Menjaga bahasa asli pada bahasa penjelasan juga terdapat dalam sistem sekolah Singapura, perdana menteri pertama pascakemerdekaan, Lee Kuan Yew, meletakkan penekanan khusus pada bahasa Inggris sebagai bahasa umum yang akan menghubungkan warga negara dari berbagai latar belakang etnis dan mengikat Singapura dengan ekonomi dunia. Di luar dari bahasa asli, pada siswa-siswa sekolah menengah dapat memilih untuk belajar bahasa Perancis, Jerman, atau Jepang dan Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan memberikan pendidikan bahasa gratis untuk bahasa-bahasa tambahan yang tidak diajarkan di sekolah. Luasnya cakupan bahasa pada tingkat sekolah, dengan bahasa Inggris sebagai bahasa penjelasan di seluruh sistem, mempersiapkan dengan baik lulusan NUS untuk berperan secara internasional. Dipersyaratkannya kemampuan bahasa Inggris merupakan hal yang tidak diperdebatkan lagi di NUS dan kebijakan ini telah melayani tujuan internasional mereka dengan baik.
Di Malaysia, bahasa penjelasan di sekolah utama pemerintah diubah dari bahasa Inggris menjadi bahasa Malaysia pada tahun 1971, dengan penambahan kepada sekolah dasar dengan bahasa Cina (Mandarin), dan Tamil. Di tingkat menengah, hanya jalur bahasa Malaysia yang diberikan fasilitasi oleh pemerintah. Siswa sekolah Cina memilih untuk berubah ke jalur utama ini atau tetap di jalur swasta, yang umumnya berupa sekolah menengah Cina yang dikelola dengan baik (sekitar 60 sekolah). Tidak terdapat sekolah tingkat menengah Tamil. Di semua sekolah, bahasa Inggris diajarkan sebagai satu mata pelajaran dan tidak semua guru terlatih dalam hal tersebut.
Kebutuhan politik mempercepat jadwal implementasi perubahan dari bahasa Inggis ke Bahasa Malaysia, membuat implementasinya dimajukan menjadi pertengahan tahun 1970-an yang sebelumnya dijadwalkan tahun 1983 (Chai 1977). Staf pengajar dan mahasiswa tidak memiliki kemampuan yang sama dan dukungan infrastruktur, seperti buku dan materi referensi, masih berbahasa
The National University of Singapore dan The University of Malaya: Akar yang Sama dan ... 131
Inggris. Program pelatihan bahasa besar-besaran dilaksanakan seiring dengan usaha seadanya untuk menerjemahkan buku berbahasa Inggris menjadi Bahasa Malaysia dan kemudian menuliskannya menjadi buku yang baru.
Warga Melayu memperoleh manfaat dari perubahan cepat dalam media bahasa, khususnya mereka yang berasal dari wilayah pedesaan. Tetapi, hasil jangka pendek dari kebijakan ini, di luar dari meningkatnya tingkatan mahasiswa Melayu, adalah ketidakmampuan atau ketidakmauan banyak pihak untuk berurusan dengan bahasa Inggris. Kesempatan-kesempatan menghilang dikarenakan dalam bahasa Inggris, yang saat ini merupakan bahasa global dalam penelitian, publikasi, diskursus saintifik, dan komunikasi elektronik serta alat untuk meningkatkan mobilitas. Para mahasiswa mengulang catatan pengajar, malas untuk mengacu pada buku berbahasa Inggris, jurnal dan sumber-sumber referensi lainnya. Fokus pada bahasa Malaysia membawa bersamanya ketertarikan kepada bahasa Melayu, budaya dan sejarah, dan tren ini akan terjadi bagaimanapun juga, tergantung pada keahlian akademis dan pola dukungan keuangan. Usaha untuk menginternasionalisasi pengajaran dan penelitian telah membawa fokus baru pada ketegangan antara penguatan bahasa Inggris dan mendukung Bahasa Malaysia, bahasa nasional dan bahasa etnis Melayu. Kecuali ada perhitungan politik yang mendukung penyebaran penggunaan bahasa Inggris, keterlibatan pemuda Malaysia dalam kreasi ilmu pengetahuan global akan terus terbatas.
Sementara itu, sekitar 60 sekolah menengah Cina yang independen menerima sejumlah besar pelamar dalam tes penerimaan yang sangat kompetitif. Sejumlah orangtua Melayu dan India yang jumlahnya terus meningkat mendaftarkan anaknya ke sekolah Cina, dengan pertimbangan bahwa mereka berkualitas tinggi dengan disiplin yang tinggi. Sebagai tambahan, mereka yakin bahwa belajar bahasa Mandarin akan memberikan anak-anak mereka awal yang lebih baik dalam dunia pekerjaan dengan komunitas bisnis Cina yang kuat. Sebagian besar universitas swasta Malaysia, NUS (sejak 1998) dan sekitar 100 lembaga luar negeri menerima hasil tes keluar—United Education Certificate—untuk masuk. Sebagai respon untuk menarik kelompok pendidikan Cina, pemerintah Malaysia setuju untuk meninjau sertifikat rekomendasi kelayakan untuk penerimaan mahasiswa universitas publik secara bertahap, dengan kriteria utama mencakup kualifikasi Bahasa Malaysia (The Sun 2010,3).
Keuangan
Universitas riset kelas dunia berkarakter memiliki dukungan keuangan yang stabil dan lebih banyak, dibandingkan dengan universitas komprehensif yang fokus pada pengajaran dibandingkan dengan penelitian. Sebuah sejarah dukungan finansial yang kuat dari pemerintah, didukung dengan kesuksesan penggalangan
dana lembaga itu sendiri, cenderung untuk meningkatkan pengalaman keuangan dari universitas riset yang sukses tersebut.
Di saat komitmen keuangan pemerintah Singapura kepada pendidikan tetap dalam proporsi yang sama sejak 1962—sekitar 3 persen dari GDP-nya—proporsi pengeluaran pendidikan publik yang ditujukan ke pendidikan universitas telah meningkat dari 10,8 persen menjadi 19,8 persen antara 1962 dan 2007. Secara absolut, proporsi ini berjumlah sekitar US$1,31 miliar untuk tahun 2007, mengindikasikan bahwa ketiga universitas memiliki dasar yang kuat pada sumber-sumber keuangan pemerintah. Anggaran operasional tahunan untuk NUS pada tahun 2008–2009 mencapai US$1,55 miliar dengan hibah pemerintah merupakan 58 persen dari jumlah tersebut, meningkat dari hanya US$287,72 juta pada tahun 1990 (NUS 1990, 2009). Pada tahun 2008, total pendapatan UM adalah US$280 juta dan sekitar 68 persen dari pendapatan ini berasal dari hibah pemerintah federal (UM 2009). Bermacam-macam pembayaran sejumlah 11 persen, pendapatan investasi 10 persen, tambahan hibah 5 persen, dan 6 persen dari pendapatan lainnya (UM 2009, 298).
Walaupun pengeluaran publik untuk pendidikan di Malaysia telah berjumlah sekitar 25 persen dari anggarannya pada beberapa periode, jumlah absolutnya jelas masih jauh dibandingkan dengan Singapura. Walaupun tingginya proporsi menunjukkan kuatnya komitmen pemerintah bagi pendidikan, inefisiensi dalam pengelolaan anggaran kelembagaan, seperti yang akan didiskusikan nanti, membuat penggunaan dana kurang optimal. Lebih jauh, ekonomi Malaysia belum dalam tingkatan yang sama dengan perluasan ekonomi yang dialami ekonomi-ekonomi negara di kawasan itu. Tabel 5.2 menunjukkan peningkatan pendapatan per kapita GDP pada saat ini untuk Hong Kong SAR, Cina, Korea, Malaysia, dan Singapura antara tahun 1970 dan 2005, saat Korea, berada di belakang Malaysia pada tahun 1970, mengalami peningkatan tiga kali lipat dari pendapatan per kapita Malaysia pada tahun 2005. GDP Singapura berada lebih dari dua kali lipat dibanding Malaysia pada tahun 1970 dan terus melaju menjadi lima kali lipat pada tahun 2005. Gambaran-gambaran ini menerangkan ke tingkat terbawah tentang sumber keuangan yang tersedia untuk semua sektor.
Pertimbangan untuk para perencana adalah bahwa pengeluaran publik bagi pendidikan di Malaysia tidak menunjukkan konsistensi tentang alokasi pada bermacam subsektor. Antara 1970 dan 2006, keseluruhan pengeluaran publik untuk pendidikan sebagai suatu persentase dari GDP pada tahun 1970 berjumlah 3,98 persen, meningkat ke puncaknya pada tahun 2002 menjadi 7,66 persen, kemudian turun lagi ke 4,67 persen pada tahun 2006. Dampaknya terlihat dalam berkurangnya alokasi pengeluaran publik pada masing-masing mahasiswa (sebagai suatu persentase per kapita GDP) dari 97,83 persen pada tahun 2002 menjadi 59,72 persen pada tahun 2006 (IMF 2009). Di tahun yang sama, pengeluaran tahunan mahasiswa di NUS (US$6.300) lebih tinggi dari
The National University of Singapore dan The University of Malaya: Akar yang Sama dan ... 133
di UM (US$4.053), bahkan setelah dihitung dengan perbedaan biaya hidup antara Singapura dan Malaysia. Biaya hidup Singapura hanya 1,3 kali lebih tinggi dari Malaysia pada tahun 2006 (IMD 2006). Menurunnya alokasi berarti berkurangnya dukungan keuangan pengembangan kelembagaan. Tren ini juga merupakan bukti alokasi penelitian yang tidak konsisten seiring waktu.
Biaya kuliah mahasiswa UM mendapat subsidi yang besar; hanya US$0,94 juta, atau 3 persen dari anggaran operasional 2008 berasal dari biaya kuliah. Untuk NUS, pada tahun 2008 pendapatan dari biaya kuliah merupakan 16,6 persen dari anggaran operasionalnya. Perbandingan rata-rata biaya kuliah tahunan untuk program sarjana lokal dan internasional serta program pascasarjana di kedua universitas menunjukkan tingkat subsidi yang tinggi untuk mahasiswa lokal di UM, di mana NUS terlihat berusaha mendasari biaya kuliah mahasiswa lokal lebih kepada prinsip menutup biaya operasional. Subsidi biaya kuliah tahunan per mahasiswa lokal dari pemerintah Malaysia di jurusan sarjana ekonomi saat ini di bawah US$4.78. Untuk mahasiswa kedokteran, di saat biaya kuliah tahunan adalah US$780, subsidi biaya kuliah tahunan per mahasiswa adalah US$9.856 (Fernandez-Chung 2010). Di NUS, pada tahun 2009 rata-rata biaya kuliah tahunan mahasiswa lokal dan internasional di program sarjana ilmu kemanusiaan adalah US$4.560 dan US$6.840, menurut Kantor Pendaftaran NUS. Dalam konteks pertumbuhan ekonomi yang tidak jelas di seluruh dunia dan semakin meningkatnya biaya pendidikan tinggi, tingginya tingkat subsidi yang terjadi saat ini mungkin tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang; lebih baik mendorong strategi pembagian-beban biaya (cost sharing).
Kapasitas penggalangan dana UM tidak mampu mengatasi kesenjangan antara alokasi dari pemerintah dengan jumlah yang dibutuhkan untuk memenuhi pengeluaran pendidikan yang disyaratkan dan penelitian akademis tingkat internasional. Strategi untuk meningkatkan dan mendiversifikasi sumber pendapatan termasuk pendirian suatu pendanaan melalui sumbangan, sebagai hal yang cukup pantas dilakukan, yang terdiri dari hampir US$124 juta pada tahun 2008 (menurut Kantor Bursar UM), meningkatkan pendapatan dari kontrak konsultansi (0,89 persen dari pendapatan tahunan pada tahun 2008) dan
Tabel 5.2 Pendapatan Per Kapita Gross Domestic Product untuk Malaysia; Republik Korea Selatan; Hong Kong SAR, Cina; dan Singapura, 1970 dan 2005
Ekonomi Per Kapita GDP 1970
(Kurs Dolar AS Terbaru)
Per Kapita GDP 2005 (Kurs Dolar AS Terbaru)
Malaysia 394,1 5.141,6
Republik Korea Selatan 278,8 16.308,9
Singapura 913,8 26.892,9
Hong Kong SAR Cina 959,2 25.592,8
meningkatkan program-program yang berorientasi kepada pasar-pasar baru. Hal yang semakin memperburuk kekurangan sumber-sumber di UM adalah kekakuan modalitas keuangan pemerintah, yang utamanya berupa pendekatan sejarah dan peningkatan biaya yang dinegosiasikan (dihubungkan dengan masukan) dalam distribusi dana-dana ke universitas-universitas publik tersebut. Menyepakati hal-hal penting seperti tingkat gaji dan biaya kuliah memberikan lembaga tersebut sedikit fleksibilitas, dan UM memasukkan laporan keuangan bulanan kepada Kementerian Keuangan untuk menunjukkan bahwa pengeluaran dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan. Praktik-praktik ini diberlakukan meskipun fakta bahwa Sistem Anggaran Perubahan, yang dijalankan sebagai suatu alokasi anggaran berorientasi hasil, diterapkan pada tahun 1997. Pendekatan dengan penundaan dipasangkan ke dalam proses tersebut, sehingga memiliki kelemahan yaitu merusak prinsip efisiensi dan kelincahan lembaga untuk merespons perubahan secara cepat.