2. Minapolitan Perikanan Budidaya (MPB)
4.1.4. Kabupaten Gowa
Kondisi Geografis
Secara geografis Kabupaten Gowa terletak pada koordinat antara 5° 33’ 6” sampai 5° 34’ 7” Lintang Selatan dan 12° 38’ 6” sampai 12° 33’ 6” Bujur Timur. Batas-batas wilayah administratif Kabupaten Gowa adalah
- Sebelah Utara : Kota Makassar dan Kabupaten Maros - Sebelah Timur : Kabupaten Sinjai, Bulukumba dan Bantaeng - Sebelah Selatan : Kabupaten Takalar dan Kabupaten Jeneponto
- Sebelah Barat : Kabupaten Takalar, Kota Makassar dan Selat Makassar
Berdasarkan letak geografis ini, maka Kabupaten Gowa menjadi wilayah yang berbatasan langsung dengan Kota Makassar (Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan). Sebagai wilayah yang berbatasan dengan Ibukota Propinsi, daerah ini berada pada posisi yang sangat strategis dan sangat prospektif sebagai wilayah pengembangan kegiatan-kegiatan ekonomi rakyat, termasuk kegiatan pada sektor perikanan.
Luas wilayah Kabupaten Gowa adalah 1.883,33 km² atau 3,01% dari luas wilayah Sulawesi Selatan. Secara administratif pemerintahan terbagi menjadi 18 kecamatan dan 167 desa/ kelurahan. Kabupaten Gowa dilalui oleh banyak sungai yang cukup besar yaitu 15 sungai dengan luas daerah aliran yang terbesar adalah sungai Jeneberang, yaitu 881 km² dengan panjang 90 km. Secara morfologi, wilayah kawasan minapolitan Kabupaten Gowa memiliki topografi yang rendah dengan kemiringan lahan rata-rata 0-10%, yang dipengaruhi oleh Selat Makassar.
Secara klimatologi, Kabupaten Gowa terletak pada posisi iklim musim barat, dimana mengenal 2 musim, yaitu musim kemarau pada Bulan Juni sampai September dan musim hujan pada Bulan Oktober sampai Mei. Kondisi seperti ini berganti setiap tahun setelah masa peralihan, yaitu pada Bulan April sampai Mei dan Bulan Oktober sampai September. Rata-rata curah hujan perbulan di Kabupaten Gowa adalah 146 mm dengan suhu udara 22° sampai 26° C pada dataran rendah dan suhu udara 18° sampai 21° C pada dataran tinggi. Seperti halnya dengan daerah lain di Indonesia, di Kabupaten Gowa hanya dikenal dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau biasanya dimulai pada bulan Juni sampai September, sedangkan musim hujan dimulai pada bulan Desember sampai Maret. Keadaan seperti itu
Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 72 berganti setiap tahun setelah melewati masa peralihan, yaitu bulan April-Mei dan Oktober-Nopember.
Wilayah administrasi Kabupaten Gowa terdiri dari 18 kecamatan dan 167 desa/kelurahan dengan luas sekitar 1.883,33 km2 atau sekitar 3,01% dari luas Provinsi Sulawesi Selatan. Rincian luas daerah menurut kecamatan tersaji pada tabel berikut :
Tabel 37. Luas dan Pembagian Daerah Admnistrasi Kabupaten Gowa
No. Kecamatan (KmLuas 2) Jumlah Desa Jarak dari Ibukota Kabupaten (km)
1. Bontonompo 30,39 14 16 2. Bontonompo Selatan 29,24 9 30 3. Bajeng 60,09 14 12 4. Bajeng Barat 19,04 7 16 5. Pallangga 48,24 16 3 6. Barombong 20,67 7 7 7. Sombaopu 28,09 14 0 8. Bontomarannu 52,63 9 9 9. Pattallassang 84,96 8 13 10. Parangloe 221,16 7 27 11. Manuju 91,90 7 20 12. Tinggimoncong 142,87 7 59 13. Tombolo Pao 251,82 9 90 14. Parigi 132,76 5 70 15. Bungaya 175,53 7 46 16. Bontolempangan 142,46 8 63 17. Tompobulu 132,54 8 125 18. Biringbulu 218,84 11 140 Jumlah 1.833,33 167
Sumber : Gowa dalam Angka, 2008
Kependudukan
Berdasarkan hasil Susenas 2007, jumlah penduduk Kabupaten Gowa tercatat sebesar 594.423 jiwa dan merupakan kabupaten terbesar ketiga jumlah penduduknya di Sulawesi Selatan setelah Kota Makassar dan Kabupaten Bone. Rincian jumlah penduduk, jumlah rumah tangga, dan kepadatan penduduk menurut kecamatan tersaji pada tabel berikut :
Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 73 Tabel 38. Jumlah Penduduk, Rumah Tangga, dan Kepadatan Penduduk
Kabupaten Gowa
No. Kecamatan Jumlah Penduduk
(Jiwa) Jumlah RT Kepadatan (jiwa/km2) 1. Bontonompo 39.181 8.293 1.289 2. Bontonompo Selatan 27.095 5.098 927 3. Bajeng 57.211 13.463 952 4. Bajeng Barat 21.866 4.728 1.148 5. Pallangga 82.226 17.532 1.705 6. Barombong 31.717 5.861 1.534 7. Sombaopu 96.070 25.849 3.420 8. Bontomarannu 27.550 6.141 523 9. Pattallassang 19.406 4.110 228 10. Parangloe 15.928 3.646 72 11. Manuju 14.310 3.266 156 12. Tinggimoncong 20.221 4.835 142 13. Tombolo Pao 26.938 5.395 107 14. Parigi 13.278 3.391 100 15. Bungaya 18.462 4.059 105 16. Bontolempangan 16.783 4.035 118 17. Tompobulu 31.241 7.072 236 18. Biringbulu 34.940 9.258 160 Jumlah 594.423 136.032 316
Sumber : Gowa dalam Angka, 2008
Berdasarkan hasil Susenas 2007, penduduk usia kerja di Kabupaten Gowa berjumlah 409.426 jiwa yang terdiri dari 198.949 laki-laki dan 210.477 wanita. Angkatan kerja dari penduduk usia kerja berjumlah 242.116 jiwa atau 59,19% dari seluruh penduduk usia kerja.
Sumberdaya dan Tata Ruang
Penggunaan lahan menurut Jenis Pemanfaatan
Pemanfaatan lahan dalam kawasan meliputi : lahan sawah, bukan sawah, dan bukan pertanian. Jenis dan luas penggunaan lahan dalam kawasan disajikan pada tabel berikut:
Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 74 Tabel 39. Luas dan Jenis Penggunaan Lahan dalam Kawasan
Jenis Penggunaan
Luas (Ha) per Kecamatan
Jumlah Bontonompo Bontonompo Selatan Bajeng Bajeng Barat Pallangga Lahan Sawah 2.282 2.118 2.625 1.300 2.859 11.184
Lahan Bukan sawah :
- Tegal - 65 990 - 1.020 2.075 - Ladang 540 - 323 210 - 1.073 - Kebun - - - - - - - Hutan Rakyat - - - - - - - Kolam/Empang - 111 - - 9 120 - Lainnya - - - - - -
Lahan Bukan Pertanian:
- Rumah/Bangunan 203 299 1.926 372 900 3.700
- Hutan Negara - - - - - -
- Lainnya 14 331 145 22 36 548
Jumlah 3.039 2.924 6.009 1.904 4.824 18.700
Sumber : Gowa dalam Angka, 2008
Sebaran data pata Tabel 39 menunjukkan bahwa penggunaan lahan untuk perikanan (kolam/empang) masih sangat relatif kecil dibanding potensi lahan yang ada. Potensi lahan yang masih sangat luas dan produktifitas komoditi perikanan yang semakin membaik memberi peluang pengembangan lahan budidaya pada masa-masa yang akan datang. Hal ini dapat dilihat dari trend pengembangan lahan yang cenderung meningkat dan animo masyarakat dalam kawasan yang semakin tinggi untuk usaha budidaya perikanan.
Sumberdaya air
Sarana penyediaan air baku untuk kebutuhan rumah tangga maupun untuk kegiatan-kegiatan lain berasal dari PAM. Sumber air baku berasal dari DAM Bili-bili, air tanah/gali, mata air, sungai dan air hujan.
Potensi Perikanan
Kabupaten Gowa memiliki potensi dalam pengembangan perikanan terutama budidaya darat (tambak, kolam/sawah) dengan luas areal 736,91 ha. Total produksi perikanan Kabupaten Gowa pada tahun 2007 sebesar 1.042,4 ton dengan nilai produksi sebesar Rp 6.593.214.000,-.
Untuk membangun sektor perikanan dan kelautan, masyarakat diarahkan agar mampu memanfaatkan sumberdaya seoptimal mungkin dan secara bertahap memposisikan sebagai alternatif basis utama pembangunan daerah. Harapan untuk
Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 75 menjadikan sektor ini sebagai basis pembangunan didasarkan pada produk domestik regional bruto (PDRB) yang disumbangkan pada struktur Potensi Perikanan daerah.
Pada tahun 2007, PDRB Kabupaten Gowa atas dasar harga berlaku sebesar Rp 4.457,66 milyar dengan distribusi terbesar dari sektor pertanian, yaitu 52,15%. Konstribusi perikanan sebagai subsektor pada sektor pertanian sebesar 3.761,26 juta atau sekitar 0,27%. Jenis usaha perikanan di Kabupaten Gowa pada umumnya budidaya darat, yakni : tambak, kolam, sawah, rawa, sungai, dan waduk. Luas dan produksi masing-masing jenis usaha disajikan pada tabel berikut :
Tabel 40. Luas dan Poduksi Perikanan Darat Kabupaten Gowa
No. Kecamatan Tambak Kolam Sawah Jumlah Luas Produksi Luas Produksi Luas Produksi Luas Produksi
1. Bontonompo - - 16,7 8,3 15,5 3,8 32,2 12,1 2. Bontonompo Selatan 136,3 71,0 - - - - 136,3 71,0 3. Bajeng - - 27,1 21,9 47,7 12,1 74,8 34,0 4. Bajeng Barat - - 14,1 12,8 20,1 4,9 34,2 17,7 5. Pallangga - - 24,9 13,7 16,6 4,1 41,5 17,8 6. Barombong - - 8,8 3,2 - - 8,8 3,2 7. Sombaopu - - 28,4 15,3 14,2 3,5 42,6 18,8 8. Bontomarannu - - 8,1 4,0 15,5 4,0 23,6 8,0 9. Pattallassang - - - - - - - - 10. Parangloe - - 7,7 7,6 28,6 7,1 36,3 14,7 11. Manuju - - - - - - - - 12. Tinggimoncong - - 9,3 4,2 47,1 11,6 56,4 15,8 13. Tombolo Pao - - 2,4 1,2 1,7 22,6 4,1 23,8 14. Parigi - - - - 15,3 3,8 15,3 3,8 15. Bungaya - - 10,8 4,5 21,5 5,3 32,3 9,8 16. Bontolempangan - - 6,6 2,6 17,3 4,3 23,9 6,9 17. Tompobulu - - 2,2 1,1 22,8 5,7 25,0 6,8 18. Biringbulu - - 7,1 3,8 - - 7,1 3,8 Jumlah 136,3 71,0 174,2 103,9 373,9 92,6 594,4 268,0
Sumber : Gowa dalam Angka, 2008 Luas = Ha Produksi = Ton Kawasan Minapolitan Bontonompo memiliki potensi pengembangan perikanan darat (budidaya). Secara umum, pengelolaan perikanan budidaya dikelompokkan dalam 2 jenis usaha, yaitu budidaya air tawar dan budidaya air payau dengan produksi utama : ikan mas, tawes, nila, gabus, sepat siam, sidat, bandeng, dan udang windu. Budidaya air tawar dilakukan di sawah (minapadi) dan kolam, sedangkan budidaya air payau dilakukan di areal pertambakan. Produksi masing-masing jenis budidaya dalam kawasan disajikan pada Tabel 41 berikut :
Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 76 Tabel 41. Luas dan Produksi Perikanan Budidaya dalam Kawasan
Kecamatan Tambak Kolam Sawah Jumlah Luas Produksi Luas Produksi Luas Produksi Luas Produksi
Bontonompo - - 16,7 8,3 15,5 3,8 32,2 12,1 Bontonompo Sel. 136,3 71,0 - - - - 136,3 71,0 Bajeng - - 27,1 21,9 47,7 12,1 74,8 34,0 Bajeng Barat - - 14,1 12,8 20,1 4,9 34,2 17,7 Pallangga - - 24,9 13,7 16,6 4,1 41,5 17,8 Jumlah 136,3 71,0 174,2 103,9 373,9 92,6 594,4 268,0
Sumber : Gowa dalam Angka, 2008 Keterangan :Luas = Ha Produksi = Ton Data pada Tabel 41 menunjukkan bahwa pemanfaatan lahan budidaya belum menghasilkan produksi yang belum optimal. Hal ini berarti bahwa pengembangan budidaya dalam kawasan sangat potensial untuk lebih dikembangkan secara optimal melalui pengembangan kawasan minapolitan dengan dukungan pembinaan RTP dari para pemangku kepentingan. Jumlah RTP dalam kawasan sebanyak 724 yang terdiri dari RTP budidaya dan RTP pada perairan umum. Rincian per kecamatan dalam kawasan disajikan pada Tabel 42.
Tabel 42. Jumlah RTP dalam Kawasan
Kecamatan Budidaya Perairan Umum Jumlah
Bontonompo 43 51 94 Bonto.Selatan 166 36 202 Bajeng 155 52 207 Bajeng Barat 89 - 89 Pallangga 65 67 132 Jumlah 518 206 724
Sumber : Gowa dalam Angka, 2008
Gambar 10. Perkembangan Produksi Perikanan Darat Perikanan di Kabupaten Gowa, Tahun 2005 – 2009
0.00 50.00 100.00 150.00 200.00 250.00 300.00 350.00 2005 2006 2007 2008 2009 Pr o d u ksi (To n ) Tahun Mas Nilem Tawes Blanak Nila Gabus Sepat Siam Mujair Bandeng Lele Udang Windu Udang Vaname Kepiting
Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 77 Kegiatan budidaya dilakukan di kolam (alih fungsi sawah dan bekas galian tanah merah). Jenis ikan yang dibudidayakan di Kabupaten Gowa sebanyak 14 jenis ikan dan udang-udangan yaitu ikan mas, nila, nilem, tawes, blanak, gabus, sepat siam, mujair, bandeng, lele, udang windu, udang vanamae, kepiting dan jenis ikan lainnya. Produksi ikan mas dan nila mendominasi kegiatan budidaya di kawasan minapolitan namun jika dilihat dari perkembangannya, kedua jenis ikan ini mengalami penurunan produksi dari tahun 2006 ke 2007, namun mulai tahun 2007 sampai dengan 2009 sudah ada peningkatan jumlah produksi namun tidak terlalu signifikan.
Kelembagaan
Kelembagaan Pelaku Utama
Sub-sistem budidaya dalam rakitan sistem agribisnis adalah kegiatan untuk menghasilan komoditi perikanan. Proses budidaya yang dilakukan oleh para petani dan nelayan umumnya masih dilakukan dengan sistem tradisional dengan peralatan yang masih sederhana. Pemberdayaan bagi petani/nelayan oleh pemerintah dan pihak swasta terus dilakukan melalui peningkatan ilmu dan teknologi terapan. Kegiatan budidaya di kawasan minapolitan relatif masih baru, sebagian besar pembudidaya belum memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam usaha budidaya. Bahkan di salah satu desa yaitu Desa Tangkebajeng, kegiatan budidaya masih dalam tahap ujicoba yaitu dengan memanfaatkan lahan bekas galian tanah untuk bahan baku batu bata (batu merah).
Di kawasan minapolitan kabupaten Gowa, sudah terbentuk kelembagaan pelaku utama, baik di sentra produksi maupun di hinterland. Sedangkan kelembagaan penyedia sarana input jasa, kelembagaan pemasaran dan kelembagaan permodalan belum terbentuk. Kelembagaan pelaku utama sudah terbentuk yaitu berupa kelompok-kelompok pembudidaya yang dipayungi oleh satu unit pelayanan pengembangan (UPP) perikanan. Kelompok pembudidaya meliputi : Kelompok Lantang Peo (15 orang), Jenetaisa (19 orang), Taisak (15 orang), Ranai dan Buana (13 orang) yang berdomisili di Desa Pabentengan. Kegiatan dalam kelompok ini adalah pembesaran ikan nila, mas dan koi. Disamping sebagian petani juga melakukan kegiatan pembenihan ikan mas, nila dan koi. Pembenihan ikan ini hanya untuk memenuhi kebutuhan kelompok. Keberadaan kelembagaan memberikan keuntungan kepada anggotanya dengan diberikan bantuan benih nila dan mas kepada anggota kelompok.
Kelembagaan Pemasaran
Pemasaran dalam struktur agribisnis perikanan merupakan salah satu simpul dalam rakitan sistem agribisnis yang aktivitas ekonominya menghubungkan antara produksi dan
Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 78 konsumsi. Di lokasi penelitian tidak ditemukan kelembagaan khusus yang menangani masalah pemasaran. Kegiatan pemasaran dalam kawasan sangat bervariasi dan umumnya didistribusikan dengan dua sistem, yaitu secara langsung ke konsumen tanpa melibatkan lembaga pemasaran dan secara tidak langsung melalui lembaga pemasaran (pengumpul dan pengecer). Pola pemasaran ini telah lama terbentuk, pembudidaya yang mempunyai lahan dan produksi yang besar telah mempunyai pelanggan pengepul. Sistem pemasarannya adalah pembudidaya mengantarkan langsung ikan pengepul, kemudian pengepul memasarkan langsung kepada pembeli atau pembeli yang langsung datang ke lokasi budidaya. Setelah terbentuk Unit Pelaksana Perikanan, terdapat sistem pemasaran yang baru yaitu melalui UPP. UPP kemudian mendistribusikan langsung ke konsumen (pengusaha di Bali) sesuai dengan kontrak kerja yang telah disepakati (saat ini kemampuan produksi adalah sekitar 1 ton per bulan). Lokasi pemasaran ikan adalah Makasar, Takalar, Jeneponto, Bantaeng dan Bulukumba. Khusus untuk lokasi Takalar dan Jeneponto dilakukan pula penjualan ikan ukuran benih selain ukuran konsumsi.
Kelembagaan permodalan
Sarana kelembagaan koperasi mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Gowa terutama dalam menumbuhkan ekonomi kerakyatan. Koperasi yang terdapat dalam kawasan terdiri dari Koperasi Unit Desa (KUD) dan Non-KUD, termasuk koperasi nelayan. Lembaga-lembaga penunjang kegiatan agribisnis perikanan dalam kawasan secara garis besar dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gowa, dunia usaha (perbankan), swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan sebagainya. Secara umum aktivitas-aktivitas dari lembaga tersebut melakukan bimbingan teknis dan pendampingan, bantuan modal secara bergulir, serta peningkatan kapasitas kelompok tani melalui pelatihan proses budidaya, pemeliharaan, manajemen panen hingga pasca panen.
Kelembagaan penyedia sarana input
Sub-sistem hulu perikanan adalah kegiatan pengadaan sarana produksi (saprokan) yang dibutuhkan untuk proses budidaya/penangkapan, misalnya : bibit, pakan, pupuk dan obat-obatan, pestisida, alat tangkap, dan lain-lain. Ketersediaan saprotan dalam jumlah, kualitas, jenis, waktu, harga, dan lokasi yang tepat merupakan indikator penentu keberhasilan dan kontinuitas usaha. Pengadaan sarana produksi dalam kawasan berasal dari pabrik yang didistribusikan ke grosir lalu ke pasar (kios-kios). Petani/nelayan membeli sarana tersebut secara pribadi atau kolektif melalui kelompok tani dari kios perikanan yang umumnya berada di pasar kecamatan dan di beberapa desa tertentu di dalam kawasan. Khususnya untuk pakan, di dalam kawasan
Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 79 belum terdapat pabrik, distributor maupun agen pakan, lokasi agen terdekat terdapat di Kota Makasar. Kebutuhan input penting lainnya adalah benih. Supply benih ikan di kawasan minapolitan berasal dari dua sumber yaitu unit pembenihan rakyat (UPR) dan balai benih ikan (BBI). Produksi dari UPR hanya mampu memenuhi sebagian kebutuhan benih anggotanya sedangkan kekurangannya berasal dari BBI. Jumlah BBI di kabupaten Gowa sebanyak 4 Balai Benih Ikan (BBI) yaitu BBI Limbung, Bontomanae, Bellapunranga dan Bulutana.
Kebijakan Pemerintah Daerah Tentang Minapolitan
Pemerintah Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan melalui Surat Keputusan Bupati Gowa Nomor 362/VII/2008 menetapkan 5 (lima) wilayah kecamatan dalam Pengembangan Kawasan Minapolitan Kabupaten Gowa. Kelima kecamatan tersebut adalah : Kecamatan Bontonompo Selatan, Kecamatan Bontonompo, Kecamatan Bajeng, Kecamatan Bajeng Barat, dan Kecamatan Pallangga. Wilayah pengembangan ini disebut “Kawasan Minapolitan Bontonompo”.
Batas-batas administratif Kawasan Minapolitan Bontonompo adalah : Sebelah Utara : Kecamatan Sombaopu Kabupaten Gowa Sebelah Timur : Kabupaten Takalar
Sebelah Selatan : Kabupaten Takalar
Sebelah Barat : Kabupaten Takalar, Kota Makassar dan Selat Makassar
Total luas kawasan adalah 187,00 km2 atau sekitar 10,20% dari total luas Kabupaten Gowa dengan jumlah penduduk sebesar 227.579 jiwa atau sekitar 38,29% dari total penduduk Kabupaten Gowa. Rincian luas setiap kecamatan dalam kawasan disajikan pada tabel berikut :
Tabel 43. Luas Wilayah dan Jumlah Desa dalam Kawasan
No. Kecamatan Luas
(Km2)
Jumlah Desa
Jarak dari Ibukota Kabupaten (km) 1. Bontonompo 30,39 14 16 2. Bontonompo Selatan 29,24 9 30 3. Bajeng 60,09 14 12 4. Bajeng Barat 19,04 7 16 5. Pallangga 48,24 16 3 Jumlah 187,00 167
Sumber : Gowa dalam Angka, 2008
Kawasan Minapolitan sangat strategis karena dilewati oleh jalur jalan arteri primer yang menghubungkan antara ibukota Propinsi Sulawesi Selatan (Kota
Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 80 Makassar) dengan beberapa kabupaten yang terletak di pesisir selatan Propinsi Sulawesi Selatan. Kondisi topografi kawasan ini relatif datar dengan ketinggian 0 – 25 m dpl yang pada umumnya terdiri dari hamparan persawahan pengairan teknis dan pengairan setengah teknis dari jaringan irigasi Dam Bili-Bili sehingga sangat potensial dikembangkan sebagai kawasan minapolitan.
Infrastruktur
Infrastruktur adalah kondisi sarana dan prasarana; baik fisik maunpun non fisik yang sesuai untuk dapat terciptanya kemandirian kawasan pedesaan kelautan dan perikanan; sesuai dengan fungsi keruangan (ekosistem) dan keterkaitan fungsional suatu kawasan minapolitan. Infrastruktur yang tersedia adalah sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana perekonomian, sarana peribadatan, jaringan listrik dan jaringan air bersih.
Prasarana dan Sarana Sosial
Prasarana dan sarana sosial di Kabupaten Gowa terdiri dari sekolah, fasilitas kesehatan, dan fasilitas peribadatan. Sarana pendidikan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) dikawasan minapolitan, hal ini terkait dengan kemampuan SDM untuk mengadopsi teknologi budidaya perikanan. Sarana pendidikan dikawasan minapolitan terdiri dari SD, SLTP dan SLTA/SMK. Jumlah sarana pendidikan dikawasan minapolitan adalah sekolah dasar sebanyak 164, sekolah lanjutan tingkat pertama 33, sekolah lanjutan tingkat pertama 12 dan sekolah kejuruan sebanyak 6. Keberadaan sarana pendidikan ini mudah dijangkau oleh masyarakat dikarena lokasi yang tidak jauh dari pemukiman pendudukan dan askses trasnportasi yang tersedia dari dan menuju sarana pendidikan. Sarana yang memadai dan tersebar merata diharapkan dapat meningkatkan kualitas SDM. Sebaran jumlah sarana pendidikan dapat dilihat pada Tabel 44.
Tabel 44. Sarana Pendidikan Di Kawasan Minapolitan Kabupaten Gowa Tahun 2008
No. Kecamatan Sekolah
SD/MI SMP/MTs SMA/MA SMK 1. Bontonompo 33 6 1 2 2. Bontonompo Selatan 28 5 3 - 3. Bajeng 42 13 5 3 4. Bajeng Barat 18 - - - 5. Pallangga 43 9 3 1 Jumlah 164 33 12 6
Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 81 Di samping pendidikan kualitas SDM manusia juga dipengaruhi oleh tingkat kesehatan masyarakat. Di Kawasan Minapolitan belum terdapat rumah sakit, terdapat rumah bersalin sebanyak 1 unit, Puskesmas terdapat dihampir seluruh kecamatan yaitu sebanyak 44 unit, poliklinik terdapat 4 unit dan posyandu terdapat 219 unit. Ketersediaan sarana kesehatan di kawasan minapolitan dapat dilihat pada Tabel 45.
Tabel 45. Sarana Kesehatan Di Kawasan Minapolitan Kabupaten Gowa Tahun 2008
No. Kecamatan Kesehatan
RS RB PKM Poliklinik Posyandu 1. Bontonompo - - 12 1 32 2. Bontonompo Selatan - - 9 - 40 3. Bajeng - - 8 1 44 4. Bajeng Barat - - 9 - 32 5. Pallangga - 1 6 2 71 Jumlah 0 1 44 4 219
Sumber : Gowa dalam Angka, 2008
Penduduk di Kawasan Minapolitan mayoritas adalah beragama Islam sehingga sarana peribadatan yang tersedia berupa masjid sebanyak 301 unit dan mushola 27 unit. Sebaran tempat peribadatan di kawasan minapolitan dapat dilihat pada Tabel 46.
Tabel 46. Sarana Peribadatan Di Kawasan Minapolitan Kabupaten Gowa Tahun 2008
No. Kecamatan Tempat Ibadah
Mesjid Mushallah Gereja
1. Bontonompo 49 4 - 2. Bontonompo Selatan 38 - - 3. Bajeng 77 16 - 4. Bajeng Barat 39 4 - 5. Pallangga 98 3 - Jumlah 301 27 0
Sumber : Gowa dalam Angka, 2008
Sistem Transportasi
Peran dan fungsi transportasi terhadap proses transformasi wilayah yang menghubungkan wilayah yang satu dengan wilayah yang lainnya merupakan kebutuhan aksesibilitas yang sangat penting guna menunjang pertumbuhan wilayah/kawasan. Keterkaitan tersebut terutama merupakan prasarana utama dalam hal mobilisasi barang, dan penumpang, sehingga sirkulasi pola aliran sangat
Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 82 ditentukan oleh sistem transportasi tersebut. Aspek-aspek yang erat kaitannya dalam sistem transportasi adalah kemudahan hubungan (aksesibilitas) dan ketersediaan sarana angkutan. Sistem transportasi di dalam kawasan minapolitan khususnya pada tingkat desa masih sangat minim, angkutan umum hanya terdapat pada beberapa lokasi saja seperti di Desa Bontonompo, sedangkan didesa lainnya seperti Desa Pabentengang dan Desa Tangkebajeng belum terdapat sarana transportasi umum yang menunjang mobilitas masyarakat. Sarana transportasi yang digunakan oleh masyarakat baik untuk kegiatan sehari-hari maupun aktivitas usaha budidaya adalah dengan menggunakan motor.
Jaringan Jalan
Jaringan jalan merupakan sarana penghubung antar wilayah atau kawasan yang berfungsi sebagai prasarana transportasi, yang tidak hanya digunakan sebagai jalur aliran barang dan penumpang tetapi juga berperan sebagai pembuka keterhubungan antar kawasan terutama pada kawasan yang terbelakang. Selain itu fungsi jaringan jalan dalam lingkup lokal atau lingkungan dapat berfungsi dalam menata atau mengatur pola permukiman.
Berdasarkan klasifikasi fungsi jaringan jalan, Kabupaten Gowa dilalui oleh jalan arteri sebagai jalur penghubung utama, sedangkan penghubung antar kawasan dan lingkungan permukiman dilalui oleh jalan kolektor sekunder dan jalan lokal. Jalan arteri di Kabupaten Gowa terbentang mulai dari Perbatasan Kota Sungguminasa yang menghubungkan ke wilayah Kota Makassar, dan Provinsi Sulawesi Selatan lainnya.
Jaringan jalan di Kabupaten Gowa berdasarkan jenis permukaannya dapat diklasifikasikan menjadi 3 kategori, yaitu jenis permukaan jalan berupa aspal, kerikil, tanah dan beton. Panjang jalan di seluruh wilayah Kabupaten Gowa pada Tahun 2007 mencapai 4.601,86 kilometer. Panjang jalan yang berada di bawah wewenang negara ada 21,50 Km, di bawah wewenang Propinsi ada 194.50 Km dan sisanya di bawah wewenang Kabupaten/Kota sebanyak 4.387,86 kilometer. Untuk lebih jelasnya mengenai panjang jalan di Kabupaten Gowa menurut kondisi dan jenis permukaan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 47. Wewenang Pemerintah Menurut Jenis Permukaannya dan Kondisi di Kabupaten Gowa Tahun 2007 (dalam Kilometer)
No Jenis Jalan
Panjang Jalan
Menurut Wewenang Jumlah Negara Propinsi Kabupaten
1 Aspal 21,50 186,00 890,00 1.098.30
Pengembangan Model Minapolitan Berbasis Budidaya 83 3 Tanah - - 936,70 938,70 4 Tidak Dirinci - - - - Jumlah 21,50 192,50 4.387,86 4.601,86 No Kondisi Jalan 1 Baik 21,50 187,00 628,86 837,36 2 Sedang - 3,00 683,64 686,64 3 Rusak - - 336,67 336,67 4 Rusak Berat - - 738,67 741,19 Jumlah 21,50 192,50 4.387,86 4.601,86
Sumber : Kabupaten Gowa Dalam Angka, Tahun 2008
Untuk kondisi jaringan jalan di kawasan minapolitan dimana akses utama dalan pengembangan minapolitan hal yang utama baik dalam upaya pemeliharaan peningkatan mapun pembuatan jalan usaha tani, berikut eksampel dari beberapa kondisi jaringan jalan di Kawasan Minapolitan Kabupaten Gowa.