BAB V KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DAN
5.1 Karakteristik Sosial dan Ekonomi Masyarakat
Distribusi responden menurut jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 5.1. Tabel 5.1 Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin dalam Program AHPB di
Site Satui, Kalimantan Selatan Tahun 2010
Jenis Kelamin Jumlah Persentase
Laki-laki Perempuan 78 2 97,5 2,5 Total 80 100
Tabel 5.1 menunjukkan bahwa sebagian besar (97,5%) peserta progam adalah laki-laki, namun terdapat 2,5 persen perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa ternyata program Akuhimung Petani Banua lebih banyak melibatkan masyarakat laki-laki dibandingkan perempuan.
Tingginya persentase laki-laki daripada perempuan sebagai peserta program Aku Himung Petani Banua dikarenakan kaum laki-laki dalam program sebagai kepala rumah tangga memiliki tanggung jawab bekerja dan mencari penghidupan yang layak untuk memenuhi kebutuhan rumahtangganya, karena itulah mereka terdorong untuk merubah kehidupannya dengan bergabung dalam program Akuhimung Petani Banua. Sementara perempuan dianggap sebagai pekerja rumahan yang memiliki tugas memasak, mengasuh anak, dll.
5.1.2 Umur
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (97,5%) responden termasuk ke dalam kategori usia produktif, yaitu antara 15 sampai 64 tahun. Usia responden pailng muda 23 tahun dan responden paling tua berumur 65 tahun. Distribusi responden menurut kelompok umur dapat dilihat pada tabel 5.2.
Tabel 5.2 Distribusi Responden Menurut Umur Program AHPB di Site Satui, Kalimantan Selatan Tahun 2010
Umur Jumlah Persentase
0-14 15-64 65+ 0 78 2 0 97,5 2,5 Total 80 100
5.1.3 Tingkat Pendidikan Formal yang Ditamatkan Responden
Tingkat pendidikan adalah pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh responden selama hidupnya. Distribusi responden berdasarkan pendidikan formal dapat dilihat pada tabel 5.3.
Tabel 5.3 Distribusi Tingkat Pendidikan Formal Responden yang Ditamatkan Program AHPB di Site Satui, Kalimantan Selatan Tahun 2010
Pendidikan Formal Jumlah Persentase Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Sarjana 2 46 24 6 2 2,5 57,5 30 7,5 2,5 Total 80 100
Tabel 5.3 menunjukkan bahwa sebagain besar peserta program berpendidikan rendah (60% ) yaitu tidak tamat SD dan Taman SD. Namun ada juga responden (2,5%) berpendidikan tinggi yaitu telah menamatkan pendidikan di perguruan tinggi.
5.1.4 Jenis Pekerjaan
Jenis pekerjaan adalah profesi yang menopang kehidupan responden untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jenis pekerjaan dikategorikan mendadi dua, yaitu pekerjaan terkait AHPB mencakup peternak, pembudidaya ikan, dan petani serta pekerjaan lainnya. Distribusi responden berdasarkan jenis pekerjaan dapat dilihat pada tabel 5.4 di bawah ini:
Tabel 5.4 Distribusi Data Pekerjaan Responden Program AHPB di Site Satui, Kalimantan Selatan Tahun 2010
Pekerjaan Utama Jumlah Persentase Sampingan Jumlah Persentase
Petani Peternak Pembudidaya ikan PNS Karyawan swasta Penambang Batubara Guru mengaji Karyawan kios Pedagang 37 14 9 6 5 1 1 2 5 46,25 17,50 11,50 7,50 6,25 1,25 1,25 2,50 6,25 Petani Peternak Pembud. ikan Penjaga masjid Buruh 3 6 11 1 19 7,5 15,50 27,50 2,50 47,50 Total 80 100 40 100
Tabel 5.4 menunjukkan bahwa sebagian besar pekerjaan utama tersponden yang paling banyak (46,25%) adalah sebagai petani sebanyak 37 orang. Pekerjaan sampingan yang paling banyak (47,50%) adalah sebagai buruh sebanyak 19 orang.
Sebanyak 40 orang responden tidak hanya memiliki satu jenis pekerjaan saja tetapi mereka juga memiliki beberapa pekerjaan untuk menambah penghasilan. Mereka yang menjadikan AHPB sebagai pekerjaan sampingan adalah responden yang sebelumnya memiliki profesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), karyawan perusahaan swasta, pengusaha batu bara, dan pedagang. Bergabungnya mereka dalam program AHPB memberikan pemasukan tambahan pendapatan/bulan bagi mereka.
Tidak jarang responden yang sebelumnya berprofesi sebagai karyawan swasta menghendaki pekerjaan di AHPB sebagai pekerjaan utama, bahkan mereka rela melepaskan pekerjaan sebagai karyawan untuk fokus bekerja sebagai petani,
peternak, maupun pembudidaya ikan. Hal tersebut seperti yang diungkapkan SN (karyawan perkebunan sawit dan peserta program AHPB pertanian) sebagai berikut:
“Bapak ingin fokus bekerja sebagai petani dan ingin keluar sebagai karyawan, namun saat ini belum memungkinkan karena kebutuhan akan modal belum mencukupi sehingga masih mempertahankan sebagai karyawan swasta.”
Responden ingin fokus ke bidang pekerjaan AHB karena pendapatan mereka lebih besar sebagai petani dan juga mereka ingin merasakan jerih payah usaha sendiri. Jika memiliki pekerjaan ganda mereka tidak dapat meluangkan waktu cukup untuk mengurusi tanaman, ternak, maupun ikan. Seperti yang diungkapkan RH (mantan karyawan perusahaan swasta dan peserta program AHPB pertanian) sebagai berikut:
“Saya keluar dari pekerjaan saya sebagai karyawan karena ingin fokus bekerja di pertanian. Dulu ketika jadi karyawan waktu untuk mengurusi ladang sedikit sehingga hasil panen tidak maksimal. Lebih senang bekerja di ladang sendiri daripada milik orang lain walaupun beberapa kali mengalami kegagalan panen tapi saya yakin dengan kemajuan usaha saya kedepan.”
Sempat mengalami gagal panen tidak menyurutkan semangat RH untuk tetap berusaha di bidang pertanian meskipun ia telah melepaskan pekerjaannya sebagai karyawan swasta. RH berkeyakinan suatu saat nanti ia bisa mendapatkan pendapatan yang lebih besar dari usaha pertaniaannya karena ia melihat tetangganya yang melakukan usaha pertanian status sosialnya meningkat karena mampu menunaikan ibadah Haji ke Mekah.
Orang yang sudah berhaji dipandang memiliki status sosial yang tinggi. Selain adanya petani yang sudah sukses yang dijadikan contoh bagi masyarakat lainnya, harga bahan-bahan pertanian yang cukup tinggi menjadi pendorong bagi RH dan sebagian peserta lainnya untuk tetap berusaha mengembangkan pertanian. Misalnya saja untuk 1 kg cabai berkisar antara Rp 60.000,- per kilogram sampai Rp 90.000,- per kologram.
5.1.5 Tingkat Pendapatan Responden
Pendapatan rata-rata perbulan responden, yaitu pendapatan per bulan yang diperoleh responden sesuai jenis pekerjaan yang digeluti. Distribusi respoden berdasarkan tingkat pendapatan rata-rata per bulan dapat dilihat pada tabel 7.5. Tabel 5.5 Distribusi Pendapatan Responden Program AHPB di Site Satui,
Kalimantan Selatan Tahun 2010
Pendapatan Jumlah Persentase
Rendah sedang tinggi 8 66 6 10 82,5 7,5 Total 80 100
Tabel 5.5 menunjukkan sebagian besar pendapatan responden sedang (82,5%) yaitu antara > 1 juta dan < 3 juta. Ada juga responden yang memiliki pendapatan tinggi (7,5%) dengan pendapatan di atas 3 juta/bulan. Menurut data BPS Kalimantan Selatan tahun 2008, garis kemiskinan untuk wilayah Kabupaten Tanah Bumbu adalah sebesesar Rp. 210.113,-/kapita.5 Dengan menghitung pendapatan perkapita responden yaitu membagi pendapatan rumahtangga dengan jumlah anggota keluarga maka diperoleh dari 80 responden sebanyak 5 orang responden berpendapatan di bawah garis kemiskinan. Responden yang memiliki pendapatan perkapita dibawah garis kemiskinan karena pendapatan mereka perbulan < 1 juta dan juga jumlah anggota keluarga lebih dari 4 orang. Dalam rumah tangga responden sebagian besar tugas mencari nafkah dilakukan oleh kepala rumah tangga sedangkan ibu (istri) mengurusi anak dan pekerjaan rumah tangga namun terkadang ada juga yang membantu bekerja di ladang.
Responden yang rata-rata berpendapatan tinggi karena mereka tidak bekerja pada satu jenis pekerjaan saja. Misalnya, mereka yang bekerja sebagai petani juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai pedagang di sungai danau, atau juga ada yang merangkap sebagai pekerja buruh bangunan atau tenaga harian lepas pada perusahaan-perusahaan di sekitar desanya, menjadi penambang batu bara dan sebagainya. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat sekitar tambang PT
5 Garis Kemiskinan Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2004-2008, www.bps.go.id, diakses tanggal 11 Juni 2010
Arutmin Indonesia Satui Mine tidak bekerja pada satu bidang pekerjaan saja namun mereka juga memiliki pekerjaan sampingan sehingga dengan pekerjaannya itu mereka dapat memperoleh pendapatan rata-rata lebih dari satu juta setiap bulannya.
5.1.6 Kelompok Etnis (Suku)
Pada lokasi penelitian yang diamati ternyata masyarakat hidup dan berkembang di lokasi tersebut terdiri dari berbagai kelompok etnis (suku). Karakteristik responden berdasarkan kelompok etnis (suku) dapat dilihat pada Tabel 5.6.
Tabel 5.6 Distribusi Data Responden Menurut Kelompok Etnis (Suku) Program AHPB di Site Satui, Kalimantan Selatan Tahun 2010
Etnis (Suku) Jumlah Persentase
Banjar Bugis Jawa 31 3 46 38,75 3,75 57,50 Total 80 100
Data di atas menunjukkan bahwa masyarakat terdiri dari kelompok etnis Jawa lebih banyak daripada kelompok etnis Banjar, dan Bugis. Tingginya populasi kelompok etnis Jawa dibandingkan kelompok etnis (suku) lainnya karena pada penelitian tersebut merupakan kawasan transmigrasi yang umumnya di datangkan dari Puau Jawa sehingga mayoritas penduduknya lebih banyak beretnis Jawa dan telah lama menetap di kawasan tersebut.
5.1.7 Asal Mula Pekerjaan
Asal mula pekerjaan adalah jenis pekerjaan responden sebelum mengikuti program AHPB. Asal mula pekerjaan dikategorikan menjadi pekerjaan yang tergolong “baru” yaitu responden baru memiliki pekerjaan sebagai peternak, petani, dan pembudidaya ikan setelah mengikuti program AHPB serta pekerjaan yang tergolong “lama” yaitu responden yang sebelumnya tidak memiliki
pekerjaan sebagai petani, peternak, maupun sebagai pembudidaya ikan. Sebaran usaha akan disajikan melalui tabel 5.7.
Tabel 5.7 Sebaran Responden Menurut Asal Pekerjaan Program AHPB di Site Satui, Kalimantan Selatan Tahun 2010
Karakteristik Usaha Jumlah Persentase
Usaha Lama Usaha Baru 21 59 26,25 73,25 Total 80 100
Tabel 5.7 memperlihatkan bahwa usaha yang digeluti oleh responden tergolong usaha baru yaitu sebanyak 59 orang atau 73,25 persen dan sisanya yaitu 21 orang atau 26,25 persen tergolong usaha lama. Hal ini jelas menunjukkan bahwa banyak responden yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan dibidang pertanian, perikanan, dan peternakan yang merupakan program dari AHPB menjadi memiliki pekerjaan dibidang tersebut setelah bergabung dalam program AHPB pemberdayaan ekonomi CSR PT Arutmin. Sebelumnya responden ada yang tidak memiliki pekerjaan akibat di PHK, pengangguran (belum memiliki pekerjaan sama sekali), berprofesi sebagai preman dan tukang judi namun setelah adanya program AHPB mereka memiliki pekerjaan sebagai petani, peternak, maupun sebagai pembudidaya ikan.
Masyarakat yang sebelumnya memiliki pekerjaan utama sebagai PNS, karyawan, dan pedagang memilih ikut dalam program AHPB sebagai pekerjaan sampingan hal tersebut dilakukan dengan harapan agar kesejahteraannya meningkat dengan tambahan penghasilan stiap bulannya. Bahkan sebagian responden yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan sebagai petani ikut dalam program pertanian dengan harapan nantinya mereka dapat memperoleh keuntungan yang besar karena harga-harga hasil pertanian di Kalimantan Selatan yang relatif mahal karena di datangkan dari Pulau Jawa, atau setidaknya mereka mampu memenuhi kebutuhan sendiri dari hasil pertanian sendiri.
5.1.8. Jarak Tempat Tinggal Responden
Jarak tempat tinggal responden adalah jarak antara tempat tinggal responden dengan lokasi pertambangan. Jarak tempat tinggal dikategorikan menjadi Ring I, ring II, dan Ring III. Distribusi responden berdasarkan jarak tempat tinggal akan disajikan pada Tabel 5.8.
Tabel 5.8 Sebaran Responden Menurut Jarak Tempat Tinggal dalam Program AHPB di Site Satui, Kalimantan Selatan Tahun 2010
Karakteristik Usaha Jumlah Persentase
Ring I Ring II Ring III 46 30 4 57,5 37,5