• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENDEKATAN KONSEPTUAL

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.3 Modal Sosial

2.1.3.1 Definisi dan Konsep Modal Sosial

Modal sosial adalah suatu keadaan yang membuat masyarakat atau sekelompok orang bergerak untuk mencapai tujuan bersama (Djohan, 2007). Lyda Judson Hanifan dalam Djohan (2007) menguraikan peranan modal sosial secara lebih rinci dengan melibatkan kelompok dan hubungan timbal balik antar anggota masyarakat. Nilai-nilai yang mendasarinya adalah kebajikan bersama (social virtue), simpati dan empati (altruism), serta kerekatan hubungan antar-individu dalam suatu kelompok (social cohesivity).

Modal sosial yaitu perekat internal yang membuat aktivitas di dalam suatu komunitas tetap berlangsung secara fungsional. Modal sosial berada dalam struktur hubungan antar pihak yang berinteraksi walaupun dapat diteliti pada individu maupun kolektif (Serageldin, 2000)

Modal sosial didefinisikan sebagai suatu sistem yang mengacu kepada atau hasil dari organisasi sosial dan ekonomi, seperti pandangan umum (world- view), kepercayaan (trust), pertukaran timbal balik (reciprocity), pertukaran ekonomi dan informasi (informational and economic exchange), kelompok-kelompok formal dan informal (formal and informal groups), serta asosiasi-asosiasi yang melengkapi modal-modal lainnya (fisik, manusiawi, budaya) sehingga memudahkan terjadinya tindakan kolektif, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan (Colleta & Cullen, 2000 dalam Nasdian 2006).

Modal sosial adalah seperangkat nilai-nilai, norma-norma, dan kepercayaan yang memungkinkan sekelompok warga dapat bekerjasama secara efektif dan terkoordinasi untuk mencapai tujuan-tujuannnya (Putman,1993 dalam Suwartika, 2003). Sedangkan modal sosial Menurut Coleman (1988) adalah keseluruhan yang terdiri dari sejumlah aspek struktur sosial dan semua itu berfungsi memperlancar tindakan-tindakan individual tertentu di dalam suartu struktur pencerminan dari struktur kepercayaan sosial dimana tersedia jaminan-jaminan dan harapan-harapan atas suatu tindakan sosial.

Coleman (2000) dalam Suwartika (2003) menganggap kelangsungan setiap transaksi sosial ditentukan oleh adanya dan terjaganya (trust) atau amanah dari pihak-pihak yang terlibat, sehingga hubungan transaksi antar manusia, baik yang bersifat ekonomis maupun non-ekonomis, hanya mungkin bias berkelanjutan apabila ada kepercayaan antara pihak-pihak yang melakukan interaksi. Konsep modal sosial yang dipergunakan Colmean telah mendorong dilakukannya studi-studi mengenai modal sosial oleh banyak ilmuwan sosial yang lain, dan menggunakannya untuk menjelaskan berbagai fenomena sosial.

Uphoff membagi komponen modal sosial ke dalam dua kategori yaitu pertama, kategori struktural yang dihubungkan dengan berbagai bentuk asosiasi sosial. Kedua, kategori kognitif dihubungkan dengan proses–proses mental dan ide-ide yang berbasis pada ideology dan budaya. Komponen-komponen modal sosial (Uphoff, 2000 dalam Suwartika, 2003) tersebut diantaranya:

1. Hubungan sosial (jaringan); merupakan pola-pola hubungan pertukaran dan kerjasama yang melibatkan materi dan non materi. Hubungan ini memfasilitasi tindakan kolektif yang saling menguntungkan dan berbasis pada kebutuhan. Komponen ini termasuk pada kategori struktural.

2. Norma; kesepakatan-kesepakatan tentang aturan yang diyakii dan disetujui bersama

3. Kepercayaan; komponen ini menunjukkan norma tentang hubungan timbal balik, nilai-nilai untuk menjadi seseorang yang layak dipercaya. Pada bentuk ini juga dikembangkan keyakinan bahwa anggota lain akan memiliki keinginan untuk bertidak sama. Komponen ini termasuk dalam kategori kognitif

4. Solidaritas; terdapat norma-norma untuk menolong orang lain, bersama-sama, menutupi biaya bersama untuk keuntungan kelompok. Sikap-sikap kepatuhan dan kesetiaan terhadap kelompok dan keyakinan bahwa anggota lain akan melaksanakannya. Komponen ini termasuk ke dlaam kategori struktural

5. Kerjasama; terdapat norma-norma untuk bekerjasama bukan bekerja sendiri. Sikap-sikap kooperatif, keinginan untuk membaktikan diri, akomodatif, menerima tugas dan penugasan untuk kemaslahatan bersama, keyakinan bahwa kerjasama akan menguntungkan . komponen ini termasuk ke dalam kategori kognitif.

Menurut Djohan (2007), modal sosial yang ideal adalah modal sosial yang tumbuh di masyarakat. Modal sosial yang dimiliki seyogyanya memiliki muatan nilai-nilai yang merupakan kombinasi antara nilai-nilai universal yang berbasis humanisme dan nilai-nilai pencapaian (achievement values) dengan nilai-nilai lokal. Modal sosial yang berbasis pada ideologi pancasila merupakan bentuk modal sosial yang perlu dikembangkan bersama-sama guna membangun masyarakat Indonesia yang partisipatif, kokoh, terus bergerak, kreatif, kompak, dan yang menghormati manusia lain.

Modal sosial memiliki unsur-unsur penopang, diantaranya adalah sebagai berikut: (1) Social participation. Social participation berarti partisipasi sosial anggota masyarakat. Pada masyarakat tradisional, hal ini melekat dalam perayaan kelahiran, perkawinan, kematian, (2) Reciprocity atau timbal balik, yaitu saling membantu dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan orang lain dan kepentingan diri sendiri. Dengan demikian hubungan yang terjadi menyangkut hak dan tanggung jawab, (3) Trust atau kepercayaan, (4) Acceptance and diversity atau penerimaan atas keberagaman, yaitu adanya toleransi yang memperhatikan sikap dan tindak-tanduk serta perilaku yang saling hormat-menghormati, saling pengertian, dan apresiasi di antara lingkungan, (5) Norma dan nilai. Norma dan nilai merupakan value system yang akan berkembang menjadi suatu budaya, (6) Sense of efficacy atau perasaan berharga, yaitu timbulnya rasa percaya diri dengan memberikan penghargaan kepada setiap orang, dan (7) Cooperation and proactivity atau kerjasama dan proaktif. Dalam

kaitannya dengan modal sosial, kerjasama harus terus bergerak serta dituntut kreatif dan aktif (Djohan, 2007).

2.1.3.2 Tipologi dan Dimensi Modal Sosial

Djohan (2007) menyebutkan dua tipologi modal sosial, yaitu: 1. Modal Sosial Terikat (Bonding Sosial Capital);

Modal sosial terikat umumnya cenderung bersifat ekslusif dan memiliki ciri khas yang lebih berorientasi ke dalam (inward looking) daripada keluar (outword looking). Ragam masyarakat atau individu yang menjadi anggota kelompok ini umumnya homogen dan cenderung bersifat konservatif serta mengutamakan solidaritas daripada membangun diri dan kelompok sesuai nilai dan tuntutan nilai dan norma masyarakat terbuka.

2. Modal Sosial yang Menjembatani (Bridging Sosial Capital)

Modal sosial yang menjembatani memiliki kecenderungan untuk senantiasa berhubungan, berteman, dan bekerjasama dengan beragam latar belakang manusia atau kelompok. Tipologi modal sosial ini disebut sebagai bentuk modern dari pengelompokkan, grup, asosiasi, atau masyarakat, dan bersikap terbuka serta mengembangkan nilai-nilai persamaan, kebebasan, kemajemukan, kemanusiaan, dan kemandirian. Kelompok yang menjembatani biasanya mengembangkan semangat kebebasan kepada setiap anggotanya, antara lain bebas bicara, mengemukakan pendapat, dan ide yang dapat mengembangkan kelompok tersebut. Ciri lain dari kelompok brigding adalah menghormati kemajemukan dan kehumanitarian.

Terdapat empat dimensi modal sosial, yaitu: (Nasdian, 2006)

1. Integrasi (integration) yaitu ikatan yang kuat antara anggota keluarga, dan keluarga dengan tetangga sekitarnya. contohnya adalah ikatan-ikatan berdasarkan kekerabatan, etnik, dan agama

2. Pertalian (linkage), yaitu ikatan dengan komunitas lain diluar komunitas asal. Contohnya dalah jejaring (network) dan asosiasi-asosiasi bersifat kenegaraan (civic association) yang menenmbus perbedaan kekerabatan, etnik, dan agama.

3. Integrasi organisasional (organizational integrity), yaitu keefektifan dan kemampuan institusi negara untuk menjalankan fungsinya, termasuk menciptakan kepastian hukum dan menengakkan peraturan

4. Sinergi (synergy), yaitu relasi antara pemimpin dan institusi pemerintahan dengan komunitas (state-commuity relation). Fokus dalam perhatian sinergi ini adalah apakah Negara memberian ruang yang luas dan tidak bagi partisipasi warganegaranya.

Dimensi ke-1 dan ke-2 berada pada tingkat horizontal, sedangkan dimensi ketiga dan ke empat, ditambah dengan pasar (market) berada pada tingkat vertical (Woolcock dalam Nasdian, 20006).

Dokumen terkait