Sejak kelahirannya, POSTECH telah menganugerahi diri mereka sendiri dengan ilmuwan yang berkompeten tinggi dan telah memberikan mereka lingkungan penelitian yang terbaik untuk meningkatkan penelitian berdampak besar. Tidak diragukan, bahkan dengan kecilnya jumlah para pengajar mereka, POSTECH telah memproduksi hasil penelitian unggulan. Pada tahun 2008, para pengajar POSTECH menerbitkan 1.464 makalah, baik secara nasional maupun internasional, atau jika dirata-rata maka menjadi enam makalah
Universitas Riset Kelas Dunia di Pinggiran: Pohang University of Science and Technology ... 109
per staf pengajar—merupakan tertinggi di antara universitas di Korea dan sebanding dengan universitas besar di Amerika Serikat. Sebagai tambahan pada aspek besarnya jumlah makalah yang diterbitkan—dan terkait pada jumlah mahasiswanya yang kecil dan kualitas makalah—POSTECH muncul dalam 20 univeritas terbaik dunia dalam indeks pengutipan per fakultas.
Di antara jurusan penelitian unggulan di POSTECH, Jurusan Kimia dan Ilmu Hayati serta Jurusan Ilmu Materi dan Peralatan yang terintegrasi merupakan yang terbaik. Dalam jurusan-jurusan tersebut, terdapat sejumlah anugerah ilmuwan terbaik dan penerima anugerah sains di antara para pengajar, sebagai tambahan dari mereka yang berkedudukan tinggi di bidangnya dalam proyek Pemikir Korea 21. Selain itu, Jurusan Ilmu Hayati dipilih untuk mendapat dukungan keuangan dari sebuah program yang dibiayai pemerintah yang menawarkan bantuan kepada universitas dalam progress mereka untuk mencapai status universitas kelas dunia. Pada Jurusan Ilmu Materi dan Peralatan, yang membutuhkan fasilitas kelas satu di setiap universitas, POSTECH mempertahankan lingkungan penelitian terbaik yang termasuk pendirian akselerator partikel dan Pusat Teknologi Nanomaterial Nasional.
Untuk terus memproduksi hasil penelitian yang berdampak besar, POSTECH telah menambah alokasi sumber-sumber strategis, kerja sama penelitian dan kemitraan penelitian internasional, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. POSTECH telah memilih untuk menekankan bidang penelitian di mana para pengajar dapat menikmati sinergi kerja sama dan juga telah mengundang ilmuwan internasional untuk berpartisipasi. Masa depan terlihat cerah terkait dengan aktifnya kerja sama penelitian internasional. Tercatat, awal tahun 2009 dan terus berlanjut sampai 2014, POSTECH telah dan akan melaksanakan penelitian berteknologi tinggi tambahan dalam kerja sama dengan 23 ilmuwan terkemuka internasional yang diundang dengan bantuan dari proyek Universitas Kelas Dunia. Tambahan lagi, universitas berencana untuk memperkuat kerja sama internasional melalui kerja sama dengan Max Planck Institute di Jerman dan RIKEN, sebuah institut penelitian ilmu alam yang mengelola SPring-8 (sebuah fasiltas sinkronton radiasi) di Jepang.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, perusahaan pendiri POSTECH, POSCO, mempertimbangkan bahwa kerja sama industrial merupakan fungsi utama universitas dan karena itu mereka mendirikan Research Institute of Industrial Science and Technology (RIST) di samping gedung utama di kampus. Beberapa risiko dapat ditimbulkan dari afiliasi dengan industri—yang paling besar adalah kurangnya integritas penelitian yang disebabkan konflik kepentingan antara pengajar dan suatu perusahaan sponsor. Juga, potensi penelitian dapat dibatasi oleh adanya kesenjangan persepsi antara penelitian yang diminta dan penelitian yang lebih diminati oleh para pengajar. Sesungguhnya, beberapa pengajar POSTECH yang bekerja di RIST sebagai peneliti tambahan
merasa frustrasi dikarenakan konflik ini, yang biasanya berkaitan dengan penelitian terapan melawan penelitian ilmu dasar. Situasi ini dapat dimengerti, mempertimbangkan bahwa POSCO pada tahun 1980-an memerlukan penelitian ilmu terapan untuk melayani agenda dan masalah perusahaan, padahal sebagian besar pengajar memperoleh pendidikan—biasanya di universitas dan pusat-pusat riset Amerika Serikat—dalam bidang penelitian ilmu dasar.
Ketegangan ini tercatat akut selama 10 tahun pertama universitas, saat pengajar yang benar-benar baru diminta untuk bergabung dengan RIST dan penunjukan akademik. Tetapi, konflik secara bertahap membaik dikarenakan dua alasan. Pertama, POSCO meninggalkan kebijakan dua penunjukan dan mulai memberikan pendanaan penelitian langsung ke individu pengajar. Kedua, dikarenakan POSCO membutuhkan teknologi maju dan ilmu pengetahuan terdepan untuk mempertahankan nilai tambah daya saingnya di atas pertumbuhan kompetitor global, mereka mulai melihat manfaat besar yang timbul dari penelitian dasar POSTECH, bukan penelitian terapannya. Tetapi, ketegangan ini mungkin masih ada, dalam bentuk baru. Walaupun pertumbuhan pendanaan publik pada penelitian telah memberikan pengajar POSTECH kebebasan yang lebih luas untuk memilih topik penelitian yang sesuai dengan minat mereka, agen pemerintah yang mensponsori telah memberikan tekanan yang lebih pada bidang-bidang strategis nasional dan juga hasil peneliti an yang dapat secepatnya dikomersialisaikan. Statistik memperlihatkan, di seluruh universitas, penelitian terapan terhitung sekitar 75 persen dari seluruh pendanaan publik dari penelitian dan pengembangan universitas (MEST 2009). Hal ini merupakan nilai yang hampir sama persis dengan pendanaan publik kepada seluruh pendanaan penelitian POSTECH. Universitas akhir-akhir ini memperoleh sejumlah US$ 98 juta dari pendanaan publik dan sekitar US$ 33 juta dari sumber swasta (POSTECH 2009). Oleh karena itu, penelitian terapan masih merupakan bentuk utama.
Meskipun keadilan dan kebersamaan telah lama menjadi karakter komunitas ilmuwan internasional, studi terbaru menunjukkan bahwa mayoritas ilmuwan di universitas Korea terlihat memiliki sikap yang mendukung komersialisasi riset (Bak 2006). Sebuah perspektif nasionalis yang berpikir komersialisasi seperti itu merupakan alat resmi untuk meningkatkan kepentingan nasional, termasuk dalam pandangan tersebut. Dukungan pemerintah Korea yang terus-menerus pada aplikasi komersil dari penelitian sains telah mendorong peran aktif universitas Korea dalam proses tersebut. POSTECH, dengan dukungan dari POSCO, telah lama melihat untuk memperbesar nilai komersil dari penelitiannya, terutama dengan membuat sebuah sistem dukungan administrasi dan menjalankan pusat inkubasi bisnis bersama dengan sebuah operasi perusahaan modal.
Sistem lanjutan POSTECH yang dibangun pada tahun 2006, yaitu Sistem Penggunaan Teknologi, mengelola interaksi penelitian, paten, dan transfer ilmu pengetahuan. Saat ini, 11 perusahaan berada dalam masa pengembangan dari
Universitas Riset Kelas Dunia di Pinggiran: Pohang University of Science and Technology ... 111
Pusat Inkubasi Bisnis Perusahaan POSTECH. POSTECH telah menginvestasikan US$6,3 juta dalam perusahaan venture-nya tersebut. Kemudian, selama 20 tahun terakhir, 26 pengajar telah memulai bisnis baru terkait dengan komersialisai hasil riset mereka. Nilai perkiraan transfer teknologi untuk tahun 2009 adalah sekitar US$2 juta, yang setara dengan sekitar 3 persen per pengajar, merupakan yang tertinggi di Korea.