 3.2 11.15 Jumlah 15.76 16.26 19.19 23.68 45.58 Arut Selatan 158.93 220.18 316.17 282.24 315.73 Kotawaringin Lama 83.48 47.38 14.17 77.85 90.18 Arut Utara 0 4.15 6.35 14.32 16.81 Kumai 0 0 0 0 0 Pangkalan Lada 0 0 0 0 0 Pangkalan Banteng 0 0 0 0 0 Jumlah 242.41 271.71 336.69 374.41 422.72 Arut Selatan 0 0 0 0 0 Kotawaringin Lama 0 0 0 0 0 Arut Utara 0 0 0 0 0 Kumai 1.1 33.9 36 36 31.3 Pangkalan Lada 0 0 0 0 0 Pangkalan Banteng 0 0 0 0 0 Jumlah 1.1 33.9 36 36 31.3

Produksi Ikan (Ton)

Jenis Usaha Kecamatan

Karamba/ Jaring Apung

Budidaya laut Kolam

Tambak

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Kotawaringin Barat

Perairan umum Kabupaten Kotawaringin Barat untuk daerah rawa pasang surut mempunyai potensi sebesar ± 10.800 ton /tahun, potensi tersebut baru termanfaat sebesar 655,20 ton/tahun (6,10%), sedang perairan laut sebesar ± 25.000 ton/tahun baru termanfaatkan sebesar 10.867,15 ton/tahun (36,14 %). Tabel di bawah ini menunjukkan data hasil produksi penangkapan ikan kelautan dalam 2 tahun terahir.

Tabel 82. Jenis Hasil Produksi di Kabupaten Kotawaringin Barat

No. Jenis hasil produksi Produksi (Ton)

2007 2008

1 Perairan umum 671,36 655,48

2 Budidaya 1.186,84 815,10

3 Perairan laut 8.176,56 8.244,68

Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan

Kecamatan Kumai dan Kecamatan Arut Selatan mempunyai potensi yang lebih besar dibandingkan dengan kecamatan lainnya. Di Kecamatan Arut Selatan, jenis usaha perikanan yang paling berkembang adalah keramba/jaring apung. Lokasi

Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 120 budidayanya adalah di sepanjang Sungai Arut dan komoditas yang berkembang adalah ikan Nila. Sedangkan di Kecamatan Kumai yang paling berkembang adalah budidaya tambak dan laut. Komoditas yang berkembang di budidaya tambak adalah Bandeng dan Udang Windu, sedangkan budidaya laut, komoditas yang berkembang adalah rumput laut dan kepiting. Dalam laporan ini, lokasi yang menjadi fokus pembahasan adalah Kecamatan Kumai.

Kelembagaan

Kelembagaan adalah salah satu aspek yang dipersyaratkan dalam pelaksanaan minapolitan. Di Kecamatan Kumai, telah terbentuk kelembagaan masyarakat yang bergerak di perikanan. Kelembagaan tersebut adalah:

a) Kelembagaan Pelaku Utama

DI Kecamatan Kumai sudah terbentuk lembaga pelaku utama, yaitu kelompok pembudidaya bandeng dan udang sebanyak 1 kelompok (di Desa Kubu) dan terdapat 20 kelompok Pembudidaya Rumput Laut di Desa Teluk Bogam. Masing-masing kelompok beranggotakan 5-10 orang. Sedangkan di Kecamatan Arut Selatan terdapat 4 kelompok budidaya.

b) Kelembagaan Pemasaran

Di Kecamatan Kumai terdapat tempat pelelangan ikan (TPI), tetapi belum berfungsi secara sempurna. Tetapi terdapat pasar ikan yang menampung hasil penangkapan dan juga budidaya perikanan.

c) Kelembagaan Permodalan

Di Kecamatan Arut Selatan belum ada lembaga permodalan termasuk Koperasi. Ada keinginan pembudidaya untuk membentuk koperasi, tetapi tidak semua pembudidaya setuju membentuk koperasi. Terutama pembudidaya berskala besar. Pembudidaya berskala besar ini biasanya menyuplai input produksi yaitu pakan. Sedangkan terdapat Koperasi Swamitra di PPI Kumai, tetapi lembaga ini belum mencapai sentra produksi di Desa Kubu, Sei Bakau dan Teluk Bogam.

d) Kelembagaan Penyedia Sarana Input

Belum terdapat penyedia input, seperti pakan dan pupuk. Pembudidaya Udang di Desa Kubu, Desa Sei Bakau dan Desa Sei Cabang membeli input produksi (pupuk) di Pasar Kumai, sedangkan benih didatangkan dari pulau Jawa. Di Kecamata Arut Selatan terdapat lembaga penyedia input, yaitu pembudidaya berskala besar.

Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 121 Pembudidaya yang membeli input produksi melakukan pembayaran dengan cara jatuh tempo. Jika panen, baru pembudidaya melakukan pembayaran.

Kebijakan Pemerintah Daerah Tentang Minapolitan

Kabupaten Kotawaringin Barat Potensi perikanan yang cukup besar, sehingga ditetapkan sebagai kawasn minapolitan melalui Keputusan Menteri No.32/MEN/2010 Tentang Penetapan lokasi Minapolitan. Tetapi sampai survey ini dilaksanakan, Pemerintah daerah belum menetapkan strategi pelaksanaan minapolitan. Walau demikian, koordinasi antara Pemerintah Pusat dan Daerah, serta koordinasi dengan instansi setempat sudah terlaksana dengan baik. Berdasarkan matrik Pengembangan kawasan minapolitan, komoditas unggul, rencana kegiatan dan pengembangan insfrastruktur tahun 2010-2014, prioritas pembangunan di Kab. Kobar akan dimulai tahun 2011.

Tahap Persiapan Minapolitan

Program minapolitan merupakan proram yang memerlukan koordinasi dengan berbagai pihak, baik pihak pemerintah pusat, daerah, stakeholder dan juga masyarakat. Pemerintah daerah Kab. Kobar sudah melaksanakan koordinasi tersebut dalam rangka persiapan minapolitan. Sebagai tahapan awal pelaksanaan minapolitan, Pemerintah Kab. Kobar mengundang lembaga penelitan dan pengembangan Pemerintah Pusat untuk mengkaji kesiapan Kab. Kobar dalam pelaksanaan Minapolitan.

Sebelum adanya program minapolitan , Pemerintah Kobar melaksanakan program agropolitan dengan komoditas unggulan Udang. Penetapan potensi komoditas unggulan ini ditetapkan melalui SK Bupati Kotawaringin Barat No.050/200/BAPP/2003 tanggal 8 Agustus 2003 tetang Penetapan Unggulan. Kawasan yang dipilih adalah kecamatan Kumai, dengan lokasi produksi di Desa Sebuai, Keraya, Teluk Bogam, Sei Bakau, Sei Cabang Timur, Kapitan dan Kelurahan Kumai Hilir. Kendala yang ditemui dalam pengembangan komoditas tersebut adalah kendala fisik, sosial, ekonomi, kelembagaan, pemasaran dan faktor alam.

Berdasarkan pengamatan lapangan, kendala yang masih ditemui adalah insfrastruktur jalan menuju Teluk Bogam masih rusak, pembudidaya udang dan bandeng masih mendapatkan kendala modal. Sedangkan pada budidaya rumput laut, kesiapan daerah dari sisi SDM, dinilai masih kurang. masyarakat masih minim dalam hal penguasaan teknis budidaya rumput laut karena pengalaman usaha mereka yang relative baru. Teknologi yang digunakan pun masih bersifat tradisional. Dari sisi

Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 122 sarana produksi, ketersediaan input produksi masih terbatas sehingga biasanya mereka harus membeli ke Kabupaten. Sedangkan dari sisi permodalan, lembaga permodalan yang ada masih terbatas pada usaha mikro. Banyak juga lembaga keuangan terutama bank yang enggan memberikan pinjaman pada sector perikanan karena dinilai tidak dapat diprediksi.

Infrastruktur

Berdasarkan persayaratan minapolitan, sarana dan prasarana yang harus dipenuhi di kawasan minapolitan, adalah: sarana pendukung perikanan (BBI, PPI, Cold storage, Pabrik Es, pabrik pakan, pasar ikan, pasar benih ikan, pusat pengolahan ikan, saluran irigasi dan SPDN), sarana umum (jaringan jalan dan aksesibilitas, transportasi, jaringan listrik, telekomunikasi dan listrik) dan tersedianya sara kesejahteraan (kesehatan, pendidikan, kesenian, rekreasi, perpustakaan dan swalayan.

Di Kabupaten Kobar, khususnya di Kecamatan Kumai, sarana pendukung yang sudah tersedia BBI (walaupun belum memenuhi kebutuhan benih), PPI, Cold storage (belum berfungsi), Pabrik Es, pusat pengolahan ikan (ikan hasil tangkap laut) dan SPDN. Sedangkan sarana umum belum cukup memadai, karena kondisi jalan yang rusak, tidak ada sarana telekomunikasi, dan transportasi. Jaringan listrik terdapat di rumah-rumah penduduk. Tetapi di lokasi budidaya dan sepanjang jalan tidak ada jaringan listrik.

4.2. Identifikasi Permasalahan Penerapan Minapolitan (Aspek-aspek generik

Dalam dokumen MINAPOLITAN BERBASIS BUDIDAYA (Halaman 130-138)