Kekuatan POSTECH saat ini merupakan hasil dari berkualitasnya para pengajar, berbakat dan bekerja kerasnya para mahasiswa, dan lingkungan riset yang sangat baik. Untuk mencapai status kelas dunia, universitas, seperti universitas kelas dunia lainnya, harus mengundang ilmuwan dan mahasiswa yang bahkan lebih berbakat lagi, tidak memperdulikan dari negara mana ia berasal, untuk mempersiapkan dukungan terbaik bagi penelitian dan pengajaran. POSTECH,
Universitas Riset Kelas Dunia di Pinggiran: Pohang University of Science and Technology ... 119
bagaimanapun juga, mungkin menghadapi kesulitan dalam banyak aspek dikarenakan semakin meningkatnya kompetisi di antara universitas, lokasi yang kurang berdimensi internasional, lemahnya budaya kerja sama, keuangan yang tidak aman, dan masalah lain dalam manajemen internal.
POSTECH sedang mengalami peningkatan kompetisi tidak hanya karena tekanan globalisasi, tetapi juga karena universitas-universitas riset yang baru, kompetisi di antara universitas riset, dan meningkatnya daya tawar mahasiswa di Korea (Peterson dan Dill 1997). Universitas sains dan teknologi milik publik akhir-akhir ini didirikan di dekat kota-kota dan secara domestik kompetisi antaruniversitas semakin cepat meningkat dan bergerak secara agresif untuk merekrut para pengajar, meningkatkan tren relokasi pengajar ke Seoul dan kota-kota besar lainnya. Pertempuran memperebutkan bakat di antara universitas riset dapat disebabkan, sebagian, karena meningkatnya hibah penelitian pemerintah yang kompetitif seperti Pemikir Korea 21 dan proyek Universitas Kelas Dunia di Korea. Lebih jauh lagi, jika beberapa universitas Amerika Serikat dengan program teknik yang bagus masuk ke kota Incheon dekat Seoul sesuai rencana, kompetisi akan semakin besar. Walaupun dukungan pemerintah pada pendidikan tinggi belum menurun di Korea, semakin meningkatnya kuantitas universitas sains dan teknologi mungkin akan menyebabkan penyebaran dukungan tersebut. Situasi ini dapat menimbulkan ancaman baru bagi POSTECH, yang terletak di kota yang rapuh di mana infrastruktur sosial, budaya, dan pendidikan dalam kondisi lemah. Keadaan seperti itu akan membawa lebih banyak lagi masalah yang menantang ke POSTECH di saat mereka berusaha memperkuat dan memperbaiki posisnya sebagai universitas kelas dunia dengan menarik dan merekrut lebih banyak profesor, mahasiswa dan peneliti asing.
Untuk dapat bersaing secara global, POSTECH harus menghasilkan penelitian yang berdampak luas. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, penelitian seperi itu akan dapat dilakukan dengan menemukan bidang penelitian yang baru yang memiliki nilai tambah kompetitif dan melaksanakan kerja sama, penelitian yang kaya sinergi. Kemajuan POSTECH dalam penelitian mungkin akan dihambat, baik oleh kerentanannya terhadap pengaruh pemerintah dalam menyusun agenda penelitian dan lemahnya budaya kerja sama di antara para profesor. Walaupun pemerintah telah berusaha untuk membantu POSTECH untuk mengadakan kerja sama penelitian internasional, skala dukungan tersebut tidak cukup luas, dan dukungan tersebut cenderung dalam kasus untuk mendukung bidang sains dan teknologi strategis pemerintah yang bersifat penelitian terapan dengn perspektif relatif jangka pendek. Dengan demikian, dukungan ini mungkin dapat mengganggu atau bahkan menghambat pengembangan bidang penelitian sains dasar di POSTECH. Untuk banyak alasan, bagaimanapun juga, kerja sama di antara staf pengajar lintas disiplin ilmu belum sesuai dengan yang diharapkan. POSTECH berharap untuk mendirikan ruang penelitian terpisah, sama dengan
media lab di Massachusetts Institute of Technology, tempat kerja sama penelitian seperti itu dapat dilaksanakan.
Selama beberapa tahun terakhir ini di POSTECH, di mana hanya sedikit mahasiswa dan profesor penuh waktu internasional yang telah berada di sana, bahasa Inggris telah memperoleh popularitas yang cukup untuk dapat diterapkan secara formal sebagai bahasa penjelasan. Walaupun ini merupakan hal biasa di universitas-universitas Korea, mereka memperlihatkan sebuah tren yang meningkat dalam pendidikan sains dan teknologi. Contohnya, di Yonsei University, universitas riset swasta, satu dari dua pendidikan tingkat sarjana, rata-rata, diajarkan dalam bahasa Inggris, di mana lebih dari tujuh per 10 pendidikan yang ditawarkan dalam program teknik juga dilaksanakan seperti itu. Dalam memimpin tren ini, pada tahun 2010 POSTECH mulai mengajarkan semua pendidikan, kecuali pendidikan umum, secara eksklusif dalam bahasa Inggris. Sebuah garis besar alasan pada meningkatnya jumlah pendidikan yang diajarkan dalam bahasa Inggris adalah adanya ide bahwa hal tersebut akan lebih menarik ilmuwan dan mahasiswa internasional. Hal ini masih diragukan. Mahasiswa belajar di luar kelas sebagaimana di dalam kelas. Mahasiswa juga belajar dari guru-gurunya dan juga rekan-rekannya. Dalam hal ini, maka, penekanan akhir-akhir ini pada penggunaan suatu bahasa tertentu untuk menjelaskan adalah tidak cukup benar untuk mahasiswa internasional dalam memilih POSTECH dan mungkin akan berpengaruh negatif bagi pembelajaran mahasiswa Korea, dalam hal bahwa sedikit dari mereka yang memiliki keahlian bahasa yang dibutuhkan untuk ikut dalam pendidikan yang diajarkan dalam bahasa Inggris.
Mengamankan keuangan yang cukup dan dapat diandalkan merupakan elemen kunci lainnya dalam perjalanan POSTECH untuk menjadi universitas kelas dunia. Dua sumber utama pendapatan POSTECH akhir-akhir ini-perusahaan yang mendirikan (POSCO) dan pemerintah-merupakan sumber yang tidak aman dalam jangka panjang. Sumbangan yang ada hanya terdiri atas saham POSCO yang fluktuatif tergantung dengan kondisi ekonomi. Untuk sepuluh tahun pertama setalah pendirian POSTECH, dukungan besar dari POSCO berperan bagi pertumbuhan POSTECH, tetapi dukungan itu telah berkurang banyak seiring waktu berjalan. Walaupun dukungan pemerintah tumbuh agak besar dalam skala selama dekade terakhir ini, mereka tidak dapat dianggap sebagai stabil untuk jangka panjang, sebagaimana pengalaman negara-negara maju lainnya. Contohnya, dukungan pemerintah Amerika Serikat pada pendidikan tinggi sebagian besar dipengaruhi oleh keadaan ekonomi dan cenderung menurun (Gladieux, King dan Corrigan 2005). Peningkatan akhir-akhir ini untuk penggabungan universitas publik di Korea dapat dilihat sebagai usaha pemerintah untuk mengurangi beban keuangan mereka untuk mendukung pendidikan tinggi (Rhee 2007). Meskipun dengan keadaan ini, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, kenyataan bahwa POSTECH memiliki satu patron
Universitas Riset Kelas Dunia di Pinggiran: Pohang University of Science and Technology ... 121
sebenar-benarnya (POSCO) membuat mereka lebih sulit untuk mencari sponsor potensial lainnya dan donor untuk membantu pengembangan kelembagaan. Lebih jauh lagi, singkatnya sejarah 20 tahun dan kelas kecil yang terdiri dari 300 tingkat sarjana menghalangi penggalangan donasi dari para alumni.
Pembagian pada pendapatan terakhir POSTECH dari biaya kuliah mahasiswanya (10 persen atau kurang) beserta biaya kuliahnya yang rendah (sekitar 50 persen dibanding kompetitor swasta) mungkin memberikan mereka pembenaran yang lebih dari cukup untuk peningkatan biaya kuliah. Tetapi, menaikkan biaya kuliah bukanlah pilihan yang baik karena beberapa alasan. Pertama, kebijakan pemerintah tidak mengizinkan hal tersebut.9 Kedua, perusahaan universitas, yang bertanggung jawab terhadap keuangan kelembagaan, memiliki kebijakan internal yang telah lama dijalankan untuk menjaga biaya kuliah di bawah 10 persen dari total pendapatan. Ketiga, kompetitor publik— Seoul National University dan Korean Advanced Institute of Science and Technology—menjaga biaya kuliah mereka pada sekitar 50 persen dari biaya kuliah di lembaga swasta. Keempat, sejak kelahirannya POSTECH telah dikenal dan dikagumi karena fasilitas beasiswa penuh untuk para mahasiswanya, yang merupakan salah satu alasan menarik mengapa begitu banyak siswa SMA yang berbakat dari golongan menengah dan golongan bawah memilih POSTECH sebagai universitas pilihan pertama mereka. Akhirnya, sebuah peningkatan biaya kuliah yang disamakan dengan kompetitor swasta akan menghasilkan tambahan US$6 juta Dolar AS per tahun—hanya sekitar 3 persen dari total pendapatan tahunan. Biaya-biaya yang harus ditanggung akan melampaui perolehan keuangan dari kenaikan tersebut. Walaupun demikian, dalam jangka panjang, peningkatan biaya kuliah harus dipertimbangkan dengan saksama, untuk setidaknya dua alasan. Pertama, universitas-universitas nasional akan segera digabungkan (inkorporasi). Jika benar, biaya kuliah, jika pengalaman di negara lain merupakan indikasi, sepertinya akan naik besar-besaran. Kedua, dikarenakan mahasiswa POSTECH diisi dengan peningkatan jumlah mahasiswa yang berasal dari keluarga kaya, POSTECH dapat menerapkan kebijakan yang sama dengan universitas Amerika Serikat yang tergabung dalam Ivy League, yang memberikan bantuan finansial yang besar bagi mahasiswa dari keluarga miskin di saat yang sama meminta mahasiswa yang lain untuk membayar lebih besar.
Selama delapan tahun pertama POSTECH, mereka dilindungi oleh pemimpin visioner Dr. Hogil Kim, seorang fisikawan nuklir terkemuka dunia. Pendiri POSTECH, Tae Joon Park, telah mendukung Dr. Kim sepenuh hati dan membiarkan beliau untuk berkuasa penuh dalam manajemen universitas. Di bawah kepemimpinan Dr. Kim, sebuah landasan yang kuat telah diletakkan bagi POSTECH sebagai universitas riset.10 Semenjak Presiden Kim meninggal, yang merupakan kehilangan besar bagi POSTECH, universitas ternyata mengalami kesulitan dalam bidang kepemimpinan. Sejak itu tidak ada pemimpin baru yang
terpilih yang memimpin lebih dari empat tahun, dan wakil presiden serta direktur eksekutif unit administrasi hanya menjabat dalam waktu yang lebih singkat (secara umum, dua tahun). Tentu saja, terdapat pemikiran terkait singkatnya tanggung jawab urusan eksekutif dan administratif yang dilaksanakan oleh para pengajar internal yang kurang berpengalaman dalam bidang administrasi dan keahlian kepemimpinan, menghasilkan potensi hambatan yang besar pada jalan transformasi universitas menuju lembaga kelas dunia.
Kesimpulan
POSTECH merupakan salah satu universitas swasta non-AS yang mungkin mencapai status tertinggi. Universitas terus bercita-cita untuk bergerak naik dalam peringkat dunia. sesungguhnya, universitas berharap untuk mengisi, dengan dobrakan dari salah satu pengajarnya, ruang yang didesain di pusat kampus untuk menghormati penerima hadiah Nobel pertama dari Korea di bidang sains. Studi kasus ini berusaha untuk menganalisis bagaimana universitas swasta yang relatif baru, kecil dan berada di negara yang tidak berbahasa Inggris dapat mencapai status kelas dunia di tengah-tengah berbagai tantangan yang muncul dalam arah mereka menuju perubahan. Dari temuan analisis ini, diharapkan pemangku kepentingan pendidikan tinggi di negara sedang berkembang dapat mendapat wawasan pada pembuatan universitas kelas dunia di negaranya masing-masing. Temuan ini memperlihatkan bahwa status tertinggi dicapai melalui kepemimpinan visioner, pemberdayaan bawahan, lingkungan yang sangat mendukung, dan kemitraan dengan pemerintah. Sebagai tambahan, POSTECH harus terus berhadapan dengan berbagai macam tantangan yang muncul karena tidak ada pemecahan masalah yang mudah.
Untuk melompat ke status yang lebih tinggi, POSTECH yang giat akan berpengalaman dengan ide kontroversial namun jelas tentang menggunakan bahasa asing—bahasa Inggris—sebagai alat utama untuk pengajaran mahasiswa sains dan teknik. Apakah usaha yang berani ini akan sukses atau gagal, masih banyak pelajaran yang tentu saja akan dipelajari.
Catatan
1. POSCO berawal sebagai perusahaan publik dan diprivatisasi pada tahun 2000. 2. Pulau Jeju adalah pulau liburan eksotis di sebelah selatan lepas pantai Korea. 3. Untuk kemudahan, nilai saat ini dan suatu nilai tukar tetap (1000 berbanding 1)
antara Won Korea dan Dolar Amerika digunakan sepanjang artikel ini.
4. Pemikir Korea 21 dimulai pada tahun 1999 dan akan ada sampai 2012, memberikan dukungan finansial kepada mahasiswa pascasarjana dalam proyek riset. Pada tahap pertama, yang berakhir pada tahun 2007, pemerintah mengalirkan US$1,3 miliar kepada 564 tim riset di seluruh negeri. Tahap kedua, yang dimulai pada tahun 2008,
Universitas Riset Kelas Dunia di Pinggiran: Pohang University of Science and Technology ... 123
memiliki US$2 miliar disiapkan untuk 568 tim riset dari 74 universitas. Proyek Universitas Kelas Dunia, yang dimulai pada tahun 2008, adalah program subsidi dari pemerintah Korea yang bermaksud untuk membuat program akademik baru pada bidang-bidang yang meningkatkan pertumbuhan baru dan untuk meningkatkan kerja sama penelitian dan pengajaran internasional dengan mengundang ilmuwan terkemuka dari seluruh dunia. Pemerintah akan menginvestasikan 825 juta Dolar AS dalam program ini selama 2008–2012 (MEST 2008).
5. POSTECH mengetahui pentingnya menarik pengajar dan mahasiswa unggulan untuk sukses menjadi universitas riset. Tetapi, beberapa pihak di universitas berpikir bahwa kualifikasi pelamar tingkat sarjana ditetapkan terlalu tinggi. Presiden Hogil Kim, dalam ekspresi bercandanya dalam hal ini berkata: “jikapun hanya ada satu pelamar, ini bukanlah suatu masalah karena kemudian, para pengajar dapat fokus hanya melakukan riset” (POSTECH 2007, 98).
6. Menurut hukum Korea, universitas didirikan baik oleh pemerintah atau oleh suatu perusahaan universitas. Oleh karena itu, warga swasta atau badan swasta harus membuat perusahaan universitas sebelumnya dan kemudian universitas swasta dapat dibentuk dari perusahaan tersebut.
7. Sistem tenur/masa jabatan diterapkan di POSTECH pada tahun 1998.
8. Walaupun terdapat perdebatan apakah kebijakan pendidikan tinggi Korea mencerminkan neoliberalism, cukup fair untuk mengatakan bahwa Korea sedang dalam masa transisi dari suatu negara pengatur menjadi suatu pendampingan konsumen atau negara yang mengendalikan di mana pasar membentuk sikap-sikap universitas (Reeves-Bracco et al. 1999; Rhee 2008)
9. Menurut Undang-undang Pendidikan Tinggi sebagaimana telah diamandemen pada awal 2010, biaya kuliah seharusnya meningkat tidak lebih dari 1,5 kali dari rata-rata harga inflasi konsumen tiga tahun terakhir. Lembaga yang gagal mematuhi petunjuk itu aka menghadapi .
10. Dr. Kim memungkinkan untuk mendesain dan membangun Sumber Cahaya Pohang di dekat kampus.
Referensi
AsiaWeek. 1999. “Best Science and Technology Schools.” http://www-cgi.cnn.com/ ASIANOW/asiaweek/universities/scitech/2.html. diakses 3 Agustus 2009.
Bak, Hee-je. 2006. “Commercialization of Science and Changing Normative Structure of the Scientific Community.” Korean Journal of Sociology 40 (4): 19–47.
Bok, Derek. 2006. Our Underachieving Colleges: A Candid Look at How Much Students Learn and Why They Should Be Learning More. Princeton, NJ: Princeton University Press.
Gladieux, Lawrence E., Jacqueline E. King dan Melanie E. Corrigan. 2005. “The Federal Government and Higher Education.” Dalam American Higher Education in the Twenty-First Century: Social, Political, and Economics Challenges, ed. Phllip G. Altbach, Robert O. Berdahl, dan Patricia A. Gumport, 163-97. Baltimore: Johns Hopkins University Press.
Han, Zun-Sang. 1983. The Sacrifice of Korean Higher Education. Seoul: Moonumsa. KAIST 2009. “University Statistics.” KAIST, Daedeok, Republik Korea Selatan. http://
www.kaist.ac.kr. Diakses pada 5 Agustus 2009.
Lewis, Harry R. 2006. Excellence Without A Soul: How A Great University Forgot Education. New York: Public Affairs.
(MEST) Kementerian Pendidikan, Sains dan Teknologi. 2008. National Project Towards Building World Class Universities. Seoul:MEST.
________. 2009. Science and Technology Annual Report. Seoul: MEST.
MEST dan KEDI (Korean Educational Development Institute). 2009. 2008 University Public Information Analysis Report SM 2009-01. Seoul: KEDI.
Pascarella, Ernest T. dan Patrick T. Terenzini, 2005. How College Affects Students: A Third Decade od Research. Vol 2. San Fransisco: Jossey-Bass.
Peterson, Marvin W., dan David D. Dill. 1997. “Understanding the Competitive Environment of the Postsecondary Knowledge Industry.” Dalam Planning and Management for A Changing Environment, ed. M.W. Peterson, D.D. Dill, L.A. Mets dkk., 3–29. San Fransisco:Jossey-Bass.
POSTECH. 2007. A History of POSTECH: 1986–2006. Pohang. Republik Korea Selatan: Dong-in Forum.
________. 2009. “Annual Financial Report.” POSTECH, Pohang. Republik Korea Selatan. http://thome.postech.ac.kr/user/postech/es/2010/aif-1.pdf.
Reeves-Bracco, Kathy, Richard C. Richardson, Jr., Patrick M. Callan, dan Joni E. Finney. 1999. “Policy Environment and System Design: Understanding State Governance Structures.” Review of Higher Education 23 (1): 23–44.
Rhee, Byung S. 2007. “Incorporation of National Universities in Korea: Dynamic Forces, Key Features and Challenges.” Asia Pacific Journal of Education 27 (3): 341–57. ________. 2008. “Neoliberalism and Challenges of Korean Higher Education Policy.”
Journal of Politics of education 15 (2): 7–25.
Seoul National University. 2009. “University Statistics.” Seoul National University, Seoul. http://www.academyinfo.go.kr/?process=schoolDisclosed00&schoolCd=51012000 &orgcode=1&sry_yy=2008&. Diakses pada 5 Agustus 2009.
THE. 2010. “The World University Rankings 2010.” London. http://www. timeshighereducation.co.uk/world-university-rankings/2010-2011/top-200.html. Umakoshi, Toru. 1997. Establishment and Development of Modern Universities in Korea.
125