• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profesi Akademis

Dalam dokumen The Road to Academic Excellence (Halaman 134-138)

Walaupun POSTECH belum memiliki seorang pemenang hadiah Nobel di jajaran para pengajarnya, 16 penerima penghargaan ilmuwan nasional, 115 penerima penghargaan akademis atau medali dan ratusan penerima penghargaan domestik merupakan saksi atas keunggulan mereka. Kesuksesan dalam merekrut pengajar seharusnya ditambahkan pada peran penting yang dilakukan masing-masing jurusan dalam merekrut pengajar. Sekarang, merupakan hal yang lumrah di universitas riset di Korea, praktik ini dulu jarang ditempuh pada saat pertama kali diterapkan di POSTECH. Walaupun jurusan membuat rencana rekrutmen dan memulai prosesnya, beberapa langkah telah ditetapkan untuk mencegah siapa pun dari menggunakan cara tidak pantas atau pengaruh yang tidak benar dalam keputusan perekrutan. Proses perekrutan biasanya disusun sebagai berikut: (a) komite pencarian yang terdiri dari tiga sampai lima profesor tetap di jurusan, ditambah satu peninjau dari eksternal, menelaah dokumen pelamar dan merekomendasi jumlah kandidat yang cukup, biasanya lima atau lebih, untuk

Universitas Riset Kelas Dunia di Pinggiran: Pohang University of Science and Technology ... 113

kemudian mengadakan pembicaraan terbuka dan wawancara; (b) kandidat yang terpilih diwawancarai, diikuti dengan rekomendasi komite personil jurusan tentang kandidat yang paling berkualifikasi kepada komite personil universitas yang terdiri dari delapan profesor tetap lintas jurusan ditambah direktur urusan akademis dan (c) anggota-anggota komite personil universitas, semua ditunjuk oleh presiden, melaksanakan telaah akhir.

Setelah direkrut sebagai asisten atau rekan profesor, kandidat yang sukses harus memiliki persyaratan minimal untuk mendapatkan promosi, yang bervariasi antarjurusan. Umumnya, persyaratan minimal untuk promosi adalah menjadi rekan profesor, termasuk mengajar tiga atau lebih bidang studi dengan nilai evaluasi mahasiswa yang memuaskan, menerbitkan sedikitnya empat makalah penelitian (delapan makalah untuk promosi profesor penuh) pada jurnal internasional yang dikenal luas, dan melaksanakan kegiatan profesional di dalam dan di luar universitas. Walaupun standar yang diterapkan sangat tinggi, sebagian besar kandidat mampu lulus pada tinjauan promosi tersebut. Antara tahun 1997 dan 2007, lima asisten profesor dan satu asosiat profesor meninggalkan universitas karena mereka tidak mampu memenuhi syarat yang ditentukan. Selanjutnya, setelah persyaratan promosi semakin diperketat, profesor telah harus menerbitkan makalah tambahan di jurnal yang dikenal luas untuk bertahan di POSTECH dan juga agar dikenal secara internasional. Akhir-akhir ini, universitas telah menetapkan persyaratan yang lebih keras lagi, seperti persyaratan semua asisten profesor harus mengajukan dan lulus tinjauan tetap mereka7 selama tujuh tahun sejak penunjukan awal mereka. Mereka yang gagal dalam peninjauan dosen tetap mereka hanya akan memperoleh satu tahun penanguhan. Masih akan dilihat apakah standar yang keras seperti itu akan menarik ilmuwan muda berpotensi tinggi atau malahan akan membatalkan pilihan mereka pada POSTECH.

POSTECH, lembaga yang cepat berubah, telah mencoba bermacam transformasi yang mereka wajibkan pada diri mereka sendiri selama 20 tahun terakhir. Satu perubahan yang besar terkait profesi akademik adalah penerapan sistem kompensasi berdasarkan penampilan pada tahun 2000. Dengan sistem yang baru, gaji pengajar ditentukan bukan dengan senioritas, tetapi dengan pencapaian pengajar selama tiga tahun sebelumnya dalam hal mengajar, penelitian, dan pelayanan publik. Universitas kemudian menyempurnakan sistem penggajian, sehingga presiden dapat mengalokasikan insentif, berdasarkan pada enam tingkatan, kepada hanya dua per tiga dari profesor yang memenuhi syarat dengan pertimbangan dari kontribusi tahunan mereka kepada universitas, industri, dan ekonomi nasional. POSTECH merupakan salah satu pioneer dalam penerapan sistem penggajian berbasis penampilan yang saat ini secara luas telah dilembagakan di banyak universitas swasta Korea, utamanya untuk meningkatkan kompetisi di antara para pengajar.

Internasionalisasi

Sejak pendiriannya, internasionalisasi merupakan aspirasi utama POSTECH dalam rangka menjadi universitas riset kelas dunia. POSTECH membayangkan dirinya sebagai universitas yang menawarkan keunggulan dalam pendidikan dan penelitian kepada mahasiswa Korea, sehingga mereka tidak perlu belajar ke luar negeri. Untuk mencapai tujuannya, POSTECH mengembangkan jaringan penelitian dengan universitas-universitas terbaik di seluruh dunia. awalnya, pendekatan ini dimungkinkan dengan menggunakan hubungan personal para pengajar dengan universitas-universitas, seperti University of California Berkeley dan Carnegie Mellon University di Amerika Serikat, Imperial College London dan University of Birmingham di Inggris, Aachen University di Jerman dan Universite de Technologie de Campiegne di Perancis. Sejak itu, POSTECH terus memperkuat kerja sama penelitian internasional dengan mitra luar negeri di Perancis, Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat. Pada tahun 1996, POSTECH mendirikan Asosiasi Universitas Riset Asia Timur dengan universitas terdepan, seperti University of Tokyo dan Hong Kong University of Science and Technology, bersama dengan 14 universitas di negara-negara Asia Timur. Hal yang terbaru, kantor pusat Pusat untuk Teori Fisika Asia Pasifik, pusat penelitian internasional di bidang ilmu dasar, pindah ke kampus POSTECH pada tahun 2001, dan POSTECH sedang mempromosikan pendirian Max Planck Institute cabang Korea. Selanjutnya, POSTECH telah mendirikan kemitraan strategis dengan RIKEN—seperti yang telah disebutkan sebelumnya—institut penelitian ilmu alam di Jepang yang menjalankan SPring-8 (sebuah fasilitas singkroton radiasi), untuk terus memperkuat basis mereka dalam penelitian yang berdampak besar.

POSTECH juga secara bertahap memperluas program pertukaran mahasiswa internasional. Saat ini, universitas tersebut memiliki 71 universitas saudara di 19 negara, sekitar 387 mahasiswa POSTECH telah belajar singkat di luar negeri (satu atau dua semester). Sejak 2004, POSTECH telah mengirim rata-rata 90 mahasiswa per tahun ke luar negeri melalui program sesi musim panas, yang memungkinkan para mahasiswa untuk mengambil sekolah musim panas di universitas terkemuka di luar negeri. Sebaga tambahan, melalui Perkemahan Mahasiswa Asosiasi Universitas Riset Asia Timur dan Cross Straits Symposium, program pertukaran akademik (melibatkan POSTECH dan Pusan National University di Korea serta Kyushu University di Jepang) ditawarkan kepada para kandidat doktor di bidang lingkungan, energi dan material. Total terdapat 1.500 mahasiswa, dalam 10 pertukaran sejak 1999 sampai 2008, telah berpartisipasi dalam program ini. Selain kerja sama aktif mereka dengan lembaga luar negeri, POSTECH memiliki sejumlah kecil mahasiswa dan ilmuwan internasional penuh waktu. Pada tahun 2009, universitas memiliki sekitar 10 persen profesor asing, sekitar 4 persen mahasiswa internasional pada pascasarjana

Universitas Riset Kelas Dunia di Pinggiran: Pohang University of Science and Technology ... 115

dan tidak terdapat mahasiswa asing di program sarjana. Proporsi mahasiswa dan ilmuwan internasional yang rendah dan mengejutkan ini mungkin disebabkan lokasi universitas yang terletak di kota kecil yang kurang memiliki dimensi internasional.

Walaupun demikian, serangkaian pengumuman publik jelas mengindikasikan bahwa POSTECH melakukan internasionalisasi secara serius. Pada Februari 2010, universitas memberitahukan media bahwa mereka akan mengundang 10 pemenang Nobel atau penerima medali di bidangnya sebagai profesor tetap tahun itu. Setiap ilmuwan yang diundang akan diberi gaji US$ 1 juta dan tambahan US$4 juta untuk penelitian dan biaya hidup selama tiga tahun menetap di POSTECH. Jumlah total yang akan dibayarkan akan berjumlah lima kali lebih besar dari yang dibayarkan kepada ilmuwan internasional yang menjadi peserta proyek universitas kelas dunia yang dibiayai pemerintah. POSTECH juga sedang bekerja sama dengan kota Pohang untuk membuka sebuah sekolah K-12 internasional (tingkat TK-kelas 12) dekat dengan kampus. Sebagai tambahan, POSTECH akan segera mendeklarasikan dirinya sebagai kampus bilingual di mana bahasa Korea dan Inggris digunakan sebagai bahasa resmi. Dalam rencana ini, semua program sarjana (kecuali pendidikan umum) dan pendidikan pascasarjana akan diajarkan dalam bahasa Inggris. Semua seminar akademik dan rapat yang di dalamnya terdapat peserta asing akan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama. Lebih lanjut, semua dokumen resmi yang beredar di universitas akan ditulis dalam bahasa Korea dan juga Inggris.

Keuangan

Anggaran POSTECH meningkat dari US$15 juta, tingkatan pada saat pembukaannya tahun 1987, menjadi US$170 juta pada tahun 2009. Selama lima tahun pertamanya, ketergantungan keuangan POSTECH kepada University Company rata-rata adalah 80 persen, tetapi jumlah ini secara gradual mulai menurun sampai 30 persen pada tahun-tahun terakhir. Berkurangnya sumbangan dari perusahaan ke pendapatan POSTECH sebagian besar berasal dari meningkatnya pendapatan penelitian yang meningkat 40 persen dalam waktu yang sama. Di luar perubahan komposisi pendapatan ini, universitas mempertahankan proporsi biaya kuliah dan fee terhadap pendapatan total di bawah 10 persen. Menarik untuk dicatat bahwa untuk alasan seperti kurangnya budaya filantropi di masyarakat Korea dan relatif sedikitnya alumni POSTECH, donasi terhitung kurang dari 5 persen dari total pendapatan.

POSTECH telah meluaskan kerja sama penelitiannya dengan perusahaan selain POSCO dan di saat yang sama secara aktif terlibat dalam proyek-proyek yang dibiayai pemerintah. Walaupun demikian, pendanaan penelitian dari POSCO masih terhitung sebagai bagian terbesar dari pendapatan penelitian,

sekitar 50 persen. Ikatan universitas yang dekat dan sumbangan keuangan dari POSCO, paradoksnya, menghambat kerja sama universitas dengan perusahaan lainnya, sehingga juga menghambat kemampuan universitas untuk memperoleh donasi dari sumber lainnya. Dikarenakan hal in, kampanye penggalangan dana sejauh ini tidak berhasil. Universitas hanya mampu menggalang dana sejumlah US$4,3 juta sejak 1995. Tetapi, dalam hal sumbangan, POSTECH mungkin merupakan lembaga swasta terkaya di Korea, dengan saham senilai US$2 miliar pada tahun 2009. Universitas tersebut tidak memiliki kompetitor domestik dalam hal pengeluaran pengajaran per mahasiswa, sekitar US$70.000, sebuah tingkatan lima kali lebih tinggi dari universitas biasa di Korea (MEST dan KEDI 2009, 116).

Di luar besarnya kontrol pemerintah, universitas swasta di Korea hanya disubsidi secara minimal. Begitu pula dengan POSTECH. Sampai dengan pertengahan tahun 1990-an, pendanaan publik yang dialirkan ke universitas hanya mencapai 3 persen dari total pendapatan. Selama satu dekade ke belakang (2000–2010), bagaimanapun, POSTECH menyaksikan ekspansi besar dalam pendanaan publik pada penelitian, beasiswa mahasiswa, dan bahkan anggaran operasional. Pada tahun 2008, sekitar 30 persen pendanaan riset datang dari sumber-sumber publik, terutama melalui Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi. Pemerintah juga memberikan beasiswa penuh kepada semua mahasiswa yang terdaftar sampai dengan kelulusan, dengan syarat mereka mempertahankan IPK mereka di atas 3,3 (dari 4,3). Kedermawanan yang mendadak ada ini dapat disebabkan sebagian besar pada bergesernya kebijakan pendanaan pemerintah, program pendanaan kompetitif—seperti Pemikir Korea 21 (1999–2012) dan Universitas Kelas Dunia (2008–2012)—telah memainkan peran penting dalam memperluas pendanaan public kepada universitas swasta yang memiliki kemampuan penelitian yang unggul. Pendanaan berdasar— performa, diperkenalkan pada tahun 2008 dan masih berpengaruh, telah mengalokasikan pendanaan publik kepada lembaga pendidikan tinggi publik dan swasta yang terpilih berdasarkan kepada sejumlah kecil indikator penampilan yang ditentukan oleh pemerintah. Pada tahun 2010, POSTECH menerima US$2 juta dari anggaran ini. Di saat meningkatnya pendanaan publik telah membantu POSTECH mempertahankan posisinya dengan kompetitor internasional, banyak staf pengajar yang tidak dapat sepenuhnya menerima hal tersebut, mereka takut bahwa subsidi seperti itu sepertinya akan berujung pada gangguan dari sektor pemerintah yang cukup signifikan (lihat seksi selanjutnya).

Dalam dokumen The Road to Academic Excellence (Halaman 134-138)